Naruto belongs to Masahi Kishimoto
Warning : AU, highly OOC, typos, sho-ai detected, informal style
Pair : GaaHina, SasoSaku, SasuNaru/NaruSasu
Happy reading minna~~
.
.
.
Pagi-pagi begini biasanya Sasuke sudah duduk manis di meja makan. Menikmati secangkir kopi hitam atau teh pahit—salahkan harga gula yang melambung tinggi—sebagai teman. Lebih maknyus lagi kalau ada koran dan sepiring gorengan.
Tapi sayangnya itu biasanya, bukan faktanya. Jangan terburu-buru menuduh tukang gorengan sebagai tersangka. Tapi lihatlah apa yang sedang dilakukan si kepala keluarga. Meninabobokkan Hinata? Hohoho ... itu salah satu agenda favoritnya. Menyeterika baju Naruto? Oh, jangan samakan seorang Uchiha dengan Iron Man—laki-laki yang hobi menyeterika. Bisa anjlok martabat Uchiha jika Sasuke ketahuan sedang menyeterika lingerie bunga-bunga.
Tidak-tidak, Sasuke tidak sedang menyeterika kok. Dia cuma sedang unjuk kebolehan menggosok pantat panci agar kembali bersih bersinar. Tak jauh darinya, Naruto sedang asyik menumis daun genjer sambil menyanyikan lagu Konohaku yang Kucinta versi dangdut koplo.
"Kau sungguh-sungguh akan membawa Hinata ke Posyandu, kan?" tanya Naruto. Bagaimanapun ia merasa takut Sasuke hanya berpura-pura khas bapak-bapak antagonis dalam dorama Putih Dongker.
"Hn...," gumam Sasuke sembari melirik narsis ke arah pantat panci yang menampilkan pantulan wajahnya. Oh, syukurlah. Buntut ayamnya masih terjaga dengan indahnya.
"Jangan lupa ngambil bubur kacang hijaunya, ya. Kasih ke Hinata, jangan dimakan sendiri," ujar Naruto.
"Iya, iya. Cintaku pada anak kita nggak akan hancur hanya karena bubur kacang hijau kok," sambar Sasuke. 'Nggak tau deh kalau buburnya bubur tomat hijau.'
"Terus perhatiin, timbangan Hinata berapa, tingginya berapa. Kapsul vitamin A-nya juga jangan dibuang. Aku nggak mau mata Hinata makin pucat gara-gara kekurangan vitamin A," oceh Naruto.
"Ya," jawab Sasuke singkat.
"Pulangnya jangan lupa beliin Hinata boneka. Pilih boneka beruang yang bulunya lembut, gampang dicuci dan harum. Aku nggak mau kamu beliin boneka murahan buat anak kita. Kalau bisa cari yang paling mirip sama boneka yang kemarin. Terus...,"
"Ngerti, Dobe! Aku ngerti! Tidak perlu mengajariku cara menyenangkan Hinata! Aku ayahnya, kau tahu itu!" tukas Sasuke sedikit merasa kesal.
Hati Naruto mencelos. Ia mengusap matanya yang sedikit berair. Tak ingin berdebat lagi dengan pasangannya, ia mengalihkan perhatian pada tumis genjer yang sedang dimasaknya.
Kali ini giliran hati Sasuke yang mencelos. Tidak menyangka Naruto akan menangis hanya karena nada bicaranya yang meninggi. Ah, mungkin benar kata nenek—nggak tau nenek siapa. Laki-laki yang sudah memiliki anak itu akan lebih peka, bahkan cenderung sensitif. Tentu saja Uchiha itu merasa sedikit bersalah. Ia mendekati 'istri'nya, memeluknya dari belakang dan membisikkan kalimat dengan intonasi yang terbilang mesra.
"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud bicara sekeras itu," bisik Sasuke di telinga Naruto.
Naruto justru merasa kaget melihat reaksi Sasuke. Padahal matanya berair karena asap tumisan yang menyapa matanya, tapi ternyata Sasuke mengartikannya sebagai hal yang berbeda. Tapi perlakuan Sasuke yang seperti ini memang sangat-sangat jarang didapatkannya. Tak ada salahnya jika sekarang ia memilih untuk menikmatinya saja.
"Ohayou...." Suara menggemaskan milik Hinata sukses menginterupsi momen ayah dan papanya. Gadis cilik itu baru keluar dari kamarnya, masih mengucek-ucek matanya. Piyama putih bermotif tomat yang dipakainya sukses mengalihkan dunia Sasuke. Jangan lupa pipi tembam yang beda tipis dengan tomat ranum. Ah, putri kecilnya memang manis.
"Ohayou, Hinata-chan." Naruto lebih dulu membalas sapaan putrinya, "ayo, cuci muka dan gosok gigi dulu. Sini, sama Papa." Naruto mengembangkan lengannya untuk menggendong putri kecilnya. Sementara Sasuke hanya mengulas senyum melihat 'istri' dan anaknya.
Keluarga mereka boleh saja dianggap abnormal. Tapi, siapa yang peduli kalau hidup nggak normal pun mereka bisa berbahagia seperti keluarga sempurna lainnya? Walaupun kerap disebutnya Baka Dobe, Naruto tetap satu-satunya cinta bagi Sasuke. Dan kehadiran Hinata seolah melengkapi hidup mereka berdua.
Karena hidup normal terlalu mainstream.
.
.
.
Seperti prediksinya semula, yang namanya Posyandu itu memang didominasi oleh ibu-ibu dan para balita. Satu-satunya makhluk bergender laki-laki di sini adalah Sasuke Uchiha. Pasangan hidup hokage itu menggendong putrinya sambil tetap memasang wajah sedatar papan setrika meski dalam hatinya sudah mengabsen isi peternakan dan kebun binatang.
"Kyaa~ Uchiha-sama mau mengecek tumbuh-kembang putrinya, ya? Eh, ini Hinata-chan, kan? Aduh, manisnya..." Tanpa permisi seorang ibu berambut biru mengelus pipi Hinata tanpa permisi. Ibu itu mengenakan pakaian seragam kader Posyandu bermotif batik awan merah.
Hinata menelusupkan wajahnya ke dada ayahnya. Gadis cilik itu memang terlalu pemalu sekaligus merasa sedikit takut pada orang asing seperti ibu-ibu cantik itu. Tangannya menarik kerah polo shirt yang dikenakan Sasuke. Mencoba mencari perlindungan dari ayahnya.
"Hn..." Seolah mengerti, Sasuke juga mendekap putrinya sesekali mengusap-usap punggungnya untuk memberikan ketenangan.
"Aih, Hinata-chan benar-benar pemalu, ya. Persis seperti dugaanku." Entah karena memang tidak peka, Konan—nama ibu berambut biru itu—masih menatap Hinata. "Ayo, sini sama Bibi. Hinata-chan kan harus ditimbang dulu," Konan mengulurkan tangannya, "ayo, nanti Bibi kasih bubur kacang hijau. Hinata-chan suka kan?"
"Bu-bubul kacang hijau?" Manik lavender milik Hinata membulat. Tak lama kemudian ia menganggukkan kepala lalu mengulurkan tangannya sebagai pertanda ia mau digendong Konan.
Sasuke nyaris sweatdrop melihatnya. Kadang-kadang ia lupa, Hinata memang masih anak-anak . Tidak sulit membujuknya dengan makanan yang ia suka. Pria Uchiha itu hanya menyunggingkan senyum saat Hinata menoleh padanya.
Ya ampun ... kalau saja ibu-ibu di sini nggak ingat suami dan anak mereka, mungkin mereka akan bertingkah layaknya remaja ababil yang sering memuja para Uchiha. Demi harga cabe rawit yang membumbung tinggi, kenapa juga makhluk seganteng Sasuke Uchiha mesti jadi homo yang otomatis nggak doyan wanita. Sasuke Uchiha itu pantesnya jadi cassanova, bukan jadi homo apalagi waria!
Yah, itu jeritan hati ibu-ibu yang anti slash pairing. Kalau ibu-ibu fujoshi sih, nggak usah ditanya lagi.
"Akasuna-san, kukira kau akan datang dengan suamimu." Seorang wanita berambut merah jambu tersenyum menerima sambutan hangat dari teman-temannya sesama ibu-ibu. Sementara bocah cilik berambut merah yang digandengnya hanya memasang wajah cemberut seolah merasa terganggu.
Sepertinya Sasuke mengenalnya. Kalau tidak salah, bocah itu teman sekolah putrinya. Seolah sadar dirinya sedang diamati, Gaara menoleh. Balita dengan lingkar mata kehitaman itu membalas tatapan Sasuke. Bocah itu juga seperti sedang mengingat-ingat identitas Sasuke yang sepertinya tidak asing baginya.
Stop, Sasuke! Kau sudah jadi yaoi, jangan ditambah dengan pedofil!
"Sudah kuduga, Hinata-chan pasti tumbuh sehat karena nutrisinya terjaga. Iya, kan, Uchiha-sama?" komentar Konan menginterupsi tatapan Sasuke dengan bocah Akasuna.
"Hn ... tentu saja. Hinata-chan adalah harta kami yang sangat berharga. Aku dan hokage pasti akan memberikan segala yang terbaik untuknya," komentar Sasuke.
"Ah, Uchiha-sama sepertinya sudah sangat memahami bagaimana pola asuh anak-anak," puji Konan, "karena itu, maukah Uchiha-sama memberikan sepatah dua patah kata dalam acara ini?"
"A-apa?" Sasuke langsung mendelik bagai tersedak biji kedondong.
"Sebentar saja. Kami akan merasa sangat bangga jika Uchiha-sama bersedia. Hitung-hitung sebagai kampanye sadar gizi. Tentu akan lebih menarik jika Uchiha-sama yang melakukannya. Bagaimana?" tawar Konan.
Ugh, kalau saja ada tembok di dekatnya, Sasuke pasti lebih memilih untuk menjeduk-jedukkan kepala.
"Ya, baiklah," ucapnya setengah terpaksa, "tapi putriku bagaimana?"
"Biar saya..."
"Hinata-chan denganku saja." Entah bagaimana, tiba-tiba Gaara sudah berdiri di dekat kaki Sasuke sembari menarik ujung polo shirt Sasuke, "Aku temannya di TK Shinobi Celia."
"Gaala-kun...," Hinata mencengkram batik Konan makin erat, seperti hendak menyuarakan ketakutannya. Tapi sekali lagi, Konan bukanlah wanita yang peka. Ia justru tersenyum senang menanggapinya.
"Aa~ bagus kalau begitu. Nah, Hinata-chan, kau dengan temanmu, ya." Konan menurunkan Hinata dari gendongannya.
Sasuke merendahkan tubuhnya, "Tunggu, ya. Ayah tidak akan lama kok," ucapnya sembari mengusap-usap pipi kemerahan putrinya.
"A-ayah janji, ya?" ucapnya.
"Tentu saja, Hime," ujar Sasuke, " tunggu, ya."
Mau tak mau Hinata menganggukkan kepala. Ia tak berani menatap si mata panda. Sementara bocah cilik berambut merah itu juga hanya berani mencuri-curi pandang ke arahnya. Seolah ia masih ragu-ragu untuk bicara.
"Gaara-chan~ kau di sini rupanya. Mama mencarimu." Sakura menghampiri mereka, "Eh?" Ia menatap gadis cilik di sebelah putranya.
"Mama, ayo, belikan boneka untuk Hina-chan," ujar Gaara. Ia menarik ujung blazer milik Sakura.
"Eh?" Sakura membulatkan matanya. Ia berjongkok agar sejajar dengan mereka. Sakura menyunggingkan senyum sembari menyapa Hinata, "Jadi namamu Hina-chan, ya? Manisnya ... apa kau pacar Gaara?"
Hinata mengerjapkan matanya, "Pa-pacal itu apa?"
Sakura ingin menertawakan dirinya sekarang juga. Bisa-bisanya ia lupa kalau usia mereka masih balita. Jangankan mengerti tentang pacar, yang mereka tahu pasti cuma main boneka atau mewarnai gambar bunga.
"Lupakan saja," Sakura tersenyum penuh makna, "kudengar kemarin Gaara-chan merusakkan bonekamu, ya? Kalau begitu, ayo kita ke toko mainan. Aku akan membelikan boneka panda yang lucu untukmu."
"Pa-panda?" Hinata melirik ke arah Gaara, menatapnya takut-takut.
"Kenapa melihatku begitu?" protes Gaara setengah tidak suka.
"E-eto...," Hinata menggeser posisinya agar berlindung di balik sosok Sakura, "Gaala-kun se-seperti panda."
"Huh." Gaara menggembungkan pipinya diiringi dengan membuang muka.
"Ahahaha~ tentu saja. Gaara-chan kan imut. Yosh! Ayo, kita pergi ke toko mainan!" Sakura menggenggam jemari mungil Hinata.
Oh, andai Sakura tahu doktrin macam apa yang sudah ditanamkan orang tua Hinata. Sebagai seorang Uchiha, tentu saja Sasuke akan mengajarkan ilmu yang faktual kepada putrinya. Termasuk menjelaskan bahwa panda dan beruang adalah binatang buas. Kedua hewan itu bisa sewaktu-waktu menyerang manusia. Tidak ada alasan untuk menyebut mereka imut, kecuali mereka masih bayi. Yang imut itu boneka panda dan boneka beruang, bukan hewan aslinya.
Kesimpulannya, sebenarnya Hinata mau bilang kalau Gaara itu menyeramkan seperti panda.
.
.
.
Sasuke turun dari podium dengan perasaan lega. Akhirnya ia bisa melepas beban di pundaknya. Memang tidak sulit baginya untuk memberikan sambutan seperti tadi. Tapi meninggalkan Hinata rasanya seperti...
Eh, di mana Hinata?
Seingat Sasuke, tadi dia bersama bocah berambut merah dengan lingkar mata sehitam pantat panci. Ke mana perginya mereka? Apa mereka pergi meminta bubur kacang hijau pada Konan?
"Hhe? Mereka tidak ke sini, Uchiha-sama. Lagi pula bukankah tadi Hinata-chan bersama temannya dari TK Shinobi Ceria?" Alih-alih menjawab saat Sasuke bertanya, Konan justru balik bertanya.
"Aku tahu itu!" tegas Sasuke, "Tapi kau seharusnya mengawasi mereka!"
Wajah Konan pucat pasi melihat ekpresi Sasuke yang beda-beda tipis sama Siberian Husky yang lagi kena konstipasi. Jika ada hal yang menyangkut keselamatan putrinya, Uchiha-sama yang dikenalnya dingin dan miskin ekspresi akan kehilangan kendali diri. Kader Posyandu itu hanya terpaku melihat Sasuke yang sejak tadi memanggil-manggil nama sang putri.
"Kau harus bertanggung jawab atas hal ini. Jika ada sesuatu yang menimpa putriku, aku takkan memaafkanmu!" Sasuke menunjuk Konan tepat di depan mata.
"E-eto ... gomenasai, Uchiha-sama!" Konan membungkukkan badannya berkali-kali.
"Cih! Kata maaf saja tidak cukup!" tukas Sasuke.
"Anou, Uchiha-sama," seorang ibu berambut cokelat datang menyela, "tadi aku melihat putrimu pergi dengan Akasuna-san."
"Akasuna-san?" Sasuke mengulangi nama yang disebutkan, "Telepon dia. Katakan padanya, bawa ke sini putriku secepatnya."
"Ha-hai." Ibu itu men-dial nomor telepon Sakura. Satu detik ... dua detik ... tiga detik ... wajahnya memucat. Setengah takut-takut ia memandangi Sasuke, "Tidak terhubung. Akasuna-san mengganti nomor ponselnya."
Sasuke nyaris meremas rambut frustasi kalau tidak ingat tingkah laku konyol itu bisa merusak tatanan awesome rambutnya. Terlebih sekarang ini Naruto juga memotong anggaran untuk membeli gel rambutnya.
'Ayo, berpikir, Sasuke. Berpikirlah! Bukankah seorang Uchiha terlahir dengan daya pikir yang sempurna? Apa jadinya jika seorang Uchiha tidak bisa meng-handle masalah ini,' pikir Sasuke.
"Baiklah. Berikan aku alamat Akasuna-san," ujar Sasuke.
"Ini alamatnya, Uchiha-sama." Konan memberikan secarik kertas berisi alamat dengan sigap.
Sasuke menyambar kertas itu dengan cepat. Tanpa bicara apa-apa lagi, ia langsung pergi melesat. Mencari jejak putrinya sebelum terlambat. Ugh, semoga tak ada hal buruk yang dilakukan oleh si Akasuna keparat!
"Who-whoa, Uchiha-sama memang benar-benar ayah yang bertanggung jawab, ya. Coba kalau dia yang jadi suamiku."
"Kau lihat bagaimana caranya memperlakukan Hinata-chan tadi? Aih, manisnya... Di masa sekarang ini, sulit menemukan ayah seperti itu."
"Sayang, ya. Dia malah memilih menikahi seorang laki-laki. Untung yang dinikahinya Hokage-sama. Kalau tidak..."
"Bicara apa kalian? Uchiha-sama dan Hokage-sama adalah pasangan yang manis. Iya kan?"
"Ehm ... minna-san, berhentilah membicarakan keluarga Hokage dan fokuslah pada perkembangan putra-putri kalian!"
Yah, tampaknya Konan memang harus bekerja keras membuat ibu-ibu itu mendengarkannya. Wanita itu menatap balita-balita yang menatap ibu-ibu mereka dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Ugh, terkadang menerima tamu seistimewa Uchiha-sama memang tak selalu membawa dampak baik.
.
.
.
"Nah, selamat datang di Akasuna Shop," ucap Sakura.
Hinata menatap penuh kekaguman seisi toko yang terlihat oleh matanya. Warna-warna cerah terlihat mendominasi tempat ini. Dinding sebelah kanan yang berisi lorong-lorong khusus mainan anak perempuan dicat warna merah muda, sedangkan sebelah kiri yang berisi mainan anak laki-laki dicat warna biru muda. Benar-benar warna yang merepresentasi jiwa masa balita.
"Ayo, kita cari boneka untuk Hinata-chan," ajak Sakura.
"Mama, aku mau ke sana saja," Gaara menunjuk areal berisi mainan anak laki-laki.
"Gaara-kun akan ikut dengan kami," tangan kiri Sakura menggenggam tangan putranya, mencegah kemungkinan Gaara untuk kabur, "bukankah Gaara-kun yang merusak boneka Hinata-chan? Sebagai anak laki-laki, Gaara-kun harus bertanggung jawab untuk menemani Hinata-chan memilih bonekanya."
"Huh," keluh Gaara.
"Nah, mari kita cari sama-sama. Ne, Hinata-chan?" Sakura mengerling pada Hinata.
"E-eh? Ha-hai." Hinata mengangguk.
Bersama-sama mereka mencari boneka Teddy Bear untuk Hinata. Terlalu banyak macam boneka di sini. Sulit rasanya untuk tidak tergoda dengan boneka-boneka bermata bening dengan bulu-bulu lembut yang membelai kulit. Belum lagi beberapa kali langkah mereka terhenti karena ambisi Sakura yang tampak ingin sedikit mendadani teman putranya dengan jepit rambut dan pita. Yah, tentu saja karena ia tak mungkin memakaikan dua benda itu pada Gaara.
"Ah, iya. Ngomong-ngomong tadi Hinata-chan ke Posyandu sama siapa?" tanya Sakura.
"E-eto ... sama Ayah," jawab Hinata, "e-eh?"
"Ada apa?" tanya Sakura kebingungan dengan ekspresi Hinata.
"Bibi, a-aku halus segela kembali. A-ayah pasti mencaliku. Hiks ... hiks ... Hinata nggak dengelin pesan Ayah. Hiks ... hiks...," Hinata mulai menangis sesenggukan.
"E-eh? Hinata-chan jangan menangis. Nanti kami akan mengantar Hinata-chan pada Ayah Hinata-chan. Sekarang Hinata-chan pilih bonekanya dulu, ya," ucap Sakura membujuk Hinata.
"Nggak mau. Hiks ... hiks ... Hinata mau Ayah. Hiks ... hiks..." Gadis cilik teman Gaara itu masih menangis.
Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tak mengerti apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan Hinata. Mungkin sebaiknya ia membawa Hinata kembali ke Posyandu saja. Semoga Ayah Hinata masih berada di tempat yang sama.
Yah, semoga saja.
.
.
TBC
.
.
Thank's to : sasuhina-caem *yang jadi uke-nya gantian. Kadang Sasu kadang Naru. Memang konsepnya saya sengaja segitu, terinspirasi dari pasangan yaoi IndoMalay yang banyak bertebaran di fandom sebelah ^^*, ZamBetJalKecTuDuKanBer *Thie-chan, penname barumu ribet banget #plakk. Yosh, semoga chapter kali ini lebih menggila. Soalnya kali ini saya emang memilih untuk melepas kendali rima XDD*, demikooo *vee~~ pair SasuNaru/NaruSasu-nya emang sengaja cuma slight doang. Nanti pelan-pelan GaaHina-nya juga tumbuh dewasa kok ^^*, chibi beary *vee~~ iya. saya juga suka Hina-chan yang masih kawai ala bocah ^^*, Zia-kun *balesan ripyumu via sms aja, ya ^^*, suka snsd *entahlah. Saya juga mendadak punya pikiran nista begini*, minatsuku heartnet *fufufu~~ kan Dhinie-chan tahu saya emang tergila-gila sama si ganteng kalem Near*, X-ichigo *fufufu~~ iya, saya kangen nulis fic-fic yang beginian sih XD*, Minji d'BlackJack *syukurlah kalau Minji-san suka fic ini walaupun Minji-san bukan fujo. Makasih buat fave-nya ya ^^*, Ayuzawa Shia *Maksudnya yang kata 'Anda' ya? Kalo soal kata itu, seingat saya emang harus kapital sih ^^*, Phouthrye Mitarashi15 *Fufufu~~ ini Cuma sho-ai kok. Belum sampai yaoi. Saya nggak sanggup deskripsiin yaoi XDD Tapi makasih Pouthrye-san bersedia baca walaupun benci sho-ai/yaoi*, Freeya Lawliet *Fufufu~~ congratz buat baby-nya Ai-nee. Fic ini saya update sekalian kado buat Kiki lho ^^*, Karasu *Gomenasai update-nya super ngaret. Saya lagi kena virus cinta kasur XDD*, OraRi HinaRa *Vee~~ makasih banyak OraRi-san ^^*, dan baby blue *vee~~ gomen ne. Pasti kesannya jadi agak kaku, ya. Maklum, saya kelamaan cuti bikin fic humor XDD*
Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan update fic ini. Alasannya bukan sibuk kok, bukan juga karena WB. Saya nggak memungkiri kalau akhir-akhir ini saya jadi pemalas yang siklusnya cuma bangun—kuliah—kerjain tugas—tidur. Untungnya akhir-akhir ini bisa maksain diri buat bangun pagi-pagi buta buat nyicil ngetik fic XDD.
Yosh! Abaikan saja curcol di atas. Yang jelas saya menantikan feedback dari kalian ^^
Molto Grazie ^^
