,
My Beloved Brothers
Cast: EXO member, other need soon
Rating: T
Warning: boys love, brothership/complex, beware of typo(s), AU, DLDR
A/N: ini termasuk update lama gak? Kalau lama, saya minta maaf ;_;
Few months later
"AAA! Kyungsoo, bantu aku memasak di sini!"
Kyungsoo mendongak begitu mendengar suara Luhan—saat itu ia sedang mencoba seragam SMA-nya di kamar dan memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Yah, sampai akhirnya teriakan Luhan dari dapur terdengar.
"Sebentar, ge." Kyungsoo bergegas turun. Saat di turun dari tangga, ia sempat melirik dari jendela kaca yang tertutup ke arah luar. Di luar, langit sudah mulai memerah—sore.
Sudah musim semi, ya? –Kyungsoo membatin.
Luhan mengomel ketika Kyungsoo sampai di dapur. Pria manis yang menginjak usia 35 tahun itu mengeluh karena masakannya tidak sebaik masakan Kyungsoo—dan maaf, untuk umur itu, Luhan tidak ingin membahas sebenarnya. Tapi, antara wajah dan usianya memang sangat menipu.
"Ah, kenapa tumben sekali Kris dan Chanyeol bilang akan pulang? Jadinya harus memasak lebih 'kan?" Luhan menggerutu lagi—sambil membantu Kyungsoo menuangkan sup ke mangkok-mangkok kecil. Kyungsoo tertawa saat Luhan kembali melanjutkan, "Kupikir mereka bahkan bukan orang rumah karena mereka menginap kurang dari satu minggu di rumah setiap bulan."
"Sabarlah, ge. Mereka kan sibuk, terutama Kris-ge." Ujar Kyungsoo.
Luhan mengerucutkan bibirnya. Tapi, sesaat kemudian ekspresinya berubah, "Yah, Kyungie, lusa kau sudah masuk sekolah, ya?"
Kyungsoo mengangguk, "Ne."
"Ah, jinjja! Rumah akan semakin sepi." Luhan merengut, "Tidak menyangka Kyungsoo sudah masuk SMA sekarang, haha."
Kyungsoo agak merona mendengar Luhan mengucap kata 'SMA'. Ah, ia jadi malu sendiri mengingat tadi ia bercermin—bahkan memutar-mutar tubuhnya di depan cermin—sambil mencoba seragam SMA-nya.
"...Dan, aku makin tua..."
Kyungsoo hampir tersedak ludah sendiri mendengar suara Luhan yang hampir terdengar seperti ratapan. "Aaa, tapi gege masih terlihat muda kok."
"Luar dan dalam kan beda, Kyungie.." Luhan benar-benar meratap sekarang. "Apalagi Kris sering sekali bilang kalau aku mirip nenek-nenek yang belum menikah—padahal aku ini namja, Kyungie—dan bukannya tidak mau menikah, tapi aku belum menemukan orang yang tepat." Ujar Luhan panjang lebar.
Kyungsoo baru mau menyahut lagi saat bel rumah berdering, Luhan menyuruh Kyungsoo untuk membuka pintu rumah sementara ia lebih memilih untuk mandi terlebih dulu—pria manis itu cukup capek sehabis mengerjakan naskahnya semalaman, dan Luhan belum tidur sama sekali sejak semalam. Mungkin mandi dapat sedikit menyegarkan pikirannya.
"Oh, Chanyeol-hyeong." Kyungsoo bergeser sedikit dari tempatnya berdiri agar Chanyeol bisa lewat untuk masuk. Chanyeol memamerkan cengiran khasnya sebelum tiba-tiba mengangkat tubuh Kyungsoo dan memutarnya beberapa kali.
"Halo adikku yang mungil! Hyeong kesayanganmu sudah pulang~" Chanyeol tertawa keras saat menurunkan Kyungsoo. Kyungsoo terhuyung sesaat dan menyengir. Ini pertama kalinya Chanyeol pulang setelah dua minggu.
"Selamat datang, hyeong. Oh.. tapi, aku sayang semua hyeongku, jadi semuanya sama-sama hyeong tersayang." Kyungsoo mendahului Chanyeol berjalan ke dalam rumah. Pemuda tinggi itu mengikuti langkah kecil Kyungsoo ke dapur.
"Eh, Kyung. Mana Luhan-ge?" tanya Chanyeol sambil membuka kukas, bergumam "Asik!" saat mendapati ada sepotong shortcake—sisa camilan Luhan semalam. Kyungsoo meletakkan piring berisi ikan di meja makan sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Mandi." Jawabnya singkat. "Hyeong, tidak mandi dahulu?"
"Aku sudah mandi di rumah temanku tadi." Jawab Chanyeol santai—sambil memakan cake stroberi hasil temuannya.
"Kupikir tadi hyeong akan pulang bersama Kris-ge." Kyungsoo mendongak menatap Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya.
Chanyeol menelan kunyahan cake yang ia makan, "Haah, Kris itu terlalu sibuk, bahkan untuk kentut sekalipun ia tidak akan sempat."
Kyungsoo tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan Chanyeol. Tidak lama Luhan bergabung dengan mereka sambil membawa album foto.
"Yah, baru Chanyeol kah yang pulang?" tanya Luhan, "Aku mau memperlihatkan ini, kemarin aku menemukannya saat membersihkan kamar Papa." Ujarnya—memperlihatkan album foto yang ia bawa.
"Ee, itu album foto keluarga kita 'kan?" Chanyeol mendekat kearah Luhan.
Luhan menatap Kyungsoo penuh arti, "Disini banyak foto ibumu."
.
.
"Ahh, Sehun dan Kai lusa sudah masuk sekolah kan?" Tuan Hasegawa bertanya saat makan malam.
Kai mengangguk sambil mengunyah ayam goreng, sementara Sehun memilih diam tanpa menghiraukan ayahnya. Pemuda itu agaknya kesal karena lusa sudah harus berhadapan dengan lingkungan baru di negara kelahiran ibunya, Korea. Masalah bahasa... Nyonya Hasegawa dan Kai sudah mengajarinya—jadi itu tidak masalah. Tapi, Sehun bukanlah orang yang mudah bergaul dan beradaptasi. Bahkan—meski sudah sekitar enam bulan tinggal di Seoul—Sehun hanya sesekali keluar rumah. Berbeda dengan Kai—yang di minggu pertama sudah mendapat seorang teman akrab, nama teman Kai itu Taemin—anak komplek perumahan sebelah. Anak itu manis, tapi Sehun tidak menyukainya. Entahlah. Terkadang Sehun merasa senyuman manis yang diperlihatkan Taemin itu licik.
"—Sehun, kau dengar apa kata Otou-san?"
Bisikan Kai membuat lamunan Sehun buyar. Pemuda dengan kulit yang lebih cerah itu menoleh cepat kearah ayahnya.
"Aa, ada apa?" tanyanya.
"Tidak, ayah cuma menawarimu untuk tinggal di asrama sekolah kalian. Kai bilang dia mau, lalu bagaimana denganmu, Sehun-kun?" Tuan Hasegawa mengulang kembali pertanyaannya—yang sebelumnya tidak didengar Sehun. Sehun menatap Kai disebelahnya dan memberikan tatapan, kenapa-kau-mau-bodoh?!
Kai cuma tertawa seperti mengatakan bahwa itu masalah Sehun sendiri.
Sehun memberikan tatapan membunuh sekali lagi kearah kembarnya itu, "Aku sebenarnya tidak mau. Tapi, kalau Kai kesana, aku pasti akan ikut." Sehun berucap lancar—membuat Kai tersedak minumannya. Nyonya Hasegawa hanya menggeleng menyadari bahwa bungsu kembarnya begitu kompleks dengan si sulung.
"Apa-apaan? Kenapa kau selalu mengikuti kemanapun aku pergi, huh?!" Kai menyikut Sehun keras-keras. Sehun mengabaikan rasa ngilu di perutnya dan memasang tampang semanis mungkin.
"Ayolah, aniki-ku tersayang. Kita saudara kembar 'kan? Jadi kita harus bersama . ." Sehun tersenyum lebar sebelum menyesap sup miso buatan ibunya.
Kai ingin menyanggah, tapi Tuan Hasegawa menyela, "Kai, beramahlah pada adikmu, meski kalian seumuran, kau tetap kakak Sehun."
Kai menggerutu dalam hati, 'Kenapa aku jadi seperti disuruh menjaga? Memangnya Sehun anak perempuan?'
Nyonya Hasegawa hanya mampu melirik kembar sulungnya dengan tatapan prihatin. Sehun memang punya penyakit brother-complex—sebenarnya Kai sendiri tidak pernah keberatan akan hal itu—tapi, Nyonya Hasegawa hanya khawatir kalau-kalau nantinya lambat laun Kai akan terganggu. Kai punya teman dekat saja, Sehun tidak suka—apalagi jika nanti Kai punya pacar—batin wanita itu.
"Otou-san, sepertinya Kai tidak suka aku ingin mengikutinya." Sehun bersuara lagi.
"A-aku tidak ada bilang begitu."
"Uso. Dari wajahmu kelihatan jelas tuh."
"Baiklah, Hasegawa Sehun, aku menerimamu. Kau puas?"
"Sangat puas, Onii-san. Jangan pasang wajah seperti itu!" Sehun menyolok pipi Kai dengan sumpit bekas saus cabai.
"Argh! Sial kau, Sehun!"
Nyonya Hasegawa melirik suaminya, "Apa kau tidak mau mempertimbangkan keputusanmu lagi untuk membawa mereka dalam sebuah lingkungan baru berdua?"
Tuan Hasegawa mengangkat bahu, "Kupikir kau setuju."
Nyonya Hasegawa menghela napas, "Aku tidak pernah berkata begitu, mereka selalu bersama sejak lahir, aku cuma tidak mau hal ini akan jadi sebuah kebiasaan yang merepotkan."
"—Okaa-san! Kai memasukkan cabai ke mulutku!"
"Diam kau, shiro!"
Nyonya Hasegawa dan suaminya menghela napas bersamaan.
"Aufard High School?" tanya Kris, "Kau akan masuk ke sana, Kyungsoo?"
Kyungsoo mengangguk, "Ku dengar disana ekskul musiknya bagus, bidang akademiknya juga ketat. Beruntung aku diterima disana." Ujarnya sambil mengulum senyum.
"Ee, Junmyeon-ah, Kyungsoo mendapat peringkat kedua pada saat ujian masuk di sekolah seperti itu. Hebat 'kan?" Luhan bicara dengan bangga—padahal yang punya peringkat itu Kyungsoo.
"Jinjja? Kau sudah berusaha keras, Kyungsoo." Junmyeon tersenyum lembut—kalem seperti biasa.
"Eh! Aku dan Kris alumni sekolah itu, apa kalian lupa?" Chanyeol mendengus setelah menghabiskan makan malamnya. Sementara Kris menjitaknya sambil bergumam, "Panggil aku kakak, bodoh!"
"Oh benar! Kyungsoo bisa mempelajari sejarah kalian berdua." Luhan berucap riang.
"Asal bukan sejarah masuk seratus besar di tiap angkatan saja." Junmyeon menyinggung sebelum meneguk segelas air putih.
"Yah, aku tahu disini kau yang terpintar, Tuan Dokter." Kris memutar bola matanya. Dan Junmyeon lagi-lagi tersenyum.
Chanyeol mendengus lagi, "Oh, seratus besar tidak seburuk itu." Belanya.
"Gomawo sudah mendukungku kakak semua," Kyungsoo sedikit menundukkan kepalanya, "Aku kan belajar dari kalian semua."
Luhan tertawa, lantas memeluk Kyungsoo, "Tentu, kami akan selalu ada untukmu."
Dari balik bahu Luhan, Kyungsoo bisa melihat semuanya tersenyum kepadanya—tidak terkecuali Kris.
Dan itu membuat Kyungsoo turut tersenyum.
.
.
"Lihat, coba lihat ini, ini aku dan Kris. Wajah Kris dari dulu memang menyebalkan ya? Tapi, dia tampan." Ujar Luhan sambil menunjuk sebuah foto di album yang tadi ditemukannya di kamar mendiang Tuan Wu. Di foto itu ada seorang pemuda SMA berambut hitam agak gondrong—Luhan—dan seorang remaja SMP yang cemberut—Kris—sedang berdiri saling membelakangi.
Kyungsoo tertawa, "Gege manis sekali," ujarnya, "Kalian sedang apa disini?"
"Aku juga tidak ingat." Luhan bicara setelah beberapa saat mengingat. Kyungsoo membuka halaman selanjutnya, sementara Luhan sibuk dengan keyboard laptopnya—sepertinya kembali mengerjakan naskah novel terbarunya yang dikejar deadline. Alasan Kyungsoo ada di dekat Luhan saat ini adalah untuk menemani kakak tertuanya itu untuk mengerjakan naskah—jangan lupakan bahwa Kyungsoo termasuk penggemar novel-novel karya Luhan sampai sekarang ini.
Di lembar kedua, Kyungsoo melihat seorang anak SD tengah menggendong seorang bayi dan seorang anak SD lain yang menangis di sampingnya.
"Bayi itu kau, Kyung. Yang menggendongmu itu Junmyeon, yang menangis itu Chanyeol." Jelas Luhan.
"Eh, jinjja? itu aku?" tanya Kyungsoo.
"Ya, sebelum ibumu memilih untuk pergi membawamu serta." Luhan meraih rokok yang ada di atas meja lalu menyulut ujung rokok itu dengan korek api.
"Lalu kenapa Chanyeol-hyeong menangis?" tanya Kyungsoo lagi.
"Seingatku... Chanyeol menangis karena Hyerin-nuna lebih percaya pada Junmyeon untuk menggendongmu dibandingkan Chanyeol." Luhan menjawab dengan sedikit aksen geli dalam ucapannya.
"Nuna?"
"Ah, lupa. Aku tidak pernah memanggil Oh Hyerin—ibumu—dengan sebutan ibu. Entahlah, dia sendiri yang menyuruhku untuk memanggilnya 'nuna'. Usiaku dengannya hanya terpaut tiga tahun saat dia menikah dengan Papa." Ujar Luhan. "Ibumu menikah di usia yang sangat muda. Papa menyuruhnya untuk meneruskan pendidikan, tapi dia tidak mau."
Ehh.. Kyungsoo baru mengerti. Tapi, ia belum mengerti kenapa ibunya harus menikah di usia semuda itu.
Luhan terlihat menghisap rokoknya—dan Kyungsoo tahu, kalau Luhan sudah begini, pasti pria manis itu mulai mengantuk. Tanpa sadar Kyungsoo menguap, melirik jam dinding ruang tamu yang menunjukkan pukul 11 malam membuat kantuknya semakin terasa.
"Cepat tidur, Soo." Luhan mengacak rambut adik bungsunya.
Kyungsoo sampai di halaman terakhir album foto, jemarinya meniti foto terakhir di album dan Kyungsoo tersenyum tipis.
Di foto itu terlihat seorang pria dewasa—Tuan Wu—tengah merangkul ibunya yang sedang menggendong Kyungsoo. Suami istri itu juga dikelilingi oleh empat anak laki-laki—Luhan, Kris, Junmyeon, dan Chanyeol.
Yang membuat Kyungsoo tersenyum dalam kerinduan—meski sekali lagi sempat menguap ngantuk—adalah karena ia bisa melihat senyum ibunya yang begitu bahagia.
"Aku harap ibu juga bisa tersenyum seperti ini di alam sana."
Sedetik setelah Kyungsoo berucap, Luhan memeluknya dengan begitu sayang—sebelum akhirnya tetap menyuruh Kyungsoo untuk pergi tidur.
Kai memegang ranselnya dan mengarahkan pandangannya ke seluruh arah.
"Ah, sial si Sehun. Kemana dia hilang?" rutuknya.
Ini baru masuk area halaman Aufard High School dan Sehun sudah hilang entah kemana. Kai mengutuk Sehun setiap orang yang ditanyainya mengatakan tidak melihat Sehun—dengan ciri-ciri yang telah disebutkan oleh Kai. Kai tidak memperhatikan jalan di depannya hingga ia menabrak seseorang—bahkan orang itu sampai tersungkur.
"A-ah, jweosonghamnida." Kai membantu pemuda yang ia tabrak sebelumnya untuk berdiri.
"Ne, nan gwenchanha." Ujar pemuda itu sambil memperbaiki seragamnya. Kai diam memperhatikan pemuda—yang bisa dibilang mungil di depannya. Seragam mereka punya warna sama—berarti pemuda di depannya juga siswa tahun ajaran baru.
"Wu.. Kyungsoo?" Kai mengeja deretan hangul di name-tag blazer yang dikenakan pemuda di depannya. "Salam kenal." Kai dengan polosnya tersenyum lebar pada orang yang baru dikenalnya—meski hanya dari name-tag dan itu tidak resmi.
"Eh? Ah, salam kenal juga." Pemuda itu—Kyungsoo—menatap kearah orang asing yang baru saja menabrak dan menyapanya, "Apa kau sudah memperkenalkan dirimu Tuan.." Kyungsoo membaca name-tag Kai, "—Hasekawa?"
"Yang benar Hasegawa." Kai mengoreksi.
"Kau orang Jepang?" Kyungsoo bertanya lagi.
"Ya, seperti itulah," Kai menyahut, mengikuti langkah Kyungsoo yang mulai berjalan. "Aku Hasegawa Kai."
"Aku sudah tahu namamu." Kyungsoo menyahut cuek. "Hei, bahasa Koreamu bagus."
"Terima kasih pujiannya, tapi, tadi kau tidak menyebutkan nama depanku..." Kai kembali membaca name-tag Kyungsoo, "...Kyungsoo." ucapnya lancar.
"Oke, Kai. Apa maumu sekarang?" Kyungsoo mulai malas menghadapi orang yang menurutnya aneh di depannya.
"Apa kau ada melihat saudara kembarku? Dia—"
"Tidak, aku tidak melihatnya." Kyungsoo berucap cepat karena sedari tadi ia memang tidak melihat ada orang yang mirip dengan Kai. Saudara kembar biasanya selalu mirip kan? Begitu pikir Kyungsoo. "Aku juga sedang mencari kakakku sekarang, jadi aku tidak punya waktu untuk mengingat-ingat apakah aku sudah melihat saudara orang lain."
"Yah, kau bahkan belum mengetahui ciri-ciri saudaraku!" Kai protes.
"Tidak perlu, aku sudah bisa membayangkannya hanya dengan melihatmu."
"Tapi, Kyung—ah! Sehun!" Kai tiba-tiba berteriak dan berlari menuju seorang pemuda berwajah datar dengan kulit putih. Kyungsoo diam mengamati Kai yang berlari kearah pemuda itu dan mata pemuda itu melebar.
"Ah! Luhan-ge!" Kyungsoo berlari kearah Luhan yang berdiri di samping pemuda yang tadi dipanggil Kai 'Sehun'.
"Aih, Kyungsoo. Kau tadi kemana saja?" Luhan menegur Kyungsoo. "Tasmu ada yang masih tertinggal di mobil tadi, untung aku tidak langsung pulang." Ujarnya.
"Orang ini siapamu, Lu?" tanya Sehun—datar. Kai menoleh kearah saudara kembarnya dengan pandangan takjub—Sehun bisa berteman? SEHUN BISA BERTEMAN?! Kai nyaris ingin menyalami kembar non-identiknya dan membawanya ke altar untuk diberi penghargaan atas keberhasilannya berteman—berkenalan dengan seseorang dengan waktu kurang dari sebulan—bahkan kurang dari beberapa jam.
Oke, itu hiperbolis. Tapi, Kai kelihatannya sangat senang karena hal ini.
Luhan yang mendengar pertanyaan Sehun sontak tersenyum, "Ini adikku, namanya Wu Kyungsoo."
Kyungsoo mengulurkan tangannya kearah Sehun dan mereka berkenalan secara resmi. Kali ini, Kai protes.
"Ya, kenapa tadi kau tidak mengulurkan tanganmu padaku saat kita berkenalan?"
Kyungsoo mendelik, "Bukannya kau sudah tahu namaku?"
Sehun menyeringai, "Ah iya, Luhan dan.. Kyungsoo. Ini saudara kembarku, Kai." Sehun memperkenalkan Kai—kali ini sukses membuat Luhan dan Kyungsoo terkejut.
Kai memutar bola matanya, "Kami memang tidak mirip—kami bukan kembar identik."
"Oh, maaf. Kalian kembar ajaib." Luhan tertawa kecil ketika mengatakannya. Sehun tersenyum puas, sedangkan Kai terlihat terintimidasi. Kai tahu, apa yang akan Luhan katakan pasti akan sama dengan orang-orang yang dulu berkenalan dengan mereka.
"—satunya berkulit putih sekali, satunya kulitnya hitam. Hihihi."
Tuh kan benar, batin Kai—memasang wajah malas.
Kyungsoo hanya diam, entah karena kagum atau apa, pemuda mungil itu masih memperhatikan Kai dan Sehun secara bergantian.
Wajahnya saja beda. Wajah Kai lebih memperlihatkan bahwa ia adalah keturunan Jepang—meski hidungnya tidak terlalu mancung, tapi, terlihat jelas. Sedangkan Sehun punya wajah yang lebih emotion-less—tapi, Kyungsoo tahu bahwa Sehun itu punya wajah yang cukup manis, seperti pemuda Korea kebanyakan.
"—yah, kalian cepat masuk sana, upacara masuk sekolah akan segera dimulai. Kyungsoo, gege pulang dulu." Luhan berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya.
Kyungsoo membalas senyum Luhan, melambaikan tangan pada kakaknya.
"Kakakmu manis ya."
Kyungsoo menoleh kearah Sehun, sementara Kai lagi-lagi terkejut—nyaris menjatuhkan rahangnya untuk bengong begitu mendengar Sehun berkata demikian.
"Hehe, seperti itulah Luhan-gege." Kyungsoo menyengir. Memutuskan untuk memasuki gedung sekolah bersama Sehun dan Kai.
'—yah, jangan sampai kau tertarik dengan orang yang lebih tua delapan belas tahun darimu, Sehun.' Kyungsoo sampai membatin begitu.
Kai menyenggol lengan Sehun, "Jangan bilang kau menyukainya, Hun."
Sehun mendongakkan kepalanya keatas, "Bisa jadi."
Kyungsoo nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Luhan... Luhan disukai anak yang baru masuk SMA—anak yang seumuran dengannya? Bagaimana reaksi Luhan kalau tahu hal ini ya?
"Tapi, itu masih mungkin! A-aku tidak bilang kalau aku menyukainya!" seperti baru sadar apa yang telah ia katakan, Sehun langsung membela diri dengan wajah memerah. Menyisakan tawa Kai yang terdengar menggelegar diantara mereka bertiga.
.
.
-to be continued-
Balesan Review
PutriPootree hihi, ngakak masa saya baca kembar beda kulit xD btw, kakaknya Kyung ada 4 loh, hankrishoyeol(?) yak kita liat saja mereka punya niat lain atau gak. Makasih dah review ya :D
Fzkhrfa yup ini dah lanjut, makasih dah review ya :D
Guest yup, ini lanjut, makasih reviewnya ne :D
Berlindia haha, biar bersaudara tetap ada perbedaan dong(?) makasih reviewnya ya :D
Luhanie haha, syukurlah kalau menarik dan ditunggu beneran, chap satu muncul! Thanks reviewnya ya :D
WulannS hehe, syukurlah kalau suka prolognya. Ini official couple kok, kalau ada crack pun mungkin Cuma karena efek brothership atau slight doang, saya seneng incest soalnya /plak/ yak ini dah lanjut, makasih reviewnya ya :D
buat yg login, saya bales reviewnya di pm aja ne, ehehe, pokoknya thanks banget buat yang udah welcome ama fanfic super abal ini. Saking gak pedenya, saya ampir gak percaya ff ini ada yg review, sekali lagi makasih bgt buat yg review ;_;
review ne? Maaf kalo kesannya saya ngemis(?) -/\-
