"Loncatlah jika kau mau , aku akan berpura-pura tidak melihat,"
Ucapan dingin dengan nada rendah terdengar tanpa peduli jika Hinata bisa saja terjatuh karena terkejut, untungnya Hinata punya penguasaan diri yang baik. Hinata memutuskan untuk turun dan berdiri berhadapan dengan orang yang kini sedang menatapnya tajam.
"Niisan.."
.
.
.
Chapter 2 : Topeng
Warning : Typo, tidak menyesuaikan EYD.
DLDR!
.
.
Kedua manik serupa itu bertatapan cukup lama dengan raut yang berbeda, pria itu menghela nafas sebelum mendekati Hinata dan menggandeng tangannya.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi Hinata,"
"Neji-niisan.."
Neji menarik tangan adik sepupu nya itu, membawa nya turun dari atap. Dalam hati ia bersyukur tidak terlambat datang untuk menyusul Hinata kesekolah, jika Hinata sempat untuk loncat dari atap, ia tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupannya kedepan.
Akhir-akhir ini semuanya semakin sulit bagi mereka berdua.
.
.
.
"Naruto , kemana saja kau? Kushina-baachan menelpon ku beberapa kali, sudah selarut ini dan kau juga belum pulang. Lagi-lagi kau membuat semua orang khawatir! Pulanglah atau ku hajar kau besok disekolah!"
Naruto memandangi ponsel nya dengan wajah drop, Sakura semakin lama semakin mirip dengan Ibu nya. Sudah terlalu sering Sakura akan menelpon nya jika ia pulang larut atau jika ia membolos jam pelajaran, Sakura akan mencarinya lalu menghajarnya habis-habisan.
Hah.. Sahabat memang harusnya seperti itu kan? Setidaknya Naruto bersyukur masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya.
Selesai menutup pesan suara dari Sakura, tanpa berniat membalas Naruto pun melanjutkan perjalanan.
Keadaan tengah kota masih ramai padahal sudah hampir tengah malam, Naruto pulang pergi kesekolah hanya dengan menggunakan Transportasi umum, ia menolak mentah-mentah mobil-mobil mewah yang ibunya berikan untuk ia gunakan kesekolah. Menurut Naruto berjalan kaki itu sehat, selain itu dirinya suka melakukan Parkour , meski selalu berakhir dengan luka-luka disekujur tubuhnya.
Langkah Kaki Naruto membawa nya ke tempat yang sering ia kunjungi, sebuah kedai yang diapit dua gedung tinggi. Ia memasuki kedai yang kelihatannya masih ramai oleh pengunjung.
"Oi Naruto! Mengapa masih memakai seragam? Jangan bilang kau belum pulang kerumah?"
Naruto disambut oleh pertanyaan seorang pria tua yang ia kenal cukup lama. Pria tua yang kini merangkak sebagai kakek angkatnya.
"Ahahaha aku terlalu asyik jalan-jalan sampai lupa waktu Jiraiya-jiisan," Naruto menjawab dengan senyuman lima jarinya seperti biasa, Pria tua bernama Jiraiya itu mendekat dan memberikan jitakan keras dikepala kuning Naruto.
"ITTAII! Aduhh sakit Jiisan," Naruto meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya, selalu seperti ini jika ia tidak pulang kerumah.
"Pulanglah Naruto, Ibumu pasti khawatir,"
Mendengar hal itu Naruto mendengus kesal."Tidak mau! Kalau Jiisan ingin mengusirku dari sini tidak masalah, aku akan pergi ketempat lain,"
Naruto baru saja hendak berbalik melangkah sebelum tangan besar menahan pergelangan tangannya. Itu Jiraiya , pria tua itu menghela nafas menghadapi tingkah cucu angkat nya yang begitu kekanakan.
"Baiklah, kau boleh disini Naruto, tidurlah dikamar milikmu,"
Emosi Naruto menguap dengan cepat, berganti dengan cengiran lebar dan ujaran semangat."Siap bos,setelah berganti pakaian aku akan membantumu mengurus kedai," Setelah mengatakan itu Naruto berlari menuju lantai atas, Jiraiya menatap kepergiannya nya dengan datar.
"Minato, sepertinya dia masih saja memberontak.."
.
.
.
.
Sasuke datang kesekolah lebih awal dari biasanya, koridor juga masih sepi. Hawa dingin masih menyeruak membuat telinga nya memerah, setelah mengganti sepatu nya dengan uwabaki, Sasuke berjalan tenang menuju kelasnya.
Di persimpangan Koridor, ia berpapasan dengan gadis bersurai Indigo panjang, Sasuke melirik sekilas dengan mata, hal sama yang dilakukan oleh gadis itu. Kedua insan itu seolah beradu tatapan datar, hanya sekilas , setelah saling melewati bahu mereka kembali menatap ke depan tak acuh.
'Hyuuga..' Batin Sasuke, menyadari sosok tadi adalah orang yang mengalahkan dirinya di rangking sekolah.
Tidak heran mengapa Gadis itu datang sepagi ini, atau mungkin ia datang pagi-pagi buta, karena ia punya dunia sendiri yang tidak akan pernah orang lain mengerti.
Sasuke menduduki bangku nya yang berada di barisan kedua deret ketiga, tepat bersebelahan dengan Shimura Sai. Saat ini hanya ada dirinya dikelas, Sasuke mengeluarkan bebarapa buku pelajaran dan membaca nya dengan bosan.
Terkadang ia merasa jengkel juga dikalahkan oleh orang seaneh Hyuuga Hinata, jika ia dikalahkan oleh Shikamaru Nara yang ber Iq tinggi tidak masalah. Toh mereka masih sama-sama laki, tapi jika ia dikalahkan oleh seorang perempuan rasanya ada gejolak di dalam dirinya seolah berseru meremehkan dirinya,
Shikamaru memang cerdas tapi salahkan saja kemalasan dan kurangnya motivasi dalam dirinya, sedangkan Sasuke sendiri cukup rajin, Sasuke tidak suka kemalasan. Sikap Ulet dan Etos kerja sudah diajarkan oleh Kakeknya sejak ia kecil, karena itu rekor kehadiran sempurna-nya tidak ada yang bisa menandingi.
Tapi..
Hinata mengalahkan nya dengan sangat mudah..
"Cih .."Sasuke mendecih ketika menyadari waktu nya terbuang percuma karena memikirkan rival nya dalam bidang akademi itu, mendadak ia tidak selera untuk membaca.
CLING
Bertepatan dengan itu ponsel nya berbunyi. Notifikasi pesan singkat, pada layar ponsel nya tertulis nama sahabat musim semi nya.
Sakura
Ohayou Sasuke, apa kau sudah disekolah? Apa kau tau , Kemarin malam Naruto tidak pulang kerumah lagi, Kushina-baachan yang memberitahuku.
Ugh, kenapa ia dikelilingi oleh orang-orang yang membuat ia sebegini nya sakit kepala? Pertama si Hyuuga aneh perebut rangking , kedua Sahabat masa kecil mu yang memberontak dengan keadaan, Lalu setelah ini apa? Huh Sasuke bersyukur Sakura merupakan orang terdekatnya yang cukup normal, sehingga ia bisa membagi apapun dengan gadis itu.
Ia memandangi ponsel nya cukup lama, sampai-sampai tak menyadari murid-murid sudah berdatangan, koridor yang tadi nya sunyi berganti dengan keramaian langkah kaki dan cekikikan murid perempuan. Kelas sendiri sudah terisi oleh beberapa orang, termasuk si kuning menyebalkan yang masuk kelas dengan suara memekikan telinga.
"OHAYOU MINNA!"
Disaat orang-orang memakai Blazer hitam dengan garis luar berwarna merah di beberapa bagian dan bawahan kotak-kotak biru malam, Pemuda pirang itu malah memakai jaket sweater abu-abu yang tidak tekancing sepenuhnya, celananya masih sama dengan siswa lain.
Masih dengan cengiran lebar nya ia berjalan ke pemuda dengan rambut ayam yang menatap nya tidak suka. Shappire bertemu Onyx.
"Hoi Teme Ohayou!"
"Urusai, kau darimana saja semalaman?"
Naruto tidak terkejut jika sahabatnya satu ini mengetahui setiap ia tidak pulang kerumah.
"Aku menginap dirumah Jiisan lagi. Kupikir aku harus membantu nya karena malam kemarin kedai nya sangat ramai,"Naruto tidak bohong, kemarin kedai Jiraiya memang sedang dipenuhi pelanggan. Sasuke menatap nya penuh selidik sebelum menghela nafas singkat.
"Terserah,"
Naruto meletakkan tas nya di meja tepat di depan bangku Sasuke, hal yang percuma ketika ia setiap hari membawa tas dan buku-buku pelajaran, padahal ia sendiri tidak pernah menghadiri jam pelajaran.
Setidak nya orang tua nya berpikir ia betul-betul serius belajar, Naruto benci berbohong tapi ia benar-benar tidak suka dikendalikan.
Ah memikirkan orang tua nya, ia jadi teringat ia lupa memberi kabar. Biarlah, paling-paling Ibu nya hanya menasihati nya dengan omelan yang tiada habisnya, Naruto benar-benar tidak peduli.
.
.
.
.
"Kaichou, apakah kau sudah selesai?"
Gaara menoleh singkat pada teman sekaligus Sekretaris OSIS nya, Habatake Matsuri. Gadis itu berdiri sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
"Hn.. aku sudah merekapitulasi berkas registrasi nya, sekarang hanya perlu menandatangani sebagian Proposal Klub kan?"Tanya Gaara Kalem seraya menyambut beberapa berkas dari tangan Matsuri.
"Iya hanya beberapa lembar, Kaichou. Jadi setelah ini kita bisa masuk jam pelajaran pertama,"
Gaara mengangguk singkat, sudah lama ia melewatkan jam pelajaran karena tugas-tugas OSIS , meskipun begitu nilai-nilai nya masih tetap baik dan tidak pernah mengalami penurunan.
Gaara berada di kelas B. Berbeda dengan Naruto dan kawan-kawan yang berada di kelas A. Di sekolah ini ruangan kelas tidak ditentukan berdasarkan nilai , semua ditempatkan secara random, hal ini untuk mencegah diskriminasi.
Ketika sedang asyik mengerjakan beberapa dokumen, seorang pemuda ternyata sudah masuk ke dalam ruangannya, Gaara melirik nya sekilas.
"Kenapa tidak izin dulu sebelum masuk?"Tanya Gaara dingin, Pemuda itu hanya mendesah malas.
"Kukira seorang dewan kesiswaan tidak perlu izin untuk masuk ke ruangan kaichou nya sendiri..."Ada jeda sebentar sebelum pemuda itu melanjutkan."..Apalagi Kaichou nya itu adalah adik iparmu,"
Twicht
Gaara meletakan pulpen nya di meja dengan cukup keras, ia menatap tidak suka ke pemuda berambut nanas yang berdiri dengan malas."Jangan mengatakan itu seolah kau sudah menikah dengan kakakku,"Protes nya tidak suka.
Shikamaru terkekeh pelan, membuat Gaara marah merupakan hiburan kecil bagi nya.
"Heh Mendokusai, tugas ku untuk mengurus murid-murid nakal dan bermasalah kan? Satu-satu nya murid yang susah diatur sekarang hanya tunggal Namikaze, kenapa tidak kau suruh Haruno saja? Kau bisa melihat dengan jelas Interaksi kedua nya yang seperti Pengasuh dan anak balita,"Ujar Shikamaru panjang lebar, jika berhadapan dengan tugas OSIS ia akan lebih serius daripada biasanya.
Gaara mengernyitkan dahi nya, ia berpikir keras."Kepala sekolah bilang nilai akademik Haruno sedang bagus, banyak universitas kedokteran yang mulai melirik nya, aku yakin beliau tidak setuju,"
"Kecuali jika aku yang membantumu,Lagipula aku sudah lama berteman dengan Naruto ," Sambung Gaara masih dengan nada dingin nan datar, Shikamaru mengangguk saja, yang terpenting ia tidak jadi membuang waktu istirahat nya hanya untuk mengurus si berandal sekolah.
Shikamaru ber Ojigi singkat sebelum keluar ruangan, jam pertama beberapa menit lagi akan dimulai.
.
.
.
Bel tanda pergantian jam berkumandang diseluruh koridor sekolah, sudah 3 kali bel berbunyi, yang berarti ini Jam ketiga.
Hinata memejamkan mata sambil bersandar pada rak buku, ia memangku sebuah buku catatan tebal yang baru saja ia selesai kerjakan. Manik amethyst nya bergulir ke jendela. Ada beberapa kelas yang sedang ber olahraga, dari jendela itu Hinata juga dapat melihat ke sebelah kanan sedikit dimana terdapat koridor penghubung antara satu gedung ke gedung lainnya, banyak murid-murid yang memenuhi koridor sambil membawa alat-alat praktikum.
Hinata menatap semua nya dengan datar, ia sendiri tidak tau sekarang kelas nya memasuki jam pelajaran apa, tepatnya ia tidak mau peduli, setiap hari Hinata mempelajari semua mata pelajaran, mendalami materi dan memecahkan soal-soal, apabila ia bosan, ia akan membaca buku pengetahuan umum ataupun buku sejarah dunia favorit nya.
Sebuah brosur jatuh dari balik halaman yang ia baca, Hinata mengambil dan membaca nya lamat-lamat.
Terbesit di ingatan kemarin Satu-satu nya keluarga yang ia miliki , memohon-mohon padanya untuk kembali menjadi dirinya yang dulu , dirinya yang naif, baik hati dan murah senyum.
Keh, apa untungnya ia bersikap seperti itu, toh dunia tidak adil padanya, apa yang ia punya selalu direbut, Hinata benci, Hinata frustasi.
Untuk sementara biarlah begini, dunia nya yang sekarang tenang dan statis, ia tidak mau merasa kehilangan lagi, untuk itu ia tidak ingin berharap pada dunia. Terus begini, menua lalu mati seperti Mahluk hidup lainnya.
Di tengah orang-orang Hinata selalu menutup mata dan telinga, ia sering berjalan di tengah kerumunan banyak orang tapi tak pernah menganggap mereka ada, ia hanya berjalan menuju satu-satu nya tujuan, Rumah atau sekolah nya.
Neji, kakak sepupu nya itu sekarang sudah memasuki semester 2 sebagai Mahasiswa jurusan Fisip (Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu politik) di Kampus negeri di tengah kota yang sering disebut Kodai atau Konoha Daigaku, Salah satu Universitas tebaik di Konoha, Hinata selepas SMA juga memutuskan untuk mendaftar kesana.
Baru-baru ini ada beberapa murid yang diumumkan mendapatkan kesempatan undangan Universitas tanpa Ujian masuk, Hinata termasuk didalamnya. Begitu pula Sasuke dan kawan-kawan.
Tapi sayang, Jurusan yang mengundang Hinata tidak begitu ia minati, Hinata lebih menyukai Sastra, meskipun Neji bersikeras untuk menyarankan Hinata mengambil Ilmu bisnis.
"Whooahh Apa kau berencana mendaftar di Kodai?"
Suara cempreng itu mengaggetkan Hinata, disebelahnya kini duduk seorang Namikaze Naruto dan cengiran dan kepala membenjol.
Hinata menatap nya datar, terutama pada benjol dikepalanya. Naruto menyadari arah tatapan Hinata, sekali lagi ia terkekeh.
"Hah Sakura-chan selalu seperti ini, aku tidak bisa membayangkan jika ia jadi seorang dokter. Bisa-bisa pasien nya terkena stroke mendadak karena sikap galak nya itu hahaha," Pemuda pirang itu mengusap-usap kepala nya sambil berguyon, raut wajah Hinata tidak berubah, datar tanpa ekspresi. Ia sendiri bingung mengapa pemuda didepannya ini begitu ekspresif.
"Ne, kau berminat di jurusan apa?"Ujar Naruto setelah mengakhiri tawa tak berguna nya, Naruto masih saja tersenyum lebar sambil melirik brosur yang Hinata pegang.
Merasa itu pertanyaan yang dituju untuknya, Hinata menyahut."Hm... sastra,"
"Hee itu pilihan yang bagus, aku sendiri masih bingung akan memilih apa. Tapi sepertinya itu tidak akan berguna untukku,"Dapat Hinata lihat ekspresi Naruto berubah sendu, Namun sekejap berubah seperti biasa.
".."
"Err kau tidak ke kelas?"
Hinata menggeleng lemah.
"Kenapa?"
Tidak ada jawaban. Naruto mengusap tengkuk nya canggung. Ia ingin berteman dengan Hinata, Naruto memang tipe orang yang gampang akrab dengan siapapun, tapi rasanya akan jauh lebih sulit jika berhubungan dengan seorang Hyuuga Hinata.
Naruto merasa tertantang, ia ingin pribadi Hinata berubah, mungkin ada luka yang sedang ia sembunyikan. Semua orang punya rahasia masing-masing kan?
Sekarang Hinata kembali fokus pada buku nya, seakan Naruto tidak ada disampingnya, tangan tan Naruto terulur menyentuh bahu si Gadis Hyuuga dengan jari telunjuk nya.
Hinata tidak merasa bahu nya disentuh seseorang, Naruto kemudian dengan penuh pertimbangan, menyentuh punggung tangan si gadis Hyuuga, hanya beberapa detik sebelum ia tarik kembali tangannya dengan wajah horor.
'Huhh dingin sekali, seperti mayat,'
"Ano kalau kau suka sekali dengan buku, aku dengar besok ada pembukaan toko buku baru di jalanan Kaho, kau mau emm kita kesana?"Naruto mati-matian mengucap agar tidak gagap.
"Kata Neji-niisan aku tidak boleh berjalan dengan orang asing,"
Ah seandainya ini komik , mungkin sekarang Naruto digambarkan terjungkang dengan posisi kaki diatas, apakah selama ini ia masih dianggap orang asing? Hah menghadapi Hinata sangat susah ternyata.
"Hei aku ini teman sekelasmu.."Naruto menunggu Hinata menatapnya,"Kau hari ini minta izin dulu dengan kakak mu besok setelah bel pulang sekolah aku akan menjemputmu disini , oke? Kalau gitu aku pergi membolos dulu, jaa," Naruto sekencang angin berlari keluar perpus, meninggalkan Hinata yang menatapnya dengan mata menerawang.
"Akan ku pikirkan,"
.
Sementara di balik pintu perpustakaan, Naruto mengatur nafasnya yang memburu.
'Apa-apaan hatiku sampai sebegini nya ingin meledak? Ah paling-paling karena berlari terburu-buru keluar perpustakaan,' Batin nya gusar, namun wajah nya berkata lain, itu sewarna bunga sakura di musim semi.
.
.
.
Di kediaman Hyuuga, meja makan berukuran besar hanya berisi kan dua orang. Seorang pria berusia 23 tahun dan gadis berusia 18 tahun.
Sang pria yang merupakan kakak sepupu sekaligus kepala keluarga menatap satu-satu nya adik nya yang tersisa dengan tatapan menyelidik, makanan yang disajikan para maid sudah 10 menit tidak ia sentuh.
"Aku ulangi perkataanmu ya.."Ia menatap Hinata yang termenung dengan intens."..Bocah Namikaze itu mengajakmu pergi berdua?"
Hinata hanya mengangguk, Neji mengetukan jarinya pada meja dengan dramatis. Hati nya mengutuk keras bocah yang mengajak adiknya pergi berdua, berani-berani nya, semenjak SMA Hinata belum penah jalan berdua dengan seorang teman, Apalagi laki-laki.
Tapi jika dipikir-pikir , ini bisa membantu Hinata berubah, siapa tau dengan kehadiran bocah itu Hinata sedikit demi sedikit kembali kepada pribadi nya yang dulu dan melupakan masa lalu kelam mereka.
Dengan penuh pertimbangan dikepalanya, Akhirnya Neji menghela nafas, ia usap kepala adiknya yang duduk tepat disebelahnya.
"Tentu saja boleh, tapi selalu aktifkan ponselmu ya Hinata,"
Hinata mengangguk pelan, Neji menghela nafas. Semoga saja ini bukan pilihan yang salah.
.
.
.
"Konbawa tuan muda, Namikaze-sama sangat mengkhawatirkan anda,"
Seorang penjaga membungkuk hormat pada Naruto yang baru saja masuk melewati Gerbang Mansion, Naruto mengibaskan tangannya."Ara , Kotetsu-san jangan ber ojigi padaku, kau lebih tua dariku. Rasanya jadi aneh,"
Kotetsu nama pria itu, membawa Naruto masuk ke Rumah utama yang cukup besar itu,dengan pelan Naruto membuka pintu rumah.
Keadaan dirumah cukup sepi, Naruto menghembuskan nafas lega mengetahui kedua orang tua nya sudah tidur.
"Akhirnya kau pulang juga Naru-chan,"
DEG
Naruto menatap tidak suka seorang wanita bersurai merah yang lari terbirit-birit dari tangga lantai dua, ia menghampiri Naruto dengan wajah khawatir, kedua tangan wanita itu menangkup pipi tan Naruto.
"Kenapa kau tidak pulang huh? Kau makan apa diluar sana? Kau tau seorang Heiress tidak boleh bertindak seperti itu,"
Naruto mendecih."Jadi kaachan khawatir padaku karena aku seorang Heiress? Bukan karena aku anakmu?"
Perkataan itu terdengar begitu datar dan dingin, sangat bukan Naruto seperti biasanya. Kushina yang terbiasa mendapatkan respon seperti itu dari Naruto , mencengkram kedua bahu putra nya dengan kuat.
"Jangan macam-macan Naru-chan, nama besar keluarga ada pada dirimu, kau harus menjadi seorang pemimpin perusahaan yang cerdas dan multitalent,"
Ah Naruto menyadari sesuatu hal, sorot mata di jade Ibunya berubah kelam. Selalu seperti ini jika topik ini diangkat, Naruto bosan.
"Benar apa kata Kaachan mu Naruto.."Suara pria menyahut, itu Ayah nya yang kini berjalan penuh wibawa dari tangga lantai dua."..Kau akan mengambil les privat malam ini sebagai hukuman untuk kemarin,"Ujarnya singkat.
Naruto menggertakan gigi-gigi nya kesal.
"Sampai kapan Touchan dan Kaachan selalu memaksaku seperti ini?"
Minato dan Kushina hanya terdiam.
"Aku sudah mengatakannya dengan jelas, AKU TIDAK MAU MENJADI PENERUS PERUSAHAAN!"
PLAK
Naruto meringis merasakan pipi nya yang memerah, ia sendiri hampir tersungkur ke sudut ruangan karena tamparan Ibunya itu.
"Naru kaachan tidak pernah mengajarimu untuk berbicara lantang pada orang tua,"
Naruto menunduk, ia memang salah telah berkata dengan suara lantang seperti itu lagi, tapi ia sungguh-sungguh tidak ingin masa depan nya diatur, ia punya jalan sendiri. Ia bukan boneka yang bisa dikendalikan oleh kedua orang tua nya.
Minato menatap datar adegan didepannya, ia tidak membela siapapun tapi menurutnya perusahaan membutuhkan seorang penerus, anak mereka satu-satu nya hanyalah Naruto. Hanya putra semata wayangnya itu yang bisa diandalkan. Namun Naruto selalu memberontak, anak itu tidak suka jika kedua oang tua nya mengatur apa yang ia ingin lakukan.
Naruto berdiri , ia membungkuk singkat sebelum berlari menuju kamar nya yang berada dilantai atas.
Pintu kamar ditutup dengan keras, ia menghempaskan diri ke kasur. Shappire nya kemudian menatap beberapa piala dan penghargaan yang terpajang di kamarnya. Penghargaan-penghargaan yang ia raih dari bidang favorit nya yaitu Olahraga, ada basket, pemanah, renang dan penembak.
'Berkutat seharian dengan Komputer dan dokumen, apa yang menyenangkan dari itu semua?' Batinnya kesal.
Tanpa berniat untuk mengganti seragam nya Naruto menyelam ke dalam mimpi, melupakan semua yang terjadi hari ini.
Dan kembali menjadi Naruto yang ceria besok hari.
.
.
.
TBC
A/N : Terimakasih sudah mau mampir , terimakasih juga buat yang reviews, hehe.
Kodai = Konoha Daigaku = Universitas Konoha , atau kalau disini UI= Universitas Indonesia, itu sejenis singkatan :v
Ah ini ada sedikit balas review.
Vexonica :Hee Arigatou, pemikiran yang bagus , saya menyukai nya. Hehe kita lihat aja ya gimana Hinata kedepannya :v
White Apple clock : wkwk Arigatou
Uzunami11: Aamiin, semoga saja sesuai harapan, iyap salam NHL.
Rei : Sudah nih tetap ikutin ya :v
..
Sampai disini dulu Minna-san, jaa
.
.
Chapter 3 : Perasaan
"ADUH , KAU AKAN MENCEKIK KU HEH GAARA!"
"Naruto, aku tidak peduli kau mengidap gangguan mental apapun tapi jangan tersenyum aneh seperti itu sambil menatapku,"
."Aku benar-benar tidak peduli Sakura,"
"Ah akan kuberitau satu rahasia ku, jika kau mau emm etto menghadiri jam pelajaran sekali saja,"
"Yoo Gaara, kebetulan sekali kau disini,"
Salam Sejuta Romance
