Hope is a Dream That Doesn't Sleep
Chapter 1
Pemuda itu menutup buku yang dipegangnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya, membiarkan kelopak matanya menutup dengan sendirinya dengan harapan membawanya ke alam mimpi hingga suara ponsel yang berbunyi mengusik dirinya. Pemuda itu memaksakan dirinya bangun dan mengecek ponselnya sambil menggerutu.
"Kita ada kelas pagi. Bersiap-siaplah, kawan." Pesan dari salah satu temannya.
Pemuda itu mendesah berat. Jika ia tahu dari awal, ia tak akan tidur selarut ini. Pemuda itu melirik ke arah jam dan menggerutu. Ia hanya punya tiga jam untuk tidur sebelum pergi ke kampus.
Pagi itu, pemuda itu pergi ke kampus tanpa tidur sedetik pun. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju kelasnya. Di sana, salah satu temannya telah menunggu dengan senyum lebar, melambai ke arahnya. Namun pemuda itu menghiraukan temannya dan mengambil tempat duduk di hadapan temannya.
Teman pemuda itu mendesah dan duduk menghadap pemuda yang tak berkata apapun itu. "Kyuhyun-ah, kenapa kau diam saja?", kata teman pemuda itu.
Pemuda itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia menatap temannya datar. "Haruskah kukatakan? Kalau saja kau menghubungiku lebih awal, aku mungkin bisa mendapat tidur setidaknya enam jam."
Teman Kyuhyun—pemuda—itu menyengir. "Mian, aku terlalu bersemangat mengingat hari ini adalah mata pelajaran favoritku. Aku juga tak tidur, tapi masih segar,kan? Kenapa kau tidak melakukan sesuatu agar rasa kantukmu menghilang?"
Pemuda bernama Kyuhyun memutar mata coklatnya malas. "Molla. Aku berbeda denganmu, Changmin. Aku tak bisa tidur setiap saat sepertimu." Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan lengannya.
Changmin—teman Kyuhyun—hanya diam menanggapi temannya.
Waktu pun berlalu, kelas terakhir selesai pukul 16.47, Kyuhyun mengecek jam tanganya. Changmin mengajak Kyuhyun untuk berkumpul dengan teman yang lain di salah satu cafe. Kyuhyun yang sedang tak ingin berdebat menurut begitu saja. Mereka pergi dengan mengendarai mobil Kyuhyun. Pemuda bermata coklat itu menyuruh Changmin untuk menyetir, sementara ia mengambil kursi penumpang di depan. Pemuda bermata coklat itu mengeluh kepalanya terasa berat dan sakit. Ia tak bisa berkonsentrasi untuk menyetir.
Changmin memperhatikan wajah pucat temannya yang semakin pucat. Ia ingin membawa Kyuhyun pulang ke apartemennya namun temannya menangkap ekspresinya dan bilang bahwa ia baik-baik saja untuk berkumpul dengan yang lain. Teman pemuda itu menghelas nafas. Ia tahu ia tak bisa menolak perkataan pemuda bermata coklat itu. Changmin pun menjalankan mobil pemuda bermata coklat itu menuju cafe.
"Itu dia mereka! Changmin hyung, Kyuhyun hyung!" seru salah satu dari mereka.
"Lama sekali kalian," kata seorang lainnya. Wajah tampannya terlihat merekah saat melihat pemuda bermata coklat dan yang lebih tinggi darinya.
Mereka pun menghabiskan waktu di cafe dengan percakapan basa-basi yang dimulai oleh Changmin dan pemuda antusias itu. Lelaki tampan dan pemuda bermata coklat itu hanya mengikuti percakapan sesekali, lebih tertarik untuk bermain game atau diam memperhatikan kedua teman mereka yang berbicara panjang lebar hingga pemuda berekspresi antusias itu membicarakan Kyuhyun.
"Hyung, wajahmu lebih pucat dari biasanya. Kau baik-baik saja?"
Kyuhyun memaksakan senyum di wajahnya. "Aku tak apa-apa. Hanya saja kepalaku terasa sakit."
Changmin ingin mengatakan sesuatu, namun hanya diam. "Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Belakangan ini hyung selalu mengeluh sakit kepala dan keringat dingin," kata pemuda antusias tersebut.
"Tidak, aku hanya perlu makan obat, Minho. Tak usah ke rumah sakit," elaknya.
"Lebih baik kita pergi sekarang sebelum ada masalah yang lebih serius," balas pemuda tampan tersebut.
"Jonghyun benar, hyung! Ayo kita ke rumah sakit."
"Okay, tapi biarkan aku saja yang membawanya. Kalian—Minho dan Jonghyun—bisa pulang duluan," akhirnya Changmin memutuskan.
Kyuhyun membelalakkan matanya, namun ia segera melirik ke arah Minho dan Jonghyun. Mereka mengeluh kenapa mereka tak boleh ikut ke rumah sakit. Changmin tetap tak membiarkan dan menjanjikan memberitahu kondisi Kyuhyun setelah dari rumah sakit. Minho dan Jonghyun kecewa, namun tetap menuruti perkataan sunbae mereka.
"Changmin-ah, kau tidak benar-benar membawaku ke rumah sakit, kan?", tanya pemuda itu.
"Tentu tidak, Kyu. Aku hanya meyakinkan mereka agar mereka tidak khawatir padamu. Tapi aku akan membawamu ke tempat terapismu. Hari ini bukan waktumu untuk konsultasi tapi setidaknya terapismu mengizinkanmu untuk datang setiap saat."
Kyuhyun mendesah, menutup matanya berharap rasa sakit di kepalanya akan berkurang. Yes, I only need to meet the therapist...
Kyuhyun dan Changmin mengakhiri sesi terapis hari ini. Dokter Park—therapist—memberitahu Kyuhyun agar ia mengurangi kegiatannya dan banyak istirahat. Ia memberi Kyuhyun obat tidur dalam jumlah besar dan dosis yang agak kuat. (Kyuhyun nyaris tak pernah bisa tidur dengan tenang) Ia sudah mengkonsumsi banyak obat anti depresan dari dokter Park, namun kali ini dokter Park memberi Kyuhyun obat tidur berarti ia punya masalah lebih serius.
Pemuda yang lebih tinggi itu tak henti-hentinya menceramahi temannya untuk segera tidur, istirahat, makan teratur, dan semacamnya. Pemuda bermata coklat itu mendesah berat, mengacuhkan perkataan temannya. Pemuda tinggi itu tak menyadarinya, namun ia tahu pasti bahwa keadaan sahabatnya semakin parah.
