Diamond no Ace © Tera-sensei
Warn: OOC, fail, typos, penuh kekurangan, pokoknya fail...
Sawamura menggerutu pelan saat menuju vending machine. Dia tidak mengerti jalan pikir Kuramochi-senpai. Kenapa dia harus berpindah hati ke Furuya? Dan, oh, apa-apaan sikap Furuya sedari tadi di kafetaria yang terus menggelendotinya.
Dia menghela nafasnya saat merasakan ponsel di saku celananya bergetar.
Sweetie, kau marah?—Received. 19.43
Kau Furuya? Atau Kuramochi-senpai?—Sent. 19.43
Aku? Menurutmu aku siapa?;))—Received. 19.44
Orang yang menyebalkan.—Sent. 19.45
Aw, aku jadi terharu. Besok kau juga akan bertemu denganku, Ei-chan—Received. 19.46
Sebelah alis Sawamura terangkat membaca pesan terakhir dari entah-dia-siapa. "Kau bukan mereka—"
"Yo."
Sawamura berhenti memainkan ponselnya. Wajahnya terangkat menatap laki-laki yang dikenal sebagai si catcher jenius Seidou."Oh… hai…" sapanya balik agak canggung.
Dia kembali mengantungkan ponselnya ke saku celananya. Dan melangkahkan kakinya mendekati vending machine seperti biasa, mencoba tidak mempedulikan jantungnya yang nyaris keluar dari rongganya.
Miyuki masih asik menyesap kopi kalengnya, dan Sawamura masih sibuk memilih minuman dari vending machine. Keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan. Sampai suara getaran di saku celana Sawamura, sukses membuat Miyuki melirik dari ekor matanya.
"Tentang kau dan Furuya…"
Sawamura bisa mendengar suara decit kayu ketika Miyuki bangun dari duduknya. Ia melirik sang catcher dari ekor matanya. Ia memilih diam untuk menanti lanjutan ucapan sang catcher.
"Yah, aku tidak menyangka. Kau bisa secepat itu melupakanku. Well—"
"Tunggu, Miyuki!" Sawamura geram sendiri mendengar sindiran dari Miyuki. Lagipula jika ia benar bersama Furuya sekarang dirinya tidak salah 'kan? Iya, jika itu benar. "Kau tahu, aku dan si bodoh Furuya—"
Miyuki menepuk pundak Sawamura pelan, dan tersenyum tipis. "Kurasa, selamat?" bisiknya, dan berlalu pergi.
Sawamura terdiam menatap punggung sang catcher. Tangannya terkepal, membuat tinju. Apa-apaan itu, Miyuki Kazuya!?
.
.
.
Hei, kau belum memberitahuku kenapa kau menangis, Cutie:/—Received. 19.48
Sawamura menatap layar ponselnya. Pikirannya masih kalut dengan ucapan selamat dari Miyuki. Oh, ayolah ini masih sehari dirinya di tolak oleh Miyuki Kazuya, tapi bukan berarti dia langsung melupakan semuanya 'kan? Bahkan ciuman itu… Ia menggeleng pelan. Tidak, jangan diingat, bodoh.
Mau mendengar ceritaku?—Sent. 22.11
Aw, akhirnya kau membalasnya. Ku kira kau sudah tidur. Tentu aku akan mendengarkan ceritamu, Babe;)—Received. 22.11
Apa yang kau lakukan jika kau menyatakan perasaanmu, dan orang yang kau sukai menciummu, dan kemudian menolakmu?—Sent. 22.13
Apakah kau akan melakukan itu padaku, Ei-chan?:/—Received. 22.13
Sawamura memutar matanya malas membaca pesan dari seberang sana. Astaga dia sedang serius, dan orang-entah-dia-siapa membalasnya dengan gombalan? Hell.
Hei, aku serius! Dan, kurasa aku tidak akan menciummu untuk menolakmu.—Sent. 22.14
Aw, kau membuatku jadi sedih:/ Padahal ku harap kau menjawab, aku tidak akan menolakmu. Haha.—Received. 22.14
Dan, ku rasa orang yang kau sukai semacam memberikan ciuman perpisahan? Atau dia sendiri merasa tidak yakin dengan perasaannya sendiri.—Received. 22.15
Daripada kau menyukai orang yang membuatmu bingung seperti itu, bukankah lebih baik kau menyukaiku? Aku tidak akan membuatmu bingung dengan perasaanku, Sawamura Eijun;)—Received. 22.17
Sawamura membaca berulang-ulang pesan yang diterimanya. Ah, dia jadi semakin tidak mengerti Miyuki hanya sekedar memainkan perasaannya atau hanya ingin mengucapkan selamat tinggal? Dan, apa-apaan orang yang mengiriminya pesan ini? Menyatakan perasaannya? Atau hanya berniat memainkan perasaannya juga?
Haha, sangat tidak lucu. Dan, er, thanks?—Sent. 22.20
Aw, aku sangat serius, Ei-chan.—Received. 22.21
Kuharap jika kau serius, kau bisa memberitahuku, kau siapa.—Sent. 22.21
Ah, maaf, Seniorku sudah mulai menegurku. Dan, kurasa besok kau akan tahu. Oyasumi;)—Received. 22.22
Sawamura mendengus sebal melihat aksi penolakan dari teman chatnya. Ia meletakkan ponselnya secara asal, dan kemudian mulai menenggelamkan dirinya di dunia mimpi.
Kuramochi menatap langit-langit kamar lima. Ia menaikkan alisnya, saat tidak lagi mendengar suara ponsel Sawamura atau suara ketikkan di bawahnya. Ia bangun dari tidurnya, dan melompat turun dari tempat tidur tingkatnya.
Ia menghela nafas lega mendapati nafas teratur dari sang kouhai. Alisnya terangkat mendapati ponsel flip milik Sawamura yang tergeletak di pinggir kasurnya, nyaris terjatuh. Seringaian terlukis di wajahnya. Tidak apa kan mencari tahu siapa yang bertukar pesan dengan kouhainya, yang membuat sang idiot baseball itu lupa waktu. Ah, dia bukannya kepo, hanya ingin tahu.
Dia membuka kotak masuk, dan membaca pesan dari kontak yang diberi nama oleh Sawamura; Manusia Aneh. Keningnya berkerut membaca satu demi satu kotak masuk sang Kouhai.
Dirinya memang tidak terlalu akrab dengan Furuya, tapi, hell, jelas sekali Sawamura bukan bertukar pesan dengan Furuya. Ah, maksudnya, Furuya tidak mungkinkan mengeluarkan kata-kata gombal yang kelewat sok romantis gini.
Dia memutar otaknya. Sebagai senpai yang baik setidaknya dia tidak akan membiarkan kouhainya jatuh pada orang yang salah.
Baru saja hendak menaruh ponsel flip milik kouhainya tersayang di tempatnya semula, pesan baru masuk sukses menghilangkan niatannya itu. Ia segera melirik Sawamura tajam saat melihat nama Yoshikawa Haruno di layar ponsel milik Sawamura.
Ia menahan dirinya untuk tidak menendang Sawamura dengan tendangan andalannya, sampai ia membaca pesan dari salah satu manajer klub bisbol Seidou itu.
Ano, Sawamura-kun, maaf, kostum untukmu besok terlalu perempuan, mungkin? Tapi kostum Alice sangat cocok dengan Sawamura-kun, pasti.—Received. 22.40.
Alih-alih menendang sang Kouhai, Kuramochi justru terbahak membaca pesan dari Yoshikawa.
.
.
.
Sawamura menatap pantulan dirinya di cermin. Pita besar berwarna hitam menghiasi kepalanya, sementara dress berwarna biru muda dan apron berwarna putih susu membalut tubuhnya, dan ditambah stoking bergaris hitam putih sampai paha menghiasi kakinya. Pakaiannya benar-benar manis, dan ia tahu kostum yang digunakannya adalah kostum Alice.
Alisnya terangkat, ragu. Apa dia benar-benar cocok dengan kostum ini? Well, lebih tepatnya, bagaimana bisa dirinya memakai kostum Alice yang jelas-jelas kostum perempuan? Oh, dia lebih memilih cosplay sebagai Ryota Watari dari Shigatsu wa Kimi no Uso, salah satu karakter dari manga yang tengah dibacanya untuk cosplay cafe 1-C di bunkasai saat ini. Tapi, ya, mau bagaimana lagi?
Ia menoleh dan mendapati gadis yang diketahui sebagai manajer klub bisbol Seidou berdecak kagum.
"Ano, bukankah ini kostum perempuan?"
"Ah, seharusnya begitu, Sawamura-kun. Tapi, anak-anak perempuan di kelas entah kenapa malah menyuruhmu untuk menggunakan kostum itu. Dan, bukankah semalam kau membalas pesanku, oke, katamu," jelas Yoshikawa, jari telunjuk di dagu seolah memasang pose berpikir.
"Pesan?"
"Iya, semalam."
Sawamura segera melangkahkan kakinya dan mendekati tas sekolahnya. Mencari-cari ponselnya. Setahu dirinya, ia tidak mendapat pesan apa-apa selain dari manusia-aneh itu. Ia membuka ponsel flipnya, alisnya berkerut melihat pesan Yoshikawa. "Ini pasti kerjaan Kuramochi-senpai!"
Tangis buaya Sawamura sukses membuat Yoshikawa kebingungan, berulang kali si gadis mengucapkan "maaf", dan "Aku tidak tahu".
"Oi, Sawa—"
Sawamura segera menoleh. Ia mendelik sebal ke arah Kanemaru yang baru masuk ke ruang ganti pakaian di kelas 1-C.
Kanemaru terdiam di posisinya. Mengerjapkan matanya berulang kali. Lalu mencubit pipinya, hingga ia merintih pelan. Yoshikawa sweatdrop.
Sawamura semakin cemberut, alisnya berkerut, dan bibirnya mengerucut. "Ada apa?"
Kanemaru masih terdiam, tidak percaya menatap bocah asal Nagano itu. "Kau beneran Sawamura 'kan?"
"Hah!?"
.
.
.
Jujur dia heran sendiri melihat reaksi Kanemaru. Memang apa yang membuatnya terlihat berbeda sampai-sampai laki-laki yang menjadi tutornya dalam hal akademik menatapnya tidak percaya?
Ah, tidak. Tidak. Bukan hanya Kanemaru, teman laki-laki yang sekelasnya dengannya juga seolah takjub, sedangkan yang perempuan—dia semakin tidak mengerti—mulai blushing, dan menutup hidungnya dengan tisu. Memang dia menyebarkan virus apa sampai temannya jadi sakit begitu?
Menggerutu pelan, ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kafe kelasnya. Kata Yoshikawa dirinya bertugas sebagai penerima tamu. Ya, mau tidak mau 'kan?
Sawamura menghela nafasnya bosan. Dia sudah nyaris berdiri di dekat pintu selama dua jam untuk menyambut tamu. Dia tidak lelah, sungguh. Hanya saja dia juga ingin menikmati bunkasai Seidou sekedar untuk menghilangkan stres. Oh, bahkan sebenarnya dia lebih suka berlari di lapangan bersama sang aibou tercintanya. Ban mobil.
Suara pintu yang dibuka, membuat Sawamura refleks membungkuk, memberi hormat, "Okaerinasai, Goshujinsama."
Si rambut merah muda terdiam menatap sahabatnya, wajahnya memerah melihat Sawamura dengan pakaian Alicenya. Sementara, laki-laki berasal dari Hokkaido itu membeku melihat Sawamura.
"Eijun-kun?" ucap Kominato bungsu setelah mendapatkan suaranya kembali.
"Huwaaa, Harucchi!" Sawamura terlonjak kaget, ia menutup tubuhnya dengan nampan yang dipegangnya. "Jangan lihat! Aa, memalukaaan!"
Haruichi tersenyum. Eijun masih tetaplah Eijun. "Ne, Eijun-kun, meja untuk dua orang."
"Dua—oh." Sawamura memelototi Furuya yang masih memandangnya dengan tatapan bingung, dan semburat merah tipis diwajahnya. "Furuya, kau demam? Wajahmu memerah!"
Furuya membuang mukanya ke arah lain, "Tidak."
Sementara Haruichi hanya tertawa melihat sikap dua orang temannya.
.
.
.
Sawamura meregangkan otot-otot tubuhnya. Cukup lelah juga ternyata menjadi penerima tamu. Namun, kemudian senyum terpampang jelas di wajahnya. Setidaknya tidak lama lagi tugasnya akan selesai, dan itu berarti dirinya bisa menikmati bunkasai Seidou—dan juga terlepas dari kostum Alice yang dikenakannya.
Ah, ngomong-ngomong kostum, entah kenapa daritadi ia merasa Furuya selalu memperhatikannya. Ya, hanya perasaannya saja tentunya. Tidak mungkin kan, Furuya terus memperhatikanya dirinya? Dunia sudah mau berakhir kalau iya.
"Okaeri—Narumiya Mei!?"
Ah, Tuhan sepertinya sangat membencinya hari ini... Dari semua orang yang ingin dihindari laki-laki ini berada di urutan kedua setelah Miyuki Kazuya. Dan, apa-apaan ini kenapa dia bisa ada di Seidou!?
Narumiya baru saja ingin melayangkan protesnya, atas ketidaksopanan dalam hal pelayanan. Namun, alih-alih protes dirinya justru kaget melihat sosok laki-laki brunette yang menyambutnya. "Sawamura!?"
"Apa yang kau lakukan di Seidou, Narumiya Mei!?"
Narumiya memutar matanya malas. "Oh, bisakah kalian berhenti memanggilku dengan nama panjangku?" dan kemudian memegang pundak Sawamura, lalu berbisik, "Menurutmu? Ah, aku pesan es kopi."
Sawamura berdecih. Dan melangkahkan kakinya menuju counter. "Es kopi satu," ucapnya menyampaikan pesanan Narumiya.
"Oi, Sawamura."
Sawamura menoleh, dilihatnya Kanemaru yang berdiri disampingnya. Alisnya terangkat. "Ada apa?"
"Kau tidak ingin berjalan-jalan keluar?"
"Mungkin, tapi setelah ku mengantarkan pesanan Narumiya Mei terlebih dahulu," ucapnya. Ibu jarinya menunjuk ke arah Narumiya yang duduk di dekat jendela.
Tch, justru itu yang ingin ku kau hindari, Bodoh. "Biar aku yang mengantar ke Narumiya Mei."
"Hah!?" Sawamura memandang tidak mengerti ke teman satu timnya itu. Lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Lagipula, aku tipe orang yang bertanggung jawab," ucapnya sambil tersenyum nyengir.
Sambil bersenandung pelan, Sawamura mulai melangkahkan kakinya menuju tempat Narumiya.
Sementara Kanemaru hanya bisa mendesah pelan menanggapi sikap Sawamura yang kelewat bertanggung jawab itu. "Ano baka..."
"Omatase shimashita, Narumiya Mei-san," ucap Sawamura dan segera menaruh pesanan Narumiya di atas meja.
Ia membungkukkan tubuhnya sopan, dan hendak pergi ke ruang ganti. Toh, shiftnya sudah selesai. Tapi tangan southpaw pitcher Inashiro menahannya. Alis Sawamura terangkat, matanya melirik tangan Narumiya yang memegang tangannya, sementara si pirang tersenyum lebar. "Shift mu sudah habis kan?"
Sawamura terdiam, lalu mengangguk, "Begitulah. Terus?"
"Temani aku di sini."
Sawamura tersedak air liurnya sendiri mendengar kalimat perintah yang diucapkan Narumiya. Ia ingin melayangkan protesnya seperti biasa, tapi ia urungkan niatannya. Ia sedang tidak ingin membuat kegaduhan sekarang. "Kau tahu, Miyuki tidak akan ke sini."
"Aku tidak mencari Kazuya."
"Lalu?"
Narumiya memutar kedua matanya malas. "Duduklah, kau membuat kepalaku lelah untuk memandangimu."
Sawamura menggerutu, sambil memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Ace Inashiro itu. "Lalu, apa yang kau lakukan di Seidou?"
"Bukankah semalam aku sudah bilang padamu?"
"Jangan bilang kau…."
Si pirang menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu tersenyum nyengir memperhatikan wajah tidak percaya Sawamura. "Kau sudah mengingatnya, Sweetie?"
.
.
.
To Be Continued
A/N : liat ada yang notis ini fic rasanya terharu gimana gitu. :"DDD Makaseeeh yang udah ngefave dan ngeripiu /pelokatuatu/
Jakarta, 29 Juli 2015. 19.10
