Suasana hening menyelimuti ruang makan istana Kerajaan Alvarez, Raja Redric melebarkan matanya terkejut saat mendengar perkataan dari Calon Menantu-nya itu.

Dungeon, sebuah tempat yang dibangun oleh orang-orang zaman kuno sebagai tempat untuk menyimpan segala barang berharga yang mereka miliki, mereka melakukan itu untuk melindungi barang berharga mereka agar tidak disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan tempat yang dibangun dengan sistem pertahanan tingkat tinggi, juga para Magical Beast dan Makhluk Summoning yang menjaga tempat itu, sudah dapat dipastikan jika untuk mendapatkan harta berharga dari dalam Dungeon dibutuhkan usaha yang tidak sedikit.

Namun jika mereka berhasil mendapatkan harta yang tersimpan didalam Dungeon maka hasil yang didapatkan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, belum lagi jika kerajaan mendapat pengetahuan dan senjata kuno yang tersimpan didalam Dungeon maka dapat dipastikan bahwa kerajaan akan berkembang pesat, namun disitulah letak masalahnya.

Kerajaan akan semakin berkembang dengan memanfaatkan harta berharga, pengetahuan kuno yang sudah punah dan senjata magis yang memiliki kekuatan luar biasa, dengan semua godaan itu, jika kerajaan lain sampai tahu bahwa sebuah Dungeon muncul diwilayah kerajaan manusia maka itu bisa membuat kerajaan lain menuntut pembagian hak atas Dungeon yang muncul, dan jika mereka tidak mendapatkan hak mereka maka ketiga kerajaan akan menggabungkan kekuatan mereka dan memusnahkan Kerajaan Alvarez...

"Ini bom waktu..."

Raja Redric bergumam pelan dengan wajah pucat pasi menyadari bahaya dari Dungeon yang muncul diwilayah kerajaannya, ia harus segera melakukan sesuatu untuk mengatasi ini, jika tidak maka kemungkinan terburuk yang berada dipikirannya akan benar-benar terjadi.

"Bom waktu? Apa yang anda katakan, Yang Mulia? "

Raja Redric yang sedang memijat pelipisnya yang bersenyut nyeri mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Ulther yang melempar pertanyaan padanya. Raja Redric menghela nafas lelah lalu menyenderkan punggungnya pada bantalan kursi dan Raja Redric menceritakan pemikirannya tentang Dungeon yang berada diwilayah Kerajaan Alvarez, dan sama halnya dengan Raja Redric, semua orang yang mendengarnya menjadi pucat pasi, nampaknya mereka mengkhawatirkan hal yang sama, hanya Anggota Club penelitian alam dan Vasco Strada saja yang terlihat tenang.

Vasco Strada menatap datar kearah Naruto yang juga menatap datar kearahnya."Cucu menantu-dono, apa informasi yang kau katakan tadi benar? Ada Dungeon diwilayah kerajaan ini?."Tanya Vasco dibalas anggukan kecil dari Naruto.

"Faktanya ada satu Dungeon tersegel diwilayah kerajaan ini, dan itu berada diwilayah paling utara kerajaan ini, lebih tepatnya diwilayah pesisir pantai, Kota [Luxurious]."

"[Luxurious]... Kah." Vasco Strada bergumam pelan selagi ia mencubit dagunya dan berpikir sejenak, entah ini sebuah kebetulan atau hasil rencana para dewa, Luxurious adalah tempat Resort terkenal dengan sajian pemandangan matahari terbenam yang sangat indah dengan tambahan air laut yang sangat jernih membuat tempat itu terkenal sebagai tempat bersantai para bangsawan kalangan atas dan rencananya ditempat itu jugalah Raja Redric berniat untuk... Vasco tersenyum kecil sesaat sebelum ia kembali menatap kearah Naruto.

"Sejujurnya aku masih meragukan tentang keberadaan Dungeon yang kau katakan tadi, Cucu Menantu-dono, tapi aku tahu kau bukanlah type orang yang akan mengatakan sesuatu seperti omong kosong..."

"Jadi, apa keputusan anda, Yang Mulia, Vasco-sama?."

Tanya Naruto dengan senyuman kecil terpatri diwajahnya, Vasco tersenyum melihat ekspresi itu, itu adalah ekspresi yang seseorang yang yakin permintaannya tidak akan ditolak."Baiklah, aku bersedia menjadi perantara untuk kalian, aku akan mengirim surat pengajuan ijin libur kalian pada academy, dan aku juga akan memastikan ekspedisi kalian mendapat dukungan penuh dari Kerajaan..."ucap Vasco membuat senyuman senang mengembang diwajah para anggota Club Penelitian Alam, namun sesaat kemudian senyuman itu luntur saat Vasco mengatakan 'tapi' dengan satu jari teracung keatas.

"... Aku ingin kalian berjanji satu hal padaku-, Tidak... Pada kami..."

Para anggota Club Penelitian Alam terdiam dan menatap datar kearah Vasco Strada yang sedang memasang senyuman tipis diwajah remajanya. Naruto menatap Vasco Strada sejenak sebelum ia bertanya.

"Dan, apa itu, Yang Mulia?."

Tanya Naruto membuat senyuman tipis Vasco strada berkembang"Aku ingin kalian berjanji bahwa kalian akan kembali dengan selamat... Apa kalian bisa berjanji pada kami, Cucu Menantu-dono dan teman-temannya?."tanya Vasco, Naruto dan yang lain terdiam mendengar hal itu sebelum dengan kompak mereka bangkit dan menepuk dada mereka dengan keras dimana lambang Agung kerajaan Alvarez tercetak disana.

[[[[[[[Ha'i! Kami berjanji!?]]]]]]]

-change scene-

Dikamar yang luasnya keterlaluan dengan funiteru kelas atas yang menghiasi tempat itu terlihat Namikazs Naruto tengah duduk disofa empuk selagi pandangannya terarah pada buku yang ada ditangannya, saat ini Naruto sedang berada disalah kamar tamu istana yang biasa digunakan oleh tamu penting untuk menginap.

Naruto membaca buku yang berisikan informasi tentang kemunculan dungeon dimasa lalu dan seperti apa tempat yang bernama dungeon itu, ia membaca dengan serius kalimat demi kalimat, membalik halaman selanjutnya dan membaca lagi dengan serius, Naruto terus melakukan hal itu sampai tiba-tiba ia merasakan beban dibahu kanannya, Naruto menghentikan kegiatan membacanya dan menoleh kesamping dan tepat digaris penglihatannya ia melihat seorang perempuan bertubuh mungil dengan surai hitam berkilauan layaknya langit malam, iris abu-abu dengan sedikit perak yang terlihat hampa, dan wajah tanpa ekspresi dengan keimutan yang melewati angka maks!

Naruto mengenali perempuan ini, karena bagaimana-pun ia adalah salah satu makhluk yang menghuni tubuhnya, [The Infinite Magic of Solomon Book], Ophis. Ophis menatap dibaca oleh Naruto dengan tatapan hampa seperti biasa.

"Dungeon ya... Sepertinya kau serius ingin menjelajahi tempat itu, ya... Master."

Ucap Ophis sambil mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Naruto dengan tatapan datar, Naruto terdiam sebelum ia tersenyum kecil.

"Ya begitulah, Ophis. Aku ingin bertambah kuat karena saat ini situasiku mengharuskan ku untuk menjadi semakin kuat..."

"Begitu, para bangsawan itu mulai bergerak ya..."

Naruto tersenyum kecut dan mengangguk pelan membenarkan perkataan Ophis. Setelah ia memenangkan Turnamen Great Royal dengan mengalahkan Uchiha Sasuke dalam duel resmi, Naruto mulai menjadi pusat perhatian... Beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya saat ia berada diruang pemulihan untuk menyembuhkan luka yang dia derita saat bertarung sengit dengan Uchiha Sssuke para Bangsawan kalangan atas mulai bergerak mendekatinya, hampir setiap hari Naruto menerima surat yang berisikan kalimat ucapan selamat, pujian dan sanjungan berlebihan bahkan terkesan menjijikan dari para bangsawan yang ditunjukan untuknya... Beberapa surat yang lain bahkan berisi pertanyaan yang menanyakan perihal kapan ia sembuh dari cideranya sebab mereka berniat menyesuaikan hari kesembuhannya dengan acara minum teh yang biasa diadakan para bangsawan kalangan atas, mereka bermaksud untuk mengundang dirinya saat ia keluar dari ruang pemulihan...

"Mereka tidak menyembunyikan niatan mereka yang sebenarnya, para bangsawan itu..."

Naruto memasang ekspresi sedikit kesal mengingat kejadian itu, apa para bangsawan itu tidak punya urat malu, mengundang orang yang pernah dipandang rendah oleh mereka, apa kepala mereka terhantam dinding beton hingga mereka melupakan perilaku semena-mena pada Clan-nya? Apa mereka tidak sadar jika tindakan mereka yang membatasi kegiatan jual beli dan bahkan menjatuhkan harga barang yang dijual oleh Clan Namikaze hanya akan membuat Clan Namikaze mati secara perlahan-lahan!? Apa mereka lupa akan fakta itu!? Naruto mengeratkan tangannya membuat buku ditangannya lecek, amarahnya jadi meningkat hanya dengan mengingat hal itu namun saat amarah itu siap meledak Ophis dengan lembut memeluk Naruto dari belakang, ia mengeratkan pelukannya berharap dengan begitu amarah masternya akan mereda dan nampaknya itu mulai berhasil, perlahan tubuh Naruto yang menegang mulai rileks kembali, rasa amarah yang menyelimuti Naruto perlahan mulai tergantikan oleh ketenangan yang aneh. Naruto memejamkan matanya menikmati pelukan Ophis dan secara perlahan ia mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Ophis.

"Bagaimana, apa Master sudah merasa tenang?."

Naruto tersenyum mendengar perkataan Ophis, Diva pertamanya yang tak pernah ada bosan-bosannya mendeklarasikan dirinya sebagai pelayan pertama dan tersetianya itu, Naruto menarik nafas tipis dan melepaskan pelukan Ophis, dengan perlahan Naruto membalikkan badannya dan menepuk kepala Ophis dan mengelusnya dengan lembut.

"Terimakasih, Ophis berkatmu, aku bisa tenang..."

"Sudah menjadi tugas seorang pelayan untuk memenuhi segala kebutuhan Masternya..."

Naruto terkekeh melihat Ophis yang mendeklarasikan dirinya dengan penuh percaya diri, Ophis bahkan membusungkan dadanya yang mungil itu dengan bangga meski ekspresinya tetap datar... Naruto tersenyum tipis dan menepuk surai hitam itu sekali lagi sebelum ia mengambil buku tentang dungeon yang tadi ia baca, mengalirkan Mana miliknya kedalam buku dan dalam sekejap buku itu berubah menjadi partikel cahaya dan terserap kedalam tubuh Ophis.

"Master... Tentang para Bangsawan itu, apa yang akan kau lakukan?."

"Ya, untuk saat ini, aku akan melihat pergerakan mereka, aku sudah meminta Crow dan Yuri untuk merekrut anggota baru yang menurut mereka layak untuk menambah [Special Unit], aku juga memerintahkan [Tim Taka] yang beranggotakan orang-orang dengan kemampuan pelacak dan pengumpulan informasi terbaik di Divisi [Anbu] untuk memata-matai pergerakan Clan lain, dan aku telah mengirim Narberal Gamma, Solution Epsilon, Lupusregina Beta dan Entoma Vasilissa Beta untuk mengatasi masalah diperbatasan..."

"Memukul sebelum dipukul ya..."

Ophis bergumam pelan, Masternya selalu memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan, seperti sekarang ini, setelah Naruto menghapus bakat dari Uzumaki Menma, Heir selanjutnya dari Clan Uzumaki itu, perselisihan antara Clan Uzumaki dengan Clan Namikaze semakin memanas, Clan Uzumaki nampak tak terima atas apa yang dilakukan Naruto pada Heir mereka dan menuntut pertanggung jawaban, dan akibatnya konflik diperbatasan menjadi semakin memanas, namun Naruto yakin jika Clan Uzumaki tidak akan mampu mengusik Clan Namikaze selama [Pleaides] menjaga daerah perbatasan. Naruto menyeringai kecil saat ia menghitung anak ayam yang belum menetas*

"Master, Wajahmu! Wajahmu!."

"Ah, maafkan aku..."

-Change Scene-

Setelah bertukar obrolan dengan Ophis, Naruto memutuskan untuk menghabiskan waktunya berjalan-jalan menjelajahi Istana, melangkah disepanjang lorong yang sunyi sambil sesekali menyapa Maid yang sedang membersihkan lorong, Naruto sedikit menaikan alisnya saat melihat Maid yang ia sapa bersemu merah dan mengalihkan pandangannya tidak berani menatap dirinya, apa ini, apa dirinya dibenci!?.

Naruto hanya dapat tersenyum kecut dan melanjutkan langkahnya, ia terus berjalan selama beberapa saat sampai ia berhenti ketika matanya menangkap pemandangan indah dari taman istana yang cukup luas, Naruto dibuat terpukau oleh bunga-bunga beraneka warna yang tumbuh subur ditaman istana, ia menganggumi taman itu sebelum pandangannya terkunci pada dua figur cantik yang sedang menikmati waktu minum teh mereka disebuah bangunan Gazebo yang biasa dipakai untuk tempat bersantai menikmati keindahan pemandangan selagi menghindari teriknya sinar matahari siang, Naruto menatap kedua perempuan itu, ia menyipitkan matanya... Bukankah mereka...

"Arthuria dan Shaga? Apa yang mereka lakukan disana?."

Yap, yang sedang menikmati waktu minum teh itu adalah kedua tunangan Naruto, Arthuria Pendragon dan Ayame Alvarez Shaga, Naruto menatap kedua perempuan itu sebelum ia memutuskan untuk menyapa mereka berdua...

"Yo, Shaga, Arthuria..."

Mendengar nama mereka dipanggil dengan pelan mereka berdua menoleh kesamping dan tepat digaris penglihatan mereka terlihat Naruto tengah berjalan seraya melambaikan tangan kearah mereka dengan senyuman tipis terpatri diwajah. Melihat Naruto datang mendekati mereka, Shaga dan Arthuria melambaikan tangan mereka bermaksud menyapa balik Naruto.

"Apa boleh aku bergabung dengan kalian?."

"Silahkan saja... Kami tidak keberatan..."

"Ya, silahkan duduk, Naruto."

Naruto tersenyum dan menjatuhkan pantatnya keatas kursi, Maid yang bertugas menyajikan teh dengan tanggap menuangkan teh keatas cangkir teh, aroma dari teh perlahan menguar ditempat itu membawa ketenangan bagi siapapun yang menghirup aromanya, Maid itu menyerahkan teh yang masih mengeluarkan sedikit uap putih pada Naruto yang menerima dengan senyuman tipis diwajahnya, mengucapkan terimakasih pada Maid itu dan perlahan menyesap rasa teh itu...

Rasa dari teh herbal yang menenangkan memenuhi indra pengecap Naruto, ia sedikit mendesah merasakan raaa teh herbal yang memanjakan, teh kualitas atas memang berbeda, dikehidupan yang sebelumnya Naruto pernah mencoba teh kualitas atas dan rasa teh ini tidak berbeda jauh dengan teh yang ia minum didunia sebelumnya.

Naruto menjauhkan cangkir dari mulutnya dan meletakan teh itu diatas piring teh dengan pelan tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Naruto tersenyum kecil dan menatap kearah Shaga dan Arthuria yang untuk beberapa alasan menatap dirinya tanpa berkedip.

"Hime, apa ada yang salah dengan wajahku, sampai kalian menatapku seperti itu?."

Tanya Naruto membuat kedua perempuan bersurai pirang itu sedikit tersentak sebelum mereka tersipu malu saat ketahuan memandangi wajah Naruto tanpa berkedip.

"Ti-Tidak ada, kami hanya penasaran ada apa gerangan kau menenui kami, Naruto-kun..."

"Y-Ya, bukankah saat ini kau sedang sibuk mengurusi keperluan untuk Ekspedisi 'itu'?."

Naruto terdiam sejenak sebelum ia mengaruk pipinya yang tak gatal tanda ia sedang gugup."Ya, bagaimana mengatakannya... Masalah keperluan untuk Ekspedisi telah dikerjakan oleh yang lain, entah kenapa setelah pembicaraan tentang masalah 'itu' selesai, mereka langsung datang ketempatku dan meminta daftar keperluan yang harus diurus..."Naruto mengatakan itu dengan senyuman kecut yang terpatri diwajahnya, ia masih mengingat dengan jelas saat teman-temannya datang ketempatnya dan meminta daftar keperluan yang dibutuhkan untuk ekspedisi penaklukan Dungeon, mereka dengan sedikit memaksa meminta agar mereka saja yang mengurus keperluan untuk penaklukan Dungeon, awalnya Naruto berniat untuk menolak karena ia tidak ingin merepotkan teman-temannya dan berniat mengurusnya sendiri namun ia dibungkam oleh teman-temannya yang mengatakan...

[Diam dan biarkan kami yang mengurusnya!]

[Apa kau pikir kami bisa bersantai dikamar semegah itu?!]

[Maaf saja, Naruto-san tapi bagi kami berdiam diri dikamar seluas itu hanya akan membuat kesehatan mental kami terganggu!]

[Be-Benar apa yang dikatakan Cao Cao-san, a-aku tidak suka dengan keheningan kamar itu, a-aku merasa se-seperti aku ditelan dalam keheningan, dan aku tidak suka itu... Uuu~.]

[Naruto-san, tolong biarkan kami yang melakukannya..]

[Ya, serahkan pada kami...]

Naruto tersenyum kecut mengingat teman-temannya yang nampak tak nyaman dengan suasana istana yang megah, meski mereka nampak tidak masalah dengan suasana academy yang tak kalah megah dari istana namun mereka merasa tak nyaman saat mendapatkan perlakuan khusus layaknya bangsawan, meski Arthur merupakan pengecualian sih. Naruto menghapus senyuman diwajahnya dan menatap Shaga dan Arthuria yang untuk beberapa alasan memasang senyuman bermasalah.

"Aku entah kenapa merasa tak enak dengan Ikuse-san dan yang lain..."

"Kami seperti tuan rumah yang buruk karena membiarkan tamu kami merasa tak nyaman..."

"Ah, tolong jangan terlalu dipikirkan, mereka hanya tidak terbiasa dengan suasana mewah yang mereka dapatkan, lagipula aku yakin saat sedang berkeliaran dan bersenang-senang dikota..."

Ucap Naruto dengan senyuman tipis sebelum ia mengambil cangkir tehnya, Shaga dan Arthuria yang mendengar perkataan Naruto terdiam sejenak sebelum mereka berdua mengulas senyuman tipis.

"Aku harap mereka bisa menikmati waktu mereka dikota nanti..."

"Aku rasa, kau tidak perlu mencemaskan hal itu, Shaga-hime. Seperti kataku sebelumnya saat ini mereka mungkin sedang bersenang-senang dikota, khususnya untuk Tobio dan Miya-san, serta Arthur dan Okita, aku yakin saat ini mereka sedang menikmati kebersamaan mereka..."

Ucap Naruto seraya mengulas senyuman misterius yang membuat Shaga dan Arthuria menaikan alis mereka dengan bingung.

-change scene-

Didistrik kota bagian selatan, terlihat Ikuse Tobio dan Asma Miya sedang berjalan dijalan setapak yang dilalui para pejalan kaki, kedua pemuda-pemudi itu berjalan menyusuri jalan didisrik selatan untuk mencari keperluan yang harus mereka beli...

Miya yang memegang daftar keperluan yang harus mereka beli memimpin jalan sementara Tobio mengikuti dari belakang dengan wajah bosan.

Keduanya terus berjalan sampai mereka berhenti tepat didepan bangunan megah bercat merah dengan papan nama [Toko Herbal Rubah Merah] yang tergantung tepat disebelah atas pintu, Miya menatap nama papan toko itu dan menyamakannya dengan yang ada Note List miliknya, setelah yakin sama Miya dan Tobio bergegas masuk kedalam.

Sesampainya didalam Miya dan Tobio dibuat terpukau oleh keindahan interior dan dekorasi yang ada didalam toko, meski desain interiornya tidak sebagus dan semewah Istana kerajaan tapi interior dan dekorasi tempat ini meninggalkan kesan tersendiri bagi mereka yang pernah mengunjungi toko ini.

Setelah puas melihat interior dan dekorasi toko, Miya bergegas menuju meja resepsonis dengan Tobio yang berjalan tepat dibelakangnya.

"Selamat datang di [Toko Herbal Rubah Merah] Senju, apa ini pertama kalinya anda datang ke toko ini?"

Seorang Onee-san yang terlihat menarik bertanya dengan sopan, Miya mengeleng pelan."ya kami baru pertama kali datang ketempat ini."ucap Miya dengan anggun dan sopan hingga membuat orang lain tidak akan percaya jika Miya berasal dari kalangan rakyat jelata, Onee-san resepsonis itu tersenyum ramah dan mengangguk pelan.

"Kalau begitu, apakah anda memiliki sesuatu untuk membuktikan status sosial anda..."

Ucap Petugas Resepsonis itu, Miya mengangguk pelan dan merogoh sakunya dan mengeluarkan medali perak yang disana terukir lambang dari Clan Senju, Miya menyerahkan medali perak itu kepada Petugas resepsonis yang menerimanya dengan sopan.

"Terimakasih, saya akan memeriksanya terlebih dahulu..."

Ucap petugas resepsonis dengan ramah sebelum ia mengalihkan pandangannya dan memeriksa Medali perak itu, namun saat ia melihat lambang yang terukir diatasnya Petugas Resepsonis melebarkan sedikit pandangannya, ia memasang ekspresi ragu sesaat sebelum ia kembali menatap Miya dan dengan cepat menundukan kepalanya dalam-dalam.

"Mohon Maaf, silahkan tunggu sebentar!."

Setelah mengatakan itu, petugas resepsonis langsung bergegas menuju pintu belakang, Miya dan Tobio melihat tingkah petugas resepsonis itu dengan bingung, keduanya saling bertukar pandang sejenak sebelum mereka mengangkat bahu tak tahu. Cukup lama Miya dan Tobio kenunggu sampai tiba-tiba suara langkah kaki seseorang yang berlari masuk keindra pendengara Miya dan Tobio, keduanya dengan kompak menoleh keasal suara dan mereka berdua melihat seorang pria setengah baya berpenampilan layaknya seorang bangsawan kalangan atas, pria itu terlihat berkeringat dan nafasnya sedikit memburu, seperti dialah yang membuat suara gaduh barusan.

Pria itu mengatur nafasnya dan membenarkan sedikit penampilan yang sedikit acak-acakan, setelah ia yakin oenampilannya telah rapi, pria paruh baya itu berdehem sejenak sebelum ia memasang senyuman seorang pembisnis profesional.

"Maaf karena membuat kalian berdua menunggu, perkenalkan namaku Senju Itoshi, aku adalah orang yang bertanggung jawab pada bisnis toko ini, silahkan ikuti saya, Ojou-sama, Ouji-sama..."

Pria yang memperkenalkan namanya sebagai Senju Itoshi berjalan menuju pintu yang terletak disamping meja resepsonis, Miya dan Tobio saling melirik satu sama lain dengan bingung sebelum keduanya memutuskan untuk mengikuti pria itu. Setelah mengikuti pria itu, Miya dan Tobio sampai diruangan khusus yang dibuat senyaman mungkin untuk tamu penting. Pria tua itu, Itoshi-san mempersilahkan Miya dan Tobio untuk duduk disofa empuk yang ada diruangan itu.

"Silahkan duduk, Ojou-sama, Ouji-sama... Tolong buat diri anda senyaman mungkin..."

Ucap Itoshi dengan ramah, ia memerintahkan Maid yang berdiri disudut ruangan untuk menyajikan teh untuk Miya dan Tobio yang sejak tadi nemasang ekspresi datar namun jika dilihat lebih teliti keringat dingin meluncur mulus dipelipis keduanya...

"Silahkan dinikmati tehnya..."

"Terimakasih..."

"Hn... Makasih..."

Miya mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya dengan sopan sementara Tobio menikmati tehnya dengan ekspresi tak peduli, setelah membiarkan rasa nikmat dari teh memanjakan mulut mereka, Itoshi langsung memulai percakapan.

"Jadi, apa yang dapat saya bantu untuk kalian, Ojou-sama, Ouji-sama?."

"Kedatangan kami kesini hanya ingin membeli beberapa tanaman herbal dengan kualitas terbaik..."

"Anda tenang saja, Keluarga Senju sudah terkenal dengan bisnis tanaman herbalnya, saya jamin anda tidak akan kecewa dengan kualitas tanaman herbal kami..."

"Ara, senang mendengarnya, kalau begitu..."Miya merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan daftar keperluan tanaman herbal yang harus ia beli, Miya menyerahkan daftar itu kepada Itoshi yang menerimanya dengan sopan, Itoshi menaikan sedikit kacamatanya dan menatap daftar yang ada ditangannya, ia membaca kata-kata yang ada disana sebelum ia mengangguk paham.

"Aku mengerti, kami memiliki semua tanaman herbal yang anda minta, kira-kira berapa banyak jumlah yang anda perlukan, Ojou-sama?."

"Kami memerlukan masing-masing dari mereka seratus buah, kami juga membutuhkan pot obat kualitas terbaik dan serbuk [Stabilizer] sebanyak 100kg, apa kalian bisa menyediakannya?."

"Sera-!?, Ah, maafkan aku... Ehem, kami memiliki semua pesanan anda tapi kami memerlukan sedikit waktu untuk menyiapkannya, apa itu tidak masalah?."

"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan semuanya?."

"Siang nanti semua akan selesai disiapkan..."

"Begitu ya... Kalau begitu, kami mengandalkanmu..."

"Terimakasih, lalu tentang pembayarannya-,"

Sebelum Itoshi dapat menyelesaikan perkataanya, Tobio yang sejak tadi memperhatikan arah pembicaraan langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan kartu seukuran kartu tanda pengenal dengan warna purple indah yang memantulkan cahaya, Tobio menaruh kartu purple itu keatas meja.

"Kami akan membayar semuanya menggunakan ini..."

"P-P-P=Purple Card!?."Itoshi berseru terkejut! Ia terkejut bukan tanpa alasan sebab tepat didepannya saat ini terpampang [Purple Card]! Card langka yang memiliki nilai setara dengan satu juta coin emas itu berada tepat didepannya! Ini adalah kartu langka yang hanya dikeluarkan secara khusus untuk orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan!? Tobio menatap datar Itoshi yang terkejut.

"Jadi... Apa kami bisa melakukan pembayaran dengan ini?."

Ulang Tobio membuat Itoshi tersadar dari rasa terkejutnya dan mengangguk kaku."Y-Ya, anda bisa melakukannya... Mo-Mohon tunggu sebentar..."Itoshi dengan perlahan mengambil [Purple Card] itu dan bergegas menuju petugas Resepsonis yang ada didepan.

"Tu-Tuan! Bukankah ini [Purple Card] yang legendaris itu!?."

"Kecilkan suaramu! Kau akan menganggu Tuan dan Nyonya yang ada didalam!?."

Miya dan Tobio yang berada didalam ruangan terdiam mendengar suara gaduh dibelakang mereka, tidak ada satupun dari Miya maupun Tobio yang mengeluarkan suara menyebabkan ruangan itu dipenuhi suasana hening yang aneh... Cukup lama keduanya terdiam sampai akhinya Tobio membuka suara memecah keheningan itu.

"Nee, Miya..."

"Uhm, apa?."

"Melihat reaksi mereka, mungkinkah kita baru saja membawa sesuatu yang menakjubkan?."

"Tobio, kau baru saja mengatakan sesuatu yang tidak ingin aku katakan..."

Miya menghela nafas seraya memijat pelipisnya yang entah kenapa terasa nyeri, seperti yang diharapkan dari benda pemberian keluarga kerajaan, gak ada yang wajar semua, sebelumnya Medali Perak yang diberikan Naruto kepada mereka berdua dapat membuat Orang yang merupakan pemimpin toko ini memperlakukan mereka layaknya seorang bangsawan, dan sekarang [Purple Card] yang diberikan oleh Raja Redric? Hah~ ini tidak baik untuk akal sehat mereka...

-Time Skip

Hari perlahan mulai sore, dan saat ini suasana ibukota mulai berangsur-angsur sepi, di air mancur besar yang terletak dipusat ibukota, terlihat Tobio tengah duduk dibangku panjang dengan wajah lelah yang terukir diwajahnya, disebelahnya Miya juga bernasib sama sepertinya.

"Aku, entah mengapa merasa lelah untuk beberapa alasan..."

"Aku juga... Hah~, ternyata diperlakukan layaknya bangsawan itu membuatku merasa tak nyaman..."

Miya menghela nafas selagi iris cokelat miliknya menatap kearah langit sore yang cukup indah, Tobio mengangguk lemas. Mereka sekarang paham bahwa menjadi bangsawan itu merepotkan, tata krama dimeja makan, sopan santun ketika berbicara, dan etika lainnya yang menyusahkan, mereka berdua sekarang bersyukur telah terlahir sebagai seorang rakyat biasa. Miya dan Tobio bertukar pandangan sejenak sebelum mereka tertawa kecil.

"Ah~ aku senang bisa hidup sebagai orang biasa yang tak terikat peraturan yang rumit itu..."

"Ufufu~ kebebasan merupakan sesuatu yang mahal dan aku senang aku memilikinya..."

Kedua pemuda itu saling tertawa dengan akrab hingga membuat orang-orang yang berlalu lalang disana menatap keduanya dengan tatapan hangat, menurut pandangan orang-orang yang berlalu lalang Miya dan Tobio terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bersenang-senang menghabisi waktu bersama, Miya dan Tobio terus tertawa sampai entah siapa yang memulainya, tangan mereka yang sebelumnya terpisah beberapa inchi perlahan tapi pasti kian mendekat dan entah setan mana yang menggoda, keduanya menautkan tangan mereka...

"Tobio..."

Entah karena suasana yang mulai mendukung atau karena hal lain, Miya perlahan memejamkan matanya dan sedikit memajukan bibirnya, melihat hal itu entah setan mana lagi yang menggoda Tobio hingga ia ikut memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya dan...

"Taichou, Fuku Taichou..."

Mendengar sebuah suara yang memanggil mereka, keduanya langsung tersadar dan dengan panik menjauhkan wajah mereka, keduanya nampak malu setelah sadar jika sedikit lagi mereka hampir saja, b-be-berciuman...

Blush!

Wajah keduanya langsung memerah padam menyadari bahwa mereka hampir melakukan tindakan tak senonoh didepan umum, Cao Cao, yang tadi memanggil keduanya dibuat terdiam saat melihat Tobio dan Miya mengalihkan pandangan mereka kearah lain dengan wajah merah tersipu malu...

"Aku... Tidak pernah menyangka, Taichou... Kupikir kita berada dipihak yang sama saat kita memiliki rasa benci yang sama pada Naruto-san, tapi lihatlah apa yang aku dapatkan disini... Kalian barusan tadi hampir saja ber-,"

Sring!

Cao Cao tidak dapat meneruskan kalimatnya sebab saat ini sebilah pedang tengah menempel tepat dilehernya, sensasi dingin dari mata pedang membuat sekujur tubuh Cao Cao menjadi kaku, dengan takut Cao .kearah sih pelaku yang tak lain adalah Miya, wajah Cao Cao langsung kehilangan rona sehat saat melihat Moya yang menatapnya dengan tatapan yang menjanjikan kematian bagi siapapun yang menentangnya, tak lupa Aura intimidasi kuat menyeruak dari tubuh Miya.

"Kau lanjutkan ucapanmu, maka kau akan kehilangan kepalamu, jadi diam dan lupakan apa yang kau lihat hari ini... Mengerti..."

"H-Ha'i!?."

"Bagus..."

Cao Cao menghela nafas lega saat Miya memasuk kembali pedang kesayangannya kedalam sarung dipegangnya, tadi itu hampir saja! Ia hampir saja kehilangan kepalanya!? Miya Fuku Taichou, sungguh mengerikan! Miya tersenyum manis seolah apapun dan kembali duduk disamping Tobio yang untuk beberapa alasan tubuhnya gemetar, nampaknya ia juga menahan malu saat ia memikirkan ia yang hampir saja mencium Miya. Tobio mengeleng pelan menghapus pemikirannya dan menatap datar Cao Cao, meski jika dilihat dengan teliti terdapat merah diwajah tampannya.

"Jika kalian ada disini, maka transaksi kalian berjalan lancar, Cao Cao, Lee..."

"A-Ah, ya begitulah... kami sudah menyelesaikan Transaksi dan berhasil mendapatkan keperluan yang dibutuhkan selama beberapa hari kedepan, meski... Ada sedikit masalah saat kami bernegosiasi..."

Ucap Cao Cao dengan senyuman pahit yang terpatri diwajahnya, Tobio terdiam melihat ekspresi itu sebelum ia menarik nafas dan memasang senyuman kecut.

"Begitu, kalian juga mendapatkan masalah dari barang pemberian Naruto dan Heika ya..."

"Kalian juga?"

"Ya, begitulah..."

Cao Cao dan Tobio terdiam dan bertukar pandangan satu sama lain sebelum mereka menghela nafas lelah dan tersenyum pahit.

"Menjadi seorang Bangsawan, ternyata tidak seindah yang aku kira..."

"Aku setuju denganmu, Cao Cao..."

Kedua pemuda itu menghela nafas panjang membuat Miya menatap mereka dengan mata mengerjap bingung, Miya menatap kedua pemuda itu sejenak sebelum ia mengarahkan pandangannya kearah Lee yang sejak tadi berdiri didekat Cao Cao dengan senyuman tipis diwajahnya.

"Sebenarnya masalah macam apa yang kalian temui sampai Cao-Cao terlihat kelelahan seperti itu, Lee-san?."

"Ah, ya..."Lee mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan tersenyum kikuk."kami mendapat sedikit Interogasi dari pihak terkait tentang [Purple Card] yang diberikan Heika, hanya itu..."Ucap Lee membuat Miya menaikan satu alisnya dengan bingung.

"Kalian di interogasi?"

"Tch, wanita itu..."Cao Cao berdecih kesal mengingat kembali kejadian ditoko yang mereka kunjungi, wanita itu, orang yang bertanggung jawab atas toko itu menanyakan perihal Medali perak pemberian Naruto dan [Purple Card] dengan tatapan seolah mereka adalah seorang pencuri yang baru saja mencuri bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan dan Clan yang berkecimpung didunia perindustrian, Cao Cao mendengus kesal.

"Hanya karena tingkah kami kampungan bukan berarti kami ini orang jahat!? Apa orang itu hanya bisa melihat orang dari penampilan luarnya saja! Bikin kesal!."

"Maa, Maa, Cao Cao-san, sudahlah lupakan saja, lagipula kau sudah membuat dia bungkam saat beradu argumen denganmu bahkan berkat itu kita mendapatkan potongan harga yang cukup banyak, meski kau menolaknya..."

Ucap Lee dengan senyuman tipis diwajahnya, Cao Cap menghela nafas pelan untuk menenangkan emosinya yang sedikit naik, dan menepuk-nepuk bahunya dengan benda panjang yang dilapisi kain putih.

"Ya, aku tahu, tapi lain kali akan aku beritahu orang itu jika menilai seseorang dari tampilan luarnya saja hanya akan membuat dirinya menyesal."

Ucap Cao Cao dingin, Miya terdiam melihat itu sebelum ia tersenyum perihatin. "kalian nampak kesusahan ya."ucap Moya dibalas tawa garing dari Lee.

"Begitulah..."

"Heh~ jadi semua sudah berkumpul disini ya?."

Miya, Tobio, Cao Cao dan Lee terdiam mendengar suara yang mereka kenali, dengan pelan mereka berempat menoleh kesamping dan mereka melihat Arthur dan Okita sedang berjalan kearah mereka dengan melambaikan tangan mereka, Cao Cao dan Tobio menyipitkan mata mereka saat mereka melihat wajah Okita yang entah kenapa terlihat agak merah. Cao Cao menatap hal itu sejenak sebelum ia mencondongkan tubuhnya kearah Tobio.

"Taichou, salahkah aku jika, aku merasa Okita-san terlihat agak aneh..."

"Tenang saja, aku juga memikirkan hal yang sama..."

Miya menatap kedua pemuda yang sedang berbisik-bisik itu dengan tatapan bosan sebelum ia memutuskan memgabaikan mereka dan menyapa Arthur dan Okita.

"Ya, bagaimana apa urusan kalian sudah selesai, Arthur-san, Okita-san?."

Tanya Miya, Arthur tersenyum tipis dan mengangguk pelan."semua berjalan lancar, dengan koneksi yang aku miliki aku berhasil mendapatkan kereta kuda yang akan mengantar kita menuju, kota Pantai, Luxurious, besok pagi..."ucap Arthur, Miya tersenyum dan mengangguk paham.

"Aku mengerti lalu..." Miya menoleh kearah Okita yang sejak tadi menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah diwajah"... Okita-chan, kenapa wajahmu memerah seperti itu? Apa kau sakit?."tanya Miya khawatir dibalas gelengen pelan dari Okita.

"Ti-Tidak, Ak-Aku hanya kepanasan saat mencari kereta kuda untuk kita, y-ya hanya itu..."

"Sungguh, ini buruk... Okita-chan duduklah disini, aku akan membelikanmu jus dingin..."

"T-Tidak perlu repot-repot, Miya-san, ak-aku sudah merasa lebih baik..."

"Benarkah?."

"Y-Ya, maaf sudah membuatmu khawatir..."

Saat Miya dan Okita sedang bertukar obrolan, Tobio dan Cao Cao memperhatikan dengan curiga, mereka berdua mengarahkan pandangan mereka kearah Arthur.

"Terkena panas matahari..."

"Terdengar mencurigakan..."

"Tidak perlu menatapku seperti itu, memang itulah yang terjadi..."

""meragukan...""

Lee hanya tersenyum melihat interaksi teman seperjuangan ini, sebelum ia menepuk tangannya untuk menangkap perhatian mereka dan berhasil, mereka menatap kearahnya, Lee tersenyum lalu berkata.

"Karena semua sudah menyelesaikan urusannya, bagaimana jika kita kembali keistana dan mengadakan pesta kecil, tentunya dikamar Naruto-san, bagaimana, Kalian setuju?."

[Setuju!]

"Kalau begitu sudah diputuskan mari pergi! Dan berpesta dengan semangat masa muda!"

[Oouuhh!?]

-Time Skip-

Keesokan harinya, setelah semua keperluan yang dibutuhkan Naruto dan Anggota Club Peneilitian alam telah terpenuhi, kini mereka siap berangkat, didepan halaman Istana terlihat anggota Club penelitian alam tengah sibuk memeriksa barang pribadi mereka, Naruto tak terkecuali, ia memeriksa beberapa barang pribadinya sebelum ia mengangguk puas dan membalik badannya dan menghadap kearah dua tunangan yang sudah sejak tadi terus memperhatikannya dengan tatapan khawair, Naruto menghela nafas melihat mereka berdua sebelum ia tersenyum dan menepuk puncak kepala mereka dengan lembut.

"Jika kalian mengantarku dengan ekspresi seperti itu, tekadku yang sudah bulat nanti akan menjadi goyah. Hime, aku ingin kalian mengantar kepergianku dengan senyuman diwajah kalian, bukan kesedihan seperti ini..."

"Tapi... Kami mengkhawatirkan keadaanmu, Naruto-kun."

"Shaga, Benar... Tempat yang akan kau tuju adalah tempat yang berbahaya, kami tidak bisa ubtuk tidak mengkhawatirkan keadaanmu, Naruto."

Naruto terdiam sebelum ia tersenyum kecil."aku tahu, tapi ini satu-satunya cara yang harus aku lalui agar kelak aku dapat menyebut diriku sebagai tunangan kalian dengan bangga, kalian tentu juga ingin hal itu terwujud bukan?."tanya Naruto tanpa melepas senyuman dari wajahnya, Shaga dan Arthuria terdiam sebelum mereka menghela nafas pasrah, dan menatap Naruto dengan senyuman kecil.

"Pada akhirnya apapun yang akan kami katakan, kau akan tetap pergi..."

"Meski kami tahu hal itu, tapi keegoisan kami tetap memaksa kami untuk menghentikanmu, karena itu kau bisa pergi, Naruto... Tapi tolong berjanjilah satu hal..."

Arthuria dan Shaga mengambil kedua tangan Naruto, menaruh tangan itu kedada mereka, dan meremasnya dengan lembut, Naruto terdiam melihat tingkah kedua tunangannya itu sampai dengan perlahan keduanya mengangkat kepala mereka dan terlihatlah senyuman seindah bunga mekar diwajah keduanya.

[[Tolong, pulanglah dengan selamat...]]

Naruto tertegun, ia tidak menyangka jika kedua tunangannya mengantar kepergiannya dengan senyuman seindah itu, itu sangat indah hingga membuat hati Naruto berdesir aneh, Naruto memejamkan matanya untuk menekan desiran dihatinya sebelum ia membuka matanya dan tersenyum tipis, senyuman tipis yang menawan.

"Ya, aku berjanji, aku akan pulang dengan selamat..."

And Cut~

Ya! Hallo semua! Hari ini, aku kembali membawa Chapter Zero-Two! Chapter yang berisi awal dimana Naruto dan para sahabatnya akan memulai ekspedisi mematikan untuk menaklukan Dungeon Black Malar demi meraih kekuatan untuk memuluskan rencana yang akan membuat semua orang bahagia!

Disini, hanya terdapat beberapa adegan romance-picisan antara Naruto-Shaga-Arthuria, dan Ikuse Tobio-Asama Miya, aku meletalan Flag disini yang berkibar dengan cantiknya, ada juga masalah tentang hubungan Arthur dan Okita yang entah kenapa terkesan intim, maa pokoknya Flag-Flag para Heroine akan berkibar pada waktunya dan kuharap gak berubah jadi Death Flag, ya semoga saja...

Lalu, masalah Revenge Naruto ke Hinata dan Gabreil, tenang saja aku tidak lupa, malahan ini akan terasa semakin menarik ketika masuk kedalam Arc 2 [The Night of Thousand Death], dimana kekacauan brutal akan dihadapi oleh para Knight kita ini, lalu, apa lagi, masalah pengkhianatan dalam fic ini...

Khu... Khukhu... Khukhukhu!? *uhuk!

Kalian akan melihat pengkhianatan itu nanti, masalah siapa yang berkhianat dan siapa yang dikhianati akan kalian ketahui tak lama lagi~ jadi tunggu saja waktunya...

Lalu...? Hm? Nani kore? Makhluk didunia [Lur Amesta] adalah Great Red? Maa maybe yes, maybe no? Kenapa tidak ditunggu aja, dan untuk yang menantikan scene kyakya-ufufu~ aku takut jika aku melakukannya kalian menghujaniku sumpah-serapah, kutukan, dan bahkan umpatan yang ditunjukan padaku, karena ya, aku rasa membuat adegan kyakya-ufufu yang kukuasai adalah adegan NTR!? Dan aku yakin kalian gak akan rela jika para Heroine di fic ini dizamah sama cowok selain Naruto, meski aku yakin kalian tidak akan keberatan jika Naruto yang dizamah~ perempuan lain, Are, (^-^)? Tunggu sebentar bukan itu aneh!?

Kenapa Heroine Naruto gak boleh dizamah sama cowok lain sementara tidak ada yang keberatan Naruto dizamah perempuan lain!? Ada apa dengan diskriminasi ini!

Maa, lupakan aku yakin itu hanya karena kalian membayangkan kalianlah tokoh utamanya, maa aku memahami hal itu, Umu...

Dan, untuk pertanyaan selanjutnya aku akan membalasnya lewat PM, so kalau pertanyaan kalian ada yang menurutku harus dijawab maka, akan kujawab secepat mungkin... Like, pertanyaan yang satu ini...

"Tolong buat Arthuria jadi Black Saber kya di Fate Heaven's Feel..."

Mungkin masuknya, Arturia Alter, kalau itu tenang saja, aku akan sudah ada rencana untuk memasukan [Alter] mode kebeberapa karakter, dan yap, itu patut ditunggu, umu~

Maa, kurasa sudah semua, sampai ketemu dimasa depan, ditempat, waktu, dan suasana yang berbeda, Ciaou!~

Phantom Out!

Omake!

"Yo, Mask... Tidak seperti biasanya, ada perlu apa ketempatku?."

"Aku kesini ingin menyampaikan pesan dari Leader-sama..."

"... Dari Leader-sama? Untukku? Apa pesannya?."

"Maa, dia berpesan... [Pergilah menuju wilayah paling utara kerajaan manusia, disana kau akan mendapatkan kesenangan.] begitu katanya..."

"Pergi kearah utara, dan mendapatkan kesenangan? Heh~ menarik..."

"Bagaimana? Apa kau ingin pergi kesana?."

"Aku pergi, sampaikan rasa terimakasihku pada Leader-sama..."

"Tentu, dan selamat bersenang-senang..."