Disclaimer Vocaloid by Yamaha and Cyrpton Future Media

WARNING : Typo, gaje, alur kecepetan -3-

.

.

.

.

Happy Reading~


"Yosh!"

"Untuk apa menggeser kursi di depan lemari?" tanya Len yang sibuk membuka-buka laci.

"Aku suka menyembunyikan benda di atas lemari. Siapa tahu aku dan Lenka mirip!" Aku mengobrak-abrikkan benda yang ada di atas lemari. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah kertas. Aku membukanya dan membaca isinya.

.

Aku lahir di sini.

Saat bertemu dengannya, aku mencintainya.

Tapi, keluarga-ku tidak pernah mengizinkannya.

Maka...

.

"Maka apa ya?" gumamku sambil menggaruk kepala.

"Apa yang kau temukan, Rin?" Tanya Len sambil menggenggam sebuah buku.

"Hanya kertas aneh. Sepertinya ini tidak berhubungan dengan kematian Lenka," ucapku sambil menyerahkan kertas tersebut kepada Len.

"Hmm." Len membaca sebentar, dan langsung pergi ke toilet. Setelah selesai, dia meletakkan kertas tersebut di atas meja yang terkena sinar matahari.

"Len, kau bodoh, ya? Masa kau mau mengeringkan kertas basah dengan matahari? Tinggal menunggu hancurnya kertas itu saja," ucapku.

Seketika, Len langsung menjitak kepalaku.

"A-

"Kau yang bodoh. Aku pikir, kertas ini diisi tinta tahan air. Ternyata tidak. Mungkin itu hanya tulisan asal," balas Len.

"Hee, tapi aku merasakaan perasaan yang aneh, tahu. Entah kenapa," balasku.

"Sudahlah, lebih baik kita membuka buku yang kutemukan, ini," ucap Len dan membuka buku halaman pertama.

.

Kami berdua saling mencintai.

Tetapi, takdir tak mengizinkannya.

Mengapa hidup manusia itu menyedihkan?

.

"Tidak terlalu menyedihkan, kok," komentar-ku. Len langsung menutup mulutku dan meyuruhku lanjut membaca.

.

Akhirnya aku memutuskan, untuk berhenti mencintainya.

Tapi, dia berkata, kita harus bisa bersama.

Kami-pun sepakat. Untuk...

.

Len membalikkan halaman buku tersebut

.

Benda mati, yang hanya bisa bergerak maju.

Tidak bisa mundur.

Benda itu mati karena aku menyumbatnya dari belakang.

.

Kosong. Hanya itu yang tertulis.

"Hei, tulisannya berbeda jika dibandingkan dengan yang sebelumnya. Dan lagi, maksudnya apa? Benda mati memang mati, kan?" tanyaku.

"Mungkinkah ada orang lain yang menulis selain Lenka? Kalau soal jawaban teka-teki ini, entahlah," jawab Len sambil mengangkat bahunya.

"Len, aku lapar. Bisakah kita makan sesuatu?. Mie instan cukup," ucapku. Aku malas berurusan dengan kasus aneh ini. Sudah ada banyak benda, tidak berguna pula.

"Baik, baik," jawab Len sembari berjalan ke dapur.

"Len. Dulu ini rumah-ku, kan?" tanyaku.

"Ya, begitulah."

"Bagaimana cara kita bertemu?" tanyaku lagi.

"Keluarga-mu mengangkatku menjadi pelayan," jawab Len sambil memberikan mangkok berisi mie.

"Hm, Tempat pertama kali kita bertemu dimana?" tanyaku lagi.

"Mungkin, di taman belakang? Seingatku, kita bertemu karena aku melihatmu memanjat pohon besar. Yah, aku kaget dan langsung berlari. Begitu lah," balasnya.

"Hee, pantas aku suka padamu. Kau memang penyelamatku," ucapku sambil memeluk Len.

"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Len sambil menghancurkan rambutku.

"Serba salah aku berbicara denganmu," ucapku.

"Haha, bercanda. Jangan marah hanya karena itu," balas Len.

"Baik, baik. Aku tidur di pangkuanmu saja, ya. Aku lelah."

"Ya, terserahmu," balas Len sambil menyanyikan suatu lagu.

Suara Len memang indah. Mendengarnya selalu membuatku nyaman. Len selalu saja membuatku tenang.

.


.

"Len! Kau masih mencari sesuatu di ruangan tersebut?" tanyaku.

"Yah, siapa tahu ada yang tertinggal," balas Len sambil membuka-buka lemari.

"Kira-kira apa ya jawaban dari teka-teki ini?" tanyaku sambil membaca kembali isi buku ini.

"Mati karena menyumbatnya dari belakang. Memangnya WC?" gerutuku.

"Rin, daripada kau mengejek buku itu. Lebih baik kau bantu aku mencari sesuatu." Ucap Len.

"Aye Aye, Sir," jawabku sambil berjalan gontai ke arah Len. Aku mengobrak-abrik barang-barang yang ada di lemari. Dan, aku menemukan buku gambar yang berukuran sedang. Aku melihat-lihat apa isi dari buku gambar tersebut.

.

Halaman pertama, 2 orang anak yang sedang berdiri. Satu perempuan, dan satunya lagi laki-laki.

'Walaupun gambarnya mirip stickman dan mirip gambar anak TK, rasanya gambar ini terasa nyata,' batinku.

Halaman kedua, anak laki-laki menolong anak perempuan yang jatuh dari pohon.

'Kenapa ceritanya mirip aku dan Len?' tanyaku dalam hati

Halaman ketiga, mereka berdua berpelukan dan di atas kepala mereka ada sebuah hati.

'Wuat?! Kecil-kecil menyeramkan ini! Buku gambar porno,'

Halaman keempat, ada seorang laki-laki tua yang menampar anak laki-laki tadi, dan anak perempuannya menangis.

'Whoa, keren juga. Tapi, kasian anak-anak tadi.' Aku terus mengejek buku gambar yang kutemukan. Sampai aku melihat halaman kelima yang menjadi halaman terakhir.

Api.

Gambaran api dimana-mana. Yang tersisa hanyalah seorang laki-laki, dan anak perempuan. Anak laki-laki itu hanya tersenyum, sedangkan yang perempuan menangis.

Di belakang halaman terakhir, aku menemukan sebuah obat terbungkus plastik. Aku memasukkannya ke dalam kantongku. Jika terlihat Len, pasti akan langsung dibuang dengan alasan, "Jika kau lapar, pasti kau makan."

Karenanya aku ingin menyelidikanya sendiri, siapa tahu obat ini penyebab kematian Lenka dan Rinto.

.

"Len, di sini pernah terjadi kebakaran, ya?" tanyaku pada Len.

"Hum? Maksudmu? Lenka dan Rinto tidak mati karena kebakaran. Buktinya rumah ini utuh," jelas Len.

"Tapi, buku gambar ini berkata seperti itu," ucapku sambil menyerahkan buku gambar yang kutemukan pada Len.

"Mana mungkin buku gambar bisa berbicara, Rin."

Len melihat-lihat buku itu. Setelah selesai membaca, dia berpikir dengan serius.

"Kau mendapatkan sesuatu?" tanyaku.

"Tidak, hanya sedang berpikir asal," jawabnya.

"Ah! Apa dulu, saat aku tinggal di sini pernah terjadi kebakaran?" tanyaku lagi.

"Kepalamu tidak sakit, kan?" tanya Len memastikan.

"Sehat walafiat, jadi benar?"

"Yah, kebakaran itu terjadi tiba-tiba. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Semua orang yang ada di dalam rumah ini selamat. Tapi, mereka meninggalkan kita," jelas Len.

"Kejamnya keluargaku~," Ucapku sambil memajukan mulutku.

"Kau tidak sedih?" tanya Len.

"Untuk apa? Wajahnya mereka saja aku lupa. Itulah hebatnya Rin! Hoho," aku tertawa sendiri sambil membuat huruv 'v' di tanganku. Len yang melihatku tersenyum.

"Jadi, buku gambar ini milik siapa, ya?" tanyaku menerawang.

"Entahlah, buang saja. Itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini," jawab Len.

"Teganya dirimu, nak. Susah-susah aku cari, masa aku buang? Simpan jadi kenangan saja ah," ucapku.

"Yah, sudahlah. Lebih baik kita isitrahat saja. Aku mau tidur sebentar," Ucap Len sambil memukul kepalaku, lalu berjalan pergi.

Aku melihat buku gambar tadi. Dan membuka halaman kelima. Kenapa anak laki-laki ini tersenyum? Apa penyebabnya? Apakah ada orang yang tersenyum saat kebakaran? Aku terus berpikir, rapi tidak menemukan apapun.

Akhirnya, aku teringat pada obat yang kutemukan. Aku membaca tulisan yang terdapat pada plastik yang membungkus obat ini.

"...pe...m...ih... ng...an...s...a...paksa? Apa maksudnya?" tanyaku.

Aku ingin mencoba minum obat ini. Aku membuang plastik pembungkusnya ke dalam closet, agar tidak ketahuan Len. Tanpa pikir panjang, aku menelan obat itu.

Tak ada reaksi. Aku menghela nafas lega karena tidak terjadi apapun. Tapi, baru saja aku berbaring, kepalaku benar-benar sakit!

"Le...n," ringisku.

Kepalaku terasa berat, lalu aku memutuskan memejamkan mata, agar bisa cepat tidur dan memendam rasa sakit di kepalaku ini.

.

.

~Continued~

.


~~A-N~~

Maafkan saya yang berdosa!

Lama banget saya ini update ya -3-. Maafkan saya yang menjadi author yang tak becus ini.

Saat ingin meng-update fic, tapi ada UTS, DISITU KADANG SAYA SEDIH!

Oklah~ bye-bye semua~ Silahkan dihujat, jangan malu-malu :3

Celestya Regalyana

Yana-san :3 Rin Len ga incest kok XD Di sini mereka normal. Makasih udah review ya~

S. Hanabi

Hana-san :3 Mereka asli bukan incest ^3^ Makasih atas reviewnya~

Agerazoides

Zoid-san :3 Mereka murni bukan saudara XD OK! :3 Makasih atas saran dan reviewnya ya~

Kagawita Hitachi

Tachi-san :3 Maafkan saya yang tak jago buat misteri T*T Akan saya usahakan~ Makasih udah review X3~

Alice Dreamland

Alice-san :3 Pertama kali saya dipanggil nama panggilan~ Jadi terharu #Plak. Pasti XD. Di sini mereka ga saudara, hubungannya bersih XD (?) Makasih atas reviewnya~

Maaf saya panggil nama kalian SKSD ya~ Sekian dari saya~ Babayo ^o^