"Un-requited Love."

By : Amanda Lactis

Chapter 2 : Stay or Leave?

.

.

.

Kehidupan Yoongi masih berjalan seperti biasa, belum ada perubahan besar selain kedatangan Jimin yang begitu mengganggunya. Kondisi rumah masih saja sama. Sikap sinis ayahnya, Yoonji yang mulai memperhatikannya dan ibunya yang belum mau mengakui kehadirannya. Saat makan malam, Yoongi memilih mendekam di kamarnya untuk mempersiapkan diri di semester empat, enam bulan dari sekarang, alasan paling logis yang bisa dia lontarkan ketika Yoonji mulai curiga. Tapi bukan itu yang membuat Yoongi berubah akhir-akhir ini. Yang membuatnya gelisah adalah tawaran menggiurkan dari dosennya.

"Yoongi-a, kau mau mengambil beasiswa di Swiss? Mereka membuka kuota dua puluh orang yang akan dibimbing sampai menjadi musisi sukses. Kau tertarik?"

Bohong kalau Yoongi tidak tertarik. Dia akan menjadi orang paling bodoh bila membuang kesempatan emas seperti itu. Tapi, bisakah dia meninggalkan Seoul? Meninggalkan kehidupan lamanya yang memang tak pernah membaik? Seokjin rutin menanyakan kabarnya tiap hari, mengirimkan pesan singkat dan mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri. Yoonji pun sama. Gadis yang mempersiapkan diri memasuki bangku perkuliahan itu beberapa kali membawakannya camilan. Yoongi sendiri, sering tidur pukul dua dini hari, iseng menulis lagu atau merampungkan tugas dari dosen killer. Soal Jimin ya? Yoongi tidak berharap banyak. Paling lelaki itu akan bosan dan berhenti bersikap sok dekat dengannya. Orang seperti Jimin sudah mendapat label khusus dari Yoongi. Tipe ceria yang gampang bosan.

"Yoongi-a? Kau tidak makan?" Yoonji menyuarakan kekhawatirannya karena tidak melihat sosok Yoongi sejak sore. Kakaknya itu pasti absen makan dan menyibukkan diri di kamar.

"Aku masih kenyang." Sahut Yoongi. Dia bisa menebak kekecewaan Yoonji karena mendengar suara langkah kaki yang menjauhi pintu kamarnya.

Sekali lagi, hidup Yoongi tidaklah seindah dongeng fiktif. Banyak drama dan orang-orang munafik yang memenuhi. Kan Yoongi sudah bilang, bersyukur adalah jalan paling baik. Ia masih bimbang. Menerima tawaran beasiswa atau tetap di sini. Yoongi berharap, sikap ayah dan ibunya bisa berubah meski hanya sepersekian persen. Minimal membalas senyumnya tiap pagi, atau menyambut kedatangannya. Tidak boleh ya? Yoongi tertawa getir. Berharaplah terus, Yoongi, ia membatin sambil menertawakan kebodohannya.

KRING! KRING!

Ponselnya berdering. Tumben sekali.

To : Yoongi-sunbaenim

From : Park Jiminie

Sunbae, ayo ajari aku main piano. Ne? Besok aku tunggu di ruang Klub Musik!

Baru saja dipikirkan, anak itu sudah mengirimkannya pesan. Bukannya mau membagi nomor ponselnya sembarangan, tapi Jimin terus mengikutinya kemana-mana ibarat anak itik yang kehilangan induknya. Benar-benar mengesalkan! Yoongi terpaksa memberikan nomor ponselnya sebelum Jimin membuat kepalanya pecah akibat emosi yang tak tertahankan.

To : Jimin

From : Yoongi

Terserah kau, bocah.

Usai membalas pesan dari Jimin, Yoongi membaringkan tubuhnya. Dia ingin meneruskan mimpi naïf nya semasa SMA. Menjadi seorang musisi terkenal. Menghasilkan uang yang banyak agar kedua orang tuanya mau menerima kehadirannya. Klasik, bukan? Sejak lulus, Yoongi berhenti berangan dan menjalani kehidupan monoton sampai sekarang.

KRING! KRING!

To : Yoongi

From : Park Chanyeol

Kau menerima beasiswa yang ditawarkan Zhoumi-ssaem?

Dalam hati ingin membalas iya, tapi pikirannya melayang. Yoongi masih berusia sembilan belas tahun. Umurnya terbilang muda untuk memutuskan keluar dari kandang yang menampungnya selama dia bernafas dengan bebas. Kenapa Chanyeol harus menanyakan hal sensitive seperti ini? Batinnya kesal.

To : Park Chanyeol

From : Min Yoongi

Aku tidak tahu. Bagaimana menurutmu?

Belum dua menit sudah ada balasan dari seniornya itu. Sepertinya menganggur. Ah, Yoongi lupa, Chanyeol masuk kategori orang tanpa pasangan. Apa namanya? Single? Mungkin begitu.

To : Yoongi

From : Park Chanyeol

Terima saja. Kau bisa tinggal bersamaku.

Tunggu dulu.

Tinggal bersama Chanyeol? Berdua saja? Di Swiss?

Yoongi mendadak pening dan memutuskan untuk menyingkirkan ponselnya dari pandangannya. Jawaban dari Chanyeol berdampak besar untuknya. Bukan. Yoongi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Chanyeol. Sungguh. Hubungan mereka hanya sebatas senior-junior di Klub saja.

"Tidur Yoongi, dengan tidur kau bisa merilekskan pikiranmu. Ya, kau harus tidur."

Saking peningnya Yoongi memutuskan untuk tidur dan melarikan diri dari kenyataan yang harus dia terima. Lihat saja reaksi Chanyeol besok. Kalau reaksinya biasa saja tanpa ada tanda-tanda bahaya, Yoongi juga akan bersikap biasa. Tapi beda lagi kalau reaksinya tidak normal. Hanya Tuhan yang tahu apa isi kepala Park Chanyeol.

.

.

.

"Sunbae! Annyeong! Mau ke ruang Klub Musik kan?"

Yoongi tidak tahu, sejak kapan Taehyung rajin sekali menemaninya ke lantai tiga hanya untuk mengobrol. Juniornya itu mengganti warna rambut sebulan setelah ia resmi menjadi anggota Klub Musik, sekarang warna rambutnya cokelat tua. Yoongi tidak terkejut jika Jimin juga ikut mengganti warna rambutnya. Tapi, untuk apa dia peduli? Mempedulikan Jimin hanya buang-buang waktu.

"Yoongi-sunbae, aku dengar dari senior, ada yang menawarkan beasiswa-"

Yoongi tahu arah pembicaraan Taehyung.

"-apa sunbae juga ditawari? Kalau iya, sunbae bersedia ke luar negeri?"

See? Dengan mudahnya Taehyung menanyakan hal sensitive untuk Yoongi.

Mulutnya hampir menjawab pertanyaan Taehyung sebelum teriakan heboh datang dari arah ruang Klub yang kini berjarak satu meter.

"Yak Alien! Bisa-bisanya kau mencuri Yoongi-sunbaenim dariku!"

Park Jimin. Siapa lagi? Dan benar dugaan Yoongi, Jimin mengganti warna rambutnya yang semula abu-abu menjadi merah muda. Oke, dia memang terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya, tapi tidak membuat Yoongi terpesona. Tidak sama sekali.

"Enak saja! Kau itu siapa seenaknya mengklaim Yoongi-sunbae?!" Taehyung balas berseru emosi.

"Hei aku sudah membuat janji dengannya semalam! Kau itu memang perebut!"

Tolong, siapapun, Yoongi lelah menangani dua orang ini. Dia memasuki ruang Klub Musik yang selalu sepi namun sosok Chanyeol semakin membuat Yoongi lemas di tempat. Tidak ada yang berubah. Chanyeol masih sama. Tinggi yang tidak wajar sampai Yoongi ingin memotong kakinya, style busana yang fresh dan tatanan rambut yang sama seperti kemarin. Tidak ada yang berubah.

"Yoongi-a, masih ingat dengan pertanyaannku semalam?"

Hening.

"Maaf, aku terkena amnesia sementara akibat terbentur meja."

Chanyeol tertawa kecil, ia menghampiri Yoongi dan mengacak rambutnya pelan. Ada satu rahasia kecil antara Chanyeol dan Tuhan. Ya, rahasia kecil mengenai perasaannya terhadap Yoongi. Rahasia yang takkan pernah ia bagi. Chanyeol menyukai Yoongi dan memendam perasaannya selama satu tahun. Semenjak Yoongi menjadi anggota Klub Musik dan memukau dirinya dengan permainan piano yang menyedihkan. Bagus kalau Yoongi belum sadar akan hal itu. Karena Chanyeol ingin menyatakan perasaannya jika Yoongi menerima tawaran beasiswa di Swiss, dia baru bisa mengungkapkan isi hatinya dan siapa tahu Yoongi juga mau menjadi kekasihnya, iya kan?

"Lupakan saja, kau ini pasti tidur larut malam kan? Dasar, jaga kesehatanmu, Yoongi-a."

"Aku bukan anak kecil, Chanyeol. Ingat itu."

"Hei, aku lebih tua darimu tahu."

Mereka tidak sadar percakapan mereka disaksikan oleh dua orang yang kini membeku di depan pintu. Taehyung dan Jimin. Terlebih Jimin yang tidak menyangka sikap Yoongi bisa selembek itu jika bersama Chanyeol. Apa-apaan? Kurang mempesona apa dia? Kenapa Chanyeol bisa dengan bebas menyentuh tubuh Yoongi? Mulanya Taehyung memang kesal, tapi perasaannya di dominasi oleh rasa penasaran karena tatapan Jimin tak lepas dari Chanyeol dan Yoongi. Tatapan mata Jimin terasa menusuk dan dingin.

"Hoi, Jimin."

Diam.

"Jimin-a."

Masih tidak ada respon. Jimin begitu fokus melihat interaksi antara Chanyeol dan Yoongi sampai tidak mendengar panggilan Taehyung yang jelas-jelas ada di sampingnya.

"Park Jiminie!"

Tersentak, Jimin menolehkan kepalanya dan membalas delikan maut dari Taehyung. Wajahnya seolah berkata 'Kau ini berisik sekali.'

"Jangan bilang kau menyukai Yoongi-sunbae?! Serius, Jiminie?"

Jimin jelas terlihat terganggu. "Apa maksudmu? Tidak mungkin aku menyukai Yoongi-sunbae!" dia membalas ketus dan melangkahkan kaki menjauhi ruang Klub Musik. Taehyung mengekori langkahnya dan terus menanyakan hal yang sama sampai akhirnya Jimin jengah dan menggeplak kepala sahabatnya itu.

.

.

.

Mata kuliah terakhir membuat Yoongi malas untuk pulang ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Biasanya Seokjin sudah membawakan kue kesukaannya dan mereka akan makan bersama sembari bersenda gurau. Ah, Yoongi merindukan kakak tertuanya itu. Ketika kakinya melangkah keluar dari gedung Universitas, Yoongi terkejut saat melihat Namjoon berdiri tak jauh dari gerbang seakan menanti dirinya. Dia tetap menawan seperti biasanya, Yoongi menambahkan dalam hati.

"Namjoon-ssi."

"Namjoon saja, jangan kaku begitu, Yoongi-a. Ah ya, Seokjin memintaku untuk menemanimu sambil makan kue, dia sedang menjalani shift sore sampai nanti malam. Kau keberatan?" Yoongi tersenyum tipis, Seokjin ternyata tidak pernah lupa akan kebiasaannya. Dia menyetujui ajakan kakak iparnya dan memasuki mobil Namjoon.

Setibanya di café langganan Yoongi dan Seokjin, Namjoon begitu baik hati karena mau membukakan pintu mobilnya untuk Yoongi. Adik iparnya itu terlihat bergumam sambil menatap dirinya.

"Jadi, ada perkembangan?"

"Kalau kau bertanya mengenai sikap eommadan appa, maka jawabannya tidak."

"Kau sudah menyerah?"

"Aku belum berniat menyerah sebelum tubuhku hancur."

Namjoon tertawa, ia tak menyangka sikap Yoongi bisa menjadi menyenangkan. Kata Seokjin, pribadi Yoongi memang dingin dan tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain. Dia cenderung menyendiri. Namjoon suka dengan sifat Yoongi yang bebas mengekspresikan dirinya. Namjoon ingin agar Yoongi tidak terus-terusan memasang topeng di wajahnya. Lihatlah, orang yang suka menyendiri itu kini memakan kue seperti anak kecil.

"Pelan-pelan makannya, Yoongi-a. Aku tidak akan meminta jatahmu."

Yoongi mendongak dan mengerjap, dia langsung mengumbar senyum malu-malu saat Namjoon mengusap sudut bibirnya yang belepotan cream. "Gomawo, Namjoon."

"Haha, tentu. Kau mau kue lagi? Seokjin mengancamku tidur di luar jika tidak membuatmu tersenyum hari ini, Yoongi-a. Istriku itu kejam sekali." Namjoon mengeluh sambil menopang dagu, disambut kekehan geli dari Yoongi yang sudah bisa menebak sifat kakaknya.

"Seokjin-hyung memang begitu, biarkan saja. Yang penting kan aku sudah tersenyum hari ini. Aku benar-benar berterima kasih, Namjoon."

Namjoon tersenyum lebar. Tangannya mengacak surai platina Yoongi. "Anytime. Kau bisa menghubungiku kapan saja, Yoongi-a."

Hari itu, Yoongi merasa bahagia. Ternyata Seokjin sangat beruntung karena menemukan orang sebaik Namjoon. Dan Yoongi sepertinya bisa tenang, kebahagiaan Seokjin menular padanya. Tapi, itu semua awal dari bencana yang akan ia alami. Ketenangan seperti itu adalah permulaan sebelum badai datang.

.

.

.

"Aku pulang-"

PLAK!

Suara tamparan memenuhi ruang tamu. Yoongi tidak mengerti letak kesalahannya sampai ayahnya menampar pipinya. Dia tidak tahu penyebab tangisan ibunya dan dia lebih tidak paham akan situasi yang tengah ia hadapi.

"Kau! Benar-benar aib! Bagaimana bisa kau bermesraan dengan kakak iparmu sendiri?! Dimana otakmu, Min Yoongi?!"

Kedua mata Yoongi membelalak seketika. Bermesraan? Dia? Dengan Namjoon?

"Kami mendapat kiriman foto dari seseorang, kau tengah makan berdua dengan Namjoon di sebuah café iya, kan?"

Foto? Dari siapa?

"Yoongi, eomma mengerti bila kau tidak suka akan pernikahan Seokjin tapi jangan hancurkan kebahagiaannya!"

"Tunggu, aku tidak bermesraan dengan Namjoon, itu salah paham!"

PLAK!

Tamparan kedua datang dari Yoonji. Adiknya itu menangis tiada henti. Air matanya bercucuran dan tatapan matanya begitu tajam.

"Aku kecewa padamu, Yoongi. Kau benar-benar iblis!"

Cukup. Yoongi tidak tahan lagi.

"Memangnya aku tidak boleh menyukai kakak iparku sendiri, ya?" ia menantang dan mengulas senyum sinis. Ayahnya kembali tersulut emosi dan mencengkram erat kerah kemejanya.

"Harusnya aku menolak untuk membesarkanmu! Keberadaanmu adalah dosa besar! Kau tidak sepatutnya lahir di dunia ini, Min Yoongi!"

DEG!

Dia tidak sepatutnya lahir? Kenapa? Yoongi masih betah tersenyum. Sepertinya ia harus menerima tawaran beasiswa dari Zhoumi-ssaem.

"Jadi kehadiranku adalah kesalahan, begitu?" Yoongi bertanya lirih. Menatap sosok ayah dan ibunya tanpa rasa takut. Hatinya hancur. Hancur tanpa bisa di satukan lagi. Yoongi kehilangan nuraninya sebagai manusia.

"Ibumu nyaris mati karenamu! Harusnya aku memaksa dokter untuk menggugurkanmu! Karena kau, ibumu sempat koma! Karena kau, Min Yoongi!"

Oh, benar-benar mengejutkan, batin Yoongi. Benar dugaannya. Berharap tanpa memikirkan kepastiannya memang idiot. Yoongi tertawa, dia tertawa keras dan mengundang tanya dari ayah, ibu dan Yoonji. Yoongi tertawa dengan air mata mengalir membasahi pipinya.

"Sudah, kan? Kalau begitu biarkan aku tidur, besok aku ada kuliah pagi."

Yoongi menepis cengkraman ayahnya dan berjalan gontai menuju kamarnya. Malam ini, dia akan pergi. Ya, dia harus pergi secepatnya. Yoongi meraih ponselnya di saku dan mengirimkan pesan untuk seseorang.

To : Park Chanyeol

From : Yoongi

Ijinkan aku menginap di apartement mu malam ini.

.

.

.

Chanyeol terkejut ketika mendapati pesan dari Yoongi. Dan lebih terkejut saat pintu apartementnya diketuk pelan padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dia benar-benar datang? Chanyeol tidak habis pikir. Pasti sesuatu telah terjadi.

"Yoongi-a, kau kenapa? Ya Tuhan di luar sangat dingin, masuklah."

Yoongi membawa satu koper berukuran besar, dan satu tas ransel berwarna hitam. Ia mengenakan pakaian seadanya ditambah sebuah jaket melindungi tubuhnya dari angin malam. Chanyeol memberi segelas cokelat panas untuk menghangatkan suhu tubuh Yoongi.

"Hei, kau kenapa? Ceritakan padaku, Yoongi-a."

Bibir Yoongi bergetar, dan ketika bibir mungil itu terbuka dan menjelaskan semuanya, Chanyeol segera memeluk Yoongi. Ia memeluk Yoongi dan menerima tangisan dari Yoongi. Mereka mempertahankan posisi itu selama kurang lebih tiga puluh menit. Yoongi kehabisan air mata dan tertidur kelelahan. Saat itulah Chanyeol bertekad untuk melindungi Yoongi apapun yang terjadi. Dia akan memaksa Yoongi menerima beasiswa di Swiss agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Persetan dengan kedua orang tua Yoongi. Chanyeol hanya ingin Yoongi-nya bahagia.

"Gwenchana, Yoongi-a. Kau aman bersamaku."

.

.

.

Yoongi sendiri sibuk memikirkan saran Chanyeol, ia berkali-kali mengecek ponselnya, berharap akan ada yang mencarinya. Tapi nihil. Tidak ada notifikasi apapun. Ini memperkuat niatnya untuk segera meninggalkan Seoul dan hidup bersama Chanyeol. Ia hendak berjalan menuju ruang dosen di lantai dua. Namun sebuah suara menarik perhatiannya. Suara yang sangat familiar.

"Hei, apa kau serius, Jim? Kau sungguh-sungguh melakukan hal itu?"

"Ya, aku yang mengirim foto Yoongi-sunbae ke Yoonji kemarin. Keren, kan?"

Jadi yang mengirim foto adalah….

….Park Jimin?

Oh Yoongi, sudah berapa orang yang bersikap palsu di depanmu? Sudah berapa orang yang begitu tega menyakiti hatimu? Yoongi, tidakkah kau merasa lelah? Tidakkan kau merasa hidup ini begitu sia-sia? Yoongi menggeleng, mengenyahkan pikiran itu. Ia tetap mendengarkan percakapan Taehyung dan Jimin.

"Kenapa kau lakukan itu, dude? Apa salah Yoongi-sunbae padamu?"

"Aku kan mendekatinya karena Yoonji. Aku bertemu dengan Yoonji di pesta pernikahan Namjoon-hyung dan langsung menyukai gadis itu. Saat kau bilang ada senior bernama Yoongi aku langsung penasaran dan ingin mendekatinya. Tidak lebih karena ia kumanfaatkan."

Bagus sekali aktingmu, Jimin, Yoongi memuji dalam hati setengah lagi karena dia sudah kepalang emosi. Lucu sekali, bukan?

"Dude, kalau kau begini aku jadi malas berteman denganmu. Kau tidak kasihan bila Yoongi-sunbae tahu?"

"Dia tidak akan tahu percaya padaku, Tae."

"Tapi nyatanya aku tahu, Jimin."

Yoongi keluar dari tempat persembunyiannya. Ia menatap geli Jimin dan Taehyung yang gelagapan. Wajah mereka lucu sekali.

"S-sunbae? Tunggu, kami bisa jelaskan." Taehyung kelihatan gugup, tapi Jimin tetap tenang, seolah menantikan hal ini terjadi. Dia tetap tenang dan berjalan mendekati Yoongi.

"Benar, sunbae. Aku hanya mendekatimu untuk mendapatkan Yoonji. Kau dengar aku?"

"Oh tentu saja aku mendengarmu, Park Jimin." Yoongi menyahuti santai. Tangannya menepuk bahu kokoh Jimin dan berjalan melewatinya, dan tak lupa melemparkan senyum tulusnya untuk Taehyung sebelum dia memasuki ruang dosen. Sebelum dia benar-benar akan pergi. Yoongi membuang namanya dan membuktikan pada dunia, usaha takkan pernah mengkhianati hasil.

.

.

.

Tujuh tahun kemudian.

Musisi pendatang itu bernama Suga. Berasal dari Swiss. Namanya tersusun dari empat huruf tanpa ada pengenalan lebih lanjut. Dia direkrut oleh agensi terbesar dari Korea Selatan setelah merangkak dari nol hingga posisinya saat ini. Namanya Suga. Fansnya jutaan. Setiap lagu yang dia keluarkan, menguasai puncak chart music Internasional. Namanya Suga, misterius dan tidak ada yang tahu mengenai latar belakang keluarga maupun pendidikannya. Dia selalu memakai masker ketika keluar agensi, mengenakan topi dan menurut pengakuan beberapa orang yang pernah mendengar suaranya, Suga memiliki suara berat yang seksi. Sudah tujuh tahun, dan Yoonji sudah memasuki usia dua puluh lima tahun, menyerah pada mimpinya menjadi aktris karena berkali-kali di tolak oleh agensi impiannya dulu. Yoonji iri akan sosok Suga yang tanpa perlu susah payah berhasil menjadi bagian dari Big Hit Ent.

Tujuh tahun, dan Seokjin marah besar atas sikap kedua orang tuanya yang jelas-jelas salah paham. Namjoon tidak mungkin bermesraan dengan Yoongi! Justru dia yang menyuruh suaminya itu untuk menemani Yoongi! Seokjin berhenti berkunjung ke rumah orang tuanya selama tujuh tahun dan akan terus berlanjut hingga adiknya itu muncul kembali.

"Beri tahu aku kenapa kau susah payah menyembunyikan jati dirimu, Yoongi-a?" tanya seorang menager yang ditugaskan untuk menemani musisi jenius itu. Suga, atau begitu panggungnya, pria yang mengalami siksaan mental selama sembilan belas tahun, yang kabur dari rumah akibat egoisme kedua orang tuanya. Suga, yang memiliki nama lengkap, Min Yoongi.

"Karena Min Yoongi sudah mati. Aku yang membunuhnya." Jawab Suga tenang. Rambutnya yang semula pirang platina, kini berwarna hijau tosca, dua tindikan di telinga kiri dan tiga tindikan di telinga kanan adalah bukti perubahannya. Yoongi dan Suga ibarat dua orang yang berbeda. Suga lebih kelam dan dingin, tidak suka ketika ada yang seenaknya menyentuh tubuhnya. Suga tidak pernah tersenyum setulus ketika ia menyandang nama Min Yoongi.

"Yoongi-a…"

"Min Yoongi sudah mati, Sejin-ssi. Jangan memanggilku dengan nama itu lagi atau aku akan meminta pihak agensi menggantikanmu." Suga meremas minuman berkaleng di tangannya. Ia baru saja menyelesaikan satu lagu untuk sebuah grup band. Studionya ada di lantai teratas gedung agensi, ruangan khusus tempat ia mengeksplorasi pikirannya. Studio Suga didominasi oleh perabotan berwarna hitam. Lampu hanya dinyalakan ketika Suga mulai merasa penat dan ingin istirahat. Selebihnya gelap. Menikmati posisi nya saat ini sungguh membuat Suga ingin mengenang masa lalunya. Chanyeol berhasil melupakannya dan menikahi seorang lelaki imut bernama Baekhyun dua tahun lalu. Dan Suga sendiri masih betah sendiri. Ia ingat, dulu ketika di Swiss, dia harus mati-matian bertahan hidup, bekerja part-time sampai kelaparan. Tujuh tahun bukan waktu yag sedikit. Umurnya mencapai dua puluh enam tahun, dan ratusan pesan telah ia terima dari nomor Seokjin. Suga terlalu pengecut sampai tidak berani membalas pesan dari kakaknya itu dan memutuskan untuk membacanya saja.

Suga ingin menertawakan masa mudanya. Terbuang secara percuma. Agensinya adalah agensi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia hiburan. Suga tidak ingin menyia-nyiakan hal ini. Meski pihak agensi kerap menyinggungnya untuk mengadakan fan meeting, Suga menolak. Dia belum siap menanggapi reaksi dari jutaan fans yang bahkan belum pernah melihat wajahnya. Ada satu lagi perubahan dalam diri Suga, ia membuat sebuah tato di belakang telinga kirinya, tato yang merupakan inisial nama seseorang yang amat ia benci.

PJM

Park Ji-Min.

Satu nama yang kerap muncul dalam mimpi buruk Suga. Membuatnya terpaksa mengkonsumsi obat anti-depresan dua kali sehari. Untuk itulah Suga memberikan tanda pada dirinya, jika Park Jimin akan menjadi orang yang harus ia benci melebihi siapapun. Kata Sejin, manajer yang sering ia salah gunakan sebagai informan, Jimin sekarang menjadi dosen di Universitas Seoul. Rambutnya berganti warna lagi menjadi oranye terang. Suga tertawa. Sosok Jimin menjadi semakin tampan dan mendapat predikat dosen paling popular di sana. Taehyung? Suga tidak heran ketika Sejin bilang ada seseorang yang berkali-kali mencarinya dan memaksa masuk gedung agensi. Taehyung berspekulasi jika Suga adalah Min Yoongi yang menghilang selama tujuh tahun. Benar. Kesimpulannya kelewat benar sampai Suga nyaris menghuni bangsal penuh pesakitan jiwa. Tidak. Suga tidak mau bertemu dengan Taehyung.

"Suga-ssi…"

Suga menoleh, "Ada apa, Jihoon?" dia bertanya pada penyanyi terkenal yang sedang naik daun.

"Kau mau makan siang bersama?"

Suga menggeleng kecil sebagai tanda penolakan halus. Dia ingin makan siang sendiri saja untuk menikmati suasana kota Seoul yang sudah ia tinggalkan selama tujuh tahun.

"Aku mau ke café langgananku, kau duluan saja, Jihoon."

Jihoon kecewa, dan berbalik menjauh.

.

.

.

Seokjin sedang menikmati waktu makan siangnya seorang diri. Namjoon sibuk mengurusi perusahaannya dan satu-satunya jalan adalah ke café langganannya dan Yoongi dulu.

Ya, Yoongi, adiknya yang manis, yang suka menyendiri dan memiliki gummy smile yang menawan. Adiknya yang terlalu lelah sampai melarikan diri entah kemana.

"Kau, sekarang jadi adik yang jahat, Yoongi-a."

"Terima kasih pujiannya, Hyung."

Seokjin sepertinya merindukan Yoongi sampai berhalusinasi mendengar suaranya. Tapi itu sungguh terdengar begitu nyata. Seperti Yoongi ada di belakangnya! Sudahlah, mungkin aku lelah, pikir Seokjin berbalik badan dan hendak memasuki café langganannya, sebelum seseorang menghadang langkahnya. Rambutnya hijau tosca, ada tindikan di kedua telinganya, jaket kulit berwarna hitam dan masker yang menutupi seluruh wajahnya. Sepertinya tidak asing, tapi siapa? Seokjin berpikir keras sampai sebuah nama terlontar dari bibirinya.

"Suga…."

Suga, tentu Seokjin tahu reputasi musisi terkenal itu. Yoonji sering merengek dan berceloteh betapa ia iri dengan Suga. Betapa adik perempuannya itu penasaran dengan rupa sang musisi yang kini merajai dunia hiburan.

"Kau kenal denganku, Seokjin-ssi?"

Suga tahu namanya? Suga si orang terkenal tahu namanya?

"Ini aku, Hyung. Ini aku…"

Suara itu. Suara yang hanya dimiliki adiknya.

"Y-Yoongi-a…?"

Hening.

Suga menarik pergelangan tangan Seokjin untuk memasuki café dan mengajaknya duduk berhadapan.

"Katakan padaku kemana saja kau selama tujuh tahun, anak bodoh!" seru Seokjin kesal, bercampur senang dan lega. Tangannya memukul kepala Suga sebelum mengusapnya penuh kelembutan. Suga tidak bereaksi. Sebelum tangan Seokjin menjauh dari kepalanya, Suga menggenggam tangan Seokjin, meremasnya lembut seolah mencoba menghantarkan rasa sayang.

"Yoon-"

"-namaku Suga, tolong ingat itu, Seokjin-ssi."

Seokjin tersentak, dan mengerti, ia mengangguk paham. Senyumnya tak pernah luntur sejak sosok Suga muncul. Suga. Atau, adiknya dengan nama yang lain. Adiknya dengan kehidupan yang jauh lebih baik. Seokjin tak menyangka sebesar ini perubahan Suga. Begitu bebas dan liar. Berbeda jauh dengan sosok Yoongi. Dan entah kenapa, Seokjin merasa lega.

"Aku mengerti, maafkan aku, Suga."

"…."

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik."

Suasana nya canggung. Seokjin kehabisan bahan obrolan karena ini bukan sosok adiknya yang dulu. Dia kelabakan dan mengundang tawa kecil dari Suga.

"Aku ada rekaman sebentar lagi, kuharap harimu menyenangkan, Hyung."

Suga pergi begitu saja, setelah melihat beberapa orang yang memperhatikannya dan mengira bila ia adalah actor terkenal. Suga meninggalkan Seokjin dalam kebisuan dan perasaan aneh dalam hatinya. Adiknya itu sudah dewasa ternyata. Seokjin tersenyum sekali lagi, ia menyesap kopi pesanannya dan memandangi jalanan.

.

.

.

Tidak ada rekaman hari ini. Suga hanya beralasan, ia ingin mengunjungi suatu tempat yang memiliki kenangan pahit untuknya. Rekamannya dijadwalkan minggu depan, bersama beberapa penyanyi solo dari agensi. Tapi biarkan saja, toh Suga sudah menyalami kakaknya. Dia sudah berani menunjukkan eksistensinya. Dan sekarang, ya, sekarang waktunya menghapus traumanya. Suga benar-benar dalam kondisi bahaya karena keluar seorang diri tanpa kawalan bodyguard dan Sejin selaku manajer.

"Pst, bukankah itu?"

"Oh benar, benar, itu Suga!"

"Apa yang dilakukannya di Universitas Seoul?"

Bisik-bisik mahasiswi menyinggung gendang telinganya, namun Suga tetap berjalan menuju tangga dan berniat untuk ke lantai tiga. Ruang Klub Musik sepi seperti biasanya. Suga memasuki ruang tersebut dan membuka pintunya perlahan. Sepertinya tidak ada kegiatan klub, dan piano itu masih saja ada di sana. Piano lamanya. Piano yang didedikasikan untuknya. Suga menutup pintu, ia menurunkan maskernya sampai dagu dan menatap rindu suasana ruang Klub. Ia duduk di depan piano dan mulai meggerakkan jemarinya. Lantunan pianonya masih sama, masih semenyedihkan dulu namun terselip kerinduan dan kecemasan. Banyakyang mencoba memasuki ruang Klub musik, mereka berdesakan dan meneriakkan nama Suga berkali-kali. Sampai akhirnya,

"Hei ada apa ini? Harusnya kalian masuk kelas. Kenapa malah berkumpul di sini?"

"Itu em…maaf Park-ssaem, kami hanya ingin melihat seseorang."

Jimin, tersenyum manis. Mencoba meluluhkan mahasiswi yang kini girang tak karuan. Mereka menuruti perkataannya dan kembali ke kelas masing-masing. Jimin menggeleng maklum, kakinya mendekati ruang klub Musik dan membuka pintunya perlahan.

"Siapa yang membuat muridku sampai heboh begini, hm?"

Seusai mengucapkan kalimat itu, Jimin terpaku dan benar-benar membeku setelah matanya melihat sesosok yag berasal dari masa lalu kini muncul kembali. Rambutnya berubah, tidak lagi memasang wajah ketus dan datar, tidak lagi menguarkan aura permusuhan. Semua itu seolah hilang dari sosok yang kini menatapnya dengan lembut. Jimin terlampau tahu siapa itu. Suga. Ah, bukan. Lebih tepatnya,

"Yoongi-sunbae…"

Tamat

.

.

.


Note : Panjang ya? Haha, endingnya gantung? Hmm, mau dibuatin sequel? Boleh sih, tapi ngantri dulu ya? *plak* percayalah chapter ini saya kerjakan kurang dari sehari, saya ngebut sampe kenak omelan dan yah untung aja lancar *bow* sebenernya ini saya lagi galau, uh galau karena pesenan saya masih stuck di bea cukai Korea. Saya maklum sih, emang prosesnya butuh dua minggu bahkan sebulan. Tapi saya gak sabar pengin make W. dressroom nya Jungkook :3 katanya baunya itu enak, saya gregetan dan beli deh. Tapi udah seminggu lebih menanti :") *abaikan* oke sampai jumpa di fanfic saya yang lain!

Regards,

Amanda Lactis