a/n: Semakin asyik dengan cerita ini. Happy Reading...

Terpaksa

Zin dan Zen terus kejar-kejaran, terus saja sampai Zin terpeleset dari dahan pohon dan Zin pun terjatuh dari atas pohon.

"Akhirnya kau berhenti juga Zin" kata Zen dengan pasang raut wajah seram dan menggretekan semua jari-jarinya.

"Tu...Tunggu dulu Zen... K...Kau mau apa?" TANYA Zin yang terlihat sangat ketakutan dan Zin mundur kebelakang perlahan. Zen tidak peduli dan...

'BAK BUK BAK BUK' Zen menghajar habis-habisan pada Zin.

"Makanya kalau kau bicara jangan sembarangan" ucap Zen dengan nada dingin dan tidak peduli pada Zin.

"Tapi memang benar kan... Kau menyukai gadis yang tadi?", tanya Zen sambil memegang kepalanya yang penuh dengan benjolan yang besar. Zen hanya terdiam dan wajahnya memerah, Zen menyembunyikan rasa malunya dengan membalikan badannya.

"Ayo kita kembali...Zin!", ucap Zen dengan nada 'DO' sambil memejapkan matanya dan ada angin yang berhembus.

Zin hanya mengganguk karena bingung dengan sikap Zen dan mereka pun pergi dan melanjutkan latihan. Zen tidak bisa konsentrasi pada latihannya dan ketika Zin menyerang, Zen pun terkena serangannya.

"Kau ini kenapa? Biasanya tidak bertingkah seperti itu!", pendapat dari Zin.

"Aku..." ucap Zen dengan nada lemas.

"Jujur sajalah Zen, kita kan bersaudara!", kata Zin sambil menepuk pundak Zen dan menyemangatinya.

"Zin...", ucap Zen yang hatinya sangat tersentuh.

"Sekarang kau mengatakan yang sebenarnya, kau itu jatuh cinta dengan Lisa ka?" tanay Zin dengan lembut. Zen mengangguk dengan malu dan wajahnya pun merah banyak. Zin mengerti dan meminta pada Zen untuk melanjutkan latihannya.

Pagi pun tiba, Zin terbangun karena mendengar suara seperti orang yang sedang latihan.

"Itu pasti Zen, dia latihan tanpa aku...Tidak bisa kumaafkan dia" pikir Zin yang sangat kesal dan segera mendekati tempat yang bersuara itu. Zin bersembunyi dibalik pohon dan ia melihat bukan Zen yang latihan, tapi aku yang latihan.

"Dia kan?", pikir Zin dan tanpa ia sadari Zen ada dibelakang Zin.

"Kau sedang apa disini Zin?", tanya Zen dengan nada dingin dan bersikap lebih tegas.

"A...A...aku a...a..anu... i...i..tu" jawab Zin yang kaget dan ragu.

"Ayo... Kau sedang apa?" tanya Zen lagi.

"Ah... Tidak ada!", jawab Zin dengan santai.

"Kalian melihat apa, Zin dan Zen?", tanyaku yang tanpa disadari sudah dibelakang mereka. Zin dan Zen berbalik badan dan mereka kaget.

"L...Lisa...", serempak mereka secara bersamaan.

"Sejak kapan kau ada dibelakang kami?", tanya Zen yang sangat tidak percaya.

"Daritadi...", jawabku dengan nada dingin sedingin es.

"Mengangetkan kami saja kau!", protes dari Zin.

"Kalian disini mau apa?" tanyaku lagi yang melihat gerak-gerik mereka yang sangat aneh.

"Kami...", ucap Zin yang bingung harus menjawab apa.

"Kami datang kesini untuk mengajakmu latihan bersama!", jawab Zen dengan tenang.

Aku mengangkat satu alis mataku "Begitu" ucapku dengan santai. "Sekarang kalian berdua ikut aku!" perintah dariku dengan sikap yang tegas dan meninggalkan Kusanagi Kyoudai itu.

"Hei Zen, mengapa kau menjawab seperti itu?", bisik dari Zin.

"Habisnya kau menjawabnya lama sekali, makanya aku jawab ngasal aja!", jawab Zen dengan santai dan memejapkan mata.

"Hei kalian berdua mau ikut atau tidak!", tanyaku sambil menengok ke belakang.

"Tunggu kami..." serempak Zin dan Zen lagi dan mereka mengejarku.

» To Be Continue «