Make It Mine
Disclaimer:
Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha Corporation
Fanloid & Utaloid © Its Owner
Make It Minefic © Akira Zoldyck
Summary:
Namaku Shion Akaito.
Banyak yang bilang, aku dan sepupuku itu berbanding terbalik.
Kau tahu? Sepupuku bercerita, "dream that I saw yesterday."
Tetapi, ceritaku adalah, "dream that I'll bring into reality today."
Warning:
Typo(s), OOC?, absurd
Chapter 2
Semilir angin dari luar menerpa bukuku hingga lembar-lembarannya bergerak-gerak. Dengan ujung pensil yang tumpul, tangan kiriku menggunakannya untuk mengetuk-ngetuk permukaan meja, menimbulkan suara ketukan beraturan. Suara ketukan tersebut memenuhi ruang kelas yang bersuasana tenang. Tentu saja bagi para manusia yang tengah serius mengerjakan soal Matematika yang dipenuhi dengan sinus, cosinus, tangen, cosecan, secan, dan cotangen, itu merupakan hal yang mengganggu.
Seorang wanita bersurai cokelat sebahu dengan pakaian yang membuat tiap kaum Adam menelan ludah, memicingkan mata ke arahku. Meiko-sensei beranjak dari tempat duduknya yang berada di pojok kanan depan ruangan. Dari ekor mataku, dapat kuketahui beliau berjalan ke arah mejaku karena suara dentuman high heel-nya makin lama terdengar semakin jelas di telingaku.
"Shion-san," tegurnya dengan nada suara yang ditinggikan. Meletakkan kedua tangan di depan dadanya yang besar, wanita bermarga Sakine itu menunggu responku.
Melalui kedua mata yang beriris cokelat hazel tersebut, ia menatap tajam diriku yang sibuk melepaskan kedua headset yang sudah terpasang sejak bel jam pertama dimulai. "Ada apa, Sensei?" Menarik kedua ujung bibirku ke pinggir, aku tersenyum sok ramah kepadanya. Sebagai respon, Meiko-sensei ikut tersenyum ke arahku. Bukan, itu bukan senyum maut yang dapat memabukkan kaum Adam, melainkan senyum sarkastik berbumbu tiga siku-siku di dahi beliau.
"Apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan, Shion-san?"
"Tentu saja."
"Apa itu?"
"Membuat suara bising."
"Dan?"
"Itu seni." Jawabku enteng. Dan mari kita lihat.
"CEPAT KELUAR DARI KELASKU SEKARANG JUGA!" Teriaknya. Bingo!
"Baik, Sensei." Jawabku senang sembari tersenyum makin lebar. Setelah mengenakan kembali syal merah yang kuletakkan di punggung kursi, aku berjalan santai meninggalkan kelas. Dari sudut mataku yang sensitif, manusia-manusia yang tengah bergelut dengan soal-soal menjijikan guru seksi itu mencibir kesal. But, who cares, huh?
Dengan satu tarikan, kututup pintu geser ruang kelas lalu berjalan santai menyusuri lorong yang sunyi karena pelajaran jam ketujuh masih berlangsung. Karena kelasku berada di gedung bertingkat, aku dapat melihat dengan leluasa area sekolah. Sembari melihat-lihat ke bangunan tingkat satu, aku merogoh kantong jas sekolah, mencari-cari benda berukuran kecil berwarna merah yang sangat kusukai.
Tepat setelah tanganku menggenggam lima biji benda yang kucari, kedua mataku menangkap dua orang gadis tengah berbicara sembari melirik ke arah kolam renang. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, aku mengikuti arah lirikan mereka.
Di pinggir kolam renang, seorang siswi berambut hitam kemerah-merahan tengah duduk-duduk santai sembari memain-mainkan gagang pel. Tak lama, siswi itu memicingkan matanya ke arah kedua gadis yang sepertinya tengah membicarakan siswi yang berada di kolam renang tersebut. Buru-buru mereka mengalihkan pandangannya dan berjalan melewatiku.
Siswi yang berada di kolam renang itu adalah siswi kelas 2-B. Aku tidak tahu namanya. Tetapi, aku sudah melihatnya tiga kali dalam seminggu ini dia membersihkan kolam renang. Sebegitu badungnya 'kah siswi itu?
Mendapat sebuah ide, aku tersenyum lebar. Tidak, tidak akan ada yang mengira aku adalah orang gila karena tidak ada seorang pun yang sedang melihatku. Cepat-cepat aku berjalan menuruni tangga.
Sesampainya di bawah, siswi itu sudah sibuk mengepel dasar kolam renang. Aku berdiri di pinggiran kolam sembari menikmati cabai merah yang tadi kucari. Tanpa kuduga, ia sudah menyadari hawa keberadaanku karena dengan sigap tangan kanannya mengacungkan gagang kain pel ke arahku. Irisnya yang berwarna merah menyala terlihat sangat kontras dengan irisku. Tatapan curiganya menatapku tajam.
"Sepertinya aku melihatmu hari Senin, Selasa, dan Jum'at kemarin juga membersihkan kolam renang. Kalau besok kamu membersihkan kolam renang lagi, aku kasih cabai cantik deh." Celetukku. Siswi dengan surai hitamnya yang diikat dua itu memicingkan matanya. Tunggu, ngomong-ngomong dia mirip dengan pacar sepupuku yang bodoh itu.
"Lalu?" Balasnya singkat. Suaranya yang tajam sudah pasti akan menohok para manusia, tetapi tidak untukku.
"Hanya berkomentar," jawabku sambil angkat bahu. Oh aku kehabisan stok cabai. Sepertinya aku harus mengambil sisanya. Aku pun memilih meninggalkannya untuk mengambil persediaan cabaiku di kelas.
Setiap kali aku memakan cabai, aku merasa mengantuk dan memilih untuk tidur di atap sekolah. Dan benar saja, aku tertidur pulas hingga malam menjelang. Langit sudah berwarna biru kemerah-merahan di sebelah barat. Buru-buru aku meraih tas dan beranjak untuk pulang. Tetapi, niatku terhenti karena saat aku melewati kolam renang, aku mendapati guru berambut ungu yang terkenal akan kemesumannya itu tengah berdiri di pinggir kolam.
"Ya Tuhan! Zatsune, dari tadi kau belum selesai?! Lalu bagaimana aku mengunci gerbangnya?"
Apa? Zatsune? Oh siswi yang tadi siang. Tentu saja, dia 'kan sepupu sang idola, Hatsune Miku. Akhirnya aku tahu nama siswi hobi menguras kolam renang itu.
"Tch, apa boleh buat. Cepat selesaikan! Akan kutunggu!" Terdengar nada suara pasrah dari kalimatnya saat beliau memilih untuk duduk di bangku pinggir kolam renang. Aku melongokkan kepalaku dan gadis itu masih sibuk mendorong gagang pelnya di dasar kolam. What the hell has been she doing this whole time?
Aku memilih berjalan mendekati mereka, mendapat ide. Ketika sudah berjarak cukup dekat dengan Gakupo-sensei, aku berkata, "Sensei, bagaimana bila yang menunggu Zatsune-san dan mengunci gerbangnya saya saja?" Tawarku.
"Oh Shion, benarkah itu? Kau mau melakukannya?"
"Tentu, Sensei." Jawabku sembari tersenyum lebar seperti biasa. Gakupo-sensei pun memberiku sebuah kunci perak yang merupakan kunci gerbang sekolah kami.
Sebelum meninggalkan kami berdua, beliau berpesan, "nah, Zatsune. Cepat selesaikan." Tepat setelah guru mesum itu pergi, masih berada di dasar kolam, gadis itu menyumpah-serapahi Gakupo-sensei.
"Nah, Zatsune. Cepat selesaikan." Ulangku sambil memasang tampang layaknya seorang bos, bermaksud menggodanya.
"Cerewet." Umpatnya. Dapat kuketahui dari nada bicaranya, ia merasa kesal dengan keberadaanku. Tetapi hei, itu kesenangan tersendiri bagiku.
Hari semakin larut dan gadis itu masih belum menyelesaikan pekerjaannya. Aku pikir menguras kolam renang tidak akan membutuhkan waktu berjam-jam lamanya hingga larut. Tetapi, gadis ini, ugh. Menarik.
Aku mendudukkan diriku di atas bangku dan menatap ke langit atas. Menikmati semilir angin senja dan suara cicitan burung gereja yang membentuk melodi tersendiri di telingaku. Saking asyiknya menikmati suasana senja itu, tanpa sadar sepupu sang idola sudah mencapai pojok kolam yang belum terjamah kain pelnya. Seperangkat alat pel dilempar olehnya ke luar kolam renang sebelum ia memanjat keluar.
"Akhirnya kau selesai juga. Lama sekali sih," komentarku sambil cengengesan. Dia terlihat bosan mendengar komentar dan melihat ekspresiku. Gadis itu tidak menggubris komentarku dan memilih membenah-benahi alat-alat pel yang berserakan di pinggiran kolam. Ia berjalan begitu saja melewatiku tanpa melirik sedikit pun.
Selesai berbenah-benah, ia berjalan ke dalam gedung sekolah, meninggalkanku yang duduk sambil menatap punggungnya yang makin menjauh. Sekitar sepuluh menit, gadis itu tidak kunjung keluar. Kuputuskan untuk menyusulnya ke dalam.
Kelas 2-B yang berada di lantai bawah masih terlihat terang benderang dibanding kelas yang lain. Dapat kusimpulkan gadis tadi masih berada di sana. Mempercepat langkah kakiku, aku berjalan mendekat dan memilih berdiri bersandar di balik pintu kelas. Tepat saat punggungku menyentuh dinding, sepasang kaki terlihat keluar dari dalam ruangan. Bingo!
"Bisakah kau lebih cepat? Aku mau mengunci gerbang. Hari sudah terlalu larut, nih." Pintaku langsung. Masih memasang senyuman lebar, aku menunggu jawabannya. Tetapi bukannya jawaban, ia berjalan santai melewatiku.
"Hei Zatsune." Panggilku yang berjalan di belakangnya.
"..." Tidak ada jawaban.
"Zatsune!" Kali ini sedikit kukeraskan volum suaraku.
Masih tidak dijawab. Mendapat ide untuk yang kesekian kalinya, aku mempercepat langkahku. Tepat berjarak satu meter darinya, "Miku-chan." Dan mari kita lihat.
"BISAKAH KAU DIAM?" Bentaknya sembari berbalik. Ekspresinya masam. Rambut hitam kemerah-merahannya yang kusut agak diterpa angin, membuatnya terlihat lucu dengan ekspresinya.
Kutarik kedua ujung bibirku ke pinggir, tersenyum puas. Zatsune Miku, kau menarik.
To Be Continued
Akira dayo. Pertama-tama, saya akan membalas reviews yang telah diberikan!
Kurotori Rei: Iya, saya pengen mencoba pairing yang nggak mainstream lol Btw thanks!
ReiyKa: Terima kasih!
Guest: Terima kasih!
Yuuhizaka Sora: Saya juga lol Btw thanks! Review lagi ya, haha
Ngomong-ngomong, saya ngerjain ini fic tiap malem loh lol Oke gapenting.
Saa, RnR?
