Junmeanssi proudly presents
"I Can Wait Forever"
Casts : EXO members.
-xx-
"They say we will last long, but i can see is just blurred future."
Chanyeol termenung di depan meja kerja di kantornya, disebelahnya masih terdapat secangkir kopi lengkap dengan gula dan krim yang masih utuh. Ya, Chanyeol tidak berniat menyentuhnya sedikitpun, Chanyeol tak hentinya memikirkanSehun yang tiba tiba muncul dan mengucapkan selamat tinggal padanya dan Luhan. Jika Sehun membencinya, bukannya seharusnya anak itu tidak melangkahkan kaki ke kediamannya? Chanyeol mengerti keadaan Sehun saat ini bisa tidak dibilang baik. Secara fisik memang Sehun terlihat seperti remaja yang tumbuh dewasa hampir mencapai umur 27 tahunnya. Namun secara batin dan psikis Sehun begitu menderita.
Setelah ditinggalkan Jongin, lalu Chanyeol mengenal Sehun dari seorang kenalannya. Sehun saat itu terlihat ogah ogahan dan malas menjawab pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol. Karena keingintahuan Chanyeol yang begitu dalam terhadap sosok pendiam Sehun saat itu, Chanyeol gencar mendekati Sehun, masuk ke hari harinya, menjelajahi dan menyelami bagaimana sifat Sehun yang sebenernya.
Chanyeol dapat menyimpulkan bahwa Sehun hanyalah anak remaja kebanyakan yang mengalami patah hati. Namun ada satu kebiasaan Sehun yang begitu mengganggu Chanyeol saat itu, yakni Sehun suka sekali berbohong. Sehun secara tidak sengaja pernah menceritakan bahwa dirinya terkena penyakit kronis pada arteri jantungnya, yang bisa mengakibatkan kondisi dirinya bisa melemah kapan saja. Anehnya Chanyeol percaya saja dan malah dengan setia mengajak Sehun untuk check-up di ebberapa rumah sakit dan dokter langganannya.
Namun setiap kali Chanyeol bertanya pada dokter tempat Sehun melakukan check-up dan perawatan, sang dokter hanya menjawab, "Pasien Oh Sehun baik baik saja, tidak ada riwayat pasien mengalami pembengkakan di daerah pembuluh darah maupun area vital jantung lainnya."
Chanyeol semakin tidak mengerti mengapa Sehun berbohong begitu banyak tentang kehidupannya.
Karena tidak betah melihat Sehun yang bertahan dengan kebohongannya, Chanyeol meninggalkan Sehun di malam setelah mereka menyatukan kehidupannya bersama. Dirinya pikir ini adalah cara terbaik sebelum Sehun kembali menimbulkan masalah yang lebih berat dari di benci oelh semua hyungnya saat itu.
Chanyeol akhirnya mengerti mengapa masalah seperti itu timbul dan membuat Sehun sangat terpuruk.
Namun dia juga mengerti Sehun adalah orang yang belum mengerti tentang apa itu karma di dunia yang berat seperti ini.
Chanyeol meninggalkan Sehun secara tiba tiba dan juga muncul di hadapannya secara tiba tiba. Sehun diundang oleh tunangan yang dijodohkan oleh keluarganya saat itu. Dia tau bahwa sosok yang sedang menangis saat mengikat sumpah di depan pastur saat itu adalah mantan kekasihnya yang pernah memadu kisah dengannya. Namun Chanyeol memasang tampang dinginnya, seolah membiarkan Sehun yang mennais sesenggukan di balkon tempat pertunangannya sendirian. Beruntung Luhan tidak ingat untuk memperkenalkan Sehun. Namun Chanyeol sering mendengar celotehan Luhan tentang temannya itu, dia menceritakannya sambil tertawa, tak jarang Luhan mengajak Chanyeol untuk bertemu Sehun.
Tetapi sekarang, yang Chanyeol lihat ada kebalikan dari segalanya. Sehun yang menghampirinya malah mendukung hubungan dengan Luhan. Seharusnya, kalau Sehun masih ingin mempertahankan hubungannya, menagih janjinya di masa lalu dan membuat hubungan Chanyeol – Luhan rusak, hal itu bia saja dilakukannya. Namun Sehun tidak melakukannya dan malah meminta dirinya untuk menjaga Luhan.
Chanyeol bingung. Apa yang salah dengan diri Sehun?
Apa yang membuat Sehun berubah selama ini?
Semua hal itu berputar di dalam pikirannya, membuat Chanyeol pusing dan satupun jawaban tidak ditemukannya.
-xx-
"Wu Yifan dan Wu Yixing? Jadi sebenarnya margaku Wu begitu?" Sehun bertanya antusias saat Jongdae menjelaskan bahwa orang tuanya di Cina menunggunya. Setelah dilakukan tes DNA dengan anggota keluarga yang mengaku kehilangan anak, akhirnya Sehun berhasil bertemu dengan keluarganya kembali. Marganya akan berubah. Sehun akan dengan senang hati tinggal dan merawat kedua orangtuanya itu, walaupun dia akui hatinya berdebar juga.
Jongdae tertawa pelan dan mengangguk, "Benar, mereka kedua orang tuamu, sepertinya takdir yang baik benar – benar memihak padamu, Hun-ah. Kau harus bersyukur, sekarang sudah tidak ada lagi alasan bagimu untuk sedih tentang semuanya. Awali dengan keluargamu, berikan yang terbaik untuk mereka." Nasihat Jongdae pada Sehun yang matanya berair, bersiap untuk menangis.
Dasar cengeng. Batin Jongdae
"Terima kasih hyung, berkat dirimu dan Minseok hyung aku bisa bertahan sampai sekarang, kalau tidak ada kalian berdua, mungkin aku sudah mati." Jawab Sehun sambil tersenyum, matanya menerawang foto Ayah dan Ibunya yang kelihatan masih muda walaupun umur mereka hampir mencapai kepala 5.
Jongdae menghela nafas. "Jangan membahasnya, jangan ceritakan pada orang tuamu tentang mereka, lagipula kenapa kau masih mengingat orang yang menikammu dari belakang, menyebarkan gosip murahan, mengambil semua yang jadi milikku, dan melupakan dirimu? Jangan naif Sehun. Di Cina nanti aku yakin kau bisa melupakannya. Ini hanya soal waktu, kau harus bisa melewatinya."
Jongdae tidak suka saat Sehun mengingat kembali masa lalunya saat itu walaupun hanya sedikit. Jongdae pun mengakui Sehun juga salah pada saat itu. Namun menyalahkan Sehun justru memperburuk psikisnya, Sehun bahkan pernah mencoba bunuh diri dengan meneggalamkan dirinya di laut saat Jongdae dan Minseok berinisiatif piknik bersama.
Sehun pernah dengan sengaja menabrakkan dirinya pada mobil yang melaju kencang dan menghantamnya. Ajaibnya, Sehun hanya mengalami patah di kaki kiri dan tangan kanannya, serta beberapa luka kecil di sudut bibirnya.
Jongdae dan Minseok berusaha keras mengisolasi adik mereka dari dunia luar, mengajaknya ke psikiater dan melakukan berbagai macam terapi, sambil keduanya melakukan pekerjaan mereka sebagai detektif swasta. Puncaknya, Jongdae menjadi detektif yang di sewa keluarga Wu untuk mencari anak mereka yang hilang saat mereka tengah berkunjung mengadakan perjalanan bisnis di Korea Selatan. Awalnya Jongdae mengira Sehun lah anak keluarga Wu yang hilang itu, karena kontur wajah Wu Yifan bergitu mirip, seperti Wu Yifan di masa mudanya. Karena keingintahuannya yang begitu besar Jongdae mengambil sampel rambut di sisir yang biasa adiknya itu pakai dan membawa serta sikat gigi Sehun ke laboratorium untuk diperiksa.
Hasilnya? 99% positif.
Oh Sehun adalah anak Wu Yifan.
Jongdae tersentak, padahal selama ini Sehun tidak pernah menceritakan masa kecilnya, darimana dia berasal, bagaimana orangtuanya, dan yang lainnya solah olah Sehun menyimpan itu semua dan melupakannya.
Kabar bahagia ini langsung di sampaikannya pada adiknya tersebut dan reaksinya begitu mengahrukan. Sehun begitu bahagia.
"Hyung, aku ingin mengunjungi beberapa tempat sebelum aku pulang." Pinta Sehun.
"Kemana? Lebih baik kau berkemas saja Hun, ingat kau belum membeli oleh oleh untuk keluargamu." Seloroh Jongdae sambil tertawa. Sehun tersenyum simpul lalu memasukkan foto Ayah dan Ibunya ke dalam amplop.
"Hanya sekali ini saja hyung, aku ingin menemui mereka."
"Sehun—"
"Ini yang terakhir, aku mohon hyung. Terakhir, karena setelah ini aku tidak akan melihat mereka lagi."
Jongdae tahu hal ini akan terjadi, namun membiarkan Sehun bertemu lagi dengan mereka hanya akan memperburuk ketenangan yang ada. Anggaplah Jongdae jahat karena membatasi pergaulan Sehun, namun hal ini lah yang dibutuhkan adiknya. Dia tidak ingin melihat Sehun terbangun tengah malam, menangis, berjalan dan melewati hidupnya kembali seperti mayat hidup, tidak. Hal itu sangat mengerikan.
Namun Jongdae juga tidak boleh egois, adiknya memang akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Sehun rindu dengan mereka yang sudah menyakitinya, karena pada dasarnya Sehun tidak bisa membenci seseorang yang sudah pernah menjadi bagian hidupnya.
"—Baiklah tapi ingat, jangan pulang terlalu malam. Kau harus ingat kondisi tubuhmu, mengingat—"
"Iya hyung, aku tahu, terima kasih!" Sehun berhambur memeluk satu satunya kakak yang sangat disayanginya, setelah Minseok hyung tentunya.
Sehun sangat gembira, namun Jongdae berusaha untuk tidak terlalu khawatir dan berpikiran yang positif. Dai tidak ingin terlihat terlalu mengekang Sehun.
-xx-
"Donghae hyung!" Sehun berseru pada seorang pemilik cafe yang biasa dia datangi dulu, senyum sumringah tak bisa lepas dari lengkungan bibir manisnya. Yang dipanggil namanya pun menoleh dan terkejut melihat siapa yang menemuinya. Dengan bergegas dia menemui Sehun dan memeluknya erat.
"Sudah lama sekali, kemana saja kau bocah?" tanya Donghae seraya mengacak gemas rambut Sehun yang coklat madu itu dengan bahagia. Donghae memang begitu merindukan adiknya yang satu ini.
"Aku sudah lama ingin melihatmu hyung, maaf ya. Aku baru sempat bertemu denganmu sekarang, aku ebnar benar minta maaf." Jawab Sehun dengan wajah yang memelas, dengan sengaja mengeluarkan aegyo andalannya, persis seperti dulu saat Sehun merengek meminta sesuatu pada Donghae.
"Dasar anak ini, kau benar benar tidak berubah." Donghae hanya geleng geleng kepala. Akhirnya obrolan mereka berlanjut dan bercerita tentang apa saja yang dilalui selama ini. Sehun pun menceritakan bagaimana hidupnya saat ini, bagaimana kehidupannya dahulu, bagaimana dia ingin mengakhiri hidup, bertemu dengan Jongdae dan Minseok, menjalani berbagai macam terapi untuk menyembuhkan dirinya dan juga mereka.
Donghae terhenyak, nafasnya serasa tertahan saat Sehun menceritakan apa yang menjadi masalahnya dahulu, dia menceritakannya seperti biasa, dengan bahasa yang biasa, bahkan dia seringkali melucu. Benarkah ini Sehun?
"—Aku kemari, ingin berpamitan denganmu, hyung." Ucap Sehun seraya tersenyum setelah menyeruput teh hangat.
Lagi – lagi Donghae terhenyak. "A-apa? Padahal kita baru bertemu! Kemana kau akan pergi?" tanyanya beruntun.
Sehun hanya nyengir khas bocah nakal. "Aku akan pergi ke Cina, aku mau menemui orang tuaku. Hyung masih bisa bertemu denganku kok. Aku akan sering sering pulang ke Korea kalau begitu hehe"
"Ah, baguslah, aku pikir kau akan sendirian disana, kau harus tahu lingkungan disana dan disini sangat berbeda! Kau harus bisa menyesuaikan diri, pelajaran mandarin dan kantonmu cukup bagus, aku kira kau tidak akan menemui kesulitan, bukankah begitu?" Dongahe mengusak dengan sayang rambut adik kesayangannya ini. Sehun mengangguk dan menatap Donghae lama.
"Terima kasih sudah mau berteman denganku saat yang lain menjauhiku hyung."
"Tidak, aku minta maaf karena pada akhirnya harus meninggalkanmu karean aku termakan omongan mereka, tapi lambat laun kau menghilang dan membuatku khawatir, aku juga mencarimu kau tahu? Susah sekali ternyata menemukan bocah nakal dan tinggi sepertimu." Aku Donghae. Sehun hanya menggeleng kuat kuat sambil mengarahkan pandangannya ke kiri dan matanya menangkap seseorang yang berjalan sendirian dengan jaket hitam yang begitu dikenalnya.
-Kim Jongin
"Kau melihat siapa?" tanya Donghae. Sehun masih belum mengalihkan pandangannya seakan enggan menatap kearah lain. Perlahan air mata turun dari pipi tirus Sehun sambil bergumam, namun tersengar sesenggukan dan pilu.
"S-syukurlah—hyung kau masih sehat, syukurlah—" Sehun tidak bisa menahan air matanya. Sehun menumpahkan semuanya. Perlahan ingatannya bersama Jongin tergambar jelas dan semuanya membuat perasaan Sehun semakin membuncah.
Donghae mengerti siapa yang disebut hyung oleh Sehun, siapa yang ditangisi Sehun sampai begini, dan siapa yang benar benar Sehun cintai sejak lama. Hanya rengkuhan dalam dan hangat yang bisa diberikan Donghae untuk menenangkan Sehun yang begitu ringkih saat ini.
-xx-
Saat itu pukul 15.00 sore dan Sehun pamit pulang karena masih ada beberapa tempat yang belum disambanginya. Dongahe menawarkan diri untuk mengantarkan adik ekcilnya itu namun dengan halus tawaran itu ditolak oleh Sehun. Alasan Sehun begitu sederhana, dia hanya ingin jalan jalan naik bis.
Sesaat setelah Sehun pergi, Donghae menimbang - nimbang ponsel di tangannya, jemari tangannya dengan pelan menscroll kontak dan menemukan kontak dengan nama, "Kim Jongin".
Begitu berat hatinya untuk memanggil nama salah satu rekan bisnisnya yang masih muda ini, padahal saat tengah menjalin kerja sama dengan Jongin dirinya merasa tidak pernah merasa berat hati ekcuali sekarang.
Namun dirinya akhirnya memaksa untuk men-dial nomor Jongin dan menunggu suara teleponnya diangkat.
"—Ini aku, Donghae hyung."
Suara diseberang terdengar dan menjawabnya, "Oh, hyung apa kabar? Bagaimana bisnis cafe mu? Masih-"
"Aku bertemu dengan Sehun." Potong Dongahe cepat. Tidak ada suara yang menjawab di seberang. Lengang. Dia tahu Jongin begitu terkejut, karena Sehun tidak pernah muncul lagi semenjak kejadian itu.
".."
Donghae menghela nafasnya pelan dan melanjutkan bicaranya, "Jongin, dia benar – benar masih mencintaimu."
"Jika hyung akan membuatku lebih marah setelah ini aku tutup." Suara Jongin benar benar berubah dingin. Ya, hal yang selalu dilakukannya saat seseorang menyebut nama Sehun.
"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Dia tidak terlihat baik baik saja."
Pip.
Donghae memutus teleponnya dengan air mata yang mengalir di pipi kanannya. Pandangannya menerawang, hatinya begitu perih.
Kepalan tangannya diayunkan dan memukul pelan dada kirinya—
-Sakit.
Namun Sehun merasakan yang lebih dari ini.
Pedih.
Donghae merasa menjadi kakak yang paling buruk saat ini.
TBC
