Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Ben-To: Asaura

.

.

.

Genre: romance

Rating: T

Pairing: Naruto x Shaga

Fic request for Ahfa

.

.

.

Kamis, 14 Februari 2019

.

.

.

Sekuel Proklamasi Cinta Malaikat Pirang

.

.

.

Bersamamu, Hidupku Sempurna

By Hikasya

.

.

.

Chapter 2. Pengujian

.

.

.

Naruto dan Shaga menoleh ke arah Ibu yang datang mendekati mereka.

"Ah, Ibu. Lihatlah itu!" tunjuk Shaga pada orang-orang udik yang mengerubungi mobil Naruto.

"Apa sih itu?" tanya Ibu yang melihat ke arah yang ditunjuk Shaga.

"Itu mobil mewah, Bu."

"Wah, keren sekali! Baru kali ini Ibu melihatnya!"

Saking senangnya, Ibu bergabung bersama orang-orang itu. Ia berteriak histeris dan mencolek-colek mobil mewah itu. Membuat Naruto ternganga dan Shaga yang tersenyum hambar.

"Dasar, Ibu sama saja dengan yang lain!" Shaga sedikit kesal sembari melirik Naruto. "Naruto, maaf ya karena aku mengajakmu ke sini. Malah jadi seperti ini kejadiannya."

Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa. Ibumu lucu juga ya?"

"Aneh begitu, dibilang lucu?"

"Iya."

"Haaah, ya sudah, sebaiknya kamu pulang saja sekarang."

"Eh? Kamu mengusirku?"

"Tidak. Kalau kamu lama-lama di sini, mobilmu bisa hancur, tahu!"

"Benar juga."

Naruto buru-buru pergi menuju mobilnya yang sudah dikerubungi banyak orang. Jalanan tersebut dipadati oleh lautan manusia karena ingin melihat benda yang bernama mobil.

Naruto bersusah payah menembus keramaian itu hingga masuk ke mobilnya. Sekali ia memencet klakson, membuat semua orang kaget setengah mati.

"Wuaaah!" seru semua orang yang langsung kabur pontang-panting menyelamatkan diri. Mereka berlari menuju ke rumah masing-masing.

Ibu yang juga kaget, langsung membawa Shaga masuk. Mengira Naruto akan menyerang desa ini.

Jalanan menjadi kosong melompong. Naruto bernapas lega karena sudah bisa pulang dengan aman.

"Ah, syukurlah," ia langsung menjalankan mobilnya dengan cepat. "Shaga, aku pulang ya? Lho?"

Shaga tidak terlihat lagi di depan rumah itu. Pintu rumahnya tertutup rapat. Suasana menjadi hening seperti di kuburan.

Tiba-tiba, terjadilah peristiwa yang tak disangka-sangka.

Mobil Naruto dikepung oleh orang-orang berseragam militer. Masing-masing di tangan orang-orang itu, tergenggam sebuah senapan berlaras panjang.

"Ada apa ini?" Naruto sweatdrop di tempat.

"Anda telah masuk ke wilayah kami tanpa izin. Jadi, terpaksa kami menembak anda!" salah satu dari orang berseragam militer itu yang mengatakannya dengan wajah yang sangat serius.

"Apa?"

Mata Naruto terbelalak keluar. Ia panik setengah mati saat semua senjata teracung padanya.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan memenuhi tempat itu, tapi tembakan orang-orang berseragam militer itu meleset. Tidak mengenai sasaran sehingga Naruto punya kesempatan untuk kabur dari medan perang yang tidak diharapkannya.

BRUUUM!

Mobil mewah itu berbalik arah dengan cepat, dan kemudian melaju bagaikan roket. Menghilang dalam sekejap mata di ujung jalan sana.

Orang-orang berseragam militer itu berteriak keras, "Buronan kabur!"

.

.

.

CIIIT!

Setibanya di rumah, Naruto mengerem mobilnya dengan cepat, dan berhenti di dekat garasi. Ia keluar dari mobil dengan muka yang sangat panik.

"Aku pulang!" teriak Naruto yang sangat keras. Ia memasuki rumah dengan tergesa-gesa.

"Selamat datang!" balas seorang wanita berambut merah yang sedang duduk bersama seorang pria berambut pirang di ruang tamu.

"Ada apa gerangan sehingga kamu panik begitu, Naruto?" tanya pria berambut pirang itu.

"Ah, itu ... Aku ..."

Naruto duduk di sofa yang berhadapan dengan orang tuanya, Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Ia menghelakan napas berkali-kali.

"I-Itu ... Aku baru saja dari rumah pacarku, Shaga. Tahu-tahu aku diserang oleh sekelompok orang berseragam militer, Ayah, Ibu," lanjut Naruto yang mulai tenang.

"Kelompok orang berseragam militer? Dimana itu?" ucap Minato yang mengangkat salah satu alisnya.

"Sebuah kampung kumuh yang ada di pinggiran kota ini, Yah."

"Oh. Di sana ya?"

"Iya."

"Waspada kalau pergi ke sana."

"Kenapa?"

"Banyak orang aneh yang akan membuat hidupmu menjadi bahaya. Ya, contohnya kelompok orang berseragam militer itu. Kalau tidak salah, mereka itu adalah kelompok yang menentang pemerintahan karena pernah melawan pemerintah yang akan menggusur tempat mereka tinggal."

"Oh. Aku baru tahu soal itu."

"Dan Ayah baru tahu kalau Shaga tinggal di sana."

"Itu sangat susah jika kita pergi menemuinya, anata."

"Ya, kamu benar, Kushina."

"Jadi, aku harap Shaga dan Ibunya bisa tinggal di sini. Apakah kamu mengizinkannya, anata?"

"Tentu, Kushina."

"Oh, anata."

"Oh, Kushina."

Minato dan Kushina saling berpelukan mesra di hadapan Naruto. Alis Naruto berkedut kesal karena melihat pemandangan itu.

"Ayah! Ibu! Apa kalian tidak merasa kalau ada aku di hadapan kalian sehingga kalian berpelukan seperti itu?" sembur Naruto yang mencak-mencak.

"Oh, maaf," ujar Kushina yang menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.

"Iya, kami terbawa suasana, nak," sahut Minato yang tertawa hambar.

"Haaah, begitulah, orang tua zaman sekarang. Oh ya, aku mau pergi ke kamar dulu ya."

"Jangan lupa mandi ya, Naruto!"

"Baik, Ibu."

Naruto bangkit berdiri dari sofa. Minato dan Kushina melanjutkan kegiatan kebiasaan minum teh di setiap sore hari. Naruto tidak mengikuti kebiasaan orang tuanya, justru selalu tidak ada di rumah karena selalu keluyuran bersama teman-temannya dan akan pulang pada malam harinya.

Kini, karena sudah menjalin cinta dengan Shaga, membuatnya sedikit berubah. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi orang yang terbaik untuk Shaga. Tidak akan mengecewakan Shaga.

Sampai di kamar, Naruto langsung melemparkan tasnya ke sembarangan tempat. Kemudian langsung mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah kotor seharian.

Beberapa menit kemudian, Naruto sudah selesai mandi. Ia berpakaian kasual dan kini duduk di pinggir ranjang. Sedang mencoba menelepon seseorang.

Aku ingin menelepon Shaga untuk menanyakan kabarnya sekarang, batin Naruto.

Gerakan jempolnya pada ponsel touch screen-nya terhenti saat tahu jika Shaga tidak mempunyai ponsel. Lantas ia menepuk jidatnya sendiri.

"Oh ya, aku lupa kalau Shaga tidak punya ponsel. Bodohnya aku!" umpat Naruto pada dirinya sendiri.

Sekarang ia benar-benar mengkhawatirkan Shaga yang tinggal di daerah kumuh itu. Jika ia kembali ke sana, pasti akan bertemu dengan sekelompok orang berseragam militer yang aneh itu.

Sebaiknya apa yang kulakukan ya?

Naruto berpikir keras agar memastikan Shaga baik-baik saja di sana.

.

.

.

Shaga sedang duduk berhadapan dengan Ibu. Wanita berambut pirang itu menatap Shaga dengan wajah yang penuh emosi.

"Kenapa kamu membawa Naruto ke sini? Kamu tahu, kan, kalau orang-orang di kampung ini sangat membenci pemerintahan. Bagaimana mereka tahu jika kamu berpacaran dengan anak walikota yang dulunya pernah berniat menggusur tempat ini? Pasti mereka akan mengusir kita dari sini!"

Dengan nada yang tinggi, Ibu membentak Shaga. Gadis berkacamata itu menundukkan kepalanya, takut menatap langsung wajah Ibu yang mengerikan bak monster. Tubuhnya gemetar dan meremas dua tangannya dengan kuat yang diletakkan di dua pahanya.

"Maafkan aku, Bu. Aku hanya ingin Naruto tahu tempat tinggal kita yang sebenarnya. Aku ingin mengetes apakah Naruto bersungguh-sungguh mencintaiku. Itu saja," ucap Shaga.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Sampai segini dulu ya. Nanti saya sambung lagi jika ada waktu.

Sekian dan terima kasih.

Jumat, 15 Februari 2019