Disclaimer © Tite kubo

(Saya hanya meminjam karakternya untuk fanfiksi saya)

Say it

(Ichigo side)

By

Ann

Warning : Au, Ooc, typo(s).

Tidak suka? Bisa klik 'Close' atau 'Back'.

and

Selamat membaca!

Kuharap akulah cintamu, kuharap kau milikku

Ini bukan perasaan yang tiba-tiba, rasa ini sudah ada sejak lama

Hanya saja, aku baru menyadarinya

Dan aku tak bisa menyembunyikannya lagi

...

Ichigo menyaksikan rintik-rintik hujan terakhir dari balik dinding kaca kafe tempatnya menunggu. Jalanan yang tadinya sepi kini mulai dipadati kembali oleh pejalan kaki. Ia berharap salah satu pejalan kaki itu adalah orang yang ia tunggu. Gadis yang sejak bertahun silam selalu berada di sekitarnya, seorang teman, sahabat, namun tak lagi kini dapat ia anggap seperti itu. Entah sejak kapan perasaannya berubah. Ah, bukan berubah, lebih tepatnya berkembang. Ia tak lagi menganggap gadis itu sahabat, melainkan seseorang yang lebih dari itu. Seseorang yang ia harapkan menjadi miliknya.

Ichigo begitu asyik memikirkan gadisnya sehingga tak sadar jika gadis yang ia pikirkan itu kini berada di depannya. Andai bukan karena seruan nyaring di telinganya, ia pasti tidak akan bangun dari lamunanya.

"Tidak usah teriak juga aku dengar!" serunya sengit sambil menggosok-gosok telinganya. Ia memelototi gadis berambut hitam legam itu tanda tidak menyukai apa yang diperbuat gadis itu.

"Dengar apanya." Gadis itu menyahut. "Aku berkali-kali memanggilmu, tapi kau tak mengacuhkanku."

"Eh?" Ichigo menatap bingung pada gadis bernama Rukia Kuchiki.

"Kalau tak percaya tanya saja orang-orang." Rukia mengedikkan bahu.

"Maaf," ucap Ichigo. "Aku tadi ..." Ia menggantung kalimatnya, malu mengakui bahwa tadi ia melamun.

"Melamun?" Rukia membantu menyelesaikan kalimatnya.

Ichigo hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Ia benar-benar tidak ingin membahas topik ini.

"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Rukia bertanya. Seperti biasa gadis itu selalu peduli padanya. Perhatian itu selalu membuat hatinya hangat.

Ichigo hanya menggeleng pelan.

"Kurasa ada," ujar Rukia, "kalau tidak keningmu tidak akan berkerut seperti itu."

Ichigo menyandarkan tubuhnya di kursi. Sudut-sudut mulutnya terangkat sedikit membentuk senyum kecil. Tak ada yang bisa ia sembunyikan dari Rukia. Gadis itu begitu mengenalnya. Selalu tahu saat ada sesuatu mengganggu pikirannya. Tetapi apakah gadis itu bisa menebak perasaannya juga? Apakah ia tahu yang ia rasakan saat menatap mata violet itu? Saat melihat senyuman itu?

"Hey, kau melamun lagi," tegur Rukia. "Ada apa?" Suara lembut mengalun dari bibir bungsu Kuchiki itu.

Ichigo membuang pandangannya keluar. Merasa lemah saat melihat tatapan lembut di mata violet itu. Sekali lagi berpikir apakah ia harus mengatakannya pada Rukia atau tidak. Dan kalau ia mengatakannya bagaimana tanggapan Rukia. Apa yang terjadi jika ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkan? Masihkah mereka dapat berteman jika itu terjadi?

Ia mendesah. Semuanya menjadi sulit setelah hatinya berubah. Rasa kasih kepada sahabat yang dulu ia miliki, kini bermetamorfosa menjadi rasa cinta yang menggebu.

"Kadang lebih baik membaginya, daripada menyimpan semuanya sendiri," ujar Rukia sembari melambai ke pramusaji untuk memesan segelas cokelat hangat dan sepotong bronis keju.

Pandangan Ichigo beralih ke Rukia, menetap di mata violet milik sang gadis begitu lama, hingga akhirnya Rukia memutus kontak mata itu. Aku tak bisa menyimpan perasaan ini selamanya, pikirnya sambil tetap memandangi Rukia.

Katakan dan hadapi apa yang terjadi. Setelah menguatkan hati Ichigo berkata, "Bagaimana caranya mengatakan pada seorang gadis kalau aku menyukainya?"

Mata violet Rukia kembali pada Ichigo. Melebar, tak percaya. Mulut mungilnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu namun urung. Akhirnya ia berdeham. "Katakan langsung ke orangnya," ujarnya.

"Ayo kita praktekkan."

Rukia terlihat terkejut tetapi akhirnya gadis itu mengangguk. "Baiklah."

Ichigo melipat tangannya di atas meja, matanya menatap lurus ke mata Rukia. "Aku menyukaimu," ujarnya mantap.

Ichigo dapat melihat wajah Rukia perlahan dihiasi semu merah muda. Ia menganggap hal itu sebagai respon positif, membuat ia semakin yakin untuk menyatakan perasaannya.

"Aku juga menyukaimu." Setelah beberapa saat akhirnya Rukia menjawab. Bibir gadis itu bergerak membentuk sebuah senyum canggung. Dalam senyum itu Ichigo bisa melihat rasa sakit yang Rukia rasakan. Ichigo berharap rasa sakit itu karena Rukia tak menginginkannya menyukai gadis lain.

"Sekarang pergilah, temui gadis itu, dan katakan padanya." Rukia berkata dengan sisa-sisa kekuatannya.

Ichigo tersenyum, dugaannya benar. Cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. "Aku baru saja melakukannya." Ia berkata dengan santai.

Rukia ternganga. Matanya menatap tak berkedip pada Ichigo. "Kau—"

"Ya, aku menyukaimu, Rukia. Dan kau sudah bilang kau juga menyukaiku," ujar Ichigo senang.

"Tapi—"

"Kau tidak bisa menarik kata-katamu lagi." Dengan cepat Ichigo memotong kata-kata gadis itu.

"Siapa bilang aku mau menarik kata-kataku," sahut Rukia sembari memalingkan muka.

Ichigo menyeringai. "Baguslah, karena aku tidak akan membiarkannya."

Seumur hidup kau terikat denganku, Rukia. Selamanya bersamaku ...

...

fin

...

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca drabble ini.

See ya,

Ann *-*