[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

LOVE STORY OF BAEKHYUN

백휸의 사랑 이야기

Baekhyun X Chanyeol (GS)

.

Remake story by Shin Je Wo

.

WARNING ! Ff ini mengandung kata-kata yang tidak cocok untuk chingudeul yang berusia 17 tahun kebawah..

.

제 02 하

.

.

Baekhyun menggeliat pelan dalam tidurnya, merasa tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Ya, wanita itu baru saja tertidur dua jam yang lalu, mengingat permainan yang diminta oleh Chanyeol seakan tak ada habisnya semalaman ini. Ia merasakan ada lengan hangat yang menggelayut pada pinggangnya. Kedua matanya mulai terbuka, masih tampak sayu. Ia menoleh kesamping dan menemukan wajah damai pria yang tertidur disampingnya.

Sudut bibir Baekhyun tertarik sempurna, kembali teringat dengan malam panas yang baru saja mereka lalui. Entah berapa kali pria itu mengganti kondomnya yang terasa penuh dan anehnya, Baekhyun tidak merasa jenuh melayaninya.

"Wajahnya tampak damai." Gumamnya serak.

Wanita itu merapatkan bibirnya saat merasa gerakan pelan dari pria itu. Chanyeol menggeliat dalam tidurnya, menarik tubuh Baekhyun semakin merapat padanya. Wanita itu tersenyum kecil merasakan pelukan hangat pria itu. Masih sama, terlalu protektif. Dan lagi-lagi, wanita itu sama sekali tidak keberatan.

Baekhyun selalu merasa jenuh dan bosan pada setiap pelanggannya jika meminta percintaan lebih dari tiga kali. Namun malam ini, Park Chanyeol sama sekali tidak meminta dan hanya melakukan apa yang ia inginkan pada tubuhnya. Dan itu ia lakukan lebih dari enam kali.

"Ya Tuhan," gumam Baekhyun setengah memekik ketika melirik jam dinding, "Sudah pukul sembilan pagi?"

Baekhyun berusaha menyingkirkan lengan Chanyeol yang masih memeluknya erat. Dengan hati-hati tanpa ingin membangunkan pria itu, ia merangkak turun dari ranjang. Mengutupi pakaiannya yang berserakan di lantai. Setelah berpakaian lengkap dan memperhatikan penampilannya, ia meraih tas tangannya dan melirik Chanyeol yang masih tertidur pulas, "Semoga harimu indah." Ucapnya pelan sebelum pergi meninggalkan kamar itu.

.

.

Senyuman Baekhyun tak berhenti terkembang, ia melenggang dengan santai seakan tak memiliki beban apapun lagi diatas punggungnya. Wanita itu mulai membayangkan kehidupan normalnya setelah ini di rumah sederhana miliknya dan adik perempuannya, Byun Baekji . Selama ini, ia memang selalu bekerja demi Baekji yang sedang melangsungkan sekolahnya. Bahkan gadis itu sedang mengurus pendidikannya di salah satu Universitas terkemuka dinegara itu.

Baekji tinggal bersama seorang wanita bernama Hae-young. Hae-young adalah bibi mereka. Wanita bertubuh gempal itu tinggal dirumah Baekhyun untuk menjaga Baekji selama ia bekerja. Sayangnya, suami dari wanita baik itu membuat masalah beberapa bulan yang lalu. Surat tanah rumah Baekhyun ia gadaikan demi kesenangan hidupnya dan setelah itu ia pergi melarikan diri.

Hae-young merasa sangat malu atas kelakuan suaminya, namun Baekhyun sama sekali tak ingin menyalahkannya. Hae-young sudah terlalu baik padanya dan juga Baekji. Oleh karena itu ia lebih memilih menebus surat tanah itu pada seorang rentenir. Angkanya tidaklah kecil, 7 Juta Won. Hingga Baekhyun harus mempekerjakan tubuhnya sedemikian rupa demi mengumpulkan uang sebanyak itu. Belum lagi ia harus mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan adik perempuannya.

"Semuanya akan segera selesai setelah ini" Desahnya gembira.

Baekhyun merogoh tasnya saat merasa ada getaran dari sana, ia menatap layar ponselnya yang menampakkan nama si penelepon. Baekji, "Annyeong?"

"Eonni, cepatlah pulang. Disini benar-benar kacau!" teriakan Baekji membuat dahi Baekhyun berkerut. Belum lagi ia sempat mendengar teriakan-teriakan dari sana.

"Waeyo, apa yang terjadi?" tanya Baekhyun bingung. "Ahjussi, Jongdae Ahjussi datang dan mengacau."

.

.

.

.

.

Chanyeol mencampakkan sebuah file pada wajah sekertarisnya dengan kasar hingga wanita itu terperanjat. Wajahnya menatap penuh amarah pada wanita yang sudah gemetar karena ketakutan olehnya, "Apa kau kubayar untuk ini?" desisnya dengan gigi yang saling bergemeretak, "Bagaimana bisa kau salah dalam mengatur jadwalku?! Hal semudah ini saja kau tidak bisa melakukannya, Miss. Kim?" suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.

Chanyeol mengangkat gagang teleponnya, menekan satu tombol dan kini ia telah tersambung dengan seseorang, "Sungwoon, keruanganku sekarang." Perintahnya.

Tidak butuh menunggu lama, Sungwoon telah tiba di ruangannya. Melirik sekitar dan lebih menjadikan Kim Haera, sekertaris atasannya sebagai obyek pandang utama. Ia berjalan beberapa langkah hingga berada di samping Chanyeol yang duduk di pinggiran kursinya. "Ada masalah, Tuan?"

"Ya, cepat singkirkan dia dari perusahaanku dan carikan aku segera sekertaris baru." Jawabnya tenang.

Pekikan tertahan terdengar dari Kim Haera. Ia menatap Chanyeol memohon namun pria itu sama sekali tidak memandangnya. Hanya Sungwoon yang tampak meliriknya sekilas sebelum mengangguk singkat pada Chanyeol.

"Agasshi, sebaiknya kau ikut denganku."

"Tidak!" jawab Haera cepat, "Mr. Park, kumohon maafkan aku. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan bekerja dengan baik." Mohonnya.

Tapi Chanyeol tidak bereaksi. Lalu Sungwoon dengan cepat menyeret Haera dari sana agar Chanyeol tidak lagi menemukan gadis itu di hadapannya.

"Sial!" umpatnya kasar ketika ia kembali menghempaskan diri pada kursi kerjanya. Ia memijit dahinya pelan saat lagi-lagi bayangan Baekhyun melintasi ingatannya. Ia kembali teringat pada percintaan panas mereka tadi malam, tapi pagi ini gadis itu berhasil membuat moodnya memburuk beratus kali lipat. Pasalnya, Chanyeol tidak dapat menemukan Baekhyun dimanapun ketika ia membuka mata. Ia bertanya pada Sungwoon pria itu menjawab jika Baekhyun memang pergi meninggalkan hotel pukul 9 pagi saat ia masih tertidur.

.

.

.

.

"Kita laporkan saja dia pada polisi. Pria brengsek itu harus menerima akibatnya!" geram Baekji dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi. Ia duduk di atas lantai yang kini telah tampak bersih setelah Hae-young membersihkan semua pecahan barang-barang.

Baekhyun belum bersuara. Ia masih duduk diam menyandar pada sudut dinding dengan kedua kaki saling bertekuk. Bibirnya seakan kelu untuk sekedar bicara. Hanya melemparkan pandangan kearah luar jendela.

"Aku yakin dia masih berada di sekitar sini untuk kembali berjudi dan memamerkan uang curiannya pada semua teman-temannya. Dan kupikir kita bisa pergi kesana untuk mencari keberadaannya. Aku tau dimana ia sering..."

"Tidak, Baek." Sela Baekhyun meski ia masih menatap keluar jendela.

"Tidak?" erangan Baekji terdengar, "Lalu saat ini apa yang akan kita lakukan?!" teriaknya.

Melihat itu, Hae-young segera menghampiri Baekhyun. Ia duduk menghadap gadis itu hingga akhirnya Baekhyun menoleh padanya, "Jangan cemaskan aku. Dia sudah tidak berarti lagi bagiku, Baekhyun. Lebih baik pikirkan masalah rumah ini dan adikmu. Kupikir dia benar, satu-satunya cara untuk menghentikannya hanyalah melaporkannya pada polisi." Ujar wanita itu lirih.

Baekhyun menggeleng pelan dan berusaha tersenyum, "Tapi dia masih suamimu, Ahjumma. Aku tidak ingin melakukan itu. Lagi pula, kita tidak tahu bagaimana nasib uang itu saat ini. Mungkin saja dia telah menghabiskannya dan usaha kita melaporkannya hanya sia-sia." Baekhyun menggenggam kedua tangan Hae-young

"Tapi..."

"Masalah rumah ini biar aku yang tangani."

"Caranya?" sela Baekji.

Baekhyun menarik nafas panjang, "Aku akan kembali pada Sooman." Desahnya.

"Tidak!" pekik Baekji histeris. Ia segera berdiri dan berjalan mendekati Baekhyun. Berdiri penuh amarah di hadapan kakaknya, "Kau ingin menjual dirimu lagi?! Sudah cukup, Eonni. Sudah cukup selama bertahun-tahun ini kau menjual dirimu layaknya seekor binatang. Aku tidak ingin melihatmu seperti itu lagi!" teriaknya dengan air mata yang mulai mengotori wajahnya.

"Tidak ada jalan lain, Baek. Kita harus menyelamatkan rumah ini dan pendidikanmu."

"Persetan dengan semua itu! Rumah dan pendidikanku tidak begitu penting dari padamu! Aku hanya butuh Eonni kembali hidup normal seperti dulu! Bukan Eonni yang menjadi seorang wanita panggilan!"

"Tapi rumah ini adalah peninggalan Eomma dan Appa! Tidakkah kau mengerti?" dada Baekhyun tampak bergemuruh menahan emosi yang membuncah. "Disini semua kenangan kita tentang mereka ada. Disini kita di lahirkan. Menurutmu apa kita harus kehilangan satu-satunya peninggalan Appa dan Eomma?! Lalu pendidikanmu! Kau tahu aku tidak lagi bisa menjalankan hidupku layaknya wanita normal. Lalu apa aku harus melihat adikku melakukan hal yang sama sepertiku?!"

"Aku bisa mencari pekerjaan selain itu, Eonni. Pendidikan itu tidaklah begitu penting."

"Tapi Appa dan Eomma menginginkan kau menjadi seperti itu!" Baekhyun berdiri dari tempatnya dan menatap Baekji penuh amarah, "Mereka ingin melihat kedua anaknya hidup dengan baik dan terhormat. Aku tidak bisa lagi mewujudkannya. Hanya kau yang tersisa, Baek. Hanya kau!"

"Jangan kau pikir setelah..."

"CUKUP!" Baekhyun mengangkat kedua tangannya agar Baekji berhenti bersuara, "Aku lelah dan tidak ingin berdebat. Aku akan keluar dan mungkin tidak akan kembali malam ini." Ia mengambil tas tangannya dan segera beranjak dari sana.

.

.

.

.

.

"Dia tidak bekerja lagi?" Chanyeol melemparkan tatapan menuntutnya pada Sungwoon yang mengangguk kecil. Setelah itu rahangnya tampak mengeras seiring sebelah tangannya melonggarkan ikatan dasinya. "Kenapa?"

"Aku menerima laporan jika kemarin malam adalah malam terakhir kalinya ia bekerja. Dan malam itu ia habiskan denganmu, Tuan." Jelas Sungwoon dengan suara rendah penuh kontrol.

"Kau sudah mencari tahu siapa gadis itu?" kini Chanyeol meraih segelas Wine yang berada di atas meja bar yang terdapat dalam rumahnya. Menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.

"Ya, tapi tidak begitu banyak."

"Apa itu?"

Sungwoon berdehem pelan, "Byun Baekhyun, 23 tahun. Tinggal di sebuah apartement kumuh di pinggiran kota. Namun memiliki sebuah rumah sederhana di Gwangju. Disana ada seorang wanita bernama Hae-young, Bibinya dan juga Byun Baekji, adiknya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal beberapa tahan yang lalu." Jelas Sungwoon singkat.

Dahi Chanyeol mengernyit, "Itu saja?"

"Ya, Tuan. Seperti yang kukatakan, tidak banyak informasi mengenai gadis itu karena latar belakang sosialnya yang tidak begitu baik. Beberapa kalangan hanya mengenalnya sebagai partner seks yang mengagumkan dan mereka tidak mau bersusah payah untuk mencari tahu latar belakang Baekhyun. Jika mereka ingin, maka hanya tinggal menghubungi Lee Sooman."

"Lalu dimana dia saat ini?" sambungnya.

"Ada yang mengatakan jika ia kembali ke Gwangju, namun setelah aku periksa dia tidak ada lagi disana. Beberapa orang mengatakan jika ia telah kembali meninggalkan rumah siang ini"

Chanyeol kembali memijat pelan dahinya. Pria itu kembali menginginkan Baekhyun sebagai partner seksnya. Belum pernah selama ini ia menggunakan seorang wanita untuk beberapa kali bercinta. Biasanya ia akan membuang wanita itu begitu saja dan tidak lagi mau memakainya. Tapi kali ini berbeda. Ia sangat menginginkan Baekhyun dalam dekapannya.

"Sungwoon." Panggilnya.

"Ya?"

"Cari lebih banyak lagi informasi mengenai Baekhyun. Lakukan apapun untuk mencari wanita itu dan segera bawa kehadapanku."

"Baik, Tuan."

Chanyeol mengangguk sekali, "Kau boleh pergi." Suruhnya.

Sungwoon tampak memandangnya ragu. Namun tatapan itu dapat di lihat oleh Chanyeol.

"Kenapa?"

"Maaf, sebelumnya Tuan. Tapi, apa malam ini kau tidak ingin pergi mencari wanita seperti biasanya? Kupikir biasanya tugasku akan selesai setelah itu." Jawan Sungwoon penuh sopan.

Chanyeol mendengus dan kembali meneguk wine miliknya, "Tidak! Byun Baekhyun telah membuatku tidak berselera untuk menatap wanita manapun lagi. Aku hanya menginginkan dia, Sungwoon. Maka itu kuharap kau bekerja dengan cepat."

.

.

.

.

Baekhyun berjalan cepat memasuki sebuah Bar dimana tempat ia bekerja seperti biasa. Tapi kali ini, tempat itu bukan lagi tempatnya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Ya, kemarin ia telah resmi keluar dari sana atas persetujuan Sooman. Namun, karena ulah Pamannya Jongdae ia harus kembali memohon pada Sooman untuk mempekerjakannya kembali dan sedikit melakukan negosiasi pada pria itu.

Batas waktu membayar uang pinjaman yang di lakukan Jongdae hanya tinggal beberapa jam lagi. Malam ini ia harus segera membayarnya dan jika itu tidak ia lakukan, maka ia dan adiknya akan kehilangan rumah itu begitu saja. Uang yang Jongdae pinjam bukanlah sedikit dan dia harus segera mendapatkannya siang ini. Tadi malam ia sudah pergi kesana untuk mencari Sooman, sayangnya pria itu memiliki kesibukan lain hingga Baekhyun terpaksa menundanya pagi ini.

"Taejin!" Baekhyun melambaikan tangannya pada seorang pria bertubuh tegap. Pria itu adalah kaki tangan Sooman selama ini.

Taejin membalas lambaiannya dan menyuruh Baekhyun mendekat. Suasana Bar saat ini cukup sepi meski masih ada beberapa pengunjung disana dengan pasangan masing-masing. Ada yang dalam keadaan mabuk dan ada juga yang dalam keadaan habis bercinta. Tapi Baekhyun tidak mempedulikan hal itu karena urusannya lebih penting saat ini.

"Dimana Mr. Lee?" tanya Baekhyun langsung.

Taejin membulatkan bibirnya, "Sooman? Ya Tuhan, aku lupa mengatakan padanya jika kau ingin bertemu. Maafkan aku, Baek. Tapi Sooman sudah pergi meninggalkan Seoul beberapa jam yang lalu." Jawabnya penuh sesal.

"A-apa? Ya Tuhan..." Baekhyun meremas rambutnya frustasi. Wajahnya semakin tampak pucat saat ini.

"T-taejin, apa kau tahu kemana dia pergi?"

"Ya. Sooman pergi ke Jepang."

Jepang? Aku tidak mungkin dapat mengejarnya... Gerutunya dalam hati.

"Baek, ada yang bisa kubantu? Wajahmu terlihat begitu pucat." Tegur Taejin.

Baekhyun menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat saat merasa sebentar lagi akan segera menangis. Tanpa menunggu lama ia segera meninggalkan Bar itu. Bagaimanapun ia tidak mau ada yang melihatnya menangis.

Baekhyun berjalan gontai menyusuri jalanan ramai penuh sesak. Semua orang berjalan cepat, saling berlomba satu sama lain mengejar waktu. Ya, Times is money. Begitulah anggapan mereka. Tapi saat ini, bagi Baekhyun waktu adalah neraka. Semakin berjalannya waktu maka semakin cepat ia menghantarkan diri pada nerakanya. Waktunya masih tersisa tapi ia tidak dapat melakukan apapun. Sooman satu-satunya orang yang mungkin dapat membantunya, kini tidak bisa di harapkan. Pria itu saat ini tengah melakukan perjalanan jauh.

Baekhyun menyeka sebelah pipinya saat air matanya menetes membasahi. Bayang-bayang wajah kedua orang tuanya melintas tak terkendali. Wajah pucat Baekji kemarin dan Hae-young turut membuat kepalanya terasa nyeri hingga akhirnya, ia merasa bumi berputar begitu cepat dan semuanya menjadi gelap.

.

.

[TBC]

.

.

Author's Note :

Annyeong!

Akhirnya setelah menyelesaikan fanfic yang sebelumnya, sekarang aku lanjut up fanfic ini :)

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa untuk meninggalkan review yup! Bakal selalu aku baca kok :)

Don't be siders! Sampai jumpa di Chapter selanjutnya :) :)

-ByunYeol-