I do not own the story!
Copyright © 2014 "Moonbows" by xAskedSoInnocentlyx (AFF)
Translated by Xiao Wa (August 17, 2014)
Enjoy~
Bagian satu: Efek Kupu-Kupu
Luhan hampir tidak mendengarkan ketika mereka memberitahunya kebenaran atas apa yang sedang terjadi, kata-kata mereka terasa datang dari tempat yang sangat jauh. Dia sepenuhnya fokus pada kupu-kupu diluar jendela. Kupu-kupu itu sepertinya terjebak dicabang pohon; sayapnya mengepak tapi tidak bergerak kemanapun.
Dia melihat saat kupu-kupu itu meronta dan hanya ingin bangun dan membuka jendela dengan tujuan untuk membantu kupu-kupu malang itu. Hatinya tenggelam semakin ia menyaksikannya berjuang. Seberapa mengerikannya berubah menjadi tidak bisa terbang ketika semua yang bisa kau lakukan adalah terbang?
"Luhan, sayang, apa kau mendengarkan?" Ibunya bertanya dengan suara panik namun lembut. "Apa kau mendengarkan Dr. Shin dan Dr. Lee?" Dia berkedip dan merubah perhatiannya menjauh dari si kupu-kupu, berpindah pada para dokter yang duduk disisi lain meja.
"Ma'afkan aku." Luhan bergumam.
"Tidak apa-apa. Kami mengerti bahwa informasi ini sangat banyak untuk diterima tapi kumohon cobalah, bisa'kan?"
"Baik."
"Apa yang kamu alami adalah kondisi yang mempengaruhi daya penglihatanmu; ini perlahan akan mengurangi kemampuanmu untuk melihat. Awalnya semuanya terasa normal dengan matamu tapi kemudian warna-warna yang tampak akan memudar perlahan." Dr. Lee berkata dengan suara yang Luhan kategorikan sebagai menggurui.
"Seperti pastel yang dinamis berubah menjadi cat air." Dr. Shin mencoba menjelaskan lebih lanjut.
"Persis seperti itu. Tapi kemudian warna-warna itu akan memudar lebih jauh dan kau akan melihat warna-warna kusam yang hampir tidak kelihatan, lalu akhirnya hitam dan putih. Itu disebut monokromasi atau buta warna total."
Luhan bisa mengatakan bahwa para doktor sedang menunggunya untuk tersentak atau pingsan karena terkejut tapi dia tidak dalam suasana untuk itu. Dia tidak terkejut sama sekali –setelah seminggu menemui dokter dan menjalani tes mata ia tidak terkejut akan hasil diagnosanya. Tapi ibunya adalah kasus yang sangat berbeda. Dia bisa merasakan ibunya menjadi kaku disebelahnya.
"Monokromasi, dalam kasusmu, adalah gejala dari keadaan yang disebut gangguan urat saraf atrofi. Kondisi ini memperburuk urat optikmu dan memakan semua daya lihatmu. Saat sarafnya menjadi sangat rusak dan tidak bisa membawa gambaran menuju otakmu. Apa yang coba kami katakan adalah.."
Suara mereka menjauh dan dia tidak bisa mendengar mereka lagi. Matanya kembali pada si kupu-kupu dan menyadari bahwa itu tidak lagi meronta. Kupu-kupu itu sudah berhenti bergerak dan terlihat membeku. Dia menggigit bibirnya saat melihat angin menggerakan sayapnya.
Sesuatu sekecil sayap kupu-kupu mengepak bersama mempunyai kemampuan untuk mengubah hal sepenuhnya. Efek apa yang kupu-kupu telah mati punya?
Ibu Luhan menggenggam tanganya dan ia menolak untuk berpaling dari si kupu-kupu. Genggamannya mengencang sampai ia yakin bahwa ia mematahkan tangannya. Dr. Shin sedang mengatakan sesuatu tapi dia tidak bisa mendengarkannya lagi. Lebih baik seperti ini –jika ia tidak mendengar kata yang tak terelakan, ia tidak harus menghadapi masalahnya. Ayahnya disisi lain mengambil jalan yang lebih tenang dan menepuk punggung Luhan dengan lembut.
Luhan sangat membencinya –tepukan dipunggung, genggaman tangan dan semua hal-hal seperti itu. Walaupun mereka bermaksud untuk membuatnya merasa lebih baik, mereka membuatnya merasa jauh lebih buruk.
"Nak." Ayahnya berkata dengan suara pecah. "Berhenti melihat keluar dan perhatikan." Walaupun suara memerintahnya tidak mengandung ancaman yang nyata. Semua didunianya terbuang rusak dan tidak ada yang bisa dia lakukan tentang itu.
Rasanya ada lebih banyak tangga dari biasanya; bahkan ketika dia masih kecil dan pertama kali mendongak pada bangunan menakutkan yang seperti tebing itu tidak pernah terlihat seperti tanjakan yang besar. Dia mendesah dan melihat mereka: totalnya 20. 20 tanjakan untuk naik dan 20 perjuangan untuk dilawan. Luhan merasa lebih lemah dibanding sebelumnya dalam waktu yang lama.
Dia mulai naik dan langsung menyesalinya. Rasanya seperti mempunyai karung pasir tersambung pada kaki dan punggungnya; gaya beratnya mencoba untuk menariknya jatuh kebawah. Tapi jika ia terjatuh, bisakah dia masuk kebawah permukaan dan tetap disana?
Bahkan kamarnya terasa berpindah lebih jauh turun kebawah. Semua di rumah ini lebih luas dari yang ia ingat dan ini menganggunya. Bagaimana hal-hal berubah banyak hanya dalam beberapa jam? Dia masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya, meluncur turun ke lantai.
Ada ratusan hal yang bisa dia pikirkan, yang seharusnya sudah berputar-putar dalam pikirannya, tapi Luhan menemukan dirinya sendiri kembali pada si kupu-kupu yang tak bergerak. Setelah berjuang beberapa menit kupu-kupu itu menyerah dan membiarkan angin mengerjakan semuanya. Tapi beberapa menit itu pasti terasa seperti bertahun-tahun; bertahun-tahun meronta tanpa hasil, sebuah perjuangan sia-sia dengan hanya satu kecelakaan namun kematian sangat berarti.
Luhan pernah mendengar disuatu tempat bahwa kupu-kupu tidak memiliki hidup yang lama. Satu hari? Satu bulan? Bahkan mungkin satu tahun? Apa ini merupakan hari terakhir dari hidupnya? Dia menghela napas dan menyandarkan belakang kepalanya terhadap pintu kayu. Rasanya depresi untuk memikirkan bahwa hari terakhirnya dihabiskan meronta dicabang pohon.
Dia bisa mendengar orang tuanya berbicara di lantai bawah, suara panik dan bercampur tangis mereka memanggilnya. "Kita seharusnya tahu ini akan datang." Ayahnya berkata dengan amarah. "Bagaimana mungkin kita tahu?" Ibunya membalas ditengah-tengah tangis. "Ini tidak seperti kita mampu memeriksa matanya."
Air mata meluncur turun ke pipinya dan mereka berubah menjadi isakan kecil yang mengguncang seluruh tubuhnya. Tapi Luhan tidak menangis untuk dirinya sendiri seperti yang orang normal akan lalukan. Terus terang, ia tidak normal dan ia sudah menerima kenyataannya itu setahun yang lalu.
Dia menangisi kupu-kupu yang tak seorang pun sadari.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Jongdae bertanya saat ia duduk di lapangan disampingnya. Luhan bisa mendengar kecemasan yang nyata dan keraguan dalam suara temannya dan dia mencoba untuk tidak mendesah sebagai respon. Berita tentang kondisinya sudah menyebar keseluruh sekolah hanya dalam dua hari dan ia mulai mendapatkan jenis pertanyaan seperti itu dari semua orang.
Semua temannya tiba-tiba menjadi perawatnya dan orang yang bahkan tidak dia kenal bertanya jika ia membutuhkan bantuan untuk apapun dan memberinya tugas pekerjaan rumah yang ia lewatkan. Para guru diberitahu oleh kepala sekolah sendiri untuk menjaganya dan langsung memanggil suster jika ada sesuatu yang salah.
"Semuanya baik-baik saja." Terkadang Luhan merasa untuk mendapatkan alat perekam dan merekam satu kalimat itu jadi dia bisa memainkannya setiap kali ia ditanyai pertanyaan tersebut.
"Aku.. Apa kau ingin sebuah pelukan?" Dia terkekeh atas usul canggung temannya.
"Itu yang pertama."
"Ma'af?"
"Apa kau butuh catatanku? Apa kau ingin belajar bersama? Kau butuh apa? Apa kau baik-baik saja? Aku sudah ditanyai semua itu dan lebih banyak lagi tapi aku tidak pernah ditanyai jika aku menginginkan sebuah pelukan. Kau yang pertama."
"Aku harus menjadi diriku sendiri."
"Hipster."
"Konformis."
Luhan menemukan sedikit kenyamanan dari kenormalan yang Jongdae berikan. "Tapi serius –aku tidak datang untuk menanyakan soal itu. Aku dengar apa yang terjadi."
"Dan tentang apa itu?"
"Kau keluar dari tim sepak bola."
Sepak bola adalah hal yang dia sukai dari kecil. Itu adalah olahraga kesukaannya, masa lalunya, dan hiburannya. Tapi orang tuanya merasa bahwa terlalu berbahaya untuk bermain dengan kondisinya. Itulah mengapa dia duduk di lapangan sepak bola yang kosong: ia ingin melihat mimpinya untuk yang terakhir kali –untuk menjadi pemain sepak bola profesional –sebelum itu direngut darinya.
Dari seorang kapten menjadi penggemar adalah kemunduran yang jauh.
"Aku akan lebih fokus pada tugas sekolahku mulai sekarang."
"Lu-"
"Akademik sangat penting untukku dan bagus bagiku untuk tidak mempunyai gangguan apapun." Katanya dengan anggukan kecil. "Yeah, ini hal yang bagus. Aku akan mendapatkan nilai yang lebih baik dan masuk ke universitas yang bagus." Dia berbaring dirumput dan mendongak ke langit yang cerah.
"Kau bisa melakukan hal yang lain."
"Aku bisa."
"Ini bahkan bukan kemunduran." Kata Jongdae, suaranya penuh dengan harapan. "Dunia ini tempat yang besar penuh dengan hal-hal yang harus dilakukan –hanya tinggal memilih satu dari mereka dan mulailah. Kau mempunyai waktu untuk dibagi."
"Aku tidak pernah mendengarmu sangat bersemangat sebelumnya."
"Kau tahu apa yang mereka katakan: ketika keberuntungan mengetuk, kau lebih baik membuka pintunya sebelum dia menjadi kesal dan pergi."
"Aku tidak pernah mendengar seseorang berkata seperti itu sepanjang hidupku."
Dia mencoba sebisanya untuk menyamai antusias bohongan Jongdae tapi itu sulit. Rumput dibawah kepalanya bergerak mengikuti angin dan ia memandang pada awan halus yang mengapung diatasnya. Untuk pertama kali selama bertahun-tahun ia mencoba untuk menentukan beberapa bentuk dari mereka –untuk membuktikan bahwa imajinasinya belum mati –tapi semua yang ia lihat adalah halus. Tidak ada apa-apa disana.
Mungkin dia sudah sangat buta untuk melihatnya.
Berbagai hal menjadi canggung diantara dia dan orang tuanya. Hubungan mereka sudah berubah menjadi situasi pengawas dan tawanan. Meskipun mereka percaya bahwa mereka tidak terlalu mencolok, Luhan menyadari lirikan kecil yang mereka berikan padanya dari ujung mata mereka dan perubahan dalam nada yang mereka ambil ketika berbicara padanya, bagaimana mereka memberikannya apapun yang dia mau kapan pun ia menginginkannya.
Aku tidak mati. Dia ingin berteriak. Kalian tidak seharusnya memperlakukanku seperti ini.
Tapi daripada berteriak seperti yang ia mau, dia mengendalikan semuanya dan menguncinya diruangan dalam pikirannya dimana itu tidak bisa menyentuh apapun. Luhan menemukan dirinya membingkai dirinya sendiri dari dunia dan memilih untuk tinggal sendiri sepanjang waktu. Lebih baik seperti itu –lebih baik untuknya bahwa dia tidak perlu menderita karena tatapan cemas dan bisikan sedih –karena semuanya bahagia.
"Luhan." Suara tegas ayahnya mengiris kabut dalam pikirannya seperti pedang yang tajam. "Ada sesuatu yang ibumu dan aku ingin bicarakan denganmu." Luhan mengangguk sebagai respon dan melanjutkan untuk memilih makaroni dipiringnya.
"Sayang, kami takut kau tidak mengikuti dengan baik." Ibunya setengah berbisik. "Kau belum mengatakan satupun kata tentang kondisimu dan ketika kami mencoba untuk membicarakannya kau menjauh. Ini sangat mengkhawatirkan."
"Aku benar-benar tidak mempunyai apapun untuk dibicarakan. Kata-kata tidak merubah apapun."
"Lebih baik untuk menceritakannya daripada memendamnya didalam."
"Aku tidak tahu apa yang kamu ingin aku katakan."
"Nak, gurumu menelfon dan memberitahu kami apa yang terjadi. Kau menjauhkan dirimu dari teman-temanmu dan kau keluar dari semua klub dan aktivitas yang biasanya kau sukai. Kami percaya bahwa kau menahan semuanya dari kami dan itu tidak sehat."
"Apa ini yang ingin kalian bicarakan denganku? Apa kalian ingin aku bergabung kembali dengan semuanya?"
"Tidak."
"Jadi apa? Aku punya tugas rumah."
"Karena kau menahan semuanya didalam, ada kemungkinan kau akan sakit. Kami khawatir denganmu." Ayahnya berkata dalam nada lembut tapi mengancam. "Kami sudah melakukan pencarian dan menemukan tempat yang sempurna bagimu untuk mengeluarkan perasaanmu."
"Tempat ini disebut Pusat Rehabilitasi dan Perawatan Anjeong." Luhan mendongak kaget dan tak percaya pada ibunya. "Disini menawarkan program terapi rawat jalan dimana kau akan masuk kedalam sebuah kelompok dengan orang-orang seumuranmu dan melalui banyak tindakan terapi yang berbeda untuk memastikan kau melakukannya dengan baik."
"Kalian ingin aku pergi terapi?"
"Ya sayang."
"Tapi tempat itu untuk orang yang membutuhkan pertolongan mental serius. Ketidak-mampuanku untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak perlu dibicarakan bukanlah sebuah alasan untuk terapi."
"Dr. Shin dan Dr. Lee juga percaya bahwa ini merupakan ide bagus untukmu. Mereka sudah menyiapkan semua persiapan yang kamu butuhkan untuk menghadiri sesi ini."
"Berapa kali aku harus pergi?"
"Pertemuannya diadakan tiga kali seminggu dalam lima bulan." Luhan menyadari bahwa itu berarti: dia sangat jauh dari remaja normal. Tiga kali seminggu ia akan duduk dalam sebuah ruangan dan menceritakan soal perasaan yang ia tidak bisa percaya ia punya.
Bagaimana dia seharusnya membohongi sesuatu seperti itu?
"Baik." Katanya, tahu bahwa dia tidak perlu bicara lagi. Ini adalah waktunya untuk menghadapi semuanya yang dia lebih pilih untuk bersembunyi. Luhan menemukan harapan percaya bahwa lima bulan tidaklah lama –itu akan berjalan dengan cepat –tapi ada satu masalah lagi.
Siapa yang mengatakan bahwa dia mempunyai lima bulan untuk diluangkan?
TBC
XiaoWa's note:
-Atrofi: pengecilan atau penyusutan jaringan otot atau jaringan saraf.
-Hipster: julukan pada orang yang unik, suka yang lain sendiri, anti mainstream.
-Konformis: perilaku yang sesuai dengan harapan atau keinginan masyarakat.
Sebagian besar, aku merasa seperti Luhan. Sewaktu sakit atau mendapatkan sebuah musibah, lalu mendapatkan simpati dari semua orang, rasanya menjengkelkan! Aku merasa seperti 'memangnya aku seburuk itu'. Beberapa memang karena peduli, lainnya hanya untuk formalitas.
Jika kalian sudah membaca versi aslinya, semua bagian cerita terjadi dalam oneshot, lalu kenapa disini hanya update bagian satu? Karena saya tidak bisa langsung selesai menterjemahkan semuanya, dan jujur kali ini cukup sulit dengan kata-kata yang ada, baru kali ini saya menterjemahkan kata-kata psikologi. Dan kurasa ini juga membantu kalian untuk sedikit demi sedikit memahami cerita yang cukup berat, semoga. Nah, selamat membaca ^^.
