Konichiwa minna-san! Itu juga kalo kalian bacanya pas siang-siang, hehe.
Maaf ya kalo updatenya lama, soalnya saya nungguin mood nulis sih… Dan nyatanya mood itu lamaaaa sekaliii datengnyaaaa…
Mulai tanggal 12, saya jadi kelas 3 SMP loh! (abaikan saja ya!) Ah, berarti hari-hari indah untuk bermain akan berkurang *mendesah*
Tentu juga pasti saya bakalan lama update, hingga bikin kalian penasaran. Terus, bla bla bla… Dan, bla bla bla… PLAK! *dipukul pembaca karena kebanyakan ngoceh*
Aduh, maaf maaf… *ngusap pipi* Udah penasaran ya? Ya udah deh baca sana tuh cerita saya! Awas aja kalo bilang jelek! *maksa*
Disclaimer : Hiro Fujiwara
Chapter 2
Misaki datang terlambat. Dan itu bikin gempar satu sekolah. Ya jelas aja sih! Misaki yang tegas, disiplin dan rajin itu tidak pernah telat, pasti kalian juga nggak bisa bayangin kan?
Cuma karena hal sekecil itu aja, Misaki ditanyain semua orang. Mulai dari Sakura, Shizuko, Yukimura, Kanou dan yah… mungkin hampir seluruh murid di Seika bertanya padanya.
Tapi, Misaki hanya menjawab, "tidak apa. Aku hanya ketiduran."
Padahal Misaki memikirkan terus kejadian kemarin, saat Usui memeluk Miyazono-sensei. Adegan itu terlihat terus di benaknya. Tak bisa dihilangkan.
Benar-benar menyita perhatian Misaki, hingga dia tidak bisa belajar.
Misaki berjalan menuju ruang OSIS, membuka pintunya dan melihat ada cowok yang duduk di kursinya, cowok yang ingin sekali dia hindari seharian ini.
Tentu aja, Usui! Nggak mungkin si Kanou kan? (bleh, author malah nanya! hehe)
"Ayuzawa," panggil Usui saat dia sadar siapa yang membuka pintu.
Misaki masih diam, diam seperti patung. Kaget melihat Usui di sana, padahal dia kalau bisa menghindarinya.
"Ku dengar kamu telat? Ternyata orang seperti kamu bisa telat ya," Usui menggodanya, tapi Misaki masih diam, bahkan tidak bergerak sama sekali.
"Ada apa?" tanya Usui. Rasa khawatir dan cemas pada Misaki terdengar jelas di suaranya.
"Tidak apa," jawab Misaki, dengan nekat mendatangi Usui. "Bisakah kamu minggir dari kursiku? Aku harus mengerjakan laporan."
Ya, Usui beranjak dari kursi tapi, bukannya pergi dari ruangan itu. Secara tiba-tiba, Usui menarik lengan Misaki dan menempelkan dahinya ke dahi Misaki.
Misaki kaget dan merasa mukanya memerah. "Usui! Apa yang kamu lakukan? Kalau ada yang melihat ba-" ucapan Misaki terputus. Usui menutup mulutnya, membuat Misaki terdiam. "Tidak panas," ujar Usui. Lalu melepaskan lengan Misaki dan menjauh darinya.
Oh, jadi dia memeriksa suhu badanku! Pikir Misaki malu. Dia sudah menduga yang tidak-tidak. "Kamu yakin tidak apa-apa Ayuzawa? Hari ini kamu tidak sesemangat kemarin." Lanjut Usui lagi.
"Benar, Usui. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah mungkin," Misaki berusaha meyakinkan Usui. Usui tersenyum, dan berkata, "baiklah kalau begitu. Aku akan meninggalkanmu sendiri agar kamu bisa mengerjakan laporanmu. Sampai jumpa sepulang sekolah, Ayuzawa."
Baru beberapa langkah, Usui berjalan menuju pintu ruang OSIS. Misaki bertanya, "kemarin kamu ke mana?"
Misaki terkejut akan yang di tanyakannya. Kata-kata itu meluncur dengan tiba-tiba, tanpa di sadari Misaki.
Usui berbalik, menaikkan alisnya, "seperti yang ku bilang kemarin, aku ada urusan." Jawab Usui singkat, "memangnya ada apa?"
Misaki menggigit bibirnya.
"Tidak apa-apa Usui, aku hanya ingin tahu. Itu saja," dengan mudah, Misaki berbohong. Lalu duduk di kursinya dan berpura-pura sedang mengerjakan laporan.
Usui terus menatap Misaki, "sampai nanti Ayuzawa," lalu berbalik dan pergi.
Melihat kepergian Usui, Misaki meletakkan kembali laporan itu, dan merenggangkan tubuhnya. Sebenarnya, berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya.
Apa yang kamu lakukan kemarin dengan Miyazono-sensei? Apakah dia penyebab kamu menjadi pendiam? Karena dia jugalah, kamu jadi jarang ke Maid Latte? Ada apa denganmu, Usui?
Kalau saja Misaki punya keberanian, dia akan mengatakan semua itu pada Usui. Misaki menghela napas.
Sepulang sekolah, di Maid Latte…
"Usui! Sudah lama sekali kamu tidak ke sini!" sapa manajer, Usui tersenyum, "maaf, aku banyak urusan."
"Misa-chan murung sekali saat kamu tidak datang ke Maid Latte!"
"Manajer!" kata keras, ucapannya membuat Misaki malu.
Usui tertawa, jelas sekali dia senang. "Betulkah? Kamu merindukanku, Misa-chan? Padahal kita bertemu di sekolah,"
"Itu tidak benar! Ma-manajer hanya bercanda!" kata Misaki buru-buru. Tapi, manajer hanya tertawa dan pergi menjauh. Membiarkan Misaki berdua dengan Usui.
Usui, yang juga masih tertawa bertanya di sela-sela dia tertawa. "Hahaha, jujurlah pada dirimu sendiri, Misa-chan!"
Misaki hanya diam saja. Masih kesal. Lalu dia membalikkan badannya, akan berjalan menuju dapur. Secara tiba-tiba, Usui memanggilnya.
"Misa-chan, maaf nanti aku tidak bisa pulang denganmu,"
Misaki tersentak, "apakah kamu pikir aku peduli akan itu?" tanya Misaki, sejujurnya Misaki sedikit sedih karena dia tidak pulang dengan Usui.
"Aku yakin kamu peduli," jawab Usui yakin. "Karena kalau kamu tidak peduli, tentunya kamu tidak meremas-remas rokmu kan?" lanjut Usui, tertawa kecil.
Astaga, Misaki tidak sadar dia meremas roknya, setelah mendengar perkataan Usui tadi. Dan sekarang roknya kusut sekali. Misaki merasa mukanya memerah.
"Ya, sudahlah! Aku ke dapur dulu," sambil menahan malu, Misaki pergi ke dapur. "Misa-chan! Tolong antar nasi goreng ini ke meja nomor 3!" kata Honoka.
"Baiklah!" Misaki mengangkat alis, menduga-duga siapa yang memesan nasi goreng itu. Jangan-jangan… pikir Misaki. Lalu dia melangkah keluar lagi dan menuju meja nomor 3.
"Misa-chan!" ucap 3 Idiot bersamaan.
Ternyata benar, 3 Idiot yang memesan nasi goreng ini! pikir Misaki, kesal. "Apa yang ingin aku tuliskan di nasi goreng kalian, Tuan?" Dengan terpaksa, Misaki tersenyum. Dan tentunya mereka ingin aku menuliskan…
"Kami ingin tahu perasaan Misa-chan hari ini!" jawab mereka bertiga.
Seperti yang kuduga, pasti mereka akan meminta itu. Masih dengan senyum yang terpaksa, Misaki mengeluarkan saus tomatnya dan menuliskan apa yang di mau oleh 3 Idiot itu.
Misaki menuliskan "MENYEBALKAN"
3 Idiot langsung kecewa karena mereka tahu itu jelas-jelas ditujukan pada mereka. "Permisi, tuan." Ucap Misaki, dan dia pergi dari hadapan 3 Idiot.
Waktunya pulang…
Misaki melirik jamnya, sudah jam sepuluh. Tapi, entah kenapa Misaki tidak bisa beranjak pergi dari Maid Latte, seakan-akan dia menunggu Usui datang. Padahal tadi dia melihat kalau Usui sudah pergi.
Pulang mungkin, atau bertemu lagi dengan Miyazono-sensei. Saat Misaki memikirkan Miyazono-sensei, dia merasa muak. Muak sekali. Padahal Misaki merasa hormat padanya.
Sudah beberapa hari ini, Miyazono-sensei tidak masuk. Guru-guru bilang dia cuti sebentar. Awalnya Misaki merasa cemas dan kangen pada guru itu. Tapi, sekarang dia merasa senang guru itu tidak masuk.
Diliriknya lagi jamnya, jam sepuluh lewat lima belas.
Yah… Kelihatannya Usui tidak mungkin kembali lagi ke Maid Latte. pikir Misaki sedih, lalu dia berpamitan pulang, dan pergi ke stasiun.
Misaki terus berjalan, hingga sampai di stasiun. Dia langsung menaiki kereta, dan duduk. Menunggu kereta ini sampai di stasiun tujuan, setelah sampai, Misaki meloncat turun dan berjalan menuju rumahnya.
KREKK!
"Aku pulang!" ucapnya, sambil membuka pintu.
"Selamat datang, kakak." Sapa Suzuna, adiknya. "Mana Ibu?" tanya Misaki.
"Sudah tidur," jawab Suzuna singkat, "nah, karena kakak sudah pulang. Aku juga mau tidur, selamat malam."
"Ya, selamat malam…"
Misaki melepas sepatunya, dan setelah mengecek jendela dan pintu-pintu terkunci. Dia beranjak ke atas, ke kamarnya. Mengganti bajunya dengan baju tidur, lalu duduk di meja belajar.
Saat akan mengambil buku pelajaran, ponselnya berbunyi.
kirakira to kagayaku miraa
watashi wa donna fuu ni utsutteiru no?
horahora to te maneku mirai
kore kara donna koto ga okoru no?
"Halo?" sapa Misaki pada penelepon di seberang sana. Memberhentikan lagu itu.
"Apakah ini Ayuzawa?" tanya penelepon itu, sepertinya perempuan. pikir Misaki.
"Ya, betul. Ini siapa?"
"Ini aku, Miyazono-sensei…"
Apa? Miyazono-sensei?
To Be Continued…
Yei yei yei!
Gimana bagus kan? Bagus kan? Bagus kan?
Kalo menurut kalian bagus ato jelek, please review! Jadi, saya bisa memperbaiki yang salah.
Nah, see you in next chapter! *wave*
