Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Boys Love, OOC, Crack
Characters: Hatake Kakashi (27), Umino Iruka (23), Sasori (29), Deidara (19), Sai (17)
Pairing: KakaIru, SasoDei
Rate: T
Monochrome Life
.
.
.
Chapter II: Marionettenspieler
.
.
.
Kakashi menghela nafas keras-keras. Agak sedikit tidak peduli kalau itu dianggap tidak sopan oleh lawan bicaranya. Membuang sedikit rasa kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sensei-nya, Kakashi menatap Iruka dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Manis juga.
"Jadi, Iruka?"
"Ya, Hatake-san?"
"Kau sudah punya pacar belum?"
.
.
.
"Pa-pacar?!"
Iruka bahkan tidak bisa membayangkan betapa anehnya ekspresi yang ia tunjukkan kepada lawan bicaranya. Kenapa orang-orang terus melemparkan pertanyaan super menjengkelkan ini kepadanya? Pertama, Namikaze-san, dan sekarang, Hatake Kakashi. Sebenarnya Iruka masih meraba-raba seperti apa karakter asli novelis dengan kepribadian kompleks ini dan pertanyaan terakhir itu cukup untuk meretakkan image sang penulis di kepala si freelance-jurnalis.
Namun Kakashi terus menatapnya dengan alis yang terangkat, seolah-olah itu adalah pertanyaan yang wajar untuk ditanyakan pada seseorang yang baru saja ia termui, "Ya, pacar... dalam artian seseorang yang terlibat hubungan cukup serius denganmu. Baik secara emosional maupun fisik."
"Maaf, aku belum punya!" Iruka membungkukkan badannya. Kakashi tidak mampu menyembunyikan tawanya.
OK, pertama, kenapa ia harus minta maaf? Kedua, anak ini lucu.
Mendengar gumaman bariton yang mengalun pelan, Iruka memberankani diri untuk kembali mengangkat kepala. Ia menemukan dirinya berhadapan dengan wajah pucat Hatake Kakashi yang mulai sedikit memerah karena menahan tawa dan Iruka tidak bisa mengontrol dirinya untuk ikut tersenyum. Tangannya tanpa sadar menyentuh tas kamera DSLR yang tergantung di bahu kanannya. Instingnya sebagai seorang fotografer terus menggelitik untuk mengabadikan momen indah yang ada, setidaknya sampai perhatiannya teralihkan oleh satu sosok asing yang memasuki ruangan.
"Kakashi... makan apa kita malam—wow, halo... siapa ini?"
Kakashi memutar bola matanya mendengar siulan Sasori. Ia mulai tergoda untuk melaporkan sahabatnya sendiri terkait tindak pidana pelecehan seksual kepada pihak berwajib kalau Iruka tidak melakukannya lebih dulu.
"Iruka, perkenalkan, ini Akasuna Sasori," Kakashi lalu menoleh ke arah Sasori yang berdiri tepat di sampingnya, "Iruka-kun di sini akan menggantikan Minato-sensei untuk meliput Festival Obon."
"Minato tidak datang? Sayang sekali… tapi yah—"
Sasori memperhatikan Iruka dengan cara identik dengan yang diperlihatkan oleh Kakashi sebelumnya. Ia lalu berdecak kagum, "Kau luar biasa manis untuk seekor lumba-lumba yang terdampar,"
Kakashi menutup matanya dengan sebelah tangan. Iruka terlalu shock untuk marah dan Sasori tidak punya niat untuk berhenti, "Radarku tidak pernah salah. Apa kau tertarik untuk bergabung denganku dan Kakashi dalam petualangan cint—"
"Sa-Sasori-danna…"
"Dei!"
Sasori meninju Kakashi yang sudah mulai tertawa lagi di lengannya dengan keras, sebelum kembali mengejar partner-nya yang berlari ke arah tangga. Di tengah-tengah keributan itu, Iruka dan Kakashi bisa mendengar teriakan Sasori di atas, "Sai! Pakai bajumu!". Luar biasa. Tampaknya kehadiran Deidara di sini akan menyelamatkan banyak nyawa dari cengkraman sang predator sadis berwajah manis.
Kakashi berdehem untuk menarik kembali perhatian Iruka dari kekacauan yang ada.
"Maaf, Iruka… yang barusan itu Sasori dan Deidara. Sasori seniorku waktu kuliah dulu sedangkan Deidara asisten Sasori di tempat kerjanya yang sekarang. Lalu ada Sai, mahasiswa seni lukis. Kau bisa bertemu dengan mereka saat makan malam nanti dan juga bisa mengenal mereka lebih baik dalam beberapa hari ke depan. Mereka akan terus berada di sini selama satu minggu untuk Obon, sama sepertimu."
"Apa ada orang lain lagi yang tinggal di sini?"
"Maksudmu kenalanku? Selain para tamu?"
Iruka mengangguk.
"Untuk sekarang belum ada. Tapi kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan muncul." Kakashi tertawa, "Nah, kurasa lebih baik sekarang kau membiasakan dulu dengan tempat ini. Sebentar, akan kuminta Sai untuk menunjukkan kamarmu."
Tepat pada saat Kakashi menyelesaikan kalimatnya, Sai memasuki ruang resepsi mengenakan celana pendek hitam dan t-shirt polos berwarna sama. Ia menggosok-gosok satu tempat di kepalanya, membuat rambut hitamnya yang biasa tertata rapi menjadi berantakan.
"Pukulan Sasori-san sakit sekali." Gerutunya. Ia menatap Kakashi dengan pandangan memangnya-apa-salahku? Kakashi membalasnya dengan lirikan maksudmu-selain-kau-bertelanjang-dada-di-depan-Deidara? diikuti dengan helaan nafas panjang. Hilang sudah separuh jiwanya akibat banyaknya helaan nafas yang ia lakukan hari ini. Hidup memang kejam.
Ia kemudian memperkenalkan Iruka dengan Sai dan meminta seniman muda itu mengantarkan Iruka ke kamarnya.
Kakashi memperhatikan dua sosok kontras yang meninggalkan ruang resepsi dengan penuh perhatian. Untuk suatu alasan yang tidak bisa ia definisikan, keberadaan Iruka membuatnya merasa tidak nyaman dan saat ini, Kakashi tidak memiliki niat lebih jauh untuk menyelidiki penyebabnya.
.
.
.
Iruka menempati kamar tamu yang berada di lantai dasar, hanya beberapa kamar jauhnya dari kamar Kakashi. Dari barang-barang yang ia temukan di sana, Iruka menyadari bahwa kamar itu adalah kamar yang biasa dipakai oleh Namikaze Minato. Kamar yang sederhana namun nyaman. Ia mulai mengamati beberapa perabotan yang ditinggalkan di sana. Yang pertama, satu tempat tidur single dengan meja kecil dan lampu tidur di sampingnya. Kemudian sebuah lemari pakaian standar. Lalu... meja tulis dengan lampu baca yang menyimpan sejumlah novel kontemporer. Literatur itu tertata dengan rapi, sesuai nama pengarang dan judulnya.
Soseki, Murakami, Dazai... Iruka menelusuri deretan sampul dengan jemarinya.
Menengadahkan kepala, tepat di atas, ia melihat beberapa foto yang tampaknya diambil dengan kamera-film tertempel di dinding. Ia langsung mengenali Namikaze Minato berada dalam beberapa foto dan—
Warna rambut abu-abu keperakan yang khas.
—apa itu Hatake Kakashi? Karena kalau benar, ia terlihat luar biasa muda di foto itu. Mungkin masih remaja. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan ia berdiri tegak dengan sebuah senyum miring di wajahnya. Sebuah lengan dari anak lelaki berambut hitam, lebih tinggi sedikit dari Kakashi, merangkul bahunya. Anak itu tertawa lepas dan seorang gadis manis berambut cokelat panjang di sampingnya menampakkan ekspresi yang sama. Mereka bertiga mengenakan seragam sekolah, Iruka mengenalinya sebagai seragam Leaf Academy, sekolah swasta yang berada tidak jauh dari gedung Namikaze Publishing.
Iruka berpikir, apakah ia juga akan bertemu dengan dua orang ini nantinya? Siapa mereka?
Ia mulai membayangkan beberapa skenario cerita dan berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Apa Namikaze Minato sendiri yang mengambil foto ini? Apa mungkin Leaf Academy adalah tempat dimana Minato bertemu Kakashi untuk pertama kali? Seperti halnya foto pada umumnya, ada banyak yang bisa seseorang temukan dalam sebuah gambar yang menangkap kenangan.
Dalam hal ini, kenangan milik Kakashi.
Kakashi?
Iruka mengutuk rasa ingin tahu yang bergejolak dalam dirinya. Ia di sini hanya untuk meliput kegiatan festival! Iruka tidak boleh lupa akan hal itu, tidak baik untuk menggali masa lalu tuan rumah yang sudah berbaik hati menyediakan akomodasi untuknya.
.
.
.
Suasana makan malam cukup ramai dengan lima orang yang ada di meja. Kakashi tampak sedang terlibat obrolan serius dengan Sai di satu sisi dan Sasori dengan Deidara di sisi lainnya. Iruka duduk di sisi yang kosong di antara Sai dan Deidara. Deidara sendiri tampak tertarik dengan pekerjaan Iruka.
"Kau bilang meliput untuk Konoha Life?"
"Ya, kau tahu majalah itu?"
"Tentu saja! Aku berlangganan lewat pos, un! Tidak banyak majalah seni dan budaya di Suna yang benar-benar bermutu. Jadi aku senang sekali menemukan Konoha Life. Artikel seninya sangat menarik."
"Yah, kami beruntung punya staf editorial yang berpengalaman." Iruka tersenyum simpul membayangkan trio Yamanaka-Nara-Akimichi di kantornya.
"Tampaknya seru sekali, terus berada di lapangan, menemui hal-hal baru... daripada terkurung di ruanganmu dengan setumpuk pekerjaan dan laporan. Belum lagi harus menghadapi anak buahmu yang aneh-aneh." Sasori bergidik, kedua bahunya turun membayangkan rutinitas yang dijalaninya setiap hari. Kadang ia iri pada Kakashi atau orang-orang seperti Iruka yang tampaknya bisa menjalani profesi sesuai dengan minat mereka.
Berbicara tentang Iruka, Sasori merasa ia harus minta maaf atas kelakuannya di pertemuan pertama dengan Iruka. Ia sedikit terbawa suasana. Sayang Kakashi memutuskan untuk turun tangan dalam niat baiknya.
"Oh ya, Iruka. Soal yang tadi, aku harap kau bisa memaafkan aku. Aku dan Kakashi di sini hanyalah orang-orang—"
"Mesum."
"—brengsek yang kadang suka iseng, jadi mungkin nanti kau harus terbiasa dengan sifat kami yang agak—"
"Tolol."
"—ofensif," Sasori akhirnya berhasil menyelesaikan kalimatnya, "Terima kasih untuk bantuannya, Tuan Hatake yang terhormat. Kau boleh menutup mulut kotormu sekarang."
Iruka menanggapi dengan senyuman dan berkata bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin. Pikirannya saat itu terusik oleh rasa ingin tahu yang membumbung tinggi. Karena selama kalimat-kalimat itu diucapkan, walaupun ia sedang berbicara dengan Iruka, mata Sasori tidak pernah meninggalkan Kakashi. Iruka mulai berpikir ada sesuatu yang spesial dalam hubungan mereka berdua. Namun, asumsinya itu terpaksa ia kesampingkan dalam hitungan detik.
Bagaimana dengan Deidara?
Karena Iruka bersumpah mata pemuda berambut pirang itu selalu menatap Sasori dengan pandangan penuh hasrat. Ada kedalaman tak terukur dalam kedua bola biru jernih yang sering Iruka temukan pada orang-orang yang sedang jatuh cinta, sedangkan Sasori mengembalikan perasaan itu dengan sikap yang lebih elusif. Seolah-olah ia tidak ingin Deidara tahu kalau ia selalu memperhatikan partner-nya.
Sai sendiri terlalu fokus dengan hidangan yang ada di hadapannya. Ia baru memberikan reaksi berarti ketika perhatiannya benar-benar terpancing oleh suara keras atau ketika Kakashi yang duduk di sampingnya menepuk bahunya.
Luar biasa. Mungkin mengamati perilaku orang-orang aneh di dekatnya ini lebih menarik daripada meliput Festival Obon?
"Anggap saja ini rumah sendiri, Iruka. Kami senang menyambut orang baru di sini." Sasori berkata setelah akhirnya ia selesai dengan makanannya, "Perubahan dalam rutinitas membuat segalanya tidak membosankan. Tapi mungkin Kakashi kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sensei-nya yang sangat ia sayangi tahun ini—"
"Berhentilah berbicara untuk orang lain, Sasori."
Sasori merespon kalimat tajam Kakashi dengan pandangan menantang, "Ooh... apa aku baru saja mengenai titik lemahmu, Hatake?" Pria itu tertawa, seolah-olah memancing Kakashi untuk lebih memberikan reaksi lagi. Kakashi berusaha meredamnya, tapi semua orang bisa melihat dari matanya yang menyipit dan perubahan posisi duduknya dari bersandar ke kursi ke bersandar ke meja kalau ia merasa terganggu.
Sai memutuskan ini adalah saat yang tepat untuk turun tangan.
"Sasori-san hanya kesal karena ia tidak makan daging malam ini," Ia mendesah, "Menyedihkan sekali... cuma miso."
"Ya, kau jahat sekali Kakashi-san. Padahal danna masih dalam masa pertumbuhan."
"Sasori-san memang pendek untuk anak seumurannya." Iruka turut menimpali.
"Hei—"
"Sai, boleh kutanya apa yang sedang kau lakukan?"
"Di sini..." Sai menjatuhkan t-shirt-nya ke lantai, lalu merapikan rambut sampingnya dengan satu hentakan kepala, "... mulai panas."
"Di luar hujan deras, bodoh!" Deidara mulai melemparinya dengan potongan timun.
Tawa Kakashi tersembunyi di balik cangkir teh. Sasori menutup wajahnya dengan kedua tangan, menggelengkan kepala. Sai memungut salah satu potongan timun dari dadanya sendiri dengan wajah datar.
Iruka menemukan dirinya terus memperhatikan interaksi antar orang-orang aneh itu dengan penuh rasa kagum. Bagaimana tidak, seorang novelis misterius, pria babyface dengan mulut tajam yang kontras dengan wajahnya, remaja berambut pirang menyala dengan penampilan androgini serta seorang mahasiswa seni lukis dengan tendensi menjadi seorang eksibisionis bukanlah jenis individu yang bisa ia temukan di mana saja.
.
.
.
"Naa, Sasori-danna."
Deidara bergerak mendekati Sasori yang sedang berusaha membuat tempat tidurnya senyaman mungkin.
Setelah sesi minum-minum yang melibatkan sake (lemon squash untuk Sai) dan permainan monopoli, kelima orang partisipan yang kelelahan pensiun ke kamarnya masing-masing. Sasori tentu saja menempati kamar yang sama dengan Deidara, walaupun mereka tidak tidur dalam satu ranjang. Sasori telah berinisiatif memesan satu kamar dengan dua buah single bed, dipisahkan oleh meja kecil di antaranya.
"Ada apa Dei? Kau mau bantal lagi? Bantalku banyak sekali," Sasori merapikan tumpukan bantal di tempat tidurnya, "Ini bantal bukan, ya?"
"Tidak, aku tidak mau bantal lagi." Deidara menggelengkan kepalanya. Ia sudah memiliki cukup banyak bantal di tempat tidurnya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa Sasori masih bersikeras agar dia mengambil salah satu bantalnya. Deidara tidak begitu suka tidur dengan banyak bantal di sekelilingnya. Daripada bantal, ia lebih mengharapkan kehadiran pria berambut merah itu di sampingnya.
OK, cukup tentang bantal.
Sasori mengusap keningnya dengan sebelah tangan, "Lalu kenapa? Aku sudah mengantuk. Bisakah kita teruskan pembicaraan-apapun-ini besok saja?"
"Kenapa danna tidak pernah menyentuhku lagi?"
Deg.
Jantung Sasori membuat satu lonjakan lucu seketika dan ia terdiam, matanya bergerak perlahan ke wajah sang asisten. Wajah familiar yang selalu ada di dekatnya selama satu tahun ini, memerah dengan mata yang berkaca-kaca. Rambut pirangnya dibiarkan jatuh tak terikat, membingkai manis parasnya. Pemuda itu memeluk salah satu bantal dengan kedua tangan.
Sasori nyaris kehilangan kendali. Ia menahan nafas.
Deidara kembali berbicara dengan suara lirih yang sangat dibenci Sasori, "Sejak kejadian itu, sejak aku tidak—"
"Dei."
"Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya?"
"Kau salah paham."
"Apa danna tidak menyukaiku lagi?"
Sasori menundukkan wajahnya, "Tidak sekarang," Ia meremas lengan Deidara, "Kita ke sini bukan untuk membicarakan hal itu. Lagipula... lihat, bukannya sekarang aku menyentuhmu?"
Ya, danna menyentuhnya. Sasori-danna menyentuhnya tapi... tapi tangan Sasori terasa kaku, kaku dan dingin dan sentuhannya tidak meninggalkan jejak di lengan Deidara. Seakan-akan, Sasori tidak berada di sini, dengan Deidara. Ia merasa Sasori menatapnya dari gerbong kereta yang bergerak menjauh dan Deidara hanya bisa terpaku di atas platform, menatap jarak yang terus terbentang di antara mereka.
Karena walaupun saat itu danna tersenyum, walaupun itu adalah tangan, wajah yang sama namun—
"Kita tidur, ya."
Sasori mematikan lampu.
—sentuhan itu tidak sama dengan apa yang diingatnya.
.
.
.
Umino Iruka sedang membaca salah satu buku yang akan dijadikan sebagai referensi untuk liputannya ketika ia mendengar suara langkah yang diseret di lorong. Pintu kamarnya terbuka dan ketika akhirnya bayangan gelap itu lewat di depan kamarnya, sosok itu berhenti kemudian mempersilakan diri sendiri, melangkah masuk ke ruangan Iruka.
"Belum tidur?"
"Hatake-san?"
"Ya."
"Aku sedang membaca, mungkin sebentar lagi aku tidur. Hatake-san sendiri?"
"Kakashi."
"Maaf?"
"Panggil saja aku Kakashi. Hatake-san terdengar... ehm, tua. Aku merasa usiaku bertambah dua puluh tahun kalau kau panggil seperti itu."
Iruka tertawa dan Kakashi tersenyum. Pria yang lebih muda memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan menghampiri Kakashi yang setengah bersandar di pintu.
"Apa ada sesuatu yang kau perlukan, Kakashi-san?"
"Hmmh... tidak ada yang khusus. Aku baru saja kembali dari luar."
"Luar?" Iruka mengernyitkan keningnya. Situasi di luar saat ini sedang hujan deras dan ia ragu ada orang yang rela berjalan-jalan di luar dengan cuaca seperti ini, walaupun dengan membawa payung sekalipun.
"Ka-Kakashi-san! Pakaianmu—"
Iruka menyadari warna yukata Kakashi yang lebih gelap di beberapa bagian karena air hujan dan dengan refleks mengulurkan tangannya untuk menyentuh Kakashi, namun pria yang lebih tua menarik tangannya untuk menghindari kontak tersebut.
"Ah... ma-maaf."
Garis-garis di wajah Kakashi tidak berubah, dan ia meletakkan tangannya di belakang leher untuk menyembunyikan rasa tidak nyaman. Iruka mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia bisa melihat tetesan air hujan dari pakaian Kakashi mulai menggenangi lantai kayu. Sang novelis lalu menggumamkan sesuatu yang tak tertangkap oleh telinga Iruka sebelum ia berbalik untuk menuju kamar mandi.
Iruka menghentikannya. Kakashi menatap pemuda itu dengan satu alis terangkat (Iruka masih tidak bisa melihat mata kirinya yang selalu tersembunyi) dan menangkap sebuah handuk kering yang di lemparkan ke arahnya dengan satu tangan. Ia bergumam lagi, "Terima kasih." lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan Iruka. Dalam hati, Iruka bertanya-tanya hal apa yang bisa membuat pria berambut perak itu rela menerima deraan hujan musim panas di tengah malam buta.
Sebuah pertanyaan yang urung terjawab sampai pada waktunya Iruka terbuai dalam alam mimpi.
.
.
.
Sekitar pukul empat dini hari, Sasori terbangun.
Bukan karena mimpi buruk, tapi ia merasakan bahwa ia harus ke kamar kecil. Setelah memakai fasilitas yang ada di dekat kamarnya, Sasori menyadari bahwa tenggorokannya sangat kering. Ia berjalan menuju lantai bawah yang gelap untuk menuju dapur sambil menggerutu. Sebenarnya, ia bisa saja minum air yang telah disediakan di kamarnya, tapi saat ini ia ingin sekali minum teh dingin. Teh dingin yang ada di lemari es. Teh dingin yang segar.
Sasori berjalan dengan langkah berat yang diseret sepanjang lorong yang gelap. Satu-satunya penerangan yang terlihat adalah dari cahaya samar lampu dapur di ujung lorong seberang dan Sasori sudah setengah jalan sampai di sana ketika—
Bruk!
Genangan air yang cukup luas membuatnya sukses tergelincir, terjatuh dengan bunyi bedebam keras di atas lantai kayu.
Sakit sekali.
"Sialan... siapa—"
Sasori berusaha berdiri, namun rasa nyeri seketika menyerangnya di pergelangan kaki ketika ia mulai bergerak. Fantastis. Cedera? Sasori tetap berbaring tanpa gerakan tambahan di lantai. Tubuhnya mulai gemetar. Entah karena sensasi dingin dari air yang mulai meresap di pakaiannya yang tipis atau kemarahannya yang kian memuncak.
"—siapa orang tolol yang meninggalkan genangan air di loroooooong!"
Sayangnya, raungan penuh derita yang menggetarkan telinga itu tidak berhasil membangunkan satu manusia pun.
[Tbc]
A/N: Aduh, kasian Puppeteer kita. Ya udah, tidur aja dulu di situ sampe besok ya, Sasori sayang :D Seneng juga bikin fic ini, hiburan banget buat saya :D
REVIEEEEEW JANGAAAAAAN... :3 LUPAAAAA #plak
Makasih banyak, un.
Sei
