Disclaimer: semua orang tahu kalau seluruh karakter Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Chara : Shikamaru N & Ino Y
Warning : OOC, typo, banyak kesalahan penulisan EYD, ide cerita yang pas-pasan, terlebih lagi alurnya membingungungkan, cerita membosankan, cerita nggak nyambung dan masih banyak lainnya.
Oke ini dia kelanjutan dari chapter pertama, selamat membaca...
"Aaa..." kucoba meluarkan suaraku, kendati tak sekeras yang kumau paling tidak bersuara. Walau-pun hanya tikus dan cicak yang medengar kuharap... siapa pun tolonglah aku.
Aku terjatuh begitu saja, berat yang menimpa tubuhku tak kuat lagi untuk ku tahan. Yakin atau tidak, tanganku reflek memeluk si-zombi. Aku tidak habis fikir dengan jalan fikiranku sendiri, harusnya aku lari menjauh sejauh mungkin dari makhluk yang masih belum jelas jenisnya ini.
Oke ini cuma mimpi, cuman mimpi, tipuku berulang ulang kali. Mencubit pipi tak kan membuatku sakit, karena ini hanya mimpi. Kulepas tangan kananku perlahan dari makhuk tersebut, mencoba merubah kenyataan menjadi khayalan. Kutempel jari telunjuk dan ibu jariku, menariknya perlahan. Dan yang terjadi... sakit, beberapa detik kemudian, aku baru sadar. Tamat riwayatku, ternyata bukan mimpi.
"A.. emmph." kerongkonganku terasa susah mengeluarkan suara. Jelas saja jika mulut dibekap tidak akan mengeluarkan suara kan? Haduh, gimana ini? gimana? gimana? sebenarnya aku dulu pernah belajar karate waktu masih sekolah dasar, apa aku harus menghajarnya? Tapi, itu sangat mustahil, pasalnya aku sudah lama tidak berlatih, alhasil aku lupa cara dan tekniknya.
"Jangan teriak." Ucapnya melepas bekapan dari bibirku, aku mengangguk mengerti. Persis seperti ilusionis yang sedang mengucapkan sugesti pada seseorang. Oh tidak, aku tak menyangka, ternyata suara zombi terdengar lebih keren dari apa yang aku bayangkan. Cukup... cukup... sadarlah Ino, kau mau dimangsa bukan melihat konser. Ayolah sadar dan bangun dari mimpi si pangeran zombi.
"Bagus..." aku melakukan kegiatan menaikan dan menurunkan kepalaku lagi "bisa kau menyalakan lampu?" kali ini kegiatan menaik turunkan kepala, tapi menggerakan kesamping kiri dan kanan "sudah kuduga, bisa kau tenangkan aku?" loh? Bukannya dia sekarang sangat tenang, lebih dari tenang malahan, aku melihatnya eh salah aku merasa dia sangat tenang dari tadi, kecuali deru nafasnya yang aneh. Tapi bagaimana bisa aku menenangkan seseorang, sedangkan aku saja jauh dari kata tenang "asmaku kambuh bisa kau menolongku sedikit?"
Aku melakukan kegiatan menaik turunkan kepala lagi. Dengan penerangan seadanya, aku melakukan melakukan pertolongan pertama. Sugguh, ini diluar dugaanku. Kujauhkan dia dariku beberapa senti, aku menyuruhnya bersandar pada tembok disebelah kanan kami, kugunakan bantal dari kursi tak jauh dari tempat kami duduk "kau tahu, aku harusnya tidak berada disini?" ucapku, aku berusaha membuat pemuda didepanku ini teralihkan perhatiannya.
Kusuruh dia mengendurkan beberapa bagian pakaian, dasi, kancing baju bagian atas. Kulepas sepatu dan kaos kakinya perlahan, kupijit jempol dikakinya pelan. Kulihat dia juga berusah membuat ruangan lebih terang, ponsel ukuran lima inchi keluar dari saku tuxedo-nya. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Astaga, ternyata dia maid yang tadi, yang nama-nya Shikamaru, ya Shikamaru, ku yakin nama yang ingat tidak salah. Meski aku buruk dipelajaran hafalan, tapi aku yakin nama yang ku ingat tidak salah.
Ponsel yang dia pegang sangat membantu, setidaknya untuk keadaan seperti ini. Aku melepas sepatuku juga, turut duduk diujung kakinya. Aku tersenyum, kugelengkan sedikit kepalaku, aku ingat hari ini hari paling sial dalam hari hariku "kenapa?" tanya-nya. Aku mengambil jeda, menghentikan pijitan jempol dikakinya.
"Tidak... aku hanya berfikir, kenapa aku bisa disini ya? Harusnya aku tidur dirumah, menaikkan selimut saat turun, memeluk gulingku, dan mimpi indah" yap bagus Ino sebutkan saja semua list yang ada didaftar menu mu. Kau ini curhat tidak pada waktu dan tempat yang tepat, "tapi, aku malah tersesat disini."
"Kau menyesal?" tidak ada dalam kamusku kata menyesal. Tapi, membandingkan sesuatu yang lebih baik untuk terwujud mungkin. Hah itu sama saja.
"Bukan...aku hanya berfikir, sebegitu bodoh kah diriku untuk tersesat disini?" berfikir rasional tidak berguna untuk saat ini, yang dibutuhkan saat ini adalah sebuah penerangan terang, menuju jalan tempat tidurku "kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
"Baterai ponselku habis."
"Hah? Dan kau? Tertinggal disini? Sendirian?" tanyaku bodoh, apakah dia ini terlalu jenius sehingga mengisi baterai di tempat sepi, atau dia terlalu bodoh sehingga kenapa dia tidak mengisinya dirumah? Bukannya acara sudah selesai, semuanya juga sudah kembali kerumah masing masing "lalu, kenapa tidak mengisinya dirumah?"
"Aku memang mengisi baterai...dan ketiduran." Bisa bisanya ketiduran ditempat seperti ini memangnya tidak ada tempat yang lebih baik sedikit apa?
Aku merasaka keadaan pemuda didepanku tak juga kunjung membaik, deru nafasnya semakin lama semakin kencang terdengar. Untuk saat ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ditempat gelap seperti ini. Peralatan medis juga tidak ku bawa, mana aku tau ada kejadian seperti ini.
"Sebaiknya kita keluar dari sini," aku membuka suara, keadaan diam juga tidak baik dalam situasi seperti ini "sebentar lagi sistem keamanan mungkin juga akan menutup pintu gedung disini," dan lagi sudah berapa lama aku disini? Semoga kurang dari dua puluh menit "dan kau, lebih baik kubawa kerumah sakit untuk menanganimu."
Aku tahu dia mangangguk meski sangat pelan, tapi aku tahu. Kusambar kontak mobilku, perlahan tapi pasti aku mengangkat pemuda zombi tersebut. Agak berat sih, tapi mau bagaimana lagi, aku tak mau terjebak semalaman disini dan esok harinya harus menghadiri pesta pernikahan siapa lagi.
Kucobah memapahnya, ya ampun ini sulit sangat sulit sekali, harusnya ini bisa berjalan mudah jika ada penerangan lebih. Aku menghela nafas pendekku lagi, aku baru pulang dari rumah sakit sekarang aku harus kembali lagi kesana. Ini baru yang namanya sangat merepotkan.
Aku beranjak menuruni tangga, jalanan ditangga yang sempit membuatku lebih sulit berjalan, belum lagi sesekali aku harus membenahi posisi tasku yang melorot dari pundakku. Padahal ada dua lampu ponsel- milikku dan miliknya- ditangan orang yang kuketahui bernama Shikamaru namun jalan didepanku masih saja terasa sangat gelap. Ukuran gedung yang besar juga mempengaruhi jalanku untuk keluar dari sini.
Tiba tiba pemuda yang berada disampingku agak terjatuh, tangan kiriku reflek memegang dadanya, "kau masih bisa berjalan?" aku khawatir dia bisa pingsan disini, akan semakin repot jika dia benar- banar pingsan disini "kau masih kuat?" tanyaku memastikan.
Dia mengangguk "untuk sekarang," suhu tubuhnya meningkat, tangan dan tubuhnya dipenuhi oleh keringat. Tubuhnya semakin lama semakin berat, apalagi nafasnya yang sedari tadi memburunya.
Setidaknya sekarang aku bisa bernafas sedikit lega, aku bisa keluar dari bangunan ini dengan selamat, dan jangan lupakan seseorang disampingku.
Aku baru ingat ternyata pasangan Naruto dan Sakura masih disini, tau begini aku tidak perlu repot repot memapahnya dari tadi. Tinggal menelfon mereka, masalah selesai. Tapi aku justru memilih jalan terjal.
"Ino..." ucap sahabatku kaget. Tidak heran dia kaget, malah aneh kalau dia tidak kaget.
"Shikamaru..." ucap pasangan sahabatku. Dia yang tadinya diam menghampiriku, mengambil alih pekerjaanku.
"Berat banget," keluhku, dasar bukanya meminta bantuan secara baik- baik malah mengeluh keberatan. Berjalan dari lantai dua kesini tidak semudah yang kuperkirakan juga sih "dia harus dibawa kerumah sakit." Kataku lagsung, tanpa penjelasan dan basa basi.
Kami memutuskan untuk menumpang dimobil Naruto. Mobil ayahku, tentu saja ditinggal bersama dengan mobil pasienku. Akan aku ambil mungkin sekitar besok pagi.
Jalanan tengah malam sangat lengang, hanya suara mesin mobil yang bisa terdengar ditelingaku. Sesekali aku melihat Sakura melirik kebelakang, memastikan keadaan masih dalam taraf baik baik saja. Naruto yang selalu melihat aku dan temannya dari spion mobil juga tak luput dari pengetahuanku.
Sakura yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam langsung membawa teman kekasihnya masuk ruang UGD. Seorang perawat juga ikut membantu Sakura didalam.
Jika seseorang bertanya kenapa aku tidak ikut membantu, padahal aku juga seorang dokter, jawabannya simpel aku terlalu lelah untuk sekedar membuka mata lebar- lebar. Alasan yang cukup tak masuk akal sih, harusnya sebagai dokter aku harus bersikap profesional. Lagi pula dokter Sakura juga mendukung alasanku dengan bilang agar aku istirahat pasca pesta mendadak tadi, sedikit banyak telah menguras tenagaku.
Cukup lama aku dan kekasih sahabatku ini menunggu datangnya kabar dari dalam ruang UGD. Sebenarnya aku tidak perlu disini menunggu untuk sekedar mengetahui keadaan orang didalam sana. Secara hubungan aku sama sekali tidak ada hubungan. Untuk sekedar kenalan juga kurang pantas disebut begitu, karena kami juga belum resmi berkenalan, meski aku tahu namanya dari orang lain. Hanya sebuah nama.
Oke ini hanya untuk formalitas sebagai mantan pasien dan seorang dokter. Menunggu beberapa menit tak masalah, tapi mataku sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Ditambah besok aku ada janji jam sembilan pagi, jadi untuk hari ini bisa dipastikan aku tidur kurang dari enam jam.
Entah sudah berapa kali aku melihat Naruto mondar- mandir, aku tahu dia sedang menghubungi seseorang dan selalu gagal. Wajah frustasiya menambah daftar kebosananku, aku tak tahu siapa yang sedang dia dihubungi tapi, apa dia gila menelfon sepagi ini? mana mungkin seseorang membuka kelopak matanya untuk sekedar melihat telfonnya. Itu baru kemungkinan kalau ponsel hidup, nah kalau dimatikan?
Aku tak mau lagi menambah list kebosananku, melihat kekasih sahabatku mondar- mandir akan lebih membosankan dari pada melihat film komedi, jika aku terpaksa melihat setrika disaat seperti ini- pun, lebih baik aku melihat setrika dengan bentuk aslinya dibandingkan harus melihat replikanya.
"Bisa kau berhenti? Sudah dua puluh tujuh kali kau mondar- mandir." Kataku, aku melepas lipatan tanganku. Punggungku yang memang sedari tadi bersandar di sadaran kursi kucondongkan kedepan.
"aku sedang menghubungi orang rumah, tapi aku heran kenapa tidak ada yang mengangkat." Ucapnya berhenti dari kegiatannya semula. Sekarang dia bersandar ditembok depan kami, kaki kanannya dia tapakan ditembok.
"Kau bercanda, sekarang jam berapa?" Aku sekarang hanya mencoba untuk memakai logikaku, aku memang tak begitu pandai memakai logika, tapi setidaknya aku bisa memakai logika. Tidak ada respon lagi, dan aku juga tak mengharapkannya juga.
"Masih usaha?" kataku sekali lagi. Aku masih melihat Naruto berusaha mengubungi orang disebrang sana. Aku menggengkan kepalaku, masih heran dengan manusia didapanku. Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali tapi aku tahu dia baik dan sangat mementingkan temannya, dan itu merupakan satu nilai plus dari seorang Uzumaki Naruto.
"Itu lebih baik dari pada aku berdiam diri," Timpalnya. Kalau begitu ya sudah, aku sebagai penonton harus menerima apa yang akan dilakukan aktornya kan? "berhasil," kataku, ternyata pengorbanannya tidak sia- sia setelah sekian menit dia berusaha akhirnya dia menuai hasilnya.
"Kenapa lama sekali?" ucapnya tanpa sapaan terlebih dahulu.
"Shikamaru sekarang dirumah sakit, cepat kesini beritahu juga paman dan bibi," katanya lagi. Untuk sejenak dia mendengar jawaban orang disebrang sana "nanti alamatnya kukirim lewat e- mail." Jawabnya lagi.
Pintu ruang UGD terbuka, seolah tak mau memberi jeda seperti iklan ditv- tv Naruto yang seakan memberi isyarat tanya pada Sakura, langsung dijawab oleh sang kekasih "dia baik- baik saja, menginap beberapa hari akan membuatnya lebih baik."
"Semua sudah selesaikan? Maaf Naruto aku tak bisa menjenguk temanmu, aku harus pulang besok ada rapat pagi." Ucapku, dan memangnya siapa yang peduli padamu Ino? Kau tak ada pun tak akan terjadi apa- apa.
"Perlu kuantar?" tuh kan Naruto memang tipikal manusia bodoh yang lebih mementingkan teman dari pada diriya sendiri.
"Akan kuantar dia, kau jaga temanmu." Nah ini bukan lagi rahasia publik, semua orang cukup tahu kedua pasangan ini mempunyai sifat dan tipikal yang hampir serupa. Kesamaan sifat dan kepribadian mereka menjadikan visi dan misi mereka akan berjalan seperti yang mereka inginkan.
"Kalian yakin?" benarkan? Ya ampun Naruto jalanan dari rumah sakit kerumah hanya kurang lebih lima kilometer, tak akan terjadi apa- apa jadi lebih baik dia menghawatirkan seseorang yang ada didalam sana.
"Kau meragukanku yang sudah mejuarai lomba karate 54 kali ini?" ah benar sahabatku ini memang hebat dalam ilmu beladiri. 54 kali juara pertama, 26 kali runner-up dan tak pernah sekalipun kalah dari musuhnya. Hah mengerikan.
"Benar, hati- hati sayang." Mulai lagi acara pacarannya, serasa terpental didunia lain.
Aku berdehem "kalian tak lupa kan masih ada aku disini?"
"Aku lupa masih ada anak dibawah umur disini." Sial, dia fikir aku ini umur berapa? belum cukup umur katanya? Jadi seseorang yang tidak punya seorang kekasih dan seseorang yang disukai disebut belum cukup umur heh?
Tubuhku berasa retak, bahkan dimobil pun aku lebih memilih untuk memejamkan mata. Tak mudah bagiku memejamkan mata ditempat lain selain kamar tidurku sendiri, sekalipun itu diranjang orang tuaku sendiri. Berat tapi sulit untukku menyerah.
"Ino..." aku mendengar suara sakura, suaranya terdengar sangat mengganggu.
"Bangun, sana tidur dikamarmu." Sakura mendorong- dorong tubuhku. Aku tetap tak bergerak.
"hm..." aku mengerang, kuregangkan tanganku kesamping, aku tahu aku mendorong bahu Sakura. Sontak pasti Sakura terdorong. Aku tak tahu pasti, hanya suara sayup- sayup Sakura mengumpat beberapa kali.
Ku paksa mataku untuk terbuka dan aku menggeliat sebentar. Tak sampai satu menit aku membuka mata kini, mataku berusaha menutup kesadaranku. Bukannya bangun aku malah kembali menutup mata dan tidur lagi.
"Ino..." rengak Sakura lagi. Berkali kali dia mengganggu tidurku, semakin lama semakin lama suaranya makin lirih dan aku tak dapat lagi mendengar suaranya. Aku tertidur kembali.
Aku memutar tubuhku, mengggeliat layaknya ular. Aku merasakan kain hangat membungkus tubuhku, kusibak kain tersebut sampai diatas perutku "aku mimpi buruk" kataku seperti orang yang mengigau. Aku menghela nafas panjang, tangan kiriku berusaha mencari informasi jam berapa sekarang. Sedangkan mataku masih terpejam, masih enggan untuk masuk kedunia nyata.
Hah, aku menghela nafas kembali pasalnya tanganku tak kunjung menemukan apa yang aku cari, padahal aku merasa sudah menyapu seluruh permukaan meja. Dengan sangat terpaksa aku harus mengalihkan tanganku untuk mencari ponselku sebagai alternatif lain. Aku kembali meyapu permukaan meja lagi dengan mata masih terpejam, namun hasilnya nihil. Tanganku meraba dibawah bantal dan lagi- lagi hasil yang kudapatkan sama saja nol.
Dengan sangat terpaksa kubuka mataku, "oh iya kemarin pagi aku menaruh jamku dilaci." Aku bermonolog sendiri atau lebih tepatnya mengigau, nah aku baru ingat kemarin jam itu sudah menjadi target pembantaianku lagi. Keberisikannya membangunkanku membuat nyawanya kucabut. Alternatif untuk sekarang ya bangun dari ranjang nyamanku, mencari dimana ponselku tapi aku lupa menaruhnya. Kududukkan badanku, masih enggan untuk membuka mata. Kubuka pintu laci dimejaku, yang kudapat disana hanya tumpukan kertas. Aku mulai frustasi, kubuka mataku dengan sangat terpaksa. Kutarik bantalku, kubuang dan tidak ada benda bernama ponsel disana. Kutarik semuanya yang ada diatas ranjang namun hasilnya tetap sama.
"Aaa...bu..." jeritku seperti anak kecil "dimana sih?" aku membongkar isi tas kerjaku kemarin, mungkin terselip disana, tapi kupikir pikir tidak mungkin. Kutumpahkan semua isi tasku, untuk memastikan namun tak ada.
"Kau... jangan berteriak- teriak, ini bukan dihutan Ino." Reaksi yang tak kukira, kukira ibuku bakal khawatir atau apa ini malah memarahiku.
"Eh, tuan putri sudah bangun." Kata seseorang ikutan nimbrung dari arah belakang ibuku. Kini seseorang dibelakang ibu telah menampakkan wajahnya, wajah kuketahui bernama Sakura telah berdiri sejajar dengan ibu diambang pintu kamarku.
"Hah... kenapa kau disini?" tanyaku pada Sakura. Aku bingung pasalnya kemarin dia tak ada janji denganku akan menginap. Walau pun orangtuanya telah menitipkan dia kepada orangtuaku selama satu bulan. Satu bulan selama orangtuanya dinas diluar kota.
Tapi beberapa hari ini dia tidak menginap di rumah, sekarang tahunya sudah berdiri disamping ibu.
"Kau ini lupa apa pura pura lupa? Kau fikir siapa yang membawamu dari mobil kekamarmu?" ucapnya. Dengan sangat sukses sebuah jitakan kecil menjarat dikepalaku. Aduh walaupun sebuah jitakan kecil, mampu membuat kepalaku sedikit benjol.
"Auu," aku mengusap usap kepalaku "bu..." aku berusaha meminta bantuan pada ibuku. Lagi- lagi aku bodoh memprediksi reaksi ibuku, dia malah menambahi satu jitakan kecil dikepalaku.
"Kau ini, kapan kau akan berhenti membuat ayahmu dan Sakura kesusahan?" ini lebih mirip sinetron ratapan anak kandung, bila biasanya difilm film yang tersiksa adalah anak tiri, tapi ini sugguh tidak wajar karena sekarang yang disiksa adalah anak kandung.
"Auu aku terintimadasi," kataku memelas, sementara kedua tanganku mengusap kepalaku "memangnya apasih yang sudah dilakukan ayah dan Sakura?" sekarang sudah terbukti bila aku sedang memainkan drama ratapan anak kandung, nyatanya sekarang aku mendapat satu jitakan lagi dikepalaku. Difikir kepalaku ini guling tinju apa?
"Ayah..." jeritku lagi, aku tak percaya bisa mempunyai keluarga sekonyol ini. bahkan semua orang dirumah ini sudah memberiku sarapan dari masing masing bogem yang mereka berikan.
"Kalian ini kenapa sih? Seneng banget kalau aku menderita?" tanyaku innocent.
"Drama lagi ayah." Kata Sakura pada ayahku, Sakura memang selalu memanggil orangtuaku ayah dan ibu, begitu pula denganku memanggil orang tua Sakura ayah dan ibu.
"Beritahu sajalah, kasihan dia sudah memelas gitu," kata ibu, kenapa kalian bertiga hobi sekali sih mengerjai aku? Memangnya aku lucu apa saat dikerjai? Oke sabar disayang tuhan Ino "Inoichi kasih tahu dia." Kata ibuku.
"Hah kau ini, Sakura kasih tau dia." Lempar ayahku, kenapa tidak sekalian saja kalin bermain bola basket pasti itu akan lebih bermanfaat, dari pada begini malah membuatku semakin bingung.
"Yah aku nggak bisa melempar lagi," hah syukurlah permainan lempar melempar akhirnya berakhir, aku semakin bingung dengan keluarga onyol ini, adakah keluarga yang lebih konyol dari keluargaku? "rupanya dia memang lupa yah, mungkin karena semalam kepalanya kepentok tembok haha," Sakura tertawa tapi tunggu, kepentok tembok? Pantas kepalaku agak terasa aneh dari tadi "tadi malam kau untuk pertama kali dan merupakan suatu keajaiban bisa tidur dimobil, aku dan ayah terpaksa membawamu ketempat tidurmu."
"Yang dimaksud dengan kepentok tembok apa?" Ucapku mengklarifikasi. Aku tak mengerti, oke aku mengerti aku sekarang terjebak didunia animasi dengan genre humor, tapi sungguh ini sama sekali tidak lucu.
"Oh itu, tubuhmu sangat berat lalu kelepas dariku dan kau kepentok, tapi aku heran kenapa kau tetep nggak bangun?" ujarnya memegang dagu. Santai sekali jawabnya, yang dia pentokkan itu manusia bukan sebongkah kayu lho.
"Pantas kepalaku sedikit ben..." hah jadi yang tadi malam itu bukan mimpi buruk itu nyata? "hah? Yang tadi malam bukan mimpi?" tanyaku kaget setengah berteriak.
"Duh efeknya separah itukah? Ini berapa?" kata Sakura, dia mengangkat tangannya dan menyuruhku menjawab ada berapa jari yang dia tunjukkan. Memangnya aku sebodoh itukah sampai aku tak bisa menjawab, anak kecil saja tahu.
"emm." Aku pura pura berfikir.
"Yah dia berfikir, jangan jangan benar kepalanya sedikit ada masalah ayah, ibu." Sekarang kena kalian, aku bisa melihat wajah kalian yang lucu. Rasakan.
"Empatlah aku ini lulus TK tahu," kataku bangga "eh ayah nggak kekantor?" tanyaku, saat ini pasti sudah lewat dari pukul setengah delapan. Cahaya matahari sudah menerobos melewati kaca jendelaku.
"Tidak, hari ini jadwal ayah hanya ada satu meeting diluar, kau sendiri tidak kerumah sakit?" tanya ayahku balik.
"Sekarang jam berapa?" oh iya aku lupa. Penyakitku kambuh pelupa akut, aku baru ingat tadi kan aku mencari ponselku dan sekarang aku baru ingat kalau aku mencari jam berapakah sekarang.
"Menurut jam dijam tanganku seharusnya sekarang pukul setengah sembilan."
"Hah? Kenapa tidak ada yang membangun kan ku hari ini aku ada janji dengan dokter Shizune jam 9." Kataku, aku langsung menyambar handukku memberi sentuhan seni pada bantingan pintu kamar mandiku.
"Mana aku tahu, tadi aku tanya asisten perawatmu katanya shift mu jam dua nanti." Teriak Sakura dari kamar ku.
Huft ternyata aku mandi cepat juga tak sampai sepuluh menit. Waktu memburuku dan yang bisa kulakukan hanya menggunakan jutsu the power of kepepet. Kupakai pakaian yang pertamakali kulihat. Terusan putih lima belas senti diatas lutut tanpa lengan. Kuambil tas selempang kesayangan ku yang sempat menjadi korban penganiayaanku jangan lupakan jas putih kebanggaanku. Rambut yang selalu kuikat satu keatas tinggi tinggi menambah ciri khas ku sebagai Ino Yamanaka.
"Yah, bu aku berangkat..." teriak ku sambil berlari menuruni tangga.
"Buru buru banget? nggak sarapan? ibu udah susah susah bikinnya tuh." Ugh aku semakin cemburu dengan pasangan ayah, ibu, dan anak tiri itu, perasaan aku saja anak resmi dirumah ini jarang sekali duduk bertiga dan anak ditengah pula. Bisa dihitunglah frekuensinya mungkin seminggu sekali itupun jarang sekali.
"Nggak sempet." Aku sibuk dengan seluruh benda ditanganku.
"Eh iya Ino, mobil yang semalam belum diambil, begitu juga dengan mobilmu dibengkel." Aduh aku lupa, semalam kan aku tak sempat membawa pulang. Lalu gimana nasibku sekarang? Hah ternyata hari ini merupakan hari kesialanku.
Aku menepuk jidatku "aku lupa... nanti aku naik bus saja lah." Aku memakai flatshoes ku. "Aku pergi..." aku berteriak lagi.
...
Rapat apa- apaan itu tadi, hampir empat jam lamanya. Aku berdiri dari tempat dudukku, kubereskan beberapa berkas hasil rapat. Tak banyak dokter yang masih tinggal, entah apa yang mereka bahas, yang pasti untuk sekarang aku tak berminat untuk bergabung. Dan pilihan yang kupilih adalah makan siang dikantin, perutku belum terisi dari pagi. Pantas dari tadi cacing- cacing diperutku sudah berdemo.
Aku berjalan sendirian, andai ada seseorang, pasti paling tidak aku tak seperti orang hilang. Aku melewati ruang rawat pasien, kulihat beberapa orang dari balik kaca pintu, aku seperti melihat bayangan orang yang kukenal. Otakku terus mengingat siapa seseorang itu, tapi aku tak bisa mengingat siapa dia.
Sesuatu terlintas diotakku. Aku menepuk jidatku, kakiku perlahan bergerak kebelakang dengan tubuh tetap menghadap kedepan, mirip pengulangan yang sering diputar didalam sebuah video. Sekarang aku ingat siapa dia, ternyata dia orang memegang ponsel ku dan aku sendiri lupa mengambilnya. Kubalikan badanku dalam waktu satu detik. Kini langkahku melangkah setengah lebih cepat dari kecepatan awal.
Aku berhenti didepan pintu, sekali lagi aku merutuki diriku kenapa bisa lupa padahal dia juga dirawat dirumah sakit yang sama dengan tempatku bekerja. Ku mengetuk pintu pelan, setidaknya ada sopan santun yang masih ku miliki. Tanpa ada persetujuan dari dalam aku masuk, etikaku bisa datang dan pergi dalam waktu sekejab.
.Jika ada orang lain selain orang yang ingin ku temui setidaknya aku masih punya jas dokter sebagai alibi. Yah aku memang pitar menjadi pembohong dan punya seribu alasan untuk alasan aku berbohong. Setidaknya aku bernafas lega, dia sendirian dan masih terjaga, tidak lucu kan kalau seorang dokter mengganggu seorang pasien yang sedang istirahat.
"Kau sendirian?" aku bertanya seolah sudah kenal lama, jadi kesimpulannya aku sok kenal. Satu informasi lagi tentang diriku selain pembohong profesional, aku juga seorang gadis dengan sikap sok kenal kepada orang, padahal tidak.
"Entah." Katanya, kalimat sesingkat itu membuat alis ku berkerut beberapa detik. Kulihat dia bangun dari acara berbaringnya, kubantu dia sedikit dengan kenyataan sebenarnya aku sama sekali tak membantu.
"Kukira kau akan betah tidur sendirian ditempat ini." aku menarik kursi dari sudut ruangan dan mendudukinya. Sepertinya menarik basa- basi sebentar.
"Memang." Katanya, aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Rata- rata orang tak begitu menyukai rumah sakit, atau mungkin mereka sangat membenci tapi kenapa manusia ini berbeda. Satu banding satu juta manusia, alias manusia aneh atau unik?
"Oh," responku, aku mengangguk, bibir bawahku sengaja kutarik kedepan beberapa senti "bagus dong, pasien teladan." Sindirku. Aku berani bertaruh pasti dia disini betah karena ingin meninggal kan pekerjaannya.
"Terimakasih." Hah? dikira aku memuji dia apa? woi itu bukan pujian, dasar manusia aneh.
"Mana ponselku?" pintaku, bukan meminta, lebih tepatnya menodong. Menodong barang milik sendiri ditempat orang lain mungkin merupakan hal terkonyol yang dilakukan seorang penjahat.
Pemuda itu menyodorkan ponselku, namun bukan langsung dilepas dan diberikan sepenuhnya padaku, dia masih saja menahan ponsel ku. Terkesan seperti kami merebutkan sebuah ponsel, padahal memang iya. Kutarik paksa poselku untuk menjadikannya sepenuhnya milikku, tapi gagal "terimakasih" ucapnya setelah ponsel ku kembali padaku. Dia tersenyum, hah kenapa dengan diriku? Aku malah jadi salah tingkah begini. Tapi salah dia juga, dari tadi wajahnya dingin sekarang tersenyum. Bukan itu masalahnya, tapi senyum nya itu sangat err, tidak wajar.
"Kau tidak macam- macamkan pada ponselku?" bukannya bilang 'sama- sama' tapi aku malah menuduhnya macam- macam. Oke yang tadi hanya kecelakaan, anggap senyuman tersebut sebuah hiburan sesaat setelah seharian mendapatkan kesialan. Sedikit bernafas akan membuat ku lebih dingin, dan tidak terjebak lagi didalam panas nya senyuman manusia didepanku.
"Apa yang kau fikirkan?" tanyanya balik, kenapa semua orang hobi sekali menjawab pertanyaan? Aku butuh jawaban pasti, bukan sebuah pertanyaan balik.
"Kau membobol ponsel ku, melihat foto- foto digaleriku, membuka fail- fail pentingku." Pemuda didepanku berusaha duduk lebih tegap dari posisi semulanya, cukup susah untuk bergerak dengan selang infus ditanganya. Harusnya masih ada selang lagi dihidungnya untuk membantu pernafasannya, tapi mungkin sudah dilepas beberapa jam yang lalu.
"Mungkin kau benar," Aku memincingkan mataku, menatapnya penuh curiga. Memberi isyarat dari mataku 'awas jika itu kenyataannya'. Dia seolah tahu, untuk membuatnya semakin tak terdesak dia harus menjelaskan semua ini "memangnya wajahku ada tampang hacker?" Dia akhirnya melepaskan tangannya dari ponsel ku.
"Tapi aku berterimakasih padamu untuk semalam." Semalam? Bisakah kata tersebut diganti dengan sebuah konotasi lain. Kata tersebut bisa diasumsikan orang lain dengan banyak asumsi negatif.
"Tidak segampang itu," kataku. Aku memasang tampang marah untuk kesalahnnya membobol ponsel ku, ternyata wajahnya tak berubah marah atau apa, dia malah memasang tampang datarnya. Aku mengulum senyum tipis "mungkin dibayar dengan tiket taman hiburan, bisa kupertimbang..."
Kenop pintu bergerak, sontak aku dan pemuda didepanku mengalihkan perhatian kami ke pintu. Seorang wanita dengan rambut hitam dan seorang pria menyerupai pemuda didepanku. Dasar, harusnya aku langsung to the point dengan pokok persoalan, menghilang dari sini, dan menganggap semua tidak pernah terjadi.
"Ada tamu ternyata," Wanita itu mendekati kami, sebenarnya lebih spesifik mendekat padaku. Sebisa mungkin kuberikan senyumku, senyum kaku-ku lebih tepatnya. Wanita itu merangkul dan memberikan salam perkenalanan dimasing masing pipiku, gaya perempuan bertemu sekali "kukira kau tidak punya teman perempuan, aku sedikit lega."
"Maksud ibu?" kata pemuda didepanku.
"Maksudnya, ternyata kau bisa mendapatkan gadis." Ada penekanan dikata 'gadis' dari kata- kata sang pria dengan rupa mirip Shikamaru.
"Yap, gadis." Ulang sang wanita. Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan ini, lebih baik aku diam untuk keadaan seperti sekarang dan tidak mengeluar kan sepatah kata apapun untuk keluarga yang bahkan sama sekali tak kukenal.
"Kalian fikir aku tidak normal?" kata Shikamaru. Untuk sekarang aku bisa berkata, kalau aku tak bisa menahan senyumku, ternyata pemuda didepanku dituduh penyuka sesama oleh orang tuanya sendiri. Sedangkan yang dituduh menampak kan muka kagetnya, untukku itu ekspresi lucunya.
Kini sang pria yang sedari tadi bersandar didepan pintu perlahan mendekatiku, tiba- tiba se-enaknya memelukku "halo calon menantuku," katanya tepat ditelingaku. Calon menantu? Tidak salah? Aku bahkan baru kenal dengan anak mereka beberapa jam yang lalu. Sekarang baru aku sadar, ternyata sedari tadi mereka membicarakan aku? "siapa namamu?" pria itu melepaskan pelukannya. Matilah aku terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, aku mencoba meminta bantuan klarifikasi dari pemuda yang baru kukenal beberapa jam itu. Tidak ada reaksi, malah wajahnya semakin datar.
"Ino... Yamanaka Ino." Aku melihat Shikamaru muka datarnya, entah apa yang dia fikirkan. Aku selalu salah menebak fikiran orang lain bahkan orangtua ku sendiri.
"Baiklah calon menantu, mulai sekarang panggil aku ayah oke!" hah sekarang aku terjebak dikekonyolan ini. Mana tak ada penjelasan sedikit-pun lagi dari anaknya, dan dia sekarang malah tersenyum, melihat wajahku tolol ku.
Dan lagi aku juga bingung pada diriku sendiri yang entah mengapa malah tidak mengucap sanggahan sedikit pun atas perkataan ayah Shikamaru tentang aku ini bukan calon menantunya.
"Anak bodoh kapan kau akan melamarnya? Aku sudah tidak sabar ingin punya anak perempuan, iya kan Shikaku?" pertanyaan si wanita langsung dijawab dengan dehaman oleh suami.
"Sayang kau maunya kapan?" kata Shikamaru, tangan kanannya memeluk pinggangku, menarik ku untuk mendekat lebih dekat padanya. Tapi, kenapa dia balik bertanya, lagi pula ini drama apalagi yang sedang kuperankan tanpa naskah skenario?
Aku menatap wajah Shikamaru, dia membalas dengan sebuah senyuman. Duh senyumannya selalu membuatku salah tingkah. Ya tuhan, dimana sutradaranya? Aku ingin keluar dari drama konyol ini.
"Gimana kalau kapan- kapan saja? Sekarang aku harus pergi, aku sudah terlambat lima menit dari jadwal ku bekerja," aku melepaskan tangan Shikamaru, kalau saja hanya ada aku dan dia, sudah kuberi tamparan berkali kali dipipinya "om-"
"Ayah." Koreksinya.
"A...a...yah, i...bu, sayang," aku hampir muntah mengucapkan kalimat terakhir "aku pamit."
Aku mengambil langkah seribu demi kabur dari sekumpulan keluarga konyol, yang tiba tiba menganggapku sebagai calon anggota baru keluarga mereka.
Terakhir sebelum aku menutup pintu kulihat, mereka tersenyum padaku. Sebenarnya tidak ada yang salah, tetapi senyuman dari pemuda bernama Shikamaru itu membuat ku sedikit merinding. Kubalas senyuman kecil pada mereka sebelum aku benar- benar pergi.
Aku menggelengkan kepalaku berulang kali dengan cepat, untuk menghilangkan fikiran- fikiran negatif dari kepalaku. Aku mengapalkan tanganku erat- erat, geram dengan apa yang baru saja terjadi. Seenaknya saja dia mengerjaiku padahal kita belum kenal. Apa ini karma? Tapi apa salahku? Awas saja jika aku bertemu dia lagi, akan kubalas seribu kali lebih menyakitkan dari ini. ingat, selanjutnya aku yang pegang kendali. Aku penulis skenario, bukan peran utama yang selalu cengeng dan menerima segalanya dengan apa adanya.
a/n: ini dia chapter 2 nya, gimana? gimana? gimana? pendapat pembaca? Masih banyak kekurangannya ya? saya yakin ini juga masih sangat banyak kurangan, dari segi cerita maupun dari penyampaiannya. Beberapa typo (s) yang terlewati itu murni kelalaian saya sebagai manusia.
Dan saya juga merasa sepertinya Shikamaru agak OOC, iya nggak? Kayaknya karakter ShikaIno ketuker iya nggak sih? Soalnya aku ngerasa gitu. Emm eh iya adegan shikainonya sudah banyakkan? Saya rasa ini juga sudah lumayan, tapi nggak tahu dari reader.
Ada yang ngerasa Sakura jadi jahat? Yang ngerasa gitu saya nggak maksud gitu, saya hanya membuat Ino jadi seseorang yang cemburu pada temennya sendiri.
Cukup dari saya, saya sebagai author mohon kritik dan saran dari pembaca, karena saran dan kritik yang membangun akan sangat membantu author.
