Itik Buruk Rupa

.

Kedai ramen milik Paman Teuchi ternyata sebuah kedai kecil yang ramai. Letaknya di pinggir persimpangan jalan, amat strategis makanya banyak pengunjung yang datang. Ada papan besar bertuliskan Ramen Teuchi di atas pintu masuknya. Lampion merah menggantung di kiri pintu, menambah meriah suasana.

Langit sudah gelap ketika Sakura dan Sasuke Uchiha tiba di sana.

"Tadaimaaaa!" Sasuke berseru keras saat melewati pintu, menarik perhatian semua pengunjung. Dia berlari menuju konter. Berkata dengan penuh antusias pada seorang pria tua yang sedang menarik-narik adonan mi, "Paman, aku mau sekolah! Aku mau sekolah!"

Pria itu terkekeh, menoleh sebentar pada Sasuke. "Kau mau sekolah? Ya, baik. Tentu saja kau boleh sekolah, Sasuke," ujarnya. Tidak terdengar serius, seolah-olah hanya sekadar tanggapan agar Sasuke cepat pergi, tidak lagi mengganggunya bekerja. Wanita muda yang sedang mengaduk kuah mendidih di dalam panci besar menyenggol rusuknya, menegur. Pria itu hanya mengangkat bahu.

"Yeaaaaaay! Aku mau sekolah!"

Seorang pemuda di balik meja kasir tertawa mengejek. "Kalau mau sekolah, ambil dulu kain lap. Bersihkan meja di pojok itu. Ada pelanggan di depan pintu," katanya ketus.

"Wanita itu bukan pelanggan biasa, dia datang bersama Si Dungu. Apa kau tidak lihat, Suigetsu?" kata lelaki lain yang baru kembali dari mencatat pesanan di salah satu meja.

Sakura tidak menyukai tatapan lelaki itu, tajam memandangnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Amat tidak sopan. Tapi Sakura lebih tidak menyukai caranya menyebut Sasuke. Namun lihatlah Sasuke tetap bersenandung ceria membawa kain lap ke meja paling pojok, menuruti begitu saja perintah lelaki di meja kasir yang dipanggil dengan nama Suigetsu.

Suigetsu menyenggol rusuk Sasuke ketika melintas di depan mejanya. "Kau sudah punya pacar, eh? Hidan sampai tidak berkedip menatapnya. Apa yang sudah kaulakukan sampai dia mau jadi pacarmu, anak pintar?"

Sasuke terkekeh, menggaruk belakang kepalanya. "Sakura-san bukan pacarku. Sakura-san temanku. Dia baik sekali. Tadi dia menolongku. Lihat, lukaku diobati. Dia juga membantuku membersihkan buku Itik-Buruk-Rupa-ku dengan sapu tangannya yang wangi," kata Sasuke sembari menunjuk plester di siku, juga buku dongengnya yang selalu dia peluk ke mana-mana.

Dua laki-laki itu saling tatap. Tawa mereka pecah kemudian. Sasuke yang tidak memahami bahwa dialah yang menjadi bahan tertawaan, malah ikut tertawa, suaranya bahkan tak kalah keras.

"Sepertinya kau harus sering-sering dijahili orang supaya dapat perhatian wanita, Sasuke," sahut lelaki tak sopan yang bernama Hidan.

Suigetsu terpingkal-pingkal, tangannya memukul-mukul meja. "Itu ide bagus. Bagaimana kalau besok kaupatahkan saja tanganmu? Mungkin akan ada wanita yang mau memberimu ciuman?"

Tawa mereka lebih keras lagi sekarang. Sasuke menyeringai tersipu, tampak senang juga. Dia masih belum mengerti bahwa ocehan kedua temannya sama sekali bukan sebuah pujian. Sakura menggigit bibir demi melihatnya, hatinya teriris lagi.

Kedua lelaki itu mungkin tidak akan berhenti mengolok-olok Sasuke jika tidak ditegur oleh pria tua yang masih saja sibuk di belakang konter. Paman Teuchi. Menyuruh keduanya kembali bekerja. Meminta Sasuke membersihkan meja di pojok, membantu Hidan mengangkat mangkuk-mangkuk kotor ke tempat cuci piring.

"Silakan duduk, Nona. Ingin pesan ramen apa?" tanya pria tua itu ramah pada Sakura.

Sakura menyebut menu pesanannya, lalu menempati meja yang sedang dibersihkan Sasuke. Lelaki itu mengerjakannya dengan cukup baik untuk seorang terbelakang. Permukaan meja kayu dilapnya hingga mengilat, bersih. Mangkuk kotor diangkutnya, dibawa menumpuk di depan dada. Astaga, buku dongengnya belum juga dilepas. Sakura khawatir Sasuke bisa menjatuhkan mangkuk-mangkuk itu. Untungnya tidak. Dia berhasil membawanya sampai ke ruang belakang, tempat cuci piring.

Jam di tangan Sakura menunjukkan pukul delapan. Ramennya sudah habis dari tadi, tapi Sakura tetap duduk di meja pojok, menunggu hingga tidak ada lagi pelanggan yang datang. Sakura hanya butuh waktu untuk bicara empat mata dengan Paman Teuchi. Tentang Sasuke. Setelah memasang tanda tutup di depan pintu kedai, barulah Sakura mendapat kesempatan bicara.

"Aku melihat Sasuke memiliki motivasi yang besar untuk belajar," ujar Sakura, menatap yakin Paman Teuchi yang duduk berhadapan dengannya di seberang meja.

Teuchi tertawa kecil, melepas ikat kepalanya. "Sebelum ini aku tidak pernah menganggap serius kata-kata Sasuke―dia selalu mengoceh ingin jadi pintar. Tapi kupikir dia bicara begitu karena tidak mengerti pintar itu apa. Nona tahu sendirilah, dia ..." Teuchi mengganti kata-kata dengan gerakan tangannya menunjuk kepala.

Sungguh bagi Sakura lebih baik dia mengucapkannya saja jelas-jelas, daripada menggunakan simbol gerakan seakan-akan mengartikan kekurangan pada mental Sasuke sebagai sebuah gangguan jiwa. Tidak, itu sama sekali berbeda. Tidak mengertikah dia?

"Bagaimanapun Sasuke tetap berhak untuk bersekolah. Siapapun penduduk di negeri ini berhak mendapatkan pendidikan," kata Sakura, menekan suara.

"Aku paham," Teuchi menghela napas. "Tapi itu akan sulit baginya. Dia sulit beradaptasi. Dia sulit memahami maksud orang lain. Bersekolah hanya akan membuatnya bingung. Dia lebih berguna di sini, membantuku di kedai. Beberapa mangkuk kadang dia pecahkan, tapi setidaknya ada hal yang lebih bisa dikerjakannya daripada susah payah belajar membaca dan berhitung."

Sakura menggeleng, menegaskan ketidaksetujuannya. "Aku yakin Sasuke punya potensi untuk menguasai lebih dari sekadar membaca dan berhitung," ujarnya.

Teuchi bersandar lelah ke dinding di belakangnya. "Nona, kenapa kau peduli sekali pada orang seperti Sasuke? Selama ini tidak pernah ada orang asing yang memperhatikannya. Dia selalu hanya mendapat tatapan direndahkan, bahkan lebih sering orang-orang menganggapnya tidak ada."

"Teuchi-san, pernahkah Anda berpikir kenapa manusia diciptakan berbeda-beda? Ada yang dilahirkan dengan kelebihan; ada juga yang sebaliknya, lahir dengan kekurangan. Pernahkah Anda berpikir apa alasan di balik itu semua?" Mata zamrud Sakura dalam menatap pria tua itu. "Bagiku, itu adalah cara agar manusia belajar bersikap adil pada sesamanya."

Sakura tidak menyangka pembicaraannya dengan Teuchi akan jadi lebih berat dari dugaannya. Dia kemudian berpamitan karena malam mulai larut. Barangkali dia datang di waktu yang tidak tepat. Barangkali Teuchi jadi sulit dibuat mengerti karena kelelahan setelah seharian bekerja. Besok-besok dia akan datang lagi. Barangkali juga dengan memberi waktu beberapa hari, Teuchi akan memikirkan ucapan mereka malam ini. Semoga saja.

Sebelum benar-benar keluar dari kedai, Sakura melihat Sasuke Uchiha tertidur di bangku panjang kedai paling pojok belakang. Berbaring miring, terlelap dengan mata terpejam damai. Buku dongengnya dipeluk erat seperti guling.

"Dia sudah biasa seperti itu. Ketiduran setelah lama sekali memandangi gambar-gambar di dalam bukunya. Dan aku terpaksa membangunkan agar dia pindah ke kamarnya," kata Teuchi, mengantar Sakura ke pintu keluar.

Di depan pintu, Sakura membungkuk, mengucapkan salam dan hendak pergi. Namun belum sempat berbalik, Teuchi bersuara lagi.

"Aku menyesal sudah bicara seperti tadi tentang Sasuke," katanya. "Aku selalu menyesalkan orang-orang yang memperlakukannya dengan tidak pantas. Tapi aku tidak menyadari bahwa selama ini aku sendiri berlaku lebih buruk daripada orang-orang itu―menganggap Sasuke tidak akan mampu melakukan apapun selain mengelap meja dan mengangkat mangkuk kotor. Aku menyesal. Kupikir kau benar, Sakura-san, Sasuke berhak menguasai lebih dari sekadar membaca dan berhitung."

Mata zamrud Sakura melebar. "Apa itu artinya Teuchi-san bersedia Sasuke disekolahkan?"

Pria tua itu mengangguk, tersenyum kebapakan. Ternyata dia bisa bersikap hangat layaknya seorang ayah. "Besok aku akan mendaftarkannya ke sekolah tempat Sakura-san mengajar. Kumohon bimbingan dan bantuanmu untuk Sasuke."

Teuchi membungkuk rendah. Sakura membalas bungkuknya, tersenyum cerah. Hatinya lega.

Besok akan menjadi awal yang penting bagi Sasuke Uchiha.

...

Hari pertama Sasuke di sekolah tidak terlalu buruk. Sakura memperkenalkannya di depan kelas, Sasuke menyebut namanya tergagap. Lengannya yang tak pernah lepas memeluk buku dongeng dengan gemetar, dingin dan berkeringat saat Sakura meraih gandengan tangannya untuk menuntunnya ke bangku kosong di tengah kelas.

"Jangan gugup. Santai saja, Sasuke-kun. Aku dan teman-teman di sini akan membantumu." Sakura lembut menepuk kedua pundaknya. Tersenyum.

Awalnya Sasuke tampak tak nyaman duduk di bangkunya. Menatap waspada ke sekeliling, menatap waspada pada murid-murid lain. Namun itu tidak berlangsung lama. Begitu pelajaran dimulai, perhatiannya langsung mengarah pada Sakura di depan kelas.

Seperti orang dengan mental terbelakang lainnya, Sasuke cukup kesulitan memahami penjelasan. Sakura harus mengulang beberapa kali, baru dia menangkap maksudnya. Tapi itu bukan halangan bagi Sakura. Menghadapi murid khusus seperti ini memang membutuhkan kesabaran yang tinggi. Ketulusan adalah yang paling penting. Selama Sakura tulus mendidik mereka, kesulitan apapun tidak akan menjadi masalah besar buatnya.

Sasuke mempelajari semuanya dari dasar. Mengenal huruf-huruf dan angka. Dia tidak mengalami masalah dengan angka, dalam tiga hari saja langsung hafal urutannya. Namun butuh waktu satu minggu baginya untuk mampu menghafal seluruh elemen huruf katakana dan hiragana. Itu terhitung waktu yang cepat dibandingkan beberapa murid Sakura yang baru bisa menghafal setelah lebih dari dua minggu.

Buruknya, Sasake cepat melupakan. Daya ingatnya tidak cukup kuat untuk menampung banyak informasi. Dia harus sering mengulang apa yang sudah dipelajarinya di sekolah. Sakura membuatkan irama untuk menyebut huruf-huruf itu, jadi semacam lagu. Sasuke bisa menyanyikannya sembari bekerja di kedai, sehingga informasi itu bisa melekat lebih lama di dalam memori otaknya. Metode itu cukup berhasil, karena sepertinya otak Sasuke lebih baik dalam merespon musik.

Kemudian Sasuke mulai belajar membaca. Menyusun huruf-huruf yang sudah dikuasainya, per suku kata, lalu per kata. Bagian ini membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, nyaris empat minggu. Sasuke kesulitan dalam membedakan huruf katakana dan hiragana. Sering tertukar. Sakura membuatkan lagu lagi untuknya, menyebut benda-benda dengan huruf awalan tertentu dengan gerakan tangan membentuk huruf-huruf tersebut. Sekali lagi, metode lagu direspon lebih baik oleh otaknya.

Berkat lagu hafalan kata sebelumnya, Sasuke tidak terlalu kesulitan ketika belajar menulis. Otaknya sudah merekam dengan cukup baik bentuk-bentuk huruf karena dia terbiasa menyanyikannya sembari membuat gerakan dengan tangan. Meskipun mula-mula tangannya gemetar memegang pensil. Goresannya kasar, keriting. Ujung pensilnya patah entah berapa kali. Namun kelihaian menulis kata-kata di atas kertas mampu dikuasainya tidak sampai seminggu. Bentuk tulisannya tidak terlalu bagus, tapi sudah amat cukup untuk bisa dibaca.

Sasuke maju ke meja Sakura, menyodorkan buku tulisnya. Mata zamrud Sakura menangkap huruf-huruf hiragana berbentuk keriting menyusun nama Uchiha Sasuke. "Apakah tulisanku sudah benar?" tanyanya, menyeringai lebar.

Sakura tersenyum, mengangguk. "Benar sekali. Tulisanmu indah, Sasuke-kun. Sama indahnya seperti tulisan ibumu di buku itu," Sakura menunjuk buku dongeng di dekapan Sasuke.

Lelaki itu menyeringai lebih lebar lagi, menatap Sakura dengan mata besar berbinar gembira.

"Bagaimana menuliskan nama Sakura-san?" tanyanya kemudian.

Entah bagaimana Sakura menjelaskan pada dirinya sendiri, dia tersipu. Tersenyum canggung. Dengan hati berdebar menuliskan namanya sendiri di bawah tulisan nama Sasuke.

"Ha- Ha ... ru ... no Saku ... Saku ... ra ...," Sasuke mengeja namanya. Menyeringai lagi padanya. "Sakura Haruno? Itu nama Sakura-san? Indah sekali."

Sakura hanya tersenyum, tidak tahu harus berkomentar apa atas pujian pertama Sasuke untuknya. Pipinya menghangat, jangan-jangan Sasuke bisa melihat rona merah di sana.

"Kembalilah ke bangkumu, Sasuke-kun. Kita akan mulai pelajaran berhitung," katanya.

Sasuke kembali ke bangkunya dengan patuh, kembali memusatkan perhatian pada penjelasan Sakura di depan kelas.

Hal yang pernah Sakura katakan, bahwa Sasuke memiliki motivasi yang besar untuk belajar, adalah benar. Tidak keliru sama sekali. Sasuke bisa duduk di kelasnya, mampu menguasai cara membaca dan sedikit cara berhitung, adalah karena motivasi yang dimilikinya itu. Dia selalu fokus dalam memperhatikan penjelasan, meskipun informasi yang disampaikan guru tidak mudah diserap oleh otaknya karena daya pikir yang lemah.

Sakura juga mendengar dari pamannya, Teuchi, bahwa Sasuke rajin menghafal pelajaran sepulang sekolah, menyanyikan lagu hafalan kata yang diajarkan Sakura sembari mengepel atau mengelap meja kedai, dan saat malam hari rajin latihan menulis benda-benda yang dilihatnya di kedai. Teuchi mengaku tidak pernah melihat Sasuke setekun itu dalam mengerjakan sesuatu. Sasuke sungguh-sungguh bekerja keras agar bisa pintar seperti yang selalu dikatakannya. Dan dia berhasil mendapatkan itu sedikit demi sedikit.

Motivasilah yang membuatnya mampu. Keinginan kuat dalam dirinya untuk jadi pintar. Keinginan dari lubuk hatinya yang terdalam untuk menjadi setara dengan orang-orang.

...

Fokus memperhatikan Sasuke membuat Sakura hampir melupakan observasi yang sedang dilakukan Tim Kakashi pada Nana Kizama. Pria yang selalu memakai masker itu hari ini datang ke sekolah, mengintip di celah pintu setelah bel pulang berdering. Sakura melihatnya. Sementara murid-muridnya sibuk membereskan barang masing-masing di meja mereka, Sakura melangkah ke pintu. Menyapa Kakashi.

"Aku ingin mengajak Nana Kizama ke Lab," kata Kakashi. "Observasi sudah selesai. Sekarang kami akan melakukan beberapa tes terlebih dulu padanya."

Kedua alis Sakura terangkat. "Eh? Observasinya sudah selesai? Kupikir malah belum dimulai. Aku kok tidak pernah melihatmu berkeliaran di sini?"

Kakashi tertawa renyah. "Ada orang lain yang melakukannya, bukan aku. Lagi pula kami tidak melakukan observasi dengan cara mencolok seperti mematai-matainya dari luar kelas atau membuntutinya pulang. Semua dilakukan dengan sederhana. Tapi aku tidak datang ke sini untuk menjelaskan itu padamu."

Kakashi mendongak melewati pundak Sakura, mengintip ke dalam kelas. "Boleh aku meminjamnya untuk dibawa ke Lab?"

"Tentu. Jam belajar baru saja berakhir. Akan kusampaikan pada Nana," kata Sakura sebelum masuk kembali ke dalam kelas.

Nana Kizama sudah diberitahukan soal ini sebelumnya. Jadi ketika Kakashi datang untuk menjemputnya ke Lab, wanita itu tidak terkejut lagi. Namun dia tidak diberitahu secara detil bahwa dia akan menjadi manusia pertama yang diujicobakan dalam penelitian penting Universitas Konoha. Akan terlalu rumit baginya untuk memahami itu. Sakura hanya mengatakan bahwa Nana mendapat kesempatan belajar di Universitas Konoha, karena dia adalah murid paling pintar di kelas. Namun dia perlu menjalani beberapa tes sebelum itu. Nana menanggapinya dengan baik, setuju mengikuti tes.

"Apakah setelah ini aku akan dapat es krim?" tanya Nana polos setelah duduk di dalam mobil.

Meski tidak terlihat, Sakura tahu Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Tentu saja. Es krim rasa apa saja, kau bebas memilih, Nana-chan," kata Kakashi, menutup pintu mobil. Dia memutar ke depan mobil, lalu duduk di bangku kemudi.

Sakura melambaikan tangan melepas kepergian mereka hingga mobil menghilang di ujung jalan.

"Sakura-san mau mampir ke kedai Paman Teuchi?" tanya Sasuke, tahu-tahu sudah berdiri di belakang Sakura, mendekap buku dongeng seperti yang selalu dilakukannya, juga menggendong tas punggung kecil yang membuatnya tampak lucu. Dia sudah siap pulang.

Sakura kemudian pulang bersamanya, meskipun sebelum ini tidak berniat mampir ke Ramen Teuchi. Sesekali tidak ada salahnya menyapa pria tua baik hati itu, abaikan saja keengganannya bertemu dengan Hidan yang selalu menatapnya tidak sopan, atau mendengar dia dan Suigetsu mengolok-olok Sasuke. Sakura bersumpah jika bukan karena menghargai Teuchi sebagai bos mereka, kedua lelaki itu sudah lama dibentaknya agar berhenti menertawakan Sasuke.

Hanya saja Sakura kurang setuju dengan tanggapan Teuchi atas kelakuan buruk pegawainya itu, yang selalu hanya menegur tanpa ketegasan. Entah karena Teuchi sudah terbiasa mendengarnya, atau karena Sasuke tidak pernah terlihat sakit hati atas olok-olokan mereka. Memangnya apa yang Teuchi harapkan dari seorang terbelakang jika dihina? Mengamuk marah? Sasuke bahkan tidak mengerti bahwa yang selalu menjadi sebab tertawaan teman-temannya adalah dirinya sendiri.

"Sasuke-kun, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sakura di sela-sela langkah mereka.

Lelaki itu menoleh padanya, melebarkan mata dengan penasaran. "Mau tanya apa, Sakura-san?"

Mata zamrud Sakura mendarat pada buku dongeng yang sepanjang waktu didekap Sasuke. Mulutnya terbuka, bertanya, "Kenapa kau selalu memeluk buku itu, Sasuke-kun?"

Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Sakura sejak menyadari kebiasaan tidak biasa Sasuke yang satu itu. Memeluk bukunya ke mana-mana. Seakan-akan dia bisa mati jika melepasnya. Di kedai selama mengepel lantai, atau mengelap meja, bahkan mengangkat mangkuk kotor; Sasuke tetap mendekap buku itu di dadanya. Dilihat dari manapun buku itu hanya buku dongeng biasa. Sudah usang, kertas di dalamnya tampak kuning dan keriting seperti pernah terkena basah. Bagusnya sampulnya keras sehingga tidak terlalu tampak rusak.

Sakura pikir buku itu amat besar artinya bagi Sasuke. Barangkali mengingatkan lelaki itu pada sebuah kenangan. Atau barangkali seseorang yang memberikan buku itu adalah orang yang istimewa di hatinya. Ibunya? Sasuke bilang ibunya yang menulis namanya di sampul buku itu, dan waktu itu dia menceritakannya dengan mata berbinar-binar. Jadi, benar ibunya?

Sasuke menatap sampul bukunya―menatap namanya sendiri yang tertulis di sana. Ceria di wajahnya yang selalu tampak sebelum ini tiba-tiba memudar, tersaput sendu yang kini menyelimuti mata hitamnya yang indah.

"Ini satu-satunya pemberian dari Ibu yang aku punya," ucapnya. "Kalau aku peluk buku ini, rasanya seperti memeluk Ibu."

Napas Sakura tertahan demi mendengar itu.

"Memangnya ibumu ke mana, Sasuke-kun?"

"Tidak tahu," pundak Sasuke terangkat, dia memeluk lebih erat lagi bukunya. "Aku sudah lama tidak ketemu Ibu."

Sakura belum pernah mendengar tentang keluarga Sasuke sebelum ini. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya. Bagaimana ceritanya Sasuke bisa tinggal bersama pamannya. Sakura bahkan berpikir Teuchi bukan pamannya, pria tua itu tidak bermarga Uchiha.

Saat bertemu dengannya di kedai, Teuchi akhirnya menceritakan kisah menyedihkan itu. Hari di mana dia bertemu dengan Sasuke Uchiha.

"Itu hampir sepuluh tahun yang lalu. Malam itu, Sasuke berdiri di samping tiang lampu jalanan. Kehujanan. Pundaknya gemetar kedinginan, memeluk buku dongengnya erat-erat. Kutanya apa yang dilakukannya di sana, lalu mengajaknya berteduh. Tapi dia tidak mau, tetap ingin berdiri di sana. Katanya sedang menunggu kakaknya. Dia bilang kakaknya sedang membeli sesuatu, berpesan padanya agar tetap di tempatnya berdiri sampai kakaknya kembali. Aku membujuknya pergi tapi tidak berhasil. Karena kasihan, aku memayunginya dan memakaikan mantel padanya, ikut menunggu kakaknya datang. Tapi hampir satu jam berlalu, tidak ada siapapun yang datang menjemputnya. Jadi aku membawanya pulang ke kedai.

"Besoknya aku mencoba bertanya ke kantor polisi, apakah ada yang mencari anak berketerbelakangan mental bernama Sasuke Uchiha, tapi hasilnya nihil. Lalu aku mencari informasi soal keluarganya. Aku berhasil, aku menemukan alamat Keluarga Uchiha di Kyoto. Namun begitu kami mendatangi rumah mereka, tidak ada siapa-siapa di sana, rumah itu kosong. Dan pemiliknya bukan lagi Keluarga Uchiha. Seorang penjaga mengatakan bahwa Keluarga Uchiha sudah pindah ke luar negeri. Saat itu kupikir tidak mungkin lagi melacaknya. Akhirnya aku harus menerima kenyataan, mereka sengaja meninggalkan Sasuke di pinggir jalan."

Teuchi menghela napas panjang. Pandangannya terlempar ke luar jendela, menatap lampu jalanan yang bersinar redup, berkedip-kedip, mungkin sebentar lagi mati.

"Aku tidak punya pilihan selain menampungnya," kata Teuchi. "Pada awalnya putriku, Ayame, tidak setuju aku memberinya tempat tinggal di rumah kami. Dia bilang kami tidak akan sanggup merawatnya karena dia berbeda. Ayame menyarankan agar dia dikirim saja ke Panti Amegakure―penampungan untuk orang-orang seperti Sasuke, kau tahu kan? Tapi aku tidak sampai hati melakukannya. Aku terpaksa meminta Ayame untuk bersabar, karena aku tidak bisa melihat anak itu terbuang untuk ke dua kalinya.

"Memang tidak mudah membuatnya beradaptasi di sini. Sebetulnya aku yang kesulitan. Aku tidak pernah memiliki anggota keluarga yang berbeda seperti Sasuke. Sulit membuat orang-orang terbiasa dengan kehadirannya. Sulit bagiku membuat mereka berhenti menatapnya negatif. Belum lagi karyawanku, aku tidak bisa selalu mengawasi mereka agar tidak menjadikan Sasuke sebagai bahan olok-olok. Aku tidak bisa menghentikan mereka begitu saja. Boleh jadi mereka diam di depanku, tapi di belakang? Aku hanya tidak tega melihat anak itu cuma tersenyum atau malah ikut tertawa setiap kali diejek."

Sakura menggigit bibir. Lagi-lagi menyaksikan hal yang sama sedang terjadi di dekat meja kasir. Sasuke sedang diolok-olok seperti tempo hari. Dua lelaki bernama Hidan dan Suigetsu menertawakannya entah tentang apa kali ini. Sasuke menyeringai saja, memperhatikan keduanya seolah-olah sedang berusaha mengerti arah pembicaraan. Wanita yang mengaduk kuah di balik konter―putri Teuchi yang bernama Ayame―sempat menggertak dua lelaki itu, namun diabaikan.

Sudah cukup. Sakura tidak tahan lagi hanya jadi penonton. Dia melangkah menghampiri, menatap tajam Suigetsu dan Hidan.

"Kalian tahu, yang butuh sekolah khusus sebetulnya bukan orang-orang seperti Sasuke. Tapi kalian!" telunjuknya menuding dua lelaki itu bergantian. Mata zamrudnya berkilat marah. "Supaya orang-orang seperti kalian mengerti bagaimana cara memperlakukan orang lain, tidak peduli mentalnya terbelakang sekalipun."

Suigetsu dan Hidan saling bertukar pandang. Kehabisan kata-kata. Suasana kedai lengang, para pengunjung yang tadinya sedang asyik melahap ramen, beberapa ada yang ikut menonton pertunjukan olok-olok itu; ikut terdiam setelah mendengar kata-kata Sakura. Pandangan mereka tertunduk. Tampak ikut merasa malu.

Satu-satunya yang tidak mengerti adalah Sasuke. Pertanyaannya memecah hening, "Sakura-san kenapa?" Dahinya berkerut, bingung, tangannya menggaruk kepala.

Sakura menggeleng, tersenyum lembut padanya. "Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Kembalilah bekerja," katanya sebelum melangkah pergi, meninggalkan orang-orang yang masih membisu di meja-meja.

"Sakura-san marah, ya?" tanya Sasuke. Dia baru tiba di kelas esok siangnya, langsung menghampiri meja Sakura alih-alih duduk di bangkunya, menanyakan hal kemarin sore di kedai ramen.

Sakura cukup terkejut dengan pertanyaannya itu. Dia menggeleng, tersenyum. "Kenapa aku harus marah padamu, Sasuke-kun?"

"Kalau begitu, marah pada Suigetsu dan Hidan?"

Senyum Sakura tiba-tiba luntur. Sasuke tampaknya mengerti perubahan mimik wajahnya, kedua alisnya bertaut, masih menatap Sakura bingung.

"Aku hanya tidak suka mereka menertawakanmu, Sasuke-kun," ujar Sakura.

"Menertawakanku? Mereka temanku. Mereka tertawa karena mereka senang padaku. Lihat saja setiap kali aku datang, mereka selalu tersenyum lebar. Setiap kali aku cerita, mereka selalu tertawa. Mereka senang padaku, Sakura-san."

Sakura menahan napas, sesak di dadanya membuatnya ingin menangis.

Lihatlah, sesederhana itu Sasuke menanggapi tertawaan Hidan dan Suigetsu. Sasuke mengatakan kedua orang itu temannya? Ironis sekali. Apakah ada di antara Hidan dan Suigetsu yang juga menganggap Sasuke sebagai teman―selain sebagai bahan olok-olok? Sasuke yang selalu ditertawakan, yang selalu dianggap rendah, dihinakan; tidak pernah sekalipun dia marah. Tidak pernah dia sakit hati. Baiklah, itu karena dia tak paham. Tapi orang-orang yang paham soal itu terus saja menjadikannya bahan tertawaan. Itu benar-benar sebuah kejahatan moral.

Sakura hanya mampu tersenyum getir.

"Ya, sudah. Kita mengobrol lagi nanti. Sekarang duduklah di bangkumu, Sasuke-kun. Kita akan mulai belajar."

Saat itu tepat bel berdering, tanda jam belajar-mengajar dimulai.

Semua murid Sakura sudah di dalam kelas. Kecuali Nana Kizama. Hari ini dia datang terlambat. Baru tiba di kelas setelah Sakura berdiri di tengah ruangan membacakan soal cerita. Semua murid menoleh ke pintu, pelajaran berhitung terhenti sesaat. Nana Kizama masuk dengan wajah kusut, memberengut, menggerutu entah apa sembari melangkah menuju bangkunya yang terletak paling depan. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Jawabnya kasar ketika Sakura menanyakan soal berhitung padanya. Tidak biasanya Nana seperti itu.

Sakura pikir itu ada hubungannya dengan tes kemarin. Entah tes apa yang dilakukan oleh Kakashi dan timnya sampai Nana jadi uring-uringan begitu.

Kebetulan hari ini Kakashi Hatake datang lagi ke sekolah. Tapi kali ini dia tidak mengintip dari celah pintu. Dia menunggu sampai murid-murid meninggalkan kelas saat jam sekolah berakhir.

"Kau sibuk, Sakura?" tanyanya di pintu, belum masuk karena masih ada satu murid yang belum meninggalkan kelas―Sasuke.

Sakura menoleh ke pintu. Namun perhatiannya keburu tersita oleh Sasuke yang menghentikan langkah di depan mejanya.

"Sakura-san, hari ini mau pulang bersamaku lagi?" tanya Sasuke.

"Err ..." Sakura melirik Kakashi Hatake yang sedang bersandar di pintu, menatap bosan pada mereka. Kelihatannya ada hal penting yang ingin dibicarakan Kakashi dengannya. Lagi pula Sakura juga punya pertanyaan penting yang harus dijawab Kakashi, tentang perubahan sikap Nana Kizama hari ini. Jadi pada Sasuke dia berkata, "Maaf, Sasuke-kun. Kau duluan saja. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."

Sasuke mengangguk. Wajahnya tampak sedikit kecewa, tapi dia tidak protes. Kemudian Sasuke meninggalkan kelas. Matanya yang indah sempat memperhatikan Kakashi Hatake ketika berpapasan di pintu, tapi langsung berpaling. Langkahnya cepat-cepat meninggalkan gedung sekolah. Mendekap erat-erat buku Itik Buruk Rupa.

"Apa yang sudah kaulakukan pada Nana Kizama?" tanya Sakura tanpa basa-basi, Kakashi bahkan belum sempat mengalihkan pandangan dari sosok Sasuke di ujung koridor.

Kakashi menoleh. Dia tidak tertawa di balik masker seperti yang selalu dilakukannya setiap kali menanggapi pertanyaan Sakura. Dia melangkah mendekati meja Sakura. Matanya menatap serius.

"Memang itu yang mau kubicarakan," katanya, menarik salah satu bangku dan duduk menghadap Sakura. "Nana Kizama tidak bisa mengikuti percobaan. Dia tidak lolos tes Rorschach dan tes apersepsi tematis. Karakteristik psikologisnya tidak sesuai dengan kriteria sampel yang kami butuhkan. Daya tanggap otaknya memang cukup baik untuk ukuran IQ-nya, tapi dia sulit mengendalikan emosi."

"Selama ini Nana baik-baik saja. Emosinya selalu terkontrol dengan baik," Sakura menyela, tidak setuju dengan laporan Kakashi.

Pria berambut perak itu menggeleng-geleng, "Kau belum saja menyentuh titik lemahnya."

Sakura mendelik. Tidak suka cara bicara Kakashi, seakan-akan dia sengaja mencari kelemahan untuk mengetahui kualitas mental seseorang. Oke, dalam hal ini Nana adalah bahan percobaan. Sampel. Tapi bukan berarti sama nilainya dengan sebuah barang. Nana tetaplah manusia. Tidak pantas diperlakukan seperti barang; ditakar, ditimbang, dinilai kualitasnya.

"Kami harus memastikan segalanya, Sakura," kata Kakashi, seolah-olah bisa membaca pikiran Sakura. "Aku tahu kau tidak setuju dengan pertimbangan ini. Kau bahkan sejak awal tidak menginginkan sebuah percobaan pada manusia, Tsunade sudah mengatakannya padaku. Tapi inilah tahap terpenting yang harus dilakukan sebelum percobaan dijalankan. Sampel harus dipastikan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Secara mental, ini penting. Kami butuh anak yang emosinya stabil."

Jemari Sakura mengetuk-ngetuk ke atas meja, memikirkan ucapan Kakashi. Sakura tahu itu masuk akal. Dia bahkan pernah mempertanyakan itu pada Tsunade, bahwa mental seekor hewan dengan manusia tidak bisa disamakan. Percobaan boleh saja berhasil pada Hachiko, namun hal yang sama belum tentu terjadi pada manusia. Untuk itu, percobaan ini butuh memastikan benar-benar keadaan sampelnya sebelum dijalankan. Baik fisik maupun psikis, Kakashi perlu memastikan semuanya secara teliti.

"Jadi, Nana Kizama tidak bisa melanjutkan percobaan?" tanya Sakura lagi, memastikan.

"Definitely not," Kakashi menatap Sakura dengan pandangan menyesal. Dia beranjak dari bangku, melangkah menuju pintu. "Sayang sekali. Padahal aku menyukainya, dia gadis yang ceria. Tapi ceria saja tidak cukup untuk memenuhi kriteria sampel percobaan."

"Err ..." Buru-buru Sakura menyusul langkah Kakashi. "Apakah aku boleh mengajukan nama lain?"

Kakashi menoleh. Alisnya terangkat menatap wajah ragu-ragu Sakura. "Ya. Tentu. Siapa yang mau kauajukan?"

Sakura langsung mengalihkan pandangan, tidak menatap Kakashi. "Sebenarnya dia murid baruku," katanya. "IQ-nya tidak setinggi murid-muridku yang lain―hanya enam puluh delapan. Tapi dia punya kemauan yang kuat untuk belajar. Aku tidak bisa memastikan apakah dia memiliki karakteristik psikologis yang sesuai dengan kriteria sampel percobaan atau tidak—kau yang bisa melakukannya, kan?"

Kakashi mengusap-usap dagunya. Sejenak kemudian berkata, "Sepertinya aku tahu siapa anak itu."

"Eh?" Mata Sakura membesar sedikit.

Pria bermasker itu tertawa renyah. Kakashi yang biasanya sudah kembali rupanya.

"Baiklah. Aku harus segera kembali ke Lab. Nanti berikan profil anak lelaki itu pada Tsunade," katanya sebelum melangkah ke ujung koridor.

Sakura mendengus pada punggungnya. "Aku belum bilang dia laki-laki!"

Kakashi hanya tertawa, suaranya menggema ke seluruh penjuru lorong sekolah, terdengar menyebalkan.

Bus kota berhenti di halte Universitas Konoha pagi itu. Sakura mengantre turun bersama penumpang lain. Tiga puluh menit lagi mata kuliah pertamanya dimulai. Sakura harus bergegas. Dia menyebrang jalan. Dan lagi-lagi langkahnya terhenti di depan gerbang kampus, matanya menangkap sosok lelaki yang tepekur menatap ke dalam kampus dari depan pagar. Sakura tersenyum. Berbelok arah menuju lelaki itu alih-alih masuk ke kampus.

"Ohayou, Sasuke-kun," sapanya ramah, senyumnya terkembang manis.

Sasuke menoleh. Kali ini dia tidak melarikan diri seperti tempo hari. Dia menyeringai lebar menatap Sakura. "Ohayou, Sakura-san." Mata hitamnya yang indah berbinar ceria, sesuatu yang membuat Sakura tak pernah bosan menatapnya.

Sakura berdiri di sisinya, ikut menatap ke balik pagar kampus. Memandangi anak-anak kampus yang hilir-mudik di koridor. Perkumpulan di bawah pohon yang sedang seru membicarakan sesuatu. Atau para mahasiswa yang asyik bermain basket di lapangan. Pemandangan yang selalu sama setiap pagi. Tidak pernah berubah. Namun sepertinya tidak pernah menjemukan mata Sasuke.

"Sakura-san, kalau aku sudah pintar, aku boleh sekolah di sini?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Sakura mengangguk, tersenyum lagi. "Kau boleh kuliah di sini, Sasuke-kun. Kau akan menjadi bagian dari mereka. Kau boleh menenteng buku ke mana-mana seperti mereka. Kau bisa membicarakan sesuatu yang penting bersama mereka. Kau bahkan bisa bermain basket dengan mereka, kalau kau mau."

"Berarti tiap pagi aku juga bisa berangkat sama Sakura-san?"

Semburat merah menjalar di pipi Sakura. Wajahnya langsung berpaling kembali ke dalam pagar. "Ya, tentu saja," jawabnya tanpa mampu menutupi kesan tersipu. Untungnya Sasuke tidak bisa memahami itu.

Tapi lupakan soal perasaan yang semakin tidak Sakura mengerti setiap kali berdekatan dengan Sasuke. Ada hal yang jauh lebih penting daripada urusan hati yang berdebar-debar. Tentang pembicaraannya dengan Kakashi kemarin sore. Sakura tidak spontan saja mengajukan nama Sasuke Uchiha. Dia pernah berpikir untuk mengajukan nama lelaki itu alih-alih nama Nana Kizama. Namun itu ketika pertama kali dia bertemu dengan Sasuke, ketika dia belum begitu yakin dengan kemampuan Sasuke. Seiring berjalannya waktu, dengan melihat sendiri perkembangan belajar Sasuke Uchiha dari hari ke hari, Sakura tak ragu lagi untuk mengajukan namanya jika ada kesempatan.

"Sasuke-kun, apakah kau sungguh-sungguh ingin jadi pintar?" tanya Sakura, menatap lurus mata indah Sasuke.

Lelaki itu menyeringai lebar, mengangguk-angguk lugu. "Ya, aku ingin jadi pintar. Aku sudah berusaha keras. Aku akan jadi pintar, kan?"

"Ya, kau akan jadi pintar. Kau bahkan bisa lebih pintar dari orang-orang, Sasuke-kun. Lebih pintar daripada Sugetsu dan Hidan."

Mata hitam Sasuke melebar. "Sungguh?"

"Ya. Ada seorang profesor yang bisa membuatmu jadi pintar. Kau mau bertemu dengannya, Sasuke-kun?"

"Dia bisa membuatku lebih pintar dari orang-orang?" Mata Sasuke tidak bisa lebih besar lagi sekarang, berkedip-kedip tak percaya menatap Sakura.

Sakura mengangguk. "Ya, Sasuke-kun. Dia akan membantumu."

Sesaat kemudian Sasuke sudah melonjak-lonjak kegirangan. Tidak peduli dilihat mahasiswa-mahasiswa di balik pagar kampus, tidak peduli diperhatikan orang yang lewat.

"Aku akan jadi pintar! Semua orang akan menyukaiku! Semua orang akan jadi temanku!" serunya gembira. "Mungkin juga aku bisa ketemu Ibu!"

Bersambung

[01.08.2015]