Assalammu'alaikum minna. Saya kembali. Nyahahahahahahaha... #dilempar. XD

Hmm, saya datang dengan sebuah chapter baru untuk fic saya satu ini yang sepertinya kurang peminatnya.

Saya tidak tahu kenapa bisa kurang peminatnya. Yah, tapi saya ndak mikirin itu.

Ray: kayak bisa mikir aja. XD

Cyber: hoooo, mau saya hapuskan? XD

Ray: maafkan saya Toumitsu-sama.

Cyber: anak pintar. XD

#abaikan.

Yah, ndak usah banyak omong lagi. Langsung aja baca.

Selamat membaca minna.

.

.

.

.

.


Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.

Green and Blue? Or Green and Purple? ©Cyber Keju-ma.

Rate T.

GaJe, OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.

Don't Like?, Don't Read!


.

.

.

.

.

Kini disebuah bangku di taman belakang Crypton Academy, terlihatlah Lapis yang sepertinya dalam keadaan tidak baik. Matanya terlihat sembab. Benar-benar tidak baik.

Apa yang terjadi dengannya? Apa mungkin karena cintanya pada pujaan hatinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemuda berambut hijau bernama Nigaito? Mungkin saja iya.

Sedari tadi yang Lapis lakukan hanyalah duduk terdiam sambil menatap sesuatu yang jauh berada di depannya sana dengan pandangan kosong. Ntah apa yang sebenarnya di pikirkan pun tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri.

Namun tidak lama setelah itu, Lapis pun tersadar dari lamunannya karena dia merasa sepertinya ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang. Dia menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat siapa orang yang menepuk pundaknya tadi.

Seorang gadis berambut ungu panjang yang diikat menjadi dua dan mengenakan jacket dengan telinga kelinci di bagian kepalnya, itulah yang dilihat oleh Lapis. Dia terkejut, sangat terkejut. Dia tahu gadis itu karena gadis itu adalah gadis yang sudah mengambil pujaan hatinya.

"Ahh, ano. Kenapa kau bersedih? Apa ada masalah?" tanya gadis itu dengan nada yang lembut.

"Tidak ada. Aku baik-baik saja," ucap Lapis seraya bangkit dari duduknya dan hendak ingin pergi. Namun, saat dia mau melangkah pergi, gadis itu menarik tangannya dan menhannya agar tidak pergi.

"Ano, bolehkah aku berteman denganmu? Namaku Yuzuki Yukari. Aku ingin sekali punya teman, tapi sama sekali tidak ada orang yang mau berteman denganku. Kau mau 'kan menjadi temanku?" tanya gadis itu yang diketahui bernama Yukari dengan nada yang terdengar sedih.

Sejenak Lapis berpikir, apa mungkin gadis ini tidak mempunyai teman? Tapi jika mendengar nadanya berbicara, sepertinya Yukari tidak berbohong. Jadi apa yang harus dia lakukan? Berteman dengan Yukari? Bukankah Yukari adalah orang yang tidak dia sukai? Tapi jika dia menolak, maka itu pasti akan membuat Yukari sedih dan tidak mempunyai teman. Yah, mungkin dia bisa menjadi teman untuk orang yang sebenarnya tidak dia sukai.

"Yah, baiklah. Aku akan menjadi temanmu. Namaku Aoki Lapis," ucap Lapis seraya berbalik dan mengahadap Yukari.

Mendengar Lapis ingin menjadi temannya, Yukari pun tersenyum riang dan kemudian memeluk Lapis dengan erat.

"Akhirnya aku punya teman. Arigatou, Aoki-san," ucap Yukari senang.

"Ahh, panggil saja aku Lapis," ucap Lapis kemudian membalas pelukan Yukari.

"Baiklah Lapis-chan. Kau boleh memanggilku Yukari," ucap Yukari melepaskan pelukannya dan kemudian tersenyum kearah Lapis.

"Baiklah Yukari," ucap Lapis membalas senyuman Yukari.

KRRRRIIIIIIINNNNGGGGG~!

Terdengarlah suara bel sekolah yang berbunyi sangat keras. Tanda bahwa para siswa yang sudah datang kesekolah harus masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran.

"Ahh, Lapis-chan. Siang nanti kau mau 'kan makan siang bersamaku disini? Aku akan sangat senang jika kau mau karena selama ini aku hanya makan siang sendiri. Kau mau 'kan?" tanya Yukari memohon.

"Hmm, baiklah. Aku akan makan siang bersamamu," ucap Lapis memenuhi permohonan Yuakri.

"Huwa, arigatou Lapis-chan. Baiklah, aku akan ke kelas ku sekarang. Jaa," ucap Yukari seraya melambaikan tangannya kearah Lapis dan kemudian beranjak pergi.

Lapis menatap kepergian Yukari sampai akhirnya gadis berambut ungu itu menghilang dari pandangannya. Sejenak dia berpikir. Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia mau menjadi teman orang yang sudah jelas merebut pujaan hatinya? Tapi di dalam hatinya berkata lain. Dia sungguh tidak tega setelah mengetahui bahwa Yukari adalah gadis yang selalu sendiri. Apa dia melakukan sesuatu yang salah? Ahh, tidak. Dia berpikir kalau apa yang dia lakukan adalah hal yang benar. Meskipun itu akan menyakitinya nanti.

Setelah cukup lama terdiam disana akhirnya Lapis sadar jika bel masuk sudah berbunyi sedari tadi. Dia kemudian beranjak dari temaptnya untuk pergi ke kelasnya. Dia berharap jika guru yang mengajarnya sekarang belum masuk ke ruang kelas. Jika ketahuan terlambat masuk, dia bisa dihukum.

.

.

.

.

.

Waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid akhirnya pun tiba. Yah, itu adalah waktu istirahat setelah lelah menggunakan otak mereka untuk belajar, belajar, dan belajar.

Kini terlihat di sebuah ruang kelas terdapat dua orang yang berbeda jenis dan berbeda warna pula. Yang satu seorang pemuda berwarna hijau dan yang satu lagi seorang gadis berambut biru.

"Lapis," panggil Nigaito.

"Yah? Ada apa?" tanya Lapis seraya membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Nigaito yang duduk di kursi yang ada di belakangnya.

"Kau mau ikut denganku? Kaito-nii, Len-niisama, dan yang lain mengajak kita makan siang bersama," ucap Nigaito mengajak Lapis.

Lapis terlihat tertarik dengan tawaran Nigaito. Pasalnya dia bisa berkumpul dengan para senpainya yang menyenangkan itu. Namun, dia teringat akan janjinya tadi pagi dengan teman barunya. Dia sudah berjanji akan makan siang bersama dengan Yukari di taman belakang sekolah. Jika dia mengingkarinya, pasti Yukari akan merasa sedih dan menjadi sendirian.

"Ahh, maaf Nigaito-kun. Aku sudah punya janji dengan temanku untuk makan siang bersama," ucap Lapis menolak ajakan Nigaito.

"Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi," ucap Nigaito sedikit kecewa seraya bangkit dari duduknya. "Baiklah. Aku pergi dulu," lanjutnya sambil melambaikan tangannya kearah Lapis dan kemudian pergi dari ruang kelasnya.

Lapis kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang kelasnya. Dia ingin menepati janjinya dengan Yukari untuk makan siang bersama.

.

.

.

.

.

Selama perjalan menuju taman belakang sekolah, Lapis terus berpikir tentang apa yang dia lakukan tadi pagi di taman belakang. Dia benar-benar takut jika hal yang dia lakukan itu adalah hal yang salah. Berteman dengan seseorang yang tidak di sukainya? Mungkin akan sulit.

Lapis terus berjalan hingga tanpa dia sadari kini dia sudah berada di taman belakang sekolah. Di bangku taman yang tadi pagi dia duduki, dia melihat ada Yukari yang sedang duduk disana. sepertinya dia sudah membuat gadis berambut ungu itu menunggu.

Lapis menghampiri Yukari yang sedang duduk dengan berlari cepat. Dia tidak mau membuang-buang waktu dan membuat Yukari menunggu lebih lama karena waktu istirahat tidak lah lama.

"Yukari," panggil Lapis.

Merasa namanya di panggil, Yukari menolehkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang memanggilnya. Dan seketika senyuman mengembang di wajahnya kala melihat gadis berambut biru yang tadi pagi baru saja menjadi temannya itu sudah datang.

"Kukira kau tidak akan datang," ucap Yukari setelah Lapis sampai di tempatnya.

"Aku tidak pernah mengingkari janjiku," ucap Lapis seraya duduk di sebelah Yukari.

"Ahh, baiklah. Aku percaya padamu," ucap Yukari seraya tersenyum kepada Lapis.

"Oh yah, bolehkah aku tahu kenapa kau tidak mempunyai teman?" tanya Lapis penasaran.

"Aku tidak tahu kenapa. Tapi tidak ada orang yang mau mendekatiku. Setiap kali aku mendekati orang-orang, pasti mereka akan langsung menjauhiku," jelas Yukari seraya mendukkan kepalanya. Dia terlihat sedih sekarang.

Lapis tersentak mendengar penjelasan dari Yukari. Benarkah begitu? Tapi, apa yang membuat orang-orang tidak mau mendekatinya? Pasti ada alasan tertentu kenapa mereka tidak mau mendekati Yukari.

"Semua orang selalu menganggapku bahwa aku ini adalah orang yang selalu merebut apa yang orang lain miliki. Padahal aku sama sekali tidak tahu apa kesalahanku. Aku sama sekali tidak merasa pernah merebut apa yang orang lain miliki. Aku benar-benar tidak tahu apa yang salah denganku hingga orang-orang membenciku," ucap Yukari dengan nada lirihnya dan kini terlihat air matanya mengalir di wajahnya.

Kini Lapis merasakan hatinya sedikit sakit. Sebenarnya apa yang di katakan Yukari benar. Yukari sudah merebut seorang pemudan berambut hijau dari dirinya.

Tapi bukan itu yang sebenarnya membuat hati Lapis sakit. Yang membuat hatinya sakit adalah karena dia merasa tidak tega dengan apa yang dirasakan oleh Yukari. Semua orang membenci Yukari hingga tidak mau mendekatinya.

"Yukari, tidak usah bersedih. Aku kan temanmu," ucap Lapis seraya memeluk Yukari.

"Yah, terima kasih Lapis-chan. Aku benar-benar senang bisa mempunyai seorang teman sepertimu. Meskipun hanya satu, tapi itu lebih baik dari pada tidak ada sama sekali," ucap Yukari sambil membalas pelukan Lapis.

Sepertinya mereka berdua sudah sangat akrab. Padahal mereka baru berkenalan dan berteman pagi ini tepat beberapa menit sebelum bel sekolah berbunyi.

Yukari melepaskan pelukannya dengan Lapis dan kemudian tersenyum. Dia sangat senang karena akhirnya ada juga orang yang mau berteman dengannya.

"Yah, aku akan selalu menjadi temanmu apapun yang terjadi. Teman selamanya?" ucap KaLapis membalas senyuman Yukari sambil mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan Yukari.

"Yah, tentu. Teman selamanya," ucap Yukari seraya mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Lapis. Dan kini, mereka berdua telah terikat atas nama persahabatan.

"Kau tidak perlu bersedih lagi sekarang karena sudah ada aku," ucap Lapis.

"Baiklah. Kau sudah bilang padaku jika kau tidak pernah mengingkari janjimu," ucap Yukari.

"Tentu saja aku tidak akan mengingkari janjiku. Apa lagi kepada sahabatku sendiri," ucap Lapis yakin dengan perkataannya.

"Kalau begitu, boleh aku meminta tolong sesuatu padamu?" tanya Yukari memohon.

"Katakan saja jika kau ingin minta tolong padaku," jawab Lapis yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yukari.

"Kau janji akan menolongku?" tanya Yukari meyakinkan.

"Yah, aku janji akan menolongmu apapun itu," ucap Lapis dengan senyuman terhias di wajahnya.

"Ano, sebenarnya aku malu mengatakan ini. Tapi aku menyukai seseorang," ucap Yukari sedikit malu-malu.

"Hoo, jadi kau ingin aku membantumu untuk lebih dekat dengannya? Boleh aku tahu siapa itu?" tanya Lapis penasaran.

"Sebenarnya dia adalah teman sekelasmu. Namanya Shion Nigaito. Kau mau membantuku kan untuk lebih dekat dengannya?" tanya Yukari dengan penuh harapan.

Mendengar kalau orang yang disukai Yukari adalah orang yang dia sukai juga, hatinya serasa tertusuk ribuan pisau. Sakit? Yah, dia merasakan hatinya sangat sakit sekarang karena dia harus membantu orang lain untuk menjadi dekat dengan orang yang dia sukai.

Lapis hanya bisa terdiam dengan tatap kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pikirannya benar-benar kacau. Jika dia menerimanya, itu artinya dia hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Tapi jika dia menolak , itu artinya dia sudah mengingkari janjinya dan membuat sahabatnya kecewa karena dia sudah berjanji akan menolong Yukari apapun itu.

Yang ada dipikiran Lapis adalah berbagai macam pertanyaan yang tiba-tiba muncul begitu saja dan sama sekali tidak tahu apa jawabannya. Apa sebuah keasalahan jika dia berteman dengan Yukari? Tapi bukankah akan menjadi kesalahan yang semakin besar jika dia pergi meninggalkan Yukari begitu saja? Dia benar-benar bingung. Ingin rasanya dia menangis sekarang. tapi yang ada di depannya adalah sahabatnya. Dia tidak mau membuat orang lain khawatir hanya karena sebuah tangisan.

"Lapis-chan? Kenapa kau diam saja?" panggil Yukari seraya melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Lapis.

Mendengar namanya dipanggil, Lapis pun tersadar dari lamunannya. Dia menatap Yukari dengan pandangan yang sulit diartikan. Apa yang harus dia lakukan? Menolongnya atau menolaknya?

"Aku mohon Lapis-chan. Bantu aku yah," ucap Yukari dengan nada sangat berharap.

Lapis masih bingung dengan jawaban apa yang harus dia katakan. Tapi setelah lama berpikir, akhirnya dia sudah memutuskan jawaban yang menurutnya adalah yang paling benar.

"Baiklah. Aku akan menolongmu," ucap Lapis tersenyum kearah Yukari. Tapi di balik senyumnya itu, tersimpan sebuah rasa sakit yang sungguh besar.

"Terima kasih, Lapis-chan. Kau memang sahabat yang baik," ucap Yukari membalas senyuman Lapis. "Ahh, sebaiknya kita cepat-cepat memakan bekal kita karena sebentar lagi akan masuk," ucap Yukari yang kemudian membuka kotak makan siangnya dan kemudian memakannya dengan lahap.

Lapis hanya diam, namun dia melakukan hal yang sama dengan Yukari. Memakan bekal untuk makan siangnya.

Bahkan selama Lapis memakan bekalnya, dia terus berpikir apakah dia melakukan hal yang salah atau tidak. Kenyataan pahit yang dia terima benar-benar menyakitkan.

Memang sungguh kejam dunia jika kita hanya bisa menjadi seorang penonton dan membantu orang lain untuk menyakiti diri kita sendiri.

.

.

.

.

.


~To Be Continue~


Akhirnya selesai chapter ini. Huufffffft~ #hela bafas.

Bagaimana menurut kalian semua? Bagus atau ancur? Itu kalian sendiri lah yang menilai.

Icy: Toumitsu-sama sepertinya sedang kelelahan?

Cyber: yah begitulah.

Ray: ada yang bisa saya bantu, Toumitsu-sama?

Cyber: ahh, kau memang baik Ray. Tapi saya tidak membutuhkan pertolongan untuk sekarang. Saya hanya ingin tidur. XD

Ray & Icy: baiklah.

Ahahahahahahah...

Jangan lupa ripiuunya setelah membaca. Yang lupa akan saya bantai. XD #jduakk.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa lagi di lain waktu.

#terbang. XD