Chap 2

Hari berikutnya Jaejoong masih dikerubungi pada yeoja-yeoja yang mengincarnya. Meminta nomor handphonenya, meminta dia menelpon mereka, membalas sms mereka. Kalau dia tidak melakukan itu, dia akan menderngar lengkingan suara dari para yeoja.

"Jaejoong, kenapa kamu tidak membalas pesanku?"

"Jaejoong, telpon aku ya, aku ingin mendengar suara merdumu."

Memang Jaejoong siapa mereka sampai harus membalas pesan mereka dan menelpon mereka. Itu semua terserah padanya kan? Dia tidak suka didikte.

Ngomong-ngomong soal mengirim sms, Yunho mengirimkan sms kepadanya semalam.

'Ini aku Yunho. Apa kamu sudah tidur?' begitu isinya.

Jaejoong tidak membalasnya. Well, dia sudah bilang akan membalas kalau sms itu berisi soal perkuliahan kan?

"Kim Jaejoong!" teriak seseorang dari ujung koridor. Membuat namja cantik bersweater merah bergaris hitam, bercelana hitam, bersepatu hitam casual, dan terlihat sedang menjinjing tasnya itu menengok ke asal suara. Dahinya mengerut ketika mendapati Yunho berlari ke arahnya.

Jaejoong POV

Ada apa dengannya? Kenapa dia berlarian seperti itu? Tunggu, aku melihat seseorang berbadan tinggi juga mengejarnya, jangan-jangan itu seseorang yang akan menagih utang kepadanya? Atau seseorang yang suka padanya sampai mengejarnya seperti itu? Kenapa aku memikirkannya?

Kutatap mata Yunho yang sekarang sedang berdiri di depanku. Napasnya terengah-engah. Kemeja kotak-kotak merahnya yang seluruhnya tidak dikancingkan agak berantakan.

Ada sedikit debu di celananya yang berwarna hitam. Keringat mengucur dari pelipisnya, menuruni pipinya yang sedikit berisi, turun lagi ke garis rahangnya yang tegas, sampai pada lehernya yang jenjang, menelusuri permukaan kulitnya yang berwarna coklat.

Matanya menangkap mataku, hendak mengatakan sesuatu yang penting, nampaknya.

Bibirnya sibuk mencari udara segar. Buka, tutup, buka, tutup. Sampai akhirnya bibir itu terbuka, dia berbicara.

"Kenapa kamu tidak membalas smsku?"

Hah? Dia hanya menanyakan itu? Kenapa sampai berlarian seperti itu? Belum lagi orang yang mengikutinya dari belakang itu juga terengah-engah. Orang itu lebih tinggi dariku dan Yunho.

Tubuhnya sangat perfect, bentuk tubuhnya yang atletis ditutupi oleh kemeja berwarna putih, celananya yang berwarna kuning gading, topi warna coklat muda, bibirnya yang berisi, hidungnya yang mancung, matanya yang memberikan kesan tegas, wajahnya yang kekanakan, semuanya perfect.

"Huh? Bukan kah sudah kubilang hanya akan kubalas kalau kamu menanyakan soal perkuliahan? Diluar itu aku tidak akan mau balas," ucapku datar.

"Ya! Kamu ini sombong sekali sih!" Dengus Yunho.

Lalu mataku beralih ke namja tinggi yang ada di sampingnya. Yunho mengetahui arah pengelihatanku lansung bertanya. "Kamu kenapa?" Tanya Yunho sambil menaikan alisnya.

"Itu siapa?" tanyaku dengan nada datar seperti biasa.

"Ya! Kamu ini kemana saja? Dia teman sekelas kita tau! Namanya Shim Changmin, kamu ingat?" katanya sambil menunjuk Changmin. "Halo Jaejoong hyung," sapanya.

Hyung? Dahiku berdenyit. "Dia sebenarnya berumur 2 tahun di bawah kita. Dia sempat loncat kelas 2 kali," kata Yunho menjelaskan.

"Oh, halo Changmin," sapaku dengan datar.

"Ya! Kamu ini dingin sekali sih!?" kata Yunho kesal.

Tidak, aku sebenarnya tidak dingin, ucapku dalam hati. Aku hanya terdiam ketika Yunho mengucapkan kata-kata itu. Bukan kemauanku juga seperti ini. Bukan.

Jaejoong POV end.

Yunho POV

Ada apa dengannya? Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah? Kenapa dia tertunduk diam seperti itu? Namja ini aneh, biasanya dia akan membalas perkataan setiap orang dengan dingin.

Mata doe coklat itu memancarkan kehangatan, tapi mengapa sikapnya begitu dingin? Aku harus mencari tahu.

Dia terlihat kesepian sekarang ini, menundukan kepalanya dalam-dalam, seperti menelan semuanya sendiri. Tangannya mengepal, cukup erat dan semakin erat.

"Hem, bagaimana kalu kita makan di kantin, hyung lapar?" Ajak Changmin sambil menepuk pundak Jaejoong. Sepertinya Changmin juga tau kalau Jaejoong sedang sedih.

Jaejoong menggelengkan kepalanya. Rambut almondnya bergerak ke sana kemari, mengikuti gelengan kepalanya. Kepalanya masih tertunduk.

"Kalau kamu tidak lapar, temani saja kami makan di kantin, bagaimana?" ajakku. Aku ingin menghibur dia.

Kepalanya menengadah. Menampakan wajahnya yang berkulit putih pucat. Bibirnya sedikit terbuka, hendak mengatakan sesuatu tetapi sepertinya diurungkan, dia kembali menunduk, memikirkan sesuatu sepertinya.

"Tidak apa, kami tidak akan menyakitimu hyung," kata Changmin. Aku hanya menganggukan kepalaku.

Jaejoong mengangkat wajahnya, "Ayo," katanya berjalan mendahului kami. Aish anak itu.

"Ya! Tunggu!" Teriakku dan Changmin.

Yunho POV End.

Sesampainya di kantin, Changmin dengan cepat menuju counter-counter makanan. Dengan sigap dia mendatangi counter makanan satu per satu. Satu, dua, tiga. Tiga counter sudah dia datangi.

Jaejoong hanya melongo melihat tingkah Changmin. Dia tidak sadar mulutnya terbuka lebar. Yunho terkekeh melihat Jaejoong. Kemudian dia melihat ke samping, menemukan sepotong risol.

Kemudian.

"Nggeeng, ada pesawat masuk goa, hup," ucap Yunho seperti seorang ayah yang sedang menyuapi putranya dengan nada yang dibuat-buat.

Jaejoong tersentak kaget. Muncul rona merah di wajahnya. Mungkin dia malu.

'Aish Kim Jaejoong, kenapa bisa dengan tidak sadarnya mulut terbuka seperti itu?' runtuknya dalam hati sambil menutupi mukanya yang merona, tanda dia malu.

Yunho melihatnya sambil menaikan satu alisnya. Menatap Jaejoong yang menutupi pipinya dengan kedua tangannya.

1 detik

2 detik

3 detik

Jaejoong mengangkat kepalanya, melihat ke arah Yunho dengan tatapan tidak begitu senang.

"Cabenya mana? Aku mau cabe. lebih enak makan ini dengan cabe," kata Jaejoong sambil mengadahkan tanggannya, meminta cabai.

Yunho melongo. ' Apa maksudnya berkata seperti itu, sudah bagus kubungkam mulutnya dengan risol, bukan dengan bibirku. Kalau tidak lalat sudah masuk. Tunggu, bibirku?' gumam Yunho dalam hati.

Tak lama pipi Yunho yang memerah. Jaejoong bingung melihat Yunho. Mata doenya mengerjap lucu, seperti seorang anak kecil yang menanyakan sesuatu kepada orangtuanya, meminta jawaban yang pasti.

Yunho yang melihat tatapan dari Jaejoong, menjadi salah tingkah, mengalihkan pandangannya ke arah Changmin yang sendari tadi melambaikan ke arah mereka, mengajak mereka untuk duduk.

Jaejoong juga melihat Changmin. Dia berjalan menuju ke arah Changmin, meninggalkan Yunho. Yunho kaget melihat Jaejoong meninggalkannya. Dengan cepat dia membayar risol yang Jaejoong makan.

Jaejoong dan Yunho terperangah dengan makanan yang Changmin makan. 4 macam makanan dengan ukuran yang bisa dibilang besar, akan dia makan sendirian.

"Hyungdeul, aku makan duluan ya. Selamat makan," ucapnya gembira. Matanya berbinar, seperti sedang menatap kekasih pujaan hatinya.

Jaejoong dan Yunho masih terdiam, sibuk mengamati Changmin yang makan dengan rakusnya atau mungkin sedang memikirkan perasaannya masing-masing? Hanya mereka dan Tuhan yang tau.

Lamunan mereka terhenti ketika ada suara piring pecah tepat 5 meter di depan tempat mereka duduk. Terlihat seorang namja yang berpipi gembul sedang terduduk di lantai, di depan piring pecah tersebut, tangannya terluka. Cukup banyak darah segar yang mengalir dari tangannya.

Di depan namja itu, bersiri seorang namja bertubuh kekar dan besar, sedang menunjukan wajahnya yang sedang marah ke namja berpipi gembul itu.

"Kalau jalan dipakai matanya!" ucap namja berbadan besar itu dengan nada yang cukup tinggi, marah? Mungkin. Hanya dengan ketumpahan saus tomat dari makanannya saja dia semarah itu? Sungguh aneh.

Namja berpipi gembul itu berdiri, menatap mata namja bertubuh besar itu. Matanya memancarkan kemarahan yang lebih meluap-luap.

"Kalau jalan pakai mata dan kaki, bodoh! Mana bisa jalan hanya pakai kaki saja! Mana bisa berjalan tanpa melihat! Tubuhmu besar, tapi berjalan saja tidak becus! Kamu yang menabrakku, malah kamu yang memarahiku!" Ucapnya panjang lebar dan dengan nada yang lebih tinggi.

"Apa kau bilang!? Kamu merendahkanku ya!?" ujar namja bertubuh besar itu, sepertinya dia sangat marah sekarang. Dia mengepalkan tangannya, bersiap memukul namja berpipi gembul itu.

"Junsu!" teriak seorang namja berlari menghampiri namja berpipi gembul itu.

"Yoochun, jangan ke sini, ini urusanku dengan namja pria bertubuh besar tapi berjalan saja tidak becus ini'" ucap Junsu kepada Yoochun.

Namja bertubuh besar itu sangat marah sekarang. Dia mengarahkan kepalan tangannya ke arah Junsu. Kepalan tanggannya menghantam tubuh seseoarang, bukan Junsu, tapi Yoochun. Terkena di punggungnya. Sontak tubuh Yoochun menubruk tubuh Junsu yang ada di depannya.

"Yoochun!" teriak Junsu. Semua orang yang ada di kantin itu berteriak histeris.

YunJaeMin terkejut melihatnya.

'Tidak bisa dibiarkan,' ucap mereka dalam hati.

Junsu pun tidak luput dari pukulan telak dari namja bertubuh kekar itu di wajahnya, menghantam pipinya yang berisi, membuat bibirnya yang berwarna pink kemerahan itu berubah menjadi merah, merah darah.

YunJaeMin geram melihat kelakuan namja bertubuh besar itu. Kalaupun Junsu memang salah, apakah harus memukulnya sampai seperti itu? Bukan hanya Junsu, Yoochun juga dia pukul. Sungguh keterlaluan.

Yunho dan Changmin berlari ke arah namja besar itu, melayangkan kepalan tangan ke mukanya, dan kena dengan telak. Namja berbadan besar itu terhuyung ke belakang, namun tidak terjatuh.

Matanya berubah menjadi merah, tanda dia sudah marah sekali. Dia menatap Yunho dan Changmin yang sedang membantu Junsu dan Yoochun berdiri. Hendak memukul mereka. Benar saja, dengan satu tangan dia memukul wajah Yunho dan Changmin sekaligus. Membuat mereka tersungkur di samping Yoochun dan Junsu.

Jelas mereka kalah, mereka melawan senior yang lebih tua 3 tahun di atas mereka, dan dia juga pemenang kejuaraan judo, bernama Lee Sooman.

Jaejoong terdiam. Kaget melihat temannya dipukul seperti itu.

Pipi Junsu membengkak.

Yoochun meringis kesakitan.

Noda darah di bibir HoMinSu.

Sooman kembali melayangkan tinjunya ke arah mereka, namun terhalang dengan kedua tangan Jaejoong yang menangkis tinju Sooman.

Matanya menyiratkan kemarahan, kesedihan, seperti kenangan pilu yang muncul walaupun sudah ditutupinya dengan rapat.

HoMinYooSu tertegun melihat Jaejoong di depan mereka. Punggung tegap Jaejoong membelakangi mereka. Tersirat kemarahan dari genggaman tangannya. Terkepal kuat, siap meremuk apapun yang tertangkap tangannya.

"Pergi. Jangan ganggu kami. Aku tidak ingin berkelahi," ucap Jaejoong dengan sedikit mengeram. Menahan semua kemarahan yang ada, berusaha tenang dengan menormalkan napasnya.

Sooman terdiam, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Daripada kamu berkelahi, lebih baik kamu membersihkan noda saus di kausmu," ucap Jaejoong sambil memberikan sapu tangannya,

Semua orang yang ada di kantin itu terperangah dengan tindakan Jaejoong.

"Atau perlu kubersihkan? Perlu? Lama sekali menjawabnya. Bersihkan sendiri," ujarnya sambil menaruh sapu tangan itu di tangan Sooman. Sooman hanya terperangah.

"Apa maksudmu!? Kau merendahkanku!?" Ujar Sooman marah. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Jaejoong hanya diam. Dia malah membantu HoMinYooSu untuk bangun, lalu menyuruh mereka ke arah tempat duduk yang YunJaeMin duduki tadi, sementara dirinya berhadapan dengan Sooman.

"Lebih baik kamu diam. Kamu tidak sadar kalau sudah ada dosen, rektor, dan kepala bagian kemahasiswaan di belakangmu? Selamat menikmati hukumanmu," ucap Jaejoong tenang sambil meninggalkan Sooman yang digiring oleh satpam menuju ruangan rektor. Dia akan dapat hukuman.

"Kutunggu sore nanti di depan gerbang kampus," desis Sooman pelan tapi dapat dengan jelas didengar oleh Jaejoong. Langkah Jaejoong terhenti, dia menganggukan kepalanya sekali, tanda dia mengerti.

Jaejoong kembali ke HoMinYooSu yang masih terperangah dengan sikap Jaejoong. Jaejoong tau maksud mereka.

"Aku menelpon bagian kemahasiswaan saat Yunho dan Changmin menerjang namja yang bertubuh besar tapi berjalan tidak becus itu. Tenang saja, dia hanya akan dihukum," ujarnya tenang.

Mereka terdiam. Jaejoong hanya menghela napasnya sebentar. Helaan napas yang kecil, tapi sempat terdengar oleh HoMinYooSu.

Jaejoong membuka tasnya, mengambil tas kecil berwarna biru langit. Tas itu cukup menggembung, sepertinya banyak sekali isinya.

Dengan cekatan Jaejoong mengeluarkan perban, alkohol, kapas, obat luka, plester, salep, dan gunting. Dia duduk menghadap Junsu, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ditaruhnya tangan Junsu di pangkuannya, diberikannya alkohol ke tangannya yang terluka. Diusapnya perlahan.

Junsu meringis kesakitan. Perih. Jaejoong mengelus tangan Junsu dengan lembut, seperti seorang ibu yang mengobati luka anaknya. Mereka terpana saat Jaejoong melakukannya. Dia melakukannya dengan cekatan. Luka Junsu diberi obat luka, lalu diperban.

Setelah luka Junsu diobati, giliran luka Yoochun.

"Kalau begini sakit tidak?" tanyanya sambil menekan lembut punngung Yoochun yang terkena hantaman tinju Sooman.

"Tidak begitu sakit," ucap Yoochun.

"Maaf," kata Jaejoong sambil menekan punggung Yoochun dengan cukup keras, mengakibatkan Yoochun menggeram.

"Tidak parah. Angkat bajumu sampai sepunggung," ucap Jaejoong sambil mengoleskan salep pada tangannya.

"Ini di kan—," ucap Yoochun hendak memprotes tapi dipotong oleh Jaejoong yang sudah mengangkat kaus Yoochun duluan.

"Aku tidak menerima protes. Angkat sekarang," kata Jaejoong dingin.

Diangkatnya kaus yang dikenakan oleh Yoochun. Terdapat memar di punggung Yoochun. Dioleskannya salep itu sambil memijat punggung Yoochun perlahan. Yoochun menggeliat ketika punggungnya dipijat Jaejoong, merasa sedikit sakit di punggungnya. Pijatan Jaejoong sangat lembut, sehingga tidak membuat Yoochun merasa sakit telalu lama.

Yang lainnya masih memandanginya dengan takjub. Jari-jari lentik Jaejoong kemudian beralih mengambil alkohol, menempelkannya pada luka di bibir Junsu, Yunho, dan Changmin bergantian, lalu memberikan plester pada luka mereka. Setelah itu dia membereskan peralatan P3Knya. Membuang kapas dan duduk kembali.

Dilihatnya satu-per satu temannya, dia mendesah pelan.

"Lain kali jangan gegabah lagi. Untung luka kalian tidak parah. Kalau parah bagaimana? Nanti kuliah kalian bisa terganggu," ucapnya sambil menunjukan wajah khawatir.

Ucapan dan wajah khawatir Jaejoong cukup membuat HoMinYooSu tertunduk. Ntah merasa malu, merasa tidak enak, atau apapun itu.

"Ah maaf, namaku Jaejoong, Junsu, Yoochun. Salam kenal," ucapnya sambil menjulurkan tangan ke Junsu dan Yoochun secara bergantian. Mereka berjabat tangan.

Yunho dan Changmin tertegun melihat sikap Jaejoong. Dia akhirnya mau berkenalan dengan orang lain.

"Namaku Junsu dan ini Yoochun. Kami berdua teman satu kelas. Kami angkatan baru. Kalian?" Tanya Junsu yang disertai anggukan kepala dari Yoochun.

"Ini Yunho dan Changmin. Mereka teman satu kelasku. Kami juga angkatan baru. Senang berkenalan sengan kalian," ucap Jaejoong dengan nada agak datar. Yunho dan Changmin berjabat tangan dengan Junsu dan Yoochun.

Mereka berbincang, ternyata mereka satu fakultas. Yunho dan Yoochun mempunyai kesukaan yang sama yaitu bermain basket, Junsu dan Changmin suka makan tengah malam. Umur Junsu dan Yoochun memang sama dengan Yunho dan Jaejoong, hanya saja mereka lebih muda kalau dilihat berdasarkan bulan kelahiran, sehingga meeka memutuskan untuk memanggil Jaejoong dan Yunho dengan sebutan 'hyung'. Jaejoong, dia tidak banyak berbicara. Dia kembali dingin seperti biasanya.

Hari sudah sore.

Mereka memutuskan untuk pulang. Rumah Jaejoong dan Junsu ternyata dekat. Junsu menawarkan pulang bersama Jaejoong tapi Jaejoong menolaknya.

Jaejoong berjalan ke gerbang kampus. Doe eyes-nya tidak berhenti menatap sekeliling. Waspada. Tangannya mengepal, siap meninju siapa saja.

Dia memperhatikan sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Keempat temannya yang lain sudah pulang duluan, hanya menyisakan dia sendirian.

Tap..

Tap..

Suara langkah kaki Jaejoong terdengar nyaring

Tap..Tap...

Tap.. Tap..

Jaejoong tetap berjalan walau dia mendengar suara langkah kaki yang lainnya.

Jaejoong merasakan akan ada yang memukulnya dari belakang, sontak dia berbalik badan, menangkis tangan seseorang yang bertubuh cukup kekar, bersetelan jas hitam dan juga berdasi hitam. Dia juga memakai kacamata hitam.

Sayangnya dia tidak sendirian.

Dari belakang ada seseorang yang membekapnya dengan sapu tangan. Ada obat bius pada sapu tangan itu.

Kesadaran Jaejoong mulai menghilang, pandangannya gelap.

"Yunho..." rancaunya sebelum kesadarannya hilang.

TBC

Mind to review? Thank you ^^

Saya tau ff ini masih banyak kekurangannya. Saya sangat senang ketika saya menerima review dari reader sekalian, terlebih saya masih baru dalam membuat ff, review dari pembaca sangat saya butuhkan ^^

Terima kasih kepada readers yang sudah membaca ff ini ^^ Mohon ditunggu chapter-chapter selanjutnya ^^ Ah, dan jangan lupa review ^^

Special thanks kepada my other half hehehe. Terima kasih atas support dan reviewnya ^^

Balasan Review

kyuminring : Thank you sudah baca dan review ^^ hahaha tentu, makanya Jaejoong sepertinya terpana dengan Yunho.

nin nina : Thank you sudah baca dan review ^^ Hahaha iya tanpa sadar mengetik nomor itu. Wkwkkw bukan kok, itu bukan nomorku XD iya, thanks supportnya ^^

YunHolic : Thank you sudah baca dan review ^^ iya kasihan ya, tapi mungkin Jaejoong akan senang kalau ditoel Yunho XD

ichigo song : Thank you sudah baca dan review ^^ Jaejoong, Yunho, Changmin, Yoochun, dan Junsu semuanya mahasiswa baru ^^ sekarang semuanya sudah nongol heehehe. Ya, namanya juga ada kesempatan wkwkw XD

AKASIA CHEONSA : Thank you sudah baca dan review ^^ iya, akan saya lanjutkan ffnya ^^ terima kasih atas supportnya ^^

jung ia : Thank you sudah baca dan review ^^ iya, nanti ada alasan kenapa Jaejoong menjadi dingin hehehe.. terima kasih atas supportnya ^^