Disclaimer : Oom-ku, Arakawa

A/N : Maaf, saya updet-nya telat banget!! T_T

"Pagi, Breda! Hari ini cerah ya?" sapa Fuerry. Breda cuma mengangguk dan diikuti oleh Balck Hayate. "Sudah siap mau latihan?" tanya Fuerry lagi. Breda mengangguk mantap. "Nah, sekarang kamu pengennya kurus kayak gimana? Yang kayak aku atau yang kayak Farman atau yang kayak Havoc?" tanya Fuerry lagi. Breda sudah mulai kesal dan menjawab, "Cepetan latihan aja, deh!" Fuerry kaget dan mengangguk. "Nah, hari ini, kita lari keliling Central aja yuk! Kuperkirakan kita sampai lagi di sini saat sore" kata Fuerry dan kedua manusia beserta satu hewan itu berlari keliling central.

-

Malamnya,

"Udah turun 2 kg, nih! Makasih ya!" kata Breda. Fuerry Cuma mengangguk lalu pulang ke rumahnya

-

-

Esoknya,

"Sebelum latihan, ngopi dulu, yuk!" rengek Breda "Kamu ini gimana, sih?! Masa lagi diet minum kopi? Ogah!" tolak Fuerry mentah-mentah. Breda cuma cemberut. "Kita ke markas Central!" seru Fuerry

-

Di depan markas Central,

"Menurut buku yang kubaca, kalau kita berdiri diam di sini, ntar jadi kurus" kata Fuerry. Mereka terus menunggu dan menunggu sampai akhirnya, seorang nenek tua menyeberang. Tiba-tiba, ada mobil dari arah kiri nenek itu. Breda dengan refleksnya langsung meloncat ke jalanan dan mendorong nenek itu ke pinggiran. Nenek itu luka kecil dan Breda tertabrak. "Breda!!" teriak Fuerry. Sebuah mobil ambulans datang dan kira-kira ada 8 orang tim medis yang menaikkan Breda ke dalam ambulans.

-

-

Breda mendapati dirinya terbaring di rumah sakit. Kakinya patah dan badannya lemas. Tiba-tiba, pintu terbuka, Havoc berdiri di sana. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Havoc "Baik, kukira" jawab Breda. Havoc menyodorkan sekotak rokok pertanda dia menawarkan Breda rokok. Breda hanya menggeleng lemas. Havoc dan Breda berbincang-bincang sampai akhirnya Farman masuk. "Aku pulang dulu, ya!" kata Havoc sambil melambaikan tangannya.

-

"Aku turut berduka cita" kata Farman. Breda terkejut. "Hey, aku belum mati, tahu!" kata Breda. "Oh, maaf kalau begitu!" kata Farman. Mereka berbincang sampai akhirnya Farman pulang.

-

-

-

Berminggu-minggu sudah, Breda di rumah sakit dan tibalah hari dimana pesta dansa diadakan. "Kamu sudah boleh pulang" kata dokter. Breda merasa sangat bersyukur. Masa pemulihannya lebih cepat disbanding orang pun pulang ke rumah dengan kaki pincang. Rencananya untuk datang ke pesta sudah nihil. Dan ketika ia sampai di rumah, ia sangat lelah dan tidur.

--The End—