Chap 2 update! menurut lady ini updatenya gak terlalu lama loh :p

HARAP DIBACA DULU!

Disini humor berkurang, jadi tolong jangan kecewa ya! lady lagi memperdalam -ceh- hubungan SasuIno nya dulu.

janji, chap depan banyakin humor plus SasuSakunya kok! (Y)

Happy reading :D


Disclaimer: Masahi Kishimoto

Gak suka? gak usah baca!


Chap 2: Gue dan Ino

Gue dan cewek di depan itu, Ino, masih tatap-tatapan. Oh ya ampun, akhirnya gue bisa melihat wajahnya lagi. Tetap gak berubah. Tetap... cantik.

"Ohoho, ternyata kalian sudah saling kenal ya?" ujar Kakashi membuyarkan lamunan gue. Ino mengangguk.

"Iya, dia teman masa kecil saya," jawab Ino yang membuat gue blush—eng... gak jadi.

"Yasudah perkenalkan diri kamu dulu," perintah Kakashi. Ino mulai maju satu langkah.

"Perkenalkan, saya Ino Yamanaka, pindahan dari Amegakure." Katanya sambil membungkuk memberi salam. Oh, suara indahnya... gue bisa denger lagi.

Gue menoleh ke arah kursi sebelah gue yang kosong. Bagus, Gaara gak masuk! Inner norak gue mulai loncat-loncat gak karuan. Yeah, gue yakin Ino pasti duduk di sebelah gue. Pasti...

"Oke, kamu duduk di..."

'Sebelah Sasuke' ayo bilang! 'Kamu duduk di sebelah Sasuke'!

"Sebelah Naruto,"

BRAK!

"Aww..." gue terpental dari kursi dengan gaya menjungkir ke belakang. Elit sekali. Disusul dengan suara tertawaan orang-orang di kelas. Gue memberi mereka deathglare satu persatu, dan mereka pun langsung garuk-garuk rambut berjama'ah.

"Sasuke kamu kenapa?" tanya Kakashi. Gue menggeleng, sementara Ino dengan tampang cengoknya.

Ino mulai berjalan mendekati Naruto. Sedangkan gue mulai berdiri lalu memperhatikan Ino. Cara jalannya... wajahnya... badannya... semuanya masih mirip seperti dulu! Hanya saja dadanya yang lebih besar tentu -smirk-.

"Yak, sekarang pelajaran olahraga kan? Ayo ganti baju!" perintah Kakashi. Semua murid langsung berdiri, kecuali Ino. Ia tetap diam di tempat.

"Ino? Kamu belum punya baju olahraga ya? Minta ke Shizune-sensei ya," ujar Kakashi seraya menatap ke arah Ino. Ino tersenyum, tapi senyuman itu tidak bertahan lama.

"Ano... Shizune-sensei yang mana? Ruangannya dimana?" tanyanya. Gue langsung teriak,

"Aku antar yuk, Ino-chan!"

Gahol, gue kalo manggil Ino pake 'aku-kamu'an loh... ada yang nanya?

"Hah? Makasih Sasuke-kun," balas Ino sambil tersenyum lalu nyamperin gue dan mengenggam tangan halus gue. Oh, co cweet. Ehm... eng...

Kita mulai berjalan melewati beberapa kelas di koridor sekolah. Dan, sekali lagi! Gue ketemu anak pinky kelas 11.B itu! Apa... jangan-jangan... JENG JENG! Dia stalker! -geer tingkat tinggi-

"Hai," sapanya. Gue menoleh sedikit.

"Siapa ya?" tanya gue. HAHA! Pembalasan dendam memang selalu indah.

"Orang yang nolongin lo pingsan kemarin." Jawabnya.

JEGER!

"Eh, petir, Ino-chan. Kita cepet-cepet ke Shizune-sensei yuk?" ajak gue. Pas banget tuh geledek muncul pas suasana hati gue lagi kayak gini. Ino tersenyum dan mengangguk. Lalu kita pun mulai berjalan meninggalkan gadis jelek, gembel, dekil, sialan, rambut abal dan sok manis itu.

Saat sudah beberapa langkah berjalan, gue memamerkan jari tengah tangan kiri gue kepadanya.

BRUAK!

"ANJRIT!" umpat gue gak sengaja. Ino juga langsung kaget. Gimana enggak? Yang sekarang gue lihat adalah kursi melayang yang entah darimana. Saat gue nengok, terlihatlah gadis yang-buat-gue-pingsan-untuk-pertama-kali itu sedang tersenyum ke arah gue dan Ino. Gue menggeram pelan. Kekuatannya man... gue jadi kepikiran kamen rider. Gak nyambung.

"Woy! Jadi cewek yang sopan, kenapa? Tenaga lo tuh gede amat!" bentak gue. Dia cuma tersenyum. Sebenernya gue juga gak ada niat buat nasihatin dia. Yah, kalian tau lah, sebelah gue ada Ino, dan gue pingin terlihat bijaksana di depan dia. Ceh...

"Sorry, gue anaknya Jackie Chan." Jawabnya dan langsung kembali masuk ke kelas.

-000-

"Home run! Home run!" teriak sebagian murid 11.A memberi dukungan pada gue yang sedang berlari sekencangnya. Hujan memang sudah reda sejak si Haruno udah masuk kelas. Mungkin acara melempar kursi itu adalah pemanggil hujan? Who knows? Ngapain juga dipikirin. Gue mulai melewati base 1. Dan berlari dengan selamat. Lalu base 2, base 3 dan,

SREK!

Gue menyeret seluruh badan sehingga rata dengan tanah saat sudah hampir mencapai base 4.

"OUT!" teriak Kakashi.

What? Kok...

"Kau keluar, Sasuke-kun," ujar Ino sambil tersenyum. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah bola yang sudah ia tempelkan ke pinggang gue. Gue cuma bengong lalu berdiri dan akhirnya bertukar tempat dengan tim lawan. Muka gue emang keliatan santai, tapi inner norak gue udah pundung dari tadi gara-gara gue kalah sama cewek.

"Giliran siapa sekarang?" tanya Kakashi pada tim 2 yang sedang bermain, sementara gue dan tim 1 yang lainnya sedang menjaga. Terlihat, Ino mulai maju mengambil tongkat pemukul baseball yang tergeletak di pinggir lapangan.

"Gue yang jadi pitcher," ancam gue kepada Suigetsu yang menjadi pitcher sebelumnya dengan deathglare yang sangat mematikan. Dan Suigetsu pun dibawa ke UKS karena gagal jantung.

Gue sudah melempar-lempar bolanya ke atas dan menangkapnya lagi. Sementara Ino sudah siap dengan posisinya.

"Siap?" tanya gue pada Ino. Ia mengangguk.

Slep. Plak!

Gue melempar bola dan Ino bisa memukulnya dengan tepat. Bola melambung tinggi. Gue cengok, begitupun dengan seluruh anggota tim 1 yang menjadi penjaga. Dan,

"HOME!" teriak Kakashi.

-000-

"Wow, haha, Ino-chan, tadi kamu... jago banget mainnya," puji gue. Sebenernya sakit hati sih. Kalah sama cewek? Bakal gue tulis di diary nanti.

"Arigatou," jawabnya. Gue mendengus agak kesal. Agak iri juga sebenarnya. Tapi lupakan lah.

Kita memang sedang berjalan ke tempat parkir, gue udah janji sama dia bakal nganterin dia pulang. Hitung-hitung bisa berduaan di mobil. Ehem, tapi gue selalu inget perkataan Kaa-san. "Jangan mesum ya, Sasuke! Jangan seperti anikimu!" dan hal itu lah yang membuat gue gak berani melakukan hal-hal rated M. Apalagi disamain dengan aniki gue itu. Mending mobil gue nabrak trotoar deh.

Gue membukakan pintu mobil untuk Ino, dan dia pun masuk. Lalu gue masuk melewati pintu yang lainnya.

"Rumah kamu dimana?" tanya gue.

"Jalan Sakura nomor—"

"Jalan apa?" potong gue histeris. Kesambet apa gue semalem sampe nama jalan aja nyambung-nyambung ke makhluk itu?

"Sakura," jawab Ino enteng. Gue mendecih pelan.

"Memangnya kenapa sih, Sasuke-kun?" lanjutnya. Gue hanya bisa menggeleng.

"Gak. Rumah kamu nomor berapa tadi?"

"28."

Setelah mendengar jawaban itu pun, gue langsung menginjak gas dan menjalankan mobil keluar sekolah.

.

"Ino-chan, ingat masa lalu?" tanya gue memecahkan keheningan disitu, Ino mengangguk malu.

Flashback. Normal POV

"Hey! Kamu jangan bunuh diri!" teriak Sasuke dari kejauhan saat melihat seorang gadis kecil yang sedang berdiri di atas tebing berketinggian lebih dari 200 meter. Sesaat gadis yang Sasuke teriaki itu menoleh dengan tampang bingung lalu tak menghiraukannya. Sasuke yang mungkin sedang stress langsung berlari menghampiri gadis itu.

"Oi!" jerit Sasuke sambil mendorong tubuh gadis pirang itu ke belakang.

"Apa-apaan sih kamu?" bentak gadis itu marah.

"Kamu jangan bunuh diri! Gak baik!" balas Sasuke. Gadis itu bertambah bingung.

"Bunuh diri?" ulangnya. Nah, sekarang kebalik Sasuke yang bingung. Malu abis kalo salah. Tapi ya yang namanya anak kecil umur sekitar 10 tahunan, gak ngerti apa-apa.

"Kamu emangnya mau ngapain berdiri disitu? Bunuh diri kan?" tanya Sasuke balik. Gadis itu tertawa.

"Aku masih sayang hidup tau!" jawabnya masih sambil tertawa.

"Loh? Terus kamu ngapain disitu?"

"Memangnya gak boleh pagi-pagi menghirup udara gini?" tanya gadis itu balik. Sasuke malu abis.

"Ehehe, boleh kok," jawab Sasuke sambil menggaruk rambut emo-nya yang mencuat ke belakang.

"Nama kamu siapa?" tanya si blonde tiba-tiba.

"Sasuke. Kamu?"

"Ino Yamanaka,"

Akhirnya mereka berjabat tangan sambil tersenyum. Mungkin ini untuk pertama kalinya bagi Sasuke, bisa tersenyum senang dengan seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal asal-usulnya.

2 tahun kemudian,

Pagi yang cerah kembali membangunkan Sasuke dari tidurnya. Baru saja ia bangkit setengah duduk, tiba-tiba sudah ada yang mengetuk pintu. Dan di dengarnya suara teriakan seseorang dari luar.

"Sasuke, ada Ino!" jerit okaasan Sasuke dari luar kamar. Sasuke yang indera pendengarannya masih bekerja pun langsung berdiri dan berlari keluar kamarnya. Di ruang tamu, ia sudah melihat Ino yang sedang duduk sendirian. Okaasan Sasuke pun pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ino-chan! Kamu ngapain kesini?" tanya Sasuke senang. Tapi yang ditanya hanya menunduk. Sasuke dan Ino sudah bersahabat 2 tahun belakangan ini, sekarang mereka sudah berada di kelas 6 SD dan sebentar lagi akan memasuki jenjang yang lebih tinggi.

"Gomen, Sasuke-kun, aku harus pergi." Ujar Ino. Sasuke membeku di tempat, tak bergeming sama sekali.

"P—pergi? Kemana?" tanya Sasuke terbata-bata. Sorot matanya memancarkan kesedihan yang amat sangat.

"Aku akan meneruskan sekolah di Tokyo. Gomenasai Sasuke-kun. Hontou gomenasai!" teriak Ino mulai terisak. Sasuke hanya terdiam di tempat.

"Ino-chan, kamu gak inget apa janjimu waktu itu?" tanya Sasuke yang membuat Ino kaget.

"Kamu janji gak akan pergi ninggalin aku, Ino-chan," lanjut Sasuke.

"Kita bakal ketemu lagi kok, pasti." Balas Ino. Sasuke menjulurkan jari kelingkingnya.

"Janji?"

"Janji,"

Akhirnya Sasuke bisa melepas Ino dengan senyuman. Ia tidak akan pernah melupakan janji berharga itu. Janji yang telah menyatukan mereka hingga sekarang.

End of Flashback. Sasuke POV

"Sasuke-kun! Aku malu tahu!" jerit Ino sambil memukul pundak gue setelah gue menceritakan kejadian-kejadian masa lalu kita yang sebenarnya tak dapat diungkapkan hanya dengan kata-kata. Gue hanya tersenyum. Apa dia memang sama sekali gak menyadari sesuatu? Apa dia gak menyadari kalau hubungan 'Persahabatan' yang kita jalin itu mengandung makna lebih bagi gue? Kenapa lo gak pernah tau dan gak pernah nyadar kalo lo itu first love gue?

To Be Continued

Udah tau kan Ino apanya Sasuke?

gomen ya! kan saya udah bilang, di chap ini humor berkurang. tapi chap depan janji bakal ditambahin!

maukan me review fic abal saya ini?