My Guardian Angel – SiBum version
Siwon belongs to Kibum and Kibum belongs to Siwon
Man!Siwon x Girl!Kibum
"Berhentilah hidup seperti ini. Aku perduli padamu, bahkan disaat mereka semua pergi meninggalkanmu. Lihatlah aku disini dan datanglah kepadaku saat kau mulai menyadari kehadiranku. Aku janji, aku takkan pergi kemana pun. Aku menunggumu demi kehidupan kita di masa depan."
T+
Warning!
GS | OOC | Gajeness | Typo(s) | non EYD
Dont like, Dont read!
Happy reading ~
Changmin kembali mendekatkan wajahnya. Kibum yang mengerti maksud Changmin, kembali memejamkan matanya.
Cup~
Changmin mencium ujung bibir Kibum, membuat Kibum membuka matanya. Tatapan kesal ia berikan untuk Changmin. "Kau selalu saja menggodaku!" Kibum mendorong dada bidang Changmin agar lelaki itu menjauh dari hadapannya. Changmin kembali terkekeh. Dia senang menggoda wanita yang kembali menjadi kekasihnya ini. Changmin menarik tubuh Kibum kedalam dekapannya. Dia memeluk Kibum erat, tak ingin wanita itu pergi meninggalkannya. Kibum yang hanya berpura-pura kesal, membalas pelukan Changmin. senyuman terpantri diwajah cantiknya. Namun, tanpa wanita itu sadari, lelaki yang kini berstatus sebagai kekasihnya tengah menyeringai.
'Kena kau, Kim Kibum!' batin lelaki itu, Shim Changmin.
Sinar matahari pagi mulai memasuki celah-celah ventilasi dikamar dengan cat putih tersebut. Seorang wanita yang masih berkelana di dunia mimpi, mulai terusik karena sinar matahari yang tepat mengenai kedua bola matanya. Ia menggeliatkan tubuhnya sejenak sebelum kedua mata indahnya terbuka. Perlahan kedua mata bulat itu terbuka, sedikit mengerjap untuk menyesuaikan keadaan kamarnya yang masih gelap. Ia melirik jam yang terletak diatas nakas samping ranjangnya. Jam tersebut menunjukkan pukul 05:00am. Kibum –wanita itu, segera bangkit dan pergi menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya.
.
.
.
Kibum keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar. Ia membuka lemari pakaiannya untuk mengambil kemeja dan rok yang akan ia gunakan untuk kerja hari ini. Kibum memilih kemeja berwarna merah marun berlengan pendek dengan renda dibagian dadanya dan rok span berwarna putih dengan panjang diatas lututnya. Setelah ia mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya, iapun memilih dapur untuk tujuan selanjutnya.
Ting Tong...Ting Tong...
Suara bel menghentikan langkahnya yang akan pergi ke dapur. Ia melihat tamu yang datang melalui intercom yang ada di dekat dapur. Dahinya mengernyit saat tahu siapa yang datang ke rumahnya sepagi ini.
"Changmin-ah?" panggil Kibum saat ia membukakan pintu rumahnya dan menemukan kekasihnya tengah berdiri didepan rumahnya. Kibum segera memeluknya lalu mengajak Changmin masuk kedalam rumahnya.
"Apa yang kau bawa?" tanya Kibum saat melihat dua kantong plastik yang cukup besar berada di kedua tangan Changmin.
"Bahan makanan untukmu. Sekalian, aku ingin membuat sarapan untuk kita berdua denganmu," jawab Changmin sambil meletakkan kedua kantong plastik itu di meja makan.
Kibum merasakan deja vu. Ya, sama persis seperti yang ia lakukan pada Siwon tempo hari. Changmin yang tak mendengar balasan dari kekasihnya, menolehkan wajahnya dan mendapati Kibum tengah terdiam. Changmin berjalan mendekati kekasihnya. Kibum masih bergeming. Sebuah ide muncul di otaknya bersamaan dengan seringaian yang tercipta disudut bibirnya. Kedua lengannya ia lingkaran dipinggang ramping Kibum dan wajahnya ia sejajarkan dengan wajah Kibum. Dapat ia rasakan napas teratur milik kekasihnya itu.
"Neo gwaenchana, Kibum-ie?" tanya Changmin tepat di depan bibir Kibum. Kibum tersentak kaget. Wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Changmin. Bahkan dengan sekali dorong, bibirnya akan bertabrakan dengan bibir tipis Changmin.
"C-Changmin-ah..." bisik Kibum. Tak dipungkiri, jantungnya berdegup cepat. Wajahnya pun terasa panas. Changmin yang melihat wajah Kibum merona, hanya terseyum senang. Ya, dia sangat senang menggoda kekasihnya ini.
Cup ~
Secepat kilat Changmin mencuri morning kiss dari Kibum. Kibum terkejut, namun dengan cepat ia mencubit pinggang Changmin. "Ck! Tiang listrik mesum!" cibir Kibum. Cubitan Kibum membuat Changmin melepaskan pelukannya di pinggang Kibum. Merasa tak dipeluk lagi oleh Changmin, Kibum segera mengalihkan perhatiannya pada kantong plastik yang dibawa Changmin tadi untuk menutupi kegugupan dirinya –atau rona merah dipipinya. Memeriksa bahan makanan apa saja yang di bawa Changmin. Setelah menemukan beberapa bahan makanan yang ia rasa cocok untuk dijadikan sarapan, ia mengeluarkannya dari kantong plastik dan meletakkannya di atas meja.
"Jika kau ingin sarapan pagi ini, segera bantu aku. Jangan berdiam diri sambil memikirkan yang 'macam-macam'," tegur Kibum sambil menekankan kata 'macam-macam'. Changmin yang mendengarnya hanya terkekeh pelan. Ia mengeluarkan dua apron yang tadi dibelinya. Ia memasangkan apron berwarna biru dengan gambar teddy bear pada tubuhnya.
"Kibum-ie, lihat! Apa kau suka?" tanya Changmin sambil menunjukkan apron berwarna merah dengan gambar Princess Snow White pada Kibum. Kibum tertawa pelan.
"Kenapa kau tertawa? Apa kau tak suka dengan apron ini?"
"Bukan...bukan karena apron yang kau tunjukkan. Tapi, apron yang kau gunakan... hahahaha... apa kau lupa umurmu, Changmin-ah?"
"Aish..! Aku hanya menemukan apron ini disana. Ah, lebih baik ku lepas saja," kata Changmin sambil melepas ikatan dipunggungnya.
Kibum menghampiri Changmin yang kini tengah merajuk –itu yang ada dipikiran Kibum, wajah Changmin terlihat seperti merajuk dibandingkan ekspresi kesal. Kibum melingkarkan tangannya di pinggang Changmin dan mengikat kembali tali yang terlepas akibat tarikan Changmin. "Maaf. Aku tertawa karena kau terlihat lucu. Apron ini cocok untukmu. Ah, apron ini untukku 'kan? Cepat pasangkan untukku," pinta Kibum sambil membalikkan tubuhnya. Changmin memasangkan apron berwarna merah itu ditubuh Kibum.
"Ja! Ayo kita masak!" seru Kibum saat Changmin selesai mengikat tali yang ada dibelakang apron itu. Changmin menghampiri Kibum yang kini tengah berkutat dengan beberapa bahan makanan. Sesekali mereka terlihat saling bercanda. Seperti pasangan suami-istri yang baru menikah, bukan?
.
.
.
"Selesai!" seru Kibum saat sarapan untuk mereka berdua telah tersaji diatas meja makan. Changmin membantu Kibum melepaskan apron yang digunakan Kibum setelah dia melepas apron yang digunakannya. Mereka berdua pun duduk bersebrangan dan mulai memakan sarapan mereka. Setelah selesai makan, Changmin membereskan peralatan makan mereka dan meletakkannya di wastafel sedangkan Kibum tengah mencari kotak bekal kesayangannya. Setelah menemukannya, Kibum mulai mengisi kotak bekal tersebut dengan menu sarapan yang baru saja ia makan dengan Changmin.
"Kau membawa bekal?" tanya Changmin.
Kibum terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk. "Ya, aku membawa bekal. Karena pekerjaanku sangat menumpuk belakangan ini, jadi aku tak sempat keluar untuk makan siang."
"Jangan berkerja terlalu keras. Aku tak ingin kau kelelahan," ucap Changmin.
"Tenang saja, aku bisa menjaga diriku, Changmin-ah. Seharusnya aku yang mengatakan itu. Sekarang kau 'kan sedang menggantikan tuan Jung yang sedang di luar negeri. Pasti pekerjaanmu lebih banyak daripada aku."
"Ya, kau benar. terkadang aku ingin menyuruh tuan Jung untuk segera kembali ke Korea. Instingku mengatakan kalau dia tak hanya mengurusi pekerjaannya, tapi dia juga ingin liburan dengan kakak sepupuku."
"Hahaha... jangan berburuk sangka dulu."
"Iya.. iya. Kau sudah selesai? Akan kuantar kau ke kantor."
Kibum menutup kotak bekalnya saat ia rasa semua menu sarapan itu telah tersusun rapi didalamnya. "Kajja!" seru Kibum sambil mengambil tas selempang miliknya yang ia letakkan di sisi kursi lalu mengaitkan tangannya dilengan kanan Changmin.
Tok...Tok... Tok...
Suara ketukan pintu dari luar membuat seseorang di dalam ruangan tersebut menghentikan sejenak pekerjaannya. "Masuk," ucapnya pada orang yang mengetuk pintu ruangannya.
Pintu ruangannya terbuka dan menampakkan sekertarisnya dengan kotak bekal di kedua tangan wanita itu. Dahinya mengernyit menatap heran kotak bekal yang dibawa sekertarisnya. Kibum mendekati mejanya dan meletakkan kotak bekal yang dibawanya di atas meja dekat beberapa dokumen.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena tadi pagi aku tak datang ke apartementmu. Sebagai gantinya, ini sarapan untukmu, Siwon-ssi," ucap Kibum saat ia melihat tatapan Siwon yang seolah bertanya apa-yang-kau-bawa-itu?
"Bawa kembali kotak bekal itu. Aku sudah sarapan," jawab Siwon sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
Kibum mendorong kotak bekal itu agar semakin dekat dengan Siwon. "Makanlah, aku tahu kau belum sarapan."
"Pekerjaanku masih banyak, Kibum-ssi. Aku tak punya waktu untuk memakan sarapan yang kau bawa. Lebih baik kau bawa kembali kotak bekal itu," ucap Siwon dingin. Kibum menundukkan wajahnya, menutupi matanya yang mulai memerah karena menahan emosi.
"Baiklah, aku akan keluar. Tapi, kotak bekal ini aku letakkan disini. Mungkin kau berubah pikiran."
"Kibum-ssi," panggil Siwon. Kibum yang baru saja akan keluar dari ruangan itu segera membalikkan tubuhnya. "Ne, sajangnim."
"Gamsahabnida," ucap Siwon. Kibum yang mendengar kata 'terima kasih' dari bibir Siwon langsung tersenyum. Ini kali pertama Siwon mengucapkan 'terima kasih' padanya. Kibum menganggukan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu.
Sepeninggalnya Kibum, Siwon menyentuh dada kirinya. 'Senyumannya...'
Siwon memasuki sebuah restoran yang sederhana namun cukup ramai mengingat waktu hampir menunjukkan pukul 22:43 malam. Ah, sepertinya restoran ini buka 24 jam. Siwon duduk di pojok restoran. Lalu, ada seorang pelayan yang mendatanginya sambil memberikan buku menu kepadanya. Setelah memesan makanan, ia melihat sekeliling. Semakin malam, restoran ini semakin ramai dan matanya berhenti pada satu titik dimana ia menemukan sosok yag ia kenal, sosok yang sudah lama tak pernah muncul dihadapannya. Wanita yang sangat ingin ia miliki, namun sahabatnya lebih dulu 'mengambil' miliknya itu. Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa pesanannya.
"Agassi, kalau boleh saya tahu, siapa wanita di kasir itu? Kenapa dia tidak memakai seragam yang sama dengan anda?" tanya Siwon. Pelayan itu terlihat bingung, namun ia menjawab, "Dia pemilik restoran ini, tuan. Ada lagi yang ingin anda tanyakan?"
"Ah, tidak. Anda boleh kembali bekerja."
Setelah pelayan itu pergi, Siwon mulai menyantap makanannya.
.
.
.
Bel diatas pintu restoran berdenting menandakan datangnya pelanggan di restoran tersebut. Seorang laki-laki dengan postur tubuh tinggi dan sepasang suami istri yang terlihat sempurna memilih tempat duduk tepat didepan meja Siwon –yang kini masih menyantap makanannya. Seorang pelayan datang memberika buku menu kepada pelanggan yang baru datang itu. Setelah memesan makanan, mereka bertiga berbincang ringan hingga serius.
"Aku berhasil menemukannya," kata laki-laki yang bertubuh tinggi, Shim Changmin.
"Siapa? Wanita salju itu?" tanya laki-laki lain yang duduk dihadapannya, Jung Yunho. Changmin mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Yunho. Wanita disamping Yunho menatap Changmin tajam –seolah dia ingin memakan Changmin hidup-hidup. Changmin yang sadar akan tatapan kakak sepupunya itu sedikit mengkerut. Jujur saja, Kim Jaejoong –nama wanita itu– adalah noona yang paling dia takuti.
"N-Noona, k-kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Changmin gugup.
Jaejoong menatap Changmin semakin tajam, "Apa yang kau rencanakan?" tanyanya sinis, tentu saja dengan nada yang sangat menakutkan.
"T-Tidak ada, noona. A-Aku hanya memintanya untuk kembali padaku," jawab Changmin.
"Liar!"
"N-Noona –"
"Mana mungkin Kibum akan menerimamu begitu saja setelah kau meninggalkannya demi wanita yang telah bersuami itu? Kibum yang kukenal takkan semudah itu memaafkanmu."
"Dia memaafkanku dengan mudahnya dan kini dia kembali menjadi kekasihku."
"Jangan berbohong, Shim Changmin!" bentak Jaejoong. Yunho yang mendengar istrinya mulai mengamuk, segera menenangkan istrinya sebelum kemarahannya semakin menjadi-jadi. Jaejoong sangat sensitif malam ini, selain karena dia tengah mengandung anak kedua mereka juga karena masalah yang ada sangkut pautnya dengan Kim Kibum, gadis yang sudah dianggap adik olehnya.
"Tenanglah, Boo. Ingat, kita sedang ditempat umum dan didalam sini ada anak kita yang tengah tertidur," hibur Yunho sambil mengelus perut buncit Jaejoong. Jaejoong menarik nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Changmin bergedik ngeri menatap kakak sepupunya itu. 'Dia terlihat menyeramkan jika sedang hamil,' batin Changmin.
Pembicaraan mereka terhenti sejenak saat pesanan mereka datang. Yunho menyuruh Jaejoong dan Changmin untuk memakan pesanan mereka sebelum melanjutkan pembicaraan yang cukup memanas tadi. Tapi, tanpa mereka sadari, laki-laki yang duduk tepat dibelakang meja mereka tengah menatap mereka bingung. 'Kibum? Apa yang dimaksud wanita hamil itu, Kim Kibum? Jadi, Changmin kekasih Kibum?' tanya Siwon dalam hati. Siwon mengurungkan niatnya untuk pergi dari restoran itu sampai dia mendengar apa kelanjutan dari pembicaraan tiga orang didepannya.
"Sedikit karangan singkat yang tiba-tiba muncul dipikiranku dan sedikit tetesan air mata, lalu dia luluh."
"Kebohongan apa yang kau katakan?"
"Rahasia. Ah, iya, karena kebohongan dan airmata itu, aku berhasil mendapatkan ciuman pertamanya. Dia perempuan yang baik dan lugu."
Perbincangan antara Changmin dan wanita hamil itu terus berputar diotaknya. Ini memang bukan urusannya, tapi entah mengapa hatinya mulai resah. Walaupun dia sedikit kasar dengan Kibum, namun dia masih memiliki hati nurani. Kibum sangat baik padanya, bohong jika selama ini Siwon menutup mata atas kebaikan Kibum selama ini.
"Arrrgghh!" Siwon menggeram kesal sembari mengacak kasar rambutnya. Dia memilih untuk memejamkan matanya dan pergi ke dunia mimpi daripada terus memikirkan sesuatu yang bukan masalahnya.
.
.
MGA – SiBum
.
.
Siwon menatap kosong TV yang tengah menyala. Biasanya disaat seperti ini dia mendengar 'kebisingan' di dapurnya lalu berdebat kecil pada 'tamu-tak-diundangnya' setelah itu dia memakan sarapan yang dibuat 'tamu-tak-diundangnya' itu. Namun, pagi ini adalah pagi keduabelas tanpa kedatangan 'tamu-tak-diundang'-nya setelah hari itu. Otak berpikir jika dia tak merindukan wanita itu, tapi hati kecilnya merasakan hal yang berbeda. Hati kecilnya berkata jika ia sangat merindukan kehadiran wanita itu. Entah sejak kapan dia bergerak hingga kini dia tengah menempelkan ponselnya di telinga kanannya sambil menunggu seseorang yang dia telepon menjawab panggilan telepon darinya.
'Tuut...Tuut... Yeobosseyo?'
Ruh Siwon seakan ditarik kembali ke tubuhnya saat suara wanita yang ia rindukan mengaun indah dari earpiece ponselnya.
'Yeobosseyo? Siwon-ssi?' Panggilan dari Kibum menyadarkan Ruh Siwon kembali. Siwon bingung untuk membalas panggilan Kibum karena sejujurnya dia masih bingung kenapa dia bisa menelepon wanita itu.
'Siwon-ssi, neo gwaenchana?'
"Eung... Ehem.. Yeobosseyo."
'Ne, annyeong Siwon-ssi. Ada apa meneleponku pagi-pagi?'
"Ah, maaf, Kibum-ssi. Sepertinya saya salah sambung. Tadinya saya ingin menelepon teman saya. Sekali lagi, saya minta maaf," alasan klasik terucap begitu saja dari mulut Siwon.
'Oh, begitu. Baiklah, saya akan menutup teleponnya,' ucapan Kibum mengingatkannya pada satu hal yang sejak semalam mengganjal dipikirannya. Segera ia menahan Kibum untuk tidak menutup teleponnya.
'Apa yang ingin kau bicarakan, Siwon-ssi?'
"Bisakah kau datang ke apartement-ku?" permintaan itu terucap begitu saja. Jujur saja, dia sangat malas untuk keluar dari apartementnya hari ini. Maka dari itu, dia meminta Kibum untuk datang ke apartementnya.
Di sisi lain, Kibum cukup terkejut dengan permintaan Siwon yang begitu mendadak. Bukankah saat dia kesana, hanya cacian yang ia terima dan berakhir dengan pengusiran. Kibum berpikir sejenak, dia ingin datang kesana, tapi dia ingat janjinya dengan Changmin untuk pergi menemui Yunho dan Jaejoong pagi ini.
"Maaf, Siwon-ssi, pagi ini saya tak bisa. Eum.. aku sudah ada janji dengan orang lain."
'Oh, kau ingin kencan dengan kekasihmu?' tanya Siwon dengan nada suara yang cukup sinis.
"B-Bukan. A-aku–"
'Jika kau ingin kencan dengan kekasihmu juga tak apa. Memangnya saya bukan siapa-siapamu, Kibum-ssi. Lagipula hal yang ingin kubicarakan sudah tak penting lagi. Selamat berkencan dengan kekasihmu. Tuut...Tuut..' Siwon memutuskan sambugan telepon itu sepihak. Kibum mulai mencerna perkataan terakhir Siwon.
"Dia terdengar seperti err... cemburu. Ah, tidak-tidak. Mana mungkin dia cemburu padaku? Kau terlalu banyak berkhayal, Kim Kibum! Tapi, apa yang ingin dia bicarakan ya? Terdengar sangat penting," gumam Kibum.
Changmin melihat Kibum dengan heran. Pasalnya, kini Kibum hanya berdiam diri di ruang tamu sambil menggumamkan sesuatu yang tak terdengar oleh telinganya. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di otaknya yang cerdas. Perlahan dia mendekat kearah Kibum, lalu memeluknya dari belakang. Tubuh Kibum sedikit tersentak karena kaget dengan pelukan tiba-tiba dari Changmin. Setelah dirasa tubuh Kibum kembali rileks, Changmin mengeratkan pelukannya hingga dada bidangnya bersentuhan dengan punggung Kibum.
"C-Changmin-ah! Kau mengagetkanku!" protes Kibum. Changmin hanya terkekeh mendengarnya, "Apa yang kau lamunkan hingga tak menyadari kedatanganku, eoh?"
"T-Tidak. Tidak ada yang aku lamunkan." Changmin melirik kekasihnya itu, lalu memberi kecupan-kecupan ringan di pipi kanan Kibum hingga berhenti tepat di ujung bibir Kibum. Pipi Kibum kini terlihat merona, Changmin yang melihatnya hanya tersenyum. "Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Changmin tepat di telinga Kibum membuat wanita dipelukannya kini menggeliat pelan.
"Bagaimana bisa kita berangkat jika kau terus memelukku, Changmin-ah," gerutu Kibum. Changmin melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Kibum sebelum wanita itu hilang daari pandangannya. "Can I get my morning kiss?"
"You've got it, Shim Changmin," jawab Kibum sambil terus berusaha melepaskan diri dari kungkungan Changmin. Sungguh, posisi seperti ini membuatnya tak nyaman. Apalagi tatapan mata Changmin yang ehempervertehem.
"No, I haven't, my snow white. I just kiss you on your cheek."
"Tch! Lalu, apa bedanya? Intinya 'kan kau menciumku. Sama saja dengan morning kiss."
Changmin menggeleng pelan, "Morning kiss yang ku maksud seperti ini, chagiya." Changmin langsung mencium bibir tebal Kibum. Ia melumatnya dengan perlahan seolah bibir Kibum akan hancur jika dia berbuat kasar. Kibum yang semula diam saja, kini mulai membalas ciuman Changmin. Kedua tangannya ia kalungkan di leher Changmin sementara jemarinya meremas pelan rambut Changmin, menandakan ia meninkmati ciuman dari Changmin.
"Eungghh..." desahan pelan lolos dari mulut Kibum. Mendengar desahan Kibum, Changmin langsung menghentikan ciumannya. Ia tak ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lagipula, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk 'melakukannya' jika mereka sudah menikah nanti. Changmin menatap Kibum yang masih terengah-engah akibat ciuman mereka. Changmin menempelkan dahi mereka. Saat Kibum menatap matanya, saat itulah dia berkata, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Kim Kibum."
Kibum terdiam. Kata-kata itu terlontar lagi dari mulut Changmin. 'Jangan ucapkan lagi, Changmin. Jangan membuat perasaan bersalahku semakin besar,' batin Kibum. Tanpa ba-bi-bu lagi, Kibum mengecup singkat bibir Changmin. "Sudah, lepaskan pelukanmu. Aku tak ingin Jaejoong eonni menunggu terlalu lama," kata Kibum sebelum ia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas.
"Kau selalu menciumku jika aku mengatakannya. Aku hanya ingin kau membalasnya, bukan menciumku," bisik Changmin lirih.
.
.
.
Siwon menatap ponselnya. Dia masih dalam posisi yang sama setelah menutup sambungan teleponnya dengan Kibum secara sepihak. Wajar saja jika Kibum pergi kencang dengan kekasihnya, mengingat sekarang adalah hari minggu. Tapi, kenapa saat ia tahu Kibum akan kencan dengan kekasihnya, ia merasa sakit? Sakit tepat di dadanya. Sangat menyesakkan.
'Sexy, Free & Single I'm ready too, Bingo. Sexy, Free & Single I'm ready too, Bingo'
Ponsel ditangannya kini berdering. Ia melihat caller id yang terpampang di layar ponselnya. 'Kyuhyun? Ada apa dia meneleponku?' Siwonpun menggeser ikon berwarna hijau, lalu menempelkan earpiece di telinganya.
"Yeobosseyo."
'Ah, Siwon-ssi. Apa kau ada di rumah?'
"Ya."
'Kau sudah menerima undangan dariku?'
Siwon melirik sebuah undangan yang tergeletak di atas meja. Ia menemukan undangan itu menempel dipintu apartementnya semalam. Undangan pertunangan Kyuhyun dan Sungmin. Kyuhyun akan bertunangan dengan wanita yang seharusnya menjadi miliknya.
'Siwon-ssi? Kau masih disana?'
"Ya, aku sudah menerimanya. Akan aku usahakan datang. Terima kasih telah mengundangku. Bye."
Siwon menutup teleponnya lalu mencabut baterai ponselnya. Ia tak ingin diganggu untuk sementara waktu. Pikirannya sangat kacau sejak semalam. Entah kenapa, percakapan dua orang di restoran itu masih terngiang di telinganya. Sungguh menyebalkan.
Suasana ballroom sangat ramai sejak acara dimulai. Kyuhyun dan Sungmin telah bertukar cincin, itu artinya mereka berdua sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Siwon menatap Sungmin sendu, sedikit banyak dia merasa menyesal tidak bertindak cepat dalam mendapatkan miliknya. Siwon berjalan pelan kearah pasangan yang tengah berbahagia. Sungmin yang melihat Siwon mendekat kearah mereka, merapatkan tubuhnya pada Kyuhyun. dapat Kyuhyun rasakan betapa eratnya genggaman tangan Sungmin di lengannya.
"Kau kenapa, Minimi?" bisik Kyuhyun pada Sungmin. Sungmin menggeleng pelan sambil tetap menundukkan kepalanya. Hingga sapaan dari Siwon menjadi jawaban dari pertanyaannya.
"Annyeong, Kyuhyun-ssi, Sungmin-ssi."
"Annyeong, Siwon-ssi. Aku senang kau datang. Minimi, ayo balas sapaan Siwon."
"A-Annyeong, Siwon-ssi."
Siwon tersenyum maklum melihat tindakan Sungmin. "Selamat atas pertunangan kalian. Aku berdo'a yang terbaik untuk kalian. Aku tak sabar mendapat kiriman undangan pernikahan kalian."
"Terima kasih, Siwon-ssi. Oh ya, kau datang sendiri? Dimana sekertarismu yang selalu setia disampingmu?" tanya Kyuhyun dengan nada menggoda.
"Dia –"
"Kyuhyun-ah!" seru seseorang menghentikan perkataan Siwon. Siwon, Kyuhyun dan Sungmin menoleh kearah sumber suara. Siwon sedikit terkejut melihat 'dia' datang ke acara ini bersama tiang listrik itu. Ya, Siwon tak salah lihat. Kim Kibum datang bersama Shim Changmin dan tangan mereka bertautan begitu erat. Dibelakang mereka juga ada pasangan suami-istri yang dilihatnya kemarin malam. Mereka semakin dekat, Kibum menyadari kehadiran Siwon disana. Seketika hatinya merasa bersalah saat matanya bertemu pandang dengan Siwon. Ingin sekali dia melepas genggaman tangan Changmin, tapi Changmin menggenggamnya begitu erat hingga ia merasa sedikit sakit di telapak tangannnya.
"Congratulation, Evil! Akhirnya kau tunangan juga dengan Bunny tercintamu," kata Changmin.
"Hahaha.. Kau tahu, mengajaknya tunangan lebih susah daripada menyelesaikan level terakhir game yang paling sulit." Sungmin yang mendengar ucapan Kyuhyun sedikit merona.
"Changmin-ah, siapa gadis disampingmu? Ah, bukannya dia Kim Kibum? Benar 'kan Siwon-ssi? Dia Kim Kibum, sekertarismu itu?"
Siwon mengangguk singkat. Changmin yang melihat raut wajah Siwon, tersenyum kecil. Dia dapat membaca apa yang tersirat dari ekspresi Siwon. 'Sepertinya ini menarik,' batin Changmin.
"Ya, dia Kim Kibum. Disini dia bukan sebagai sekertaris tuan Choi, melainkan sebagai kekasih Shim Changmin," kata Changmin sembari tersenyum –penuh kemenangan–.
Siwon menutup matanya sejenak guna meredakan emosi yang tiba-tiba meluap setelah mendengar perkataan Changmin. Kyuhyun sedeikit terkejut mendengarnya, karena awalnya dia megira jika Kibum akan menjadi kekasih Siwon, bukan Changmin.
"Benarkah? Wah, selamat untuk kalian. Aku harap secepatnya kalian menyusul kami," ucap Kyuhyun. "Kibum-ssi, kenalkan, wanita disampingku ini adalah Lee Sungmin. Minimi, dia Kim Kibum. Aku harap kalian bisa menjadi sahabat baik seperti aku dan Changmin."
Kibum dan Sungmin saling berjabat tangan. Kini, Kibum dapat bernapas lega karena Sungmin telah bertunangan dengan Kyuhyun. Namun, dia sedikit khawatir dengan keadaan Siwon. Apa pria itu akan semakin terobsesi atau malah menerimanya dengan lapang dada? Bicara tentang Siwon, Kibum mengedarkan pandangannya. Siwon telah memisahkan diri, entah sejak kapan.
"Apa yang kau cari, Kibum-ie?" tanya Changmin saat melihat Kibum yang gelisah. Kibum menggelengkan kepalanya dan ia pun mengapit lengan Changmin, agar lelaki itu tidak menanyainya yang macam-macam lagi. Changmin menatap Kibum dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
.
.
.
Siwon berdiri di balkon ballroom seraya merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Matanya memandang pemandangan dihadapannya, namun tatapannya terlihat kosong. Untuk pertama kalinya, seorang Choi Siwon merasakan sakit hati yang sangat menyesakkan. Seandainya dia tidak berbuat hal yang 'iya-iya' pada Sungmin, mungkin dia yang akan bersanding dengan Sungmin atau seandainya dia dapat bersikap lebih baik pada Kibum, mungkin dia yang akan menggenggam tangan wanita itu. Semua hanya pengandaian yang takkan terwujud. Sungmin telah menemukan kebahagiaannya dengan Kyuhyun. Kibumpun sama. Kini, Siwon akan kembali seperti Siwon yang dulu. Choi Siwon yang kesepian.
Seseorang menepuk pundak Siwon, menyadarkan Siwon dari semua pengandaiannya. Dia membalikkan tubuhnya dan menemukan Sungmin berdiri dibelakangnya sambil menunduk dan memainkan jemari-jemarinya. "Kau yang menepuk pundakku?" tanya Siwon. Sungmin menjawab dengan anggukan. "Ada apa?" tanya Siwon lagi. Sungmin tetap bungkam. Dia masih terlihat takut –atau gugup saat berhadapan dengan Siwon seperti sekarang ini.
Merasa Sungmin akan terus bungkam, Siwon berinisiatif memancingnya. "Kemarin malam, aku datang ke sebuah restoran dan aku melihatmu dibelakang meja kasir. Saat kutanya pada salah satu pelayanmu, dia mengatakan kau adalah pemilik restoran itu. Benarkah itu?" Lagi, Sungmin menjawabnya dengan anggukan kepala tanpa melihat Siwon sedetikpun. "Aku senang jika kau mulai berbisnis. Kau bisa melanjutkan hidupmu dengan baik. Sungmin-ssi, aku minta maaf atas segala perbuatan kejiku terdahulu. Mungkin berat bagimu untuk memaafkanku, tapi aku sungguh-sungguh menyesal dan aku berjanji takkan mengganggu hidupmu lagi."
Ucapan Siwon berhasil memancing perhatian Sungmin. Sungmin mulai mengangkat wajahnya dan menatap mata Siwon. Dia melihatnya. Melihat ketulusan dan kejujuran dimata itu. Senyum manis dari seorang Lee Sungmin terlukis diwajahnya yang imut. "Dulu, kau sangat menakutkan. Sejak kau berhasil menemukanku waktu itu di Myeongdong dan kita bertemu malamnya saat pesta ulang tahun perusahaan tempat Kyuhyun bekerja (baca My Guardian Angel - KyuMin), aku selalu diliputi rasa takut dan gelisah. Aku takut jika aku akan bertemu denganmu lagi dan kau benar-benar membawaku pergi dan 'melakukannya'. Ketakutanku terus berlanjut hingga kemarin malam saat kau datang ke restoranku. Kupikir, saat itu kau telah menerima undangan pertunangan kami lalu kau akan membawaku pergi. Ternyata aku salah. Kau hanya diam saja bahkan saat kau membayar makananmu. Kau hanya meletakkan uangmu diatas meja lalu pergi tanpa melakukan apapun padaku." Sungmin berhenti sejenak.
"Malam ini, kau datang ke pesta ini dengan aura yang berbeda. Awalnya aku masih takut padamu. Aku takut kau menghancurkan pesta ini. Lagi-lagi aku salah. Ternyata kau datang baik-baik dan mengucapkan selamat pada kami. Aku merasa sangat lega. Siwon-ssi, aku telah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf. Satu lagi, aku ingin berterima kasih padamu karena kau tidak menghancurkan pesta ini dan tidak menggangguku lagi."
"Bagaimana jika aku tarik ucapanku tentang janji itu? Aku akan terus mengganggu hidupmu."
Sungmin tersentak. Senyuman yang menghiasi wajahnya mulai memudar. Wajah Sungmin terlihat semakin pucat. Siwon yang melihatnya hanya tersenyum dan membuat Sungmin semakin bertambah bingung.
"Tenang saja, aku hanya bercanda."
Sungmin menghela napas lega. "Terima kasih, Siwon-ssi. Maaf telah berprasangka buruk tentangmu."
"Tak apa."
Hening. Kini mereka berdua tengah menikmati semilir angin yang menghempaskan wajah mereka.
"Sungmin-ssi," panggil Siwon. Sungmin kembali menatap Siwon. "Ya, Siwon-ssi."
"Melihat kau tersenyum seperti tadi, mengingatkanku pada adik perempuanku, Choi Jiwon. Senyuman kalian menyejukkan hati orang-orang yang melihatnya. Aku merasakan itu padamu."
"Bolehkah aku bertemu dengannya?" Siwon terdiam. "Kau tidak bisa bertemu dengannya,"
"Kenapa?"
"Dia sudah 'pergi' bersama orang tuaku 5 tahun yang lalu."
"Kemana? Mungkin kita bisa menyusul mereka."
"Tidak. Kita tidak bisa menyusul mereka jika belum waktunya." Sungmin mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti maksud ucapan Siwon. "Mereka telah pergi meninggalkan dunia ini. Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat saat mereka akan kembali ke Korea. Saat itu, aku merasa Tuhan tak adil kepadaku. Aku ditinggalkan seorang diri. Aku sangat terpukul. Bahkan aku pernah melakukan percobaan bunuh diri, tapi berhasil dihentikan oleh karyawan kantorku saat dia mengirimkan dokumen yang tertinggal di ruanganku."
Sungmin menatap Siwon dengan iba. "Siwon-ssi, jika kau mau, aku bersedia menjadi pengganti Jiwon," usul Sungmin.
"Kau serius? Apa kau tak takut jika suatu saat nanti aku berbuat jahat lagi padamu?"
"Entahlah. Tapi, hati kecilku yakin kau bukan orang yang seperti itu."
"Gamsahabnida, Sungmin-ssi."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi. Panggil aku 'Ming', itu nama kecilku. Aku akan memanggilmu, 'Oppa'. Bagaimana?"
"Ya, bukan ide yang buruk," jawab Siwon sambil tertawa pelan.
"Eum... oppa, bolehkah aku memelukmu?"
"Eih?"
"Dari dulu aku ingin merasakan bagaimana rasanya punya kakak laki-laki, merasakan dipeluk olehnya, dimanja olehnya. Bolehkan, oppa?" pinta Sungmin dengan wajah aegyo yang natural hingga membuat Siwon luluh. Siwon merentangkan kedua tangannya dan Sungmin mulai memeluk Siwon yang kini berstatus sebagai kakak angkatnya.
"Gowawo, oppa."
"Ne, Ming."
Namun, pelukan itu tak berlangsung lama saat laki-laki yang berstatus sebagai tunangan Sungmin mendekati mereka dengan wajah merah –menandakan ia sedang menahan amarah yang begitu besar. Kyuhyun menarik Sungmin dari pelukan itu dan langsung menghajar Siwon.
Brugh!
Siwon terjatuh akibat pukulan Kyuhyun diwajahnya. Darah mulai mengalir keluar dari bibir joker Siwon. Kyuhyun menarik kerah kemeja Siwon sambil mengumpat, "Br*ngs*k kau, Siwon!" dan kembali memukul wajah Siwon. Siwon hanya pasrah menerima pukulan dari Kyuhyun, ia tak ingin membalas Kyuhyun dan membuat suasana semakin runyam. Mata elang Siwon tak sengaja menangkap sosok Changmin yang tengah menyeringai. 'Jadi, ini ulahnya,' pikir Siwon.
"Kyuhyun-ie! Hentikan!" teriak Sungmin sambil terus berusaha meraih tangan Kyuhyun yang terus memukuli wajah tampan Siwon.
"Kyuhyun-ssi! Hentikan!" Kali ini terdengar teriakan dari Kibum. Kibum berlari mendekati Kyuhyun dan Siwon diikuti Yunho dibelakangnya. Yunho membantu Kibum dan Sungmin untuk melerai pertengkaran ini dengan menarik tubuh Kyuhyun dan menjauhkannya dari Siwon. Siwon langsung ambruk saat cengkraman tangan Kyuhyun terlepas dari kemejanya. Wajahnya yang tampan kini terlihat mengenaskan, darah mengalir dari ujung bibir, pelipis dan hidungnya. Kibum panik melihat keadaan Siwon. Siwonpun pingsan dan jatuh tepat di pelukan Kibum.
.
.
.
ToBeContinue
.
.
.
Big Thanks for:
|| lyaSiBum | iruma-chan | Lee bummebum | Gakpunyanama | anin arlunerz | Guest ||
Who favs and follows this FF ^^
Maaf jika FF ini penuh dengan typo(s), karena saya malas sekali untuk cek dan ricek kembali. Jika ada typo yang parah sampai-sampai kalian tak mengerti, bisa mention di 'lvoejr'. Nanti aku periksa dan aku jelaskan pada kalian.
Maaf jika isinya tidak memuaskan. Alur berjalan cepat dan terkadang nggak nyambung dengan cerita lain. Jujur saja, aku sering ngetik FF ini ditengah malam –karena ide bermunculan saat tengah malam–. Karena itu pula aku males buat cek lagi typo yang kau buat. Mohon di maklumi m(_ _)m
Oh iya, ratingnya aku naikkan. Hanya untuk berjaga-jaga saja.
FFini aku usahakan nggak panjang. Mungkin akan berakhir di chapter depan atau 2-3 chapter lagi. Karena pada awalnya aku mau bikin FF ini oneshot/twoshot. tapi malah berkepanjangan.
Sekali lagi, aku katakan. Aku bukan orang yang gila review. Aku perbolehkan SR membaca FF ini. namun, alangkah baiknya jika kalian memberikan sedikit feedback.
Your review is my spirit
Bekasi, 28/04/2013
4:22am
With Love,
lvoejr
