Disclaimer: Om Kishimoto-sensei
---o---
Warning: Sho-ai, Boys Love, Alternative Universe, Out of Character, Naruto's POV. Don't Like, don't read this fict!!
--o--
Rated: T
-o-
"Aku ingin Dobe-ku yang dulu kembali." ujarnya lirih tepat di telingaku. Nada itu membuat dadaku sakit dan sesak. "Aku ingin Dobe milikku tersenyum dan tertawa untukku." lanjutnya.
"Maaf, Sasuke..."
-0o0o0-
~I just Wanna Life~
Chapter 2
by: Aoi no Tsuki
.
"Jangan sembunyikan apapun dariku." ujarnya sambil memegang daguku. Aku melihat tatapan Teme yang sangat khawatir terhadapku. Maafkan aku Teme, maaf.
Tak mungkin aku terus bergantung padamu 'kan, Teme? Aku tak mau merepotkanmu karena aku sayang kau.
"Arigatou, Sasuke."
"Apa katamu, Dobe?"
"Nggak, nggak jadi. Kupingmu tuli."
"Jangan bicara sembarangan!"
"Terserah aku. Eh! Loh, ini kan jalan menuju sekolah. Bodoh! Kita sudah telat, Teme. Nanti kena hukuman." seruku khawatir.
"Biarkan! Asal bersamamu juga tak apa terkena hukuman. Oke?"
"Tidak mau! Aku tak mau sekolah!"
"Heh? Masuk sekolah, Dobe. Masuk sekolah."
"Nggak~ Teme bodoh!" Perlawananku terhadapnya terus kulakukan. "Ekh, Baka-Teme!!"
Perasaan sedihku mulai menghilang karena kehadiran sosoknya di sampingku. Aku tak mau dia meninggalkanku.
KHS 08.00 am
"Kau kalah, Dobe."
"Ya, aku kalah. Tenagaku kalah kuat dengan punyamu."
Suasana sekolah sangatlah sepi. Koridor-koridor sekolah saat ini kosong tanpa murid mungkin ada beberapa guru yang sedang menuju ke kelas untuk melakukan kegiatan mengajar. Kakiku terus melangkah menyusul langkah miliknya.
"Kita telat." ujarku biasa saja.
"Biarkan, Dobe. Yang penting kita masuk sekolah." balasnya tanpa melihatku.
"Terserahlah."
XI-IA-2
GREKK...
Sasu Teme membuka pintu kelas dengan wajah tenangnya. Semua pandangan teman-teman kelas tertuju padaku dan juga dia yang sudah memasuki ruangan kelas. Sosok guru itu pun menoleh ke arah kami.
"Maaf, sensei. Kami telat." ujar Teme dengan tenang dan tanpa berdosa.
"Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto kalian dihukum berdiri di koridor sekolah sampai jam pelajaran saya selesai!"
"Baik, Iruka-sensei. Ayo, Dobe."
"Iya," Aku pun mengikuti langkah Teme yang berada di depanku.
"Apa kataku benarkan, Teme?! Kita dihukum seperti ini." Aku melipat kedua tanganku di depan dada. Menyebalkan!
"Masa bodoh, Dobe. Yang penting ada kau di sampingku itu sudah cukup."
"Hahaha... Dasar Teme." ujarku sambil memegang pelan rambut pantat ayamnya.
"..."
Kini aku dan Teme berdiri terdiam di koridor sekolah. Kakiku mulai terasa pegal dengan ini. Aku membungkuk sambil memegangi kedua lututku.
"Capek,"
CKITT...
"Aw!" rintihku pelan. Sayatan itu masih terasa sakit untuk kurasakan. Sial!
"Kau kenapa? Tahan, Dobe. Sebentar lagi."
"Tak apa, aku tahu sebentar lagi. Maksudmu lima belas menit lagi, 'kan?"
"Hn,"
"Itu lama. Uchiha bodoh." Mata onyx itu menatapku tajam. Aku hanya menelan ludah saja.
"Maksudku Sasuke yang bodoh."
"Dobe tetaplah Dobe, hah..."
Aku senang dia mengataiku dengan sebutan 'Dobe'. Itu bisa membuatku tertawa dan tersenyum.
"Sasuke~ Sasuke~ Kyaa~" Teriakan itu keluar dari mulut beberapa gadis yang melewati koridor sekolah. Entah alasan apa yang mereka berikan kepada guru agar bisa melihat seorang Uchiha Sasuke yang sedang dihukum di sini. Aku sedikit cemburu tapi tidak dengannya yang cuek.
"Berisik!" serunya ketus. Selalu begitu.
"Seharusnya kau bangga jadi dirimu." Teme menatapku sekarang. "Apa?"
"Asal kau tahu saja ya. Banyak cowok di sekolah ini yang ingin mengincarmu juga, Dobe. Tapi aku takkan membiarkannya."
"Hah? Cowok? Jangan gila! Otakmu dimana, Teme?"
"Kau itu manis, Dobe. Kau itu... manis." serunya sambil memalingkan wajahnya dariku. Senyuman terlukis lagi di bibirku.
"Arigatou, Teme."
"Aku ingin melihatmu tersenyum, Dobe." ujarnya sambil menyentuh bibir mungilku. Tatapannya begitu hangat.
TENG...TONG... TENG...TONG...
"Istirahat! Yeah~" ujarku bahagia mendengar bel itu berbunyi. Pintu kelasku terbuka dan tampaklah sosok Iruka-sensei di dekatnya. Dengan cepat si pantat ayam itu menarik tangannya dariku.
"Eh? Kalian..."
"Apa, sensei?"
"Tidak. Naruto, kau ikut ke kantor sekarang."
"Baik, sensei. Teme, aku-"
"Ya, pergilah, Dobe. Aku tunggu di kantin." ucapnya dengan sebuah senyuman yang menghias di wajah putih susunya.
"Oke."
Berpura-pura tersenyum di depanmu layaknya tak terjadi apa-apa. Itu adalah diriku.
Teacher's Room
"Duduklah, Naruto."
"Arigatou," Aku mendudukkan diriku di sebuah kursi dengan Iruka-sensei yang berada di depanku. "Ada apa Iruka-sensei memanggil saya?" tanyaku tak mengerti.
"Emm..." Dia berdehem sebentar lalu melanjutkan perkataannya. "Begini, bisakah kau memanggil kedua orangtuamu ke sini untuk suatu urusan penting?"
DEG!
Aku hanya terdiam tak sepatah kata pun yang dapat terucap di bibirku. Apa aku bisa bertemu dengan mereka? Apa aku bisa?
"Naruto?"
"I-iya."
"Bisakah?"
"Ten-tu saja bisa, sensei." ucapku ragu.
"Ah, tolong ya. Baiklah, kau boleh istirahat sekarang."
"Saya permisi dulu."
Lagi-lagi perasaan ini mendatangiku lagi, rasa putus asa untuk berbicara kepada mereka. Aku tak yakin aku bisa berbicara kepada mereka. Aku jarang bertemu apalagi berbicara. Mereka jarang berada di rumah dan sering meninggalkan aku. Pikiranku terus berpikir dan berpikir. Aku harus bagaimana?
***
Aku ingin merasakan kebahagiaan itu lagi. Kebahagiaan yang penuh arti dan takkan terlupakan dalam memoriku.
BRUKK...
"Hei!"
"Eh! Ada Namikaze, ya?" ujar seorang gadis padaku. Dia kakak kelasku, itu pasti. Terlihat dari warna bet namanya.
"Maaf," ujarku singkat padanya dan juga teman lelakinya.
"Hei, kau Namikaze Naruto, 'kan? Yang ayahnya selingkuh sama wanita lain itu." ujar gadis berambut merah muda itu seperti mengejek. Sial!
'Brengsek! Bisa-bisa kucekik dia.'
Kalimat itu membuatku sakit mendengarnya. Aku ingin pergi dari sini! Telingaku mulai terasa panas untuk mendengarnya.
"Minggir! Jangan halangi aku!" gertakku pada mereka. Aku mencoba menerobos jalan yang dicegatnya. Tapi sang pemuda yang mirip dengan Teme itu mencegahku. Bawahan gadis ini, ya? Merepotkan.
"Oh... Mau kabur dari fakta yang sebenarnya, ya?" lanjut gadis berambut merah muda itu mencoba menatapku lagi.
"Diam kalian semua!!" geramku. Kugertakkan deretan gigiku hingga sedikit menimbulkan suara. Gadis itu menelah ludahnya. Tapi pemuda itu tetap menatapku tenang tanpa ekspresi.
"Naruto, aku melihat ayahmu dengan wanita lain." bisiknya pelan di telingaku.
BUAGH!!
Mendarat dengan tepat di pipi pucatnya. "Kyaa~ Sai, kau tak apa-apa?" Gadis itu terlihat panik melihat orang yang bernama Sai itu tersungkur di lantai koridor.
"Jangan berbicara yang tidak-tidak!" seruku menatap datar kedua orang bodoh itu. Tanganku berhasil membogem wajah putih pucatnya itu. Aku bangga! Selesai dengan itu aku pun berjalan menuju arah kantin untuk menemui si Teme. Ramai, sangat ramai di kantin. Aku benci keramaian. Entah sejak kapan aku mulai membenci keramaian. Padahal aku pembuat ulah. Yah... Semuanya sudah berubah sejak saat itu.
"DOBE!!" Suara itu membuatku menolehkan wajah. Kulihat Teme sedang duduk di kursi pojok kantin. Tempat biasanya aku dan dia berkumpul. Menyenangkan.
"Teme~" sapaku seperti biasanya. Aku mendudukkan diri di sampingnya.
"Pesan apa, Dobe?"
"Terserah," jawabku tanpa melihat ke arahnya.
"Ramen?"
"Ya," Aku masih tak menatapnya.
"Hei?" Kali ini dia yang bereaksi untuk memegang daguku. Mata onyx itu pun terlihat di depanku. "Kau kenapa? Ada yang salah?"
"Tidak, tak ada yang salah. Kau pesan saja."
"Cerita saja Dobe jika kau mau. Aku pasti mendengarnya." serunya pengertian.
Sudah cukup kau menawarkan dirimu untukku, Sasuke. Aku tak mau merepotkanmu.
"Ya, sudah. Aku yang pesan." Sosok itu pun beranjak dari duduknya menuju ke arah bibi penjual ramen. Dia selalu mengerti aku. Mataku mengamati suasana di kantin dengan singkat. Orang itu datang ke sini masih dengan pemuda yang mendampinginya. Cih!
Pemuda bernama Sai itu melihat ke arahku lalu dia tersenyum padaku. Apa maksudnya?
"Pesananmu, Dobe."
"Ah, thank's Teme."
"Hn,"
"Kau mau?" tawarku padanya.
"Tidak,"
"Kumakan, ya?"
"Hn, cepatlah. Jangan sampai kita terlambat pelajaran lagi."
"Itu salahmu, Itadakimasu." ujarku yang mulai melahap ramen dari Teme. "Jangan melihatku saat aku makan, Teme."
"Ya, ya, Dobe-ku."
***
"Selesai, kenyang~"
"Tambah lagi?"
"Tidak, tidak. Itu tadi sudah porsi besar, 'kan?"
"Kalau begitu kita balik ke kelas." Aku berjalan di samping Teme. Sayup-sayup aku mendengar bisik-bisik dari penghuni kantin. Bisikan itu sangat menyakitkan hatiku. Sangat menyakitkan.
"Eh, eh, itu loh yang namanya Naruto. Yang ayahnya selingkuh itu."
"Iya, ya. Ya ampun kok bisa, ya?"
"Jadi berita itu benar?"
"Aku juga nggak tahu. Kasihan, ya?"
Perkataan dan bisikan-bisikan itu benar-benar menyebalkan. Berhenti berkata yang tidak-tidak! Kalian semua brengsek!
BRAKK...
Mata biruku terbelalak lebar melihat Teme yang memukul meja kantin dengan keras. Semua melihat ke arahnya. Apa yang dia lakukan?
"Berhenti berbicara yang tidak kalian ketahui kebenarannya." serunya dingin pada sekumpulan gadis-gadis di kantin itu. Mata onyxnya begitu tajam. Teme, dia... membelaku.
"Apa yang kau lakukan, Teme?" seruku berteriak.
"Naruto..." panggilnya lirih.
Kau tahu, sebenarnya aku mendengar perkataan dari para gadis-gadis itu. Tapi aku berpura-pura tak tahu dan berusaha menutupi luka ini.
"Kau pulang saja ya, Dobe." ujarnya pelan.
"Heh! Kenapa? Aku baik-baik saja. Teme gila."
"..." Dia tak menyahutku.
"Aku tak mau pulang, aku ingin di sini menemanimu, Sasuke." Mata onyx itu memandangku lekat-lekat.
"Aku tak mau Naruto milikku terluka lebih dari ini. Aku tak mau."
"Hm, arigatou, Teme-kun."
"Panggilan aneh lagi ya, Dobe-chan."
"Iya. Hehehe..."
Aku ingin disini, disamping Teme. Selalu, dan selalu. Karena aku menyayangi Teme lebih dari apapun. Hatiku mulai tenang.
...BER-SAM-BUNG...
Tsuki nggak bisa nuLis apa-apa duLu di sini. Maaph jika masih ada kesaLahan dan typo daLam fict Tsuki. Makasih ripiew-nya... ^^
…skaLi ripiew tetep ripiew ayo maju kasih ripiew…
Arigatou Gozaimashu
Aoi no Tsuki
August '09
