Yamanaka Ino memacu kedua kakinya untuk segera sampai di ruangan kesehatan. Ia benar-benar khawatir saat ini. Saat mendengar penjelasan Guru Orochimaru yang mengantar murid baru ke kelas, Haruno Sakura―sang sahabat―pingsan di ruang guru.
Ia ingin langsung pergi, tapi Guru Kakashi yang saat itu sedang mengajar di kelas tidak mengizinkannya dan mengatakan kalau dirinya bisa menjenguk Sakura saat jam istirahat.
Saat sampai, Ino segera membuka pintu ruang kesehatan. Setelah pintu terbuka lebar, ia bisa melihat Guru Shizune―yang merupakan guru kesehatan―sedang mengkompres kepala berhelaian merah muda Sakura. Ino perlahan mendekat.
"Hah… Hah… Guru Shizune, Sakura kenapa?" tanya Ino dengan napas yang masih tersengal.
Shizune membalikkan badan, menatap anak didiknya yang berambut pirang berkuncir kuda. "Yamanaka? Begini… Ah, sebaiknya kau masuk dulu, dan tutup pintu di belakangmu."
Ino menurut saja apa yang di katakan oleh gurunya itu. Setelah duduk berhadapan dengan Shizune yang hanya di pisah oleh meja kecil di antara mereka, Shizune kemudian membuka suaranya.
"Haruno pingsan faktor utamanya karena ia tidak sarapan pagi ini. Terlihat dari wajahnya yang pucat tanda kurangnya asupan. Dan faktor lainnya…" jeda sejenak, "ia seperti mengalami guncangan psikologis."
Ino menutup mulutnya, "Ti-tidak mungkin…"
.
.
.
Our Story
Story © Asterella Roxanne 2014
Naruto is Masashi Kishimoto's | SasuSaku
Genre : Romance, Hurt/comfort, Little bit Drama, Little bit Humor | WARNING : AU, OOC, OC, Dialog non baku, Typo's maybe. | Jika ada kesamaan ide, itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Murni dari pemikiran penulis |
.
.
II. Declaration
.
Jam istirahat di kelas 12-1. Si murid baru yang saat ini sedang membereskan buku-buku usai belajar mengajar yang baru saja selesai, ia dikejutkan oleh suara super cempreng dari arah depan.
"Temee~ Aku kangen padamu! Bagaimana mungkin kau tidak bilang kalau ingin pindah ke sini?!"
Suara yang berasal dari mulut berisik seorang pemuda berambut kuning jabrik bak buah durian itu seketika membuatnya menjadi pusat perhatian kelas. Para gadis-gadis yang sedari awal kedatangan laki-laki berambut hitam kebiruan dengan model unik itu sudah kepincut, segera menyerbu meja Uchiha Sasuke.
Sasuke hanya berdecak kesal akibat ulah dari pemuda jabrik tadi. "Cih, Dobe. Maaf, bisakah kalian jangan berkumpul di sini? Aku gerah." Mendengar nada datar nan dingin dari mulut 'Si anak baru' membuat beberapa dari gadis-gadis yang berkumpul di depan meja Sasuke merinding. Satu persatu dari mereka pun mulai menjauh.
"Uh, ganteng-ganteng kok dingin banget, sih. Tapi, aaah~ dia manis kalo dingin begituuu~"
"Dia dingin, tapi imut~"
Pemuda bersurai bak buah durian bernama lengkap Namikaze Naruto itu tertawa keras mendengar gumaman-gumaman dari para gadis. Sasuke langsung saja memberi tatapan membunuhnya.
"Hahaha, kau tak berubah Teme. Masih saja terkenal di kalangan para gadis, atau jangan-jangan sifat playboymu pun belum pulih?" Tawa Naruto masih belum berhenti. Benar-benar suatu yang sangat dirindukannya saat mengejek teman sejak kecilnya itu.
Baru saja akan membalas ucapan Naruto dengan perkataan yang lebih pedas, kata-kata itu telah hilang dalam sekejap tertelan kembali saat manik onyx Sasuke menangkap gadis berambut pirang dengan langkah tergesa-gesa disertai raut wajah panik dan khawatir keluar dari kelas mereka.
Sasuke ingat, saat Guru Orochimaru mengatakan gadis yang pingsan di ruang guru tadi kepada Hatake Kakashi―guru yang mengajar di kelas saat itu―gadis pirang itu segera mengangkat tangan dan meminta izin agar diperbolehkan ke ruang kesehatan untuk menjenguk Haruno Sakura. Tapi, sayang sekali ia tidak di izinkan.
Mengingat itu, Sasuke kembali terbayang pertemuan pertamanya dengan gadis bersurai merah muda yang saat ini sedang berada di ruang kesehatan. Mata yang terbelalak disusul badan yang bergetar ketakutan. Sasuke yakin, ia belum pernah bertemu dengan gadis itu, tapi entah kenapa gadis itu terlihat sangat ketakutan saat menatap dirinya.
Tanpa Sasuke sadari pun, bibirnya terangkat membentuk seringai.
'Heh, menarik.'
Naruto yang tidak sengaja menangkap seringai pemuda di depannya segera menyahut, "Hoi, apa-apaan seringaimu itu. Menakutkan sekali."
Sasuke segera sadar, dan menatap Naruto. Ah, sepertinya teman sejak kecilnya ini bisa membantu. "Hn. Dobe, kau tahu dengan gadis yang tak hadir di kelas tadi? Yang di katakan Guru Orochimaru pingsan."
Mendapat pertanyaan tak terduga dari Sasuke, Naruto menyernyitkan dahi. "Tentu saja. Meski tidak terlalu dekat, tapi aku tahu dia. Kami satu kelas sejak kelas sepuluh."
"Bagaimana sifatnya?" tanya Sasuke lagi.
Dan lagi-lagi pertanyaan Sasuke membuat Naruto mengerutkan dahi semakin dalam, tapi kemudian ia jawab juga. "Dia ceria, dan tomboy. Ia juga merupakan pemegang predikat juara umum sejak kelas satu. Ah, kalau saja ia tidak pernah menghindar dariku, mungkin ia sudah aku tembak dari dulu."
"Mana ada yang mau denganmu. Sudah jelek, berisik pula," sahut Sasuke yang sukses membuat kepala Naruto mendidih mendengarnya.
"Sialan kau! Untuk informasi saja, bukan hanya aku yang dihindarinya, seluruh penghuni sekolah yang berjenis kelamin laki-laki, ia hindari. Padahal dia manis, uhh~"
Mendengar nada memuja semi manja Naruto, mau tak mau membuat keturanan terakhir Uchiha itu merinding. "Kau mengerikan, Dobe. Tapi, apa maksudmu ia menghindari semua orang berjenis kelamin laki-laki?"
Naruto langsung menatap Sasuke dengan serius, "Itu juga yang tidak aku ketahui. Dan aku sangat penasaran. Saat aku tanya dengan Yamanaka―sahabat Sakura―gadis itu juga tak ingin menjawab. Sepertinya ada rahasia besar." Naruto mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk, seakan ia adalah detektif profesional yang saat ini sedang berpikir keras untuk memecahkan suatu kasus.
Melihat teman sejak kecilnya mulai bertingkah aneh, Sasuke memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Kau mau kemana, Teme?" tanya Naruto. Ia pun ikut berdiri dari duduknya.
Sasuke dengan malas menjawab, "ke ruang kesehatan. Menjenguk si Haruno. Ia pingsan di hadapanku saat di ruang guru tadi, jadi secara tidak langsung aku terlibat." Sasuke segera berjalan meninggalkan Naruto. Saat tinggal satu langkah lagi ia berhasil keluar kelas, pertanyaan Naruto selanjutnya membuatnya terpaku.
"Memangnya kau tahu letak ruang kesehatan?"
Ctakk.
Urat perempatan tercipta di pelipisnya. Memang benar ia yang mengantar Sakura ke ruang kesehatan, tapi demi Tuhan, ia tidak sempat mengingat jalan menuju kesana.
"Sialan kau Dobe."
Naruto yang berada di belakangnya, tertawa kencang melihat ekspresi kesal Uchiha Sasuke.
oOo
Ino yang saat ini sedang menemani Sakura yang masih terbaring lemas di atas ranjang ruang kesehatan merasa sangat cemas. Sahabatnya itu belum juga sadar, padahal sudah beberapa jam terlewat.
"Kau kenapa Sakura? Padahal kau tak pernah lagi merasa terguncang seperti ini hingga satu tahun yang lalu. Tapi, kenapa sekarang?"
Ino hanya memandang sendu sahabatnya. Secuil perasaan bersalah hinggap dihatinya. Ia ingat betul tiga tahun lalu. Saat ia pulang dari Prancis dan mendapati Sakura tak hentinya mengamuk, menangis, dan bermimpi buruk. Seandainya saja ia tidak pergi ke Prancis dan tetap berada di sisi Sakura saat kejadian itu terjadi, sudah pasti ia akan melindungi Sakura.
Ketidakhadirannya disisi Sakura saat kejadian kelam itu, membuat Ino tidak mendapatkan cerita yang lengkap karena baik Sakura sendiri yang tidak ingin bercerita, keluarga Haruno pun seakan menutup mulut mereka akan kejadian itu.
Satu hal yang ia tahu, bahwa sahabatnya … mengalami guncangan psikologis yang hebat. Malah hampir membuat jiwanya terancam.
Setetes air mata menuruni pipinya. Mata aquamarinenya memerah menahan tangis. Ino menggenggam erat tangan sahabatnya. "Sakura…"
"Ngh~"
Lenguhan kecil yang terdengar oleh Ino, membuat gadis itu mendongak. Menatap sahabatnya yang saat ini mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Ino tersenyum mendapati Sakura telah sadar, ia segera menghapus kasar air mata yang meninggalkan jejak di pipinya.
"Ino…" Suara lemah Sakura memanggil Ino. Dan saat kepalanya dihantam ingatan beberapa jam yang lalu, Sakura langsung terduduk di atas ranjang ruang kesehatan dengan tubuh yang kembali bergetar. "Ino … Ino … Aku takut…" gumam Sakura disertai isak tangis yang mulai terdengar dari bibirnya.
Ino yang melihat Sakura akan menangis ketakutan lagi segera memeluknya. Menenangkan Sakura agar tidak melakukan tindakan aneh yang membahayakan dirinya sendiri.
"Tenang Sakura… Ada aku disini. Jangan menangis, tidak ada yang perlu kau takutkan. Tenang." Ino mengusap punggung Sakura. Ino pun tidak bisa menahan air matanya yang keluar saat melihat kondisi sahabatnya saat ini.
Cklek.
"Permisi~"
Sebuah suara bariton yang terdengar sedikit cempreng memasuki indera pendengar sepasang sahabat itu. Ino membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berkunjung tanpa melepaskan pelukan Sakura. Terlihat Sasuke dan Naruto memasuki ruang kesehatan dengan santai membuat Ino memicingkan matanya.
"Apa mau kalian?"
Mendengar nada yang tidak bersahabat dari teman sekelasnya itu, Naruto segera menjawab dengan nada sedikit kesal. "Huh, kami ke sini berniat baik, ingin menjenguk Haruno. Kenapa kau sewot sekali sih, Yamanaka?"
Ino yang hendak membalas ucapan Naruto terhenti saat merasakan Sakura semakin mengeratkan pelukannya ke Ino. Seakan tahu apa yang dipikiran Sakura, Ino menatap tajam kedua pemuda di hadapannya.
"Sakura tak ingin kunjungan kalian. Sebaiknya kalian segera keluar."
Sasuke yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. "Sesaat sebelum ia pingsan, ia bertemu denganku. Jadi, secara tidak langsung aku juga bertanggung jawab."
Ino terdiam mencerna kata-kata Sasuke. Beberapa detik kemudian matanya terbelalak, ia melepaskan dengan hati-hati pelukan Sakura. Menatap nyalang kedua pemuda dihadannya yang saat ini sedang memasang wajah bingung.
"Aku bilang keluar sekarang juga."
"Tap―"
"Ku bilang keluar, Namikaze-san!" potong Ino cepat saat Naruto ingin membantah.
Melihat Ino yang sepertinya sangat emosi dengan kedatangan mereka, akhirnya Sasuke mengalah dan langsung keluar dari ruang kesehatan tanpa berucap sepatah katapun. Naruto pun mengikuti Sasuke keluar dari ruang kesehatan tersebut.
Setelah pintu ruang kesehatan tertutup sempurna, Ino menghela napas kasar. Dan menatap Sakura.
"Aku sudah mengusir mereka. Kau masih pusing, Sakura? Ingin beristirahat atau aku telepon Kak Sasori untuk menjemputmu?"
Sakura menggeleng pelan. "Ak-aku tidak ingin mem-membuat me-reka khawatir. Ino, bisakah kau mengambil-kan ko-kot-tak makan si-siang-ku di-tas? A-Aku lapar…" ucap Sakura terbata-bata. Sungguh, ia sangat lemas saat ini.
"Baiklah. Aku tinggal dulu ya."
Sasuke yang masih tidak terlalu jauh dari ruang kesehatan, tak sengaja melihat Ino yang keluar dari sana. Tanpa memedulikan Naruto, ia segera berbalik untuk kembali ke ruang kesehatan.
Cklek.
"Ino, kenapa cep―" ucap Sakura terpotong saat ia tidak melihat sahabatnya dan malah mendapati sesosok pemuda yang ia ketahui sebagai murid baru berdiri dengan wajah tenang. "A-ada apa?"
Sasuke tak langsung menjawab, ia berjalan mendekat ke Sakura. Setelah berjarak kurang dari lima langkah dari tempat Sakura berbaring, Sasuke menghentikan langkahnya. "Tidak ada. Hanya saja aku penasaran. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau sepertinya ketakutan sekali saat melihatku."
Sakura terdiam. 'Tolong jangan tanya padaku, aku juga nggak tau kenapa!'
"Err… Maaf karena bersikap tidak sopan padamu. Aku… juga tidak tahu kenapa."
Sasuke menyernyitkan dahi. "Begitu?" Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti tidak ada alasan untukku menjauhimu 'kan? Karena memang kau tidak ada masalah apa-apa denganku. Baiklah."
Mendengar keputusan secara pihak oleh pemuda di hadapannya, membuat Sakura menatap sebal. "Aku tidak tahu, bukan berarti kau boleh mendekatiku. Aku yakin, temanmu Namikaze itu sudah memberitahu kalau aku tidak suka didekati oleh laki-laki macam kalian."
Sasuke melanjutkan langkahnya untuk mengahapus jarak di antara mereka. "Hm? Ya, aku sudah tahu itu. Dan aku cukup penasaran dengan alasannya."
"Kurasa kau bukan tipe seseorang yang suka ikut campur urusan orang lain," jawab Sakura dengan nada sinis.
'Memang benar bukan dia. Hah, otakku benar-benar kacau, masa membedakan laki-laki brengsek itu dengan pemuda yang jelas-jelas belum ku kenal ini saja tidak bisa. Sakura, kau bodoh!'
Sasuke menggumpalkan telapak tangan kanannya, lalu menepukan ke telapak tangan sebelah kiri yang ia tadahkan ke atas. "Oh begitu. Aku sudah mendapat kesimpulan," Sasuke menatap lurus ke manik seteduh hutan milik Sakura, "ternyata kau seorang penyuka perempuan. Dan sahabatmu tadi, adalah pacarmu 'kan? Hmm begitu, pantas saja."
Gubrak.
Sakura yang mendengar kesimpulan bodoh oleh Uchiha Sasuke yang sekarang sedang berdiri di hadapannya dengan memasang wajah sok polos seketika menggeram. Dan…
Brukkh.
Bantal yang tadi ia tiduri dengan telak terlempar ke wajah Sasuke yang memang seolah minta di gampar itu. "Jaga mulutmu, Uchiha! Kau emang pengen banget aku gampar apa hah?!" Manik emerald Sakura berkilat tajam menatap onyx di depannya.
"Tcih," decih Sasuke. Wajahnya cukup sakit akibat bantal yang tadi dilempar Sakura. "Kalo emang bukan itu alasannya, buruan kasih tau biar aku nggak salah ngambil kesimpulan lagi," lanjut Sasuke dengan nada seakan memaksa.
'Ini orang bener-bener pengen ngerasain bogem mentah gue kayanya.'
"Apa untungnya aku ngasih tau kau? Kenal juga nggak."
"Untungnya? Kau terbebas dari gossip 'penyuka perempuan' yang seperti aku bilang tadi."
"Kau benar-benar menyebalkan! Pergi sana, nganggu orang sakit yang lagi istirahat aja."
"Kau terlihat sudah baikkan. Jadi, bagaimana? Mau memberitahu ku atau gosip tersebar? Haha."
Sakura menggeram kesal. Andai saja ada barang yang bisa ia lempar ke muka sok polos Uchiha di depannya, mungkin sudah dari tadi ia lempar.
"Aku akan jawab, dan setelah mendengar jawabanku kau harus pergi dari sini. Mengerti?!"
"Hn."
Sakura menghirup napas, lalu menghembuskannya. 'Memberitahu alasan dengan satu kalimat, cukup kan?'
"Aku… trauma. Trauma dengan… laki-laki. Dan selebihnya, kau tak perlu tahu. Yang penting, aku bukan penyuka perempuan yang seperti kau bilang," kata Sakura. "Sudah kan? Nah, sekarang cepat pergi dari sini."
Sasuke tampak masih bergeming di tempatnya. "Kau… trauma?" Tiba-tiba seringai iblis menghiasi wajahnya.
Sakura yang tidak melihat seringai mengerikan itu menjawab cuek, "Ya."
"Kalau begitu…" Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura yang saat ini telah kembali berbaring. Tangan Sakura yang hendak menjauhkan wajah Sasuke segera di genggam dengan erat oleh Sasuke. "Aku bisa membantu mengatasi traumamu." Seringai Sasuke semakin lebar. Melihat itu, bulu kuduk Sakura meremang.
"A-apa maksudmu?"
"Kau harus jadi pacarku."
"Hah?" Sakura melongo mendengar ucapan yang terlontar dari Uchiha Sasuke barusan.
Sasuke membuat wajah memelas yang dibuat-buat. "Oh, ayolah. Kau mendapatkan dua keuntungan sekaligus kalau menerimaku."
Sakura merengut saat mengingat pemuda itu melupakan janjinya, "Apanya? Dan kau baru saja melanggar janjimu saat kau bilang akan pergi setelah mendengar alasanku!"
"Aku hanya bergumam, tidak mengiyakan."
"Tcih."
"Jadi, bagaimana?" desak Sasuke lagi. Mengabaikan rontaan tangan Sakura yang ingin di lepaskan. Sungguh posisi yang sangat berbahaya, batin Sakura.
"Bagaimana apa?"
"Tsak, jadi pacarku?!"
"Tidak mau," tolak Sakura mentah-mentah. Ia memalingkan wajah, enggan menatap langsung wajah Sasuke.
"Kalau begitu, akan aku sebarkan gosip tidak menyenangkan untukmu. Dan akan kupastikan besok pagi sekolah gempar," ancam Sasuke disertai seringai iblis yang kembali tampak diwajahnya.
Sakura memalingkan wajahnya menatap Sasuke dengan cepat, "Kau menyebalkan sekali! Apa yang kau inginkan?!" teriaknya.
"Baru saja aku katakan, kau tak tuli kan?"
Lelah berdebat dengan Sasuke, ia akhirnya menghela napas keras dan bertanya pada Sasuke, "Hah. Apa keuntungannya untukku?"
Sasuke semakin mengembangkan seringainya, "Kau bisa menepis anggapan orang-orang bahwa kau bukan penyuka perempuan, dan juga aku dapat membantumu menghilangkan traumamu."
"Keuntungan untukmu sendiri?"
"Rahasia."
Sakura terdiam. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk mencoba menghilangkan trauma itu. Tapi… anak baru ini bahkan belum satu hari penuh bersekolah di sini dan juga ia belum mengenalnya!
Cklek.
"Sakura ini sudah aku bawa―Hei! Apa-apaan ini?!"
"Teme, kenapa lam―Woo, apa ini?"
Sasuke segera melepaskan tangan Sakura, dan menjauhkan wajahnya saat mendapati dua makhluk pirang memergoki dirinya dan Sakura. Sebelum sepenuhnya menjauh dari Sakura, Sasuke sempat mengucapkan sesuatu yang membuat wajah Sakura memerah.
"Semoga cepat sembuh, sayang…"
"Si-sialan! Aku tak akan pernah mau menjadi pacarmu, Uchiha!" teriak Sakura marah. Rasa-rasanya ada asap yang keluar dari lubang hidung dan telinganya karena saking kesalnya Sakura terhadap pemuda berambut hitam kebiruan itu.
Mendengar apa yang diteriakan Sakura, Ino dan Naruto hanya termangu ditempat masing-masing. Beberapa saat kemudian barulah mereka tersadar…
"Apa maksudnya ini? Uchiha, apa yang kau lakukan terhadap Sakura?!"
"Teme, sialan kau! Baru hari pertama, kau sudah membuat ulah! Haruno-chan hanya akan jadi pacarku!"
"TIDAK AKAN!" teriak Sakura dan Ino bersamaan mendengar perkataan Naruto. Naruto yang diteriaki hanya memasang cengiran tak bersalahnya.
Beberapa saat kemudian, karena tak ada lagi yang berucap, barulah Uchiha Sasuke membuka suaranya. "Aku tidak berbuat apa pun. Tidak ada salahnya untuk membantu seseorang yang mengalami trauma, 'kan?"
"Hah?"
"Lagipula, ini akan seru. Haruno Sakura yang trauma pada laki-laki mencoba berpacaran dengan Uchiha Sasuke yang tidak pernah di tolak perempuan manapun," jelas Sasuke santai sembari melangkahkan kakinya keluar ruang kesehatan.
Semua yang mendengar pendeklarasian Uchiha Sasuke hanya membatu. Sang sahabat sejak kecilnya pun―Naruto―tak habis pikir dengan rencana Sasuke. Dan Naruto hanya berdoa, semoga apa pun rencana Sasuke yang akan berakhir menyakiti Sakura tidak akan berjalan lancar. Naruto sangat tahu tabiat Uchiha Sasuke yang sering memainkan perasaan perempuan. Terlebih, Haruno Sakura adalah gadis yang ia sukai sejak mereka kelas sepuluh.
oOo
TBC
A/N :
Haha ini gaje sekali T_T apalagi Sasuke OOC pake banget #tolonggamparsaya
Balas Reviews :
hanazono yuri : eh ini termasuk kilat gak? hehe. iya yang lain bakal update jg kok :)
Anka-Chan : udah lanjut nih...
Cheirae Brownnky : oho di chapter ini ada sedikit penjelasan nih knp Sakura pingsan :)
Irie Kotoko : udah lanjut. ^^
Luca Marvell : itu akan di bahas di chapter" selanjutnya. bisalah untuk nebak" sendiri :D
Kumada Chiyu : udah lanjut kok...
Febri Feven : sip!
Natsuyakiko : udah lanjut :) ini chapter ini sudah ada sedikit penjelasan, tp belum lengkap :D ditunggu aja chapter selanjutnya..
uchiharu shimizu : benarkah? usaha saya utk menghilangkan typo berhasil berarti hehe. gak bakal di discontinue kok :)
sakuya : udah lanjut :)
.
Terima kasih banyak yg udah reviewa, fave, follow...
semoga chapter ini tidak mengecewakan ya :')
RnR lagi, minna?
Sign, Asterella Roxanne- 25 Juni 2014.
