Apa yang harus aku lakukan?

Apa bisa kau katakan padaku?

Apa hanya itu yang dapat aku lakukan?

Apa kau tidak berpikir jika aku merindukanmu?

Apa kau tidak berpikir jika aku menyayangimu?

Apa kau tidak berpikir jika aku begitu mencintaimu?

Apa kau tidak berpikir jika aku selalu mencari cara agar kau dapat mengingatku?

Atau kau mengharapkanku untuk menyerah?

.

.

Jin x Taehyung | Boy's Love | two shoot | OC and other members appear

Do not plagiarize

.

Enjoy!

.

.

"Aku menyayangimu... Tetaplah tersenyum, Taehyung."

Sepertinya Seokjin memang harus menyerah. Ia tak boleh mengharapkan ingatan Taehyung kembali. Untuk selamanya.

Seperti biasa, Seokjin selalu mengirimkan pesan berisi kalimat 'selamat pagi' atau hanya sekedar mengingatkan Taehyung untuk semua jadwalnya, dan selalu menjaga kesehatannya setiap hari. Ya, Seokjin memang selalu melakukan itu, hanya demi kekasihnya yang ia cintai. Kim Taehyung.

Dan selalu seperti biasa, Seokjin akan tersenyum tipis dengan matanya yang berkaca dengan balasan pesan dari Taehyung sesingkat apapun itu. Ia tetap menyukainya.

Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang besarnya. Ia memainkan ponselnya, dan melihat isi folder foto dan video di ponselnya yang hampir semua terisi dengan foto-foto kekasihnya. Ia menghela nafas panjang, dan menatap ke meja kecil yang ada di sebelah ranjangnya. Menatap pigura berisi foto dirinya dan Taehyung yang sedang tersenyum lebar, dengan latar belakang Menara Eiffel.

Matanya seperti dapat melihat semua kilas balik memori yang selalu terangkai di dalam otaknya, ketika ia melihat objek apapun yang berhubungan Taehyung. Dan jika seperti ini, ia selalu ingin menangis.

"Percuma."

Ia menelungkupkan tubuhnya, dan menenggelamkan wajah ke atas bantal kepala bersarung merah itu. "Apa dengan menangis dapat membuat Taehyung mengingatku?" ucapnya dengan suara yang teredam bantal.

.

.

.

"Seokjin-Hyung!" Taehyung berteriak dengan bersemangat, dan melambaikan tangannya pada sosok Seokjin yang baru saja datang ke tempat pemotretan. Kebetulan, hari ini mereka akan melakukan pemotretan di sekitaran taman di sepanjang Sungai Han.

Seokjin terkadang berpikir, apa yang dilakukan Taehyung begitu menyakiti dirinya hanya dengan senyum lebarnya dan suaranya yang begitu bersemangat, dan ia tidak mengerti dengan semua itu.

"Hai, Taehyung-ah. Sudah sarapan?" tanya Seokjin setelah meletakkan peralatan kamera miliknya, dan mengusap rambut keunguan Taehyung.

Lelaki itu mengangguk dengan bersemangat. "Bagaimana denganmu, Hyung?" ia menatap mata lelaki itu dengan sorot matanya yang begitu menggemaskan.

"Sudah."

"Tapi aku membawa roti, kau mau makan lagi, Hyung?"

Salah satu kelemahan seorang Kim Seokjin. Tidak akan pernah ada kata penolakan untuk setiap hal positif yang diberikan Taehyung, walaupun terkadang itu akan berefek padanya. Seperti ini, ia sudah kenyang karena sarapan nasi goreng kimchi masakan adiknya, dan ia kini harus memakan roti yang sudah disiapkan oleh Taehyung hanya untuk menyenangkan hati pria yang dicintainya itu.

Taehyung membuka segel plastik dari roti tersebut, dan memberikannya pada Seokjin. Membuat lelaki bertubuh tegap itu tersenyum manis sebelum memakannya.

"Bagaimana, Hyung? Apa roti pilihanku enak? Maaf, aku tidak tahu apa roti kesukaanmu."

Seokjin menelan kunyahan roti yang ada di tenggorokannya begitu sulit. Ia serasa menelan batu yang begitu tajam, dan mencoba untuk merobek tenggorokannya. Taehyung bahkan tidak mengingat apa rasa dan roti kesukaannya, yang jelas-jelas Taehyung sering sekali membelikannya. Pada akhirnya, Seokjin hanya bisa tersenyum.

"Tidak apa-apa."

.

.

"Oppa."

"Ah, Yeri-ya. Kau mengejutkanku." Seokjin menurunkan kamera miliknya, dan menatap adiknya.

"Ia belum mengingatnya juga?"

Seokjin tersenyum miris, dan menggelengkan kepalanya. Yeri ikut menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu, aku tidak mengerti. Apa yang harus aku lakukan lagi untuk membuat semuanya kembali seperti semula."

"Kau bukan Tuhan."

"Ya, aku tahu. Dan kini aku menyalahkannya mengapa aku yang mengalami semua hal menyedihkan seperti ini."

"Oppa…"

"Kau tahu? Aku hampir menyerah."

Keduanya terdiam. "Menyerahlah jika kau ingin menyerah. Tidak ada yang salah dengan itu. Termasuk, jika kau tidak benar-benar mencintai Taehyung."

Seokjin mendongak, dan menatap adiknya dengan tajam. "Aku mencintainya. Kau harus tahu hal itu. Kim Yeri."

Yeri menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu, seharusnya kau tidak menyalahkan Tuhan dan tidak menyerah." Ia menatap ke arah belakang Seokjin, dan melambaikan tangannya. "Hai, Taehyung-ah!"

Yeri menepuk pundak Seokjin. "Teruskanlah semuanya dan percayalah."

.

.

Seokjin tertawa kecil melihat tingkah Taehyung yang memakan es krim seperti anak kecil. "Ya, Taehyung-ah, lihatlah betapa berantakannya dirimu."

Taehyung mengalihkan pandangannya pada Seokjin dan menunjukkan senyum lebarnya, yang menampakkan deretan gigi bersihnya. Seokjin mengambil tissue basah dari dalam tasnya, dan membersihkan bekas-bekas es krim di sekitar bibir, pipi, bahkan hidung Taehyung. "Kau seperti anak kecil."

Tanpa mereka sadari, kedua wajah mereka saling berdekatan. Bahkan, Seokjin dapat medengar begitu jelas deru nafas Taehyung, begitu juga sebaliknya.

"Hyung?"

"A—ah! Hahaha, maafkan aku." Seokjin tertawa gugup. Ia benar-benar konyol, mengharapkan hal-hal manis dan romantis akan terjadi padanya setelah apa yang terjadi pada ingatan Taehyung.

"Kau mau es krimnya?"

Taehyung bahkan membuka percakapan kembali, tanpa merasakan hal apapun. Ia menyendokkan es krim rasa stroberi miliknya besar-besar dan menunggu Seokjin membuka mulutnya.

Seokjin menatap wajah Taehyung sebentar, dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan besar dari Taehyung.

Lelaki itu bertepuk tangan senang, dan tertawa. Seokjin merasakan detak jantungnya selalu berdegup melebihi batas ketika melihat Taehyung. Dan ia sadar, jika ia masih benar-benar mencintai lelaki itu, walaupun seseorang yang ia cintai itu tidak mengingatnya sama sekali. Dan ia sadar juga, mungkin ia akan menyesali semuanya, menyalahkan dirinya sendiri jika sampai ia kehilangan suara tawa Taehyung yang begitu indah di telinganya.

"Saranghae." Gumanya dengan lirih, yang ikut terbawa hembusan angin.

.

.

Para staff, dan beberapa model serta para manajer model yang berada di bawah naungan YK Fashion and Entertainment segera membubarkan diri dari rapat yang rutin dilakukan satu bulan sekali, untuk memperbaiki kinerja mereka yang merasa kurang.

Di ruangan besar itu, masih tersisa Yeri, Seokjin, Taehyung, dan Namjoon–manager dari Taehyung.

Yeri menatap Taehyung. "Oh ya Taehyung, hari ini kau akan berfoto dengan modelku yang menjadi icon cabangku di Jepang. Jeon Jungkook."

Seokjin membulatkan matanya, mendengar nama 'Jeon Jungkook' yang keluar dari mulut adiknya itu. "A—Apa? Jung—Jungkook? Hahaha, kau pasti salah bukan?" matanya menatap Yeri meminta penjelasan lebih lanjut.

"Aku tidak salah. Untuk dua minggu lagi, aku ingin dua iconku untuk model laki-laki di dua cabang yang berbeda digabungkan, dan dicetak dalam dua bahasa. Jepang dan Korea. Sehingga, ulasan keduanya akan berada di dalam majalah dua minggu ke depan." Jelas Yeri. "Ini soal pekerjaan." Tekan Yeri. Ia mengerti, mengapa kakak laki-lakinya begitu tertekan saat mendengar nama model utamanya itu.

Taehyung dan Namjoon tidak mengerti dengan reaksi yang diberikan Seokjin. Namun, mereka berdua memang sudah mengenal Jeon Jungkook, model yang sama terkenal di Jepang seperti Kim Taehyung yang terkenal di Korea. Namun mereka belum pernah bertemu langsung.

"Hari ini ia akan datang, kalian akan melakukan cukup banyak pemotretan hari ini, majalah spesial edisi untuk dua icon laki-lakiku." Tambah Yeri dengan senyum di wajahnya.

.

.

Alasan mengapa seorang Kim Seokjin tidak ingin bertemu dengan Jeon Jungkook adalah, karena Jungkook adalah salah satu bagian yang pernah mewarnai kehidupan Seokjin lima tahun yang lalu.

Taehyung menolehkan kepalanya, ketika mendapati seorang lelaki berwajah manis dengan gigi kelincinya tersenyum dan menyapa Seokjin.

"Hai, Seokjin-Hyung. Senang bertemu denganmu lagi." Ucap lelaki itu. Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan tidak mengerti. Merasa diperhatikan, Jungkook menoleh ke arah Taehyung. "Ah, annyeonghaseyo, aku Jeon Jungkook. Kau pasti Kim Taehyung, bukan?" ucapnya dengan manis.

Taehyung mengangguk. "Ne. Aku Kim Taehyung."

"Panggil dia dengan 'Hyung' Jungkook-ah, ia lebih tua dua tahun darimu." Tambah Seokjin. Ia menatap keduanya.

"Maafkan aku, Tae-Hyung." Jungkook membungkuk sopan meminta maaf.

"Tidak apa-apa." Balas Taehyung.

Mata Jungkook menatap Taehyung dan Seokjin bergantian. "Bisa aku bicara dengan Seokjin-Hyung sebentar?" izinnya pada Taehyung.

"Ya, ya, tentu saja. Aku pergi dulu."

Nyatanya, kalimat 'aku pergi dulu' dari Taehyung hanya berjarak beberapa meter dari keduanya. Dan setidaknya, ia masih dapat mendengar apa yang dibicarakan keduanya.

Suasana di antara keduanya cukup canggung. Jungkook berdengung sebelum memulainya. "Sepertinya, kau sedikit berubah, Hyung."

"Benarkah?" Seokjin tersenyum canggung. Ia melirik bagian tubuhnya yang dapat dilihat matanya. "Kurasa tidak. Kupikir, kau yang cukup banyak berubah."

Jungkook melakukan hal yang sebelumnya dilakukan oleh Seokjin. "Misalnya?"

"Kau bertambah tinggi. Dan kau…"

"Dan?"

"Dan kau bertambah manis."

Jungkook tersenyum simpul. "Aku sangat merindukanmu, Hyung."

.

.

TBC

Hohohoho, siapa yang nungguin nih fanfic absurd ;-;)/ raise your hand babe! Sorry kelamaan update, rada ga mood /sok/ ini seriusan, voodoo bete sama orang yang jadi siders sebenarnya. Kenapa sih kalian jadi siders? Emang kalian ga bisa bayangin apa betapa sedihnya seorang author yang karyanya dibikin sampe rambut keriting cuma dibaca aja tanpa dikasih kritik dan saran apapun? /nangis di pojokan/ oksip, ini skip aja. Karena mau dikasitau, mau disindir kaya begimane juga siders ga akan pernah ngerti ;")

Oh ya, kayanya ini sih bakal lebih panjang dari prakiran hehehehe. Tapi tetep aja twoshoot, soalnya akan saya kasih angka 2A dan seterusnya sampe tamat /tawa setan/ ga deng, boong gamau kepanjangan juga. Soalnya nanti takut diprotes hihihi, sekali lagi voodoo banyak-banyak minta maap ye kalo ceritanya rada ngebosenin, dan mainstream pake banget._.) dan sedihnya bikin mual, karena jujur aja voodoo dan bunda phylindan tidak dapat membuat cerita sedih sampe bikin orang kentut, sorry salah, sampe nangis.

Ngomong-ngomong, do you have an idea? Just PM me or comment. Mungkin voodoo dan bunda kookie akan memasukkannya dalam cerita :-D. So, read and review, fav and follow)/

Jangan lupa baca dan dukung : As Sweet As Caramel by Phylindan aka emaknya kookierun.

Thanks to : Phylindan, she3nn0, JungYoungest, taetaejin, chohyunsungie, TKTOPKID, Jisaid, macclatte21, bootae, Githa891, 454, dan sider, juga orang-orang yang cuma fav/follow tapi gak review:")

p.s : sorry ga bisa dibales reviewnya satu-satu ;_; maklum, sibuk jadi anak pecicilan ;_;

p.s.s : kalo mau kenalan, PM-an aja yuk! Kkk~

cute voodoo and phylindan