Disclaimer : Shin Megami Tensei, Persona 4 © ATLUS ; Acute and Devil © siklomika

Warning : OOC, Rise/Souji/Naoto, contains nudity—nah, I'm lying. Contains violence. Not for children and do not try this at home.


Acute and Devil

—when a triangle love meets devil —


Di tengah hari yang cerah terdapat seorang gadis yang terduduk dan bersandar lesu pada pagar atap sekolahnya. Menatap ke atas langit biru. Membiarkan angin menyusuri tiap helai rambut birunya. Cap-nya tekulai lemas di sampingnya. Gadis itu mendengus lelah, menggosok wajahnya dengan kedua tangannya dan memejamkan mata. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia membolos pelajaran di atap sekolah. Gadis mungil itu melirik ke topinya. Memandang bagian yang terobek. Really, dari semua barang berbahan kain miliknya, kenapa harus topi itu yang terluka? Topi yang selalu menemaninya dimana pun dan kapan pun. Yang selalu membantunya menyembunyikan mimik wajah yang tak mampu dia kontrol. Sesuatu yang sangat—yeah, ketika tertulis sangat, itu berarti sangat—berarti baginya. Detektif itu mengangkat tangan yang sedari tadi dilipatnya di dada dan melihat jam tangan miliknya. Pukul 15.00. Dan, sekitar lima belas menit lagi pasukan di gedung ini berhamburan keluar. Kini gadis itu berdiri, membersihkan sedikit debu yang menempel di celananya dan memungut topi biru kesayangannya. Bola mata biru itu memandang miris dan sedih kepada topinya. Kembali, dia membersihkan debu yang menempel di benda biru yang robek itu. Naoto tidak memakainya kembali—khawatir robekannya melebar—tetapi dia hanya menggenggamnya dan mulai berjalan meninggalkan atap sekolah.

Tepat ketika kakinya menginjak lantai dua, matanya menangkap sebuah sosok yang tak asing lagi. Sosok lelaki berambut abu-abu melangkah keluar dari perpustakaan. Ingatan Naoto secara otomatis mengulang suara lelaki itu tempo hari.

"Hm.. Rise, aku suka padamu. Aku suka rambutmu, aku suka matamu, aku suka wajahmu, aku suka sifatmu, aku suka dirimu. Maukah kau menjadi pacarku?"

Dan, yang paling menyebalkan adalah, bagian terakhir itu selalu bergema di telinganya bagaikan pemuda itu meneriakannya dengan suara lantang di dalam sebuah gua. Yang makin lama suaranya makin teredam. Naoto menggertakan giginya dan memandang lelaki itu dengan penuh rasa benci—sedih, kesal, sakit, entahlah. Dan, ketika mata Souji menyadari kehadiran sosok biru itu, ketika kedua mata mereka bertemu, Naoto refleks memalingkan wajahnya dengan kasar dan segera melangkahkan kaki menuju lantai satu. Tanpa disadari olehnya, pemuda bermata abu-abu transparan itu mengejarnya dan ketika Naoto sudah berada dalam jangkauannya, lelaki itu menggapai lengan yang lebih kecil darinya dan menariknya. Menyebabkan Naoto terpaksa melangkahkan kakinya ke belakang dan meluncurkan suara yang melambangkan rasa sakit dan terkejut. Souji membalikkan tubuh Naoto menghadap ke arahnya. Naoto tidak ingin menatap lelaki ini. Naoto tidak ingin lelaki ini menatapnya. Gadis itu menunduk, mengangkat lengannya keatas dan menggenggam-genggam udara diatas kepalanya—mencari topinya. Ya, dia lupa bahwa topi kesayangannya itu digenggam oleh tangannya yang lain.

"Ehm—Naoto? Ada apa?" Suara lembut pemuda itu membuat Naoto menggeleng dan matanya melirik ke segala arah. Kemana pun kecuali mata itu. Naoto dapat merasakan jantungnya berdetak tak berirama. Dia merasa hatinya menciut. Dia tidak tahu apa yang diingankannya sekarang. Apakah menangis atau menampar wajah lelaki di depannya ini dengan sekuat tenaga.

"Sebenarnya ada apa denganmu, Naoto? Akhir-akhir ini kamu tidak pernah bermain bersama kami—aku dan Rise lagi." Sebagai balasannya, Naoto hanya mengangkat bahu tak peduli. Souji mendengus dan melanjutkan perkataannya. "Yah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu." Souji menggaruk pipinya yang tak gatal. Dan dia terdiam sesaat. Naoto hanya melirik sedikit padanya dan mengerutkan alisnya ketika mendapati Souji memandanginya penuh arti dan sekarang Naoto merasakan wajahnya memanas, jantungnya berdegup, perasaan aneh yang disebut senang menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlahan, Naoto tidak lagi hanya melirik kakak kelasnya itu. Gadis itu menatapnya lurus tepat di matanya. Tatapan penuh harap. Naoto refleks mundur dan bergidik ketika Souji perlahan mendekatinya dan membisikan sesuatu.

"Maukah kau menjadi pacarku?"

Tanpa menunggu perintah, lengan Naoto yang bebas melayangkan sebuah kecupan kecil di pipi Souji sehingga membentuk sebuah tato berbentuk tangan yang berwarna merah. Souji hanya bisa tercengang dan menatap adik kelasnya dengan tatapan kaget dan mulut menganga. Tangannya mengelus pipi yang bertato itu.

"Sebenarnya, apa maksudmu, Senpai? Seenaknya berkata seperti itu!" teriak Naoto. Kini Naoto tak dapat lagi membendung segala emosi yang membingungkan itu. Semuanya tertumpahkan melalui cairan asin yang mengalir dari pelupuk matanya. "S—seenaknya berkata seperti itu setelah—setelah—" kata-kata selanjutnya terasa tercekat di tenggorokan. "—jadian dengan Kujikawa Rise-san, eh?" Gadis itu menepuk-nepuk dadanya dengan keras. "Sakit—senpai." Naoto bergegas lari dan menerobos masuk diantara siswa-siswi yang sedang berhamburan keluar kelas.

Pagi hari sebelum bel masuk berteriak, seseorang bertanya dengan kasar. "Katakan, wahai Kujikawa Rise-san. Apakah kau berpacaran dengan Souji-senpai?" Rise hanya membelalakkan mata terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan kasar dan nada bicara tak bersahabat, menoleh ke arah sumber suara. Mendapati Naoto sedang memandangnya dengan tatapan yang aneh—alis mengerut, tatapan tajam penuh kebencian—Rise ikut mengerutkan keningnya dan hanya mengangguk kecil. Sementara Naoto hanya ber-'oh' ria datar dan memicingkan mata ke arah gadis berambut merah kecoklatan sebelum akhirnya memalingkan wajah dan tidak memandang gadis itu lagi. Rise yang merasa kesal ikut memalingkan wajah dan menggembungkan pipi sementara dagunya bertopang pada tangannya.

Selama pelajaran, Rise tidak bisa—tidak mau berkosentrasi belajar. Mood-nya sudah dirusak pagi-pagi sekali oleh bocah biru itu. Oleh bocah yang seharusnya memberikan maaf kepada Rise karena telah merobek topinya. Hari ini dia tidak mengenakan topi. Dan hal itu membuat perempuan-perempuan disekelilingnya tak berhenti menatap ke arah mantan Prince Detective itu. Bahkan berkedip pun tidak! Rise bisa melihat samar-samar gambar berbentuk hati di mata mereka. Tuhan, dunia benar-benar sudah gila. Tepat ketika bel istirahat berbunyi, Rise bangkit dengan penuh semangat dan mendengus keras ke arah Naoto ketika melewatinya. Sekarang, Naoto sungguh tak peduli kemana Rise akan pergi dan dengan siapa Rise akan menghabiskan waktunya.

Naoto bangkit berdiri, meninggalkan kursi dan kelasnya. Mencoba tidak mengindahkan teriakan-teriakan kecil yang meluncur dari gadis-gadis di koridor ketika dia melewatinya. Saat ini dia hanya ingin pergi ke tempat sepi tanpa seorang pun dari mereka—Souji atau Rise—mengganggunya. Kakinya dilangkahkan menuju atap dan duduk sambil bersandar di pagar pembatas setelah memastikan di atap itu tidak terdapat rambut abu-abu dan rambut merah kecoklatan sedang bersama bercanda tawa, melambai-lambai, berguncang-guncang atau berbincang-bincang. Naoto memejamkan mata. Mencoba membuang memori kemarin, mencoba memendam ingatan beberapa hari lalu, mencoba membakar semua masalahnya. Dan berharap hari-hari akan berjalan seperti sedia kala.

"—to!"

Naoto mengernyitkan dahi. Terheran karena ada suara yang tak diundang memasuki pikirannya.

"—oto! —Naoto!"

Akhirnya Naoto tidak menggubris suara itu dan tetap mencoba menghilangkan semua masalahnya.

"Hey, Nona Naoto!"

Kali ini Naoto terbangun. Kelopak matanya terbuka dan langsung menutup lagi ketika dia melihat cahaya merah tertuju ke pupilnya. Naoto mengerang dan menggosok kedua matanya. Setelah penglihatannya kembali normal, matanya langsung menangkap sosok berambut coklat susu dengan headphone jingga di telinganya sedang memainkan sebuah benda kecil yang bercahaya berwarna merah. Sebuah laser.

"Ah—Yosuke-senpai, kau benar-benar bodoh. Jauhkan laser itu dari mataku." Naoto langsung berkomentar pedas kepada lelaki yang dipanggilnya Yosuke-senpai itu. Yosuke hanya membelalakkan mata tidak terima dibilang bodoh oleh adik kelasnya sendiri.

"Aw, Naoto, aw," seru lelaki yang memiliki iris sewarna dengan rambutnya itu sambil menempelkan tangan di dadanya. Menandakan bahwa bagian itulah yang terasa sakit. Naoto hanya mendengus lalu tersenyum tipis. "Ada apa, Nona? Sepertinya sedang banyak masalah, eh?" tanya Yosuke sembari menatap mata Naoto yang terlihat sedikit letih. Naoto lagi-lagi hanya tersenyum dan menggeleng. "He—." Yosuke terdiam dan mulai berbaring di samping tempat Naoto duduk. "Punya pekerjaan berat sepertimu pasti sulit. Kalau ada masalah, ceritakanlah kepada seseorang. Tapi tolong jangan ceritakan tentang kasus-kasus rumit yang kau tangani itu padaku." Refleks Yosuke memasang tampang 'ogah' yang menurut Naoto sangat aneh. Naoto hanya tertawa kecil sebagai balasannya.

Beberapa saat suasana hening menghampiri mereka sampai Naoto memecahkannya. "Yah—memang sedang bermasalah. Tapi entah mengapa setelah melihat wajah konyolmu, Yosuke-senpai, semua masalah itu hilang entah kemana." Naoto bangkit berdiri dan menepuk beberapa kotoran yang menempel di celananya. Gadis itu menatap kakak kelasnya itu dan tersenyum. "Senpai, tolong jangan arahkan laser itu lagi ke mata seseorang. Terlebih di saat seseorang itu sedang dalam pertandingan—sepak bola, misalnya. Akan amat-sangat-berbahaya. Losers use lasers, Hanamura Yosuke-senpai." Naoto melangkahkan kakinya meninggalkan Yosuke yang hanya mengerutkan kening. Hal terakhir yang Yosuke dengar adalah suara Naoto yang mengucapkan 'terima kasih' jauh di sana.

Hari minggu yang cukup cerah untuk berpergian ke luar rumah. Namun detektif itu lebih memilih mengurung diri sementara penghuni rumah yang lain sibuk dengan kegiatan di luar rumah. Dia sedang berada di ruang tengahnya membaca novel detektif koleksi ayahnya seperti biasa ketika seseorang menekan tombol bel rumahnya. Dengan enggan, Naoto mengangkat dirinya dari sofa empuk dan melangkah menuju pintu. Naoto hanya mengerutkan dahi ketika yang didapatinya adalah seorang Souji seta.

"Bolehkah aku masuk?" tanyanya sambil melengkungkan bibirnya ke atas. Naoto mulai bersikap waspada seakan-akan yang di hadapannya adalah seorang pembunuh berantai.

"Apa maumu?" nada ketus terselip di antara kata-kata gadis biru itu. Souji hanya tersenyum lembut dan dengan seenak hati melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan punggungnya.

"Aku hanya ingin menjelaskan. Bahwa aku dan Rise tidak memiliki hubungan apapun. Jika kau melihat aku sedang menyatakan perasaanku kepada Rise, itu semua hanya sekedar latihan. Agar aku bisa lebih tenang bila menyatakannya kepadamu." Senyum Souji belum juga pupus ketika dia selesai mengatakan pernyataan itu. Tidak percaya, Naoto memalingkan wajahnya dan bertanya dengan nada ketus.

"Benarkah? Nampaknya Rise-san belum diberitahukan tentang alasan ini, eh? Jangan pernah mencoba membohongiku, Souji-senpai. Rise-san telah mengakui bahwa dirinya memang berpacaran dengan Senpai." Naoto mendengus angkuh dan memandang Souji dengan penuh kebencian.

Souji melepaskan sebuah desahan ringan dari bibirnya. "Dia memang sudah kuberitahu agar mengaku bahwa dia adalah pacarku jika kau menanyakannya padanya. Yah, semacam—kejutan?" kini Souji menatap Naoto dengan pandangan serius. "Jadi, sekali lagi. Maukah kamu menjadi pacarku?"

Keangkuhan Naoto mulai luntur. Digantikan oleh sikap senang dan lega. Naoto tersenyum lembut dan mengangguk kecil dan disambut pelukan hangat dari Souji. Keduanya tenggelam dalam euforia yang sama. Sebuah euforia yang tak akan bertahan lama. Karena, tepat sebelum bibir kedua insan ini bertemu, seseorang telah mendobrak masuk rumah itu. Membuat sepasang kekasih itu refleks melepaskan pelukan mereka. Mata mereka membesar ketika mendapatkan pandangan yang—oh, sungguh aneh itu. Di depan pintu rumah itu terdapat sosok gadis berkuncir dua. Rambutnya yang sedikit ikal berwarna merah kecoklatan itu terlihat berantakan. Wajahnya yang mulus itu terbasahi oleh air mata yang mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Matanya menusuk tajam kepada kedua orang yang ada di hadapannya. Giginya rapat dan bibirnya bergetar hebat beserta seluruh tubuhnya. Tangan yang satu mengepal kencang sehingga kulitnya menjadi berwarna putih pucat. Sementara tangan yang satu lagi menggenggam sebuah benda yang memantulkan cahaya. Sebuah pisau pendek yang sangat tajam. Naoto sudah meletakkan tangannya di atas revolver yang selalu ada di sakunya. Siaga untuk hal yang terburuk. Sementara Souji mengulurkan lengannya ke hadapan Naoto—berusaha melindungi sang gadis.

"Ah—Rise, kebe—"

Kalimat sang lelaki terhenti ketika gadis yang menggenggam pisau itu mengarahkan pisaunya tepat ke wajah sang lelaki. "Berhenti bicara. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah mengerti semuanya." Rise menyeringai. Dan percayalah, itu adalah seringai paling mengerikan yang pernah mereka lihat. Meski Naoto sudah sering melihat seringai para pelaku pembunuhan, dia berani bersumpah, seringai mantan idola itu lebih mengerikan. Rise melangkah maju perlahan-lahan. Sementara Naoto dan Souji melangkah mundur. "Souji-senpai, sekarang, pilihlah. Nyawaku, nyawanya, atau—nyawamu?" tanya Rise sambil mengusap-usap bagian tajam pisaunya dengan tangannya yang lembut.

Souji yang merasa tertekan oleh atmosfer dan hawa membunuh yang dipancarkan Rise, menjawab dengan tergagap. "Se—sebenarnya, Rise-ku yang manis, a—aku sangat menyayangimu d—dan mencintaimu." Pernyataan itu sontak membuat Naoto menoleh kepada sang lelaki yang kini menghindari tatapan Naoto. Sedetik kemudian, yang Naoto sadari adalah logam dingin yang menembus kulit di dada kirinya dan melubangi jantungnya. Dan wangi darah segar yang menempel pada logam.

"Waaa—!" Souji berteriak kecil dan menjauh dari Naoto yang mulai berlumuran darah dan kini terbaring tak bergerak di lantai yang dingin. Rise kembali menyeringai dan menjilat sedikit darah Naoto yang mengenai sudut bibirnya.

"Meskipun kalian berkata aku bodoh, setidaknya aku tahu dengan tepat dimana letak jantung, wahai Detektif." Rise menoleh kepada Souji yang kini memancarkan rasa takut yang terlihat dengan jelas di wajahnya. "Aw, Leader, kau tidak takut pada shadow-shadow itu tetapi kau takut padaku? Pada pacarmu?" Rise memandang Souji sambil tetap memasang seringainya. Souji menggeleng takut. Dan tepat ketika Souji membuka mulut hendak menyampaikan sanggahannya, Rise dengan tepat menusuk tenggorokan lelaki itu, memutar pisaunya dan mencabutnya. Meninggalkan lubang besar yang menganga di leher sang kekasih. Ketika Souji jatuh terduduk tetapi masih memiliki kesadaran, Rise memberi kecupan kecil di dahinya. "Selamat tidur, sayang. Have a nice dream." Dengan cekatan, Rise memotong nadi di leher pemuda itu. Membuatnya terkulai lemas dengan mata yang terbelalak. "Nah, sekarang, sentuhan terakhir." Kali ini Rise tidak menyeringai tetapi dia tersenyum dengan sedih dan berteriak dengan lantang, "Good night, world! I'm Risette, thank you andhave a NICE dream!" kini Rise menusukkan pisau yang sudah mengambil nyawa dua orang yang sangat berharga baginya tepat ke jantungnya sehingga dia terkulai lemas di atas mayat kedua orang itu. Mereka terlihat asik bermain bertiga seperti dulu kala. Di sebuah kubangan yang hanya dimiliki oleh mereka bertiga—di dalam kubangan darah.

.

.

Dan yang terlihat hanyalah seorang gadis dengan rambut hitam panjang mengenakan pakaian serba hitam dengan bando yang sewarna dengan rambutnya, seorang gadis berambut coklat soft mengenakan jaket hitam dan rok yang juga berwarna hitam, seorang lelaki berambut silver yang disisir ke belakang mengenakan setelan jas hitam, seorang lelaki muda berambut kuning aneh mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna hitam, seorang pemuda berambut coklat susu tanpa membawa headphone-nya mengenakan jaket hitam berbulu dan celana hitam, mengelilingi tiga buah makam yang berdampingan satu sama lain.

.

.

END


A/N: ehm—hola. Lama tak bersua. Setelah sekian lama akhirnya fic ini selesai juga. Meskipun pasti banyak misstype bertebaran dimana-mana. OOC sekali, no? Saya terlanjur capek dan membiarkan fic ini dalam kondisi hancur ketika saya publish. Maafkan saya, sesepuh! Tak bermaksud menodai fandom ini! Dan, ehm, karena ada yang mengingatkan bahwa di chap 1 gak ada Yosuke, jadi saya eksklusif-hah?-memunculkan Yosuke dengan lasernya! Owell, semua orang tau apa maksud bagian Yosuke dan lasernya itu. Diksi, typing, karakter—oh, ini fic paling ancur yang pernah saya buat. Sebenarnya saya mau membuat ending dimana Rise ternyata mencintai Naoto, bukannya Souji. Tapi saya terlanjur buat yang kayak gini, jadinya ending fic pun jadi sampah. Well, review? GARUDA DI DADAKU~