Kyuhyun mengikuti langkah Siwon memasuki rumahnya yang terletak di pinggir kota Seoul. Ia terus menundukkan kepalanya tidak berani menatap apapun yang ada disekelilingnya. Melepaskan alas kakinya sebelum melangkahkan kakinya di lantai dalam rumah Siwon. Tanpa melihatpun, Kyuhyun tahu bahwa rumah laki-laki itu sangatlah mewah. Kyuhyun menabrak tubuh Siwon ketika laki-laki itu berhenti tepat dihadapannya.

"Ma-mafkan aku, Siwon-ssi…"

Siwon tertawa kecil, "Kau terlalu banyak menunduk. Coba angkatlah sedikit dagumu itu!"

Kyuhyun mendongakkan kepalanya perlahan. "Ru-rumah yang begitu indah, Siwon-ssi."

Siwon tersenyum, "Kau suka? Kau bisa tinggal disini selama yang kau mau. Lagipula aku hidup sendiri disini."

Kyuhyun merona dan kembali menundukkan kepalanya, "Ti-tidak. Te-terima kasih. Aku tidak pantas tinggal disini. Ini terlalu berlebihan."

"Aku tidak keberatan. Aku juga butuh teman untuk aku ajak bicara."

Teman.

Sudah lama Kyuhyun tidak menggunakan kata itu.

"Te-teman? Kau tidak bisa berteman denganku, Siwon-ssi. Orang-orang aka—"

"Stop that!"

Kyuhyun terdiam.

"Aku berteman dengan siapa itu urusanku. Orang lain tidak bisa mencampuri urusan pribadiku."

"Ma-maafkan aku…"

Siwon menghela, "Aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku hanya tidak suka bagaimana kau mengkhawatirkan orang lain di atas kepentinganmu."

Kyuhyun semakin menunduk, "Maaf…"

"Berhenti minta maaf… kau tidak melakukan kesalahan. Sekarang duduklah, aku akan mengambil kotak obat."

Siwon melepaskan jasnya dan melemparkannya di atas sofa. Melangkahkan kakinya untuk mengambil kotak obat. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan kotak obat dan sebuah baskom berisi air hangat dan handuk.

Siwon duduk disamping Kyuhyun dan melihat pemuda itu sedikit terkejut dengan kehadirannya. Ia tahu Kyuhyun masih begitu mengkhawatirkan lingkungan dimana ia berada dan orang-orang disekitarnya.

Siwon merenggangkan dasinya dan membuka kancing teratas kemejanya.

"Menghadaplah ke arahku, Kyuhyun!" perintah Siwon pelan.

Siwon menghela ketika melihat tangan Kyuhyun masih bergetar, "Apakah aku menakutimu?"

Kyuhyun menggeleng pelan, "Ak-aku hanya tidak terbiasa dengan kehadiran orang disekelilingku. Maafkan aku…"

"Kau tidak perlu menggunakan kata maaf setiap kali kau berbicara denganku. Bisakah kau melakukan itu untukku?"

Kyuhyun mengangguk pelan.

"Baiklah, sekarang menghadap ke arahku. Aku harus membersihkan wajahmu terlebih dahulu."

Kyuhyun menggenggam tangannya sendiri dan menghadap ke arah Siwon perlahan. Matanya berulang kali menatap Siwon namun tidak bisa bertahan lama. Ia berusaha untuk tidak menundukkan kepalanya setiap kali Siwon melakukan pergerakan. Siwon berusaha mengabaikan itu semua.

Siwon menggunakan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat untuk membersihkan darah di ujung bibir Kyuhyun perlahan. Berusaha membersihkan wajah Kyuhyun dengan hati-hati. Ia tidak melewatkan bekas lebam yang ada di beberapa tempat di wajah Kyuhyun. Hati Siwon bersedih atasnya.

'Kenapa mereka begitu membencimu?'

Siwon tersenyum tipis ketika wajah Kyuhyun telah bersih. Ia mengeluarkan sebuah salep untuk mengurangi lebam di wajah Kyuhyun. Mengoleskan salep itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan rasa sakit berlebih ketika Siwon menekannya.

"Sekarang sudah selesai."

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan sebelum ia kembali menundukkan kepalanya, Siwon sudah menahan dagunya. Kyuhyun merona hebat.

"Jangan menundukkan kepalamu lagi! Aku tidak akan menyakitimu. Kau tidak perlu takut terhadapku."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan.

Siwon terlihat ragu untuk menanyakan pertanyaan yang ada dalam kepalanya.

"Kyuhyun… Apa aku boleh bertanya sesuatu?"

Kyuhyun menatap Siwon sejenak kemudian mengangguk.

"Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa orang lain melakukan ini padamu?"

Kyuhyun sudah menduga pertanyaan itu akan keluar. Tapi Kyuhyun belum menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Bagaimana dia menjelaskan kepada Siwon? Kyuhyun ingin menangis sekarang.

"Me-mereka membenciku ka-karena aku seorang gay… Aku tidak tahu kenapa mereka begitu membenci hal itu. Ak-aku tidak pernah melakukan apapun kepada mereka. Tap-tapi kenapa… kenapa mereka melakukan ini padaku?"

Dan Kyuhyun benar-benar menangis setelahnya. Kyuhyun berusaha menghapus air matanya ketika Siwon menatapnya.

"Ma-maafkan aku… Kau pasti jijik melihatku. Aku bisa pergi jika kau mau."

Siwon menahan pundak Kyuhyun ketika pemuda itu akan beranjak dari posisinya.

"Tidak. Aku tidak jijik padamu dan aku juga tidak ingin kau pergi. Aku bukan orang seperti mereka, aku tidak pernah mempermasalahkan orientasi orang lain yang berbeda dariku."

Kyuhyun tersenyum masam menatap Siwon, "Mereka menganggap berbeda berarti berbahaya. Aku bisa mengerti itu. Tapi aku justru tidak mengerti kenapa kau tidak memandang jijik padaku."

Siwon tersenyum, berusaha menenangkan Kyuhyun yang kembali bermain dengan tangannya. Gugup. "Kita tidak bisa menentukan neraka seseorang, Kyuhyun. Hidupmu adalah pilihanmu. Kau yang bertanggungjawab atas hidupmu. Menjadi gay bukanlah hal yang menjijikkan bagiku. Justru orang bodoh yang tidak bisa menghargai perbedaanlah yang membuatku jijik. Kita tidak bisa memaksakan ideal kita kepada seseorang."

"Te-terima kasih, Siwon-ssi." Kyuhyun menundukkan kepalanya lagi ketika merasakan pipinya menghangat. Untuk pertama kali setelah sekian lama, dia merasa lega. Setidaknya ada satu orang yang tidak membencinya di dunia ini.

Siwon tersenyum dan menepuk pundak Kyuhyun pelan. "Tidak perlu berterima kasih, aku hanya mengeluarkan pendapatku. Apa kau sudah makan?"

Kyuhyun menggeleng pelan. Siwon tertawa kecil. "Baiklah, aku bisa memesan makanan untuk kita berdua. Apa kau ingin makan sesuatu?"

Kyuhyun menatap Siwon dan kembali menggeleng, "Ak-aku bisa memasak. Jangan mem-membelinya!"

Siwon menatap Kyuhyun tidak percaya, "Baiklah. Aku rasa aku bisa mencoba masakanmu. Ada beberapa bahan yang mungkin bisa kau masak di dalam kulkas."

Kyuhyun tersenyum, benar-benar tersenyum kali ini. Siwon harus mengumpat kecil ketika kakinya melemas melihat senyum Kyuhyun padanya. Siwon berdehem untuk menstabilkan suaranya, "Lewat sini…"

Siwon menunjukkan dapurnya dan menininggalkan Kyuhyun untuk membersihkan ruang tamunya. Siwon menghela nafas yang tidak tahu sejak kapan ia tahan.

'What the hell is wrong with me?'

.

.

.

.

.

"Whoaaa! Kau benar-benar seorang jenius dalam hal memasak, Cho Kyuhyun! Darimana kau belajar memasak sebaik itu?" Siwon tersenyum lebar menampakkan lesung pipinya ketika ia telah selesai melahap masakan Kyuhyun yang pemuda itu sajikan untuknya. Rasanya benar-benar lezat. Sudah lama rasanya Siwon tidak memakan makanan rumah seenak itu. Siwon mengingat masakan ibunya.

Pipi Kyuhyun memerah mendengar pujian Siwon untuknya. Belum pernah ada yang memuji masakannya sebelumnya. Pada kenyataannya memang Siwonlah orang pertama yang merasakan makanannya selain dirinya sendiri. Kyuhyun menundukkan kepalanya. Entah kenapa Kyuhyun tidak bisa memandang wajah Siwon terlalu lama. Kyhyun tersenyum.

"Terima kasih, Siwon-ssi. Ibu dan kakak perempuanku mengajariku cara memasak sebelum aku pergi ke universitas."

Siwon tersenyum kecil mendapati Kyuhyun tidak lagi tergagap ketika berbicara dengannya. Sebuah hal kecil yang memiliki arti begitu besar baginya. Ia tahu Kyuhyun bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Tidak masalah baginya karena dirinya sendiri mampu beradaptasi dengan semua orang. Banyak karyawan di kantornya yang pendiam dan pemalu. Bukan masalah besar.

"Mereka mengajarimu dengan baik. Lalu dimana mereka sekarang?"

Kyuhyun kembali bermain dengan tangannya. Siwon bisa melihat pemuda dihadapannya semakin menunduk. "Mereka meninggal sepuluh tahun lalu. Beberapa bulan setelah aku pergi ke universitas, keluargaku mengalami kecelakaan mobil. Tidak ada yang selamat, termasuk ayahku."

Siwon menyesal menanyakan hal itu.

"Maaf, aku tidak tahu... Apa aku menyinggungmu? Membuatmu sedih?" Siwon harus berhati-hati dalam memilih kata yang ia gunakan kepada Kyuhyun. Kyuhyun sudah cukup menderita dengan permasalahannya. Ia tidak ingin menambah bebannya lagi.

Kyuhyun menggeleng pelan kemudian menatap Siwon perlahan. Siwon bisa melihat mata pemuda itu berkaca-kaca namun ia tahu Kyuhyun tidak akan menangis karena saat ini Kyuhyun tersenyum padanya.

"Tidak. Bagiku mereka tidak pernah meninggalkanku. Aku tidak akan bisa bertemu dengan mereka selama aku hidup, tapi mereka akan selalu hidup dalam pikiran dan dihatiku."

Hati Siwon menghangat. Sungguh ia ingin memeluk Kyuhyun saat ini. Hanya sebuah pelukan yang mampu menenangkan pemuda itu. Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa keluarganya. Demi Tuhan, bahkan Siwon sering mengeluh ketika dia menempati rumahnya itu sendirian.

Siwon tersenyum, "Aku yakin mereka akan selalu bersamamu. Kau tidak sendirian, Kyu. Kau juga bisa menganggapku sebagai temanmu jika kau mau."

Kyuhyun membulatkan matanya kemudian menundukkan kepalanya segera setelah Siwon tertawa melihat ekspresinya, "Kau tidak membenciku? Tidak jijik padaku?"

Siwon menggeleng, "Aku tidak memiliki alasan untuk membenci dan jijik padamu. Kau mau berteman denganku?"

Kyuhyun merona hebat mendengar tawaran Siwon. Belum ada yang pernah mengajaknya berteman sebelumnya. Kyuhyun menatap uluran tangan Siwon sejenak kemudian dengan ragu membalas uluran tangan itu. Kyuhyun tersenyum melihat tangan Siwon menjabat tangannya.

"Teman. Akhirnya aku memiliki seorang teman." Kyuhyun bergumam lirih. Dia bisa merasakan air matanya mulai memenuhi matanya. Kyuhyun tersenyum lebih lebar membuat air matanya tumpah.

Kyuhyun menatap Siwon dan tersenyum padanya. "Terima kasih, Siwon-ssi."

Siwon melepas jabatan tangan mereka. Merasakan tangan Kyuhyun yang dingin menghilang dalam kehangatan tangannya. Siwon membalas senyuman Kyuhyun, "Tidak ada kata terima kasih dan maaf dalam pertemanan, Kyu. Kau harus ingat itu."

Kyuhyun menggenggam tangannya sendiri. Kyuhyun mengangguk pelan. "Aku akan mencobanya. Kau adalah orang yang sangat baik dan sopan. Sangat sulit untuk tidak berterima kasih dan meminta maaf padamu, Siwon-ssi."

Siwon tertawa kecil, "Seharusnya kau tahu bagaimana orang-orang menjulukiku di kantor, Kyu. Banyak dari mereka yang membenciku karena sifatku."

Kyuhyun menatap Siwon bingung, "Benarkah? Bagaimana bisa? Kau adalah orang yang baik menurutku. Sangat baik."

Siwon mengedikkan bahunya, "Entahlah... Mungkin karena mereka tidak dekat denganku?"

Kyuhyun kembali merona mendengar ucapan Siwon. Ia kembali menundukkan kepalanya dan memainkan tangannya.

Siwon mengerutkan dahinya memandang Kyuhyun, "Apa aku menyiggungmu?"

Kyuhyun menggeleng pelan.

"Lalu, kenapa kau menundukkan kepalamu?"

Kyuhyun semakin menundukkan kepalanya, "Apa... Apa itu berarti aku dekat denganmu?"

Siwon memandang Kyuhyun. Tersenyum. Ia bisa merasakan keraguan sekaligus harapan dalam pertanyaan itu. "Tentu saja. Kita adalah teman. Tentu saja kita dekat."

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan menatap Siwon, "Benarkah?"

Siwon menganggukkan kepalanya dan menyandarkan punggungnya pada kursi makan, "Tentu saja. Berapa usiamu, Kyu?"

"Dua puluh tujuh."

Siwon terlihat berpikir sejenak, "Kau lebih muda dua tahun dariku. Bagaimana jika kau mulai memanggilku dengan sebutan 'hyung' saja? Aku rasa tidak ada teman yang memanggil temannya dengan sufiks '-ssi' di belakang namanya."

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, "Kau... tidak keberatan?"

Siwon menggeleng, "Tentu saja tidak."

Kyuhyun tersenyum tipis, "Hyung?"

Siwon tertawa kecil, "Ya?"

Kyuhyun melebarkan senyumnya, "Siwon Hyung... Aku menyukainya."

Jantung Siwon seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Kyuhyun. Tidak ada yang pernah mengatakan hal semacam itu kepadanya. Siwon menatap Kyuhyun dan tersenyum tulus. Siwon bisa melihat rona merah dipipi Kyuhyun tiap kali dirinya memuji Kyuhyun atau tersenyum pada pemuda itu.

Siwon menelan ludahnya dan berdehem, "Lalu... Apa yang kau lakukan selama ini? Maksudku kuliahmu, pekerjaanmu, apapun..."

Kyuhyun menyembunyikan ronanya dengan menundukkan kepalanya, "Aku mengambil jurusan seni musik modern di Kyunghee. Kemudian aku bekerja pada sebuah agensi musik selama tiga tahun. Namun setelah mereka tahu aku adalah seorang gay, mereka memecatku. Aku bekerja part time selama tiga tahun belakangan."

Ekspresi Siwon mengeras mendengar ucapan Kyuhyun, "Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka begitu mempermasalahkan orientasi yang berbeda. Aku rasa mereka bukan orang berpikiran luas."

Kyuhyun mengedikkan bahunya, "Aku memang berbeda, Hyung. Aku menyadarinya. Aku sudah terbiasa dengan itu."

Siwon menghela nafasnya. Ia tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya berada diposisi Kyuhyun. Ketika kau telah terbiasa dibenci oleh semua orang disekitarmu.

"Maksudku kenapa mereka begitu terang-terangan mengasingkanmu dari lingkungan sosial. Kau tidak pernah melakukan apapun kepada mereka. Apa kau pernah melakukan sesuatu kepada mereka? Bagaimana bisa mereka menilaimu sebagai seorang gay jika kau tidak melakukan sesuatu yang mencolok?"

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, "Bukankah kau bisa melihatnya dari penampilanku? Aku tampak seperti gay, Hyung."

Siwon memandang Kyuhyun tidak percaya, "Menurutku penampilanmu biasa saja. Apa hanya aku yang berpikir seperti itu?"

Kyuhyun mengangguk.

Siwon menghela, "Baiklah. Mereka terdengar semakin bodoh saja menurutku. Lalu bagaimana mereka mengetahui kau adalah seorang gay? Kau mengatakan kau sempat bekerja pada agensi musik selama tiga tahun lalu mereka memecatmu. Apa sesuatu terjadi?"

Kyuhyun kembali bermain dengan jarinya, "Ada seseorang yang berusaha mendekatiku dan memaksaku tidur dengannya. Orang itu memiliki kekuasaan besar dalam agensi itu. Aku berusaha mengundurkan diri untuk menjauhinya namun justru berakhir dengan mereka memecatku karena orang itu membongkar rahasiaku."

Siwon mengepalkan tangannya kuat, "Bajingan macam apa dia? Rasanya ingin sekali aku membunuh laki-laki itu saat ini juga. Dia merendahkanmu dengan begitu kejam."

Kyuhyun tersenyum miris ketika air matanya kembali turun, "Tidak apa, Hyung. Aku sudah biasa. Aku memang pantas diperlakukan seperti itu."

Siwon tidak suka hal ini. Siwon harus melakukan sesuatu.

Siwon beranjak dari posisinya dan duduk disamping Kyuhyun. Memeluk tubuh Kyuhyun dalam pelukan yang menenangkan. Sebuah pelukan sederhana. Namun begitu berarti bagi Kyuhyun. Sangat berarti. Belum ada yang pernah memeluknya seperti ini selain ibunya.

Kyuhyun terisak ketika Siwon mengeratkan pelukannya.

"Tidak ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu, Kyu. Mulai saat ini kau tidak perlu merasakan hinaan mereka lagi. Aku berjanji."

"Bolehkah aku memelukmu, Hyung?" Kyuhyun berkata lirih.

Siwon tersenyum, "Tentu saja. Kau boleh memelukku kapanpun kau mau."

Dan Kyuhyun memeluk Siwon.

Melingkarkan kedua lengannya dipinggang Siwon dan menarik tubuh laki-laki itu mendekat. Menempelkan kepalanya didada Siwon dan menumpahkan segala air matanya disana. Siwon merasakan setetes air mata menuruni pipinya. Ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya menangis.

Siwon bisa merasakan Kyuhyun benar-benar berharap kepada Siwon untuk memenuhi janjinya.

Dan Siwon tidak berniat untuk mengingkarinya.

Merasakan Kyuhyun memeluknya seperti ini, merasakan bahwa pemuda itu membutuhkannya, Siwon tidak bisa tidak bahagia. Yang Siwon inginkan hanyalah melindungi pemuda dalam pelukannya.

Siwon tidak pernah benar-benar menginginkan apapun dalam hidupnya. Semuanya ia dapatkan dengan mudah melalui materi dan kecerdasannya. Tapi kali ini, Siwon benar-benar ingin melindungi pemuda yang ditolongnya sore ini.

Siwon tidak pernah merasakan dibutuhkan oleh siapapun. Dia memiliki banyak teman, tapi teman-temannya bukan orang yang bergantung padanya. Dia memiliki keluarga, namun keluarganya telah terbiasa hidup mandiri. Baru kali ini Siwon merasakan bagaimana rasanya dibutuhkan. Seperti hidupnya yang semula abu-abu, kini menjadi lebih berwarna. Dan Siwon tidak ingin menghilangkan perasaan ini.

"Aku akan menjagamu, Kyu."

.

.

.

.

.

Seminggu setelahnya, Kyuhyun masih tinggal di rumah Siwon. Pada akhirnya Siwon bersikeras menyuruh Kyuhyun untuk tetap tinggal di rumahnya. Dengan alibi, Kyuhyun menjadi koki dan tukang bersih-bersih. Siwon sempat menolak dengan tegas tawaran Kyuhyun itu. Namun Kyuhyun mengatakan jika Siwon tidak membiarkannya melakukan hal berguna untuk Siwon, maka dirinya akan pergi dari rumah Siwon saat itu juga.

Luka di tubuh Kyuhyun kini perlahan menghilang. Luka lebam pada tubuhnya berangsur-angsur menghilang akibat beberapa obat yang Siwon berikan padanya.

Siwon memasuki rumahnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan keberadaan Kyuhyun di rumahnya, membuat dirinya memiliki alasan untuk pulang lebih awal dari kantor. Siwon lebih sering menghabiskan waktunya untuk memelajari sikap Kyuhyun dan membaca laki-laki itu dengan baik. Kyuhyun tampaknya tidak terganggu dengan hal itu. Kyuhyun juga lebih sering tersenyum kepada Siwon.

Keduanya menjadi sosok yang lebih baik.

Siwon berjalan menuju dapur dan menemukan Kyuhyun telah selesai memasak makan malam mereka. Siwon tersenyum tipis melihat ekspresi Kyuhyun yang semakin bervariasi. Kyuhyun juga mulai sering bersenandung ketika melakukan sesuatu.

"Apa menu makan malam kita kali ini, Kyu?"

Kyuhyun tersenyum, "Sup krim jagung dan ayam serta roti. Ibuku sering memasak sup ini ketika aku masih kecil."

Siwon terkekeh kecil kemudian mengacak rambut Kyuhyun membuat Kyuhyun menundukkan kepalanya. Pipinya memanas. "Aku menyukai wajahmu ketika merona."

Kyuhyun menyikut perut Siwon pelan. "Aku tidak merona, Hyung."

Siwon memutar bola matanya malas kemudian membantu Kyuhyun membawa makanan mereka ke meja makan, "Kau boleh mengelak, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas."

Kyuhyun hanya bisa menyembunyikan senyumnya.

Keduanya menghabiskan makan malam dengan tenang. Beberapa kali Siwon akan melemparkan candaan dan godaan pada Kyuhyun membuat pemuda itu tidak pernah berhenti tersenyum. Siwon menyukainya. Dimana dirinya bisa membuat senyum itu terpatri dibibir pemuda itu.

"Kyu, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat besok malam?"

Kyuhyun menatap Siwon yang sedang tersenyum, "Apa Hyung tidak sibuk?"

Siwon menggeleng, "Aku tidak ada rapat besok, jadi aku bisa pulang lebih awal. Bagaimana jika kita pergi menonton lalu makan malam di luar?"

Kyuhyun menatap Siwon ragu, "Hyung yakin ingin mengajakku keluar?"

Siwon mengangguk kali ini, "Tentu saja. Lagipula lusa adalah akhir pekan. Kita bisa pulang selarut apapun yang kita mau. Apa kau tidak bosan di rumah terus?"

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Tersenyum. "Sudah lama aku tidak pergi ke bioskop bersama seseorang."

Siwon tersenyum, "Baiklah. Kita akan pergi besok. Sekarang kita istirahat."

Pemuda dihadapan Siwon menatapnya bahagia. Siwon bisa merasakan senyumnya dalam pandangan mata mereka yang beradu. Siwon menunjuk wajah Kyuhyun ketika pemuda itu hendak mengeluarkan suaranya.

Siwon tersenyum lebih lebar, "Sssh! Tidak ada kata terima kasih."

Kyuhyun merona kemudian menganggukkan kepalanya. Keduanya mengucapkan selamat malam untuk satu sama lain dan beristirahat.

.

.

.

.

.

Kyuhyun tersenyum memandang keluar jendela ketika ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kyuhyun bahagia. Sangat bahagia. Bagaimana bisa Siwon sebaik itu padanya? Kyuhyun tidak pernah melakukan apa-apa untuknya, tapi kenapa Siwon bisa begitu baik padanya?

Kyuhyun memegang dada kirinya dan memejamkan matanya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan bagaimana detak jantungnya meningkat dengan cara yang begitu indah. Tapi Kyuhyun tidak bisa membiarkan Siwon tahu mengenai perasaannya. Tidak jika kehilangan Siwon adalah taruhannya.

Kyuhyun tahu dia telah jatuh cinta.

'Bukankah cinta tidak harus selalu berbalas?'

.

.

.

.

.

Siwon membaringkan tubuhnya pada ranjangnya. Meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan memandang langit-langit kamarnya. Siwon tersenyum.

Hidupnya yang dulu monoton, kini menjadi lebih berbeda sejak kehadiran Kyuhyun. Dirinya lebih sering tertawa ketika pemuda itu ada bersamanya. Bahkan Siwon tidak tahu bahwa ada bagian pada dirinya yang seperti itu. Siwon bisa merasakan sesuatu berubah dalam dirinya.

Siwon tahu dirinya bukanlah seorang gay atau biseksual. Namun ada bagian dari dirinya yang begitu menyukai kehadiran Kyuhyun di dekatnya.

"Bukankah aku seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya saat ini?" Siwon berkata pada dirinya sendiri.

Siwon memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur.

'Cho Kyuhyun, kau adalah teman yang menyenangkan.'

.

.

.

.

.

Keduanya memasuki gedung bioskop setelah Kyuhyun memilih sebuah film fantasi yang menurutnya menarik. Siwon tidak pernah menyempatkan dirinya untuk menonton di bioskop semacam itu dengan orang lain. Menjadi seorang direktur utama perusahaan keluarganya bena-benar menguras waktunya. Jadi Siwon lebih percaya kepada Kyuhyun untuk memilih film untuk mereka.

Mereka berdua duduk di barisan VIP yang telah Siwon pesan sebelumnya. Kyuhyun memberi komentarnya ketika tahu Siwon memilih tempat duduk itu. Siwon hanya berkata bahwa barisan VIP adalah tempat yang sempurna untuk menyaksikan film dan Siwon tidak ingin membuat pengalaman pertamanya pergi ke bioskop tidak sempurna.

Siwon juga membeli dua paket makanan ringan untuk mereka. Kyuhyun mulai berpikir untuk mencari pekerjaan setelah ini. Ia tidak ingin menghabiskan uang Siwon untuknya tentu saja.

Ketika lampu ruang itu mulai padam, keduanya mengamati layar besar dihadapan mereka dengan seksama.

"Aku tidak tahu kenapa orang-orang pergi ke tempat ini hanya untuk menonton film. Maksudku, mereka bisa mendownload di internet, bukan?"

Kyuhyun menoleh ke arah Siwon disampingnya. Menemukan laki-laki itu juga menatapnya. Kyuhyun bersyukur Siwon tidak akan melihat rona diwajahnya saat itu.

"Bukan hanya filmnya, Hyung. Biasanya seseorang akan mengajak orang lain untuk menonton bersamanya. Teman, sahabat, kerabat, rekan kerja, atau… kekasihnya… Hanya untuk sekedar meluangkan waktu bersama." Kyuhyun sedikit canggung mengucapkan kata 'kekasih' dalam kalimatnya.

"Kau pernah pergi kesini dengan seseorang?"

Kyuhyun mengangguk dan kembali menatap layar dihadapannya.

"Siapa?"

"Terakhir kali dengan teman kuliahku beberapa tahun lalu. Dia satu-satunya temanku sewaktu kuliah."

"Sekarang dia dimana? Bekerja?"

Kyuhyun menundukkan kepalanya lalu menatap Siwon, "Dia meninggal lima tahun lalu. Terkena gagal jantung. Jantungnya memang sudah bermasalah sejak dia kuliah."

Siwon bisa melihat mata pemuda itu mulai berkaca-kaca. Siwon tersenyum miris dan menepuk pundak Kyuhyun. "Aku turut bersedih mendengarnya."

Kyuhyun tersenyum dan menggeleng, "Berandalan itu mengatakan bahwa aku membawa sial. Mungkin mereka benar. Semua orang yang aku sayang meninggalkanku."

Siwon meremas pundak Kyuhyun lembut, "Tidak ada orang yang seperti itu, Kyu. Tuhan selalu memberkati setiap orang yang lahir ke dunia."

"Termasuk orang sepertiku?"

Siwon mengangguk, "Tidak ada kata orang sepertimu dalam dunia ini. Kau adalah Cho Kyuhyun. Dan Tuhan juga memberkatimu tentu saja."

Kyuhyun tersenyum tipis menatap Siwon, "Tapi aku lebih memilih tidak mengambil resiko, Hyung."

"Maksudmu?"

Kyuhyun melepas tangan Siwon dipundaknya dan memfokuskan pandangannya kembali ke layar. Siwon mengerutkan dahinya. Siwon sudah akan mengabaikan jawaban Kyuhyun ketika dia mendengar Kyuhyun kembali berbicara. Begitu pelan hingga Siwon harus menajamkan pendengarannya. Pandangan Kyuhyun tidak meninggalkan layar dihadapannya.

"Aku tidak berani menyayangimu karena aku tidak ingin kehilanganmu, Hyung."

Dan entah kenapa ada sesuatu dalam diri Siwon yang runtuh ketika Kyuhyun mengucapkannya dengan setetes air mata menjatuhi pipinya.

Siwon memilih diam dan menghanyutkan dirinya dalam film dihadapannya. Ia tahu ia tidak akan bisa memahami film itu. Dan ia juga tahu bahwa Kyuhyun juga seperti itu.

.

.

.

.

.

To be continued.

Maaf kalo ga dapet feelnya -_-