Vocaloid Yamaha - Crypton
Perhatian! Cerita ini mengandung typo(s), OOC, EYD yang salah, alur yang berantakan dan lain lain.
LET THERE BE LIGHT
Chapter 1
.
.
Setelah menerima kekuatan sihir dari Sang Dewi, umat manusia membentuk pasukan khusus untuk melawan para iblis. Mengatas namakan "Kaum Domba" manusia memulai perang dengan iblis. Tidak semudah kedengarannya, banyak nyawa manusia yang pergi ke dunia asal Sang Dewi dalam perang ini. Keadaan makin diperburuk setelah segelintir orang menyebut diri mereka "Kaum Serigala." sebuah kelompok yang mendukung aksi para iblis dan melawan Kaum Domba. Mereka melalukan hal tersebut dengan alasan bahwa manusia adalah para pendosa yang harus dibasmi dan kemudian akan bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik—
"Hoi Len!" Sebuah suara membuyarkan fokus seorang pemuda kepada bukunya. Dengan tatapan malas dia menoleh, memberikan tatapan 'apa?' kepada satu satunya makhluk yang berada diruangan—atau lebih tepatnya tenda ini.
"Apakah terpikir olehmu bahwa kita akan keluar dari tempat ini?" Lean benar benar jengkel, temannya ini mulai membahas topik pembicaraan yang tidak disukainya, dia menutup bukunya, dan duduk bersandar mencoba memposisikan dirinya senyaman mungkin.
"Kurasa kau harus menghentikan topik pembicaraan ini Kaito. Kita tidak mungkin meninggalkan Kaum Domba kan?"
"Hei! Kau sendiri tidak pernah berhenti membaca buku yang sama! Kau sendiri tau kalau Kaum Domba ini hanya sebagian kecil dari kelompok induk. Di bukumu tertulis kalau Kaum Domba adalah kelompok yang melawan iblis kan? Tetapi Kaum Domba yang ini belum pernah berhadapan dengan iblis sama sekali, yang mereka lakukan hanyalah cekcok dengan saingannya setiap hari! Sejujurnya aku sudah muak mengeksekusi anggota dari Kaum Serigala atau orang orang yang berpotensi menyembah iblis!"
Len tahu apa yang Kaito katakan. Kaito memang sering sekali ikut dalam kegiatan eksekusi.
"Itu menandakan bahwa kau diperlukan, sihir 'membaca pikiran' milikmu benar benar berguna. Mereka membutuhkan kita Kaito, kekuatan kita spesial."
"Kau sendiri memiliki sihir keren semacam teleportasi, tetapi posisimu disini hanyalah kurir." Perkataan temannya benar benar mengenainya tepat! Len sendiri sudah mengikuti serangkaian pelatihan prajurit yang disediakan Kaum Domba tempatnya tinggal, tetapi dia selalu diposisi bawah. Satu satunya kelebihannya adalah sihir teleportasi, memindahkan benda dari tangannya ke tempat lain. Benar benar kemampuan seorang kurir!
"Lantas kau mau kemana? Menuju tempat Kaum Serigala?"
"Tidak… apa yang kuingkan adalah hidup tanpa rasa takut, tetapi hal itu tidak mungkin, para iblis tidak pernah memberi rasa damai. Maka dari itu aku ingin tempat dimana aku bisa menghajar para iblis." Sungguh perkataan yang bodoh! Walaupun Kaito adalah petarung yang lebih unggul darinya tetapi sesungguhnya mereka sudah hidup enak! ternyata temannya ini lebih menginginkan kegiatan bunuh diri.
"Aku sudah tidak tahan lagi Len… sebelum memutuskan hukuman eksekusi aku harus membaca pikiran mereka, untuk mengetahui kebenaran yang mereka sembunyikan. Tetapi apa kau tahu? Beberapa dari mereka berada di Kaum Serigala karena terpaksa! Beberapa bahkan menjadi anggota hanya untuk menjadi tumbal! Dan setelah aku mengatakan ini kepada para petinggi, mereka tidak peduli! Petinggi menjatuhkan hukuman eksekusi kepada mereka, mengatakan bahwa mereka tetaplah bagian dari ancaman! Sungguh orang orang yang malang! Musuh kita adalah para iblis, kita tidak perlu membantai sesama manusia kan?"
Ini kali pertamanya Kaito mengatakan hal ini. Len tidak menyangka bahwa pembicaraan ini menuju ke arah yang lebih serius.
"Tetapi mereka sudah memberikan tempat tinggal kepada kita, mereka memberikan kita makanan, kita adalah bagian dari keluarga ini Kaito. Dan terlebih lagi… kau ingat saat kita berada di Tempat Awal?bagaimana perjuangan kita setelah keluar dari sana? Bagaimana kita lari dari ancaman iblis? Tempat inilah yang kita datangi, dan mereka menerima kita, dengan upah tenaga kerja kita. Mereka membutuhkan kita, kemampuan kita spesial itu karena kita berasal dari Tempat Awal."
Kaito masih ingat dengan jelas kejadian yang dimaksudkan Len, sesungguhnya dia tidak akan melupakan kejadian dimana dia bertemu dengan iblis, lari dari mereka dan pergi dari tempat yang dimaksud temannya, serta melewati hari hari berat berduaan sampai tiba ditempat ini.
Kaito merasa tidak enak hati, sesungguhnya Len sangat sensitive jika bicara tentang masa lalu. Baru saat Kaito membuka mulut, seseorang memasuki tendanya, membuatnya tersentak kaget.
"Hei! Bisa kalian membantuku mengecek persenjataan?!" Benar benar tidak sopan! Pikir Kaito melihat perilaku seorang perempuan yang tiba tiba masuk ke dalam tenda mereka. Dia benar benar ingin mengusir perempuan tersebut, namun dia harus mengurungkan niatnya melihat Len sudah berjalan menuju perempuan tersebut, sungguh temannya ini adalah orang yang baik hati yang menerima permintaan tolong setiap orang, mungkin Len sudah menjiwai pekerjaan kurirnya. Kaito menghela nafas saat mereka memberikan tatapan penuh arti.
"Setidaknya kau harus mengucapkan salam sebelum masuk ke ruangan pria, Neru." Ucap Len sebelum mereka berangkat menuju gudang persenjataan.
Perjalanan menuju gudang persenjataan membutuhkan waktu beberapa menit. Tidak ada yang membuka percakapan. Kaito terkadang melihat Len sekilas, takut bahwa pemuda itu tersinggung, atau teringat akan masa lalunya yang mengerikan. Mereka menghentikan langkahnya sejenak tatkala mereka berada di depan gudang persenjataan.
"Kenapa kau harus meminta bantuan kami sih?" Protes Kaito disaat memasuki gedung persenjataan.
"Awalnya aku sedang bertugas mengawas di bagian utara. Namun setelah tugasku selesai aku mendapati tugas ini… nah! Kebetulan sekali tenda kalian dekat dengan tempatku mengawas. Anggap saja ini kesialan kalian karena harus tinggal di tenda yang jauh di utara bukan di pusat permukiman." Tempat tinggal Len dan Kaito memang berada jauh dari tempat yang lain. Alasannya pun sederhana, pusat permukiman tidak punya tempat lagi untuk menampung mereka.
"Jadi… bagaimana pelatihanmu?" Tanya Len sembari memulai mengecek persediaan persenjataan.
"Selalu menjadi yang terbaik." Ucap Neru menyombongkan dirinya. Len tidak merasa teringgung, dia sendiri tahu bahwa Neru adalah salah satu prajurit terbaik
"Sombong sekali… kau bahkan belum berhadapan dengan iblis." Celoteh Kaito yang Nampak keberatan.
"Jika mereka berada disini aku akan melubangi kepala mereka, kau sendiri bagaimana Kaito, apa kau berani menghadapi iblis?" Balas Neru sambil mengacungkan senjata miliknya ke udara, sebuah sniper jenis AWP dengan kekuatan sihir tentunya.
"Tidak sepertimu yang hanya omong besar. Aku dan Len pernah bertemu dengan iblis langsung!"
"Hei! Jika aku selesai dari pelatihan aku akan memburu iblis bersama dengan prajurit lainnya, meninggalkan kalian berdua disini, tuan eksekutor dan tuan kurir."
"Aku akan menari di atas pemakamanmu jika kau telah terbunuh oleh iblis nantinya."
"Sialan! Kau ingin berkelahi hah?!"
"Maju sini jagoan, jangan pikir aku akan menahan diri hanya karena kau wanita."
Len hanya melanjutkan pekerjaannya. Dia sudah tidak asing lagi dengan pemandangan ini, mereka berdua memang tidak pernah akur.
"Aku sudah mengecek bagianku, dan ini laporannya. Apakah aku bisa kembali ke tenda untuk istirahat?" Len berdiri di tengah keduanya, menunda perkelahian mereka. Dia menyodorkan kertas laporannya, bukti bahwa dia benar benar sudah menyelesaikan bagiannya.
Len keluar dari gudang persenjataan tanpa menunggu balasan dari keduanya, dia berjalan menuju tendanya dengan tergesa gesa. Moodnya sedang jelek hari ini, mengalihkan pikirannya dari kenangan buruk yang tersulut karena pembicaraan tadi dengan bekerja di gudang persenjataan tidak begitu berhasil.
Tanpa terasa dirinya sudah berdiri di depan tenda, Len menyadari bahwa dia melamun sepanjang perjalanan. Dia mengecek arlojinya, jarum jam menunjukan angka jam 9 malam. Segera dia masuk dan merebahkan tubuhnya dikasur.
'Aku berjanji akan terus hidup untuk nyawa mereka… Aku berjanji akan mendapatkan kehidupan damai dengan membawa nyawa mereka… Aku berjanji… tidak akan pernah melupakan mereka…"
"Kuharap dengan tidur dapat membuat moodku menjadi baik…."
.
.
'Makhluk Apa itu?! Makhluk itu membunuh teman temanku! Berhenti… Jangan bunuh mereka!'
'Len! Kita harus pergi dari sini!
'Teman teman kita berada disana Kaito! Makhluk itu akan membunuh mereka semua!'
"TIDAK…!"
Len terbangun dari mimpi buruknya, dirinya benar benar syok. Nafasnya terengah engah, keringat bercucuran, tubuhnya bergetar merasakan kengerian yang teramat sangat.
"Len… Kau baik baik saja?"
"Maaf membuatmu…. terbangun ….Kaito…. aku…. Mengalami…. mimpi buruk."
"Tentang kejadian itu? Kita sudah melewatinya Len… Memang berat, tapi kau harus melupakannya. Aku harus meminta maaf karena telah membuka memori burukmu. Tapi tenanglah Len, aku ada disini untukmu."
"…. Aku tidak bisa tenang! Suara lolongan iblis iblis itu masih menggema di kepalaku!" Len semakin terpuruk, dia menutup kedua telinganya dan mulai menangis.
"…."
"Ka…ito…?" Len melihat heran ke temannya. Raut wajah Kaito menampilkan rasa takut yang tidak jauh berbeda darinya.
"Kurasa lolongan iblis itu bukan imajinasi mu Len…. Aku juga mendengarnya… dan kurasa…. Berasal dari… pusat permukiman…"
To Be Continued
.
.
.
Pojok Author:
Halo…. Saya author baru, baru nyoba nulis pula, jadi mohon maaf jika banyak kesalahan, sebenernya udah tau fanfiction sejak lama, Cuma baru kepikiran buat nulis.
Hmmmm… di fic pertama saya ini saya bawa tema yang pasaran, hehehe….
Oh iya untuk Kaum Domba dan Serigala saya ambil dari kutipan kitab injil.
Mungkin itu saja… see you in next chapter
Mungkinkah para senior boleh kasih wejangan lewat review…
