WAIT YOU

Chapter 2, Topeng

NARUTO by Masashi Kishimoto

Story by Yuki Jaeger

.

Cerita ini pernah dipublis sebelumnya dengan judul I Will Wait You, karena saya kehabisan ide, makanya beberapa bagian akan saya rombak.

Pairing: NaruSasu

Summy:

Sejak pertemuan Sasuke dengan Itachi beberapa waktu yang lalu, membuat Sasuke tidak sadarkan diri. Segala cara sudah Naruto lakukan untuk membuatnya sadar, namun semuanya gagal, bahkan Nenek Tsunade yang sudah menjadi Hokage pun tidak dapat menyelamatkanya. Jadi yang bisa Naruto lakukan hanya menunggu.

Balasan untuk Rivew 1;

: Emang pernah dipublis kok dengan judul I Will wait You, tapi aku kehabisan ide untuk itu, maknya mau dirombak biar otak saya jalan lagi :3 lagian banyak typo dan eyd yang kacau *sekarang pun masih* yang bikin sakit mata :D

Sakurants11 ; alasannya sama kayak diatas, kehilangan ide :3

Fadlun-kun :ini udah panjang kan? O_o

Warning: Puisi yang gak nyambung dan gaje, memakai sudut pandang orang ketiga serba tahu, Shonen-Ai, canon, OOC, Gaje, Typo(s), EyD yang kacau dan segala kekurangan lainnya. Diambil dari cerita episode Naruto yang lupa episode berapa yang jelas saat Itachi dan Kisame ke Konoha.

P.s:

Don't Like Don't Read

.

*** Yuki Jaeger ***

Hati yang penuh kegelapan, Perlahan menjadi putih

Ditangan sang putih, Beningan Kristal yang menjadi saksi

Kata yang terucap, Mewakili semua perasaan

Takdir yang membentang, Merupakan teka-teki yang harus dipecahkan

Bisa jadi sang hitam merupakan putih

Tidak peduli berapa lama itu, Aku akan menunggumu

*** Yuki Jaeger ***

.

Kantor Hokage

Didalam ruangan yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil itu, terlihat beberapa orang didalamnya. Mereka terdiri dari seorang Hokage tua dengan wajah yang muda aka Tsunade, gadis remaja berambut pink aka Sakura, seorang wanita aka Shizune yang menggendong seekor babi aka Tonton dan pria besar bertampang mesum aka Jiraiya.

"Mana Naruto?" tanya Shizune sambil memandang Jiraiya, memecahkan keheningan yang sempat terjadi dalam ruangan tersebut. Tonton yang tadinya ada digendongannya ia turunkan keatas meja Hokage.

"Dia menghilang saat tiba di Konoha," jawab Jiraiya, cuek. Seakan-akan dia tahu sang murid yang diajarnya dalam beberapa tahun ini pergi kemana, tapi memeng apa boleh dikata, dia memang tahu kemana bocah pirang itu pergi.

"Menghilang?" beo Sakura, menatap salah seorang legenda Sannin itu, bingung.

"Aku tahu dia dimana," ucap sang Hokage, "Ngomong-ngomong, Sakura, aku tahu kau sudah cukup berlatih dan Naruto juga ku pikir begitu," Tsunade melirik Jiraiya, "Aku ingin menguji kalian berdua, ada seseorang yang harus kalian lawan."

.

*** Yuki Jaeger ***

Rumah Sakit

Hari sudah menjelang siang, Naruto masih senantiasa menemani Sasuke diruangan yang penuh dengan bau obat ini. Ia duduk dikursi samping tempat tidur laki-laki bermarga Uchiha tersebut. Tangan pucat itu berada pada genggaman tangan Naruto sejak tadi, tidak ada keinginan sedikitpun untuk melepaskan tangan kurus itu.

"Sampai kapan kau akan tidur Sasuke? Apa kau tidak lelah?" guram Naruto sambil mengelus tangan pucat itu lembut. Dia ingin sekali melihat iris malam tanpa bintang itu, mendengar nada mengejek dari Sasuke dan segala hal lainnya, hal-hal yang ia rindukan dari rivel yang diam-diam ia cintai.

Seandainya saat itu dia lebih kuat, Sasuke pasti tidak akan seperti ini. Seandainya saja Kyuubi tidak ada dalam tubuhnya, Akatsuki tidak akan datang kesini untuk mengincarnya. Seandainya saja Itachi saat itu tidak datang, kebencian yang ada pada Sasuke pasti sudah lenyap. Seandainya, hanya akan menjadi seandainya, semuanya sudah berlalu. Tak ada yang bisa diubah dari itu semua. Memeng, penyesalan selalu datang terlambat.

.

Flashback on

Di tepi danau, duduk seorang laki-laki yang umurnya memasuki remaja. Laki-laki dengan rambut hitam kebiruan mencuat kebelakang itu duduk memandang danau yang menguning akibat bias matahari yang mulai tenggalam. Mata onyxnya memendang kosong sang raja siang yang akan kehilangan kejayaannya.

Hari ini, atau tepatnya malam ini, malam dimana semua kebahagian yang ia miliki menghilang. Malam dimana Ayah, Ibu dan semua anggota klannya dibunuh oleh orang yang paling ia cintai dan kagumi, kakaknya sendiri.

Dendam.

Bertahun-tahun ia menyimpan dendam ini, bertahun-tahun ia memelihara kebencian dalam dirinya, bertahun-tahun ia merasa sakit pada hatinya. Tapi, perasaannya lenyap saat ia mengenal sang bocah matahari, mengenal hingga ia menjadi dekat, bukan dekat dalam arti dekat, tapi dekat dalam arti 'dekat', seperti bertengkar, saling mengejek, saling meremehkan, bedebat, bersaing dan hal-hal yang membuat topeng sotic sang Uchiha terlepas.

Dengan mulai terlepasnya topeng itu, perlahan-lahan kebencian yang ada dalam diri Sasuke juga perlahan mulai lenyap. Sasuke merasa senang dengan perasaan yang ia rasakan ini, tapi ada keraguan yang juga menjalar dalam hatinya. Apa dia harus melupakan dendamnya dan hidup tenang bersama sang Uzumaki dan orang-orang Konoha lainnya? Atau dia melanjutkan dendamnya, tapi dengan resiko kehilangan segalanya, termasuk kehilangaan sang Uzumaki?

"Ternyata kau disini, Teme," ucap sang laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan kita tadi, Uzumaki Naruto dengan nada yang meremehkan.

Naruto berjalan mendekati sang Uchiha dan duduk disampingnya, ikut memandang matahari yang hampir seperempatnya terbenam. Saat ini Naruto hanya memakai kaos berlengan pendek hitam, jaket oranye yang sering ia pakai, ia ikatkan dipinggang. Penampilannya bisa dibilang berantakan, kelihatannya ia habis berlatih, bisa dilihat beberapa luka kecil dibeberapa bagian tubuhnya.

Tim tujuh memang tidak mendapatkan misi hari ini karena desa yang masih dalam perbaikan akibat serangan dari Orochimaru dan Negara Suna beberapa hari yang lalu. Lagipula, orang yang akan menjadi Hokage belum ditentukan, akibatnya kursi Hokage masih kosong. Selain itu para jonnin juga sedang sibuk menjaga pertahanan diperbatasan, kalau ada serangan mendadak dari desa lain.

"Sasuke," panggil Naruto memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.

"Hn."

"Apa dendammu itu penting? " tanya Naruto, nada bicaranya terdengar serius, berbeda dari biasanya.

"Bukan urusanmu," ucap Sasuke dingin.

"Tidak bisakah kau melupakannya?" sungguh, Naruto sekarang sangat berbeda dari biasanya. Bagaimana Naruto yang biasanya membuat onar terlihat begitu berbeda, apa dia memiliki kepribadian ganda?

Sedikit kaget, Sasuke memandang Naruto yang ada disamping kirinya, "Siapa kau?" tanya laki-laki beriris onyx itu refleks. Sungguh, itu pertanyaan paling bodoh yang pernah ditanyakan oleh sang Uchiha. Tentu saja dia adalah sang Uzumaki, tidak ada orang lain yang memiliki cakra hangat seperti ini selain sang Uzumaki.

"Apa maksudmu, Sasuke?" tanya Naruto binggung, menatap balik Sasuke.

Sapphire bertemu dengan Onyx.

Menatap satu sama lain, menyelami kedua iris mata yang berbeda, mencoba menggali kebenaran dari masing warna. Sasuke lah yang pertama kali mengalihkan pandangannya. Ia menghela nafas pelan, tangan putih pucatnya memijat keningnya yang terasa sakit. Dia sedikit merasa bingung dengan jantungnya yang selalu berdetak cepat saat memandang mata sapphire itu. Apa mungkin dia sakit? Tapi kenapa ia sakit hanya jika bersama Naruto.

"Kau sakit?" tanya Naruto yang masih memperhatikan gerak-gerik Sasuke.

"Tidak," ucap Sasuke bediri dari duduknya.

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Bintang-bintang satu per satu mulai bermunculan. Sasuke perlahan berjalan meninggalkan Naruto yang mulai berdiri.

"Teme, tunggu!" teriak Naruto sambil berlari kearah Sasuke yang sudah bejalan jauh.

*Skip*

"Ah, segarnya," ucap Naruto yang berjalan keluar dari kamar mandi Sasuke. Ia memakai kaos dan celana milik Sasuke yang sedikit kebesaran. Mau bagaimana lagi, tubuh Sasuke memang jauh lebih tinggi darinya

"Kenapa kau malah ikut aku pulang?" tanya Sasuke datar dan juga kesal.

"Mau bagai mana lagi, aku males pulang kerumah," ucap Naruto dengan cueknya, ia malah langsung menghempaskan tubuhnya kekasur Sasuke. "Aku menginap ya?"

"Tidak boleh, cepat pulang!" seru Sasuke sambil menarik sang Uzumaki yang senantiasa berguling dikasurnya.

"Tidak mau!" ucap Naruto, keras kepala.

Tanpa sadar kaki Sasuke terpeleset karena genagan air yang tidak sengaja Naruto timbulkan dari rambutnya yang basah, hingga ia terjatuh diatas tubuh Naruto. Refleks kedua mata berbeda iris itu langsung bertemu kembali.

Diam. Mereka berdua diam.

Sama seperti tadi, mereka menatap satu sama lain, menyelami kedua iris mata yang berbeda, mencoba menggali kebenaran dari masing warna. Sasuke ingin beranjak dari dari posisinya sekarang, tapi sebuah tangan caramel menahannya, membuat posisinya sama seperti tadi.

"Lepas!" ucap Sasuke sambil menatap tajam Naruto. Tapi yang ditatap malah menatapnya balik dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan, ada perasaan sedih, sakit, khawatir dan perasaan lainnya yang tercampur menjadi satu.

"Aku tidak ingin melepasmu! Jika aku melakukan itu, aku takut kau akan menghilang," ucap Naruto, terdengar seperti guraman dan seperti orang yang berbicara tanpa sadar.

"Kau ini apa-apaan sih Dobe? Lepaskan!" ucap Sasuke lagi, dia tidak tahu kenapa Naruto yang sekarang bisa lebih kuat dari biasanya. Kalau saja dia bukan ninja, dia pasti sangat kesakitan sekarang. Cengkraman tangan Naruto begitu kuat. Sangat sulit untuk Sasuke melepaskannya.

"Bisakah kau lupakan dendammu?"

"…"

"Bisakah kau lenyapkan kebencian dari dalam dirimu?"

"…"

"Bisakah kau-" kata-kata Naruto terputus oleh ucapan Sasuke.

"Jangan bicara macam-macam! Kau tahu apa tentang aku!? Kau hanya orang asing! APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN!?" teriak Sasuke meledak, peduli apa tantang imej sebagai Uchiha yang ia miliki, hanya Naruto yang saat ini bersamanya, hanya Naruto satu-satunya orang yang melihatnya seperti ini. Sejak awal pun, topeng itu sudah terlepas dari wajahnya. Ia mampu tersenyum, kesal, menagis dan marah hanya didepan Naruto.

"AKU HANYA INGIN KAU TETAP BERADA DISAMPINGKU!" dengan sekali hentakan, Naruto merubah posisinya, laki-laki beriris shappire itu berada diatas sang laki-laki beriris Onyx.

Terpaku. Itu yang Sasuke lakukan sekarang. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang Naruto katakan. Apa maksudnya? Apa maksudnya dari perkataan itu?

menangis.

"Bisakan?" tanyanya dengan suara yang serak, ia menyatukan keningnya dengan kening Sasuke yang masih terpaku, "Bisakan kau melakukannya?"

"…" perlahan-lahan iris malam itu mulai berair, menangis sama seperti sang siang.

"Bisakan?" tanya Naruto lagi.

"Hm," Sasuke menganguk lemah, "Aku… aku ingin berada disampingmu."

Malam itu, mereka tertidur sambil memeluk satu sama lain. Seakan berkata jangan pisahkan kami. Tapi takdir berkata lain, mereka harus menyerah akan suratan takdir yang berkata lain.

Jauh di dalam hutan, berjalan dua orang pria dengan jubah hitam berlambang awan merah, wajah mereka tertutup oleh topi yang mereka pakai. Tanpa kukatakan kalian pasti sudah tahu siapa mereka. Orang yang digunakan oleh takdir untuk membuat jalan terasa panjang. Meski terasa sakit, jalan itu yang dipilih oleh takdir. Tak peduli berapa banyak yang tersakiti, itulah jalan yang harus dipilih.

Flashback off

.

*** Yuki Jaeger ***

.

Tanpa sadar Naruto mencengkram tangan Sasuke lebih kuat. Ia benar-benar sangat merindukan sosok sang Uchiha bungsu. Kapan kau akan sadar? Kapan kau akan memperlihatkan iris malam itu? Kapan?

"Aku tahu,kau pasti ada disini, Gaki," ucap seorang wanita yang sebenarnya sudah lanjut usia, tapi masih memilikai wajah dan body yang aduhai sambil berjalan memasuki ruangan bernuansa putih itu.

"Nenek Tsunade? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto kaget, refleks ia melepaskan genggaman tanganya.

"Pertanyaan bodoh macam itu?" tanya Tsunade, meremehkan. Ia berjalan mendekat tempat tidur Sasuke. Secara teliti ia memeriksa keadaan laki-laki onyx itu. "Aku selalu memeriksa keadaanya," ucap Tsunade.

"Apa ada perubahan?" tanya Naruto, ada perasaan cemas, takut, khawatir dan perasaan lainnya yang bergabung menjadi satu.

"Kau jadi lebih tinggi, Gaki," ucap Tsunade.

"Jawab pertanyaanku!?" tanya Naruto lagi, sedikit membentak.

'Ternyata dia tidak berubah, yang ada dipikirannya hanya Sasuke, Sasuke dan Sasuke,' pikir Tsunade geli. Ia ingat reaksi Naruto dulu saat dia tidak bisa menyembuhkan Sasuke, reaksi yang sungguh diluar dugaan. Dia memaki Tsunade dan seperti ingin membunuh sang Hokage, kalau saja saat itu tidak ada Kakashi dan Guy yang menahannya. Berbeda dengan reaksi Sakura, gadis dari klan Haruno itu hanya bisa menangis. Tapi karena itu juga lah yang membuat gadis klan Haruno ini ingin mempelajari jurus medis, dia ingin mengobati Sasuke.

"Tidak ada perubahan dalam beberapa tahun ini, Aku jadi merasa gagal menjadi seorang Dokter," ucap sang Hokage, ada nada frustasi dalam nada bicaranya. "Oh ya, Gaki, aku ingin kau melawan seseorang nanti siang!"

.

*** Yuki Jaeger ***

.

Saat ini Naruto dan Sakura sudah selesai menjalankan pertarungan mereka dengan sang guru, Kakashi. Sangat sulit untuk mereka menghadapi Kakashi meski kekuatan mereka sudah semakin meningkat. Tapi dengan sedikit taktik dan trik licik, mereka berhasil merebut lonceng dari tangan Kakashi.

Naruto sekarang duduk dibawah pohon sambil memejemkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah akibat pertarungan yang memakan waktu panjang itu. Disampingnya duduk Sakura yang beberapa kali mencuri pandang pada si pirang. Sekarang Naruto jauh lebih tinggi dari Sakura, dia pun tampak lebih dewasa, entah kenapa sekarang wajah Sakura sedikit memerah saat memandangnya.

Ditempat itu bukan hanya ada Sakura, Kakashi dan Naruto, tetapi juga ada Tsunade, Jiraiya dan Sizune yang mengawasi latihan tersebut. Saat ini mereka berada tidak jauh dari Naruto dan Sakura, membicarakan tentang perkembangan dua remaja tersebut.

"Hey, Gaki, aku merasa ada cakra asing didekat Sasuke."

Suara itu tiba-tiba terdengar dikepala Naruto. Laki-laki dari klan Uzumaki itu tahu itu suara siapa, suara Kyuubi yang mengajaknya bicara. Sangat jarang bagi Kyuubi untuk mengajaknya berbicara, kecuali untuk hal yang penting.

Sasuke, benar Sasuke. Mendengar nama Sasuke, secara refleks Naruto membuka matanya. Ada rasa cemas yang tiba-tiba menyelimuti dirinya. Pasti terjadi sesuatu pada Sasuke, ada orang asing yang berada didekat Sasuke, orang asing yang munkin akan membahayakan bagi Sasuke.

Dengan cepat, Naruto berlari, meninggalkan Sakura dan beberapa orang yang ada disana. "Naruto, kenapa kau lari!?" teriak Sakura dari kejauhan. Gadis Haruno ini sedikit kebingungan melihat teman satu timnya lari begitu saja seperti dikejar setan. Daripada semakin bingung, lebih baik gadis ini juga mengikuti Naruto.

Sedangkan guru-guru mereka hanya menatap binggung kepergian anak didik mereka, memutuskan untuk menyusul kedua remaja tersebut.

.

*** Yuki Jaeger ***

Naruto terus berlari tanpa mengurangi kecepatan larinya, meski tubuhnya terasa lelah. Dia tidak memikirkan apapun kecuali Sasuke. Hanya Sasuke yang memenuhi pikirannya saat ini, dia benar-benar khawatir akan keadaan bungsu Uchiha itu.

"Kau terlambat, cakra itu sudah lenyap," ucap Kyuubi kembali.

"Kuso!" ucap Naruto.

Sekarang Naruto sudah sampai di depan kamar Sasuke. "SASUKE!" teriak Naruto sambil membuka pintu kamar rumah sakit itu secara kasar.

Naruto kaget dengan apa yang dilihatnya, diatas kasur tempat seharusnya Sasuke berbaring, duduk seorang laki-laki pucat dan tampak kurus dengan rambut sudikit hitam panjang.

"Sasuke?" ucap Naruto, dia berjalan menghampiri orang itu.

"…"

"Ini kau?" ucap Naruto lagi, pemuda Uzumaki ini sudah sampai dihadapan pemuda itu, "Ini benar-benar kau kan?" tangan tan itu perlahan menyentuh kedua pipi pucat Sasuke, mengangkatnya sedikit untuk mempertemukan dua mata dengan iris yang bertolak warna itu.

Laki-laki pucat itu memandang Naruto binggung, ia menyipitkan matanya mencoba memfokuskan pandangannya. Namun, belum laki-laki yang ternyata Sasuke itu bisa melihat dengan jelas, tubuhnya ditarik kedalam pelukan sang Uzumaki.

Naruto benar-benar senang, orang yang ia nanti selama ini kembali padanya. Benar-benar kembali. Orang yang ia cintai kembali. Dia saat ini ada dalam pelukannya.

Sakura, Kakashi, Tsunade, Jiraiya dan Shizune hanya bisa diam menyaksikan itu. Orang yang tidak dapat disembuhkan bahkan sudah divonis tidak bisa hidup lagi itu sadar. Ini benar-benar keajaiban.

"Kau siapa?" ucap Sasuke lemah. Itu kalimat yang menyakitkan, tidak pernah Naruto pikirkan Sasuke akan melupakannya. Benar, Sasuke hanya bercanda. Laki-laki Uchiha itu tidak akan melupakknnya.

Naruto melonggarkan pelukannya, menatap manik onyx yang masih memandangannya binggung. Tidak ada kebohongan dari kedua manik itu. Dia benar-benar melupakan sang Uzumaki. Tidak, bukan hanya sang Uzumaki, namun semuanya, semua tentang kehidupannya, teman-temannya, keluarganya, bahkan tentang dirinya pun sudah ia lupakan. Apa yang sebenarnya terkadi disini?

.

*** Yuki Jaeger ***

Sasuke diam melihat seseorang tidur didekatnya, sosok itu duduk di kursi dengan kepala yang bertumpu pada kasur tidurnya. Tangan sosok yang beberapa orang panggil Naruto itu menggenggam tangannya.

Hangat…

Itu yang dirasakan Sasuke. Dia tidak mengenal atau lebih tepatnya tidak mengingat orang tersebut. Namun sosok itu membuatnya nyaman.

Saat Sasuke sadar tadi, nenek Tsunade yang kebetulan ada disitu langsung memeriksannya. Kondisi tubuhnya secara perlahan memulih dengan cepat. Namun, ninja medis itu belum mengetahui penyebab Sasuke kehilangan ingatannnya.

.

*** Yuki Jaeger ***

.

Matahari mulai menampakan dirinya. Naruto dan Sakura serta Kakashi dikumpulkan oleh Tsunade secara tiba-tiba. Meskipun tidak rela meninggalkan Sasuke namun perintah kali ini tidak bisa diganggu gugat.

"Kazekage Suna diculik oleh Akatsuki," ucap Tsunade mengagetkan orang-orang yang ada dalam ruang tersebut. Mereka diberikan misi untuk menyelamatkan Gaara.

Naruto mengepal tangannya erat, ia benar-benar benci pada Akatsuki. "Gaara…" guramnya pelan.

.

Naruto berlari dengan cepat, dia akan menyelamatkan Gaara. Menyelamatkan teman yang mempunyai tanggungan yang sama dengannya, orang yang dikorbankan oleh desa untuk menjaga kestabilan Negara, sang Jinchuriki Ichibi.

.

*** Tsuzuku ***

.

Mohon R&R

Silahkan jika ada pertanyaan atau ada kesalahan dalam penulisan atau uneg-uneg yang ingin disampaikan bisa lewat rivew.

Matta ne,

Yuki