DECLAIMER : NARUTO HANYA MILIK MASASHI KISHIMOTO –SAMA... ^^
PAIRING: SasuHina
Warning: OOC, Gaje, idenya mungkin pasaran, alur berantakan, typo dimana-mana,bahasa yang kurang baku, judul yang gaje, jelek, dan kekurangan-kekurangan lain. Yang nggak suka tekan tombol Back oke?
#~...Happy Reading...~#
"Yeah, rencana satu berhasil. Tinggal rencana dua," katanya sambil menyeringai. Hinata kemudian berjalan menuju ruangan tempat pengawal pribadinya berada.
"Aku ingin jalan-jalan," kata Hinata sesampainya ketempat pengawal pribadinya. Di ruangan itu ada sekitar lima orang yang mengenakan seragam hitam-hitam dan juga memakai kaca mata hitam. Ada Kimimaru, Juugo, Suigetsu, Sakon dan Ukon.
"Baik, Hinata-Sama," ucap mereka serempak.
"Aku ingin dua orang saja yang mengawalku," kata Hinata tiba-tiba. Mereka berlima pun terkejut.
"A-apa?," tanya Suigetsu.
"Kau tidak dengar ya?," tanya Hinata, sambil menatap tajam Suigetsu.
"T-tapi , Hinata-Sama... Itu tidak bisa. Tuan besar pasti akan marah," kata Juugo.
"Tidak, tadi aku sudah bilang ke Ayah, katanya tidak apa-apa. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja padanya. Pasti kalian akan di marahi, soalnya Ayah sedang sibuk," kata Hinata sambil menyeringai.
"B-baiklah, kami percaya," kata mereka pasrah.
"Baik aku ingin sama Sakon dan Ukon saja, kalian mau kan mengawalku?," ucap Hinata.
"B-baik Hinata-Sama..." ucap mereka berdua serempak.
'Bagus, diantara mereka Sakon dan Ukon lah yang paling bodoh,' batin Hinata.
"Oke, aku ingin ke Konoha Fantasy, " katanya.
"Tunggu aku setengah jam kemudian, aku mau ganti baju dulu," pinta (baca: perintah) nya.
"Baik, Hinata-Sama.
Hinata pun menuju ke kamarnya untuk ganti baju dan untuk menelpon seseorang.
"Ne, Tenten-Nee bagaimana? Bajunya sudah siap kan?," tanya Hinata pada orang di seberang sana .
"Iya, tapi... apa kau yakin akan melakukan hal gila ini? Bagaimana kalau ada apa-apa denganmu?," tanya Tenten khawatir.
"Oh ayolah, Tenten-Nee... bantu akuuu... aku tidak mau di jodohkan..." rengek Hinata.
"T-tapi-..."
"Tenten-Nee percaya saja sama Hinata, oke?," kata Hinata.
"Oh iya, Nee sudah beli wig sama soft lens juga kan?," tanya Hinata lagi. Ya, Hinata sengaja menyuruh Tenten untuk membelikan baju-baju, dan perlengkapan lainnya untuk kabur. Tidak mungkin kan Hinata bawa dari rumah? Bisa-bisa langsung ketauan.
"Iya sudah, aku sudah membeli semuanya." Kata Tenten.
"Semuanya?," tanya Hinata memastikan.
"Iya, semuanya. Kau tidak perlu khawatir," katanya.
"Bagus, nanti kita ketemu di Konoha fantasy ya?," kata Hinata lagi.
"Baik,"
"Arigatou Tenten-Nee chan..." kata Hinata sebelum menutup telponnya.
"Yeah, rencana dua berhasil," ucap Hinata sambil tersenyum. Hinata kemudian berjalan menuju meja belajarnya untuk mengambil kertas dan bolpint.
"Sekarang tinggal menulis surat untuk Ayah,"
Ayah, Hinata pergi ya. Hinata nggak ingin dijodohkan. Hinata ingin bebas Ayah... Aku tahu Ayah melakukan ini semua untuk Hinata. Tapi Hinata tidak akan bahagia kalau seperti ini terus Yah... Hinata akan pulang kalau Ayah mau membatalkan perjodohan itu.
-Hinata-
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
"Huah, akhirnya sampai juga," kata Hinata senang. Saat ini dia sedang berada di Konoha Fantasy. Taman bermain di Konoha yang lengkap dengan wahana-wahana yang asik(Kalau di Jakarta sama dengan Dunia Fantasy /Dufan) . Hampir setiap hari tempat ini ramai. Hinata melangkahkan kakinya menuju Konoha Park diikuti oleh kedua pengawalnya. Hinata masuk ke area itu tidak perlu mengantri seperti yang lainnya soalnya Hinata punya kartu VIP, jadinya nggak perlu antri.
"Aku mau naik itu," kata Hinata sambil menunjuk roller coaster. Sebenarnya Hinata nggak begitu berani naik roller coaster tapi entah kenapa ia ingin sekali mengerjai dua pengawalnya yang bodoh dan nyebelin itu.
"A-anda yakin Hinata-Sama?," tanya Sakon.
"Tak pernah seyakin ini," ucap Hinata sambil terus mendekap boneka teddy bear yang sedari tadi ia bawa itu.
"B-baiklah, kalau begitu ayo," kata mereka berdua pasrah. Hinata dan sikembar Sakon Ukon pun berjalan menuju wahana yang satu itu. Semua orang yang berkerumun langsung minggir melihat kedatangan Hinata.
"Kalian mau ikut naik?," tanya Hinata pada keda sikembar.
"Err, Sakon kau mau naik tidak?," tanya Ukon pada Sakon.
"Kau sendiri?," tanya Sakon balik.
"Aku terserah kau," kata Ukon.
"Baiklah, ayo kita naik," kata Sakon.
"Jadi?," tanya Hinata lagi.
"Baiklah, Hinata-sama..." kata mereka serempak.
Hinata tersenyum puas mendengar penuturan mereka.
Drrrtttttt...
Drrrtttttt...
"Kalian kesana saja duluan, aku mau mengangkat telpon dulu," kata Hinata.
"Baiklah,"
"Hinata-chan kau dimana?," tanya orang yang menelpon Hinata.
"Aku di wahana roller coaster," kata Hinata.
"Baik aku segera kesana," kata Tenten.
"Hinata-sama... Cepat kesini," teriak Sakon yang sudah mulai duduk di kursi kerata roller coaster.
"Iya, sebentar," kata Hinata sambil menutup ponselnya dengan tangan supaya Tenten tidak terganggu dengan teriakannya.
"Cepat kesini Nee, hampir jalan nih," ucap Hinata.
"Baik, aku sedang.. hah... berlari... hah... kesana," kata Tenten sambil ngos-ngosan.
"Ok," Hinata pun menutup ponselnya. Ia kemudian berjalan ke tempat Sakon dan Ukon berada.
"C-cepat naik H-hinata-sama, se-sebentar lagi jalan," kata Ukon gemetaran. Kakinya pun gemetar hebat. Hinatapun tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Haha, kalian gemetaran, hahaha,"
"Hina-chan," teriak seseorang dari tempat antri. Sama dengan Hinata, Tenten juga punya VIP card sehingga nggak perlu antri.
"Eh, Tenten-Nee..." Hinata yang hampir naik ke kereta pun turun kembali. Tepat ketika Sakon dan Ukon ingin mengejar Hinata yang menemui Tenten. Kereta Roller Coaster pun berjalan. Alhasil, Sakon dan Ukon masih berada di kereta itu. Hinata hanya cengengesan sambil berdada ria. Ia lalu menarik tangan Tenten untuk segera menjauh dari tempat itu. Rupanya rencana ketiga berhasil.
"Hahahaha, Hina-chan kau gila. Kau lihat tidak tampang mereka yang ketakutan itu? Haha lucu sekali," kata Tenten ketika mereka sudah sampai didepan toilet umum.
"Hah...hah... iya... hah..." kata Hinata ngos-ngosan.
"Ini pesananmu, cepat ganti. Kalau tidak mereka akan mengejarmu." Kata Tenten.
"OK," Hinata pun masuk ke dalam toilet. Ia langsung berganti penampilan. Lima menit kemudian ia sudah berubah menjadi cewek berambut pendek sebahu berwarna coklat dan bermata saphire violet . Ia mengenakan kaos biasa berwarna putih dan fleece jacket berwarna lavender, serta celana jeans Hitam.
"Wah, kau seperti bukan Hinata saja. Hm, tapi sepertinya ada yang kurang..." komentar Tenten.
"A-apa?," tanya Hinata.
"Aha, ini dia..." seru Tenten sambil memasangkan kaca mata hitam pada Hinata.
"Ah, iya. Kau pintar juga Nee-chan. Ayo cepat kita pergi. Sebentar lagi mereka pasti akan datang.
"Ini tas dan boneka mu, ayo cepat kita ke mobilku," seru Tenten.
Sementara itu...
"Ukon... Akuuu muall...hoekkk..." kata Sakon sambil mau muntah.
"B-bodoh...huekk... Yang terpenting...hah... se-sekarang ini Hinata-ssama..." kata Ukon susah payah.
"A-ah iya, d-dimana dia...hah... ayo k-kita c-cari..." katanya.
"Aku mau telpon Juugo dulu," putus Ukon.
"Aku akan kesana..."
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
"Hahaha... aku tak pernah sesenang ini... ini benar-benar menyenangkan... " kata Hinata. Ia sekarang sedang berada di mobil Tenten.
"Hei, kau yakin akan melakukan ini?," tanya Tenten lagi.
"Tentu saja, aku ingin bebas..." ungkapnya.
"Hah, baiklah kalau itu maumu. Aku antar kau sampai di stasiun kereta," tawar Tenten.
"Okeee, hehe" kata Hinata sambil cengengesan.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
Sasuke tengah berbaring di , Ia telah menemukan apartemen yang murah untuk ia tinggal. Dia menyewa apartemen di daerah Suna. Tak seluas kamarnya memang. Tapi ini lumayan untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan. Mata Sasuke terpejam, namun sesungguhnya ia tidak sedang tidur. Dia hanya menenangkan pikirannya dengan memejamkan matanya sejenak. Tiba-tiba...
Kruyukkkk...
Kruyuukkkkkk...
Perutnya berbunyi. Ia lapar. Ia baru sadar kalau semalam adalah terakhir kalinya ia makan. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Tentu saja ia lapar.
"Ck, perut sialan," umpatnya. Ia kemudian berjalan menuju kulkas yang ada di sudut ruangan yang ternyata kosong nggak ada isinya sama sekali.
"Oh, Shit. Aku lupa, aku kan tidak sedang dirumah," gumamnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk mengambil jaket hitam yang tergantung rapi dilemarinya. Setelah itu ia keluar dari apartemennya itu. Ia memutuskan untuk pergi membeli bahan makanan di supermarket.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
"Apa? Hinata hilang? Bagaimana bisa? Kenapa kalian tidak becus menjaga puteriku?," amuk Hiashi kepada ke lima pengawal pribadinya itu. Sakon dan Ukon telah kembali ke kediaman Hyuuga ketika mereka tak berhasil menemukan Hinata dimanapun.
"Ma-maafkan kami..." kata mereka.
"Sekarang tunggu apa lagi? Kenapa kalian tidak mencarinya? Ayo cari..." bentak Hiashi.
"Ba-baik," kata mereka sambil bergegas pergi.
"Hah, Hinata... dimana kau?," gumam Hiashi.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
Hinata telah menaiki kereta dengan tujuan Suna. Suna merupakan kota kecil yang makmur, terletak dekat dengan Konoha. Bahkan untuk mencapainya hanya perlu satu setengah jam jika naik Shinkansen. Dan satu jam apabila naik mobil. Hinata tengah berada di stasiun Kereta Suna. Hinata memutuskan naik taksi untuk sampai di pusat kota. Setelah sampai ia pun tersenyum lebar sambil melepas kaca mata hitamnya.
"Wah, ternyata begini ya rasanya bebas..." katanya senang. Ia terus berjalan menelusuri jalanan yang begitu ramai itu sambil tersenyum. Tiba-tiba ada pria yang menubruknya dari belakang. Hinata tersentak.
"Ah, Sumimasen, Nona. Aku tidak sengaja," ujar pria paruh baya yang memakai topi, sehingga Hinata tidak begitu melihat wajahnya.
"Ah, tidak papa," kata Hinata sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan jalannya. Karena tak tahu harus kemana akhirnya ia berjalan tak tentu arah.
"Ne, aku harus kemana Bon-chan?," ucapnya pada boneka kesayangannya yang selalu ia dekap itu. Karena tidak memperhatikan jalan jadi dia menabrak sesuatu hingga terjatuh.
"Aww..."
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o
Sasuke berjalan menuju Supermarket dengan langkah gontai. Ketika ia sedang melihat-lihat pemandangan kota Suna yang belum ia nikmati sejak sampai disini, tiba-tiba ia seperti menabrak sesuatu.
"Aww," sesuatu itu mengaduh.
"Hei, kalau punya mata lihat-lihat dong," kata Sasuke ketus. Hinata yang dari tadi menunduk sambil mengelus-elus pantatnya pun berdiri dengan bersusah payah.
"Hei, kau yang tidak hati-ha...ti," ucapnya sambil menengadah melihat siapa yang menabraknya itu. Seketika Hinata terdiam melihat kesempurnaan ciptaan tuhan itu.
"Apa?," tanya Sasuke. Seketika Hinata tersadar dari lamunannya.
"Kau yang tidak hati-hati 'Tuan'," kata Hinata sambil menekankan kata tuan.
"Hn, terserah." Kata Sasuke sambil berlalu pergi.
"Huh, dasar aneh," gumam Hinata. Ia pun kembali melangkah. Ia berjalan menuju toko burger untuk mengisi perutnya yang lapar. Ketika ingin membayar Hinata terkejut karena dompet yang dari tadi berada di tas selempang kecilnya telah hilang.
"Dimana ya... aduh... tadi disini kok..." katanya. Ia kemudian teringat pada pemuda yang tadi menabraknya itu.
"A-apa jangan-jangannn..." gumamnya.
"Ano kek, saya nggak jadi beli. Dompet saya hilang," kata Hinata sambil tersenyum kecut. Kakek-kakek yang menjualnya pun tersenyum.
"Tak apa, untukmu saja," kata nya.
"Be-benarkah kek?," tanya Hinata.
"Iya,"
"Terima kasih," kata Hinata sambil tersenyum. Hinata pun mulai memakan burgernya. Setelah itu, Hinata memutuskan untuk mencari pemuda pantat ayam yang ia kira mengambil dompetnya itu. Namun ketika dia sampai di pinggiran jalan yang sepi, ia dihadang oleh preman-preman yang nampaknya sedang mabuk.
"Hei, cantik..." sapa mereka dengan nada yang...menjijikkan. Dua preman itu berjalan ke arah Hinata.
'Oh tidak, ternyata benar kata Ayah. Diluar banyak penjahatnya,' batin Hinata. Hinata bersiap lari namun tangannya terlebih dahulu dicengkeram oleh preman ber piercing.
"Le-lepaskan," kata Hinata sambil menatap tajam pada preman itu.
"Tidak, sayang. Aku akan melepaskanmu kalau kau mau menyerahkan semua barang berhargamu," katanya sambil menyeringai.
"A-aku tak punya barang berharga. A-aku baru saja kecopetan tadi," kata Hinata gagap.
"Kalau begitu dengan tubuhmu saja,un" kata preman yang berambut pirang.
"Ti-tidak," bentak Hinata. Hinata kemudian menggigit tangan preman yang ber piercing tadi. Setelah lepas Hinata pun mundur kebelakang beberapa langkah, kemudian melakukan langkah seribu alias lari.
"Kurang ajar, kejar dia," perintah pria berpiercing itu.
"Baik," sahut partnernya itu.
Hinata's POV
Aku terus berlari menjauhi preman-preman itu. Kami-sama... aku benar-benar takut. Ternyata benar kata Ayah, di luar sini banyak orang-orang jahatnya. Ayahhhh tolong aku. Bagaimana ini? Mereka semakin dekat. Saat aku melewati pertokoan kurasakan ada tangan yang membekap mulutku.
End Of Hinata's POV
TBC
Hai minna... chap 2 apdet... makasi dah ripyu chap 1 yaaa... wah ternyata ide fic ini memang pasaran ya? Hehe... soalnya setelah Eira publish fic ini ternyata ada yang publish fic dengan ide yang sama. Wah... tapi Eira akan berusaha membuat cerita yang beda. Dan yang pasti lebih baik lagi, heheee. Support Eira yahhhh teman-teman ? Oke akhir kata sekian dulu ya? Maap nggak bisa bales satu-satu, koneksi internet dirumah eror. Sekali lagi maaf... dan untuk yang nggak suka fic ini nggak papa kok, hehe. Review please...?
