Maaf menunggu lama! (Re : Siapa juga yang nungguin?)
Eniwei, berbagai masukan tentang genre cerita ini sudah kuterima, tapi kok rasanya gak ada yang cocok
Misalnya Family, kan Boboiboy disini sedang berinteraksi dengan dirinya sendiri, dan aku gak yakin diri sendiri termasuk keluarga
Ato Frienship, kan dah kubilang kalo Boboiboy berinteraksi dengan dirinya sendiri, yah meskipun ada yang bilang bahwa teman yang paling baik dan bisa kau percaya adalah diri sendiri, tetep rasanya agak rancu
Sedangkan Humor, em. . . bagaimana mengatakannya ya? Aku sebenarnya suka bikin fanfic humor ( mengingat akhir-akhir ini fanfic bergenre humor di fandom ini terancam punah), tapi entah kenapa gak pernah pede untuk mencantumkan genre humor pada cerita saya, takut garing, gak lucu, dan lain-lain
Silahkan saja sebut saya paranoid atau sebagainya, dan biarlah fanfic ini tak bergenre
Selamat membaca!
*Apa Benar Kita ini Satu?*
Selain Halilintar yang sedang stres akibat ulah sang penjual obat, ternyata salah satu bagian tubuh Boboiboy yang paling lembut juga sedang stres.
Di dapur.
Boboiboy Gempa tampak kebingungan, mengacak-acak isi laci dapur, atas kulkas, dan tempat-tempat penyimpanan lainnya. Ia segera menyesal menawarkan diri membuatkan bubur untuk Taufan, dan ia sukses melupakan 2 hal yang sangat penting.
Pertama, ia tak tahu bagaimana cara membuat bubur.
Kedua, ia tak pernah memasak sebelumnya.
Yah, mungkin kalimat 'tak pernah memasak sebelumnya' sedikit salah, mengingat ia sering membantu Tok Aba membuatkan cokelat panas untuk para pelanggan, namun tentu saja, membuat cokelat panas dan memasak jelas punya kelas yang berbeda. Kalau membuat cokelat panas kan hanya perlu memasak air sampai mendidih, tuang air mendidih ke gelas, tambahkan serbuk cokelat, tarik larutan tersebut menggunakan dua gelas hingga berbusa, tuang ke cangkir, tambahkan krim dan aksesoris lainnya di atas cokelat panas tersebut, dan voila! Jadilah Special Hot Chocolate Tok Aba dan setelah itu biasanya Gopal akan menyambutnya dengan wajah berbinar-binar. Ah, teringat Gopal Gempa tersenyum miris. Pasti sekarang Gopal dan kawan-kawannya sedang bersenang-senang bersama teman sekelasnya dan tentu saja, Papa Zola yang kocak. Andai ia bisa ikut...
Kembali ke pokok pembicaraan. Memasak jelas berbeda level dengan membuat cokelat. Memasak tampak lebih... rumit. Apalagi untuk pemula seperti Gempa. Oleh karena itu, ia membutuhkan suatu benda milik Tok Aba. Kalau tak salah Tok Aba pernah menyimpan resep membuat bubur tawar sederhana saat Boboiboy sakit typus dahulu. Sudah setengah jam ia mencari, namun tak ketemu-ketemu juga. Suara bersin Taufan kembali terdengar dari atas, tanda bertambah porak-porandanya kamar Boboiboy sekarang.
Aha! Ketemu! Rupanya tersembunyi di dalam sebuah buku, entah buku apa. Gempa segera mempelajari isi kertas kecoklatan tersebut.
Resep membuat bubur putih polos
Bahan :
Beras secukupnya
Air matang
Daun salam
Garam secukupnya
Cara membuat :
Cuci beras hingga bersih
Tuangkan air matang dan beras secara bersamaan ke dalam panci dan tanak. Setelah mendidih, tambahkan garam dan daun salam.
Aduk terus sampai mengental.
*hati-hati kalau kebanyakan air nanti terlalu encer, kalau kurang air (tinggal tambahin air sampai kira-kira pas) nanti tidak bisa jadi bubur. Dan kalau buburnya tidak diaduk terus selama memasak, nanti jadi berkerak di bagian bawah panci
Hm, sepertinya simpel. Sebaiknya Gempa memeriksa bahan-bahannya. Oke, beras check, garam check, daun salam check, air sudah pasti ada. Gempa kemudian mengambil baskom kecil, siap mencuci beras di wastafel. Dan ia segera menyingkirkan sabun cuci piring dari wastafel. Kenapa? Karena Boboiboy(itu berarti juga Gempa) pernah kena marah Tok Aba, meskipun diselingi tawa dari Ochobot. Waktu itu, Boboiboy disuruh Tok Aba mencuci gelas dan daun kangkung. Boboiboy segera mencuci gelas menggunakan sabun cuci hingga bersih. Kemudian Boboiboy mencuci daun kangkung yang masih tampak kotor. Ia tidak sengaja, memang ia sebagai anak lelaki yang tak pernah memasak tak tahu bahwa peraturan utama dalam mencuci bahan makanan adalah jangan sampai menggunakan sabun.
Tidak bijaksana rasanya mendeskripsikan rasa sayur kangkung itu akhirnya.
Setelah Gempa mengisi baskom tersebut dengan beras, ia membuka keran wastafel, mengisikan air pada baskom. Dengan pelan, Gempa mengaduk-aduk isi baskom tersebut. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi.
Isi baskom,yaitu beras dan air sukses tumpah ke dasar wastafel.
Entah kenapa pegangan tangan kirinya sedikit melemah, padahal tangan kanannya masih mengaduk-aduk air dan beras. Tentu saja sang baskom terpaksa oleng ke kanan dan memuntahkan isi tubuhnya. Gempa tertegun sebentar, menggerutu dalam hati sesaat dan setelah itu kembali mengisi baskom dengan air dan juga beras, namun kali ini ia mempererat cengkeraman tangan kirinya.
Mulailah adegan mencuci beras part 2. Setelah beberapa adukan, air dalam baskom mulai berubah putih. Gempa jadi tak bisa melihat keadaan beras di dasar baskom. Ia menciduk beras dengan tangannya, oh, masih terdapat noda kecoklatan di butir-butir beras. Ia yang mulai tak sabar memperkencang adukannya, bahkan ia mengaktifkan Tangan Batunya, agar lebih bersih. Setelah beberapa saat, air dalam baskom semakin mengeruh, hingga seputih susu. Gempa segera mencoba menciduk beras yang dicucinya, untuk melihat apakah beras tersebut sudah bersih. Tapi..
Tidak ada butir-butir beras di dasar baskom.
Gempa yang keheranan menumpahkan semua isi baskom tersebut. Namun tetap tidak terlihat satu butir pun beras. Gempa mulai berpikir apa mungkin ia sebenarnya bisa sulap. Akhirnya Gempa cuek saja dan mengisi (lagi) baskom dengan air dan beras.
Ngomong-ngomong, tentang menghilangnya beras-beras tersebut, hanya Tuhan dan author lah yang tahu. (para readers tahu gak?)
Gempa kembali mengaduk isi baskom dengan Tangan Batunya, namun kali ini dengan sekuat tenaga, maklum, ia mulai habis kesabaran. Namun kembali ia menemui kegagalan karena...
Ia membuat dasar baskom sukses bolong besar.
Gempa ingin sekali memukulkan kepalanya ke tembok, namun ia takut pusing. Dengan lesu ia menyaksikan baskom rusak tersebut mengaluarkan isinya dari bawah. Ia takut ketahuan Tok Aba merusak peralatan dapur dan kena marah plus hukuman dari sang kakek. Kemudian ia membuat keputusan. Ia pergi ke halaman belakang.
"Bukaan Tanah!"
Tanah di depannya pun terbuka sedikit, menimbulkan sebuah cekungan kecil. Sambil lirik kanan-kiri, ia menaruh baskom rusak tersebut ke dalam lubang tanah yang baru ia buat. Kemudian...
"Tutupan Tanah!"
Lubang di depannya menutup sempurna, seakan-akan tak pernah dibuka sebelumnya.
Menghilangkan barang bukti. Jenius sekali.
Ooooo
Setelah Gempa menguburkan 'korban'nya dengan penuh khidmat, ia mengambil baskom cadangan dan kembali ke pekerjaan sebelumnya, yaitu mencuci beras. Namun kali ini Gempa tak peduli beras tersebut bersih atau tidak. Ia mencuci beras tersebut dengan tangan biasa. Setelah air baskom memutih, ia anggap semua kotoran di beras telah lenyap lalu kemudian meniriskan airnya. Namun ia menunggingkan baskom terlalu cepat dan kuat (akibat ia sudah sangat jengkel) sehingga...
Air dan beras kembali tumpah.
"AARRGGGHHH! SALAH HAMBA APA YA TUHAN!" Gempa berteriak frustasi. Disahuti oleh bersin membahana Taufan dan teriakan dari sang pemilik bersin.
"Ada apa Gempa? Ada yang tidak beres?"
Semuanya tidak beres, Gempa ingin sekali berkata seperti itu. Namun yang muncul dari mulutnya malah,
"Tidak apa-apa! Hanya kesalahan tekhnis!"
Untunglah Gempa adalah anak baik hati lagi pintar tur sopan. Tanpa menyerah, ia kembali mencuci beras. Kali ini nasib berpihak pada Gempa. Tidak ada butir berasyang hilang, dan tidak ada beras yang tumpah. Yah, beberapa, pada saat penirisan. Namun Gempa tidak peduli.
Step selanjutnya, memasak beras dengan air hingga mendidih. Gempa segera menuangkan beras dan air ke dalam panci hingga penuh. Ia letakkan panci tersebut di atas kompor, dan mulai menyalakan kompor. Ia tunggu beberapa saat hingga mendidih, kemudian ia tambahkan garam 2 sendok makan dan daun salam 10 lembar. Kemudian Gempa mengaduk adonan buburnya selama beberapa menit. Anehnya bubur tersebut tidak mau mengental. Gempa sempat kebingungan hingga ia melihat sebaris kalimat dalam resep.
hati-hati kalau kebanyakan air nanti terlalu encer
Oh, Gempa menggunakan terlalu banyak air. Argh, sudahlah. Sudah terlanjur. Gempa menciduk bubur, atau lebih mirip larutan susu beras kemudian menuangkannya ke piring. Selanjutnya ia membauwa hasil masakannya ke kamar atas, kamarnya sendiri, untuk menyuguhkannya pada si sakit Taufan.
Ia sudah membuka pintu saat...
"HHAATTSYYIIHH!"
"CPROT!"
Kalian mau tahu kabar baik dulu apa kabar buruk dulu? Baiklah, kabar buruk dulu saja ya.
Kabar buruk : bubur hasil masakan Gempa yang dibuat dengan penuh kerja keras, sukses mendarat di wajah Gempa.
Kabar baik : Taufan terhindar dari keharusan memakan hasil masakan absurd buatan Gempa. Meskipun ia tidak mengetahuinya.
"AHH! PANAS!"
"HAHAHA!"
Keriuhan tersebut membahana ke seluruh penjuru, namun tidak cukup jauh untuk sampai ke telinga Halilintar.
Yang sedang kesal tingkal tinggi menghadapi masalah barunya.
TBC
Loha semua!
Akhirnya chapter kedua selesai juga!
Dan lebih panjang dari chapter pertama (maklum, chapter pertama baru prolog)
Tanpa berpanjang kata lagi, REWIEW PLEASE! (dan panjatkan doa untuk kesembuhan Taufan. Bagi yang ingin menjenguk juga boleh. Jangan lupa bawa buah.)
