My Dagerous PAPA

Naruto Masashi Kishimoto

Inspirasi dari novel: Half Bad Sally Green

o

o

o

BAB I

Lambang Kipas di Punggung

o

o

o

Hari ini langit terlihat cerat, awan-awan putih menggumpal indah, di baliknya banyak burung-burung beterbangan dan saling menyapa dengan kicauan.

Sinar matahari terasa hangat dan sangat pas bagi mereka para murid Akademi Konoha untuk belajar praktek di halaman gedung. Guru Shino baru saja menyerukan kepada anak-anak didiknya untuk berkumpul dan berbaris rapi. Laki-laki dengan kacamata hitam unik yang menempel di wajah, lalu mengambil papan yang berisi absen siswa dan siswi, kemudian memanggil para murid satu demi satu.

"Akamichi Chouchou, sekarang giliranmu." Shino berada di samping para murid yang berjejer rapi dalam berbaris, kemudian menyaksikan Chouchou yang harus melempar sekaligus delapan buah Shuriken ke batang pohon yang dijadikan bidikan.

"Haaa, lebih baik mengganti delapan Shuriken ini dengan keripik kentang rasa daging asap." Tatapan malas Chouchou dilayangkan kepada delapan buah senjata tersebut, dengan sekali lempar, hanya beberapa Shuriken yang menancap di batang pohon. "Rasanya lelah dan membuat lapar, terlalu sering berlatih dengan Ino-Shika-Chou membuatku bosan. Apalagi tidak ada pria tampan yang bisa membangkitkan semangat."

Shino hanya diam saja, melihat muridnya berjalan mundur dan kembali ke dalam barisan seperti semula. Seorang gadis muda menggelengkan kepala prihatin, sahabatnya ini memang selalu banyak alasan kalau sudah berkaitan dengan latihan. Tidak jauh-jauh dari keripik kentang dan pria tampan.

"Kau tak bisa berkonsentasi lagi, Chouchou." Sarada menaikkan kacamatanya. Menghela napas karena Chouchou lebih memilih untuk mengendikkan bahu dan kembali menyantap keripik kentanganya.

Suara ramai-ramai dan sorak-sorak anak murid kembali hening ketika Shino memukul-mukul papan absen untuk menenangkan suasana.

"Baiklah, selanjutnya, Uchiha Sarada."

Merasa namanya terpanggil, Sarada pun langsung berjalan dan menerima delapan buah Shuriken yang diapit masing-masing di sela-sela jarinya. Ia pun memasang kuda-kuda dan mulai berkonsentrasi agar senjata di tangannya ini tertancap pas di batang pohon yang dijadikan sasaran. Shino yang mengerti dengan kuda-kuda dan kesiapan Sarada, lalu berkata, "Mulai."

Slap. Slap. Slap.

Kedelapan Shuriken kini tertancap sempurna di batang pohon, memanjang dan membentuk sisi tegak lurus mengikuti panjang batang yang kokoh berdiri. Anak-anak perempuan bersorak-sorak, betapa bangganya dengan talenta Sarada karena bisa menjadi yang terbaik bagi Akademi Konoha dalam hal melempar Shuriken, sedang anak lelaki mulai menampilkan ekspresi beragam, ada yang kagum dan bersorak, ada yang mendecih dan ada yang mengeluh karena Sarada memanglah seorang Uchiha yang memang bertalenta dalam hal Shuriken.

"Berlebihan, dia adalah Uchiha." Boruto mulai merasa tersaingi lagi, entah bagaimana dia tak rela jika Sarada kembali berada satu jengkal lebih tinggi daripada dirinya dalam praktek ilmu ninja.

"Ya, setahuku Uchiha memang sangat bertalenta dalam Jutsu Shuriken." Mitsuki tersenyum, memandangi Sarada yang sekarang sedang mengobrol dengan Chouchou dan rekan gadis lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, persaingan antara anak lelaki dan perempuan di kelas akademi yang ditempati Sarada memanglah sangat mencolok. Mereka seperti selalu perang dingin, namun tetap saling menyemangati dan melindungi satu sama lain.

o

o

o

Senja mulai menyinari dunia, anak-anak yang ada di akademi pun perlahan meninggalkan gedung dan melangkahan kaki menuju rumah mereka masing-masing. Dari arah melawan cahaya sang mentari, seorang anak perempuan berjalan santai sambil menghela napasnya. Menatap ke sebuah rumah megah yang didiaminya selama ini dengan sang Mama seorang. Rumah berlambang kipas merah dan putih yang tercetak kokoh di bagian dinding depan masing-masing di samping pintu.

Nyaris dua belas tahun dalam hidupnya, Sarada putri dari Uchiha Sakura hidup kesepian tanpa tahu bagaimana sosok papanya sekarang. Bahkan, yang bisa dia tahu hanyalah sekadar foto di masa muda dan nama Uchiha Sasuke belaka. Itupun tak ada yang berani menyebutkan nama papanya tersebut karena dia adalah sosok yang sangat berbahaya, salah satu kriminal yang nyaris memusnahkan seluruh Kage di lima desa besar, musuh terbesar negara Hi. Yang memiliki mata terlarang. Dari klan terkutuk Uchiha.

Menemukan fakta tentang klanmu di perpustakaan memanglah sangat luar biasa, namun semua yang tertulis di sana membuat Sarada sesak napas karena mengetahui sejarah klannya yang kelam. Klan dengan kutukan kebencian. Saat bertanya tentang masalah ini kepada sang Mama, gadis muda itu tak mendapatkan jawaban yang memuaskan rasa penasaran dan keingintahuannya, namun nenek dan kakeknya membenarkan hal itu. Mamanya pun pernah nyaris terbunuh karena papanya, dirinya adalah anak yang tak diinginkan. Tetapi, kenapa mamanya masih tetap memakai lambang kipas di belakang punggun? Yang menunjukkan mereka adalah bagian dari Uchiha?

Memujat pelipis kembali karena merasa pusing memikirkan banyak hal yang tak diketahuinya mengenai Uchiha dan keluarga ini, Sarada pun hanya ingin pulang dan menemui mamanya. Maka, sekarang ia mempercepat langkahnya.

Membuka pintu rumah, di sana sudah berdiri sosok sang Mama yang tengah mengenakan apron, berada di kitchen set sedang memasak hidangan untuk mereka bersantap malam nanti. Mamanya menyadari kehadiran Sarada dan lantas langsung tersenyum ceria. Senyuman yang membuat hati Sarada pun ikut tentram karenanya.

"Ah, kau sudah pulang, Sarada. Bagaimana kelasmu hari ini?" Sakura kemudian kembali mengaduk supnya.

"Si Bodoh itu selalu tak mau kalah," kesalnya sambil menghela napas dan berdiri di samping sang Mama. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya kemudian.

Sakura mengerutkan alisnya dan tertawa.

"Boruto lagi, ya? Dia memang benar-benar seperti tiruan Nanadaime dulu. Eh, sebaiknya kau mandi saja, Sarada. Mama tadi pulang lebih cepat, setelahnya kau langsung turun, ya. Ini sudah matang."

Sang gadis muda menganggukkan kepalanya, melangkah ke kamar dan melakukan seperti apa yang mamanya inginkan.

Kembali terdiam sejenak, kali ini setelah menggelengkan kepala, Sarada pun memutuskan untuk melepas kacamata dan diletakkan di nakas. Menatap tangannya dan keanehan yang selalu ia rasakan sepanjang kehidupan ini.

Kenapa ia tak seperti anak-anak yang lain? Yang memiliki keluarga lengkap, tanpa ada cerita mengerikan dari kakek dan neneknya tentang betapa berbahayanya sang Papa.

Tidak tahu mengapa saat mendengarkan beragam cerita dari kakek dan neneknya, menyebabkan rasa sakit mengelilingi hati Sarada. Nenek dan kakeknya sangat membenci Papa, semuanya diperparah karena sang Mama sama sekali tak pernah menceritakan apa pun, tidak menjelaskan sesuatu yang akan membuatnya tenang dan merasa bangga karena ia juga memiliki sosok papa. Saat ia bertanya, yang tergambar hanyalah kesedihan di wajah Sakura, namun Sarada menyadari beberapa saat setelah itu mamanya perlahan akan pura-pura tertawa, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Apakah memang seburuk itu sosok papanya? Hingga mamanya saja tak bisa berkata-kata kalau ia menanyakan bagaimana sang Papa?

Uchiha dan lambang kipas yang ada di punggung mereka, seharusnya terlarang bagi keluarga ini jika memang seberbahaya itu papanya. Namun, semua yang diceritakan nenek dan kakeknya benar terjadi. Tentang perang besar ninja ke empat, yang dikepalai oleh sang Papa dan Uchiha lainnya. Membuatnya sedih, kenapa ia harus hidup dengan masa lalu papanya yang kadang menganggunya. Orang-orang desa tak semuanya mau mengerti, walau kisah ini hanya diketahui oleh para ninja, tetapi rumor dari ibu-ibu desa sangat menyakitkan. Pamannya pun adalah seorang kriminal yang menghabisi satu klan Uchiha dalam satu malam, kakek buyutnya adalah otak dari pecahnya perang besar ninja ke empat, dan papanya juga bergabung dengan ambisi ingin menghancurkan dunia ninja dan membunuh lima Kage.

Memikirkan hal itu dan kekelaman Uchiha, membuat Sarada meneteskan air mata karena mamanya tak banyak membantu. Hanya senyuman ketegaran yang terpampang dan nasihat bahwa Sarada tidak boleh membenci papanya yang dikatakan Sakura dan hal itu membuatnya tegar, bagaimanapun sosok itu tetaplah seseorang yang harus Sarada hormati sebagai sosok papanya. Namun, apa Uchiha Sasuke pantas disebutnya sebagai Papa? Bahkan dirinya tak pernah muncul dan selalu membawa rasa kecewa.

Dalam batinnya, walau rasa kesal dan kecewa itu semakin menggunung, tetapi benar apa yang dikatakan mamanya kalau Sarada tetap tak bisa membenci papanya. Karena kerinduan itu lebih besar dari rasa sesak yang membelenggu dan menyakiti hati.

Mengembuskan napas sekali lagi dengan pelahan untuk menenangkan diri, Sarada pun lantas melakukan yang sang Mama suruh. Lebih baik mandi, daripada memikirkan papanya dan membuatnya sedih. Setidaknya, Sarada bersyukur karena ia memiliki Uchiha Sakura sebagai mamanya. Sosok yang begitu tegar dan selalu bersabar, membuatnya tak mengerti dan ingin mengetahui kenapa mamanya masih mau bertahan dengan nama keluarga ini dan lambang kipas di belakang punggung?

Kenapa Uchiha Sakura tak membenci Uchiha Sasuke?

o

o

o

"Sarada, kau telah selesai. Kemarilah, Sayang. Kita makan bersama selagi masih hangat." Senyuman itu sangat menawan, Sarada pun menganggukkan kepala. Apakah hal ini membuat setidaknya ada perasaan cinta antara sang Papa terhadap Mama? Ia hanya membatin dan mulai menyuapi nasi dan sup miso kesukaannya. Saat melihat mamanya, benaknya selalu bertanya-tanya kembali dan terhadap hubungan Mama dan Papa.

"Ah, sup miso memang yang paling enak." Sakura bergumam saat harum masakannya menyebar ketika suapan pertama. Benar-benar membangkitkan selerasnya.

Mereka makan dalam diam, suasana terasa sepi di rumah yang sangat luas dan mengah ini.

Rasanya hampir-hampir perasaan takut menyesakkan bagi Sarada, kalau tak ada sosok mamanya yang selalu ceria, ia tak tahu apa yang akan menghampiri isi kepalanya nanti ketika sosok itu akhrinya muncul juga untuk yang pertama kali.

Bisakan dirinya setegar sang Mama?

o

o

o

o

o

Bersambung

Haloooooo maafkan saya yang tak bisa up kilat karena nanti mau fokus nyusun alur yaaa. Heheh.

Ok, ditunggu komen dan votenya. Semangatkan diri Erza biar gak kena WB huhuhuh.

Oh ya, fanfic ini akan jauh banger dari kenyataan di manga naruto dan boruto ya. Ini modifikasi canon. Jadi jalan cerita sangat tak sesuai dengan fakta di naruto dan boruto.

Salam sayang dari Istri Itachi,

zhaErza.