THE EXISTENCE OF A SMALL
REMAKE DARI KARYA
SNAWTA QYRIOS
Warning
AU, typo (s) misstypo (s)
KYUHYUK FANFICTION
#1st Hyukkie pov
Ketika usia ku baru menginjak tujuh tahun ,aku resmi menjadi yatim piatu . Kedua orang tua ku meninggal dalam kecelakaan maut sepulang kami liburan.
Akhirnya dinas sosial memasukanku kepanti asuhan karna aku hanya sebatang kara, dan disana lah aku bertemu dengan nya.
Aku hanya bisa menangis ketika ingatan buruk dimana kami mengalami kecelakaan melintas dikepalaku.
"Hai,kenapa kau manangis?" sebuah suara mengintrupsi tangisanku .
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kau tidak sendiri, hyung akan selalu menemanimu!" sosok itu memelukku erat, entah kenapa pelukan nya terasa nyaman , tanpa sadar akupun membalas pelukan nya tak kalah erat.
"siapa namamu ?" tanya ny begitu tangis ku reda .
"Hyukjae Lee hyukjae huks " jawabku parau
"Ok Hyukkie, kau bisa memanggilku kyuhyun hyung arraseo!" ungkap nya.
kyunnie hyung, begitulah aku memangilnya.
Semenjak hari itu aku selalu mengikuti kemanapun kyunnie pergi, dimana ada kyunnie hyung disitu ada aku.
Tanpa kami sadari panti ini semakin sepi, satu persatu anak panti pergi dengan keluarga baru mereka, tak terkecuali kyunnie hyung.
"Hyung janji, sesering mungkin akan mengunjungi hyukkie ,sekarang hyukkie jangan menangis lagi arraseo!" kyunnie hyung memeluk ku erat , entah kenapa air mata ini tidak mau berhenti mengalir.
Tak terasa delapan belas tahun berlalu , selama itu aku tetap jadi penghuni panti. Selama itu pula kyunnie hyung sering mengunjungiku, mengajariku banyak hal- hal baru.
Sampai suatu hari kyunnie hyung datang, dengan senyum yang tak pernah pudar dari paras nya. seketika hati ini hancur ketika kyunnie hyung mengatakan kalau dia jatuh cinta.
"Hyukkie harus melihat nya, dia bagitu manis dia juga pintar memasak!" kyunnie hyung mangambil napas dalam.
"Dan seperti nya hyung menyukai Ryewook, hyukkie !" kata-kata itu keluar dalam sekali tarikan nafas.
"Selamat kyunnie hyung" senyumku tersungging maksimal. "Suatu saat perkenalkan padaku ya. Aku ingin melihat sosok seperti apa yang telah berhasil membuatmu jatuh cinta."
Mulai dari sini aku tersadar. Ada yang salah dengan diriku tatkala nama Ryewook selalu menjadi topik perbincangan kyunnie hyung. Aku serasa bukan lagi satu-satunya makhluk penghibur di matanya. Benar-benar tidak rela. Selama ini kyunnie hyung hanya mengenalku,tapi sudah dipudarkan oleh sepupu angkatnya dalam waktu relatif singkat. Begitu mudah posisiku tergeser. Sakit, tercekat, sesak, dan aku hanya bisa menahan.
Namun, rasa terima kasih turut ku sertakan. Jika tidak karena kejadian ini, mungkin sampai mati aku buta bahwa aku—
Mencintai kyunnie hyung.
Aku memutuskan untuk keluar panti, dan hidup mandiri bekerja paruh waktu disebuah caffe yang tak terlalu jauh dari rumah kontrakanku .Kyunnie hyung masih tetap menemuiku,menceritakan segala sesuatu tentang Ryewook nya.
Dewi fortuna ternyata tidak berpihak kepada kyunnie hyung ,Ryewook yang selama ini di cintai nya ternyata menjalin hubungan dengan yesung teman sekampus nya. Kyunnie hyung terpuruk mendengar Ryewook akan segera menikah.
Suatu ide gila terlintas.
Saat aku tahu, kyunnie hyung tidak akan pernah bisa bersama dengan orang yang dia cintai. Aku mengambil kesempatan itu untuk kepuasanku,Semata-mata demi kepentinganku. Begitu egoisnya diriku sampai tak mau mempedulikan perasaannya, Keegoisan ini telah menjadi raja dan menguasai diriku sepenuhnya.
"hyukkie. Aku rasa ini salah."
Hatinya bimbang ketika aku goda.
"kyunnie hyung cukup membayangkan bahwa aku adalah Ryeewook tercintamu." ungkapku
Ku daratkan sebuah ciuman. Berlangsung dalam waktu hitungan detik. Tidak ada pagutan liar. Tidak ada tarian lidah. Tidak ada sedotan saliva. Hanya dua bibir yang saling menempel dengan sensasi kenikmatan yang belum terasa. Hingga tiba-tiba tubuhku terdorong tanpa diduga, Punggungku hampir terantuk lantai jika saja tanganku tidak sigap menyangga. Kyunnie hyung berdiri tegak ,emosi yang menyala-nyala terlihat jelas dimata nya.
"Hyukkie, Kau gila!" punggung tangan kyuhyun menyapu area bibirnya."Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menjadi Ryewook!"
Aku hanya terpaku ,dengan tatapan kosong mendengar kata-kata yanga barusan kyunnie hyung ucapkan.
"TIDAK AKAN PERNAH BISA! INGAT ITU!"
Yang aku ingat setelah itu, bunyi pintu yang berdebam amat keras dibanting kyunnie hyung karena murka.
Setelah Kejadian itu kyunnie hyung mulai menjaga jarak denganku. Dia selalu menghindariku . Aneh memang, seharusnya aku yang bertindak demikian karena telah tega mengotori persahabatan kami yang telah terukir lama. Sepantasnya aku lah yang merasa malu karena begitu egois mencemari ikatan kami dengan sebuah ciuman.
Ini semua hanya karena satu—kenaifan.
Ini semua hanya karena satu—keegoisan.
Ini semua hanya karena satu—nafsuku yang tak bisa ditahan.
Hadiahnya—persahabatan kami yang rusak total.
Yang bisa ku ratapi—penyesalan.
Terakhir aku melihat kyunnie hyung di saat resepsi pernikahan Ryewook dan Yesung.
Sampai empat bulan ke depan tercium kabar. Orang yang masih ku cinta itu terbaring koma di rumah sakit ,dengan berbagai macam peralatan penunjang yang menempel ditubuh nya.
kyunnie hyung hampir meregang nyawa ,di sela-sela keberadaan pil narkotika dan spuit psikotropika.
Rutinitas harianku bertambah. Mengunjungi Kyunnie hyung yang masih koma. Menunggunya sambil bercerita sekalipun tidak pernah ditanggapi. Tidak pernah bosan,Tidak pernah berhenti berharap.
Tepat satu bulan kyunnie hyung akhir nya terbangun dari tidur panjangnya. aku memacu lari ku di lorong-lorong rumah sakit .kuabaikan teguran yang melarangku untuk berlari.
Pergerakan ku terhenti didepan pintu ruangan kyunnie disana duduk ditepi ranjang,menyuapi kyunnie hyung
Mendadak rasa sakit itu muncul lagi. Rasa sesak itu hadir kembali. Ryewook yang seusai penikahan nya tidak terdengar lagi kabar nya , kini malah datang ketika kyunnie telah membuka mata.
Lagi-lagi aku kalah beruntung. Lagi-lagi aku terlambat. Takdir seakan tak pernah memberikanku kesempatan untuk melangkah maju barang sejengkal. Yang ku dapatkan selalu derita pilu yang berkepanjangan. Terurung niat untuk masuk, aku enggan menampakkan tubuh yang tidak berharga ini menjadi perusak suasana.
"Hyukjae tunggu!" seseorang memanggilku
kuhentikan langkah ku begitu menyadari pamam cho selaku ayah angkat kyunnie hyung yang memanggilku.
"ah paman ada perlu apa ?" ujar ku
"ada yang ingin paman bicarakan denganmu hyuk, ini soal kyuhyun apa kau ada waktu?" ujar paman cho
"Apa kau tahu, setelah kyuhyun benar-benar pulih, aku akan memasukkannya ke pusat rehabilitasi. Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan ini, tapi paman lihat, selama empat bulan belakangan, kau dan kyuhyun terlihat berjauhan. Boleh aku tahu kenapa?"
Sedikit tertegun. Bingung menyahuti beliau dengan kalimat apa. Mulut ini setia membisu, membutuhkan waktu setengah menit untuk memberikan jawaban.
"I—itu."
"Ah, seharusnya aku tidak menanyakan ini," beliau meneruskan "sudahlah, lupakan saja. Tidak sepatutnya aku mengetahui privasi kalian berdua."
Satu jawaban merayap. Mungkin beliau mengira bahwa kami bertengkar karena telah berebut gadis.
"Maaf, paman , tap—"
"Kau tidak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena sudah membuatmu kerepotan akibat ulah kyuhyun."
kami menghabiskan waktu menyusuri lorong sambil mengobrol.
"Aku tidak menyangka anak bodoh itu akan nekat melakukan hal yang sia-sia."
Terlalu tidak sopan bila aku memotong, "tidak. kyunnie hyung sama sekali tidak merepotkan kok. Memang ada yang terjadi di antara kami, dan saya tidak tahu harus mengatakannya bagaimana."
Belum siap untuk berkata jujur. Tidak mungkin aku akan mengatakannya dengan gamblang. Bahwa persahabatan kami terkontaminasi karena aku mencintai anak angkatnya dan orang yang bersangkutan berkeberatan untuk menerima kenyataan itu. Menjauhiku. Menjaga jarak.
"Aku paham," pundakku ditepuk, "sudah ku bilang kan, kita lupakan saja pembahasan alasan kalian berjauhan."
Melirik sebentar. Terdiam. Aku tidak tahu harus menggulir pokok pembicaraan ini ke sebelah mana.
"Mungkin kau yang jauh lebih mengenal kyuhyun dari pada aku. Yang ku tahu, watak anak itu sangat keras kepala. Aku sangat yakin selama proses rehabilitasi dia pasti akan mengamuk. Jadi, aku ingin kau berperan di sini."
"Hah?! Maksud anda?"
"Apakah kau pernah berpikir, mungkin saja kyuhyun salah arah karena kau tidak ada?"
Entah bagaimana rautku sekarang. Terlalu bingung untuk mencerna.
"Aku rasa dia sangat menyayangimu lebih dari siapa pun di muka bumi ini."
Hampir bersemu. Seandainya saja kyunnie hyung sendiri yang mengatakan kalimat itu.
"Lupakan permasalahan kalian. Sering-seringlah mengunjungi kyuhyun di pusat rehabilitasi. Berikan dia dukungan moril. Setelah ditanamkan paham untuk meninggalkan obat-obatan kejam, dia pasti akan bersikeras untuk tetap bertempat di apertemen sendirian. Itu terlalu riskan. Aku tidak ingin kyuhyun terjerumus untuk kedua kalinya. Tinggallah di sisi kyuhyun di saat kami tidak bisa memantaunya."
Campur aduk. Hatiku tidak karuan rasanya.
"Tingal lah bersama kyuhyun nanti."
Ini adalah kesempatan yang harus aku manfaatkan untuk menebus kesalahan fatal yang telah ku perbuat...
.
kyunnie hyung hanya bisa berkata 'Oh' ketika aku memasuki apartemen pribadinya. Bernada datar, sedatar kata sambutan yang dia lontarkan ketika aku datang menjumpainya di pusat rehabilitasi narkoba. Sorot matanya seolah mengatakan: 'Kemana saja kau, baru mengunjungiku'. Nampaknya tidak ada yang bercerita bahwa aku orang ketiga yang paling sering menjenguk kyunnie hyung di rumah sakit setelah kedua orang tua angkatnya. Ku abaikan. Tidak ingin ku persoalkan. Lagipula kejadian itu sudah lewat.
Hubungan kami masih kaku. Rupanya ciuman tempo dulu merupakan dosa besar yang sulit untuk kyunnie hyung pagi yang selalu aku siapkan setiap hari tidak mempan. Berbenah, memasak, semua pekerjaan rumah, dan hal apapun yang telah aku lakukan belum bisa membuat kyunnie hyung untuk menghilangkan kesalahpahaman. Sebenarnya itu bukan kesalahpahaman tapi memang fakta yang ingin ku pendam bahwa aku begitu dalam mencintai kyunnie hyung. Aku juga tidak pernah menyerah mengajak kyunnie hyung mengobrol di waktu senggang, di waktu acara makan atau di waktu sedang malas-malasan menonton tv. Mencoba terus untuk mengembalikan persahabatan yang nyaris hilang. Meski selalu disahuti dengan jawaban sekenanya, singkat, ketus, dingin maupun datar.
Waktu terus berjalan,tak terasa dua tahun sudah aku tingal di apatemen kyunnie nya kerja keras ku mengembalikan persahabatan kami berhasil. Sifat dingin esnya hyungku yang dulu telah kembali.
kyunnie hyung kini bekerja di perusahaan ternama karena otak nya yang terbilang encer . Sementara aku menggeluti pekerjaan di sebuah perusahaan swasta.
ketika kyunnie hyung sudah kembali seperti dulu. kenyataan pahit menghatam ku telak, Cobaan datang silih berganti.
"Kedua korneamu mengalami kerusakan." ujar dokter bername tag choi siwon
Cukup tersentak meski rautku terpatri datar.
"Kerusakan terjadi akibat cidera yang dibiarkan terlalu yang menyebabkan kepalamu sering pusing dan penglihatanmu mengabur." lanjut Dr choi..
Rupanya sensasi berputar yang menjalar liar tadi malam bukan karena tubuhku yang kelelahan.
"Apa kau pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?"
Di saat dokter melontarkan pertanyaan, bathinku malah bertanya 'Apakah itu buruk? '
Gelengan ku layangkan lemah. Ekspresi dokter sepertinya meragukan jawabanku. Lantas aku kembali mengingat tentang penyebab kedua orang tuaku meninggal. "Waktu kecil aku pernah mengalami kecelakaan . Kedua orang tuaku tewas di tempat. Apakah itu masuk hitungan?"
"Kapanpun kecelakaannya terjadi, yang jelas cidera itu telah melemahkan korneamu. Terkadang memang tidak menimbulkan gejala pada awal mendapatkannya."
"Tapi, jedanya cukup jauh dokter."
"Justru jarak interval yang sangat panjang itu yang memberikan masa infeksi berkembang. Biasanya dampak buruknya akan terasa beberapa tahun yang akan datang. Semua itu tergantung dari tingkat keparahan. Seperti kasusmu, kau baru mengalami gejalanya sekarang."
"Apakah itu buruk?" akhirnya pertanyaan sekelebat yang tadi menghiasi hati terucap dengan penuh kerisauan.
"Tentu saja ini masalah serius. Kornea yang mengalami kerusakan berakibat hilangnya fungsi kebeningan dan kornea akan menjadi buram. Pada situasi yang parah kornea akan menjadi bekas luka. Dan itu memungkinkan terjadinya kekeruhan kornea atau biasa disebut dengan Opacity kornea."
"Apakah itu berarti," kali ini kemungkinan terburuk yang melintas, menghantui pikiranku yang masih linu karena efek kornea ku yang rusak, "aku akan kehilangan penglihatan?"
"Itu akan terjadi secara bertahap dan bisa menjadi lebih buruk."
Seketika tubuhku membeku, pikiran ku kosong dalam sekejab. Realita penuturan dari seorang pakar medis cukup membuatku shock. hanya mampu melontarkan pernyataan pengharapan. "Tidak ada solusi yang lain dokter?"
"Operasi katarak dapat dilakukan segera, tetapi karena kornea telah rusak kepadatan sel tidak baik dan pemulihan akan sulit. Satu-satunya pilihan adalah dengan cara melakukan transplantasi kornea. Namun kenyataannya sulit untuk menemukan donor mata."
"Maksud anda, aku akan tetap," begitu sulit untuk melanjutkan, kata terakhir membuat nada suaraku begetar, "buta?"
"Kau harus menjalani serangkaian pemeriksaan dulu. Untuk lebih detailnya mari kita lakukan MRI yang pertama."
Perjalananku menuju ruang pemeriksaan ku habiskan untuk berpikiran baik. Yah, vonis ini ku anggap sebagai hadiah di hari lahirku.
Kejutan pertama masih belum bisa aku cerna dengan baik, kejutan lainnya sudah menunggu di apartemen kyunnie hyung .
.
Pengelihatanku yang kadang jelas kadang buram. Tapi sungguh, ingin sekali aku tunanetra saat itu juga. pemandangan memilukan yang menusuk sampai ke sum-sum tulang.
kyunnie hyung yang berpelukan dengan Ryewook saling melumat bibir.
Perasaan iri plus cemburu menjalar. Rasanya sangat pahit, sampai-sampai aku amnesia mengucapkan kalimat 'Aku pulang'.
"Oh, hyukkie, baru pulang?" sapaan Ryewook yang telah menyadari keberadaanku
Buru-buru ku lepas plester pereket yang menutupi bekas tusukan jarum infus di punggung tangan kanan. Lekas ku genggam bendanya di tangan yang lain.
"Selamat pagi. Lama tidak bertemu wokkie hyung" setengah membungkuk, balik menyapanya ramah dengan topeng kepalsuan yang telah lihai aku mainkan.
"Sebaiknya kau hentikan kegiatanmu menginap di tempat kerja. Sekalipun lembur, sempatkanlah diri untuk pulang."ujar kyunnie hyung yang tadi hanya terdiam
Pernyataan kyunnie hyung membuat ku senang sekaligus nanar. Senangnya karena aku serasa sedikit diperhatikan, meskipun kyunnie hyung salah menduga , karena aku memang enggan memberitahukan bahwa sebenarnya bukan tempat kerja yang ku jadikan ranjang bermalam, melainkan rumah sakit.
"Yah, mau bagaimana lagi," kedua bahu ku terangkat sesambil menyusupkan tangan ke kantong bawah jas panjang, menyembunyikan plester yang tertempeli secuil kapas, "laporan-laporan menggunung hyung, kau tahu kan ini akhir bulan."
"Alasan apapun itu, jangan sampai kau jatuh sakit, kau bercermin, wajahmu tampak pucat."
Perhatian sederhana kyunnie hyung sudah cukup membuatku bahagia. Sebenarnya aku sedang sakit. Satu botol cairan nutrisi infus sudah berbaur dalam alirah darahku akibat aku pingsan di jalan tadi malam. Dan dokter bilang, penglihatanku bermasalah sangat serius.
Tidak menanggapi. Aku menatapnya sendu.
Menampik realita yang menyakitkan, kyunnie lupa hari ulang tahun ku , Lupa dengan agenda perayaan rutin tiap tahun. Lupa karena sosok pujaannya mengetuk pintu depan apartemen. Memilih menghabiskan waktu menemani wokkie yang bertandang malam-malam.
Keakraban mereka membuat keberadaanku serasa terabaikan. Tapi, tunggu sebentar! Apa aku tidak salah dengar? wokkie akan menggugat cerai yesung hyung?
"Hah?! Aku pikir dia cinta mati mu." Ekspresi kyunnie hyung juga sama kagetnya. Berarti dia juga baru tahu.
"Ada masa di mana satu pasangan sudah tidak mendapatkan kecocokan lagi, kyu."
Memang belakangan ini kyunnie hyung selalu mendapatkan telepon dari wokkie. Yang mengatakan bahwa hubungan mereka sedang tersandung masalah. Meski ku tahu kyunnie hyung masih memendam cinta, namun dia tidak pernah mengharapkan pernikahan Ryewook dan yesung akan kandas.
"Jadi, kau jangan berkeberatan ya aku menumpang di sini untuk sementara waktu."
Terpaku lagi. Kali ini disertai pandanganku yang semakin memburam. Jika memang benar wokkie akan menjadi penghuni ketiga di rumah ini. Berarti harapanku untuk mendapatkan kyunnie hyung akan sia-sia.
Keberadaanku yang masih berdiri setia di ruang tamu, mendadak pusing hebat. Penglihatanku yang tadinya mengabur parah kini mulai menyuram. Pemandangan yang sebenarnya membuat ku sesak—kemunculan wokkie yang mendadak, kenyataan dia yang akan bercerai dengan suaminya dan permintaannya untuk menetap di apertemen kyunnie hyung, membuat penyakit sakit kepalaku kambuh. Dampak kerusakan kornea tenyata sebegini menyiksanya. Kerjapan kedua kelopak yang mencoba menetralisir tidak berpengaruh. Tubuhku bergoyang. Sensasi melayang ku rasakan. Untungnya Ryewook dan kyunnie hyung tengah asyik mengobrol tidak menyadari diriku yang nyaris pingsan.
Harga diriku yang terlampau tinggi menegaskan bahwa aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan kyunnie hyung.
"kalau begitu aku istirahat dulu hyung" dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan gontai menuju kamar.
Aku tidak menghiraukan jawaban kyunnie hyung. Nyeri di kepala meredamkan penghantar suara, menggelapkan mata, dan mengalahkan segalanya. Tubuh ku banting sesudahnya sampai di ranjang. Hilang kesadaran tidak tahu sampai jam berapa.
Kenyataan semakin menonjok keras. Dua hari setelah divonis menderita Opacity Kornea, aku dihubungi pihak rumah sakit membeberkan seputar hasil pemeriksaan lanjutan.
.
"Kami menemukan tumor di kedua matamu."
Kekecewaan dan rasa takut sudah tidak bisa terimaginer. Ku berikan sentuhan lama di kening, wujud bahwa aku frustasi. Wajah Dokter ku pandang. Gelagatnya sedang menggerakkan pulpen ke hasil scan MRI, memberikan gerakan melingkar ke bagian gambar yang dideteksi sebagai sumber penyakit.
"Tampak tumor mendorong terhadap lensa matamu, menyebabkan katarak dan Opacity Kornea."
Jemari yang bergetar masih memijit pelipis. Keterpurukan mulai mendarah daging. helaan nafas lelah terkesan pasrah ku hembuskan. Masih memandangi, lawan bicara di hadapanku mulai berkata tegas.
"Kau harus segera memulai pengobatan."
"Lalu, apa itu dapat menyembuhkan dokter?" suaraku nyaris hilang, tenggelam dalam kekalutan.
"Jika mata mu diekstrak sebelum menyebar."imbau sang dokter.
"Selain itu, ap—apakah operasi tetap harus ku la—lakukan?" kegentaran menyerempet, membuatku terbata dalam berkata.
"Dalam kasusmu, bahkan tanpa mengeluarkan mata yaitu dengan cara pembedahan, kehilangan penglihatan tetap tidak bisa dicegah. Dan mungkin yang akan terjadi lebih cepat karena kerusakan kornea sudah terlalu dalam yang mulanya disebabkan oleh kecelakaan."
"Itu artinya meski aku tetap menjalani operasi, aku akan tetap buta, iya kan dokter?" nada suara ku tiba-tiba meninggi satu oktaf. "Aku rasa, aku tidak perlu menjalaninya, karena itu percuma."
Pandanganku semakin mengabur, bercampur cairan bening yang memaksa keluar. Harus ku tahan.
Sang dokter rupanya maklum menghadapi pasien yang ketenangannya labil seperti ku. Beliau memberikan pengandaian padaku yang sudah tersulut oleh kata pasrah dan menyerah. "Jika dioperasi, kau hanya akan kehilangan penglihatan. Tapi bila tidak, tumormu akan menyebar menjadi ganas. Bukan penglihatanmu saja yang nantinya akan hilang, tapi nyawamu juga."
Seluruh otot ku melemas. Gemetar semakin tersinyalir. Energi serasa tersedot habis. Tak punya daya yang cukup untuk merespon balik perkataan dokter.
.
Benar, ini adalah hadiah susulan pasca hari ulang tahunku.
Takdir begitu gemar mempermainkan hidupku. Belum lagi fakta berkisar tentang kerusakan kornea dan tumor. Kemunculan Ryewook juga ikut andil menyerap keberuntunganku yang semakin terkikis. Setiap hari aku harus melihat dia dan kyunnie hyung bercanda. Lepas tertawa. Berbincang akrab. Seolah semesta tercipta hanya untuk mereka saja, dan aku kebagian mengontrak, figuran tak berbayar, tetangga yang tak dianggap, dan istilah apapun itu.
.
"hyuk apa kyuhyun sudah memberitahumu?" tanya wokkie
.
Rasa-rasanya tak perlu aku menenggak obat secara diam-diam. Tak perlu harus main kucing-kucingan hanya untuk mendatangi rumah sakit. Semuanya patut aku lakukan terang-terangan. Toh aku juga tidak yakin mereka mau mempedulikan. Karena mereka tidak akan menyimak aktifitas apapun yang aku lakukan. Hanya saja aku belum siap untuk menghadapi sudut pandang. Bahwa aku terkesan dibiarkan mengasing pelan-pelan.
.
"Memberitahu apa?"
.
Tidak bisa dipungkiri, kemampuan kekeruhan korneaku semakin menghebat. Kekuatan tumor juga semakin melaknat. Daya pengelihatanku semakin menurun. Pernah aku menjadi korban amukan kyunnie hyung karena aku sudah tidak bisa membedakan beberapa warna.
.
"Sewa apartemen akan berakhir bulan ini. Aku dan kyuhyun sepakat untuk pindah. Dan aku sudah mendapatkan lokasi yang jaraknya cukup dekat dengan tempat bekerjaku dan perusahaan kyuhyun bekerja. kyuhyun benar-benar tidak ada memberitahumu ya? Ah, padahal sudah cukup lama sekali kami telah merencanakannya."
.
Sekejam apapun kyunnie hyung memarahiku, seharmonis apapun dia dengan Ryewook, setersisih apapun keberadaanku, dan selama apapun aku harus menjadi penyimak, pemerhati yang terabaikan, cukup senantiasa selalu ada di sisi kyunnie hyung membuat hatiku sudah terpuaskan. Tapi sepertinya untuk kali ini aku harus menyerah. Menyerah pada sesuatu yang bernama kebutaan. Aku tidak ingin kekurangan ku nanti menjadi biang masalah. Menjadi penyebab yang bisa merepotkan orang-orang. Dan dengan sangat terpaksa aku harus melanggar sumpah. Melepaskan genggaman tangan kyunnie hyung demi kebaikannya.
.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum, "tidak ada."
.
Dan sepertinya aku sudah mendapatkan celah untuk bisa menyingkir dari tempat ini.
hingga hari itu tiba waktu nya aku pergi dari apartemen ini .
Koper besar ku tarik. Tapi kali ini bukan untuk berjejal masuk. Melainkan tertarik keluar, memberikan sedikit ruang kosong di sepetak bangunan yang sudah lima tahun aku tinggali.
Meski bernada rendah, suara Ryewook bisa ku dengar. "Hei kyu,kau tidak ingin mencegahnya?"
Tanpa ku toleh, aku bisa merasakan kyunnie hyung hanya bisa mematung. Dia malah beranjak memunggungiku.
Persiapan terakhir sudah beres. Tas besar ku jinjing. Koper juga telah terletak di dekat pintu depan. "Baiklah, sepertinya taksi sudah menunggu di bawah. wokkie hyung kyunnie hyung, aku pergi ya. Terima kasih atas bantuannya selama ini. Maaf telah merepotkan."
Pegangan pintu ku tarik. Hamparan lantai koridor luar tertampil. Marmernya mengkilat putih di retinaku yang kabur permanen. Seolah mempersilahkan diriku yang memilih enyah dari dunia ini. Dunia di mana hanya ada kyunnie hyung di dalamnya. Tapi sekarang dunia itu sudah tidak bisa lagi ku diami. Penyakitku menghendakinya agar aku pergi.
Sedikit berharap. Aku ingin kyunnie hyung mencegah. Walaupun keputusanku tetap tidak akan berubah. Setidaknya itu bisa membuat ku senang di menit-menit terakhir perjumpaanku dengan kyunnie hyung.
"hyukkie" suara itu seketika membuatku berhenti melangkah. Refleks tubuhku menegang. "Aku sama sekali tidak mengusirmu. Tapi kenapa kesannya kau malah terusir begini."
Aku menyahutinya dengan sedikit menoleh. "Ah, tidak kok, hanya perasaanmu saja. Waktu aku tahu kalian sudah mendapatkan apartemen yang dekat dengan tempat kerja. Lantas aku juga langsung berpikir untuk melakukan hal yang sama."
Hatiku tersenyum. Tuhan, baru kali ini kau mengabulkan harapanku.
"Oh, baiklah."
Tercekat. Ternyata tidak sesuai dengan terlalu besar rupanya.
Tertunduk. Ku palingkan wajah. Ku sadari wokkie sudah tidak ada. Mungkin sekarang dia sudah memasuki kamar.
"Sebenarnya aku memang sengaja tidak mengabari tentang kepindahan kami."
Iya, aku tahu, kyunnie hyung memang ingin aku pergi.
"Lebih tepatnya aku belum ingin memberitahumu."
Sudahlah, aku tidak ingin berpikiran yang macam-macam. Terlalu berat rupanya pengharapanku sampai-sampai tak pernah terwujud satu kalipun.
langkah ku ayunkan.
"Aku ingin kau sendiri yang meminta untuk ikut pindah dengan kami."
Langkahku terhenti lagi.
"Rencananya aku akan memberitahumu nanti satu hari sebelum kontrak apartemen ini berakhir. Jadi, kau tidak punya pilihan selain ikut dengan kami."
Mata ini seperti buta. Genangan air mengganggunya.
"Kau bersedia tinggal denganku karena ayahku yang menyuruhmu. Lalu aku berpikir, ah, jika ayahku tidak memintamu apakah kau tetap mau tinggal denganku. Maka dari itu aku sengaja melakukannya. Karena aku ingin kau tetap tinggal bersamaku atas kemauanmu sendiri."
kyunnie hyung bodoh. Tanpa disuruh siapapun,aku akan tetap mengikutimu sampai mati.
"Tapi kalau kau memang ingin pergi. Aku hargai keputusanmu."
Bisu. Aku tidak ingin kyunnie hyung mendengar suaraku yang bergetar karena menahan tangis.
"Terima kasih hyukkie atas apa yang telah kau lakukan selama ini. Maaf bila aku hanya bisa merepotkanmu. Selamat jalan."
Ku balikkan badan, bertepatan itu kyunnie hyung memunggungiku. Pergi menjauh memasuki kamarnya. Air asin merembes keluar dari netra yang sudah tidak punya fungsi utuh lagi. Menghujani permukaan kulit pipi.
.
Perpisahan yang menyakitkan. kyunnie hyung bahkan enggan mengantarkan kepergianku, bagaimana aku bisa percaya dengan perkataannya barusan.
.
...*...
.
Tidak tahu raut orang itu persisnya seperti apa. Seorang pejalan kaki yang aku paksakan untuk bertanya perihal tentang angka waktu yang tidak bisa ku lihat. Mungkin sekarang dia memasang tampang bingung. Mengamati arloji yang tersemat di pergelangan tanganku. Ku berikan alasan bahwa jam ku mati sambil menutupinya.
"Sudah jam sepuluh lewat lima."
Aku tertegun sejenak, "Oh, terima kasih."
Selesai bertanya orang itu pergi.
Empat jam sudah aku memboros waktu hanya untuk memutar kenangan. Selama itu juga tidak ku rasakan tanda-tanda kemunculan kyunnie hyung. Sejak aku memutuskan keluar dari ruang lingkup hidupnya, semenjak itu pula kami tidak pernah lagi saling berhubungan. Bertemu pun sudah jauh dari kata jarang. Terlibat komunikasi terakhir secara langsung pada saat aku hengkang kaki dari rumahnya. Selepas kejadian itu, ku coba bertahan hidup sendirian, tanpa mengetahui kondisi dan keadaan kyunnie hyung. Rasa rindu kerap menyerang. Tapi mau bagaimana lagi kondisi penglihatan yang kian menyuram adalah kendalanya.
Pada akhirnya aku tersadar. Sisa-sisa kemampuan mata yang sangat teramat lemah menangkap cahaya ini harus dimanfaatkan untuk melihat sosok kyunnie hyung untuk terakhir kalinya. Harus ku puaskan memandangi wajah kyunnie hyung berlama-lama. Kemudian menyimpannya di kotak arsip kenangan di bagian utama otak dengan judul 'Wajah orang yang sangat aku cintai selamanya.' Harus ku lakukan itu sebelum kebutaan total dan kegelapan selamanya aku dapatkan. Lantas ku kumpulkan keberanian, menyapa kyunnie hyung yang sudah cukup lama tidak kuhubungi. Memintanya bertemu selepas dia pulang kerja. Dan disinilah kini aku berada. Rela datang lebih awal, menyambutnya, agar pertemuan nanti terlihat sedikit sempurna.
Ku tekan lama tombol paling ujung kiri nomor dua dari atas di ponsel pintar. Panggilan terlayangkan. Tapi kerap pesan suara operator yang menjawab. Pikiran baik tetap ku pertahankan. Sebab siang tadi kyunnie hyung memastikan akan datang. Ya, setidaknya begitulah aku beranggapan. Mengesampingkan ingatan tentang nada suara kyunnie hyung ketika berbicara lewat sambungan telepon yang masih aktif tadi siang—terdengar datar dan seperti tidak berminat. Namun aku tetap meneguhkan hati.
Tanpa payung, tanpa penghalang, hanya bermodalkan sweater tipis sebagai penghangat yang kini juga telah basah kuyup terkena hujan.
Ku tarik sekali lagi seorang pengguna jalan yang mencoba untuk tanyakan dengan penuh kegamblangan. "Maaf sudah jam berapa? Jam tanganku rusak."
"Jam dua belas lewat dua puluh lima."
Tertunduk dalam."Oh, terima kasih."
Terhitung enam jam lebih aku melakukan hal sia-sia. Terduduk layaknya orang bodoh. Menunggu tanpa kepastian. Berharap tanpa wujud nyatanya. Kadang terlalu berpikiran baik bisa membuat seseorang tenggelam dalam kesengsaraan. Sengsara karena tidak sesuai dengan realita. Sengsara karena tidak sesuai dengan harapan. Ya, hal ini memang sudah biasa terjadi setiap saat. Saking seringnya tidak pernah bosan untuk ku perankan. Dengan anggapan semua yang ku bayangkan menjadi kenyataan. Namun, pada akhirnya takdirlah yang memberikan jawaban.
Dengan langkah gontai. Sebelah tangan mencoba menekan kembali panggilan. Tak bereaksi, juga tak ada bunyi. Sepertinya ponselku rusak tercemar guyuran hujan. Ku lipat, ku buang begitu saja ketika aku menjauh dari tempat awal. Pandanganku semakin berkabut. Diselaputi dengan air hujan dan air asin yang bersumber dari dalam mataku sendiri. Pikiranku juga berkecamuk dengan satu ekpsektasi, bahwa sekarang kyunnie hyung pasti sedang bersama dengan Ryewook .Dan aku dengan bodoh dan percayanya, menanti kyunnie hyung sampai tengah malam buta.
Jujur aku sudah tidak terlalu sayang lagi dengan nyawa. Hanya saja aku enggan mengakali kematian. Jika memang vonisnya aku akan tetap meninggal. Biarlah maut itu yang datang dengan sendirinya. Tanpa aku yang bertindak bodoh mengakhirinya. Jadi, tetap ku jalani kehidupan ini seperlunya, sebagaimana mestinya. Dan kekecewaan yang tak habis-habisnya ini membuat ku harus memanjatkan do'a : Tuhan cabut nyawaku segera.
Sisa-sisa daya pengelihatanku yang hanya bisa ku gunakan untuk meniti trotoar jalan sambil membayangkan wajah kyunnie hyung yang kini hanya tinggal sebait kenangan. Semakin lunglai. Lambat laun aku merasa kaki ku sudah tidak berpijak lagi di atas tanah. Bayangan kyunnie hyung juga telah tertepis oleh serangkaian warna hitam.
"Hyukjae!"
Suara sayup menelisik telinga.
"Hyukjae!"
Terdengar lagi, tapi sudah tidak sayup, melainkan terdengar cukup jauh.
"hyukjae!"
Kini suaranya terdengar semakin mendekat.
"Hyukjae! Kau bisa mendengarku!"
Cukup jelas sekarang. Dan aku merasa terganggu. Menarik kesadaranku yang tadinya tidak tahu jatuh di mana.
Kubuka mataku pelan. Mengerjap lemah untuk mencapai kapasitas sudut pandang yang sesuai. Tak berguna, visualku senantiasa dihiasi tampilan samar.
"kyu...nie hyung?" suaraku lirih.
"Ini aku Hyuk."
Ku coba meningkatkan daya fungsi telinga, sebab kemampuan mataku sudah tidak bisa lagi mengenali.
"Dok. . ter. . Choi. . . apa itu kau?" lanjutku dengan pengucapan yang begitu lemah.
"Iya hyuk ini aku."
Tampak sesosok buram tengah membungkuk di sebelah kiriku.
"Syukurlah kau sudah siuman."
Ku kumpulkan kesadaran sepenuhnya. Tubuhku lemas. Tidak, sepertinya mati rasa atau bisa jadi lumpuh. Yang nyata terasa hanyalah terjangan udara konstan yang memaksa masuk lewat dua celah kecil di organ yang sering ku gunakan untuk bernapas. Dan rasa nyeri yang berdenyut di salah satu permukaan kulit di punggung tangan.
"Kau sudah tidak sadarkan diri selama lima hari."
Mata berkedip sayu. Korneaku yang sudah tidak sehat bergerak mengamati sekitar yang hasilnya sama saja—kabur.
"Dengar Hyuk, tumormu sudah mulai menyebar. Kau harus segera menjalani operasi sebelum menjadi ganas."
Mendadak dadaku serasa terhimpit benda berat. Berasa sesak.
"Harus ada walimu yang bertanggung jawab agar kau bisa segera di operasi."
"Aku hi. . dup sen. .di. . rian dokter," suaraku terdengar parau di akhiri tarikan nafas yang dalam.
"Kerabatmu?"
Satu-satunya sejawat yang aku punya hanya kyunnie hyung. Tapi tidak mungkin aku mengabarinya. Kepala ku gelengkan pelan.
"Kenapa kau tidak bilang dari awal pemeriksaan? Seandainya aku tahu,langsung segera ku lakukan tindakan operasi dari hari pertama kau dirawat. Tidak perlu aku menunggu mu sampai sadar. Baiklah aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan jadi wali mu. Kau tidak keberatan bukan?"
Penekanan di dada semakin menjadi. Oksigen murni di lubang hidung tidak banyak membantu. Spontan mulut ku buka lebar, gerakan alamiah untuk menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya.
"Hyukjae?"
Gerakan dadaku yang tidak wajar nampaknya membuat dia cemas.
"Dokter tingkat saturasi nya menurun."
"Siapkan masker! Akan ku lepas nasal kanul nya!"
Begitu menyesakkan. Baru pertama kali ini aku merasa dunia kedap udara. Sekalipun dadaku memompa keras, mulut memengap-mengap, mencari-cari gas penghasil energi, tapi semua upaya percuma. Tidak ada apa-apa yang ku dapatkan kecuali rasa menyiksa.
Selang dilepas. Dokter mulai hendak memasang sungkup. Susah payah tangan ku ayun. Ku tepis. Dokter tetap memaksa untuk memasangnya. Ku tepis lagi.
"Hyukjae, kau mau mati!"
Pikiranku kosong. Aku sudah hilang akal. Aku sudah bosan hidup. Ya, benar aku ingin mati.
Dokter Choi tetap bersikeras. Ku tahan pergerakan tangannya di udara menggunakan tanganku yang lemah. Dia membiarkannya sebentar, mungkin iba karena aku meneteskan air mata akibat kepedihan teramat dalam.
"Biar. . . kan hhhhh aku. . .hhhhh mati. . ."
Tanganku lunglai, menghujam permukaan ranjang. Pergerakan semua anggota badanku terhenti. Begitu juga aktifitas organ bagian dalam. Terutama paru-paruku berhenti fungsi. Sudah tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan pertukaran udara sekalipun mulutku sudah menganga selebar apapun. Tapi kesadaran ku masih bersemayam, belum melepas di raga yang telah mati total. Aku layaknya jiwa yang terperangkap dalam sebuah boneka. Masih bisa melihat meski pupil membeku. Masih mendengar meski tak bisa menanggapi. Dan anehnya penglihatanku jelas setelah sekian lama buram.
Dokter yang memasangkan sungkup muka ke wajahku tertampang jelas di hadapan. Baru kali ini ku ketahui rupanya. Wajah yang rupawan dengan rambut hitam legam. Perintahnya agarku bernapas, suara ribut monitoring yang berbunyi tak berirama, paramedis yang mencetuskan istilah-istilah asing, dan mulai gelagapan memasang berbagai macam benda di tubuhku, semuanya berbaur, terpatri, membahana, masih tertangkap gendang telinga maupun mata.
Bayangan kyunnie hyung menari-menari di ingatan. Kenangan masa kecil, kenangan proses menuju remaja, sampai yang paling terkini, kenangan tumbuh menjadi seorang pria dewasa, dan semua kenangan-kenangan ku bersama kyunnie hyung bergulir layaknya cuplikan film yang diputar ulang.
Jadi begini proses akan mati. Dibuat bermanja sebentar sebelum jiwa sepenuhnya ditarik pergi.
Sebulir cairan bening keluar dari ekor mata, mengalir segaris, merembes mengenai helaian pirang, ku jadikan sebagai persembahan terakhir sebelum kedua mata ini disembunyikan oleh kelopak yang mengatup otomatis.
TBCOREND..
Akhir nya selsai jga. skli lagi ini remake jd cuma menmbah dan mengurangi ja ya .. harap dmaklum klo typo tw kata yng kurang pas masih baru hehhe ...
Big thanks for SNAWTA QYRIOS .
