Jongin kembali ke rumahnya untuk menyapa seseorang yang cukup penting dalam kehidupannya. Dulu ketika dia harusmemimpin perusahaan cabang di Manhattan. Dia menjadikesepian, berjalan-jalan menikmati jembatan Brooklyn, diabertemu dengan seorang pria yang tidak sengaja menumpahkanes kopi ke kemeja milik Jongin. Pria itu meminta maaf berkali-kali dengan rasa menyesal dan ketakutan. Jongin yang melihatketulusan permintaan maaf pria itu urung meluapkan rasa kesalnya dan bertanya beberapa hal dengan bahasa inggris yang cukup mahir. Namun, dari ekspresi pria yang menabraknya, Jongin mengerti pria itu tidak memahami perkataannya. Setelah menebak dengan sembarangan, Jongin menggunakan bahasa korea dengan logat yang cukup kental khas Seoul dan pria itu merespon. Jongin mengenalnya dengan nama Ravi, seorang sahabat yang menemaninya hampir dua belas tahun perjalanannya merintis perusahaan cabang di Amerika.

Ravi telah berhutang banyak pada Jongin, dulu dia hanyalah seorang pekerja kasar, kadang harus mencuci piring di empat restoran berbeda. Setiap hari dia hanya bisa makan roti pemberian kenalannya yang berjualan di pasar tradisional. Dia bertekad membawa ibunya ke Amerika untuk mencari kehidupan yang lebih baik, nyatanya, dia malah mendapatkan jalan hidup yang sama. Siang hari dia harus menjadi pengantar makanan dan minuman sebuah perusahaan, siangnya dia harus mencuci piring secara bergantian di dua tempat berbeda, hingga harus berpindah tempat menginap karena tidak memiliki uang yang cukup. Hingga pada insiden di jembatan Brooklyn, dia bertemu dengan Kim Jongin yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempat ia selalu mengantarkan makanan dan minuman. Saat itu, Ravi memohon kepada Jongin untuk tidak memarahi atau menuntutnya dan tidak sengaja menceritakan hidupnya yang pahit. Bukannya marah, Jongin menawarkan pekerjaan di perusahaannya, dan atas nama asal yang sama, Jongin dengan senang hati menjadikan Ravi sebagai sahabatnya, tangan kanannya.

"Oh! Ravi, aku benar-benar lelah di sini."

"Ayo lah, Bos. Kau baru seminggu di sini dan tidak banyak melakukan apapun, kecuali bekerja. Bersenang-senanglahsedikit."

"Di mana Ibu?"

"Ibu? Maksudmu, Ibuku?"

"Ibu kita."

Jongin menggeliat ketika membiarkan tubuhnya terjatuh di ranjangnya. Dia merindukan seorang wanita paruh baya yang selama sepuluh tahun ini dipanggilnya Ibu. Ya, wanita paruhbaya itu adalah Heechul, Ibu kandung Ravi yang juga bekerja di rumah keluarga Kim semenjak Ravi diminta pulang ke Korea sepuluh tahun lalu. Wanita itu sangat disukai oleh mendiangIbunya, yang selalu menemani hari-hari keluarga Kim semenjakJongin harus bekerja di Manhattan. Setelah kecelakaan itu, Jongin sangat terpukul bahkan tidak ingin kembali ke Korea sama sekali, menyakiti perasaan kekasihnya dengan tegamemutuskan hubungan mereka, dan selama masa-masa beratnyaitu Heechul menjadi sosok pengganti Ibunya yang memberikanJongin kasih sayang dan perhatian. Itulah mengapa Jonginsangat mencintai dua orang yang telah menolongnya keluar dariruang gelap yang menjebaknya atas nama kesedihan.

Berjingkat sambil menahan napas, Jongin, masuk ke kamar mandi. Dia harus segera makan karena kemarin setelah menemui Kyungsoo dengan keadaan tidak nyaman membuat dia harus tidur dengan keadaan seperti orang pingsan dan baru bangun hampir siang. Dia menjadi kelabakan karena kehilangan Kyungsoo di pagi hari, berpamitan dengan rasa kecewa ke Ayah Kyungsoo untuk kembali ke rumahnya.

Tanpa menutup pintu rapat, Jongin berteriak, "Ravi, aku sangat lapar, aku harus bertemu Ibu hari ini. Aku sudah sangat merindukannya!"

"Tidak perlu berteriak begitu, Bos. Kau bisa saja memecahkan cermin di sana karena suaramu yang keras itu. Tenang saja, kau bersihkan dulu tubuhmu. Aku akan mengajak Ibu berbelanja."

Jongin keluar dengan jubah mandinya yang berwarna hitam. Sambil berjalan malas dengan keadaan rambut basah, Jongin membenamkan lagi kepalanya dalam bantal sofanya, dia tidur lagi dengan begitu tenang.

Pukul dua belas siang lewat empat puluh menit, Jongin terbangun dan menatap malas ke arah jam dinding. Dia berjalan ke arah ruang di sebelah kamar mandi untuk mengganti pakaian dengan kemeja berwarna maroon yang baru dibelinya dua hari yang lalu karena ketika kembali ke Korea dia harus membeli beberapa pakaian dengan omelan Ravi yang begitu malas didengarnya akibat dia yang melupakan empat kopernya di Manhattan. Jongin turun melewati tangga untuk makan siang dan juga sarapan karena dia melewatkannya tadi pagi. Dia tidak menemukan apapun kecuali mendengar suara gaduh di pintu utama dan dia menemukan Heechul membawa beberapa kantong belanja. Ravi masuk dengan tersenyum mengerikan yang Jongin tahu Ravi pasti melakukan kesalahan dari senyum anehnya itu.

"Apa yang kau lakukan pada Ibumu?"

"Kenapa Ibu bicara begitu?" tanya Jongin mendengar suara wanita paruh baya itu.

"Aku sudah tua begini dan kau tidak mau menolongku membawakan belanjaan ini? Anak kurang ajar."

Jongin tertawa ringan sambil merebut lima kantong belanja itu dari Heechul, membawanya ke dapur.

"Ibu aku sangat merindukanmu." Kata Jongin dengan menggeliat memainkan lengan Heechul.

"Sup ikan? Atau ayam?"

Jongin terlihat agak berpikir dan menjawab, "Aku mau sup ikan, Ibu buatkan agak lebih ya? Aku ingin membawanya ke rumah Paman Junmyun."

"Duduklah sebentar dan terima kasih mobilmu tadi Ibu pakai."

Jongin melotot mendengar itu, "Apa? Jadi Ibu membeli ikan sebanyak itu dengan Suvku?"

"Betul sekali, Anak Muda. Ya, meskipun agak menyedihkanmelihat bagasimu bau amis." Sambung Ravi yang tiba-tibaduduk di meja makan.

"Sialan kau, padahal aku akan mengajak Kyungsoo kencan dengan mobil itu."

"Kau bisa pakai yang lain, Bos."

"Itu mobil kesayanganku, Bodoh."

"Kau baru saja mengatai Ibumu, Kim Jongin yang terhormat." Teriak Ravi yang menjauhi Jongin yang melemparinya dengan dua buah anggur.

Jongin menyantap makan siangnya dengan dua mangkuk nasi. Dia tidak peduli lagi harus makan dengan keadaan kesal atau tidak, yang terpenting perut laparnya segera teratasi. Dia memeluk Heechul dan kembali berpamitan untuk mengantar sup ikan ke rumah Kyungsoo dengan mobilnya yang lain. Suvnya dicuci Ravi di halaman belakang dengan teriakan-teriakan menyemangati Jongin untuk kembali menjalin hubungan dengan Kyungsoo. Dia sudah dewasa sekarang, menjadi pria yang menyedihkan bukanlah lagi hal yang dilaluinya, dia harus benar-benar memikirkan orang yang telah dia tinggal begitu saja dan baru kembali setelah bertahun-tahun.

"Selamat sore, Paman."

Junmnyun menjawab dengan lebih ramah, terkesan sedang menikmati teh hangat dari cangkirnya.

"Selamat sore, Jongin. Sungguh baik kau kembali ke sini, sayangnya Kyungsoo sejak pagi tadi belum kembali dari kantornya."

"Aku akan menunggunya, aku membawa sup ikan buatan Ibuku, Paman."

"Oh, Heechul sudah kembali?"

"Ibu kembali kemarin sore dari Busan dan aku baru menemuinya siang tadi."

Junmyun berdiri meninggalkan kursi tuanya dengan terbatuk-batuk kecil. Jongin membantunya dengan uluran tangan dan diterima dengan senang oleh Junmyun.

"Pergilah ke kantor, mungkin kau bisa membantu anak keras kepala itu, Jongin. Paman rasa dia sedang ada masalah dengan kantornya."

"Apa perusahaan sedang sakit, Paman?"

Junmyun mengangguk, kembali duduk di sofa ruang tengah dengan Jongin, melanjutkan, "Dia kehilangan dua investor utamanya karena tidak sengaja memaki mereka dalam keadaan mabuk. Kau tahu semenjak kematian Ibunya, anak itu senang berkeliaran."

"Aku akan membantunya jika memang begitu keadaannya, Paman. Dulu ketika aku belajar bisnis, Paman adalah guru terbaikku, mungkin dengan ilmu itu aku bisa membantu."

Junmyun terkekeh dengan suara tuanya, "Kau benar, kuharap Kyungsoo mau menerima kau kembali, Jongin—ah."

Jongin terdiam lesu mendengar itu dan dia yakin Kyungsooakan kembali mencintainya.

Someday For My Chagrin

Setelah mengunjungi Junmyun kembali, Jongin memutuskanuntuk ke kantor Kyungsoo di Gangnam. Perusahaan satu-satunya milik keluarga Do yang sekarang dikelola oleh putrimereka. Kyungsoo dan Jongin sama-sama menyukai bisnis, namun Kyungsoo memilih untuk sekolah hukum danmendapatkan lisensi pengacaranya setelah empat tahun lulus dantidak jarang selama masa kuliahnya, Kyungsoo seringmenanyakan banyak hal tentang bisnis dan Jongin dengansenang hati mengajarkannya pada Kyungsoo. Setelah kematianIbunya, Kyungsoo terpaksa berhenti dari profesinya sebagaiPengacara dan memilih membantu Ayahnya mengurusperusahaan kosmetik yang saat ini sedang diambang masalah.

"Di sini Wu Yifan, siapa di sana? Ada yang bisa sayabantu?"

Sebuah suara terdengar aneh dari teleponnya, Jonginmengira-ngira bahasa korea logat manakah yang baru saja diadengar, menjawab, "Halo, selamat sore, saya Ravi dari Taesan."

"Tae—Taesan? Direktur Ravi?", kata Wu Yifan dengan nada terkejut. Suara melengking itu menjawab tergesa-gesa, "Apakah Presdir hari ini membuat jadwal dengan Taesan?"

"Aku tidak tahu, Wakil Sekrestaris Wu. Tidak ada dalam jadwal."

"Mo—mohon maaf, apa yang bisa saya bantu untuk Anda, Tuan?"

"Presdir kami ingin bertemu dengan Presdir Hansoo Group, masalah serius, apa kau bisa mengatur jadwalnya hari ini?"

"Kami harus mengkonfirmasi dulu, Tuan, bisakah anda menjelaskan lebih rinci lagi?"

"Rue de La Baume, pukul tujuh malam, meja nomor dua."

Jongin memutuskan sambungan telfonnya itu dan kembali mengendarai mobilnya menjauh dari kantor Kyungsoo. Ya, Jongin berpikir untuk melakukannya dengan pelan.

"Hei, Jongdae, bukankah Presdir Kim itu adalah mantan kekasih Presdir Do?" tanya Yifan dengan nada ingin mengajak rekan kerjanya yang sedang fokus menyusun jadwal dan akan melapor pada Presdirnya, untuk menggosip.

"Kau benar, Wakil Sekretaris Wu, tapi, perlukah kau menggosip begini? Presdir bisa menyirammu dengan kopi yang baru saja dibawa oleh Minji."

"Kau terlalu formal padaku, Pak Sekretaris Kim."

Jongdae mengetuk pintu ruang kerja Kyungsoo yang sedang dipenuhi beberapa berkas berserakan di mejanya, kyungsoo sedang serius mempelajari sebuah dokumen yang sedari tadi tidak bisa dipahaminya.

"Permisi, Presdir."

"Ya, Jongdae." Jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen tebal di mejanya itu.

"Ada kejutan baru saja."

Kyungsoo mendongakkan kepalanya, "Apa itu tentang Sehun? Sialan, apa dia sudah mau gencatan senjata?"

Sayangnya Jongdae menggeleng, melanjutkan, "Bukan tentang Sehwa Group, tapi Taesan."

"Taesan?"

"Ya betul sekali, Presdir. Barusan kami mendapat telfon dari Direktur mereka, Presdir Kim ingin bertemu dengan Anda."

"Sialan, pria itu."

"Anda tidak bisa menyumpahinya sekarang, Presdir, saya rasa ada baiknya Anda menemui Presdir Kim. Ini tentang jumlah uang yang fantastis."

"Apa yang dia katakan padamu?"

"Rue de La Baume, pukul tujuh malam, meja nomor dua."

"Dan kalian mengiyakan? Itu bukan soal investasi. Kalian mau kupotong gaji kalian ya?"

"Dalam bisnis, ajakan seperti itu bisa menghasilkan uang, Presdir."

Kyungsoo menahan marah, berdiri melepaskan kaca matanya, menjawab, "Ini seperti menjual diriku pada pria brengsek itu. Investasi bisa kudapatkan dari investor lain, tolak Taesan, apapun itu, berapapun harganya, aku tidak mau berurusan dengan mereka."

Jongdae kembali ke mejanya dengan lesu dan memikir cara untuk menghubungi Taesan mengatakan bahwa Presdir mereka tidak bisa—mau—menemui Presdir Kim dengan alasan yang tidak jelas sebenarnya. Seharusnya Kyungsoo mau berpikir pertemuan ini kali saja membawa keburuntungan untuk Hansoo Group yang hari ini sedang kalap soal investor utama mereka yang merajuk karena perlakuan Presdir mereka yang memalukan.

"Halo, selamat sore, kami Taesan Group. Ada yang bisakami bantu?"

"Selamat sore, saya Kim Jongdae, Sekretaris Presdir Do, Hasoo Group. Apakah saya bisa menemui Direktur Ravi sore ini?"

"Kami harus mengatur jadwal dahulu, Sekretaris Kim.Apakah ini soal pertemuan Presdir Kim dengan Presdir Do?"

"Iya betul, saya kira saya harus menemui langsung DirekturRavi tentang jadwalnya. Mohon maaf, apa saya saat iniberbicara dengan Sekretaris Jung?"

"Benar, Sekretaris Kim. Saya akan mengatur jadwalpertemuan Anda dengan Direktur karena hari ini Direktur sedang tidak berada di kantor. Sampai jumpa, Sekretaris Kim."

"Terima kasih, Sekretaris Jung."

Jongdae mengeluh dengan keadaan tidak nyamannya dia yang sebentar lagi akan menyampaikan penolakan Presdirnya ke Taesan, yang mana membuatnya harus berpikir alasan yang mana yang akan dia pakai dan kemungkinan besar bisa membuat Taesan tidak kecewa. Dia jadi berpikir, apa hanya karena masalah seorang mantan kekasih yang berpisah sangat lama Presdirnya menjadi kekanakan, padahal satu-satunya harapan yang tersisa memanglah Taesan yang semenjak empat tahun terakhir sama sekali tidak diizinkan Kyungsoo untuk melakukan kerja sama. Sampai-sampai Jongdae sempat berpikir untuk mengundurkan diri dan pergi ke Taesan untuk bekerja di sana.

"Apa ini tentang gencatan senjata atau kronik percintaan kalangan Presdir?"

"Wakil Sekretaris Wu, ini bukan masalah percintaan sederhana. Gencatan senjata mungkin akan berhasil dua sampai tiga bulan lagi, Presdir Oh bukanlah orang yang mudah memberikan maaf, apalagi ini soal Presdir Do yang sudah dua kali menyakiti perasaannya, pertama ditolak sebagai seorang pria dan kedua Presdir Do memakinya dalam keadaan mabuk, hampir melemparnya dengan gelas bir."

"Woah, aku tidak tahu bagian melempar gelas bir, kau memang teman gosip yang penting kujaga, Sekretaris Kim."

"Dalam bisnis, kita harus mencari sekutu, jika sewaktu-waktu sekutu yang lain menyerang, kita bisa sedikit terselamatkan."

"Lalu, bagian kronik percintaan yang lainnya?"

"Tentang Presdir Kim, padahal mereka hampir menikah dulu, kurasa, Presdir Kim sedang berusaha balikan."

"Terima kasih untuk informasi mahal ini, Sekretaris Kim."

"Tapi, kuharap mereka benar-benar kembali."

Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, Jongin menunggu kedatangan Kyungsoo di sebuah restoran Perancis di daerah Gangnam yang cukup jauh dari rumahnya. Jongin memakai setelan jas berwarna coklat gelap dengan kemeja putih yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya tidak dibiarkan menyentuh dahi dan dia sedang memerhatikan beberapa pengunjung yang berlalu lalang di sana. Sore tadi dia memang mendengar sekretaris Kyungsoo menghubungi sekretarisnya. Dia sudah bisa menebak bahwa Kyungsoo melakukan penolakan lagi, padahal Jongin benar-benar ingin bertemu dengan Kyungsoo untuk membicarakan soal bisnis. Namun, dia tetap akan menunggu wanita yang sangat dia cintai itu datang. Dia berharap Kyungsoo akan datang.

Ponselnya berdering menampilkan nama Si Tulang Rusuk yang membuatnya menghela napas.

"Apa?"

"Kau terdengar kesal, Bos."

"Aku tetap akan menunggunya."

"Bos, dengarkan aku. Kau membuatku harus menemui sekretaris mereka untuk terlihat memohon sekali di sini. Bukankah Hansoo yang akan collapse? Kenapa kita memohon begini?"

"Pebisnis sepertiku tidak mungkin membiarkan bisnis orang yang kucintai hancur, Ravi."

"Kau terlalu lemah soal perempuan, kau tahu? Ayo lah, Bos, kau membuat para karyawanmu membicarakan hal-hal anehtentangmu."

"Atur saja jadwalnya, kau harus berhasil membuat ini strike, Ravi. Hadiahnya adalah restoran di Jepang, bagaimana?"

"Jangan gila, Kim Jongin, restoran itu kesayangan NyonyaKim."

"Aku juga sayang padamu dan Ibu, jadi aku tidak akansegan sama sekali."

"Kabar baik sih buatmu, Bos. Jongdae yang akanmenemuimu di sana."

"Tidak masalah, yang penting aku dapat ikan."

"Kau terlalu banyak membeli umpan, berlebihan Bos.Hubungi aku jika terjadi masalah Bos, aku harus memeriksagrafik proyek pengeboran di Indonesia."

"Nanti aku bantu, terima kasih Ravi."

Jongin meletakkan ponselnya, seorang pelayan wanita dengan tampilan terlalu montok menghampirinya dengan senyuman menyedihkan, aneh, membuat Jongin harus menggeser kursinya sedikit. Pelayan itu menuangkan anggur ke gelas Jongin yang baru saja selesai diantarkan oleh pelayan pria. Jongin mengangguk ketika pelayan wanita itu membungkuk, berharap Jongin mau melihat apa yang tengah dia pamerkan di dadanya.

"Oh, maafkan aku, Presdir Kim." Ucap seseorang baru saja langsung menjabat tangan Jongin.

"Sekretaris Kim?"

"Ya, benar. Maafkan aku terlambat menemui Anda, Presdir Kim."

"Bisakah kita berbicara sedikit santai, Hyung?"

"Dalam bisnis, saya tidak mengenal teman, Presdir. Baiklah, informasi pertama, Presdir Do akan datang dengan satu syarat, Anda tidak boleh membahas sesuatu kecuali kontrak ini. Informasi kedua, saya hanya mengantar draf kontraknya, silahkan Anda baca, Presdir Kim."

"Kau selalu saja bersikap formal, terima kasih, Sekretaris Kim."

"Informasi ketiga, dalam waktu lima menit Presdir Do akan datang menemui Anda, ternyata usaha Direktur Taesan tidak begitu buruk, saya berterima kasih untuk yang satu itu. Sayaharap Hansoo tidak collapse karena si sialan Oh Sehun itu."

"Sehun mungkin akan memutus kontraknya juga dengan Taesan setelah penandatangan kontrak ini."

"Anda benar, Presdir. Saya harap Hansoo tidak terlalu merepotkan."

"Tidak sama sekali, Hyung. Terima kasih."

"Semoga berhasil."

Jongin tersenyum ketika Jongdae menjabat tangannya lagi untuk berpamitan, dia melihat Jongdae menghampiri Kyungsoo yang baru saja masuk dengan jasnya yang dia gantung di lengan kecilnya. Jongin berdiri melihat wanita yang dicintainya itu menatapnya kesal, mempersilahkan Kyungsoo duduk di hadapannya.

"Oke, aku mau ini cepat, jika kau berubah pikiran itu lebih baik, ah tidak.. itu sangat baik."

"Kau tidak ingin makan malam denganku?"

"Bukankah Jongdae sudah menjelaskan padamu?"

"Kyungsoo—ya..."

"Presdir Kim, bicaralah padaku sebagai pebisnis. Aku bukanlah mantan kekasihmu."

"Aku sudah menandatangani kontraknya, jika kau keberatan dengan syaratnya, kau bisa menghubungiku langsung."

Kyungsoo merebut map yang dipegang Jongin, dia sedang meneliti syarat yang diminta Taesan demi investasi fantastis ini.

"Aku setuju dengan semua syarat, kecuali nomor tujuh dan delapan di sana."

"Bukankah itu mudah kau lakukan?"

"Untuk apa aku harus menerima restoranmu?"

"Hadiah, mungkin?"

"Yang benar saja, Presdir Kim, kau pikir aku semurah itu?"

"Aku tulus, Kyungsoo—ya, Eomma ingin memberikannya padamu. Aku hanya ingin melakukan apa yang Eomma minta."

"Jangan memakai Nyonya Kim sebagai alasan, Presdir Kim. Kurasa kau sudah sepakat dengan itu, kau bisa menyuruh sekretarismu mengantarkan salinan kontraknya besok di kantor kami. Selamat tinggal."

Jongin berdiri menahan tangan Kyungsoo yang hendak pergi, Kyungsoo menghempaskan genggaman lemah itu, namun Jongin kembali menangkap lengan Kyungsoo dan memeluknya sangat erat.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Maafkan aku, Kyungsoo—ya."

Kyungsoo menutup matanya perlahan, pelukan ini masih terasa begitu hangat untuknya. Pelukan ini selalu dia rindukan bertahun-tahun. Pria yang sedang memeluknya sekarang adalah Kim Jongin yang dulu sangat dia cintai dan sekarang ingin dia lenyapkan dari ingatannya sendiri.

"Lepaskan aku."

"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku?"

Kyungsoo mendorong Jongin dengan sekuat tenaga, mereka sedang menjadi tontonan tamu-tamu lain di restoran itu. Kyungsoo mendengus kesal, mengatakan, "Bukankah kau sudah kuberi banyak sekali kesempatan dulu? Sekarang kau minta lagi? Presdir Kim, kau seperti pebisnis amatir."

"Kyungsoo—ya.."

"Berhenti memanggilku dengan sapaan akrab begitu, aku muak mendengarnya."

Kyungsoo memalingkan muka dan berjalan menjauh dari Jongin, namun tertahan karena dia melihat seseorang yang tengah tersenyum sinis padanya.

"Oh! Do Kyungsoo, sedang apa kau di sini?"

Kyungsoo berdecih, kemudian ingin melangkahkan kaki, namun pria itu menahannya.

"Apa kau sekarang melakukan proses penjualan Hansookepada Taesan? Selamat malam, Presdir Kim, sepertinya kaudicampakkan lagi oleh mantan kekasihmu yang angkuh ini."

Jongin menahan rahangnya yang mengeras akibat kesal dengan perkataan pria itu.

"Presdir Oh, selamat malam. Bagian penjualan Hansoo adalah tidak benar, untuk dicampakkan mungkin sedikit benar. Tapi dengan perkataan seperti itu, kau cukup terlihat seperti pebisnis yang sedang sakit hati karena ternyata kau juga tertarik memiliki Hansoo, maksudku, pemiliknya."

"Presdir Kim, wanita ini tidak pantas untuk kita perebutkan, bukan?"

"Sama sekali tidak, dia bukanlah saham. Dia sangat jauhberharga dari itu."

Kyungsoo mendengar itu. Jongin tengah membelanya, diasedikit merasa bersyukur tidak menghadapi Sehun sendirian. Diamenghempaskan tangan Sehun begitu saja, lalu melenggangpergi sambil menitikan air matanya karena terlalu banyakmenahan amarahnya baru saja. Dia berlari keluar dari restoran ini, membuat Jongin segera berlari juga mengejarnya.

"Pergilah, kumohon, Jongin!"

Jongin menghentikan langkahnya, berdiri mematung di belakang Kyungsoo. Dia bisa mendengar Kyungsoo menangis dan meninggalkan jasnya di kursi tadi. Jongin perlahan mendekati Kyungsoo, melepaskan jas coklat gelapnya, memakaikannya ke bahu Kyungsoo dengan lembut.

"Kyungsoo—ya, kau baik-baik saja?"

"Aku tidak akan terkesan."

"Kau terlihat kacau."

"Aku tidak akan terkesan..hiks."

Kyungsoo menangis sejadinya di sana. Dia merasa hidupnyasangat menyebalkan, mulai dari investor sialan itu, kembalinyaJongin sang mantan kekasih yang ingin sekali dia lupakan darikehidupannya, itu memuakkan Kyungsoo, belum lagipermasalahan Ayahnya yang ternyata diam-diammenyembunyikan fakta bahwa pria paruh baya itu sedang sakit.

"Aku akan mengantarmu pulang."

Kyungsoo diam tidak merespon apapun, bahkan ketikaJongin menggenggam tangannya erat.

"Aku tidak ingin pulang.."

To be continued

DESCLAIMER : DEBBY JONGONG

DO NOT REPOST! DO NOT DO PLAGIARISM!

KAISOO DEDICATED.

GENDER SWITCHED.

HELOOOOO READERSNIM!

Yeheeeeeey akhirnya SFMC kembaliii wkwkwkw, maafkanyeah karna terlalu lama buat update.Makasih jugaaa sarannyakemarin tentang perbedaan umur Jongin dan Junmyun memangkesalahan De tidak teliti.

Btwwww ceritanya berubah total kan ya? Wkwk maaf juga kalau perubahannya agak aneh dan malah jadi begini. Ttapi De berusaha buat lanjutin semampunya De yaaaa ...

See you on next chap!!!

REVIEWS AND FAV AND FOLLOW JUSEYOOOO!

THANK YOU AND ENJOY #MUCHLOVE

Debby Jongong, 2019.