Sasuke terpelanting kepinggir jalan tepat ketika ujung mobil tersebut nyaris menyentuh kulitnya. Bukan karena gerak refleks dirinya yang bagus atau respon cepat tanggap Naruto untuk menyelamatkan nyawa keduanya dari tabrakan menyakitkan itu. Melainkan sesosok tubuh mungil bersurai panjang yang tiba-tiba saja menerobos kondisi jalan dengan nekatnya. Orang itu menerjang si bungsu Uchiha tanpa memikirkan resiko yang akan diterimanya jika gagal.
Disinilah akhirnya mereka. Saling bertindihan dipinggir jalan dengan Sasuke yang berada dibawah tubuhnya. Si gadis sendiri berada diatas dan sejak tadi tak hentinya mengusap wajah Sasuke yang tampak masih sangat shock.
Sementara itu disisi kiri Sasuke terdapat Naruto yang juga ikut terjatuh akibat hentakan tangan si gadis. Berbeda dengan Sasuke, justru Naruto tidak shock seperti dirinya, melainkan... cemburu?
Karena gadis penyelamat yang sedang menindih perut sahabatnya adalah kekasihnya sendiri.
"Sasuke kun? Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"
Sejak tadi hanya itulah yang diucapkan Hinata. Bahkan dia tak memperdulikan kondisi kekasihnya yang mematung tak percaya menatap keduanya. Alih-alih menghiraukan luka disiku tangannya, Naruto justru lebih merasakan nyeri di ulu hatinya secara tak kasat mata.
"Sasuke!" pekik Sakura mendekat. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Dia membantu Sasuke untuk duduk setelah Hinata memperbaiki posisinya lalu berjongkok tepat disebelah Naruto, namun dengan punggung yang mengarah pada sang kekasih. Itulah yang semakin membuat hati Naruto nyeri. Sepasang iris lavendernya masih tetap saja terpaku pada Sasuke yang sekarang sedang dipeluk erat oleh Sakura yang menangis sesegukan.
"Baka! Tidak bisakah kau berhati-hati? Kau membuatku cemas!" sentak Sakura, "Untung saja kau tidak apa-apa. Untung saja ada Hinata. Kau bodoh Suke. Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Sepasang obsidian Sasuke kembali fokus. Dia menatap wajah berair Sakura lalu berusaha menggerakan bibirnya walau tampak gemetar.
"Saku-"
"Diam bodoh! Tidak usah mengatakan apapun. Aku sedang memegangimu sekarang. Kau aman..." lirihnya.
Isakan kecil Sakura menampar telak hati Sasuke. Dia memejamkan matanya berusaha menikmati sentuhan sang terkasih.
Sakura mulai melepas pelukannya lalu menangkup pipi sang pemuda Uchiha kemudian mengecup kedua kelopak matanya dengan penuh kelembutan.
"Aku tidak apa-apa. Jangan menangis lagi sayang. Aku hanya shock saja tadi," bisik Sasuke sembari mengecup pipi basah Sakura. Dia mengalihkan pandangannya pada Hinata lalu tersenyum tipis. "Terima kasih Hinata. Kau sudah menyelamatkanku juga Naruto."
Dan Sakura membantu kekasih tercintanya berdiri. Hanya sepersekian detik setelah mengangguk singkat mereka memutuskan untuk meninggalkan area parkir.
Hinata membalas anggukan itu agak gugup. Rona mukanya memerah. Dia hanya memandangi punggung berlapis kemeja biru gelap Sasuke yang semakin bergerak menjauh dari fokus matanya. Disaat itulah dia baru menyadari keadaan Naruto. Sedikit takut menyapanya. Dan sebelum Hinata mampu membuka sepasang bibir pink berkilaunya untuk bicara, Naruto lekas berdiri. Menghujaminya dengan sorot mengintimidasi dari kilau safirnya yang terluka.
"Ada yang mau kau jelaskan? Atau... sebaiknya aku pergi saja-"
"Naruto kun!" Hembusan napas gugup Hinata berbaur dalam semilir angin sore. "Aku mengaku. Aku memang mencintai Sasuke tapi itu dulu. Dulu sekali. Sewaktu kami masih sama-sama berada di sekolah dasar," Mata amethyst milik Hinata melirik kesembarang arah. Keberaniannya menciut jika harus bertatapan dengan sepasang lensa biru indah Naruto. "Kami teman masa kecil, dan Sasuke tak pernah peka pada perasaanku. Tapi—tapi.. sekarang aku hanya menganggapnya sebagai sahabat lama. Maafkan aku.. aku mencintaimu Naruto. Sungguh. Aku hanya kaget saat melihat dia hampir terlindas tadi. Karena.. mobil itu sepertinya memang sengaja mengincar Sasuke."
Hinata menggigit bibirnya kuat-kuat. Dipaksanya lensa mata itu menatap safir terang Naruto. Dan memang pandangan yang diberikan sang terkasih telah melunak tak sesakit tadi. Meski begitu Hinata masih merasa bersalah juga menyesal. Karena itulah saat Naruto tersenyum maklum serta mengangguk paham, dia lekas menghambur untuk memeluknya, juga membisikan kata maaf berkali-kali ditelinga Naruto sebagai penebus penyesalannya.
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Ulang Tahun Berdarah Fanfiction
Written by : Nagisa Yuuki
Warning : Gore, AU, OOC, Typo(s), dll.
"Kejadiannya bagaimana sih? Kenapa bisa sampai seperti ini?"
Sasuke mengatupkan kembali bibirnya ketika hendak menjawab. Hampir saja dia keceplosan di depan kakaknya dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mana mungkin ia katakan kalau ada seseorang yang berniat mencelakainya dengan cara melindas dirinya menggunakan mobil sport berkecepatan tinggi.
Bisa-bisa kakaknya yang tampan dan masih muda ini terkena serangan jantung mendadak karna terlalu mengkhawatirkannya. Sudahkah Sasuke memberitahu kalau kakak semata wayangnya ini sangat overprotektif terhadapnya?
Setelah menimbang-nimbang beberapa alasan logis, akhirnya Sasuke memutuskan untuk menggunakan salah satunya yang ia anggap lebih masuk akal dan manusiawi.
"Tadi aku jalannya terlalu ketengah-tengah sampai tidak tahu kalau ada kendaraan yang berbelok dari persimpangan jalan. Jadi aku terserempet kemudian jatuh. Ini buktinya."
Hanya helaan napas yang menjadi respon Itachi.
"Baka. Lain kali lebih hati-hati lagi 'Suke. Kenapa rasanya makin kesini kau ketularan cerobohnya Naruto sih?" komentar Itachi barusan memunculkan kedutan kesal disudut kening Sasuke.
"Baka aniki! Kenapa menyamaiku dengan si dobe itu sih?" sungut Sasuke. Bibirnya mencebik lucu.
Bukan hal yang aneh bagi Itachi mendapati prilaku adiknya yang berubah manja jika berada didekatnya. Sejak dulu Sasuke adiknya memang begini. Salah besar jika teman-temannya mengira Sasuke itu pribadi yang cuek dan masa bodoh. Karna pada kenyataannya dia adalah sosok yang terlalu perasa, manja, namun menutupi semuanya dibalik topeng.
Respon Itachi atas ucapan Sasuke hanya berupa kikikan geli. Lalu telapak tangannya yang lebar mengacak-acak surai hitam si bungsu.
Sasuke semakin menekuk wajahnya. Jari-jari kurusnya mengusap plester luka yang baru saja ditempel Itachi pada mulut luka di siku tangan kirinya.
"Aku akan menyiapkan makan malam."
Tak menunggu sahutan dari sang adik. Itachi bangkit dari sofa dan melangkah kearah dapur. Meninggalkan Sasuke yang kembali larut dalam lamunan.
Kejadian itu masih sangatlah membekas di otak. Setiap digit angka maupun huruf yang tercetak pada plat nomor mobil, serta jenis dan model kendaraan itu saja Sasuke masih hafal diluar kepala. Hanya ada satu orang yang memilikinya. Satu nama yang tiba-tiba terngiang akan ancamannya tempo hari.
Suigetsu.
Apa benar laki-laki itu yang hampir melindasnya tadi? Apa sebegitu inginnya Suigetsu melenyapkan Sasuke dari muka bumi? Jelas-jelas dia menyaksikannya sendiri ketika mobil yang terparkir lurus dan berada diujung parkiran tiba-tiba saja melesak cepat kearahnya. Mustahil jika orang itu mabuk bukan? Setahu dirinya hanya orang bodohlah yang berani mabuk dikawasan kampus. Memangnya punya nyali sebesar apa menghadapi Ibiki-sensei yang terkenal sadis dan kejam itu?
Hah! Intinya hanya orang bodoh saja. Dan itu berarti Suigetsu dalam keadaan sadar, tanpa pengaruh apapun saat menyetir waktu itu.
Kalau saat itu Hinata tidak mendorongnya, mungkin sekarang Sasuke sudah berada di rumah sakit dan tengah berjuang melewati masa kritis di UGD. Atau yang lebih parahnya lagi dia telah berada di liang kubur dan menyisakan namanya saja untuk di kenang di dunia ini. Meninggalkan kakak bodoh satu-satunya disini. Membiarkannya larut pada keterpurukan setelah kepergian kedua orangtua mereka, lalu kematiannya. Menyebabkan Itachi stress dan depresi, kemudian dengan berakhir bunuh diri.
Astaga!
Cepat-cepat Sasuke mengenyahkan pikiran kelewat bodoh itu dari otaknya. Dia belum mau mati apalagi di usia muda seperti sekarang ini. Dia juga tidak mau membiarkan kakaknya kesepian hidup sendiri.
Sepertinya nanti dia harus mengucapkan terimakasih pada Hinata. Ingatkan dia untuk tidak lupa.
"Hei, Sasuke! Makan malam telah siap."
Suara Itachi menarik penuh kesadaran Sasuke. Pemuda bermata onyx kelam itu mengangguk tanpa suara. Kaki jenjangnya yang terbalut celana kain berwarna hitam sampai menyentuh mata kaki bergerak menuju meja makan.
Menu makan malam hari ini adalah onigiri, sushi, dan juga sup tomat?
Entahlah... Apakah hanya Sasuke saja yang merasa menu itu agak aneh. Atau memang kakaknya yang benar-benar aneh?
Sembari mengernyit Sasuke menarik kursi kemudian duduk bersebrangan dengan kakaknya. Tangannya Meraih sumpit juga mangkuknya yang terisi penuh nasi putih. Setelah mengucapkan "Itadakimasu!" Ia menyerbu lauk pauknya, memasukannya kedalam mulut, lalu mengunyah dengan khidmat. Sampai suara berat Itachi kembali menginterupsi kegiatan Sasuke.
"Kau masih berhubungan dengan gadis bernama Sakura itu, Sasuke?"
Nyaris saja Sasuke menyemburkan kunyahan nasi dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir kakaknya. Dengan terbatuk-batuk pelan akibat tersedak, Sasuke meraih segelas air yang disodorkan Itachi padanya. Dia meneguk minuman itu sampai tandas, kemudian mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Jangan menanyakan hal yang mengejutkan begitu saat sedang makan. Kau membuatku nyaris mati tersedak aniki."
Itachi memutar kedua bola mata sewarna adiknya.
"Bagiku biasa saja. Hanya kau yang terlalu kaku setiap kita membicarakan ini, otouto."
"I—itu... Itu kan privasi. Untuk apa kau mencampuri masalah pribadiku sih aniki?"
"Aku tidak mencampuri aku hanya bertanya." sahutnya santai.
Intonasi suara Itachi sedatar meja makannya saat ini. Sasuke berdecak sebal. Kakak menyebalkannya itu selalu pintar membalikan kata-kata.
"Lagipula itu hanya sebuah pertanyaan biasa kan? Kenapa kau jadi gugup? Apa kau akan mati mendadak kalau menjawabnya?"
"Ak—aku tidak gugup," sanggah Sasuke terbata. Napasnya naik turun. Dia mencoba menormalkan degup jantungnya dengan cara membuang napas panjang. Ketika mengangkat kepala untuk menatap balik iris serupa miliknya. Sasuke tercekat. Ekspresi datar Itachi memakunya cukup tajam. "Ya," Ia bersuara. Kembali menundukan wajahnya. "Aku masih berhubungan dengannya."
"Sudah berapa lama?"
Hanya berselang satu detik dari jawaban Sasuke, Itachi kembali menyuguhinya pertanyaan lagi.
Dia meneguk kasar salivanya.
"Tiga tahun."
Alis kiri Itachi terangkat secara spontan. Dia mendesah. Antara kecewa, lelah, atau apa. Sasuke terlalu cemas memikirkan kelanjutan hubungannya sampai tidak menghiraukannya.
Hell? Tentu saja karna sang kakak tidak pernah menyetujui hubungannya dengan gadis itu. Entah karna apa. Setiap kali Sasuke bertanya. Itachi selalu menjawabnya dengan kalimat tak masuk akal seperti, "Aku memikirkan masa depanmu, Sasuke. Dan aniki ingin yang terbaik untukmu." atau, "Aniki tidak pernah melarangmu bergaul dengan siapapun tapi untuk urusan pacaran, aniki tidak mau kau menjalin hubungan serius dengan gadis itu."
Alasan yang cukup menggelikan bukan? Itachi memang tidak pernah mengancamnya. Memarahi. Membentak. Atau menentang tegas kedekatan mereka secara langsung. Tapi tetap saja nada penolakan itu membuat Sasuke enggan menunjukan kemesraannya secara terang-terangan di depan sang kakak. Bahkan bergenggaman tanganpun tidak berani. Faktanya Sasuke tidak pernah mengajak Sakura berkunjung jika Itachi berada di rumah. Apalagi melakukan kontak fisik. Semuanya dilakukan diluar pengawasan Itachi tentu saja.
"Kenapa kau terus menunduk?" Pertanyaan dari Itachi menyentak lamunan Sasuke. Dengan gugup ia menggeleng salah tingkah dan merutuki kebodohannya barusan.
Itachi meletakan sumpitnya diatas mangkuk kemudian menatap lekat sepasang intan kelam adiknya.
"Kenapa Sasuke?" Suara lembut Itachi membuat tengkuknya bergidik.
Lagi-lagi Sasuke hanya menggeleng. Sedetik kemudian ia membuka bibirnya lalu mengatupkannya lagi. Bingung harus mengatakan apa. Diliriknya Itachi yang tetap memandangnya teduh. Seketika perasaan Sasuke bagai terbungkus sesuatu. Rasanya ringan. Hangat. Juga nyaman.
"Aniki marah padaku?"
Kening Itachi mengernyit. Dagunya tengah bertopang menggunakan sebelah tangan.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
"Karena—uhm, karena... karena aku tidak mendengarkan perkataan aniki dan tetap menjalin hubungan dengan... Sakura."
Suara Sasuke memelan dan terkesan lirih ketika menyebut nama kekasihnya.
Itachi menghela napasnya entah yang keberapa.
"Aku mengerti Sasuke," Jeda. Itachi mengangkat kedua bahunya ringan. "Lakukanlah apa yang membuatmu bahagia. Kali ini aniki akan mempercayai apa yang kau pilih. Dengan syarat kau tidak membuatku kecewa."
Sasuke seperti tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Apa kakaknya bilang tadi? Mempercayai apa yang Sasuke pilih? Itu artinya Itachi merestuinya dengan Sakura kan?
Bola mata Sasuke melebar maksimal. Tampak bergetar memandang sosok kakaknya yang tengah tersenyum lembut padanya. Setelah selama ini selalu memberinya penolakan secara halus, menguliahinya tanpa alasan jelas beserta tetek bengeknya, membatasi kehidupan remajanya. Pada akhirnya —di malam yang bagi Sasuke ajaib ini. Kakaknya —Itachi Uchiha memberikannya sesuatu yang Sasuke impi-impikan sejak dulu. Yakni menjalin hubungan dengan Sakura tanpa dibatasi embel-embel restu. Karena Itachi telah resmi merestui keduanya.
.
.
"Kau tahu dimana Sakura, dobe?"
Pagi ini tak seperti biasanya. Sasuke datang ke kampus dengan wajah sumringah. Kedua sudut bibirnya mematri sebuah senyuman asing yang baru pertama kali Naruto lihat selama menjadi sahabatnya. Naruto sampai kikuk dibuatnya.
"Hei, aku bertanya padamu, Narudobe!"
Kali ini rasa heran Naruto berubah jadi rasa kesal.
"Sasuteme! Aku baru saja mengagumi moodmu beberapa detik lalu tapi kau sudah kembali menjadi menyebalkan, "sungutnya, "Sakura tadi kulihat ada di gedung serbaguna. Kau cari sendiri sajalah."
Sasuke tahu Naruto sedang repot dengan setumpuk berkas ditangannya. Maka dari itu dia tak mau lebih mengganggunya lagi. Dengan memoles senyum termanisnya, dia menepuk bahu Naruto seraya berlalu riang. Meninggalkan Naruto yang menganga tak percaya.
Mimpikah dia? Baru saja Sasuke memang benar-benar tersenyum kan? Oh tuhan... cubit pipinya sekarang bisa?
Mendadak kedua tangannya lemas tak bertenaga. Menghamburkan kertas-kertas yang harusnya ia antar keruang dosen.
Sementara itu Sasuke masih memacu santai langkah kakinya. Kepalanya menengok keberbagai sudut guna mencari sesosok bidadari berambut merah muda yang menjadi penguasa hati maupun pikirannya. Mata bulat Sasuke yang hitam melirik dari satu tempat ke tempat lainnya, namun keberadaan Sakura belum juga tertangkap pada lensa matanya.
Melewati lorong terakhir, Sasuke terus berjalan ke depan. Dia bahkan meminta salah satu sisiwi yang hendak masuk ke toilet wanita untuk mengecek ada tidaknya Sakura di dalam sana. Tentu saja hal itu dilakukannya sepenuh hati tanpa paksaan. Mengingat gadis itu mengangguk dengan wajah yang merona. Hatinya menjerit-jerit senang mendapatkan senyum langka Uchiha yang ternyata begitu indah. God! Mimpi apa dia semalam?
Beberapa menit kemudian si gadis kembali lagi dengan tangan kosong. Dia mengatakan kalau Sakura tidak ada di dalam. Jadilah Sasuke mencarinya ke tempat lain setelah mengucapkan terimakasih sembari mengembangkan senyumnya lagi.
Seperginya dia dari sana. Gadis itu ambruk tak sadarkan diri. Bibirnya menyunggingkan senyum bahagia dengan hidung yang mengucurkan banyak darah.
Sasuke melewati gudang kosong yang mengarahkannya pada jalan menuju taman belakang. Tidak ada siapa-siapa disana. Mungkin Sakura sudah kembali ke kelasnya. Mengingat lima menit lagi kelas akan dimulai. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk kembali. Dia berjalan santai sembari merapihkan lengan kemejanya yang digulung sebatas siku. Hingga sesuatu yang kecil dan tajam tiba-tiba menancap tepat dibelakang lehernya. Sasuke terpekik parau. Suaranya mendadak serak. Jarinya meraba ke belakang leher dan mendapati sebuah jarum kecil tertancap disana.
Dia mencabutnya.
Matanya mulai berkunang-kunang. Kakinya tampak gemetaran. Rasa lemas dan kantuk, membuat tubuhnya oleng kemudian terjerembab jatuh tanpa bisa ia tahan. Erangan pelan yang keluar dari bibir Sasuke masih dapat terdengar mengingat sepinya lorong tersebut.
Samar-samar ditengah hilangnya kesadaran. Sasuke merasakan tangan kasar yang menarik rambutnya sampai kepalanya mendongak, tak lama setelah itu cengkeraman kasar menangkup dagunya dan membantingnya ke samping dengan desisan berbahaya.
Sasuke sudah sepenuhnya pingsan ketika sosok itu menyeret kedua tangannya memasuki gudang. Tetapi langkah kaki seseorang yang terpantul pada lantai, mengurungkan niatnya.
Dari kejauhan seorang gadis nampak mengedarkan pandangannya mencari-cari sesuatu. Sampai akhirnya emerald terangnya memaku seonggok tubuh familiar baginya.
Tak memerlukan waktu lama untuk si gadis mengenali sosok itu.
"Sasuke!" pekiknya kencang, "Sasuke bangun!" Tepat didepan tubuh Sasuke, gadis itu mengguncang-guncang bahunya. "Apa yang terjadi padamu, Sasuke?" Kecemasan meliputi paras cantik gadis berkulit bak porselen itu.
Dia menjerit histeris. Berusaha meminta pertolongan sembari memangku kepala Sasuke yang dihiasi rona pucat pada wajahnya. Hanya terdapat sebatang jarum tipis didekat kakinya, disertai setetes darah yang menitik dari ujungnya.
.
.
"Uh," leguhan samar itu datangnya dari atas ranjang UKS.
Sepasang emerald Sakura mendelik. Ia menggenggam tangan kanan Sasuke dengan posisi duduknya di dekat ranjang. Diusapnya dahi putih yang nampak berkeringat itu penuh perasaan tatkala mendengar sang kekasih merintih pelan sembari menekan sudut keningnya yang berdenyut sakit.
"Sasuke.." panggilnya lirih. Ada nada kekhawatiran dalam getar suaranya.
"Sa —kura?"
Gadis itu mengangguk membenarkan.
"Aku disini."
"Aku —dimana?"
"Kau ada di UKS," sahutnya lembut, "Tadi kau pingsan, ingat?"
Sasuke memutar kembali rekaman nyata pada otaknya. Dia ingat dia tadi sedang mencari Sakura sampai ke gudang taman belakang. Dan ketika dia sudah berbalik, ada sesuatu yang tajam menancap di leher belakangnya.
Ya, ya!
Dia ingat sekarang.
Sasuke sempat mencabut benda itu yang ternyata adalah jarum kecil. Apa itu obat bius? Karna dia jadi lemas dan mengantuk secara mendadak. Yang lebih penting siapa orang yang telah membiusnya? Lalu apa motifnya?
"Untung aku menemukanmu tepat waktu tadi," gumam Sakura. Tapi terdengar cukup jelas di telinga Sasuke.
"Kau yang menemukanku?"
Sakura meresponnya dengan anggukan.
"Aku melihatmu sudah pingsan. Tapi aku juga sempat melihat bayangan orang lain menuju taman belakang sambil berlari."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya dengan jelas karna terlalu fokus padamu. Kau membuatku khawatir sayang."
"Maafkan aku."
"Tak apa. Yang penting kau tidak terluka. Kita akan temukan pelakunya nanti ya. Karna itu kau harus lebih berhati-hati sekarang. Entah mengapa aku merasa kalau ada seseorang yang berniat mencelakaimu," Bibirnya bergetar. Perhatiannya mengarah pada objek lain. "Aku —aku takut..."
Jemari Sasuke menarik dagu mungil Sakura. Ditatapnya kilau emerald yang berkabut. Dia membencinya. Dia lebih suka melihat Sakuranya tersenyum ceria seperti biasanya.
"Aku tidak akan apa-apa," bisiknya lembut. Kedua tangan itu menangkup pipinya lalu kemudian menariknya mendekat. "Jangan takut." Rasa-rasanya suara Sasuke mampu menentramkan kekalutannya.
Kecupan singkat nan hangat menyentuh hidung bangir Sakura. Kedua ibu jari Sasuke mengusap anak sungai kecil di pipi mulus sang gadis. Dikecupnya pipi itu secara bergantian, dan berakhir pada bibirnya yang sewarna cherry.
Sasuke mengecupnya dalam beberapa kali. Memulai lumatan kecilnya disertai jilatan pada bibir bawah Sakura yang terkatup rapat. Sakura yang mengerti lekas membuka mulutnya untuk mempersilahkan lidah kekasihnya menginvasi rongga hangatnya.
Ciuman Sasuke begitu memabukan, lembut, juga panas. Padahal pemuda raven itu baru sadar dari pingsannya tetapi bisa mengeluarkan tenaga sebesar ini untuk mencumbu bibirnya. Lengan kekar berkulit alabaster itu menarik pinggul Sakura semakin merapat padanya, dan tangan kanannya yang bebas menekan tengkuk Sakura untuk memperdalam ciuman mereka.
Sakura mulai mendesah ketika lidah basah Sasuke yang mengobrak abrik mulutnya, menggelitiki langit-langit gusi serta mencapai tonsil miliknya. Wajah si gadis yang sewarna porselen itu mulai memerah. Tangannya yang melingkari leher Sasuke memberontak pelan. Kebutuhan oksigen menyebabkan napasnya sesak.
"Nggghh!" leguhan serak Sakura diartikan lain oleh Sasuke. Pemuda itu semakin merapatkan posisi mereka dan meremas leher mungil kekasihnya.
Sakura yang sudah memerah dan hampir kehabisan napas, menggerakan kedua tangannya untuk meremas balik leher belakang Sasuke. Seketika itu pulalah ciuman mereka terlepas disertai erangan kesakitan dari mulut si raven.
Sembari terbatuk-batuk kecil dan meraup napas secara rakus, sepasang emerald Sakura meneliti keadaan kekasihnya yang kembali berbaring seraya menyentuh leher belakangnya. Sakura tahu ada bekas benjolan kecil berwarna merah kebiruan disana. Sepertinya dia terlalu kencang meremasnya hingga menyebabkan Sasuke kesakitan. Dia jadi merasa amat bersalah.
Ditarik tangan Sasuke untuk menggantikan posisinya mengusap bagian belakang lehernya yang sedikit bengkak. Bibirnya meniup-niup dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku..."
"Hn."
"Kau sih seperti orang kesetanan yang mau memakan habis bibirku."
Sasuke menyeringai tipis diantara rintihannya. Wajah ayu kekasihnya tengah merajuk padanya.
"Aku hanya sedang merasa senang. Kau tahu, aniki akhirnya merestui hubungan kita."
Perhatian Sakura sontak mengarah memandangi senyuman lega Sasuke. Dia tidak salah dengar kan? Kak Itachi merestui mereka?
Ya memang sih Itachi tidak pernah menunjukan penentangan tegas akan hubungannya dengan Sasuke. Saat mereka berdua bertengkarpun, Itachi hanya mendengus lelah melihat raut murung sang adik. Lalu memberikan komentar yang sekiranya bisa menenangkan kegelisahannya, bukan malah menambah kekesalan hatinya.
"Benarkah?"
Dan respon Sasuke hanya berupa anggukan. Senyum manis di bibirnya belum sirna sejak tadi.
"Aku juga senang mendengarnya." sahut Sakura bernapas lega.
"Kalau begitu mendekatlah sini..."
Alis Sakura mengerut tanda bingung. Oh tidak! Seringai sexy Sasuke mengacaukan pikirannya. Firasatnya tiba-tiba saja buruk.
Sebelum dirinya yang dimangsa habis oleh sang predator. Sakura sudah mencondongkan punggungnya terlebih dahulu. Ia menggeser posisi kepala Sasuke hingga mengekspose leher putih jenjang sang Uchiha. Di lumatnya kulit sewarna salju itu, menjilatnya dengan penuh minat hingga membekaskan tanda merah keunguan yang sangat kontras dengan kulitnya.
Sasuke meleguh, dirasanya Sakura mulai membuka dua kancing kemejanya dan berpindah untuk melumat kulit dadanya. Tanpa ia sadari sebuah benda dingin terbuat dari besi melingkari kedua pergelangan tangannya diatas kepala.
Sepasang obsidiannya melebar menyadari kalau Sakura telah bertindak agresif lebih dulu dari dirinya. Bibirnya berdecak sebal ketika melihat seringai menggemaskan terpoles diwajah cantik Sakura.
Gadis itu sudah berhasil membelenggu tangannya dengan borgol. Dan sekarang Sakura mengaduk tas slempang miliknya untuk menemukan benda lain untuk melakukan permainan ke tahap selanjutnya.
"Sakura sayang. Lepaskan. Ini UKS sayang."
"Aku tahu sayang. Aku sudah mengunci pintunya sejak kau pingsan tadi. Jadi kau tak perlu khawatir."
"Kau mau bermain curang, hm?"
Mendengar gerutuan kekasih tercintanya Sakura terkikik amat geli.
"Kalau aku tidak curang, pasti sekarang aku sudah dilahap habis olehmu. Mana mungkin aku bisa menandingi kekuatanmu ketika memperkosaku lagi nanti."
"Ck," Sasuke berdecak, "Itu bukan pemerkosaan, okay? Kita melakukannya dengan persetujuan masing-masing, tanpa ada paksaan. Lagipula kau yang menggodaku terleb —uhmfft!"
Sakura memotong ucapan Sasuke dengan memasukan gagball ke mulutnya. Dia memamerkan cengiran lebarnya yang menawan saat onyx kelam Sasuke menyipit tajam tak setuju.
"Kali ini aku yang bermain. Suka ataupun tidak. Mengerti Sasu sayang?" bisik Sakura dengan desahan erotisnya. Bulu kuduk Sasuke sukses meremang. Hanya mendengar suara menggairahkan itu saja celananya langsung mengetat.
"Kau sangat tampan Sasuke. Milikku."
Titik-titik yang menyentuh dada polos Sasuke berasal dari ujung jari Sakura yang menggoda. Menyentuhnya dengan sentuhan sensual, menyebabkan erangan tertahan Sasuke terdengar menyiksa.
Satu persatu pakaian yang melekat ditubuh berkeringat Sasuke telah terlepas sepenuhnya. Dan Sakura lekas menindih perut rata dengan enam buah petak dan dada bidang berotot milik kekasihnya.
Mata hijau Sakura berkilat nakal.
.
.
Purnama menampakan eksistensinya diatas langit kelam malam ini. Kondisi lorong universitas sudah sepi sejak tigapuluh menit yang lalu.
Sakura mempercepat langkahnya menapaki lantai marmer putih koridor fakultas kedokteran. Derap kakinya menggaung memecah kesunyian. Seandainya dia meminta dijemput Sasuke sejak awal tidak akan begini jadinya.
Setelah menyelesaikan kuliah malamnya, entah kenapa perasaannya jadi tak tenang. Seperti ada sesuatu —ah tidak melainkan seseorang yang mengikutinya sejak diluar rumah. Tetapi berapa kalipun ia berbalik itu hanyalah imajinasinya semata. Karna tak ada seorangpun dibelakangnya.
Memasuki koridor aula tempat pertemuan. Sakura semakin mempercepat langkah. Dia mendengarnya. Ditengah kesunyian dan remangnya lampu neon langit-langit. Dia mendengar derap sepatu selain miliknya. Tepatnya beberapa meter dibelakang, dimana sekelebat bayangan seolah mengitai dari ujung lorong sana.
"Siapa?" Suaranya menggaung rendah. Getar frekuensinya memantul sampai keruangan jauh sekalipun. Padahal suaranya menyerupai bisikan tadi.
"Sasuke?"
Sunyi. Tidak ada siapapun yang menjawab.
"Sasuke kaukah itu?"
Manik hijaunya memicing jauh kedepan sana. Berusaha memastikan bahwa ujung sepatu kets putih yang menyembul dari persimpangan lorong adalah milik Sasuke.
Namun, sayangnya Sakura tak pernah ingat Sasuke mempunyai sepatu berwarna putih susu seperti itu. Kekasih ravennya menyukai warna-warna yang terkesan gelap, sangat kontras dengan kulit sewarna saljunya.
Dia makin ngeri sendiri. Ingin cepat-cepat sampai diparkiran untuk menemui Sasuke saja rasanya, daripada harus menjumpai sesosok mengerikan macam hantu. Atau jangan-jangan...
Ukh! Sakura berbalik kilat dan mulai berlari. Disaat itulah sosok yang bersembunyi itu mengejarnya.
Sakura kelabakan. Dia mendengar langkah kaki itu amat jelas. Langkah lebar-lebar si pelaku menyebabkan degupan jantung Sakura tak terkendali. Bagaimana tidak? Kalau langkahnya sendiri tidak mampu selebar itu.
Cepat atau lambat pasti dirinya akan tertangk—
Bruk!
Akibat tidak memperhatikan jalan didepan Sakura menubruk sesuatu. Tubuh rampingnya terhempas kuat kebelakang. Dia memejamkan matanya berusaha untuk tidak memikirkan sakit yang akan didera tubuhnya saat menyentuh lantai nanti.
Namun setelah beberapa menit menunggu, rasa sakit itu tidak kunjung ia rasakan. Hanya ada hembusan napas hangat seseorang yang mengitari sekitar wajahnya.
Sakura tersentak. Menyadari adanya ketidakberesan. Buru-buru ia memberontak dalam kungkungan lengan kekar yang sejak tadi mendekap pinggul dan punggungnya. Mata hijaunya terbuka.
"Lep—"
"Kenapa kau berlarian di koridor? Itu berbahaya kau tahu?"
Tidak salah lagi kalau suara datar khas itu milik Sasuke.
"Sasu— hiks —Sasu..."
"Ada apa Sakura?"
Mata kelam Sasuke melirik kearah yang ditunjuk Sakura. Tidak ada siapa-siapa disana.
"Ada yang mengikutiku," isaknya lirih, "Ada yang mengikutiku tadi, Sasuke."
"Ssshh," Dekapan hangat penuh perlindungi diberikan Sasuke. "Tenanglah... Kita pulang sekarang."
Sakura mengangguk di dada Sasuke dan Sasuke menjauhkan diri untuk mengusap pipi basah Sakura yang dihiasi airmata.
Keduanya melangkah menjauh meninggalkan koridor sepi. Tanpa tahu kalau sosok misterius itu masih mengintainya dibalik ruang kelas paling ujung.
Hanya decakan kesal bercampur emosi yang memecah kesunyian fakultas kedokteran.
.
.
Pagi harinya kampus kembali heboh. Suasana yang harusnya tentram malah diwarnai kejutan berdarah.
Setelah insiden bunuh diri Ino dan pembunuhan sadis Neji. Kali ini giliran Tenten yang menemui nasib serupa. Tubuh kecilnya yang terbalut pakaian bekas kuliah semalam tergantung diatas ketinggian lima meter dengan perut yang tertusuk ujung tiang bendera sampai tembus kebelakang. Warna merah pekat menutupi permukaan besi tiang yang seharusnya berwarna putih susu.
Ditengah lapangan, teriakan histeris para siswa dan siswi membahana kencang. Kejadian mengerikan kembali membuka trauma lama. Disaat pihak kepolisian masih kesulitan mencari sang pelaku, kini terulang lagi. Seolah pembunuh keji itu ingin menantang siapapun yang menghalangi aksinya.
Butuh waktu dua jam untuk menurunkan jasad kaku Tenten dari atas sana. Tandu jenasah lekas mengangkut tubuh tak bernyawa itu keruang penyimpanan kadaver fakultas kedokteran.
Para polisi memulai pelacakannya dari awal lagi karna mendapatkan petunjuk baru, namun setelah berputar-putar menanyai informasi maupun petunjuk yang ada, juga menyelidiki kesekitar tempat kejadian, hasilnya kembali buntu. Nihil. Nol besar.
Pembunuh kali ini sangat licik dan licin rupanya.
Disudut fakultas bisnis menejemen, Sasuke bersandar pada dinding sembari mendekap erat Sakura yang menangis ketakutan.
Seandainya pada malam kemarin Sasuke tidak memiliki inisiatif untuk menjemputnya kedalam gedung. Mungkin Sakura akan... akan bernasib sama seperti... Tenten.
Sasuke tidak mampu membayangkannya. Dia terlalu takut kehilangan Sakura. Baginya Sakura adalah separuh napas jiwanya. Sasuke tidak mau sesuatu yang buruk terjadi menimpanya.
Dia menggeleng kuat. Kian mengeratkan dekapannya dan berbisik cukup lirih.
"Kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja sayang."
Ucapan itu bagai mantera yang terus diulang-ulang sampai tangis Sakura reda.
.
.
Setelah kejadian itu entah kenapa ada banyak sekali keganjilan disekitar Sasuke. Dari mulai dirinya yang hampir dicelakai berulang kali. Datangnya teror dari seseorang didalam loker atau kotak pos rumahnya. Dirinya yang hampir diculik ketika pergi ke mini market bersama kakaknya.
Untung saja Itachi selalu sigap dimanapun. Jadi saat kejadian menggelikan itu terjadi Itachi menghajar semua bandit yang menyeret Sasuke secara paksa. Tentu saja Sasuke juga tidak tinggal diam. Bagaimanapun sejak kecil dia sudah dilatih ilmu beladiri dari sang kakak.
Dia sampai tidak habis pikir dibuatnya.
Terlebih lagi Sakura yang sekarang seolah diincar keselamatannya. Seperti pot tanaman besar yang tiba-tiba jatuh dari lantai atas dan hampir menimpa kepala Sakura kalau Sasuke tidak sigap melindunginya. Terkuncinya si gadis pinkish diruangan pendingin kadaver ketika melakukan praktek. Lalu yang baru-baru ini, Sakura selalu mendapatkan teror saat malam hari sampai-sampai dia meminta Sasuke menginap dirumahnya selama tiga hari.
Jujur saja Sasuke sangat lelah. Dia ingin secepatnya misteri ini segera terpecahkan. Soal pembunuh, penguntit, oknum-oknum yang berniat mencelakainya. Dia teringat sesuatu. Apa jangan-jangan ini perbuatan dari orang yang sama?
"Kalian melihat Hinata?" Raut cemas dan bingung Naruto mengalihkan lamunan Sasuke juga kawan-kawannya dikampus sore itu.
"Tidak." sahut Shikamaru. Sakura dan Sasuke hanya meresponnya dengan menggelengkan kepalanya heran.
"Ini sudah hampir dua hari aku mencarinya. Dia tidak ada dimanapun. Pihak keluarganya saja sampai panik mencari keberadaannya."
"Sudah tanya Kiba?" tanya Sakura.
Naruto menggeleng. Mengambil posisi duduk tepat disamping Sasuke.
"Dia kan tidak pulang ke rumah sejak Akamaru ditemukan tewas dipinggir jalan."
Ya, sudah hampir dua hari ini Kiba meratapi kematian anjing kesayangannya dan berdiam diri cukup lama didepan makam Akamaru. Setahu mereka Hinata juga tidak mungkin mengusik Kiba saat suasana hatinya memburuk seperti itu. Apalagi, Hinata menghilang setelah Akamaru ditemukan terkoyak tak bernyawa, jadi dia tidak mungkin tahu mengenai kabar duka itu kan?
"Kami akan membantumu mencarinya. Kau tenang saja." ujar Sasuke datar namun menyiratkan kekhawatiran.
"Kau sedang sakit Sasuke. Sebaiknya kau pulang dan istirahat. Biar aku yang membantu Naruto mencari Hinata. Ayo kuantar kau pulang. Berikan kunci mobilmu biar aku yang menyetir."
Sasuke niatnya mau menolak tapi Sakura bersikeras pada pendiriannya. Diapun hanya pasrah saat tangan-tangan Sakura menggeledah saku celana juga jaketnya untuk mencari kunci mobil.
Sakura memang benar. Hari ini Sasuke memang terlihat tidak cukup fit untuk melakukan aktifitas. Mengikuti mata kuliah biasa saja dia sudah selelah ini apalagi membantu Naruto mencari Hinata. Bisa-bisa dia akan pingsan dijalan. Itu memalukan. Seperti wanita saja.
Setelah berpamitan pada kawan-kawannya, Sasuke menaiki kursi depan disebelah pengemudi. Membiarkan Sakura menyetir mobilnya sementara dia memejamkan matanya. Dia hanya butuh istirahat untuk memulihkan tenaga.
Kurang dari seperempat jam mereka telah sampai di apato milik Sasuke.
"Itachi-nii tidak ada?" Sakura mendudukan Sasuke diatas sofa sembari mengerling keberbagai arah mencari sosok lain yang serupa dengan kekasihnya. Bedanya orang itu memiliki garis wajah yang lebih dewasa dari Sasuke.
"Belum pulang mungkin atau sedang berbelanja di mini market."
Bibir Sakura membulat melafalkan huruf 'O'. Dia memperhatikan keadaan Sasuke. Kulit wajahnya yang putih jadi memerah. Napasnya tersenggal. Kepalanya terbaring lemah pada sandaran sofa. Ekspresi sakit Sasuke entah kenapa jadi semanis ini.
Suasana apato mendadak terasa panas akibat suhu tubuh Sasuke. Selain detik jam yang berbunyi hanya ada desah napas Sasuke yang putus-putus.
Kepala merah muda Sakura menoleh ke pintu utama sebelum memutuskan untuk duduk disebelah Sasuke kemudian mengecup singkat bibirnya.
"Cepat sembuh."
"Hn."
Dasar. Disaat sakitpun tetap saja mengguman singkat seperti itu. Menyebalkan.
Jari-jari lentik Sakura memegang dagu Sasuke untuk menariknya mendekat. Dikecupnya lagi sepasang bibir kenyal tipis yang sedikit hangat. Lama-lama kecupan itu berubah menjadi lumatan. Telapak kanan Sakura menyangga tengkuk hangat Sasuke, sementara telapak kirinya menyusup kebalik kemeja abu-abu gelap sang Uchiha.
Bukannya Sasuke yang mendesah melainkan sebaliknya, Sakuralah yang mendesah. Dia tidak sadar entah sejak kapan Sasuke menyusupkan kedua tangannya kedalam sweeter merah marun Sakura. Meremas dua gunung kembar didadanya diselingi dengan usapan nakal pada tonjolan paling privasi miliknya.
"Sas—mmphtt!"
Lelehan saliva mengalir dari sela-sela tautan bibir mereka. Membasahi dagu serta leher putih keduanya yang berkeringat.
Beberapa menit saling bergulat lidah, Sakura kembali menelan kekalahan. Dia tidak mungkin bisa menang jika berciuman dengan the good kisser macam Sasuke.
"Kau ingin menyerang orang sakit huh? Curang dasar."
Bibir kekasihnya mencebik lucu. Tak kuasa menahan rasa gemasnya, Sasuke mencubit pipi chubby sang Haruno.
"Sasu!" protes Sakura yang hanya ditanggapi tawa renyah Sasuke.
Bunyi pintu utama yang berderik memaksa Sakura maupun Sasuke menghentikan aksi cubit mencubitnya.
Dibalik papan kayu oak itu, muncul Itachi Uchiha dengan raut datarnya yang berkharisma. Sepasang onyxnya hanya melirik singkat permata emerald Sakura, lalu beralih untuk meneliti keadaan adik semata wayangnya.
Kulit yang memerah. Kelopak mata sayu. Napas terengah. Dan bibir yang bengkak?
Untuk yang terakhir itu, Itachi melirik lebih kebawah, kancing kemeja Sasuke terbuka tiga buah dibagian atas, dan sedikit tersingkap dibagian bawahnya.
"Sudah kukatakan untuk tidak pergi ke kampus hari ini kan?" tegur Itachi, "Kau selalu membangkang pada perintahku. Dasar..." Ekspresinya tidak berubah sedikitpun tapi nada bicaranya terkesan santai meskipun tersirat kecemasan yang kentara.
Itachi menjulurkan telapak kanannya untuk menekan dari Sasuke kemudian menyentilnya pelan.
"Ouch!"
"Baka otouto!" dengusnya. Perhatiannya memaku sosok Sakura yang berdiri kaku disebelahnya. "Terimakasih sudah mengantar adik bodohku Sakura. Sebaiknya kau pulang sekarang sebelum larut malam." Tersungging senyum ramah diwajah Itachi. Sakura mengangguk canggung. Ini pertama kalinya dia melihat kakak Sasuke tersenyum.
"Y—ya. Aku pulang dulu Itachi-nii. Sasuke." bisiknya malu-malu. Wajah putihnya merona cantik.
"Hn." gumam keduanya bersamaan.
Sakura lekas menyambar tas slempangnya lalu keluar dari apato itu setelah memakai kembali sepatu ketsnya.
"Dasar... membiarkan dirimu diserang ketika sedang sakit huh?" Itachi mengejek disertai seringainya yang menyebalkan.
"Urusai!"
.
.
Disebuah ruangan kumuh yang cukup luas. Diantara tumpukan kotak kayu berdebu dan beberapa barang bekas tak terpakai. Seorang gadis bersurai indigo panjang meringkuk memeluk lutut kakinya dengan posisi menyamping.
Bahu kecilnya nampak bergetar. Darah kental yang mengalir dari kedua matanya yang terpejam tidak berhenti menetes sejak tadi. Bibir mungil yang kini terlihat pucat itu merintih tanpa suara.
Hingga sebuah langkah santai yang bergema diatas lantai semen, menyentak kesendiriannya. Seketika dia menyeret tubuh ringkihnya susah payah kesudut ruangan tanpa mampu melihat apapun disekitar. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah kematian mengerikan yang telah direncanakan seseorang akan segera tiba?
Sementara sosok misterius itu semakin mendekat dengan sebilah pisau ditangan kanan. Dia menyeringai, sebelum mengayunkan benda tajam itu untuk mengoyak tubuh korban selanjutnya.
.
.
Tbc
.
.
Gomen saya lupa gara-gara keasikan main game. Pas buka akun ffn, baru inget kalo ada fic yang seharusnya saya selesaikan sebelum memasuki awal bulan agustus. Hehehe... Tapi gapapa ya. Semoga ceritanya bisa menghibur walaupun bagi saya pribadi sangat membosankan.
