Gakushuu sangat menantikan tahun baru karena selain dirinya berulang tahun, ia akan mendapatkan kejutan dari seseorang.
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Double Surprise © shichigatsudesu
Asano Gakushuu's prompt : Home
Warning : AU!, OOC (sangat), Shounen-ai, melenceng dari prompt, dan segala kekurangan lainnya di dalam fic ini. Maaf kalau ceritanya aneh :'(
Dedicated for #asakaruweeks
.
.
.
TOK TOK TOK!
Seseorang mengetuk pintu kamarku dengan tempo yang cepat, itu tandanya seseorang itu membutuhkan bantuan darurat dariku. Aku yang semula sedang asyik di dalam dunia maya kini harus menunda aktivitasku itu, dengan terpaksa tentunya.
"Ayah?"
Aku terkejut ketika mendapati sosok ayahku yang berada di balik pintu kamarku. Wajahnya begitu tegas— yaa, sebenarnya aku sudah terbiasa dengan ekspresi yang cukup menyeramkan itu. Namun aku merasakan sesuatu yang aneh darinya. Benar saja, manik matanya menyiratkan rasa panik yang begitu kentara.
"Ada perlu apa? Biasanya kau—"
"Pergi ke kantor. Sekarang."
"Hah? Kenapa?"
"Ada banyak kerjaan di sana. Mereka membutuhkanmu."
Aku menaikkan alisku lebih tinggi lagi. Sungguh, aku tak habis pikir dengan Tuan Gakuhou yang satu ini.
"Hari ini aku libur, ayah. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau—"
"Cepat pergi. Ini perintah."
Mendengar suruhan yang tajam dan penuh penekanan itu, serta matanya yang begitu mengintimidasi, aku hanya bisa meneguk ludah. Tak lama, aku melangkah kakiku malas, mengganti kaos dan celana pendek dengan setelan baju formal.
Menyebalkan sekali, padahal ini adalah hari pertama di tahun baru.
.
.
.
Ada beberapa hal yang membuatku merasa kesal dan muak, sampai aku harus mencak-mencak setiap saat saking kesalnya.
Pertama, aku yang harus pergi ke kantor di hari libur karena ayah. Padahal ia sendiri yang memberikan hari kebebasan itu, tapi mengapa tiba-tiba ditarik?
Kedua, ada seorang pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan di jalan. Alhasil mobilku yang mahal ini harus menjadi korban goresan spion motornya. Aku tahu ini merupakan hari bahagia, tapi bukan berarti harus melanggar lalu lintas seperti itu.
Ketiga, dan ini yang membuat rasa kesalku semakin menjadi-jadi. Mengapa laporan yang harus aku kerjakan banyak sekali? Seingatku, aku pernah menyelesaikan semua laporan ini. Namun tiba-tiba saja mereka datang dan datang lagi.
Huh, aku gagal paham. Mengapa semua ini harus terjadi? Padahal ini adalah tahun baru, dan aku ingin menikmati hari ini dengan khidmat.
Aku mengistirahatkan tubuhku sejenak. Aku bersandar pada kursi empuk, kemudian berputar menghadap jendela yang menampakkan dunia luar. Satu demi satu salju turun, menggunduk di tempat yang memiliki luas penampang yang besar.
Aku juga melihat banyak pejalan kaki yang saling bercengkrama. Mereka terlihat senang dengan kegiatan mereka di hari libur. Pergi bersama sambil menikmati suasana tahun baru di toko-toko yang tengah mengadakan promo, atau kegiatan lain yang sekiranya menyenangkan.
Setidaknya tidak berada di tempat ini!
Ahh, aku ingin pulang. Berada di rumah terasa jauh lebih nikmat dibandingkan gedung bertingkat ini. Meskipun aku hanya bermalas-malasan di kamar, setidaknya itu lebih baik daripada harus mengurusi laporan-laporan ini.
Oh ya, aku baru ingat. Hari ini tanggal 1 Januari. Aku memiliki janji dengan seseorang, dan rencananya kami akan pergi ke suatu tempat.
Tapi semua rencana yang sudah kususun rapi harus musnah karena ayah. Sial.
"Sebaiknya aku hubungi Karma."
Setelah berucap demikian, aku mengeluarkan smartphone-ku dari saku celana. Jemariku bergerak dengan lihai, menyentuh layar ponselku lalu memasuki aplikasi pesan. Setelahnya, aku segera mengetikkan pesan singkat, yaa semacam permintaan maaf begitu lah. Saat aku menyentuh perintah kirim, barulah aku kembali menekuni pekerjaanku sebelumnya.
Namun setelah beberapa saat memfokuskan diri pada laporan, aku tidak mendapatkan pesan balasan dari Karma. Biasanya setiap aku mengirim pesan, Karma pasti membalasnya, entah itu minta maaf, butuh bantuan, atau hanya iseng belaka. Berkali-kali aku mengecek layar handphone, barangkali pesanku sudah dibalas. Ternyata hasilnya sama saja.
Jangan-jangan Karma marah?
TOK TOK TOK!
"Permisi, Tuan."
"Silahkan masuk."
Seseorang membuka pintu ruanganku. Ia berjalan ke arahku sambil mendekap setumpukan kertas dalam map berwarna-warni. Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum miris.
Alasan hari ini aku merasa kesal bertambah satu.
"Ini ada beberapa laporan yang harus anda periksa dan ditanda tangani, Asano-san."
Satu perempatan muncul di pelipisku.
"Aku akan kembali lagi 3 jam yang akan dating setelah mengikuti rapat bersama beberapa pimpinan perusahaan."
Dua perempatan lain muncul di pelipisku.
Wanita itu— yang merupakan sekretaris pribadiku mendadak gemetar begitu aku mengeluarkan aura hitam serta lipan imaginer di belakangku.
"K-K-Kalau begitu saya permisi dulu, Asano-san."
BRAK!
Aku segera menggebrak meja begitu wanita itu pergi meninggalkan ruangan. Pelipisku terasa berdenyut. Aku sudah tidak kuat dengan laporan-laporan ini.
Sial. Aku ingin pulang!
.
.
.
Langit cerah telah berganti menjadi gelap. Satu per satu titik cahaya bintang muncul, lama-lama langit gelap berubah menjadi indah.
Sayangnya hatiku tak seindah langit malam. Aku benar-benar penat setelah mengerjakan segala urusan di kantor. Padahal aku sangat menantikan tahun baru, karena aku ingin bersantai dan menghabiskan waktu bersama Karma.
Pokoknya setelah ini, aku akan melakukan unjuk rasa pada ayah. Aku ingin mengusung satu tuntutan saja; meminta hari liburku diperpanjang. Itu saja.
Ngomong-ngomong soal Karma, aku sama sekali tidak berkomunikasi dengannya hari ini. Sejak aku mengirim pesan singkat tadi siang, ia tidak membalas. Barusan juga aku mencoba menelponnya, tetapi ponselnya tidak bisa dihubungi.
Berarti pesan-pesanku sebelumnya belum dibaca, dong? Apa Karma benar-benar marah padaku?
Seandainya saat ini aku yang menyetir, mungkin aku akan membawa mobil ini ke apartemen Karma terlebih dahulu. Aku ingin mengetahui kelakuan si surai merah itu. Apa yang sedang ia lakukan sampai harus menonaktifkan ponselnya?
Apa Karma tidak ingin diganggu karena pekerjaannya? Ahh, tidak mungkin. Karma selalu libur di tahun baru.
Apa Karma sakit dan ingin istirahat? Tidak, tidak. Karma pasti menghubungiku kalau ia sedang tidak enak badan.
Tuh kan, aku mulai berpikiran macam-macam!
Sambil menikmati perjalanan pulang yang sudah ditempuh separuhnya, aku mencoba menghubungi Karma lagi. Aku selalu merasa resah jika si surai merah itu tidak memberikan kabar. Meskipun ia hanya mengirim satu pesan, atau menelponnya 30 detik, tak masalah buatku. Yang penting aku mengetahui keadaannya hari itu.
Dan lagi-lagi ponselnya tidak bisa dihu— eh? Tersambung!
"Halo?"
"Halo, Karma?"
Syukurlah, panggilanku terjawab.
"Ada apa, Gakushuu? Kenapa kau tiba-tiba—"
"BAKA!"
"Eh?"
"Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku menelponmu sejak tadi siang, aku juga mengirimu pesan berkali-kali, tetapi kau tidak angkat atau balas pesanku."
"Gakushuu?"
"Kalau terjadi apa-apa seharusnya kau menghubungiku."
Tuuuutt…
Aku memutuskan sambungan. Aku tak ingin emosiku meledak semua pada Karma, dan aku tidak ingin semakin bersalah di matanya. Karma pasti marah padaku, aku yakin itu. Karenanya, aku ingin segera pulang, memasuki dunia mimpi, kemudian bangun ketika esok hari sudah datang. Selanjutnya aku akan menjelaskan padanya soal rencana hari ini yang batal karena aku— yang dipaksa masuk kerja oleh ayah.
Aku terkejut ketika mobil tiba-tiba berbelok. Oh, ternyata aku sudah sampai rumah? Akhirnya…
Aku membukakakn pintu dengan semangat. Dengan segera kakiku melangkah cepat, memasuki rumah bak istana yang sedari tadi aku impikan.
Namun aku kembali terkejut ketika melihat sosok ayah yang tengah mematung itu menyapa netraku saat pertama masuk rumah.
"Asano-kun, bagaimana kerjamu hari ini?"
"Ayah…" aku menggenggam erat tas kerjaku— kesal. "Kau sengaja menunda semua pekerjaan itu agar aku mengerjakannya hari ini, kan?"
"Mengapa kau berpikiran seperti itu, Asano-kun?"
"Itu karena semua laporan yang aku terima hari ini tertanggal bulan desember tanggal 21."
"Lalu?"
"Seharusnya laporan itu sudah di-acc, ayah."
Ahh, lama-lama aku geram. Melihat ekspresi wajah ayah yang datar itu, aku rasa pak tua itu sengaja melakukannya. Tapi mengapa?
"Sudahlah, Asano-kun. Pekerjaanmu sudah selesai, jadi masuklah ke kamar."
Aku merutuk dalam hati. Sial, bahkan aku tak sempat menyampaikan orasiku. Padahal sedari di kantor, aku sudah merangkai kata-kata yang nantinya digunakan saat mendemo ayah. Tapi sekarang?
"Asano-kun, kau pasti sangat lelah. Cepatlah masuk kamar."
Tapi ayah benar. Daripada aku harus membuang tenaga untuk beremosi ria— yang ujung-ujungnya tidak ditanggapi, lebih baik aku mengikuti ucapannya. Nanti aku masuk kamar, mandi, berganti pakaian, kemudian—
DUAR!
"Selamat ulang tahun, Gakushuu!"
Iris mataku melebar, kemudian mengerjap beberapa kali. Lalu aku melihat beberapa kertas kecil berjatuhan karena suara ledakan tadi, dan atensiku tertarik ketika melihat sosok yang sedari tadi aku cemaskan ada di depan mata.
Akabane Karma ada di kamarku. Ia bawa kue!
"Selamat ulang tahun, Gakushuu." Ucapnya yang kedua kali.
Karma berjalan menghampiriku, sedangkan aku yang masih mematung malah mengedarkan pandang pada seisi kamar. Ruangan ini begitu rapi, padahal aku meninggalkannya dalam kondisi berantakan. Beberapa pita menggantung di dinding, di atas pintu juga ada pita yang meledak tadi, dan hei, aku melihat sesuatu yang menarik di sana; sebuah kado.
"Gakushuu?" panggil Karma. "Kau kenapa?"
Aku buru-buru menyadarkan diri, kemudian menjawab pertanyaan Karma. "A-Aku? Aku…"
"Apa kau terkejut?" potongnya. "Apa kau senang?"
Ya, aku sangat terkejut dengan ini. Saking terkejutnya, aku bingung harus mengatakan apa, ingin bicara pun aku gelagapan.
"A—"
"Oh ya, lilinnya masih menyala." Tiba-tiba aku terperanjat karena Karma mendadak ingat kue yang dipegangnya. "Tiup lilin dulu, Gakushuu."
Akhirnya aku menurut. Setelah berdiam diri untuk memanjatkan doa, aku segera meniup api pada lilin berangka 21. Karma terlihat bahagia melihatku. Maka dari itu, aku ikut tersenyum.
"Karma," aku memanggil si surai merah. "Mengapa kau melakukan ini?"
"Mengapa?" ia balik bertanya, kemudian terkekeh pelan. "Tentu saja untuk memberimu kejutan."
"M-Maksudku—" aku mulai gelagapan, masih merasakan serangan kejut. "K-Kapan kau m-menyiapkan semua ini?"
"Tadi siang, saat kau pergi kerja."
Aku menganga, gagal paham dengan jawaban Karma. Tetapi ia malah tertawa keras-keras. Aku semakin bingung, apalagi saat si merah itu meletakkan kuenya (sekarang kueku) di meja belajarku, sedangkan dirinya mengambil posisi duduk di lantai.
Aku pun mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Sebenarnya aku sudah merencanakan ini sebulan yang lalu. Aku meminta izin pada Asano-san, tapi ia tidak setuju. Setelah aku bujuk akhirnya ia tunduk juga."
"Lalu, e-mail yang waktu itu?"
"Yang mana?"
"Seminggu lalu, kau bilang hari ini bebas. Lalu kau mengajakku pergi keluar untuk jalan-jalan"
"Oh, yang itu…" Karma ber-oh-ria. Tak lama ia menyeringai, lalu tertawa. "Aku memang berencana begitu, tetapi setelah kupikir-pikir lebih baik aku melakukan sesuatu yang berbeda."
"Maksudmu?"
"Aku ingin berganti suasana, supaya kau tidak bosan dan merasa senang. Tahun-tahun lalu kan aku selalu mengajakmu 'kencan' lalu memberimu hadiah." Jelasnya. "Kau juga selalu melakukan itu kan?"
Sejujurnya aku merasa senang, namun aku hanya memasang wajah cemberut begitu menyadari bahwa aku dikerjai.
"Tapi kau tidak perlu menjahiliku sampai seperti ini, dong?" aku memasang ekspresi ngambek sebisaku. "Hari ini kerjaanku banyak sekali, kau tahu?"
"Ya, aku tahu kok." Kemudian Karma menyentuh puncak kepalaku, mengelus strawberry blonde-ku dengan lembut. "Karena itu, maafkan aku yang telah menjahilimu saat ulang tahun. Maaf ya?"
Setelah mendengar itu, wajahku terasa begitu panas. Ternyata semburat merah telah mengganti warna kulitku. Aku senang mendengarnya, namun aku malu.
"Kau tak perlu meminta maaf, Karma. Seharusnya aku mengucapkan terima kasih karena telah membuatku senang."
"Kau merasa senang? Sungguh?"
"Ya."
Saking senangnya, Karma memelukku dengan erat, sampai-sampai aku merasa sesak. Apa ia lupa kalau aku masih menggunakan jas?
"Selamat tahun baru, Gakushuu. Selamat ulang tahun!"
"T-T-Terima kasih, Ka— AKH! Terlalu erat, baka!"
"Ahh, maaf." Karma pun melepaskan pelukan eratnya padaku.
"Baka."
Tiba-tiba atmosfer menjadi sunyi. Karma memegangi kedua bahuku. Manik tembaganya menatapku dengan serius.
Kalau sudah begini, aku tahu apa yang ia inginkan.
Akhirnya aku menghadapkan tubuhku padanya. Karma terlihat tengah mengikiskan jarak wajahnya denganku, sambil menutup mata. Aku pun melakukan hal yang sama. Jaraknya semakin dekat, sebentar lagi bibir kami akan bersentuhan, kemudian—
TOK TOK TOK!
"Sampai kapan kalian akan berdua terus di kamar? Cepat keluar, makan malam sudah siap. Akabane, suruh Asano-kun ganti baju secepatnya."
Aku dan Karma langsung berhenti, padahal jarak bibir kami sudah kurang dari satu senti. Kami membuang napas bersamaan, kemudian sweatdrop. Selanjutnya pandangan kami bertemu, lalu tertawa bersama.
Setelah bersiap-siap, kami segera pergi menuju ruang makan. Selama makan malam, hatiku tak kuasa menahan senang. Saat ini rumah benar-benar terasa nyaman. Bagaimana ya jika aku sudah menikah dengan Karma? Mungkin aku bisa lebih bahagia dari ini, kan kita satu rumah!
Eh?
.
.
.
END
.
.
.
HAPPY BIRTHDAY ASANO GAKUSHUU! SEMOGA MAKIN CERDAS, MAKIN OTORITER, DAN BISA LANGGENG SAMA KARMA(?)
