It's Complicated"

Disclaimer : Punya engkong saya (?), Masashi Kishimoto#plaak

Genre : Romance, Drama

Pairing : GaaIno, slight NaruIno

Summary : Gara-gara 'melarikan diri' dari lamaran Naruto, Ino rela menjadi seorang Babysitter di keluarga Sabaku. Tapi disana, ia malah menemukan masalah baru yang jauh lebih rumit.

Warning : OOC, Typo(s), Gaje, Ide pasaran, Lebay, etc

Special Thanks to :

White Azalea

El Cierto

Nyx Quartz

Sukie 'Suu' Foxie

Ann Kei

Twingwing RuRake

Yoshida Kei

Yuki Tsukushi

Lady Spain

Terima kasih banyak atas reviewnya, minna ^^

Air yang mengalir di celah-celah batu itu sangat jernih. Kelihatan lumut-lumut hijau di permukaan batu, beralun mengikuti riak air. Dua tiga ekor ikan kecil berenang-renang di sekeliling lumut. Mencoba melawan arus. Ino mengambil sebuah batu kerikil kecil, lalu dilemparkannya ke arah anak-anak ikan itu. Hatinya betul-betul pedih.

"Hei, jangan lempari ikan-ikan itu. Nanti mereka mati.."

Ino membuang muka. Dia malas sekali menatap wajah lelaki itu.

"Kenapa diam saja, Ino-chan?" Naruto duduk di sebelah Ino

"Lalu, aku harus ngomong apa? Kau yang membuatku begini, kan?" mata aquamarine Ino menatap Naruto.

Naruto tersenyum. "Ino-chan marah?"

"Kau tak pernah bilang apa-apa padaku. Tiba-tiba saja kau berbuat seperti itu. Kau ini gila!"

"Stt.. pelan-pelan saja ngomongnya. Nanti di dengar orang.."

"Biarkan saja! Aku tak peduli!"

Naruto tertawa kecil. Dia suka sekali melihat Ino marah-marah seperti itu.

"Kenapa kau membuatku begini?" Ino bersuara lirih

"Buat apa?"

"Kenapa kau menyuruh keluargamu datang kerumahku? Aku tak suka!"

"Biar mereka saling berkenalan.."

"Untuk apa?"

"Untuk memudahkan kerja di kemudian hari.."

Ino mendengus. Dia pun beranjak bangun. Menjauhkan dirinya dari lelaki itu.

"Aku tak suka.." Ino berpaling. Cepat-cepat Naruto menarik tangan Ino.

"Ino-chan, jangan marah-marah begitu dong, aku serius. Aku menyukaimu.."

"Suka bukan berarti kau boleh melamarku sesuka hatimu.. tanpa memberitahuku, tanpa membicarakannya denganku.. tiba-tiba kau datang begitu saja. Aku juga punya perasaan!" Ino meninggikan suaranya.

"Ino-chan, aku minta maaf kalau cara aku itu salah. Tapi aku rasa itu cara yang lebih baik. Aku pikir kau mengerti perasaan aku selama ini.." Naruto berdiri di hadapan Ino.

Ino menarik nafasnya dalam-dalam. Kalau menuruti emosinya, rasanya ingin sekali dia mendorong lelaki itu ke sungai.

"Aku ini bukan cenayang yang bisa membaca perasaan orang, Naruto. Aku tak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Suka kah.. benci kah.. aku tak bisa menebak perasaan orang. Yang aku tahu, hati aku sendiri. Aku belum bersedia pacaran.. tunangan.. menikah.. itu semua tidak ada dalam kepalaku."

Wajah Naruto mendadak mendung. Di tatapnya Ino lama, "Tapi aku mencintaimu, Ino.."

"Aku tahu. Aku tidak melarang kau menyukaiku. Tapi aku tak bisa menerima caramu itu. Pacaran saja belum, kau langsung main lamar saja.."

"Jadi, kita boleh pacaran?"

Ino kehilangan kata-kata

"Maksudnya, mulai dari sekarang, kita boleh mulai berpacaran?" Naruto tersenyum ceria. Ino menggeleng. Mulai berpacaran? Aissh!

"Yosh.. mulai sekarang kita adalah pasangan kekasih.."

"Cukup.. cukup! Pasangan kekasih? Apa-apaan kau ini? Aku tak mau pacaran dulu!" Ino menarik tangannya. Dia mendengus lagi. Kesal sekali dengan perlakuan lelaki itu. Selama ini Naruto tidak pernah menunjukkan perasaannya. Tapi bila sekali di tunjukkan, langsung main lamar saja. Seram Ino di buatnya.

"Ino-chan.." Naruto mengeluh

"Jangan begitu Naruto. Nanti orang lain tahu, aku malu."

"Apa yang kau malukan?"

"Iyalah .. aku ini sekolah tidak terlalu tingggi, kerja pun tak dapat. Hanya duduk di rumah menjaga toko bunga.." Ino menelan liur. "Tiba-tiba saja akan menikah... apa kata orang nanti?"

Naruto menggeleng. Bibirnya mengukir senyuman.

"Astaga Ino-chan! Kenapa pikiranmu sampai sejauh itu? Biarlah orang berpikir sesuka hati mereka. Kau kan gadis rumahan. Duduk dirumah, terus di lamar orang."

Ino mendengus. Malas sekali dia mendengar omelan lelaki itu lagi. Dia ingin segera angkat kaki dari situ. Tapi sekali lagi tangan kekar Naruto menahannya.

"Aku ingin tahu keputusanmu sebelum akhir bulan ini. Kalau kau setuju, aku akan balik ke Tokyo." Ino memandang Naruto lama. "Setelah kita bertunangan, aku akan balik ke Tokyo untuk mencari pekerjaan disana. Kerja di sini pun penghasilannya tidak seberapa. Lagipula, Kaa-san memintaku untuk pulang ke Tokyo. Sudah 3 tahun aku disini.."

Ino tidak bersuara. Dia berpaling, ingin segera pergi. Naruto segera mengekorinya.

"Ino-chan.. aku ingin tahu keputusanmu.." Naruto bersuara

"Aku tak tahu." Balas Ino pendek

"Kau hanya perlu jawab 'ya' atau 'tidak',"

"Kalau aku bilang 'tidak'?"

Naruto berhenti melangkah

"Tidak ada sedikitpun perasaan padaku?"

"Tidak untuk sekarang."

"Akan datang?"

Haishh.. Ino mendengus. Keras kepala sekali sih laki-laki ini?

"Beri aku waktu.."

"Kau tidak akan mengecewakanku, bukan?"

Ino hanya diam saja.

"Baiklah, aku tunggu.." jemari Naruto menggenggam jemari Ino.

Ino menarik tangannya. 'Baru aku beri waktu, sudah pegang-pegang tangan! Haish!' Ino mendengus.

"Kalau Ino-chan setuju.. aku akan segera mencari pekerjaan di Tokyo.." sekali lagi Naruto mengulangi

"Baru ingin cari duit?" Ino tertawa kecil. "Berarti kau belum ada duit untuk menikah. Lalu, kenapa kau melamarku?"

"Karna aku tidak ingin kau di ambil orang!" Naruto memandang Ino dalam-dalam. Ino cepat-cepat mengalihkan pandangan

Udara malam itu agak panas. Ino membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Dari jauh dia melihat kerlipan cahaya lampu yang samar-samar dari luar. Sudah hampir jam 12. Banyak rumah rumah di sekeliling yang sudah gelap. Dan baru tadi dia mematikan lampu di kamarnya. Itupun setelah ditegur Tou-sannya yang kebetulan ke kamar mandi.

Ino merasa gelisah malam itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" Ino mengeluh. Wajah Naruto yang bersungguh-sungguh menerpa di ruang matanya.

"Tolak... atau terima?" Dia menelan liurnya

"Kalau di tolak..kasihan..tapi kalau di terima...mmm... apa aku menyukainya?" Ino menggelengkan kepalanya

"Aku suka pun... suka gitu-gitu saja.. tak ada niat sampai menikah segala. Naruto ini.. gila sekali.."

Ino sendiri tidak mengerti, sejak kapan Naruto punya perasaan terhadapnya? Mereka kenal bukannya lama. Walaupun sudah 3 tahun Naruto menetap di Konoha, Cuma setahun yang lalu mereka mulai berteman. Sejak Naruto pindah ke kelasnya. Kebetulan pula Nenek Tsunade selalu membeli bunga di tokonya. Maka hampir tiap minggu, Naruto lah yang datang ke tokonya. Setiap kali Naruto datang, Ino lah yang terpaksa melayaninya. Sejak itu Naruto selalu senyum-senyum kepadanya. Dan mereka selalu berjumpa di Lapangan sambil di saksikan oleh Tenten dan Hinata.

"Itu saja.. sebatas jumpa, ngobrol-ngobrol seperti biasa.. aku tidak tertarik pun padanya." Ino menggigit bibirnya.

Ino membiarkan jendela kamarnya terus terbuka. Dia merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Otaknya sibuk mencari alasan terbaik untuk menolak lamaran Naruto. Sore tadi, Kaa-sannya bertanya lagi.

'Ahh.. aku harus bilang apa? Masa tolak mentah-mentah begitu saja?'

"Mau beri alasan sambung sekolah.. sekolah pun tak tau kemana. Mau kerja.. kerja pun tak dapat-dapat. Duduk diam di rumah, datang orang melamar pula.. aishh! Susah sekali jadi perempuan!" Ino menggerutu dalam gelap. Dia mencoba memejamkan matanya. Mencoba memadamkan bayangan Naruto yang muncul di benaknya. Sejak 2-3 hari ini, wajah lelaki itu selalu ada dimana-mana!

"Siapa ini?" suara di ujung telepon terdengar

"Ino!"

"Ohh.. Ino.. Nee-chan sedang masak nih.."

"Aissh .. Shion-nee! Aku mau ngomong sesuatu nih sama Nee-chan.."

"Sebentar..sebentar.. Nee-chan kecilkan api di dapur dulu."

Ino tersenyum. Dia menanti seketika sambil jarinya memelintir tali telepon.

"Ne, Ino-chan.. pagi-pagi sudah telepon, ada apa?" suara di ujung telepon terdengar lagi

"Mm.. Aku mau ngomong sesuatu nih dengan Shion-nee.." Ino menoleh ke dapur. Takut kalau-kalau Kaa-sannya ada di situ.

"Apa itu?"

"Mm.. aku ingin tempat Nee-chan ada kerjaan kosong tidak?"

"Ck, dasar kau ini! Dulu aku suruh datang ke sini cari kerja, kau tak mau. Nah ini, sudah berubah pikiran pula. Kenapa?" Shion tertawa kecil

"Tidak apa-apa.. aku sudah bosan duduk di rumah terus. Mm.. lagipula .. aku sedang ada masalah.." Suara Ino mengendur. Dia tidak mau kalau Kaa-sannya tahu dia mengadu pada Shion-nee.

"Masalah apa?"

"Mm.. Mmm.. sebenarnya ..."

"Sebenarnya apa? Mau pinjam duit?"

"Eh..bukan!bukan! Bukan masalah duit. Emm.. begini.. Kemarin ada orang yang datang kerumah."

"Siapa?"

"Tidak tahu. Aku juga tidak terlalu kenaal.." Ino memejamkan mata. Dia tahu Shion-nee tak akan percaya kalau dia cerita masalah yang sebenarnya.

"Lalu kenapa?"

"Mereka kan.. mereka datang .. melamarku.."

"Melamar siapa?"

"Melamarku, Nee-chan!" Ino menutup muka karna malu. Suara di seberang mendadak senyap seketika.

"Nee-chan... dengar tidak?"

"Melamarmu?" Ino mengangguk, walaupun dia tahu Shion-nee takkan melihatnya.

"Benarkah?"

"Tck! Tuh kan, Nee-chan tak percaya.." Ino mengeluh. Dia mendengar gelak tawa di seberang.

"Aissh.. Nee-chan! Jangan tertawakan aku !"

"Nee-chan benar-benar tak menyangka kalau adikku ini sudah di lamar orang. Kecil-kecil kau sudah pacaran ya Ino.." kata Shion sambil tetap tertawa. Ino jadi geram

"A-ahh.. bu-bukan begitu, Nee-Chan!"

"Hahaha." Shion mencoba menghentikan tawanya. "Lalu, kau mau tidak?"

"Aku tidak mau.. tapi aku tak tau bagaimana mengatakannya pada Tou-san. Kaa-san bilang kalau sudah tidak bekerja, tidak sekolah, lebih baik kawin saja.. tapi aku tidak mau begitu, Nee-chan!" Ino menjulurkan tangannya untuk mengambil kursi di dekat TV. Capek kakinya berdiri terus.

"Kalau tak mau.. buat apa kecil-kecil pacaran?"

"SIAPA JUGA YANG PACARAN, NEE-CHAN?" Ino cepat-cepat menutup mulutnya ketika menyadari suaranya semakin keras.

"Lalu, kau mau lari ke sini, eh?"

Ino meringis. Kalau dia dapat kerja, dia bisa memberi alasan pada orangtuanya untuk menolak lamaran tersebut. Dia bisa memberitahu Naruto sebab dia tak mau terikat sekarang. Dia sudah mendapatkan pekerjaan!

Senyum terukir di bibirnya. 'Ini benar-benar ide yang bagus. Hahaha.. Yamanaka Ino, kau memang pintar'

To Be Continued

Maaf update nya lama .
Gaara nya belum muncul di chap ini. Mungkin dia baru muncul di chap depan
So, readers di harapkan bersabar sejenak yah?#bletaak

Review please :D