Meet You
.
.
"Seokjin! Roti pisangnya habis, bisa tolong panggang lagi?!"
Seokjin rasanya ingin berteriak, punggungnya terasa seperti akan patah.. sakit sekali. Tapi tidak apa, dia akan mendapat banyak keuntungan di hari terakhir ini. Seokjin sudah bilang bahwa dia akan pergi ke Seoul bukan? Dia akan butuh banyak uang untuk menyewa sebuah rumah berhubung kelulusan Taehyung masih satu bulan lagi.
"Yoongi! Adonannya habis!"
Setelah itu Seokjin dapat mendengar suara kekecewaan dari pelanggan yang ada di luar. Seokjin sama sekali belum melangkah keluar dari ruang memanggang, dia penasaran berapa banyak orang yang mengantri di luar sana. Apa 100? Atau lebih? Yang jelas dia sudah menghabiskan lima mangkuk besar adonan. Satu mangkuk bisa membuat kurang lebih tiga puluh roti.
"Yoongi, ad- Astaga!"
Ini mimpi atau apa? Kenapa ada banyak pria?
"Ekhm.. kalian.. sedang apa?" Bagaimana Seokjin tidak heran.. semua pria itu menatapnya dengan senyum lebar penuh arti. Artinya? Mana Seokjin tahu, dia 'mengasingkan diri' selama lebih dari lima jam. Seokjin tahu selama itulah dia berada dalam ruang memanggang juga berkat jam yang dia pajang dekat meja kasir, kalau tidak mungkin dia sudah mengira bahwa saat itu adalah tahun 2040. Ok, terlalu berlebihan.
"Kau Kim Seokjin? Yaaah, kau secantik yang Jimin katakan."
"Berikan aku nomormu!"
"Hai cantik."
Di antara banyaknya pria-pria ini.. di mana si pucat-cantik-Yoongi? Seharusnya dia menutup toko setelah semua roti habis, bukan malah membiarkan semua pria ini di dalam toko untuk.. ekhm, 'mengantri'. Seokjin bukan seorang wanita yang pemarah, tapi sekarang dia marah, karena seorang Min Yoongi lalai akan tugasnya.
"Noona! Aku ingin nomormu!"
"Aku juga!"
"A-"
"Diam!"
Mata Seokjin menatap nyalang semua pria yang ada di toko. "Apa mau kalian dan kenapa kalian bisa tahu aku?"
"Park Jimin, teman kami yang merekomendasikan toko rotimu dan kami juga tertarik karena dia bilang kau sangat cantik. Dia benar! Kau sangat cantik!"
Boleh jujur? Sebenarnya.. ekhm, Seokjin sangat suka pujian. Jangan salahkan Seokjin yang sudah sadar sejak dulu bahwa dia itu cantik. Memang sadar akan kesempurnaan diri sendiri itu salah? Jadi, walaupun marah, Seokjin juga sangat senang di saat yang sama.
"Pertama, terima kasih untuk pujiannya, kedua.., di mana temanku?"
"Temanmu yang pucat itu?"
"Yang sangat cantik tapi masih kurang sedikit cantik darimu?"
Boleh Seokjin minta plester? Haruskah dia mendengar semua hal tidak berguna itu?
"Terserah kalian mau menyebutkan ciri-cirinya seperti apa, tapi.. ya. Di mana dia?"
"Dia keluar dengan Jimin ke taman! Kurasa.."
.
.
.
Boleh Namjoon katakan bahwa hari ini adalah hari yang paling membosankan yang pernah Tuhan berikan padanya? Coba dengar.. sehabis sarapan, dia dipaksa membaca koran. Ya, dipaksa, oleh ayahnya. Telinga Namjoon ingin berdenging rasanya ketika ayahnya berkata, "Kau sudah dewasa dan akan bekerja, kau harus tahu kabar terbaru dari dunia bisnis. Tinggalkan komik, atau sastra-sastra yang tidak berguna itu." Maaf, tapi komik dan sastra yang memanjakan matanya selama sepuluh tahun itu sangat berguna. Dia belajar banyak hal dari buku-buku itu, tentang hidup, tentang cinta, tentang pertemanan, tentang.. ekhm, lupakan yang satu ini.
Tapi, karena Namjoon adalah anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya, dia tidak melawan dan menuruti apa yang dikatakan padanya. Dia menghabiskan dua jam untuk membaca tiga koran, oh dia juga menelan semua ledekan ibunya tentang betapa bodohnya dia karena terlalu terbawa omongan ayahnya hingga menghabiskan dua jam hanya utuk membaca koran. Ah.., sebenarnya yang mana yang harus Namjoon lakukan?
"Tinggalkan koran-koran itu dan pergi keluar."
Tangan Namjoon melipat kertas abu-abu itu, lalu menatap ibunya heran, "Memang apa yang harus kulakukan di luar?" Jangan berpikir bahwa dia bodoh. Seumur hidupnya, Namjoon hanya belajar, bukan ke luar, mendatangi mall, bersenang-senang atau semacamnya. Hidup itu hanya sekali dan Namjoon menginginkan masa depan yang cerah dalam hidupnya, jadi belajar adalah jawaban yang tepat baginya, benar bukan?
"Pergilah keluar kota jika kau tidak mau bersenang-senang seperti anak seumuranmu. Cari tempat yang tenang dan bagi informasi tempat itu dengan ibu."
"Kenapa?"
"Agar ibu juga bisa ke sana."
"Eish.., Paman Seo! Tolong siapkan mobil!"
.
.
.
"YA! MIN YOONGI!"
"Ya! Ya! Ya!.. Ja- jangan marah padaku.."
"Noona, marah padaku saja."
Seokjin menatap nyalang Jimin. Memang yang salah bocah itu, Seokjin hanya ingin menyeret Yoongi kembali ke toko. "Ya, noona ingin marah padamu. Kenapa kau menyeret Yoongi? Kenapa kau membawa teman-temanmu ke toko? Kenapa kau memberitahu mereka tentang noona? Kau tidak tahu kalau itu berbahaya?!" Persetan dengan Jimin yang menundukkan kepalanya dengan aura yang menyedihkan. Seokjin marah dan hanya ingin marah untuk saat ini.
"Aku.. pergi ke Seoul besok, jadi aku ingin menghabiskan waktu dengan Yoongi noona, sebentar saja."
Seokjin memang ingin marah saat ini, tapi kalau bocah itu seperti itu bagaimana dia bisa marah ish..
"Aish, baiklah. Yoongi, temani bocah ini, biar aku yang menutup toko."
"Seokjin.. kembali kau. Ya!"
Persetan dengan pekerjaan Yoongi, persetan dengan kepergiannya yang kebetulan sama dengan Jimin, kenapa? Karena sepertinya berandal-berandal kecil yang tadi 'mengantri' di tokonya mengambil catatan nomor pribadinya. Ah.. sial.. seharusnya hari ini adalah hari terbaik yang dia pernah dia alami, aish.. persetan, lagipula yang memberikannya keuntungan besar adalah berandal-berandal kecil itu. Seokjin bisa apa? Yang mereka inginkan nomornya.. anggaplah sebagai ucapan terima kasih.
"Seokjin! Seokjin!"
"Tidak perlu berteriak.."
"Maaf, tapi bocah itu yang menyeretku."
"Aku mengerti."
"Kau marah?"
Seokjin menghela nafasnya, "Ya, tapi bukan padamu. Sudahlah, lagipula apa pentingnya? Besok pagi sekali aku berangkat, jadi ini," Seokjin memberikan beberapa lembaran uang dari mesin kasir, "Ini bayaranmu bulan ini."
"Simpan saja untukmu, aku tidak perlu itu, yah.. sebenarnya sejak dulu aku tidak perlu itu."
"Tetap saja-"
"Simpan untukmu atau aku tidak akan membantumu lagi."
Kalau Yoongi tidak mau membantunya siapa lagi yang mau? Tokonya harus tetap buka walau dia pergi.
"Terserah padamu.."
"Kau terlihat tidak bersemangat, kenapa?"
Bolehkah Seokjin berteriak? Baiklah.. dia tidak sepenuhnya menganggap nomornya sebagai ucapan terima kasih atas keuntungan yang berandal-berandal itu berikan padanya. Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu yang buruk pada nomornya, seperti.. memberikannya pada orang jahat? Gangster dan sebagainya.. ah, Seokjin belum ingin mati.
"Lupakan saja. Ah, aku tidak tahu kapan aku akan kembali, tapi tolong jaga toko dan keluargaku."
"Pasti. Kau mau aku berkunjung ke rumahmu berapa kali seminggu? Tiga kali? Empat kali? Atau setiap hari?"
"Terserah saja."
"Kurasa setiap hari saja, berhubung orang tuaku tidak akan peduli sama sekali."
Ah, setiap kali Seokjin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Yoongi hatinya terasa seperti diiris. Seokjin memang teman Yoongi, tapi dia tidak tahu di mana Yoongi tinggal atau seperti apa keluarganya, satu-satunya hal yang Yoongi tahu hanya bahwa orang tua Yoongi tidak peduli dengan anaknya sendiri. Seokjin tidak tahu itu benar atau tidak, tapi Yoongi bukanlah seorang pembohong dan Seokjin tahu itu, jadi percaya pada Yoongi adalah keputusan yang Seokjin buat sejak bertemu dengan Yoongi yang melamun di taman dua tahun yang lalu.
Seokjin bergerak untuk memeluk Yoongi, "Aku akan merindukanmu, gadis pucat." Tangannya menepuk pundak Yoongi lembut. Tadinya Seokjin pikir Yoongi tidak akan membalas pelukanya mengingat.. gadis itu benci hal-hal manis. Tapi tidak, Yoongi membalas pelukannya dan.. itu terasa begitu hangat.
"Yoong,"
"Hm?"
"Jimin sangat beruntung, pelukanmu begitu hangat."
"Ya!"
.
.
.
"Paman, kapan kita sampai? Sudah siang.. aku lapar."
Namjoon memang berumur 22 tahun, tapi jika perutnya sudah berbunyi maka dia akan menjadi Kim Namjoon berumur lima tahun yang hanya mengeluh dan merengek ketika lapar. Jika saja yang bersamanya kali ini adalah ibunya, sudah dipastikan kepala Namjoon tidak akan selamat dari benjolan kecil karya tangan ibunya. Tapi Paman Seo sudah menjadi supir sekaligus teman bagi Namjoon sejak dia berumur sepuluh tahun, jadi Paman Seo sudah sangat mengerti dirinya dan tidak akan pernah marah ketika dia melakukan kesalahan.
"Sebenarnya masih jauh, lagipula kenapa kau memilih ke sana?"
Namjoon mengerucutkan bibirnya, "Aku asal memilih paman, kukira jaraknya dekat." Jawabnya. Paman Seo menghela nafasnya. Majikannya lapar sedangkan jarak posisi mereka dengan Heyri Art Valley masih lumayan jauh. Bertangan penghancur dan tidak bisa memperkirakan waktu.. beruntung Paman Seo menganggap Namjoon seperti keponakannya, jika tidak, mungkin beliau sudah berhenti sejak dulu.
"Baiklah, kau tunggu di taman itu dan paman akan mencari makanan di sekitar sini."
Namjoon menatap taman kosong berisikan beberapa permainan anak kecil dan.. pohon cemara? Sejak kapan pohon cemara tumbuh di dataran rendah? Sebenarnya Namjoon tidak mau, taman itu kosong, belum lagi udara di luar lumayan dingin. Tapi perutnya.. ah, baiklah, lebih baik menurut bukan?
"Baiklah, tapi paman akan kembali 'kan?"
"Ya Tuhan, tentu saja Namjoon."
"Kalau begitu, sampai nanti lagi. Ah, tolong belikan sesuatu yang hangat untuk diminum."
Namjoon turun dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya menuju taman kosong itu. Namjoon bersyukur sekali karena salju belum turun, jika sudah, mungkin Namjoon akan mati kedinginan. Berlebihan.. dia bahkan pernah menghabiskan dua jam duduk di lapangan sekolah di tengah salju lebat hanya untuk mendapatkan ketenangan dalam sesi membaca bukunya.
"Tidak buruk.."
"Aish, berandal kecil menyebalkan! Mereka tidak akan macam-macam dengan nomorku bukan?.. Ya Tuhan, jantungku seperti akan meledak!"
Namjoon pikir dia sendiri di sini, tapi ada seorang wanita duduk di balik pohon cemara di depannya. Apa wanita itu mengalami hari yang buruk? Sepertinya iya, nada bicaranya terdengar seperti Namjoon lima tahun yang lalu ketika tangannya merusak sesuatu. Namjoon jadi penasaran.
"Ish..,"
"Maaf.. mm, nona?"
Namjoon tidak tahu slow motion di dunia nyata itu memang ada atau otaknya hanya mengarang semuanya, tapi.. ketika wanita itu menolehkan kepalanya, semuanya terasa berjalan dengan sangat lambat. Dan sepertinya Tuhan telah menukar jantungnya dengan kembang api, karena sesuatu di dalamnya terasa seperti meledak.
"Kau memanggilku?"
Apa yang berbicara dengannya seorang malaikat? Suaranya begitu halus. Namjoon yakin ketika suara itu digunakan untuk bernyanyi maka dia akan langsung jatuh ke alam mimpi. Dan wajahnya.. Ya Tuhan, hal paling indah yang pernah Tuhan ciptakan.
"Ekhm! Tuan.."
Kesadaran Namjoon kembali dan membuat pria itu menganggukkan kepalanya, "Euh, ya.. kurasa. Sepertinya kau sedang kesal, boleh aku tahu kenapa?" Kim Namjoon bodoh! Posisinya sekarang adalah orang asing, bukan kerabat dari malaikat itu, mana mungkin malaikat itu mau berbicara dengannya. Bodoh.
"Jika kau bersedia maka aku mau, tuan.."
"Namjoon! Ekhm, Kim Namjoon, tapi panggil saja aku Namjoon."
"Kalau begitu aku Seokjin, Kim Seokjin. Senang bertemu denganmu."
Seumur hidup Namjoon sudah ada ribuan orang yang mengajaknya berjabat tangan dan tidak ada satu pun di antara tangan-tangan itu yang bisa membuatnya merasa tersanjung. Tapi tangan siapa namanya..? Seok.. jin? Ah! Seokjin. tangan Seokjin membuatnya benar-benar merasa tersanjung.
"Senang bertemu denganmu juga."
Dan Namjoon belum pernah merasa se-antusias ini.
.
.
TBC
