The Garden of Words
Original Story by Makoto Shinkai
Kaisoo Remake by Neoppuniya
.
.
Part 1
"Pagi ini, pusat pemantauan cuaca telah mengumumkan bahwa musim hujan di Seoul turun lima hari lebih cepat dari biasanya.." Selagi Jongin memasak makan malam, televisi di ruang tamu terus menyala, mengabarkan kondisi terkini cuaca kota tempat tinggalnya. Bunyi hentakan pisau pada tatakan menyahuti suara sang pembaca berita.
"Aku pulang." Seorang pria menyapa Jongin setelah ia memasuki rumah.
"Oh, selamat datang." Sahut Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari masakan.
"Aku membawa kroket." Kata pria tadi sambil meletakkan sebungkus makanan di atas meja makan lalu membuka kulkas, mencari soda. Ia kemudian berjalan ke kamarnya yang terletak tepat di sebelah dapur karena rumah mereka begitu kecil.
"Terimakasih. Makan malam akan segera siap." Balas Jongin.
"Terimakasih kembali. Ibu kemana?"
Jongin berhenti sebentar dari kegiatan mengirisnya lalu menjawab.
"Melarikan diri." Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Park Chanyeol, laki-laki yang sedari tadi mengajak bicara Jongin kini sibuk melepas dasinya. Mereka kakak adik, namun berbeda ayah. Itulah yang menyebabkan nama marga mereka berbeda.
"Beruntung sekali. Jadi kita bisa makan kroketnya sendiri." Ucapnya santai.
"Ibu meninggalkan surat, katanya tidak perlu mencarinya." Jawab Jongin. Ia meletakkan dua potong tomat di atas mie yang ia buat. "Tapi apakah tidak apa-apa?"
"Sudah biarkan saja. Aku yakin dia akan kembali setelah bertengkar dengan kekasihnya." Chanyeol kembali ke ruang makan lalu mulai menyantap hidangan sederhana yang sudah dibuatkan adiknya. Dan kedua kakak adik itupun mulai makan malam dengan tenang.
"Aku sudah menemukan tempat baru. Mungkin bulan depan baru pindah." Chanyeol membuka percakapan dengan tenang.
"Tinggal sendiri?" Tanya Jongin.
"Dengan kekasihku." Ucapnya santai.
"Apa Hyung tidak berpikir jika itu yang membuat ibu melarikan diri? Kau sudah memberitahunya kan kemarin?" Jongin bertanya dengan mengangkat satu alisnya.
"Yah, aku hanya ingin ibu membiarkan anak-anaknya pergi, kau tahu? Justru dia lah yang memulai duluan dengan memacari pria-pria yang lebih muda, sialan." Kata Chanyeol sebelum melahap makanannya.
"Ya sudah! Kalau begitu Ibu juga akan tinggal dengan kekasih Ibu! Huh!" Chanyeol membayangkan ekspresi ibunya saat ia memberitahu akan tinggal sendiri, ia lalu tertawa geli.
"Lagipula ibu memiliki paras yang awet muda, sih." Sahut Jongin.
"Itu karena ia tak pernah bekerja keras sepanjang hidupnya." Jelas Chanyeol. "Kaulah yang terbebani sepanjang tahun."
Jongin menghabiskan supnya seperti meminum teh. "Terimakasih atas makanannya."
Ia lalu beranjak meninggalkan Chanyeol tanpa membawa peralatan makannya.
"Hyung yang bersihkan, aku sudah lelah." Ucapnya sambil berlalu.
Jongin berkata lelah, namun nyatanya di dalam kamar ia masih berkutat dengan kerangka sepatunya.
Chanyeol memasuki kamar Jongin, yang juga kamarnya, sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
"Bukankah kau akan semakin senang, memiliki ruang lebih di kamarmu?" Chanyeol berdiri di belakang Jongin yang sedang duduk sambil menghaluskan kerangka sepatunya.
"Bisa jadi." Balasnya tanpa menoleh pada Chanyeol.
"Bantu aku pindah, oke?" Pinta Chanyeol.
"Tentu."
Chanyeol mulai melangkah memasuki ruangannya yang hanya terpisah kain seperti gorden dengan kamar Jongin.
"Oh, hyung?" Panggil Jongin tiba-tiba.
"Hm?" Chanyeol membalikkan badannya lalu menerima selembar kertas yang disodorkan Jongin.
"Kau pernah dengar ini?"
"Apa ini?" Tanya Chanyeol balik.
"Itu syair." Jawab Jongin.
"Kau pikir aku tahu? Tanyakan pada ibu saja nanti kalau dia sudah kembali." Chanyeol mengembalikan kertas itu pada Jongin sebelum memasuki kamarnya.
"...
Gemuruh sang petir
Langit ...
Mungkin hujan datang
Jika itu terjadi, akankah kau tetap di sini bersamaku?"
Jongin memilih menulis beberapa potong syair yang ia ingat karena terus terpikirkan oleh ucapan wanita di taman itu.
.
.
.
"Di pagi yang cerah, aku beralih menggunakan bus menuju ke sini, ke tempat dimana aku seharusnya berada. Tapi aku berkata pada diriku sendiri, bahwa ini bukanlah apa yang harus kulakukan sekarang." -J
Jongin duduk di samping jendela. Alih-alih mendengarkan gurunya, ia lebih memilih memandangi langit sambil bertopang dagu.
Keesokan harinya, Jongin terbangun oleh dering alarm di ponselnya. Dengan malas ia mendudukkan diri lalu menoleh ke arah jendela. Langit mendung dan suara gemericik air berhasil membuatnya tersenyum.
"Oh, hujan!"
Di tengah derasnya hujan, laki-laki berusia 17 tahun itu berjalan dengan semangat di bawah payungnya. Langkah-langkah kaki itu semaking besar saat ia mencapai area Taman Nasional Seoul. Terkadang ia melompat untuk menghindari genangan air, atau berlari saat berada di bawah pohon. Tanpa ia sadari ia telah sampai di pondok di pusat taman. Langkah kakinya sempat terhenti saat mata kucingnya tak sengaja bertatapan dengan mata bulat wanita yang sudah lebih dulu ada di pondok tersebut.
"Halo." Sapa wanita itu sambil tersenyum.
"Uhm, halo." Jawab Jongin sambil membungkuk sopan. Ia lalu berjalan pelan menuju ruang kosong di sana.
Tak ada percakapan lagi. Yang terdengar hanya suara goresan pensil Jongin di atas kertas dan suara kaleng bir yang dibuka oleh wanita di sampingnya. Masih diiringi tetesan air hujan yang setia menemani pagi mereka.
Jongin memijit pelipisnya, tanda ia sedang berpikir. Melihat sesuatu yang menarik dari ekor matanya, Jongin diam-diam melirik kaki wanita di sampingnya yang berayun-ayun sambil menggantungkan sepatu di ujung telapak kakinya. Setelah mendapat gambaran bentuk sebuah telapak kaki, Jongin akhirnya bisa memperbaiki gambarnya.
"Hei." Panggil wanita itu.
"Eh, ya?" Jongin kaget karena tiba-tiba dipanggil, padahal sedang serius menggambar.
Wanita itu tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Jongin. "Tidak sekolah hari ini?" Tanyanya lembut.
Jongin mendengus. "Anda sendiri? Apa kantor anda tutup hari ini?" Tanya Jongin sambil melirik dua botol bir di samping wanita itu.
Wanita itu tersenyum lalu menundukkan kepalanya. "Aku bolos kerja lagi."
Jongin menatapnya terkejut, lalu tersenyum.
"Dan meminum bir di taman di pagi hari?" Pertanyaannya berhasil membuat wanita di sampingnya tertawa kecil.
"Minum bir sendirian tidak baik untuk kesehatan anda. Perlu ada makanan lain sebagai tambahannya." Lanjut Jongin.
"Kau tahu cukup banyak untuk ukuran anak SMA." Wanita itu menelengkan kepalanya.
"Aah, bukan aku. Ibuku yang suka minum." Sangkal Jongin.
"Aku punya kok, makanan tambahannya." Wanita itu mengaduk-aduk isi tasnya lalu menyodorkan beberapa bungkus coklat pada Jongin. "Mau?" Tawarnya.
"Eeewh!" Jongin refleks menjauhkan tubuhnya dari wanita itu sambil memasang wajah jijik.
"Hihihi. Kamu pasti berpikir jika wanita ini sangat aneh bukan?"
"Uh, aku tidak-"
"Tidak apa-apa. Pada dasarnya kita juga manusia biasa. Pasti memiliki beberapa kebiasaan kecil." Kata wanita itu.
"Apakah begitu?" Tanya Jongin dengan polosnya.
"Tentu saja."
Rintik hujan semakin jarang, langit juga mulai menampakkan cahaya mentari. Jongin mengemasi bukunya lalu berdiri.
"Baiklah, sepertinya sudah waktunya aku pergi."
"Pergi ke sekolah sekarang?" Tanya wanita itu keheranan.
"Sudah kuputuskan hanya akan membolos di pagi hari saat hujan turun." Jawab Jongin.
"Hmm, jadi mungkin kita akan bertemu lagi. Mungkin, disaat hujan turun." Ucap wanita itu sambil tersenyum pada Jongin.
"Dan hari itu, adalah tepat hari pertama musim hujan di Seoul" -J
.
.
.
Pagi hari di Seoul hampir selalu ditutupi awan mendung dan digenangi air hujan. Warga berjalan kesana kemari membawa payung atau memakai jas hujan untuk sekedar melindungi diri. Begitu pula dengan Jongin dan wanita yang selalu memakai payung merah itu. Seperti yang dikatakan oleh si wanita di taman, hampir tiap hari mereka bertemu karena tentu saja hampir tiap pagi hujan turun.
Seiring semakin seringnya pertemuan mereka, rasa canggung pun semakin berkurang. Jongin yang awalnya duduk begitu jauh dari si wanita, sedikit demi sedikit mulai berani menggeser duduknya agar lebih dekat. Dan saat hujan telah berhenti membasahi Seoul, Jongin pergi meninggalkan wanita itu untuk menuju ke sekolahnya.
Jongin berasal dari keluarga yang kurang berada. Ia tak memiliki ayah, ditambah kelakuan ibunya yang sama sekali tak bisa diandalkan. Maka saat sekolahnya memberikan selebaran tes masuk kuliah, apalagi di sana terdapat rincian dana yang tak bisa ia bayangkan sebelumnya, Jongin akhirnya memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan paruh waktu sepulang sekolah.
"Pembuat sepatu?" Tanya wanita di sampingnya. Kini mereka tidak duduk di pondok seperti biasa, namun berdiri di bawah pondok lain yang tidak memiliki tempat duduk dan memiliki jarak lebih dekat dengan danau.
"Aku tahu, ini rasanya diluar batas. Tapi aku sangat menikmati membuat desain dan menciptakan sepatu. Sejujurnya aku masih sangat buruk dalam hal ini, tentu saja.." Jawab Jongin.
"Tapi meski begitu, aku ingin menjadikannya sebagai karirku, jika aku bisa. Aku tak pernah mengungkapkan ini pada siapapun sebelumnya." -J
Hujan turun, naik kereta, membolos, terlambat ke sekolah dan dipanggil guru karenanya, lalu bekerja paruh waktu sepulang sekolah, sudah menjadi rutinitas Jongin tiap harinya. Namun di antara kegiatan-kegiatan itu, ada beberapa hal yang membuatnya tetap bersemangat. Apalagi, kalau bukan karena bisa menemui wanita itu di taman? Ditambah ia sekarang bisa membantu mengurangi kebiasaan minum bir si wanita dengan membuatkannya sarapan.
Seperti pagi ini, Jongin kembali membolos dan pergi ke taman. Senyum lembut dan lambaian tangan dari wanita itu kembali menyambutnya.
"Di malam hari sebelum aku tertidur dan pagi hari saat aku terbangun, aku sadar jika aku selalu mengharapkan hujan turun.
Aku sadar, di hari yang cerah aku akan berada di tempat yang buruk, tempat yang kekanakan. Tanpa apapun kecuali ketidaksabaran. Ia berada di dunia kerja orang dewasa yang sangat jauh dariku. Bagiku, ia merepresentasikan tak lebih dari sebuah rahasia di dunia.
Sejujurnya, ada dua hal yang aku ketahui dengan pasti. Pertama, wanita itu pasti berpikir bahwa aku sama seperti anak berusia 17 tahun pada umumnya. Kedua, membuat sepatu adalah satu-satunya hal yang akan menuntunku keluar dari tempat ini." -J
.
.
.
Do Kyungsoo
"Untuk keamanan anda, tolong berdiri d belakang garis kuning." Suara operator menyambut kedatangan kereta di stasiun. Di deretan penumpang yang menunggu giliran masuk kereta, Kyungsoo terdiam. Entah apa yang dipikirkannya, tapi wanita itu tak kunjung masuk ke dalam kereta.
"Tolong berhati-hati, karena pintu kereta akan segera ditutup." Mendengar peringatan pintu akan ditutup pun tak membuat wanita itu beranjak dari posisinya. Kereta mulai berjalan, meninggalkan Kyungsoo yang berpaling berjalan keluar stasiun sambil menghela nafas.
Pemandangan siswa SMA yang sedang berkutat dengan buku tulisnya menyambut Kyungsoo saat ia tiba di pondok di pusat taman. Laki-laki itu menoleh mendengar langkah kaki Kyungsoo lalu tersenyum.
"Selamat pagi." Sapanya. Kyungsoo tidak menjawab.
"Aku pikir noona tidak akan datang hari ini. Sebuah keajaiban noona belum dipecat juga." Canda Jongin.
Kyungsoo menutup payungnya saat dirasa dirinya telah terlindungi dari guyuran air hujan. Wanita itu berjalan ke belakang Jongin. Saat Jongin kembali sibuk dengan sketsanya, Kyungsoo mengintipnya dari belakang.
"Wow! Apa itu desain sepatu?" Ucapnya kagum melihat sketsa Jongin.
"Aa! Hei!" Jongin buru-buru menutup bukunya.
"Aku tidak boleh melihat?" Tanya Kyungsoo.
"Ini bukan sesuatu yang patut ditunjukkan." Jawab Jongin dengan gugup.
"Oh ya?"
"Iya! Sudah duduk dulu sana." Jongin menunjuk ke tempat biasa Kyungsoo duduk. Kyungsoo tersenyum geli sebelum menuruti Jongin.
"Aku mau sarapan. Noona mau makan bersama?" Tawar Jongin sambil membuka bekalnya.
"Terimakasih, tapi aku sudah membawa bekal sendiri." Kyungsoo juga mulai membuka bekalnya.
"Noona membuatnya sendiri?" Tanya Jongin sedikit terkejut.
"Apa? Aku juga memasak, tahu?" Jawab Kyungsoo sedikit sewot.
"Hehehe.. Uhm, kalau begitu ayo bertukar makanan." Jongin kemudian dengan santainya mencomot sarapan Kyungsoo.
"He..hei! Aku tak sebaik itu dalam-"
Kraak! Suara kulit telor terdengar dari mulut Jongin yang langsung berusaha menelan masakan Kyungsoo dengan susah payah,
"-memasak, kau tahu?" Sambung Kyungsoo malu-malu. "Itu salahmu sendiri." Kyungsoo menyodorkan air mineral pada Jongin yang kini mulai tersedak.
Selesai minum, laki-laki itu malah tertawa.
"Hahahaha. Ini salah satu sisi dari noona yang tidak aku bayangkan." Ucapnya.
"Apa sih?" Protes Kyungsoo.
"Maaf,hihihi. Tapi ini enak dengan caranya sendiri. Seperti mendapat... kejutan." Goda Jongin.
"Jangan meremehkanku." Balas Kyungsoo.
"Boleh aku minta lagi?"
.
.
.
Sore itu, Jongin berlarian di taman. Ia mengejar kakaknya yang sudah berlari lebih dulu darinya.
"Jongin, cepatlah!" Teriak Chanyeol dari kejauhan.
"Tunggu aku hyung!" Dengan langkah kecilnya, Jongin terus berlari menyusul Chanyeol.
"Hati-hati sayang." Seorang wanita yang berjalan di belakang Jongin berkata.
Di salah satu bangku kosong di taman itu, mereka duduk. Chanyeol dengan santai meminum jusnya, Jongin berdiri di depan sang ibu yang sedang memegang sebuah bingkisan. Berdiri di depan mereka bertiga, ada ayah Jongin dan ayah tiri Chanyeol tersenyum menatap ketiga orang tercintanya itu.
"Selamat ulang tahun ibu!" Ucap ketiga lelaki itu bersamaan.
"Terimakasih." Balas satu-satunya wanita di sana. "Kira-kira apa ya yang kalian beri untuk ibu?" Tanya sang ibu sambil membuka bingkisan kado di pangkuannya. Jongin kecil melongok ingin tahu pada isi kado ibunya.
Sebuah sepatu. Berkilau cantik berwarna ungu.
.
Hembusan nafasnya lembut, stabil, seirama dengan gemericik air hujan yang tak kunjung berhenti. Kyungsoo memperhatikan Jongin yang tertidur pulas di pondok.
"Hei, apa kau pikir sudah cukup terlambat bagiku?" Tanya Kyungsoo tanpa mengharap jawaban dari laki-laki di sampingnya.
.
.
.
Kyungsoo kembali ke apartmentnya saat hari sudah menjelang sore. Kamarnya sungguh berantakan untuk ukuran sebuah kamar wanita dewasa. Ia meletakkan tas lalu melepas blazer, menyisakan kemeja putih dan celana kerjanya lalu merebahkan diri di atas ranjang. Ia memejamkan mata kemudian menghela nafas panjang.
Saat malam tiba, Kyungsoo kembali menelpon pria itu. Suho namanya. Seseorang yang namanya selalu memenuhi daftar panggilan keluar di ponsel Kyungsoo.
"Dan kau tahu? Aku sudah bisa merasakan rasa makanan." Kata Kyungsoo.
"Jadi, gangguan indera perasamu sudah mulai membaik?" Balas suara di seberang.
"Belum sebaik itu. Tapi lebih baik daripada beberapa waktu lalu, aku hanya bisa merasakan bir dan coklat."
"Memang keputusanmu untuk berhenti adalah yang terbaik."
"Sepertinya begitu."
"Kau bicara padaku dengan sangat lembut, seolah menyentuh sesuatu yang rapuh. Tapi saat itu, ketika aku bahkan kesulitan untuk sekedar bernafas, kau tak mempercayaiku. Kau hanya mendengar suara-suara di sekelilingmu." -K
"Baiklah, mari kita mulai berkas kepindahanmu setelah liburan. Aku akan memberi kabar jika ada yang lebih baik lagi." Ucap Suho.
"Baiklah. Maaf karena banyak merepotkanmu bahkan setelah kita berpisah." Jawab Kyungsoo.
"Tidak apa, sungguh. Oh ya, tentang nenek-nenek yang kau temui di taman.." Suho menggantungkan kalimatnya.
"Eoh?" Kyungsoo bertanya-tanya.
"Kau tahu, seseorang yang sering kau bicarakan. Yang selalu membawakanmu bekal di taman. Sepertinya kau memiliki kecocokan dengannya" Terdengar suara Suho meniup sesuatu yang Kyungsoo duga tak lain adalah rokok. "Istirahatlah."
Kyungsoo mematikan sambungannya. Ia meringkuk memeluk lutut lalu mengubur kepalanya di antara kedua lututnya.
"Bahkan sejak saat itu aku bukanlah apapun selain sebuah kebohongan" -K
Pagi tiba. Bunyi alarm membangunkan Kyungsoo dari tidurnya. Sambil merapikan rambutnya yang pendek, ia menoleh ke arah jendela. Matanya berbinar, senyum tercetak di bibirnya.
"Hujan."
Dengan semangat ia membersihkan diri lalu berkutat di dapur membuat bekal. Walaupun masih penuh kekacauan setidaknya ia telah mencoba.
"Hari ini, hujan kembali turun di Kota Seoul. Di pintu selatan Stasiun Seoul, seluruh penumpang kereta membawa payung di tangannya." Suara pembaca berita cuaca mengiringi pagi Kyungsoo.
Sesampainya di stasiun, lagi-lagi ia hanya berdiri termangu menatap kepergian keretanya yang baru pergi beberapa detik lalu. Kyungsoo hanya tersenyum tipis lalu memutar tubuhnya dan mulai berjalan ke arah lain.
.
.
.
JULI
Hujan masih turun, tapi langit Seoul hari ini cukup cerah. Hingga terciptalah beberapa pelangi kecil di danau tepat di depan pondok mereka.
"Hei, ini untukmu." Kata Kyungsoo sambil menyodorkan sebuah buku pedoman membuat sepatu pada Jongin.
"Untukku?" Jongin bertanya-tanya keheranan.
"Karena aku selalu makan bekalmu, juga karena kau bilang kau menginginkannya bukan?" Ucap Kyungsoo lembut.
"Tapi bukankah buku ini mahal? Tapi.. Terimakasih banyak!" Ucap lelaki muda itu dengan senang.
Kyungsoo tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Sama-sama."
Jongin, masih dengan senyuman lebarnya buru-buru membuka buku itu dan membolak-balik halaman dengan penuh antusias.
"Um, aku sebenarnya.." Jongin ragu-ragu menoleh pada Kyungsoo. "Aku sedang membuat sepasang sepatu saat ini." Sambungnya.
"Wow! Itu hebat! Sepatu untukmu sendiri?" Tanya Kyungsoo.
"Belum aku tentukan, tapi yang jelas ini sepatu wanita." Jawabnya malu-malu.
Kyungsoo sedikit terkejut, lalu tersenyum.
"Tapi aku masih belum bisa membuatnya dengan benar, karenanya..." Imbuh Jongin sambil menatap Kyungsoo penuh permohonan.
Kyungsoo melepas sepatunya perlahan, lalu mengangkat kakinya ke tempat yang mudah dijangkau oleh Jongin. Sedikit canggung, pemuda itu menyentuh ujung jari kaki Kyungsoo. Tidak mendapat reaksi berlebihan dari sang pemilik kaki, Jongin perlahan mulai menyentuh tumit, telapak hingga pergelangan kaki Kyungsoo.
Cahaya mentari semakin terlihat, namun hujan rintik tak menunjukkan tandanya untuk berhenti. Suara kicau burung pun menemani pagi hari mereka kali ini.
Jongin mencatat beberapa hal yang ia dapatkan dari hasil mengobservasi telapak kaki Kyungsoo. Memastikannya akurat dengan menggunakan penggaris dan meteran kecil. Jongin meminta Kyungsoo berdiri agar ia bisa menggambar keseluruhan ukuran telapak kaki Kyungsoo.
Wanita itu pun menurutinya. Berpegangan pada atap pondok yang rendah, Kyungsoo menapakkan kaki kanannya di atas buku tulis Jongin. Sang pemilik lalu menggoreskan pensilnya sesuai ukuran terluar telapak kaki si wanita. Kyungsoo memandang Jongin yang sibuk menggambar dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Kau tahu, tanpa kuketahui, sebenarnya aku sudah tidak bisa berjalan dengan benar lagi." Kata Kyungsoo yang berhasil mengalihkan perhatian Jongin.
"Apa itu maksudnya tentang pekerjaan Noona?" Jongin mendongak menatap Kyungsoo.
"Ya, tentang banyak hal." Kyungsoo menjawabnya sambil tersenyum tipis.
Jongin yang tak begitu mengerti memilih untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya.
"Aku tak tahu apapun tentangnya. Pekerjaannya, usianya, kekhawatiran apa yang ia bawa, bahkan namanya. Namun aku tidak bisa untuk tidak terpesona olehnya." -J
.
.
.
Kyungsoo mengaduk-aduk colanya dengan malas. Suara pembaca berita cuaca terdengar di telinganya.
"Musim hujan telah berakhir 10 hari lebih cepat dari normal di Seoul. Temperatur saat ini mencapai 26 derajat..."
"Seperti menjentikkan jari, musim panas datang begitu cepat. Oh, tentu saja, saat ini aku juga senang karena ia tidak akan membolos sekolah lagi. Tapi sejujurnya..." -K
Kyungsoo berjalan di bawah terik matahari, memakai topi lebar berwarna peach dengan pita merah maroon. Ia juga memakai dress cerah sesuai dengan suasana musim panas.
"Aku berharap musim hujan tak pernah berhenti." Gumamnya.
Tanpa ia sadari, langkah kakinya berakhir di pondok itu. Pondok tempatnya berbagi hujan di pagi hari bersama seorang siswa SMA. Kyungsoo sibuk membaca buku sambil mengayun-ayunkan sebelah kakinya, sebuah kebiasaan kecil yang susah dihilangkan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Sedikit berharap, Kyungsoo mendongak menatap sumber suara itu.
"Taman ini besar sekali ya." Ucap seorang wanita yang berjalan sambil menggandeng tangan lelaki di sampingnya.
"Aku tidak percaya kita berada di Seoul." Kata lelaki itu.
Menutupi rasa kecewanya, Kyungsoo berdiri lalu menggeser duduknya ke bagian lain untuk memberi mereka tempat duduk.
"Oh, permisi." Kata gadis tadi.
"Silahkan." Balas Kyungsoo sambil tersenyum sebelum ia kembali berkutat dengan bukunya.
"Di musim panas, tempat ini terasa sungguh berbeda." -K
.
.
.
Jongin beristirahat di beranda apartment baru kakaknya setelah membantu Chanyeol pindahan. Seorang wanita berjalan mendekatinya.
"Terimakasih bantuannya. Hei, kenapa kau tidak makan malam bersama kami saja, Jongin?" Ucapan wanita itu mengalihkan atensi Jongin dari kegiatan minum air mineralnya.
"Maaf, tapi aku punya pekerjaan paruh waktu hari ini." Tolaknya halus.
"Secepat ini?" Wanita itu bernama Baekhyun, kekasih Chanyeol.
"Dan aku tidak ingin mengganggu kalian." Imbuh Jongin.
"Justru sebaliknya. Aku akan tinggal bersamanya mulai sekarang, jadi untuk sekali ini saja-"
"Hei aku mendengar kalian." Teriak Chanyeol dari dalam.
Jongin memakai sepatunya yang sederhana lalu berpamitan pada Chanyeol dan Baekhyun.
"Kalau begitu, sampai jumpa." Jongin keluar dari apartment dua sejoli itu sebelum mendapat jawaban dari sang pemilik rumah.
"Dia anak yang manis." Kata Baekhyun.
"Kau tidak menyadari sesuatu dari sepatunya? Itu dia buat sendiri." Tanya Chanyeol.
"Apa? Serius?" Baekhyun terkejut.
"Yah, hanya berbahan kulit murahan, sih." Jawab Chanyeol.
"Tapi dia punya masa depan yang cerah, ya kan? Aku berharap jika dia mau membuat satu untukku." Kata Baekhyun antusias.
"Siapa yang tahu? Ketertarikan anak muda sangat cepat berubah." Sahut Chanyeol
"Kakakku sudah pindah, dan hari-hari tanpa hujan terus berlanjut. Jadi aku tidak punya alasan untuk pergi ke tempat itu lagi.
Musim panas telah tiba." -J
.
.
.
Keterangan :
Adegan bicara dalam hati (interior dialog)
-J untuk Jongin
-K untuk Kyungsoo
...
Hai, ketemu lagi! Kali ini dengan tokoh baru yaitu Kaisoo. Penggunaan bahasa aku buat sedikit baku dan menggunakan istilah korea menyesuaikan ceritanya yang lebih serius dibanding My Answer is You.
Oh ya, sekali lagi ini hanya remake dari sebuah anime dengan judul yang sama. Hanya sedikit perubahan dari segi pemeran dan lokasi saja. Aku cuma berusaha memvisualisasikannya dalam bentuk tulisan. Apa ceritanya mudah dimengerti? Tolong review ya, biar aku juga bisa introspeksi ^^ Chapter berikutnya adalah yang terakhir. Thankyou :* and sorry for typo.
