Langit hitam dihiasi oleh puluhan bintang yang berserakan, serta cahaya dari bulan yang bulat. Tak ada satu awan pun terlihat di langit, malam ini begitu cerah. Tapi tidak bagi Jongin, ini tidak akan merubah apa yang tengah ia lalui.
Ruangan cukup besar itu gelap, hanya lampu belajar yang menyala menjadi alat penerangan dengan tumpukan-tumpukan buku dan alat tulis diatas meja belajarnya.
Tangannya terus bergerak menuliskan sebuah rumus di buku tulisnya sembari membolak-balik kertas buku cetaknya. Pandanganya tak pernah lepas dari buku-bukunya setelah makan malam tadi. Menngurung dirinya di dalam kamar dari pada berbincang-bincang dengan keluarganya bersama Luhan.
Sebenarnya tidak masalah bagi Jongin Luhan berada disini, bahkan Jongin merasa senang karena dirumah ia tidak akan kesepian lagi kalau kedua orang tuanya pergi.
Semenjak Luhan bergabung kedalam keluarganya ia membawa perubahan bagi keluarga Jongin. Mengubah kedua orang tuanya untuk menyempatkan diri untuk pulang kerumah, hanya saja perubahan itu tidak berdampak baginya.
Meskipun mereka sama-sama pandai dalam suatu hal yang sama tapi mereka orang yang berbeda. Berbeda DNA, kepribadian, dan beberapa hal yang dapat dilihat oleh mata orang.
Jongin orang yang tertutup. Selalu memendam perasaan dan keinginannya dalam hati. Sedangkan Luhan orang yang easy going, dapat mengutarakan perasaan dan keinginannya secara blak-blakan. Meskipun mereka sama-sama disenangi banyak orang, tentu saja reaksi mereka berbeda.
Memikirkan Luhan, Jongin meletakkan pensilnya dan bersandar dikursi belajarnya. Memutar kursi beroda itu dan berhenti berputar menghadap arah jendela kamarnya.
Jongin meregangkan tubuhnya, berjalan kearah jendelanya untuk melepas penatnya. Kilasan kejadian tadi sore sempat melintas dipikirannya dan suara Baekhyun terus terngiang.
.
.
.
Flash Back
"Kau tidak apa-apakan?"
Pertanyaan itu terdengar kembali di pendengaran Jongin setelah mereka berdua keluar kedai itu.
"Ya." Singkat, Jongin menanggapinya. Menatap hyung cantiknya ini seakan ia tidak apa-apa.
"Jangan bohong. Aku bisa melihatnya," Baekhyun menepuk bahu Jongin pelan. "Kau meragukanku? Dengar ya divamu ini calon psikolog tau!"
Hanya senyuman yang Jongin berikan, melangkahkan kakinya bersamaan dengan langkah Baekhyun.
"Jadi?" Baekhyun sedikit menggantungkan pertanyaannya, menunggu reaksi Jongin yang tengah melihat deretan isi toko-toko yang mereka lewat.
"Kenapa hyung bisa ada disana? Bukannya kuliah?"
Bibir Baekhyun langsung maju karena pertanyaannya tidak dijawab. "Ck, kau lupa dengan sifat Chanyeol? Tukang geratisan seperti dia tidak akan melewatkan hal seperti ini dan jawab pertanyaanku tuan Kim."
Jongin mengendikkan bahunya, "Menurut hyung?"
Baekhyun menahan nafasnya, seakan dengan seperti ini kekesalannya dapat ia tahan. "Huh! Sifat menyebalkanmu tidak hilang ya? Padahal sebentar lagi kau akan lulus dari sana. Terlihat dari tatapan mata dan gerak-gerikmu itu." Jawabnya kesal.
Jongin menganggukkan kepalanya mengerti, menambah rasa kesal Baekhyun.
"Untung saja dia tidak merebut kamar tidurku." Ucap Jongin asal. "Apa aku terlihat payah hyung?"
Tekukan di wajah Baekhyun menghilang begitu mendengar perkataan itu. Apa Luhan mengambil segalanya dari Jongin?
Baekhyun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Sifatmu itu tertutup dan hem kadang kau tidak jujur dengan perasaanmu kalau tidak ditanya bertubi-tubi. Dan aku lihat kau tidak terlihat payah Jongin, manusia memiliki batasnya sendiri. Mungkin kau sedikit tertekan dengan sistem belajarmu itu. Apa kau masih menyukai Sehun?"
Langkah Jongin terhenti, otomatis Baekhyun juga menghentikan langkahnya.
'Sepertinya aku salah bicara.' Batin Baekhyun tersenyum masam dan menggaruk tengkuknya.
"Kau mau kemana sebelum pulang? Mau kutemani?" tawar Baekhyun berusaha mencairkan suasana.
"Tidak, aku ingin pulang." Suaranya terdengar serak, menatapnya dengan mata berair.
Baekhyun langsung merengkuh tubuh Jongin, "Maafkan aku," bisiknya, "Akan kuantar pulang sekarang, mobilku terparkir tidak jauh dari sini."
.
.
.
Angin malam sedikit membuat tubuh Jongin menggigil namun suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Menatap pintu yang terbuat dari kayu itu penasaran.
Ketukan untuk kedua kalinya membuat kakinya melangkah cepat. Setelah membuka pintu itu orang yang tidak ingin Jongin temui muncul.
"Ada apa?" tanyanya sedikit dingin.
Luhan tersenyum, "Begini, sebentar lagi ulang tahun Sehun bagaimana kalau kita merayakannya bersama?" Kedua mata rusa itu berbinar menunggu jawaban darinya.
Jongin sempat tertegun mendengarnya, ia lupa kalau ulang tahun Sehun datang sebentar lagi.
Jongin tampak berfikir sebentar, "Hem... maaf sepertinya aku tidak bisa. Sebentar lagi kompetisi dance akan dimulai jadi aku perlu latihan dan—
"Tak apa," Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, "aku mengerti, maaf kalau aku mengganggumu."
Ia ikut mengangguk setelah itu Luhan berjalan menjauh darinya. Sebelum menutup pintu sekilas ia mendengar suara ayahnya berbicara dengan Luhan.
"Ah, Luhan kenapa disini? Apa ada perlu dengan Jongin?"
Suara berat itu terdengar berbeda ditelinganya jadi ia menutup pintunya tanpa membuat suara keras. Ia terdiam, meskipun dengan samar ia masih mendengar mereka berbincang diluar sana ia tidak berniat untuk beranjak dari depan pintu.
Suara mereka pun menghilang, terganti dengan suara langkah sol sepatu yang terdengar semakin dekat dengan kamarnya.
Suara ketukan pintu membuatnya susah menelan salivanya. Bukannya ia takut dengan ayahnya, ia hanya tidak ingin mendengar suara berat yang dingin itu. Terpaksa Jongin membuka pintu itu, saling bertatap muka sebagai anak dan ayah seperti lainnya.
"Abeoji? Ada perlu apa?" tanya Jongin sedikit takut.
"Apa kau sudah menentukan universitas setelah lulus nanti?" suara itu berbeda.
"Iya, aku memilih Korea University."
Tak ada suara yang terdengar lagi setelah itu, "Bagus. Kalau begitu selamat malam."
Jongin hanya menatap punggung ayahnya itu dengan sendu, menutup pintunya kembali dan menguncinya.
Tubuhnya merosot kebawah, memeluk dirinya mengingat perkataan ayahnya tadi. Meskipun ayahnya berkata bagus, tapi tidak dengan raut wajahnya yang tampak tidak suka dengan pilihanya.
"Apa aku harus menginap kerumah Baekhyun hyung 'lagi'?"
.
.
.
Kudua kelopak mata Jongin terbuka. Ia langsung mendudukkan tubuhnya di ranjang empuk milik Baekhyun. Masih dengan mata yang setengah terbuka itu, tangannya meraih jam weker disebelahnya.
Dengan pelan Jongin menyibak selimut hangat itu, meraih tas ranselnya sebelum berpamitan dengan Baekhyun yang masih molor dikasurnya.
"Hati-hati." Ucap Baekhyun dengan berguling kearah kanan, memunggungi Jongin yang terngah bersiap-siap loncat dari balkon kamar yang sederhana itu.
Seperti inilah kebiasaan Jongin waktu di JHS. Menginap dirumah seniornya ini saat merasa tertekan atau malas berada dirumah karena sendirian. Jarak rumahnya dengan Baekhyun juga tidak terlalu jauh, dengan berjalan kakipun ia bisa sampai dirumah kecil sederhana milik keluarga Byun.
Dulu sebelum Luhan datang, ia bersama dengan Sehun dan Chanyeol akan menginap disana setiap ahkir pekan. Bahkan keluarga hyungnya ini sudah menganggapnya sebagai anak mereka.
Tentu saja Jongin merasa senang, tapi ia juga tidak ingin merepotkan keluarga Byun. Yang masih Jongin ingat adalah saat makan bersama atau berkumpul di ruang keluarga karena disaat itulah Baekhyun, Chanyeol serta hyungnya Baekhyun membuatnya tertawa puas akibat celotehan yang mereka buat.
Jongin tersenyum mengingatnya, ia meloncat-loncat kecil seperti anak kecil sesekali berputar dan tertawa. Ia rindu dengan itu, tapi ia juga rindu dengan perlakuan lembut kedua orang tuanya dulu.
Sebenarnya ayah Jongin bukan seorang CEO atau pemilik saham, ayahnya hanya seorang dokter ahli bedah yang bisa dibilang sukses. Ibunya juga seorang dokter spesialis, tapi Jongin tidak tau spesialis apa. Setelah ia lulus sekolah dasar dan menjadi anak JHS kelas satu, orang tuanya semakin tidak memiliki waktu untuknya. Bahkan untuk mengambil hasil rapor dan saat ia menang kontes dance untuk pertama kalinya mereka tidak datang.
Ia ingat waktu ia masih kecil. Saat pagi ibunya berada di dapur sedang memasak, ayahnya yang tengah membaca koran duduk santai dengan secangkir kopi sebelum berangkat kerja. Mereka berdua tersenyum begitu dirinya datang mencium aroma wangi dari dapur.
Ibunya selalu mengecup kedua pipinya yang chubby saat ia sudah duduk di kursi, terkadang ayahnya akan mengelus kepalanya atau bertanya apakah tidurnya nyenyak.
Ya, hanya itu saja yang dapat Jongin ingat, selebihnya ia melupakannya. Lalu datanglah Luhan. Luhan memiliki warga kenegaraan Cina, sedangkan Jongin warga kenegaraan Korea Selatan. Meskipun mereka memiliki perbedaan bahasa dan identitas negara, itu tidak masalah. Toh Jongin merasa senang dengan kedatangannya, bahkan Jongin selalu mengajak Luhan bermain bersamanya.
Alasan kenapa Luhan bisa berada di Korea adalah kedua orang tua Luhan dibunuh karena ayahnya telah berani menyebarkan rahasia atasanya yang telah melakukan korupsi terhadap uang pembayaran di salah satu universitas (atasanya sudah dipenjara sampai saat ini). Meskipun sudah ditangkap dan dihukum, orang tuanya tidak akan kembali di sisinya.
Karena tidak ada yang mau mengurusnya, ahkirnya keluarga Jongin mengambil hak asuh. Membawa Luhan pindah ke negara baru.
Awalnya Luhan masih takut terhadap orang tuanya, tapi ketika Jongin menampakkan diri dari belakang ibunya mata rusa itu menatapnya lekat. Tanpa sadar Jongin mengulurkan tangannya, mengajak Luhan berkenalan walau ia tidak pernah melihatnya.
Mulai saat itu Luhan menjadi temannya. Luhan juga masuk di sekolah Jongin dan sekelas dengannya. Mendengarnya Jongin bertambah senang, tapi rasa senang itu berubah.
Semua berubah ketika Luhan benar-benar nyaman dengan tempat tinggalnya yang baru.
TBC
Ye~ chap 2 is update now ^^
Wah ternyata banyak yang review ya, aku kira ceritaku nggak menarik...
Pada kebayang sama lagu Loser-nya Big Bang ya? Sebenernya waktu buat ini ff sempet dengerin lagunya, tapi nggak tau kenapa feelnya nggak dapet?
Untuk yang minta ff ini diperpanjang, #bow maaf sekali nggak bisa aku turuti sekarang. Gara-gara aku liat tumpukan komik pinjaman di belakang laptop jadi nggak konsen =='
Tapi aku usahain di chapter depan aku perpanjang wordnya ^^. Terimakasih juga untuk semangatnya!
Big Thanks for You! :
miyuk | Jiji Park lustkai jjong86 Dhara432 Kamong Jjong tokisaki oohsehun12 bubbleosh k1mut sayakanoicinoe Gues 1 | Gues 2 | Hun94Kai88 | cute | mozart kim | dhantieee da94 | luna | kimm bii | Fladia | sexkai BabyWolf Jonginnie'Kim
Dan bagi yang sudah memfollow/fav ff ini terimakasih banyak \^^/ Aku bakalan berusaha sebaik mungkin (maaf aku nggak nyebutin nama kalian)
P.S aku sedikit khawatir sama chapter ini semoga tidak mengecewakan kalian
