Disclaimer: Masashi Kishimoto
Original Story by Nasako Uzumikawa
Genre : Adventure, Supranatural, Romance
Rate: T+
The Legend Of Andevinia
Chapter 2: Disappearance of Minato
Sore itu, langit berwarna kemerahan menyelimuti seluruh wilayah Andevinia. Walau sudah sore begini, kasta Modevia masih saja bekerja mencari nafkah.
Mereka terlihat letih saat mendorong, menarik, dan mengangkat beberapa material bangunan tembok yang di renacanakan oleh sang raja.
Memang, sebagian dari mereka sudah pulang dan tengah beristirahat sekarang.
Dan ditempat beristirahat, terlihat seorang ayah dan anak lelakinya yang tengah bersiap untuk pulang.
Sang ayah nampak telaten saat mengenakan syal merah pada anaknya. Bukannya kebetulan telaten saja, sang ayah memang sudah lama mengurusi segala keperluan anak lelakinya ini sejak lahir, dikarenakan istrinya meninggal saat setelah melahirkan Naruto, anak lelakinya.
"Tou-san, apa menu makan malam kita hari ini? Apa Tou-san akan merebus kentang lagi?" Tanya anaknya setengah cemberut.
Sedangkan pria dewasa bernama lengkap Namikaze Minato, yang telah lama mengurus menu makan malam keluarga kecilnya itu menggeleng. Nampaknya ia punya menu lain, yang akan disajikannya malam ini.
"Tidak ada kentang rebus malam ini! Tou-san ingin mengajakmu makan selayaknya orang lain makan malam!"
Kedua alis pirang Naruto bertaut, pertanda tak paham.
"Memangnya selama ini, kita makan kentang rebus, bukan makan malam yang layak bagi orang lain?"
Mendadak Minato tertawa geli. Tapi, mendadak juga setelah itu ia terdiam. Harusnya ini bukanlah sesuatu yang patut ia tertawakan. Naruto bicara begitu bukan karena ia tak sengaja bertindak polos. Namun ini murni atas ketidaktahuannya tentang apa itu makan malam yang sebenarnya.
Mungkin bukan hanya Naruto yang begitu, seluruh anak berkasta Modevia mungkin juga akan begitu.
Makan malam? Apa itu? Sepotong kentang rebus tanpa garam, itulah jawaban yang mereka punya.
Lalu, bagaimana dengan makan siang atau sarapan pagi?
Tidak jauh berbeda dengan kedua waktu tersebut. Toh, juga kentang rebus atau ubi-ubi lain yang direbus menunya.
Uang sebesar 120 Biro yang mereka terima setiap bulannya tentu tak akan cukup, untuk hidup normal dengan memakan Nasi atau Roti karena Pajak sebesar 100 Biro sudah menanti untuk dilunasi.
Apa tak ada jalan lain untuk mendapatkan uang? Pertanyaan yang bagus, dan jawabannya adalah 'tidak ada'. Semua lahan maupun hak untuk membuka usaha telah dijatuhkan pada kasta Didevia . Tak boleh satupun kasta selain Didevia yang boleh membuka usaha. Hal ini telah lama ditetapkan oleh raja untuk menjaga kestabilan rantai kehidupan, dimana yang lemah dan bodoh, haruslah selalu dibawah agar selalu mudah di budak untuk kepentingan kerajaan.
Terlihat jelas perlakuan Deskriminasinya bukan?
Namun, setiap keputusan raja bukanlah hasil pemikiran ataupun kehendaknya sendiri. Melainkan keputusan Mentri-mentrinya. Sehingga, salah besar jika ada orang yang mengatakan jika raja Andevinia adalah orang kejam.
Minato kembali membenarkan posisi syal anaknya, walaupun sudah rapi dan benar.
"Bukan begitu! Tou-san hanya ingin mengajakmu untuk makan malam, yang lebih baik dari kentang rebus. Bagaimana, kau mau kan?"
Perut yang keroncongan dan rasa haus membuat Naruto kecil mengangguk dengan semangat."Tentu... aku mau!"
Minato segera tersenyum seraya mengacak-acak rambut pirang anaknya.
.
.
.
.
.
.
Di restoran Yakiniku
"Wah... disini ramai sekali, Tou-san!" rasa takjub Naruto kecil tak tertahankan, mengingat ia hanyalah seorang kasta Modevia yang miskin.
"Kau senang?" Minato tersenyum.
"Pasti! Tapi... disini harga makanannya murah, ya?" Tanya Naruto Antusias.
"Murah?Hahah... Siapa bilang disini murah, nak? Ini adalah restoran terkenal, mana mungkin murah!" Ujar Minato setengah berbisik
"Tapi... saat masuk, aku melihat papan namanya bertuliskan Yakiniku restoran termurah se-Andevinia! Apa tulisan itu salah?"
Seperti pembohong kebanyakan, saat ketahuan Minato hanya bertingkah aneh menepis ucapan Naruto.
"Ha? benarkah? Mu-mungkin kau salah baca! Sudahlah, jangan dibahas lagi. Lihat, pelayannya sudah datang!" Matanya mendelik ke wanita muda dan anak perempuan yang datang membawa nampan kosong. Kedua pelayan itu memakai Yukata yang sama, berwarna biru dongker dengan motif bunga Sakura.
Saat mengalihkan pandangan kearah pelayan itu, Naruto tertegun atas ketidaktahuannya mengenai apa itu perhiasan dunia. Ia pun hanya bisa terpaku saat memandang anak perempuan bersurai merah muda yang matanya beririskan hijaunya kristal Emerald. Kulitnya yang seputih susu, juga semakin membuat Naruto tak berhenti berdecak kagum atas keindahan anak pelayan itu.
'S-siapakah makhluk yang berada didepanku ini? Mengapa ia tidak seperti seseorang yang disebut wanita yang pernah kulihat?'
"Naruto-kun?" Minato mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk menyadarkan sang anak yang melamun.
"Ah? Tou-san? Ada apa?" Naruto tersadar dengan menutup mulutnya yang sempat terbuka.
" Sebesar itukah rasa laparmu? Sampai-sampai kau begitu. Kau mau pesan apa, nak?" Tanya Minato, setelah berhadapan dengan kedua pelayan.
"Umm... aku... ingin makan mie kuah yang sama seperti Ji-san disudut sana makan!"
Anak perempuan dibelakang pelayan dewasa itu langsung mencari objek yang dimaksud, dan dengan tatapan dingin ia bertanya"Maksudmu Ramen?"
"Huh? I-iya.. a-aku pesan R-ramen..." Lidah Naruto tiba-tiba saja terasa kelu saat menjawab.
"Anda?" Tanya pelayan itu kembali pada Minato.
"Aku juga sama!"
Pelayan dewasa itu mencatat pesanannya dengan cepat, lalu ia memberikan lembaran catatan itu pada anak perempuan di belakangnya itu.
" Berikan ini pada Teuchi-san!"
Anak itu mengangguk dan langsung berjalan masuk ke pintu belakang.
Sedangkan pelayan dewasa tadi, kembali berjalan mendekati meja lain.
"Sepertinya kau menyukai gadis tadi, Naruto-kun!" Tanya Minatosetelah pelayan itu pergi dengan menaikan sebelah alisnya, pertanda menggoda.
"Sepertinya begitu... eh? t-tentu saja tidak! Aku tak mungkin tertarik dengan gadis tembem seperti dia!" Naruto menggembungkan pipinya dan seketika timbul semburat merah disana.
"Hihihi... kau terlihat lucu ketika berbohong!" Minato menutup mulutnya seketika saat Naruto mendeliknya tajam. "Ops..."
"Tapi... perlu kau ketahui, bahwa orang-orang yang berada disini, hampir semuanya berkasta Didevia, dan mungkin gadis kecil tadi juga termasuk!" Lanjut Minato menatap serius anaknya.
"memangnya kenapa? Apa kasta Modivia seperti kita tak boleh berhubungan dengan kasta lain?"
Minato meletakkan tangan besarnya diatas kepala Naruto "Bukannya tak boleh, namun kasta lain tak semuanya ingin berhubungan dan menganggap baik kita. Mereka... " Kepala pirang Minato menunduk, ia hampir saja salah bicara pada anaknya yang masih kecil dengan akan mengatakan 'memandang hina kita'.
"pokoknya Naruto-kun, kau jangan berharap banyak pada mereka yang berkasta lain! Ini demi dirimu sendiri, mengertikan?"
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum berkata "Aku mengerti"
"MANA SAKENYA? HEI PELAYAN..."Tiba-tiba salah satu dari tiga orang pria yang berada disebelah meja Minato dan Naruto meneriaki pelayan seraya mengangkat botol Sakenya.
Mereka bertiga tampak seperti preman yang kerjanya mabuk-mabukan, dengan hidung yang memerah.
Pelayan yang tadi melayani Minato, langsung tergopoh-gopoh mendekati meja mereka.
"Berhenti berteriak begitu! Maaf saja, tapi kalian belum membayar Sake yang kemarin. Teuchi-san sudah memperingatkan, bahwa ini Sake terakhir untuk kalian. Jadi, jika ingin Sake lagi, kalian harus membayar hutang sebelumnya!"
Pria yang memiliki luka silang di dagu itu tampak berfikir, dengan keadaannya yang tampak kurang sadarkan diri ia menjawab.
"Baik-baik... kami akan membayarnya saat pulang nanti, jadi cepat berikan kami Sake!" Ujarnya.
Mau tak mau, pelayan itu mengambil botol Sakenya untuk diisi.
Diam-diam, Naruto dan Minato memperhatikan tingkah ketiga orang itu sedari tadi.
"Hehehe... bodohnya..." Pria yang memiliki luka silang didagu dan mata kiri yang di tutupi perban itu bergumam.
"Kau tak perlu mengutuknya begitu! Jadi... bagaimana dengan kelompok yang diperintahkan oleh Ros-sama? Apa kau sudah mendapatkan anggotanya? Ingat... kita tak punya waktu. Revolusi yang dijanjikan Ros-sama semakin dekat tanggal mainnya!" Ujar salah satu dari mereka yang berambut panjang, berkulit pucat dan matakuning yang pupilnya seperti ular.
"Heh.. tenang saja! Aku sudah memiliki..." Pria itu mengangkat tangannya, dengan jari telunjuk dan ibu jari yang menyatu membentuk huruf 'O'
"Nol? Kau gila? Ros-sama akan berkunjung malam ini! Kuharap kau sudah menyiapkan peti mati yang bagus!" Pria yang satu lagi, berambut pirang gelap dengan kalung religi dewa dilehernya, hampir tersedak saat mendengar pernyataan temannya.
" Aku tak perlu menyiapkan peti mati. Karena aku punya sesuatu untuk Ros-sama sebagai gantinya! Lagi pula rencana ini, akan terwujud setelah 10 tahun kedepan, jadi apa salahnya kita bersantai sebentar!"
Pria yang tadi berkulit pucat, hanya tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan yang berambut pirang gelap, hanya dapat mengangkat bahu.
Naruto, yang mendengar seluruh percakapan aneh itu memasang wajah bingung. "Tou-san, Ros-sama itu siapa?"
Minato tak menggubris pertanyaan anaknya, karena ia tampak melamun saat itu.
'Jadi, isu mengengai Revolusi itu benar! Tak ku sangka Ros-sama sudah melangkah sejauh ini!Apa dia belum juga puas? Jika benar ia akan datang malam ini, apa yang harus kulakukan?'
"Tou-san? Kau mendengarku?" Naruto menunduk, menyajarkan wajahnya dengan arah pandangan sang ayah.
"Eh? kau mengatakan sesuatu?"
"Hmm... Sudahlah... aku tak mengatakan sesuatu, anggap saja begitu! Ngomong-ngomong, aku benar-benar penasaran dengan Sake. Apa minuman itu manis? Kenapa orang dewasa sangat suka meminumnya?"
Minato tampak berfikr "Umm... Bagaimana ya menjawabnya? Begini, Sake itu rasanya sedikit berbeda dari minuman lain. Bahkan saat meminumnya mulutmu serasa terbakar. Minuman itu, disukai orang dewasa karena..."
"Bisa membuatmu lupa akan tekanan masalah sesaat hingga mabuk! Kau anak ingusan tak mungkin mengerti hal itu! Jadi lebih baik diam saja!" Pelayan kecil, yang tadi dikagumi oleh Naruto tiba-tiba datang dan menyahut dengan memotong ucapan Minato. Nampan berisi dua mangkuk Ramen ia letakkan diatas meja.
"Ini pesanannya, silahkan dinikmati!" Setelahnya gadis itu pergi dengan mengambil kembali nampan kosongnya.
"Tunggu!" Cegat Naruto refleks.
"Kenapa bicaramu kasar sekali? Ku pikir kau anak yang baik sebelumnya tapi, lihatlah siapa yang sok dewasa disini? Aku yakin, kau juga cuma anak manja yang terus merengek pada orang tuamu, iya kan?"
Naruto berdiri dari duduknya sambil menunjuk marah pada gadis itu.
Gadis kecil bersurai merah muda itu mendelik tajam kearah Naruto "Anak manja? Kau pikir aku suka merengek?"
Naruto mengadah "Tentu begitukan? Lihatlah dirimu... kau benar-benar tempak seperti seorang yang sangat cengeng!"
Gadis kecil itu benar-benar sudah tak tahan,ia membuang nampannya dan dengan cepat berlari kearah Naruto untuk mencengkram kuat bajunya.
Semua pelaggan di Restoran itu langsung memperhatikan mereka berdua.
"Dengar! Orang seperti dirimu, yang tak tau apa-apa tentang dunia ini, tak pantas bicara apapun mengenai diriku! Di mataku, orang sepertimu tak lebih dari sekedar sampah yang mengoceh!" Gadis itu benar-benar marah.
Namun, Naruto yang tak terima di perlakukan begitu, mendorong kuat tubuhnya hingga terjatuh, dan naasnya baju Yukata-nya ikut tersangkut sehingga daerah sekitar bahunya terekspos.
"NARUTO-KUN! APA YANG KAU LAKUKAN?" Minato dengan cepat membantu gadis itu untuk berdiri.
Naruto terdiam seraya mengatur nafas.
Minato menatap geram kearah anaknya "Kau tak apa-apa kan?" Ia menanyai gadis yang matanya kini digenangi air mata.
Gadis itu menggeleng sebelum berlari masuk ke sebuah kamar.
"Ada apa ini?" Seorang pelayan dewasa yang tadi melayani mereka tiba-tiba datang dari dapur dengan membawa sebotol Sake. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran saat gadis kecil tadi berlari melewatinya.
"Umm... A-ano, maafkan kami! Anakku mendorongnya hingga jatuh, bajunya tersangkut dan sedikit terkoyak!" Minato menunduk padanya.
Pelayan itu menggeleng. Sebelum menjawab, ia meletakkan botol Sakenya di meja pemesan.
"Kenapa kau membiarkan orang rendahan seperti mereka masuk kesini?" Ujar pria yang memiliki luka silang didagu itu sambil menuangkan Sake di gelasnya.
Minato ataupun Naruto bukanlah seseorang yang tuli. Mereka mendengar dengan jelas hinaan itu. Namun, si Pelayan dengan cepat menyeimbangkan suasana.
"Harusnya kalian yang tak kuizinkan masuk. Paling tidak mereka membayar apa yang mereka makan, tidak seperti kalian yang hanya berhutang!"
"Cih... " Pria itu mendesah kesal.
Wanita itu berbalik, kearah Minato.
"Jadi, apa yang Saku-chan lakukan pada anakmu tuan? Dan mengapa ia sampai mendorong Saku-chan begitu?"
Minato menggaruk kepalanya yang tak gatal, dengan cengiran ia menjawab
"Ummh... I-ini... sepenuhnya adalah kesalahan Naruto anakku, ia mengatai gadis kecil tadi adalah anak manja. A-aku sungguh menyesal karena tak menjaganya. Jadi mohon maafkan kami!" Pria beranak satu itu kembali menunduk dan menundukkan kepala anaknya.
Pelayan wanita itu menggeleng dan tersenyum. Ia juga merasa senang dengan kerendahan hati Minato.
"Sudah, tak perlu berlebihan begitu. Tapi, sebelumnya aku ingin memberitahu kalau Saku-chan bukanlah anak manja. Ia anak yang mandiri!"
Wanita itu membungkukkan badannya agar sejajar dengan Naruto. Dan anak itu langsung membuang muka seraya mendesah.
"Aku tau dia anak manja. Ba-san tak perlu menyembunyikan keburukan anak sendiri, untuk membohongi anak kecil!"
Dengan sigap Minato mencubit lengan anaknya yang terlewat lancang.
"Aww..." Naruto menjerit. Namun tak disangka pelayan itu menyuruh Minato berhenti. Dengan raut serius, wanita yang memakai Yukata biru dongker dengan motif bunga Sakura itu memandang Naruto.
"Kau salah Naruto-kun! Bahkan sejak awal kau sudah salah menilainya. Saku-chan bukan anakku! Ia kutemukan sendirian dijalanan saat berumur enam tahun. Dan apa kau tau, bagaimana keadaannya saat itu? Ia... berlumuran darah Tou-sannya! Dan jangan salah sangka lagi, Tou-sannya tidak dibunuh oleh penjahat atau semacamnya. Melainkan tangan mungilnyalah yang telah mengakhiri hidup Tou-sannya sendiri. Jika kau jadi dia, aku yakin kau tak mungkin sanggup melanjutkan hidup. Tapi ia sepertinya tak menyesal melakukan itu, karena Ia... telah mengakhiri penderitaannya dengan membunuh!"
'Glek'
Tanpa sadar, kedua kaki Naruto bergetar, matanya juga melotot tak percaya.
Ia tak tau apakah ucapan wanita dewasa didepannya ini benar atau tidak, namun yang pasti hal ini membuatnya sangat takut dan bersalah.
"Baiklah, sepertinya kau sudah paham. Aku permisi, karena masih banyak pekerjaan, lain!" Wanita itu beranjak, pergi dengan nampan kosongnya, ia juga tampak senang walau ia terlihat seperti menakut-nakuti anak kecil begini, tapi itulah fakta sebenarnya tentang anak yang ia sebut dengan 'Saku-chan'.
"Haah..." Minato menghela nafas berat. "Lihat apa yang telah kau lakukan? Kau mengacaukannya Naruto-kun!" Ia berujar kesal, lalu kembali ke mejanya.
Naruto tak mendengar apa yang dikeluhkan ayahnya. Ia masih belum peracaya, saja.
"Sudahlah, tak perlu disesali! Ramenmu sudah dingin, nanti Tou-san bantu, untuk meminta maaf!"
Mendengar itu, Naruto kembali ke meja dan berusaha menyantap Ramennya walau ada rasa tak enak saat menelan lembaran mie tersebut.
.
.
.
Di depan kasir, Naruto dan Minato berdiri untuk membayar makan malamnya. Dan disana, berdiri pula pelayan dewasa yang tadi melayani mereka.
"Semuanya 60 Biro!"
Awalnya Naruto sedikit terkejut, namun setelah melihat raut senyum ayahnya, Naruto kembali tenang. Uang sebanyak itu memang sangat besar jumlahnya dimata mereka.
Minato mengeluarkan uang miliknya, dan setelah transaksi itu selesai ia bertanya.
"Apa gadis kecil, bernama Saku-chan tadi sudah kembali bekerja?"Ujarnya dengan alis bertaut.
Pelayan itu menggeleng "Belum, kelihatannya ia sedang menjahit, karena Yukata yang tadi ia kenakan hanya satu-satunya yang ia miliki, itupun jika ia sudah tenang!"
Naruto kembali tercengang, rasa bersalah yang merasukinya bertambah besar. Ia sebenarnya bukan orang yang bisa tenang dengan keadaan seperti ini. Dengan refleks tangan kecilnya melepaskan syal merah yang ada di lehernya dan berkata "Ba-san, kumohon sampaikan permintaan maafku yang terdalam padanya!Aku sungguh tak bermaksud membuat Yukata-nya sobek. Dengan ini, aku harap ia bisa mengenakannya untuk kembali bekerja. Aku juga telah sadar bahwasanya aku memang anak ingusan seperti yang ia katakan, dan bukan hanya manja tapi aku juga bodoh sebagai seorang lelaki yang meperlakukan wanita seperti itu. Maka dari itu, aku berharap agar ia bisa kembali bekerja seperti sebelumnya!" Kepalanya yang tertunduk dan nada bicaranya yang penuh penyesalan membuat dua orang dewasa yang mendengarnya tersenyum dalam decak kagum.
Tentunya pelayan itu langsung mengambil syalnya "Kau anak yang baik Naruto-kun, dan aku akan menyampaikan hal ini padanya nanti. Dan juga untuk anda tuan, datanglah lagi ke restoran kami lain waktu!"
Minato mengangguk sebelum berterima kasih dan keluar dari Restoran itu.
"Kau sudah mendengarnya sendirikan Sakura-chan, dia bukan anak yang tak bertanggung jawab, tapi dia adalah anak yang baik!" Ujar pelayan itu yang terlihat berbicara sendiri sebelum sebuah pintu geser dibelakangnya terbuka yang menampakkan sosok anak kecil bersurai merah muda yang tengah duduk dengan baju yang sedikit sobek disekitar bahu dan punggungnya.
Gadis kecil itu meraih syal yang ada ditangan pelayan itu. Ia menatap nanar syal itu seraya berkata "Lelaki bodoh yang menyesali perbuatannya pada wanita?" Ia kembali teringat akan kekejaman ayah kandungnya beberapa waktu silam. "Apa lelaki bodoh itu benar-benar ada, Tsunade-sama? "
Pelayan itu tersenyum dan meraih puncak kepala gadis kecil bernama Sakura itu.
"Kau bisa memastikannya saat kalian bertemu lagi..."
Sakura mengadah, menatap Tsunade dngan tatapan yang seolah berkata "Begitu ya..."
'Naruto? Apa aku akan bertemu lagi denganmu?' Ujarnya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Di perjalanan pulang, sepasang ayah dan anak yang menyusuri gelapnya jalanan terlihat begitu bahagia. Sang ayah terus-terusan mengayunkan tangan sang anak dengan semangat.
"Kenapa Tou-san yangterlihat senang?" Ujar anaknya yang nampak sedikit kesal.
"Tentu saja, Tou-san merasa senang. Karena memiliki anak sepertimu. Bahkan Tou-san tak bisa bicara sebaik dirimu saat meminta maaf tadi! Kau benar-benar hebat Naruto-kun, sampai-sampai kau rela meberikan syal peninggalan Kaa-sanmu padanya!"
Mendengar itu, Naruto menahan senyum bangganya "Habisnya aku merasa begitu bersalah, dan mengenai syal itu, aku... tak tau kenapa aku bisa memberikannya begitu saja, tapi yang terpenting... apa menerut Tou-san, dia akan memaafkanku?"
Minato tampak berfikir "Umm... Tou-san juga sedikit ragu. Tapi kau mungkin akan menemukan jawabannya setelah bertemu lagi dengannya!"
Naruto tertegun. Ia tampak sedikit kecewa, dan didalam hati ia berkata
'Saku-chan? Itu namamu kan? Apa takdir akan membuat kita bertemu lagi?'
PUG
Minato menepuk pelan puncak kepala anaknya
"Suatu hari, kau pasti akan bertemu lagi dengannya Naruto-kun, Tou-san yakin akan hal itu!"Mereka berdua kini tersenyum.
Namun sayangnya, ketika sebuah kereta kuda lewat, membuat seyum Minato memudar. Jantungnya berdegup kencang. Perasaannya mengenai seseorang yang berada didalam kereta kuda itu begitu kuat.
'Ros-sama? D-dia? Didalam kereta itu... Tak salah lagi, ini adalah aroma tubuhnya, aku tak mungkin bisa melupakannya walau beberapa tahun berlalu,dia yang telah merenggut nyawa Kushina tak mungkin aku lupakan!'
Minato dengan segera membalikkan tubuhnya ke arah kereta tersebut melaju.
"Naruto-kun, kau bisa pulang sendirikan?" Ujar Minato yang begitu tiba-tiba.
"Huh?" Respon anaknya yang tampak tak mengerti.
"Pulanglah sekarang nak, Tou-san malam ini tampaknya tak pulang, ada urusan yang harus Tou-san selesaikan!"
"Lalu kapan Tou-san akan pulang?"
Minato menatap anaknya lekat-lekat.
"Tou-san... akan pulang sesegera mungkin!" Setelah berujar begitu, Minato langsung berlari mengejar kereta kuda yang sudah berjalan cukup jauh.
.
.
.
.
.
Malam ini, Naruto mencoba untuk tidur, namun matanya tak bisa terpejam dalam waktu yang lama. Ia terus terbangun, karena rasa khawatirnya pada ayahnya. Hingga pagi menjelang, Tou-sannya tak kunjung pulang. Ia mencoba sedikit bersabar sampai matahari tepat sejajar dengan puncak kepalanya. Ia memutuskan untuk kembali menyusuri jalanan yang tadi malam dilewati oleh Minato.
Awalanya ia sedikit tersesat, hingga disuatu tempat sebuah jalan setapak kecil berujung hutan yang ia susuri, ia menemukan...
Baju putih milik ayahnya terkoyak sekaligus telah berlumuran darah biru yang banyak. Siapa lagi kalau bukan darah Minato yang bisa dikatakan hanya satu-satunya yang berkasta Modevia di tempat itu tadi malam.
Kedua mata Naruto melebar tak percaya, mulutnya terbuka tak percaya akan benda yang tengah digenggamnya sekarang. Dengan rintihan yang memilukan Naruto kecil berteriak memanggil-manggil ayahanya.
"Tou-san... Otou-san... kau dimana? Kumohon jawab aku jika kau berada disini! Aku sudah disini, aku menjemputmu Tou-san, ayo... ayo kita pulang... Kumohon... jangan tinggalkan aku... OTOU-SAN..." Anak itu berteriak seraya berlari menyusuri hutan sekuat tenaganya. Namun nihil yang ia dapat. Sang ayah tak kunjung ia temukan. Air mata yang sedari tadi membasahi pipinya juga tak sempat ia hapus.
Hingga pada akhirnya ia jatuh pingsan di tengah hutan tersebut.
To Be Continue
A/N:
Gomen, sebelumnya jika prolugue-nya kemarin kepanjangan dan ga jelas. Dan soal ceritanya kedepan, itu sampe Naruto dewasa dan ketemu ama banyak musuh maupun teman untuk mencari kemana ayahnya pergi, disamping itu bakal ada momen NS yg ga kalah gregetnya.
So... keep reading,waiting and give me review minna-san...
