Autumn in Paris
Remake story by Ilana Tan
Ps: Author hanya mengganti nama tokoh dan beberapa detail lainnya untuk menunjang jalannya cerita
.
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Oh Sehun
(Genderswitch)
.
Seandainya masih ada harapan - sekecil apapun - untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu.
.
e)(o
.
Chapter 1
.
Ruangan itu sudah sepi sejak satu jam yang lalu. Semua lampu sudah dimatikan, kecuali yang terdapat di sudut ruangan dekat jendela. Lampu di sana masih menyala karena masih ada seseorang di sana. Gadis yang menempati meja di dekat jendela itu sebenarnya tidak benar-benar membutuhkan penerangan karena ia tidak sedang bekerja.
Byun Baekhyun duduk bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Ia menggigit bibir dan tidak habis pikir kenapa ponsel imut dengan berbagai macam hiasan gantung itu tidak berdering, tidak berkelap-kelip, tidak bergetar, tidak melakukan apa pun!.
Ia memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota Paris dengan tatapan menerawang. Langit sudah gelap. Ia melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh lewat. Dengan sekali sentakan ia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja.
"Ke mana saja kau?" desis Baekhyun sambil mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang dicat oranye.
"Kau bicara dengan ponsel?"
Baekhyun mengangkat wajah dan menoleh. Tiffany Young yang baru masuk ke ruangan tersenyum kepadanya. Tiffany manis yang berambut pirang emas sebahu, bermata hijau, dan berhidung berbintik-bintik itu berusia 29 tahun, beberapa tahun lebih tua daripada Baekhyun, tapi secara fisik wanita itu tidak terlihat seperti wanita Eropa seusianya. Perawakannya kurus, kecil, dan dengan wajah seperti gadis remaja. Di satu sisi Tiffany menyukai kenyataan itu—siapa yang tidak suka punya wajah awet muda? Tapi di sisi lain ia dongkol setengah mati kalau ada orang yang menganggap remeh dirinya karena berpikir ia masih remaja ingusan.
"Sudah selesai siaran?" tanya Baekhyun ringan sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukan kedua siku di meja dan bertopang dagu.
Tiffany mengangguk dan berjalan ke meja kerjanya yang persis di depan meja tara. "Bukankah kau sudah selesai siaran sejak...," ia melirik jam dinding, "satu setengah jam yang lalu?" tanya Tiffany dengan alis terangkat.
Baekhyun mendesah. "Memang," jawabnya lemas. Ia menunduk dan menyandarkan kening di meja, lalu mendesah keras sekali lagi.
Mereka berdua sama-sama penyiar di salah satu stasiun radio paling populer di Paris. Tiffany lebih senior daripada Baekhyun dan siaran utama yang ditanganinya adalah Je me souviens..., yaitu acara yang membacakan surat-surat dari para pendengar, sementa Baekhyun membawakan program lagu-lagu populer dan tangga lagu mingguan.
"Hei, kenapa lesu begitu?" tanya Tiffany sambil mengetuk-ngetuk pelan kepala Baekhyun dengan bolpoin. "Bukankah biasanya kau paling suka hari Jumat?"
Baekhyun mengangkat kepala dan tersenyum muram. Hari Jumat memang hari yang paling disukainya karena hari Jumat adalah awal akhir pekan yang ditunggu-tunggu. Tapi hari ini jadi pengecualian. Ia sedang tidak gembira atau bersemangat.
"Ooh... aku mengerti," kata Tiffany tiba-tiba dan tersenyum. "Belum menelepon rupanya."
Baekhyun menggigit bibir dan mengangguk lemah. Ia kembali melirik ponselnya. Lalu seakan sudah membulatkan tekad, ia mendengus dan meraih ponsel itu. "Lupakan saja," katanya tegas, lebih kepada dirinya sendiri. Dengan gerakan acuh tak acuh ia melemparkan ponselnya ke dalam tas tangan dan berdiri dari kursi.
"Tiffany, ayo kita pulang sekarang," katanya. "Duduk mengasihani diri sendiri juga tidak ada gunanya."
Tiffany menatap temannya dengan bingung. "Yang mengasihani diri sendiri itu siapa?"
.
e)(o
.
Lima belas menit kemudian, Baekhyun dan Tiffany sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka turun ke lantai dasar. Baekhyun berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota Paris yang terbentang di depan mata. Pada awal perceraian orangtuanya dua belas tahun lalu, ia tinggal bersama ibunya di Bucheon, Korea Selatan. Empat tahun kemudian, ketika berumur enam belas, ia memutuskan pindah ke Paris dan tinggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, Paris menjadi hidupnya.
Bunyi denting halus membuyarkan lamunan Baekhyun. Mereka sudah tiba di lantai dasar. Baekhyun keluar dari lift dan melambaikan tangan kepada temannya. Ia memarkir mobilnya di lapangan parkir di luar gedung sementara mobil Tiffany sendiri diparkir di basement. Baekhyun tidak mendapat fasilitas parkir di basement karena ia tidak biasanya mengendarai mobil ke mana-mana. Ia lebih suka naik Metro, walaupun ia harus ekstra hati-hati terhadap tukang copet. Tetapi pagi ini hujan turun cukup lebat, jadi terpaksa ia naik mobil.
Baekhyun menunggu sampai pintu lift menutup dan membalikkan badan. Ia baru saja akan melangkah ketika melihat seorang laki-laki berdiri di dekat meja resepsionis di lobi gedung. Langkah kakinya terhenti dan ia menahan napas, tapi hanya sesaat. Ia lalu memutuskan mengabaikan orang itu dan kembali melangkah. Laki-laki itu melihat Baekhyun berjalan terburu-buru ke arah pintu utama. Ia tersenyum dan melambai, tapi Baekhyun mengabaikannya dan mempercepat langkah.
"Mademoiselle Byun"
Baekhyun mendengar panggilan laki-laki itu, tapi pura-pura tidak mendengar. Ia keluar dari gedung dan melangkah cepat ke tempat mobilnya diparkir, berusaha keras mengabaikan bunyi langkah kaki yang menyusulnya. Angin musim gugur menerpa wajahnya dan Baekhyun merapatkan jaket yang dikenakannya.
"Mademoiselle Byun, tunggu sebentar."
Ketika ia hampir sampai di tempat parkir Mercedes biru kecilnya, Baekhyun mengeluarkan kunci mobil. Terdengar bunyi pip dua kali tanda pintu mobil sudah terbuka dan ia cepat-cepat masuk. Ia baru akan menutup pintu ketika gerakannya tertahan.
"Bisa tunggu sebentar, Mademoiselle? Kenapa buru-buru?" tanya laki-laki itu sambil menahan pintu mobil.
"Mau apa?" tanya Baekhyun dengan nada sama sekali tidak ramah. Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang dia harap berkesan tajam dan menusuk.
Baekhyun tidak pernah tertarik dengan pria Eropa pada umumnya, dengan rambut pirang, mata biru, dan kulit putih pucat. Tidak, ia lebih memilih yang berkulit agak gelap dan rambut yang gelap, atau setidaknya cokelat. Tetapi anehnya ia menganggap laki-laki jangkung berambut pirang yang berdiri di sampingnya ini menarik.
Laki-laki itu terkekeh pelan dan menunduk. Rambutnya yang dipotong rapi jatuh menutupi dahinya. "Aku sedang bertanya-tanya apakah kau mau menemaniku makan malam."
Dasar laki-laki Prancis! Baekhyun menggerutu dalam hati. Ia mendengus kesal dan melirik orang di sampingnya. Laki-laki itu sedang membetulkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya dan seulas senyum penuh percaya diri tetap tersungging di bibirnya, seakan yakin Baekhyun takkan menolak ajakannya. Dasar playboy!
Karena Baekhyun tidak menjawab, pria itu menambahkan, "Aku yang traktir, tentu saja. Kau boleh memilih restaurannya."
Baekhyun berusaha terlihat tidak peduli, tapi akhirnya ia tidak tahan lagi dan berseru, "Brengsek kau, Sehun Giraudeau Oh! Ke mana saja kau selama ini? Kenapa tidak meneleponku?"
Senyum Sehun Giraudeau Oh melebar, sama sekali tidak terpengaruh omelan Baekhyun. "Aku mau makan Seolleongtang dan kimchi!" kata Baekhyun ketus. Ia bersedekap dan menatap lurus ke mata Sehun.
.
e)(o
.
Di Paris ini ada satu bistro kecil tidak terkenal yang menjadi kesukaan Baekhyun karena mereka menyajikan masakan Korea, khususnya Seolleongtang dan kimchi kesukaannya. Bistro itu terletak di sebuah jalan kecil yang agak sepi dan lumayan jauh dari pusat kota. Tidak banyak orang yang tahu keberadaan bistro itu kecuali beberapa orang yang menjadi langgangan tetapnya, seperti Baekhyun.
Selain ibunya, satu-satunya yang dirindukan Baekhyun dari Korea adalah makanannya. Bukannya Baekhyun pemilih soal makanan, tapi kadang-kadang ia bosan dengan makanan Prancis dan seolleongtang dan kimchi yang sederhana itu bisa menjadi semacam kemewahan baginya.
Lain halnya dengan Sehun. Laki-laki itu tidak terlalu suka seolleongtang dan kimchi atau masakan Korea lainnya. Singkatnya, ia tidak terlalu suka makanan lain selain makanan Eropa. Sewaktu membiarkan Baekhyun memilih, ia tahu benar Baekhyun akan memilih bistro ini karena gadis itu penggemar berat masakan korea. Tidak apa-apa. Kali ini Sehun mengalah. Ia lebih suka melihat Byun Baekhyun yang sibuk makan seolleongtang dan kimchi dengan gembira daripada Byun Baekhyun yang pura-pura tidak mengenal dirinya. Karena itu Sehun harus puas dengan bulgogi yang dipesannya. Setidaknya makanan itu kelihatannya lumayan.
"Jadi," kata Baekhyun dengan mulut yang masih agak penuh. Ia mengunyah sebentar, menelan, lalu melanjutkan, "Ke mana saja kau seminggu terakhir ini? Kalau kau masih ingat, waktu itu kau janji mau menjemputku di bandara. Kau tahu berapa lama aku menunggu? Kalau tidak bisa menjemput, kau kan bisa menelepon? Bukankah itu salah satu alasanmu membeli ponsel? Untuk menelepon?"
Sehun tidak segera menjawab. Ia menahan senyum dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi bahwa ia lebih suka Byun Baekhyun yang cerewet daripada Byun Baekhyun yang pura-pura tidak mengenalnya.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Jangan coba-coba mengataiku cerewet," ancam Baekhyun sambil menyuapkan sesendok seolleongtang lagi dan menatap Sehun dengan mata disipitkan.
Mereka berdua sudah berteman sejak Baekhyun pindah ke Paris. Mereka bertemu untuk pertama kalinya ketika Sehun diajak menghadiri pesta pembukaan restoran baru ayah Baekhyun di Quartier Latin. Sehun pernah mengaku pada Baekhyun bahwa pada awalnya ia berpikir gadis itu anak angkat karena Baekhyun berbeda sekali dengan ayahnya. Ayah Baekhyun, Monsieur Byun, adalah tipikal orang Eropa, jangkung, tampan, dengan rambut cokelat terang, hidung mancung, mata kelabu, dan kulit putih pucat, sedangkan putrinya, Byun Baekhyun, memiliki ciri-ciri dominan orang Asia, dengan rambut hitam yang dipotong pendek sebahu dan kulit yang putih, tapi tidak pucat. Sebenarnya kalau diperhatikan dengan saksama, Baekhyun juga memiliki mata kelabu dan hidung mancung seperti ayahnya. Begitu pula dengan tinggi badannya yang melebihi rata-rata tinggi badan orang Asia. Gabungan antara unsur Timur dan Barat membuat Baekhyun memiliki wajah yang unik, menarik, dan tidak mudah dilupakan.
Pada awalnya Sehun tidak terlalu peduli pada Baekhyun karena menganggap gadis itu hanya orang asing yang belum bisa berbahasa Prancis, tapi ia salah. Bahasa Prancis Baekhyun tanpa cela dan Sehun langsung kagum, apalagi setelah tahu selain bahasa Prancis dan Korea, gadis itu juga menguasai bahasa Inggris. Bahasa Inggris Sehun yang orang Prancis buruk sekali, sampai-sampai dia malu pada gadis Asia ini. Sehun kemudian menganggap Baekhyun seperti adiknya sendiri dan mereka berdua sangat cocok. Mungkin karena mereka punya kesamaan nasib. Mereka berdua anak tunggal, orangtua mereka sudah bercerai walaupun masih berhubungan baik, dan mereka tinggal bersama ayah mereka.
"Halo? Kau mau mulai menjelaskan sekarang atau mau menunggu sampai salju turun?"
Sehun mengangkat wajah dan mendapati Baekhyun sedang menatapnya dengan alis terangkat.
"Baiklah, aku minta maaf," kata Sehun hati-hati dan menyunggingkan senyum seribu wattnya. "Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara. Aku juga minta maaf karena tidak menghubungimu." jelas Sehun.
"Kau ke mana saja seminggu terakhir ini?"
"Tokyo."
Baekhyun mengerjapkan mata. "Tokyo? Jepang?"
Sehun mengangguk. "Waktu itu ayahku sedang ada di Tokyo untuk urusan kerja. Hari Sabtu lalu, hari kau kembali ke Paris, aku mendapat telepon yang mengabarkan ayahku tiba-tiba jatuh pingsan di tengah rapat."
"Oh."
Sehun mengangkat sebelah tangan. "Tidak usah cemas," selanya cepat ketika melihat raut wajah Baekhyun berubah prihatin. "Ayahku hanya kelelahan dan jantungnya memang dari dulu sedikit bermasalah. Jadi aku harus langsung terbang ke Tokyo untuk menggantikannya. Aku sudah pernah cerita tentang rencana pembangunan hotel di sini yang bekerja sama dengan Jepang, bukan?"
Baekhyun mengangguk. Ia ingat Sehun pernah menyebut-nyebut tentang proyek itu. Perusahaan arsitek ayah Sehun akan bekerja sama dengan perusahaan Jepang untuk membangun hotel di Paris. Sehun adalah salah satu arsitek yang terlibat dalam proyek ini.
"Karena ayahku harus beristirahat beberapa hari di rumah sakit, aku yang harus melanjutkan pekerjaannya," Sehun meneruskan. "Aku tidak punya banyak waktu luang untuk menelepon. Ditambah lagi perbedaan waktu yang besar antara Jepang dan Prancis. Aku tidak bisa menemukan waktu yang cocok untuk menghubungimu."
"Di mana ayahmu sekarang?"
"Sudah sehat dan kembali bekerja seperti biasa," sahut Sehunn, lalu mengangkat bahu dan tersenyum lebar. "Ayahku itu tipe orang yang tidak bisa diam."
Baekhyun mengangguk-angguk, lalu menunduk memandang makanannya. Ia agak menyesali sikap gegabahnya. Marah-marah sendiri sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Sehun mengalihkan pembicaraan.
Baekhyun mengangkat wajahnya. "Mommy? Seperti biasa. Masih sibuk mendesain perhiasan dan aksesori."
"Belum menikah lagi?"
Baekhyun mengangkat bahu. "Belum. Sepertinya Mommy tidak berniat menikah lagi. Sama seperti Daddy, kurasa."
"Ada kabar baru apa lagi dari Korea?" tanya Sehun. Ia memang tidak mengenal keluarga Baekhyun yang ada di Korea, tapi ia suka mendengar gadis itu bercerita. Byun Baekhyun memiliki suara yang jernih dan menyenangkan. Tidak heran ia dengan mudah diterima menjadi penyiar utama program radio populer di salah satu stasiun radio paling terkenal di Paris.
"Kabar baru apa ya?" gumam Baekhyun sambil menekan-nekan bibirnya dengan ujung sendok. "Aku bertemu sepupuku." lanjutnya.
"Sepupumu yang mana?"
"Yang tinggal di Korea. Aku baru tahu ternyata pacarnya artis" sahut Baekhyun, lalu mendadak mengalihkan pembicaraan, "Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana dengan Jepang? Kau bertemu gadis Jepang cantik di sana?"
Sehun menjentikkan jarinya. "Ah, aku hampir lupa memberitahumu."
"Apa?" Baekhyun mengerutkan kening dan langsung waswas. Tadi ia hanya sekadar bertanya,
tidak sungguh-sungguh ingin mendengar kisah cinta Sehun dengan gadis Jepang atau gadis
mana pun.
"Aku punya teman di Jepang," Sehun memulai. "Namanya Park Chanyeol."
Park Chanyeol. Hmm... Sepertinya bukan nama perempuan, pikir Baekhyun.
"Dia juga arsitek dan dia akan bergabung dalam proyek pembangunan hotel ini. Arsitek Jepang yang sebelumnya bertanggung jawab dalam proyek ini mendadak menarik diri dari pekerjaan ini. Karena itu perusahaan pihak Jepang mengusulkan agar Chanyeol yang menggantikannya." Sehun terdiam sejenak lalu melanjutkan lagi ceritanya "Tetapi ketika aku dan ayahku bermaksud menemuinya di Tokyo, kami diberitahu dia sedang berada di Paris. Aku berhasil menghubunginya dan berjanji akan meneleponnya lagi kalau aku sudah kembali ke Paris."
Baekhyun menunggu kelanjutannya. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Sehun.
"Jadi tadi aku meneleponnya dan memintanya datang ke sini," kata Sehun ringan.
Baekhyun mengerutkan kening. "Ke sini? Maksudmu sekarang?"
Sehun mengangguk. "Ya. Kau tidak keberatan, bukan? Kau pasti akan menyukainya. Dia orang yang menyenangkan."
Keberatan? Tentu saja Baekhyun keberatan dan ia mengatakannya langsung kepada Sehun.
"Kenapa kau tidak menemuinya besok atau hari lain? Hari ini aku sedang tidak ingin berkenalan dengan orang asing."
Sehun heran melihat Baekhyun mendadak kesal. "Chanyeol bisa berbahasa Prancis. Sangat lancar. Kau tidak usah cemas," tambahnya, salah mengerti alasan kekesalan Baekhyun.
"Kau kira aku keberatan dengan orang yang tidak bisa berbahasa Prancis?" balas Baekhyun jengkel. "Kau yang selalu merasa semua orang di dunia harus bisa berbahasa Prancis. Tapi masalahnya bukan itu. Aku hanya... Ah, sudahlah! Lupakan saja."
Sehun memperbaiki letak kacamatanya dengan bingung.
Baekhyun tahu Sehun mengharapkan penjelasan. Sebenarnya Baekhyun kesal karena Sehun seenaknya saja mengajak temannya bergabung dengan mereka. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Sehun dan hari ini Baekhyun ingin mengobrol berdua saja dengannya. Memangnya Sehun tidak bisa menemui orang itu setelah makan malam? Memangnya Sehun tidak mengerti perasaannya?
"Tapi kupikir..." Sehun baru akan menjelaskan ketika ponselnya berbunyi. "Halo? Oh, Chanyeol. Sudah sampai?"
Sehun berpaling ke arah pintu dan Baekhyun dengan enggan mengikuti arah pandangnya. Ia melihat seorang pria berwajah Asia memasuki bistro sepi itu sambil memandang ke sekeliling ruangan. Sehun melambaikan tangan. Pria itu melihatnya dan tersenyum.
"Aku akan berkenalan dengannya, tapi aku tidak akan lama," kata Baekhyun cepat. "Hari ini aku sedang tidak ingin berbasa-basi. Aku capek."
Sehun tidak menjawab karena temannya sudah tiba di meja mereka.
"Sehun, apa kabar? Senang bertemu lagi," sapa Chanyeol gembira. Bahasa Prancis-nya lancar, tidak terdengar logat asing sedikit pun.
Sehun berdiri, merangkul dan menepuk-nepuk punggung temannya. "Aku juga senang bertemu denganmu lagi."
Baekhyun memerhatikan Park Chanyeol dengan cermat. Laki-laki itu masih muda, usianya pasti sebaya Sehun, sekitar akhir dua puluhan. Bertubuh jangkung, setinggi Sehun, dan sedikit
lebih berisi daripada Sehun. Rambut hitamnya agak panjang—belum termasuk gondrong, syukurlah, karena Baekhyun benci laki-laki berambut gondrong—tapi sangat bergaya. Mungkin itu model yang sedang trendi di Jepang. Cocok dengan bentuk wajahnya. Matanya sedikit bulat namun sangat pas diwajahnya, hidungnya mancung, dan yang paling menonjol telinganya terlihat lebih lebar. Secara keseluruhan Park Chanyeol memiliki wajah yang menyenangkan... dan menarik. Baekhyun langsung memberi nilai tujuh setengah untuknya. Namun ada sesuatu yang mengganggu...
Baekhyun mengerutkan kening. Laki-laki bernama Park Chanyeol ini sepertinya tidak asing. Tidak, Baekhyun yakin betul ia tidak pernah bertemu laki-laki itu sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang terasa tidak asing dari diri Park Chanyeol.
"Kenalkan, ini temanku, Byun Baekhyun."
Baekhyun mengalihkan pandangan dan mendapati Sehun sedang menatapnya.
"Baekhyun, ini Park Chanyeol," Sehun melanjutkan. "Teman baikku dari Jepang."
Baekhyun memaksakan seulas senyum dan menyambut uluran tangan Chanyeol. "Halo," sapa Baekhyun pendek. Seperti yang sudah dikatakannya tadi, ia tidak berniat berbasa-basi.
"Panggil aku Chanyeol saja," kata Chanyeol. Ia tersenyum lebar, sambil sedikit membungkuk, sama sekali tidak menyadari suasana hati Baekhyun "Senang berkenalan denganmu, Baekhyun."
Alis Baekhyun terangkat sedikit. Koreksi, nilai Park Chanyeol baru saja naik menjadi delapan. Ia suka cara pria itu mengucapkan namanya. Orang Prancis melafalkan huruf dengan cara yang berbeda dengan orang Korea, karena itu nama Baekhyun selalu terdengar aneh kalau diucapkan dalam lafal Prancis. Selama ini hanya keluarganya yang di Korea yang bisa mengucapkan namanya dengan tepat. Sekarang pria Jepang yang berdiri di hadapannya ini memanggilnya dengan cara yang membuatnya merasa nyaman.
Sementara Sehun dan Chanyeol bertukar sapa, Baekhyun terus memutar otak mencari tahu apa yang membuat Park Chanyeol terasa tidak asing, tapi tetap tidak mendapat jawaban. Baekhyun tidak suka merasa penasaran. Ia tidak boleh penasaran karena rasa penasaran itu akan terus menggerogotinya seperti lubang di gigi yang bisa membuat seluruh badan ikut sakit. Dan pada pertemuan pertama saja Park Chanyeol sudah membuat seorang Byun Baekhyun penasaran setengah mati.
"Kuharap aku tidak mengganggu acara kalian," kata Chanyeol, membuyarkan lamunan Baekhyun.
"Tidak, tidak," sahut Sehun cepat, sebelum Baekhyun sempat bereaksi. "Kau tidak tersesat kan? Bistro ini memang agak terpencil."
Chanyeol menggeleng. "Sopir taksiku hebat," katanya sambil tersenyum lebar.
"Duduklah. Kau sudah makan?" lanjut Sehun. "Kuharap kau tidak keberatan makan makanan Korea. Baekhyun ini penggemar fanatik seolleongtang."
"Oh ya?" tanya Chanyeol sambil melepaskan jaket cokelatnya dan menyampirkannya ke sandaran kursi. "Aku bersedia mencoba makanan apa pun. Aku bukan orang yang pemilih soal makanan."
Baekhyun tersenyum acuh tak acuh, namun membuat catatan dalam hati. Koreksi lagi, nilai Park Chanyeol naik menjadi delapan setengah. Katanya tadi ia tidak memilih-milih kalau menyangkut makanan. Sikap yang disenangi Baekhyun.
"Dia juga penyiar radio," Sehun melanjutkan, seolah sedang membanggakan anak kesayangan. Tiba-tiba Sehun menjentikkan jari dan menatap Baekhyun. "Kalian punya acara yang membacakan surat-surat dari pendengar, kan?" tanyanya.
Baekhyun tidak menyahut, hanya mengerjapkan matanya dan mengangguk acuh tak acuh.
Sehun menoleh ke arah Chanyeol dan menepuk bahu temannya. "Dengar, bukankah kau punya cerita bagus? Kau bisa menulis surat ke acara itu."
Chanyeol tertawa kecil dan menggeleng-geleng.
"Apa? Cerita apa?" tanya Baekhyun. Oke, Sehun berhasil membangkitkan rasa penasarannya. Ia menumpukan kedua tangan di meja dan mencondongkan tubuh ke depan.
"Dia belum menjelaskan detail ceritanya, tapi tadi ketika dia meneleponku, katanya dia bertemu gadis Prancis yang membuatnya terpesona," sahut Seun. "Begitu datang dari Jepang
langsung tertarik dengan gadis Prancis. Hebat sekali."
Baekhyun tersenyum malu. "Dia melebih-lebihkan," katanya pada Baekhyun. "Aku tidak bilang begitu."
"Jangan hiraukan Sehun," sahut Baekhyun tanpa memandang Sehun. "Kalau kau punya cerita menarik, silakan tulis surat ke acara kami. Siapa tahu kami akan membacakannya saat siaran."
"Akan kupikirkan," kata Chanyeol.
Tiba-tiba Baekhyun merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap benda itu
sejenak, lalu berkata kepada kedua laki-laki di hadapannya itu dengan nada menyesal, "Maaf, aku tidak bisa tinggal lebih lama. Ada urusan mendadak. Aku harus pulang sekarang."
"Kenapa buru-buru?" tanya Sehun bingung. Untuk sesaat tadi ia pikir Baekhyun sudah tidak kesal, tapi kenapa gadis itu harus berpura-pura mendapat pesan tentang urusan mendadak?.
Baekhyun mengenakan kembali jaket dan syalnya sambil berkata, "Aku akan meneleponmu lagi nanti, Sehun." Ia menoleh ke arah Chanyeol, mengulurkan tangan dan tersenyum singkat. "Senang berkenalan denganmu. Aku minta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Mungkin lain kali."
Chanyeol menyambut uluran tangannya dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa." Baekhyun merangkul Sehun dan menempelkan pipinya di pipi Sehun dengan cepat, setelah itu ia melambai kepada Chanyeol dan keluar dari restoran.
.
TBC
.
Istilah:
1. Je me souviens : Aku mengenang
2. Metro : Kereta bawah tanah di Paris
3. Mademoiselle : Nona
4. Monsieur : Tuan
Annyeong yeorobun~
Gimana tertarik nggak sama cerita ini? Ini cerita karya Kak Ilana Tan loh:)
Kalau menurutku sih ceritanya menarik. Dan karakternya cocok banget sama Chanyeol dan Baekhyun, btw disini Chanyeol itu orang orang Jepang ya. Tapi berhubung kalau diubah namanya pake Jepang bakalan aneh jadi anggap aja namanya kaya nama Jepang deh ya wkwkwk. Sehun juga disini orang Perancis asli makanya nama tengahnya aku kasih nama karakter aslinya. Maapkeun kalau agak aneh. Soalnya kalau namanya diubah banget tuh takutnya kurang ngefeel. Hehe^^
Selamat membaca, dan salam ChanBaek is real:*
Oiya jangan ragu untuk memberikan kritik dan saran ya^^
