die Farbe

Chapter 2 : Rosa


Memutar-mutar sebuah pena sembari memandangi langit yang biru, terlampau biru. Angin semilir menyapanya dengan belaian lembut menggerakan rambutnya. Sejenak, ia berhenti. Meletakkan pena tersebut dan berdiri dari sebuah kursi kayu. Perlahan ditutupnya jendela kaca bening yang membuat angin itu masuk. Jika dalam keadaan yang menyenangkan ia pastinya akan menikmati belaian angin itu. Namun, Sasuke Uchiha tidak pernah menikmati hidup ini, itu terlampau konyol lantaran hanya desiran angin. Setelah angin—yang menurutnya sangat menganggu tidak dapat lagi dirasakan— ia melihat lurus ke hamparan bangunan dari kota kecil yang di tempatinya. Berada di dalam bangunan tertinggi di kota kecil ini membuatnya dapat melihat kota dari segala penjuru. Jauh, jauh, melihat ke depan.

Konoha, sebuah kota kecil buatan yang di lindungi oleh perisai kaca bak sebuah kandang. Di dalamnya manusia mengharapkan kedamaian. Maka, dibuatlah kota ini. Dengan berjuta kenyamanan yang ada. Udara bersih yang tidak dapat lagi dihirup di luar sana. Air segar dan jernih yang tidak lagi dapat mengalir dengan mudah. Hijaunya pepohonan yang diluar sana mungkin hanyalah hamparan pohon mati dalam padang pasir. Warna-warni bunga, warna yang sangat mahal untuk dilihat dari luar sana. Jika boleh dikatakan mungkin kota-kota dalam perisai kaca ini hanyalah sebuah imitasi. Imitasi bumi yang menua, menunggu untuk hancur atau bahkan mati.

Musim semi, di sebuah negara dahulu dikatakan sangat berwarna-warni. Sejarah menuliskannya di lembaran-lembaran kertas yang tersisa. Di negara itu terkenal dengan warna merah muda—bunga sakura. Warna lembut yang membuat mata nyaman untuk memandanginya. Di sini mereka menanamnya, di hampir setiap penjuru kota.

Itu ratusan tahun yang lalu.

Ck, semua itu hanyalah kehidupan semu. Mereka tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Seperti apa kejamnya dunia luar—mungkin saja mereka yang berada dalam perisai kaca ini kehidupan dunia luar, yang mana mereka yang direkayasa.

"Sasuke?"

Sasuke menoleh mendengar seseorang memanggil namanya. Mata onyx-nya memperlihatkan ekspresi kosong, seperti biasa. Kemudian ia berbalik, menatap lurus ke arah seorang laki-laki berambut pirang—Naruto.

"Hn?"

"Gadis itu sadar," kata Naruto sembari mengambil sebuah kursi untuk duduk, "Ini gila, sudah seminggu semenjak kita menemukannya di sebuah peti mati. Dia hidup lagi!" lanjutnya.

Beberapa menit kemudian Naruto berceloteh mengenai apa saja yang mereka lalui selama satu minggu terakhir. Saat mendapatkan informasi bahwa Akatsuki mengincar sebuah laboratorium rahasia, jauh di tengah padang pasir, mereka segera mengejarnya. Namun, tidak ada yang mereka dapat selain sebuah laboratorium yang hancur, mayat dimana-mana, darah, bau menyengat terbakarnya subtansi hidup, dan anehnya mereka menemukan sebuah peti mati. Itu adalah sebuah kotak berukuran dua kali satu meter, terbuat dari besi dan di dalamnya terdapat seorang gadis. Hampir tewas.

Hampir.

Bukan hanya itu, peti itu dimasukkan ke dalam sebuah lemari besi. Siapapun yang melakukannya, ia pasti sudah gila. Setidaknya itu membuatnya terbebas dari jangkauan Akatsuki, karena itulah satu-satunya tempat yang belum terjamah—mereka pergi saat Sasuke dan yang lain datang.

Ya, Sasuke tahu itu semua. Semenjak Akatsuki menyatakan ingin mengambil alih semua aspek kehidupan manusia yang tersisa, karena mereka tahu, pemerintahan ini semakin lama semakin busuk. Tidak ada bedanya dengan mereka. Bagaimana bisa hanya mereka yang memiliki garis keturunan bersih dan mereka yang memiliki kekayaan berlebih yang bisa menikmati seperti apa bumi ini, seperti ratusan tahun yang lalu—sisanya, hanya merasakan kejamnya hidup dalam polusi, kelaparan dimana-mana, wabah penyakit yang begitu cepat membunuh mereka yang genetiknya telah terkontaminasi dan bermutasi.

"Dia tidak mati, bodoh!"

Sebuah suara feminin menginstrupsi mereka, Ino berjalan mendekati Sasuke. Menyerahkan beberapa lembar kertas. "Dia tidak bicara sepatah katapun, hanya saja…," Ino mengurungkan niatnya untuk menyelesaikan kalimat itu.

"Hanya saja?" Naruto penasaran.

"Dia buta. Sasuke, sepertinya dia menggumamkan namamu atau semacamnya."

Dan kali ini Sasuke mengangkat sebelah alisnya, bagaimana bisa gadis yang entah siapa dan dari mana asalnya ini mengenalnya—baiklah, mereka yang memungutnya dari neraka itu. Dalam sebuah peti mati. Sekali lagi peti mati di sebuah ruangan tersembunyi. Karena saat itu ia berharap kakaknya yang berada dalam peti mati itu. Sungguh, ia akan membunuh Itachi.

Memikirkan Itachi membuat darahnya naik ke kepala. Kemudian ia mengumpulkan segala dayanya untuk tetap tenang, tidak terbawa emosi. Itu yang terbaik.

"Lanjutkan, Ino."

Datar seperti biasa, eh? Ino menghela napas. "Saat para suster mencoba memasukkan infus, dengan cepat lukanya menutup," Ino mencari sebuah kertas yang berada di dalam map yang dibawanya, "Catatan, menutup sangat cepat."

Mengambil mantelnya, Sasuke berjalan menuju pintu keluar. Sebelum sempat melewati pintu, ia berhenti sejenak, dari sudut mata onyx-nya melirik ke arah dua orang berambut pirang di belakangnya. "Rahasiakan ini," katanya. Kemudian melepas pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, meninggalkan kedua rekannya yang hanya bisa mengeraskan air muka, tanda waspada akan hal ke depan nanti. Namun mereka mengerti, karena semua ini soal hidup dan mati.

Secara tidak langsung, itu berarti rahasiakan ini dari pemerintahan. Terutama menteri pertahanan, karena orang-orang dari sanalah yang pada dasarnya menguasai semuanya, mereka yang busuk, meraka yang merekayasa semua ini.

Salah seorangnya adalah ayah Sasuke, Fugaku Uchiha.

—Sasuke. Sasuke. Sasuke…

Sudah tak terhitung lagi berapa kali ia mengucapkan nama Sasuke. Dalam setiap kalinya nama itu diulang dan diulang di kepalanya, maka rasa nyaman dan aman akan muncul. Mungkin menyebutkan namanya adalah sebuah kebutuhan saat ini, seperti bernapas.

Tarik napas, embuskan. Berulang—Sasuke, Sasuke, Sasuke…

Mungkin ribuan kali. Dan ribuan kali pula ia ingin merasakannya. Ketenangan.

Gelap dan dingin. Tangan putih pucatnya berusaha untuk mengenali lingkungan sekitarnya, dan ternyata gagal. Tidak seperti kamarnya. Ya,tentu saja karena kamarnya yang dulu mungkin telah dilalap api.

Bergerak perlahan, Sakura tidak bodoh untuk mengambil resiko tangannya terluka jika saja saat menjelajahi tempat ini dengan tangan yang meraba-raba menemukan benda tajam. Namun sejauh ini ia hanya menemukan halusnya kain satin, yang dimana ia asumsikan sebagai penutup dirinya saat itu. Kemudian dinginnya ranjang besi, tidak halus. Di beberapa tempat ia menemukan kasarnya karat besi atau mungkin karena terkelupasnya cat dari besi itu sendiri.

Bukan, ini bukan tempatnya. Jelas dan tidak dapat dipungkiri lagi. Setelah Sakura sadar ia berada di sebuah tempat asing, sangat asing. Selama hampir sepuluh tahun hidupnya ia selalu tinggal di ruangan yang sama, ia takut akan perubahan.

Tsunade tidak mengijinkannya keluar, menyimpannya seolah Sakura adalah sebuah kapas halus yang mungkin dengan mudah basah terkena air atau terbakar karena api. Ia hanya mengijinkan beberapa orang masuk dan tentu saja itu adalah orang kepercayaan Tsunade. Lupakan orang lain, sebut saja Shizune atau Izumo dan Kotetsu—yang selalu bersama. Hanya mereka yang Sakura kenal.

Kemudian pikirannya melayang, bagaimana keadaan mereka sekarang? Seharusnya saat ia bangun di sampingnya ada Tsunade, seperti hari-hari sebelumnya. Seharusnya Shizune akan datang membawakannya sarapan dan mengatakan padanya bahwa matahari sudah terbit, sudah pagi. Seharusnya ia akan mendengar tegur sapa dari Izumo dan Kotetsu, yang selalu berisik saat membersihkan ruangannya.

Klik. Suara kunci membuka pintu.

Saat ini ia tidak tahu arah, berbagai ketakutan terus saja menghampirinya. Namun, sebelum itu ia harus—

Pintu terbuka. Sakura meningkatkan kewaspadaannya, entah saat ini ia bersama teman atau musuh.

Suara beberapa langkah kaki terdengar, sekitar tiga orang atau lebih mendekatinya. Mengepalkan tangan dengan kuat, berusaha bertahan dengan apa yang ia miliki sekarang toh bukan hal salah.

Tiba-tiba saja ia merasakan seseorang meraih tangan kirinya, sontak ia mendorong orang itu. Ia terjatuh, dengan suara beberapa benda pecah dan logam terbentur lantai.

"Kami tidak akan melukaimu," seseorang berkata dengan nada yang malas, Sakura tidak yakin dengan itu, "Dan juga Sasuke di sini."

Sakura terkejut. Sasuke? Uchiha Sasuke? …dan lagi nama itu berputar dalam benaknya, karena Tsunade mengatakan hanya orang itu yang bisa menyelamatkan nyawanya. Mungkin ia akan bahagia, mungkin ia akan tersenyum.

Bahagia, kata sifat, apakah itu masih mungkin ia peroleh di dunia ini? Saat ini dimana kehidupan telah mencapai titik puncaknya, menuju akhir.

"Shikamaru."

Suara itu, dalam dan tenang. Entah bagaimana Sakura merasa lega, kemudian ia merasa aman. Mungkin sekarang ia bersama teman.

"Sasuke…?"

Untuk pertama kalinya setelah ia sadar, Sakura berbicara dengan jelas. Tidak sekadar berguman saja.

…kemudian Sakura sadar, tanpa mengenali siapa pemilik nama itu, dengan nama dan suaranya saja sudah cukup untuk membuat Sakura kecanduan.

Sasuke mengamati gadis di hadapannya itu. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Abaikan bagian lainnya, karena yang menarik perhatian Sasuke adalah kenyataan bahwa gadis ini mempunyai rambut merah muda, seperti bunga sakura yang bermekaran di luar sana. Musim semi. Sederhana, Sasuke penasaran apakah gadis ini adalah refleksi musim semi atau semacamnya.

"Kalian keluar," kata Sasuke singkat. Kedua rekannya hanya bisa menatapnya dengan beberapa pertanyaan yang berputar di kepala. Bertanya sekarang nantinya akan menjadi masalah kecil lain, lebih baik simpan saja pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti.

"Terserah," balas Shikamaru singkat kemudian mereka menghilang di balik pintu. Meninggalkan keheningan di ruangan itu.

Dengan terburu-buru Sakura berusaha meninggalkan ranjangnya, namun ia terjatuh.

Ini menyedihkan, dalam hatinya ingin sekali ia melihat siapa pemilik suara itu—dengan pembawaan datar dan tenang. Sungguh, ia ingin melihatnya. Mengutuk dirinya yang tidak bisa melihat.

Sasuke melihatnya. Ini menarik, pikirnya. Kemudian ia berjalan mendekati gadis itu, berlutut untuk menyamakan tinggi mereka, setidaknya hampir sama. Hampir. Dibandingkan dengan Sasuke, gadis ini jauh lebih kecil. Dengan mata emerald seperti embusan sejuk musim semi, jika bisa digambarkan. Kemudian kulit putih pucat, seperti kurang cahaya matahari. Rambut merah muda sepinggang, bunga sakura diluar sana mungkin akan layu saat tahu bahwa mereka dibandingkan dengannya. Tergurai lemas hampir menyentuh lantai.

Merasakan hangatnya embusan napas, Sakura menyadari bahwa Sasuke ada di hadapannya.

Tiba-tiba saja Sakura meraih Sasuke, tangannya gemetar dan Sasuke membiarkannya.

"Tsunade-sama," bisiknya pelan. Lirih, suara gemetar beserta seluruh bagian tubuhnya. Mungkin hatinya pun tak sempat berkata lebih.

Sasuke tidak bisa menjawabnya dan itu kenyataan karena sekarang ia tidak punya satu pun petunjuk tentang dimana Tsunade berada. Saat ia sampai di tempat dimana ia menemukan Sakura, semuanya telah hancur, hanya bangunan dililit api dan tubuh tak bernyawa dimana-mana.

Menyadari ia memperoleh jawaban kosong, cengkraman tangan Sakura terlepas dari pakaian Sasuke. Lemas, karena sebelumnya beberapa orang telah menceritakan seperti apa keadaan di tempat itu. Neraka, gambaran singkatnya.

Sesak, Sakura mencengkram dadanya.

Lagi, jika bisa ia ingin membuka matanya dan melihat warna. Bukan seperti ini, beribu kali ia membuka matanya, mengedipkannya, mengusapnya, tetap saja semua hitam gelap. Tanpa cahaya.

Jika Tsunade sudah tidak ada, maka hidupnya tidak akan berarti. Di dunia luar sana, sebelum Sakura mengenal Tsunade, jauh sebelum mengenal nyamannya sebuah kenyamanan hidup. Ia menghirup udara beracun, meminum air keruh yang mungkin di dalamnya bisa menemukan sesuatu yang menginginkan kehidupan—terus berlangsung hidup dalam air itu. Lalu saat Sakura bersama teman-temannya berlarian menjauhi helicopter yang akan menembaki mereka dari atas sana, seolah mereka adalah utusan Tuhan, untuk menghakimi hidup mereka. Mengakhirinya tanpa memandang usia dan sebagainya. Kemudian ia hanya tahu bahwa langit itu berwarna abu-abu, penuh dengan debu. Seperti tanah-tanah gersang dan mungkin terbang menjadi debu bersama sampah. Kering.

Dua belas warna crayon yang diberikan oleh orang tuanya adalah warna-warna yang Sakura suka, walau hanya pernah memakainya beberapa kali tetap saja ia merindukannya. Merindukan warna yang ia goreskan di atas kertas, mencoba menuangkan apa yang ibunya ceritakan tentang dunia ini berserta warnanya. Ia tersenyum perih, karena sebelum ia menghabiskan crayon-crayon itu ia melihat orangtuanya tewas. Tertembak saat mereka berpelukan. Satu, dua, tiga, dan empat tembakan. Semuanya mendarat di tempat yang fatal, darah dimana-mana.

Itu semua yang Tsunade katakan, saat itu Sakura hanya bisa menyelamatkan sebuah crayon, berwarna merah. Ia mengingatnya, karena ia tidak pernah lupa.

Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Sakura melupakan bahwa Sasuke masih berada di ruangan itu, lebih spesifiknya di hadapannya.

Terdengar suara logam bergesekan dan merasakan tangannya diraih, dengan kuat. Tangan Sasuke sangatlah dingin, berbeda dengan diri miliknya. Beberapa seperdetik kemudian ia merasakan dinginnya logam menggores telapak tangannya. Saat logam itu menyentuh kulit epidermisnya, Sakura mengira itu hanyalah sebuah benda tak berarti. Kemudian Sasuke memberikan sedikit tekanan, menekan, merobek kulitnya perlahan, kemudian Sasuke menariknya segaris lurus dan tanpa memperdangkal atau memperdalam posisi logam itu dalam telapak tangan Sakura.

"Ah!"

Menjerit perih, Sakura berusaha menarik tangannya dari tangan Sasuke. Namun Sasuke tidak akan membiarkanya pergi—tangan Sakura sebelum ia puas dengan apa yang ingin ia pastikan. Yang benar saja laki-laki di hadapannya itu menyayat telapak tangannya. Merasakan cairan mengalir dari tangannya membuat Sakura gemetar.

Merah, itu warna darah bukan? Seperti warna crayon favoritnya untuk mewarnai sebuah apel. Kadang ia berpikir, darah itu berwarna merah pekat, merah tua, atau merah yang lain. Toh, tidak mungkin seperti warna rambutnya, merah muda.

Sekuat apapun Sakura berusaha melepaskan dirinya dari Sasuke, itu gagal. Sasuke kuat dan perlahan Sasuke membuka kepalan tangan Sakura, saksama melihat luka sayatan itu menutup kembali. Benar apa yang dikatakan Ino, lukanya menutup dengan cepat. Sasuke tidak akan percaya dengan sebuah pernyataan kecuali ia mencobanya atau melihatnya sendiri, dan itulah mengapa ia menyayat telapak tangan Sakura. Siapa gadis ini sebenarnya?

"Sakura, eh?"

Sakura mengangguk, dengan cepat menarik tangannya saat ia merasakan bahwa Sasuke telah melemahkan cengkramannya.

Mereka sudah tahu namanya, karena apapun mengenai dirinya sendiri yang orang lain tanyakan ia akan menjawabnya. Semuanya, kecuali hal yang menyangkut Tsunade. Dari A hingga Z, mungkin AA hingga ZZ. Semuanya pasti.

Menatap lurus ke arah mata Sakura yang tanpa fokus. Gadis ini terdiam seolah tenang namun Sasuke tahu di dalam pikiran Sakura segala hal telah bercampur aduk, alot.

Sasuke sekilas melihat goresan hitam di bahu Sakura, dengan cepat ia meraih tubuh Sakura, perlahan ia menurunkan sedikit kain yang menutup bahu gadis itu. Sakura terdiam, tubuhnya membeku. Sentuhan itu bukan seperti yang ia rasakan sebelumnya, tidak ada orang yang pernah menyentuhnya. Walau ujung rambut sekalipun. Sakura berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sasuke. Namun sayang laki-laki itu telah terfokus pada hal lain, yang mungkin akan mengubah masa depan mereka. Ya, masa depan Sasuke dan Sakura. Dengan cepat tanpa permulaan dan tidak ada yang tahu apa akan ada akhir yang menyenangkan. Semua menjadi rahasia waktu.

Di sana ada sebuh tato, dimana fokus Sasuke terpusat. Sasuke membulatkan matanya. Bagaimana mungkin ada di gadis ini?

Regenbogen

Pelangi, eh?

Dituliskan dengan gambaran sayap dalam goresan-goresan melengkung di sekitarnya. Seperti pelangi, hanya saja semuanya hitam.

Menyeringai, Sasuke melepaskan Sakura.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke dingin, dengan intonasi yang terlampau datar. Sederhana, karena ia sudah tahu siapa dan kenapa gadis ini berada di peti mati itu. Semua sudah terjawab, karena Tsunade yang mengirimkan gadis ini kepada Sasuke. Sebagai kotak pandora.

Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Sakura berpikir, apa yang ia inginkan dari Sasuke? Hampir saja nyawanya melayang, bagaimana bisa orang yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawanya hampir saja membunuhnya? Menyelamatkan nyawa Sakura, itu yang Tsunade katakan. Kepalanya serasa mau pecah. Ia sadar bahwa sekarang ia sendiri, di tempat asing, dan juga bersama orang asing. Apapun tindakannya nanti ia harus memikirkannya baik-baik atau ia akan mati konyol.

"Hidup."

Itu jawaban Sakura.

Sasuke mengenduskan napas, gadis cerdas. Tidak heran jika Tsunade memilihnya.

Angin berdesir dari jendela kecil dengan celah-celah yang usang, suasana hati Sasuke mendadak berubah. Semerbak wangi bunga sakura tipis terdeteksi oleh inderanya, kemudian sebuah kelopak terbang dan jatuh dalam pandangan Sasuke, jatuh dari celah kecil yang menyebalkan itu.

"Katakan semua yang kau tahu," meraih rambut panjang Sakura dengan lembut, "Dan aku akan membiarkanmu hidup," lanjutnya pelan, dengan nada dingin yang mengintimidasi.

Mungkin sudah cukup untuk pertemuan pertama ini, pikir Sasuke.

Sontak seluruh tubuh Sakura merinding. Laki-laki ini serius dan bukan tipe yang suka basa-basi. Atau mungkin laki-laki ini seorang bipolar. Menganggukan kepala tanda mengerti kemudian menundukan kepala.

"Merah muda, bunga sakura berguguran di luar sana," Sasuke berdiri. Menerawang kembali pemandangan yang ia amati tadi. Sebagian kecil dari hatinya, ia ingin menghancurkan itu semua. Karena baginya semuanya adalah kejadian semu yang tidak ada artinya.

Ck, kemudian fokusnya kembali ke Sakura. Melihatnya sesaat, memejamkan mata, dan menahan napas sejenak.

Mengembuskannya dengan ringan.

"Besok, matamu akan dioperasi," berbalik berjalan perlahan.

Kau akan segera melihatnya sebelum mereka layu.

Sakura terkejut. Seperti beberapa syaraf di dalam kepalanya tertekan. Tidak tahu harus berkata apa akan pernyataan Sasuke tadi. Apa yang Sasuke inginkan bukan menjadi prioritasnya saat ini, melainkan siapakah Sasuke. Sakura ingin tahu segalanya, semuanya, apapun, dimana pun, dan bagaimana pun itu.

Sebelum sempat menjawab ia menyadari bahwa langkah kaki Sasuke sungguh tegas, tanpa keraguan dalam setiap langkahnya.

Satu, dua, tiga, empat—Sakura menghitung langkah Sasuke yang pergi meninggalkannya.

Tepat langkah kesepuluh, Sasuke berhenti.

"…dan mulai hari ini kau milikku."

Suara itu terdengar lebih halus, bebas tanpa beban, kelegaan. Entah yang mana Sakura tidak bisa menyebutkan. Berbeda dengan intonasi kata-katanya yang sebelumnya. Sungguh, kini Sakura tersenyum tipis. Ia akan terus hidup, sampai ia menemukan Tsunade dan yang lain—walau dalam keadaan seperti ini, ia bisa mengantisipasinya. Kerena ia mampu, itulah mengapa Tsunade memilihnya, ia yakin dengan kemampuannya itu. Sampai nanti impian mereka terwujud, menciptakan dunia baru, dimana mereka bisa hidup damai dan bahagia. Memang saat ini kata-kata itu belum bisa dibuktikan kebenarannya, ia mungkin terlalu naïve atau tidak logis, semua pasti bisa.

Milik Sasuke, mulai saat ini.

Saat terasa angin yang entah dari mana, suara langkah kaki jamak berlalu begitu saja, menjadi latar suara dimana Sakura masih berpikir. Berusaha mencerna apa yang Sasuke, yang notabene laki-laki yang baru saja dilihatnya—atau lebih tepatnya laki-laki yang baru saja ia ketahui, secara implisit dan mungkin hanya bagian terluar dari yang terluar.

Waktu terasa berhenti begitu saja. Menalar apa yang akan terjadi dalam hari-hari ke depan bukanlah hal yang menakutkan saat ini. Ia tidak takut pada pisau bedah atau semacamnya, hanya saja...

Sakura mengepalkan tangannya. Sudah tidak terasa sakit. Sesuatu berbau amis dan pekat sudah tidak mengalir dari telapak tangannya. Ia tersenyum tipis. Ini semua mungkin cara Tsunade melindunginya, saat ia jauh darinya. Akal logisnya kini terfusikan dengan sesuatu yang mengganjal, dari lubuknya ia bertanya. Apa pisau bedah itu akan mampu membuatnya bisa melihat lagi? Hasilnya nanti bukan masalah, segala teknologi medis sekarang hanya membutuhkan sedikit usaha tangan manusia. Serahkan semua pada mesin-mesin itu untuk menganalisisnya.

Saat mencapai langkah kelimabelas, pintu tertutup dan kembali terkunci.

Menghela napas panjang melepas kepergian Sasuke, ia tersenyum. Senyum yang lebih lebar dan berarti.

Itulah Sakura, tersenyum dengan bodohnya dalam keadaan seperti apapun.

Mungkin ia bahagia.

Mungkin.

…bahagia karena kini ada lagi orang yang menganggapnya manusia dan ada. Ada dalam bentuk nyata, bukan bayangan atau pun wacana belaka.