Mine
© Haruno Kagura
Rate : T-M
U. Sasuke / H. Sakura
Disclaimer : Semua character yang ada disini saya pinjam dari Masashi Kishimoto-sama.
Warning : OOC. Boy!Sakura. AU. Yaoi.
Balesan Review:
Luca Marvell : Hahahaha… iya sih. Cuma saya pengin aja buat dia jadi kayak terpendek gitu daripada teman-temannya. Kan imut ^_^. Terima kasih karena sudah me-review cerita ini ya!
kazekageashainuzukaasharoyani : Wow namamu agak susah ya. Mending saya panggil apa ya enaknya? Kazekage-san… mungkin? Makasih ya, sudah me-review ff ini. Hinata rambutnya seperti ketika genin tetapi lebih pendek dan sedikit messy. Kalau rambut Sakura, mungkin lebih ke spike namun messy/?. Maafkan dengan jawaban abal-abal saya. Hehe. Peace. Maafkan kalo ini fic agak lama T.T
.3914 : Wah makasih karena sudah me-review. Hahaha. Makanya, kan kebanyakan kalo yuri pasti SakuHina atau ngga SakuIno. Makanya saya mikir mending buat yaoi saja daripada SasuSaku!yuri.
Enjoy
~0o0~
BAB DUA
"Silahkan masuk, Uciha-san," dengan perkataan terakhir dari Kakashi, semua perhatian murid teralihkan kearah pintu yang terbuka; menunggu-nunggu bagaimana rupa murid baru yang akan memasuki kelas mereka.
Seorang pemuda dengan wajah datar tanpa emosi masuk ke dalam kelas. Ia mempunyai tubuh tegap dan atletis yang sempurna. Mata onyx bak elang miliknya menatap sekeliling dengan tajam. Ia mempunyai rambut raven bermodel emo; yang malah membuatnya bertambah tampan, dengan rahang tegas.
Ia menatap tajam sebelum akhirnya membuka mulutnya, "Ohayo. Namaku Uciha Sasuke, pindahan dari Oto Elite School. Mohon bantuannya," pemuda itu menutup perkenalannya dengan sebuah bungkukan sopan dan berdiri tegak lagi. Kakashi tersenyum dalam maskernya ––terlihat dari matanya yang agak menyipit, dan bertepuk tangan.
"Ah. Baiklah, Uciha-san, kau bisa duduk di sebelah––" sebelum Kakashi dapat melanjutkan kata-katanya, ia dipotong oleh seorang gadis dengan rambut pirang dikuncir dua yang berteriak dengan suara melengking, "TEME!?"
Seluruh murid dalam kelas itu menengok dan menatap Naruko dengan heran; sedangkan Naruko hanya memperlihatkan wajah terkejut yang kelewat norak. Sasuke menggertakan rahangnya dan bergumam pelan, "Dobe."
Sebuah penghapus berbentuk bis sekolah langsung melayang dengan kekuatan penuh kearah Sasuke. Sasuke dengan tenang hanya menggeserkan tubuhnya hingga penghapus itu mengenai dinding dan menimbulkan keretakan sedikit.
Hinata langsung berusaha menenangkan Naruko untuk duduk di tempatnya semula. Akhirnya dengan bujukan akan dibelikan es krim kesukaannya oleh Hinata, Naruko mau juga duduk; walau masih dengan wajah penuh pengutukan kearah Sasuke.
Kakashi hanya menghela nafas pasrah; sudah mengerti kalau murid-muridnya itu adalah makhluk-makhluk ajaib tak tahu aturan, yang sayangnya masih diajar olehnya. Ia menepuk tangannya dua kali dan akhirnya melanjutkan pembicaraan yang tadinya terputus, "Baiklah, baiklah. Uciha-san, kau duduk disebelah Haruno-kun, ya? Dan kau, Namikaze-kun, harus memperbaiki dinding ini. Kau dengar aku?" pertanyaan Kakashi hanya dijawab Naruko dengan cebikan bibirnya.
Sasuke menoleh kearah sang sensei dengan wajah datar. Kakashi langsung mengerti maksudnya, "Haruno-kun itu yang mempunyai rambut bewarna pink itu. Sebentar, aku panggil dulu," dengan itu, Kakashi bergegas mengambil sesuatu dari tempat kecil dibawah papan tulis dan sekuat tenaga melempar benda tersebut kearah Sakura.
Bruak.
"Aduh! Siapa yang melempar aku dengan penghapus papan tulis, HAH!?" bentak Sakura ketika sebuah penghapus tergeletak begitu saja di mejanya. Tidak mau di lempar oleh Sakura, murid satu kelas langsung menunjuk sang pelaku dengan serentak; sedangkan Kakashi hanya berkata dengan nada (sok) polos dan (sok) merajuk, "Ih. Kalian tidak setia dengan sensei kalian sendiri nih."
"Kau… mencari gara-gara denganku, YA!? DASAR PAK TUA!" Kakashi langsung menyingkir ketika sebuah penghapus papan tulis melayang kearahnya dan berakhir terjatuh di samping kakinya. Kakashi hanya tersenyum; membuat semua orang merinding disko karena kali ini senyumannya agak menyeramkan. Kakashi menelengkan kepalanya dan berkata dengan aura tak sedap menguar, "Apa tadi yang kau bilang, Haruno-kun?"
Sakura membuat sebuah seringaian di bibirnya dan mengulang panggilan Kakashi tadi, "Hm? Tadi aku bilang, 'Dasar Pak Tua'." Murid-murid dalam kelas itu langsung berusaha untuk keluar dari kelas ketika sudah merasakan aura-aura tidak bersahabat yang menguar dari keduanya.
"Kau 'kan tahu," Tap. "Aku paling," Tap. "Tidak menyukai," Tap. "Orang memanggilku," Tap. "Dengan panggilan itu," Tap. "Ya 'kan, Sakura?" Kakashi masih memasang wajah tersenyumnya dengan aura bling-bling mengerikan yang menguar.
Ah, dia benar-benar marah.
Sakura hanya membuang mukanya. Kakashi menghela nafas melihat kelakuan tsundere keponakannya dan akhirnya member perintah, "Yare, yare. Sebagai hukuman, kau harus menemani teman baru kita, Uciha-san, untuk mengelilingi sekolah." Sakura membalikan wajahnya dan memelototi Kakashi, "Gomenne, Sensei. Aku ada latihan karate."
Kakashi langsung memanggil seorang gadis dengan dua cepol menghiasi kepala cokelatnya. Ia adalah Tenten, vice president dari klub karate. Gadis itu berdiri dan bertanya, "Ya, Sensei?"
Kakashi tersenyum, "Aku pinjam Haruno-kun, ya? Kalau Hyuugabilang saja ini perintah Kakashi, oke?" Tenten hanya dapat mengangguk dengan pelan; kelihatannya ketakutan karena Kakashi. Kakashi tersenyum kepada Sakura, sedangkan Sakura menggertakan giginya.
"Kau kalah, Sakura,"
"Aish. Diamlah."
~o0o~
Jadi disinilah dia sekarang.
Didalam gymnasium. Tepatnya sih di ruang ganti plus ruang mandi para pemuda.
Dengan wajah senang ––karena akhirnya, dia sebentar lagi selesai–– ia menjelaskan ruangan itu, "Nah, disini adalah ruang ganti sekalian kamar mandi untuk pemuda. Nah, sudah selesai. Ayo kita kembali ke kelas."
Sakura langsung melewati Sasuke begitu saja dan membuka pintu.
Bruak!
…tetapi tiba-tiba, sebuah lengan panjang dan kekar melewati bahu mungilnya dan menutup pintunya kembali. Sakura mengerutkan alisnya dan menengok kearah belakangnya dengan mulut terbuka; siap memprotes siapapun empunya si lengan ––yang ternyata adalah Sasuke.
Sakura membuka mulutnya dan tiba-tiba––
Cup.
Sebuah benda kenyal dan basah menyelimuti bibir semi-tipisnya dan menciumnya. Sakura membeliakkan matanya dan melihat onyx Sasuke yang sudah tertutup oleh kelopak matanya. Darah mulai naik ke wajahnya; dan Sakura bersumpah bahwa pipinya terasa panas.
Mula-mula, Sasuke hanya menciumnya biasa saja. Namun, tiba-tiba saja, mata onyx Sasuke terbuka dan ia menatap langsung kedua mata emerald Sakura; Sakura merasakan smirk yang terbentuk di bibir Sasuke, dan ia ingin memukulnya. Sakura mulai memberontak, yang berakhir sia-sia.
Mengetahui Sakura mulai memberontak, tangan Sasuke mulai bergerilya ke pinggang langsingnya dan menarik tubuhnya hingga menempel dengan tubuh kekar Sasuke. Sakura bertambah memberontak dan Sasuke mulai kehabisan akal untuk mendiamkannya. Dan akhirnya, ia menemui caranya.
Sasuke membuka mulutnya dan mulai melumat pelan bibir bawah Sakura dengan lembut. Tubuh Sakura langsung berhenti memberontak dan membantu. Sasuke mulai mengeluarkan lidahnya dan membelai bibir bawah Sakura; meminta Sakura untuk membuka mulutnya. Sakura langsung menutup mulutnya rapat-rapat; melarang lidah Sasuke untuk menjelajahi mulutnya. Mengetahui ini, Sasuke langsung menggigiti bibir bawah Sakura dengan lembut; membuat sang empunya mengerang dan membuka mulutnya.
Sasuke langsung meluncurkan lidahnya dan mengobrak-abrik dalam mulut Sakura. Semua erangan Sakura tertahan dalam ciuman Sasuke. Tidak tahan, akhirnya Sakura mengeluarkan suara desahan tertahannya, "Akh! Kh! Mmh!"
Sasuke, yang merasa sudah cukup, akhirnya melepaskan ciuman mereka. Ia menyeringai ketika melihat wajah Sakura sudah memerah sepenuhnya. Sebagai salam perpisahan-singkat, Sasuke mengecup dan sedikit menjilati pipi kanan Sakura; membuat sang empu merinding dibawahnya.
Sasuke akhirnya meninggalkan Sakura, yang memerah malu, setelah sebelumnya membisikkan, "Kau belum berubah, Sakura," dengan wajah yang agak sendu dan tanpa diketahui Sakura.
~o0o~
"AKHHHHH! Kemana sih si Teme dan Sakura-kun? Mereka berdua lama sekali!" Naruko berseru sembari mengacak-acak rambut pirangnya. Hinata berusaha menenangkan sang gadis yang mengamuk. Sedangkan Ino hanya berjalan dengan tenang sambil meminum jus jeruk kotaknya. Mereka baru saja kembali dari kantin tanpa Sakura.
Ino sebenarnya memang agak khawatir dengan teman semenjak kecilnya itu. Tapi, kalau dipikir-pikir, ngapain dia perlu khawatir dengan pemuda itu. Yah, walaupun dia pemuda imut dan manis serta sering dijadikan pemuda paling ingin diperkosa oleh cewek maupun cowok, ngapain kita khawatir kalau dia sendiri bisa membanting seorang Jiroubo ––seorang senior karate yang sombong dan juga besar, hampir seberat beruang (mungkin)–– dengan satu tangan dan telihat tenang.
"Ah! Sakura-kun!" teriakkan cempreng Naruko, membuat Ino dan Hinata langsung mencari keberadaan pemuda mungil itu. Dan tentunya langsung ditemukan oleh mereka karena kelainan warna rambut diantara orang-orang lainnya. Mereka bertiga langsung melesat begitu saja sambil menggumamkan beberapa kata 'sumimasen' pada orang-orang yang mereka tabrak.
Sesampainya didepan sang pemuda, mereka langsung melihat betapa lifeless-nya wajah Sakura. Ino, Naruko, dan Hinata langsung menatapnya dengan heran. Perasaan mereka, memang sih sakura tidak menyukai perintah Kakashi itu, tapi dia tidak selesu ini deh sepertinya pas pergi mengantarkan si anak baru tadi deh.
Naruko akhirnya menekan pipi chubby Sakura sambil memanggil Sakura, "Sakura-kun….?" Sakura sepertinya mendengar panggilan Naruko dan akhirnya mendongak, dengan mata emerald yang terlihat digenangi air mata.
"SAKURA-KUN/FOREHEAD?!"
~o0o~
"Dia melakukan––apa?!" Ino berseru dengan kerasnya ketika mendengar penjelasan dari teman kecilnya ini. Sakura menkgelap matanya dengan saputangan bewarna lavender lembut, yang tadi diberikan Hinata, sebelum akhirnya mengangguk.
Ino benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang Sakura, teman semenjak kecilnya yang periang, polos––dan terkadang bodoh––bisa dicium dan (nyaris) diperkosa oleh sang murid baru. Well, tidak biasa sih, kalau Sakura hampir diperkosa setiap harinya. Tapi, bagaimana bisa seorang pemuda dengan nafsunya langsung mencium seorang pemuda yang (oke, Sakura memang imut dan manis bagai cewek) baru ditemuinya beberapa jam yang lalu!?
Da hell with this world?!
Yah, kecuali kalau pemuda chicken butt itu sudah pernah bertemu dengan Sakura ataupun kenal dengan Sakura atau…
…dia mempunyai hormon berlebihan dan memang sudah terangsang ketika melihat Sakura pertama kali.
Oke, mari kita tinggalkan yang ketiga tadi. Kalau memang itu yang terjadi, mungkin sebaiknya Sakura diberi suntikan penenang sebelum dia mengamuk dan menghancurkan satu sekolah.
.
Errr, mari kita kembali ke cerita.
.
PIIIP
"Errr, Ino-chan?" Hinata mencicit pelan sembari menarik pelan sweater bewarna beige tanpa lengan yang memang menjadi salah satu seragam mereka. Ino menengok dan ia dihadapkan oleh seorang Naruko yang menduduk dengan aura tak menyenangkan di sekitarnya.
Uh-oh.
Naruko tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan mengepalkan tangannya serta berteriak penuh dendam, "DASAR SASUKE TEME BAKAAAAAAAAA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BIBIR PERAWAN SAKURA-KUN, HUH!?" Ino dan Hinata hanya dapat melihat Naruko dengan tatapan ngeri ketika melihat api berkobar-kobar pada kedua sapphire milik Naruko.
"Uh, Naruko. Koreksi, bibir Sakura sudah tidak perawan lagi," Ino mengoreksi Naruko, "Dia sudah dicium Sasuke, ingat?" Oke, Ino benar-benar mencari mati dengan Naruko karena menyebutkan nama brengsek-yang-sudah-berani-merebut-first-kiss-Sakura di hadapannya. Dan mungkin Ino dan Naruko lupa kalau Sakura itu seorang lelaki sehingga lebih pantas disebut 'perjaka' daripada 'perawan'.
"Sakura-kun, kau tidak dicium dimana-mana lagi 'kan?" tanya Naruko dengan tiba-tiba sudah berada di hadapan Sakura. Sakura langsung memerah mendengar konteks yang diberikan oleh Naruko dan menjawab dengan suara imut yang tertahan, "T-tidak."
Naruko langsung membeku melihat bagaimana Sakura bersikap dan dalam beberapa detik langsung memekik nyaring.
"AWWWW! SAKURA-KUN, KAU UNYU SEKALIIII!"
Dan tentu saja, membawa seperangkat gadis-gadis lainnya yang membawa ponsel untuk memfoto Sakura. Dan mengeluarkan suara-suara seperti berikut :
"AAAHHH! KAU IMUT BANGET, SAKURA-KUN!"
"LIHAT SINI, DONG! PERTAHANKAN WAJAH MERAHMU, YA!"
"ADUH! TALI MANA TALI!?"
"INI ADA KARDUS SAMA TAPE!"
"KARDUSIN SAKURA-KUN!"
"AAAHHHH!"
Dan seterusnya. Hinata hanya dapat menatap dengan ngeri kumpulan gadis itu dan memilih untuk menjauh; walaupun dia kasihan juga melihat tangan Sakura yang tergapai-gapai di udara, mencari pertolongan.
Dengan wajah setengah pucat, Hinata menoleh kepada Ino yang terlihat cuek dan memilih untuk menghisap habis jus jeruk kartonnya. Tidak tahan, Hinata bertanya, "Ino-chan tidak mau membantu Sakura-kun?" Ino menatapnya sebentar dan ketika mendengar bunyi sruuttt tanda jusnya sudah habis, ia baru menjawab, "Biar saja. Naruko pasti bisa menghalangi itu semua, kok." Sebelum Hinata sempat bertanya lebih jauh, Ino berlalu keluar kelas.
Di luar kelas, ia berdiri menyandar di tepi pagar pembatas. Matanya menerawang kearah awan sebelum ia akhirnya meremukkan karton jus yang belum ia buang hingga remuk. Mata aquamarine-nya yang tadinya kosong, menjadi gelap ketika satu nama melintas di kepalanya.
~o0o~
"Sakura, kau lihat apa sih? Sedari tadi aku dicuekkin."
Sakura mendongak dan menemukan kakak lelakinya yang memiliki baby face mencebikkan bibirnya; berusaha imut, ternyata. Ia memutar bola matanya dan kembali menonton sebuah video yang sedang ia tonton sedari tadi.
Never ever pogi motaeyo
Never ever na ireoke
Han ja han ja jeogeonaejanha ne ireumeul tto
Mendengar lagu yang sering ia dengar ataupun tonton di channel khusus Korea di rumahnya, ia mengangkat alis merahnya. Penasaran, ia akhirnya mengeluarkan pendapatnya dari kepalanya, "Tumben kau mau menonton yang beginian, Sakura." Sakura mengendikkan bahunya, namun tidak melepaskan matanya dari penyanyi tersebut, "Entahlah, hanya saja dia mempunyai suara bagus dan lirik dari lagu ini juga bagus."
Sasori mengerutkan alis, "Memang kau mengerti bahasa Inggris?" dan langsung menyadari kebodohannya ketika Sakura memberikan tatapan mengejek, "Aku selalu mendapatkan nilai sempurna dalam bahasa Inggris, Onii-san, jika kau bertanya."
Mulai deh, pikir Sasori memutar bola mata. Saat ini mereka berada di ruangan khusus OSIS dan hanya beberapa orang yang dapat mengakses ruangan tersebut; selain anggota inti, kerabat dekat dari anggota juga boleh memasuki ruangan tersebut.
"Lagipula, Niisan," Sasori kembali menatap adiknya yang sedang menerawang keluar jendela, "Aku merasa ada sesuatu yang Okaasan dan Otousan sembunyikan dariku," katanya; membuat Sasori mengeluarkan ekspresi terkejutnya. Sebelum Sakura melihatnya, Sasori langsung mengganti ekspresi wajahnya seperti biasa. Sakura melanjutkan, "Mungkin Ino juga menyembunyikan sesuatu dariku."
Sasori tetap diam; membiarkan Sakura berkata sepuasnya. Sakura mendongak dan menatap kedua bola mata Sasori, "Kau ingat kecelakaanku 'kan?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan tenang dari Sasori, "Apa benar aku tidak mengalami apapun? Misalnya, hilang ingatan?" tanyanya memicingkan mata; berharap Sasori memberikannya jawaban.
"Tidak. Kau hanya terbentur sedikit kok. Tidak apa-apa," sahut Sasori balik sambil mengacak rambut gulali Sakura dan keluar dari ruangan dengan dalih ke toilet.
Cklek.
Sasori meluncur kelantai toilet dalam ruangan OSIS tersebut. Ia terduduk dan menghela nafas lelah. Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak surai merah batanya. Mata caramel miliknya menerawang lewat ventilasi kecil tersebut sebelum akhirnya menguburkan wajahnya kedalam telapak tangannya sebelum bergumam dengan lirih, "Maafkan kakak, Sakura. Kakak bukan aniki yang baik."
Kau masih belum bisa mengetahuinya, Sakura.
~TBC~
Author's note:
HA~I!
Saya akhirnya kembali lagi setelah hiatus beberapa bulan ini dan akhirnya pilihan saya jatuh untuk melanjutkan fic ini; serta menelantarkan fic screenplays saya. hiks.
Oh, well, sudahlah. biarkan saja.
.
Dan juga, untuk lirik lagu diatas, saya mengambilnya dari lagu T-Ara Jiyeon, Never Ever. Saya minta maaf karena fic ini agak lama diselesaikan dan juga untuk ke-labil-an rate-nya karena (mungkin) akan banyak adegan 'menjurus' di chapter mendatang. Jadinya, selamat menantikan!
Dan, seperti biasa,
PLIS RIPIU AND MAAP KALO TYPO!
biasalah orang malas, HEHE.
