An Assassin
Ansatsu Kyoushitsu's character Yusei Matsui
Story Narahashi Akemi
Chapter 02: A Tragedy
Mentari pagi masuk menyusup melewati celah celah tirai kamar dari seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya. Gadis cantik ini nampaknya masih enggan terbangun dari mimpinya walaupun jam weker yang ada di meja kecil di samping ranjangnya tengah berdering dan seakan akan berusaha memaksa si gadis untuk bangun dari tidurnya. Namun sang gadis nampak sangat acuh terhadap suara bising yang sumbernya berasal dari jam weker miliknya sendiri, sampai akhirnya sang ibu dari si gadis turun tangan untuk membawa anaknya keluar dari dunia mimpi indahnya.
"[Name, jam wekermu sudah berdering sejak 5 menit lalu dan kau masih belum bangun dari tidurmu? Seindah itukah mimpimu semalam? Sampai sampai kau enggan bangun dari mimpimu" sang ibu dari keluarga Sugino itu pun mencubit pelan pipi dari si gadis.
Namun gadis yang memiliki surai hitam yang warnanya senada dengan ibunya itu hanya mengerang tidak nyaman karena perbuatan ibunya tercinta. Gadis yang memiliki nama kecil [name] itu memiliki kesulitan untuk bangun pagi walaupun sudah berbagai cara ia lakukan, mulai dari jam weker sampai ibunya yang ikut membangunkannya namun tetap saja tidak berpengaruh besar terhadapnya.
"kaa-san, kapan tou-san akan pulang?" pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut [Name] ketika ia dan ibunya tengah menikmati sarapan pagi di ruang makan. Sang ibu yang memiliki ama kecil Yukiko, melempar senyumnya pada anaknya yang tengah asik mengunyah roti isi selai kacang kesukaannya.
"tenanglah, ia pasti akan segera pulang untuk bertemu denganmu" Yukiko menjawab pertanyaan yang diberikan [Name] padanya dengan tetap mempertahankan senyuman di wajahnya.
[Name] pun ikut tersenyum ketika mendengar jawaban dari ibunya. Sudah sekitar 2 bulan ini sang ayah belum kembali pulang dari pekerjaannya, bahkan [Name] dan ibunya sudah tidak mendapatkan kabar sejak 2 minggu lalu.
Namun di balik sikap tenang yang Yukiko tunjukkan pada anaknya, sebenarnya ia menyimpan rasa khawatir yang sangat besar di lubuk hatinya. Namun Yukiko tidak akan membiarkan rasa khawatirnya itu tersalur pada anaknya, dan dia berharap suaminya bisa segera kembali pulang ke rumah dan menemui ia dan anaknya. Karena perasaan rindu yang tersimpan di hati Yukiko sudah sangat besar dan ingin sekali rasanya ia segera melampiaskan rasa rindunya pada suaminya.
"ittekimasu!" dengan membawa tas sekolah kesayangannya, [Name] berlari keluar rumah setelah memberikan salam.
"itterasshai!" Yukiko yang tengah mencuci piring piring kotor di dapur pun membalas salam dari anaknya.
Terlahir dari keluarga yang berkecukupan, [Name] hidup bahagia dengan kedua orangtuanya yang selalu bersikap baik padanya. Sang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga bekerja sebagai pemain baseball nasional, memang terkadang harus meninggalkan [Name] dan ibunya berdua di rumah dalam waktu yang cukup lama karena tuntutan pekerjaan. Kali ini bukanlah waktu terlama bagi sang kepala keluarga pergi, Tomohito pernah sekalinya pergi selama 4 bulan karena ada banyak pertandingan yang harus ia ikuti. Dan yag membuat Yukiko khawatir adalah kabar dari sang suami yang tidak pernah terdengar lagi, dari pihak klub baseball ataupun dari Tomohito sendiri.
[Name] yang sejak kecil memang dekat dengan ayahnya tentu saja juga khawatir dan sangat menantikan kepulangan ayahnya ke rumah. Dibanding membantu ibunya memasak di dapur atau membersihkan rumah, [Name] jauh lebih memilih bermain dengan tongkat baseball atau berlatih menembak dengan pistol angin bersama ayahnya. Selain bermain baseball, Tomohito juga memiliki keahlian menembak yang tidak buruk karena ketika Tomohito berada diSMP, ia mendapat pelatihan membunuh secara khusus di kelasnya. Sebenarnya Yukiko juga mendapat pelatihan yang sama seperti Tomohito , namun Yukiko sudah tidak menggunakan keahliannya lagi dan lebih memilih menjadi seorang ibu rumah tangga biasa.
Di sekolah, [Name] juga cukup terkenal. Bukan hanya karena ayahnya yang berprofesi sebagai pemain baseball nasional, tapi juga karena kepintarannya serta pesonanya yang diturunkan oleh ibunya. [Name] juga memiliki banyak teman, dan salah satu sahabat baiknya adalah Shiota Keiko yaitu anak dari sahabat kedua orangtuanya.
Kehidupan [Name] sudahlah lebih dari cukup untuk [Name, namun itu pun berubah hanya dalam jangka waktu yang singkat bahkan itu bisa dibilang sangat singkat.
Ketika itu [Name] baru saja kembali dari sekolah, dan sang ibu langsung memberikan kabar buruk padanya. Mungkin ini akan menjadi kabar paling buruk yang pernah ia dengar, kabar tentang kematian ayahnya. Ayahnya ditemukan tewas di area sekitar tempat dilangsungkannya pertandingan. Berita itu berhasil membuat perasaan [Name] hancur berkeping keping. Ia merasa badannya melemas, kepalanya pusing dan kemudian ia merasakan sesak di dadanya. Air matanya pun tidak henti hentinya mengalir dari pelupuk matanya. Tubuhnya dipeluk erat oleh sang ibu yang juga menangisi kepergian sang ayah yang sangat tiba tiba ini.
"tou-san.." [Name] hanya bisa memutar kembali memori indahnya bersama ayahnya. Sosok ayah yang begitu sempurna di matanya kini sudah tiada dan tak akan pernah kembali lagi padanya.
Luka yang Tomohito tinggalkan sangat dalam di kediaman keluarga Sugino ini. Kini hanya tinggal Yukiko dan [Name] yang mendiami rumah itu, dengan keadaan yang sangat sunyi. Mereka masih tenggelam dalam nostalgia akibat kepergian sang kepala keluarga yang sangat mereka sayangi. Perasaan sedih sangat kental dirasakan di kediaman mereka malam itu.
Secepat inikah keluarganya berakhir? Harusnya secepat ini [Name] kehilangan sosok ayah yang sangat ia kagumi? Apa harus secepat ini Yukiko harus menanggung beban berat yang ditinggalkan Tomohito?
Rasanya baru kemarin mereka bertiga bercanda dan tertawa bersama. Menghabiskan waktu dengan bersenda gurau. Berbagi pengalaman satu sama lain. Dan dalam sekejap mata semua kebahagiaan itu lenyap dalam kesedihan.
Siapa yang tega membunuh ayahnya? Kenapa ia membunuh ayahnya? Kenapa kematiannya harus datang secepat ini? Apakah salah yang ayahnya perbuat hingga ada yang tega membunuh ayahnya? Siapa pun itu, dan apa pun alasannya [Name] tidak akan memaafkannya. Orang kejam yang telah mengambil nyawa ayahnya dan membiarkan ia hidup berdua dengan ibunya, itu semua tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dan sejak saat itu [Name] mulai mengenal rasanya membenci seseorang, dan juga menimbulkan rasa ingin membunuh dalam dirinya dalam waktu yang sama.
Dunia ini memang sangatlah kejam baginya. Tidak ada yang lebih kejam dari manusia. Dunia yang kejam ini melahirkan perasaan benci serta dendam dalam diri [Name] yang sebelumnya terkenal dengan sikap penyayangnya. Namun hanya dengan kejadian sebuah pembunuhan, [Name] bisa saja berubah menjadi orang lain yang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Namun manusia tidak kejam hanya sebatas itu saja. Di hari yang sama dengan diterimanya kebar kematian ayahnya, [Name] kembali melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin dia lihat bahkan tidak pernah ia pikirkan.
Kala malam hari ketika sinar bulan menemani malam [Name] dengan kesedihannya atas kehilangan sosok ayahnya. Ia mendapatkan ibunya yang berbaring dengan bersimbahan cairan pekat di sekitarnya. Bau amis sangat menyengat di kala malam itu. Kamar yang biasanya diisi dengan kenangan kenangan yang membahagiakan, kini sudah kotor karena bercak bercak darah disana.
Mayat sang ibu terlihat kaku disana. Ini terlalu mendadak untuk anak seumurannya yang baru saja mendapat kabar buruk tentang ayahnya, dan sekarang ia mendapati ibunya tidak bernyawa. Jantungnya seakan akan hendak berhenti berdetak, tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan, napasnya juga tersendat sendat, mulutnya sedikit ternganga karena terlalu terkejut melihat keadaan saat itu, air mata pun juga ikut lolos dari pelupuk matanya.
Dan saat itu juga ia melihat seorang asing dengan pisau yang dilumuri darah ibunya melihat ke arahnya. Pembunuh itu memakai jubah merah yang membuat [Name] tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas kala itu.
Perasaan marah, dendam, benci, sedih, kaget bercampur menjadi satu perasaan. [Name] benar benar tidak percaya kalau ia harus melihat ibunya, satu satunya orangtua yang ia miliki kini sudah tidak bernyawa menyusul kepergian ayahnya. Semua kenangan ketika bersama kedua orangtuanya terputar kembali layaknya kaset tua. Semua kenangan indah itu tidak akan pernah ia rasakan kembali, semuanya telah hilang menjadi debu hanya dalam waktu yang singkat.
Pada akhirnya [Name] diasuh oleh paman dan bibinya di Kyoto, dan meneruskan sekolahnya di sana. Sejak saat itu sikap [Name] menjadi sangat berbeda. Tentu itu bukan sesuatu yang aneh bagi seorang anak SMP yang mendapat kabar kematian kedua orang tuanya di hari yang sama.
Sejak saat itu [Name] menjadi seorang pendendam dan sering mengeluarkan aura gelap ketika menyangkut hal yang berhubungan dengan pembunuhan di sekitarnnya. Paman dan bibinya juga sudah melakukan segala cara agar [Name] kembali seperti dulu, ceria dan penyayang. Namun hasilnya nihil, [Name] sudah membulatkan tekat untuk membunuh siapapun orang yag telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Terlebih lagi orang yang telah merebut nyawa ibunya di depan matannya sendiri tanpa rasa berdosa sama sekali.
"tou-san, kaa-san, suatu hari nanti aku akan membalaskan dendam ini. Aku akan tumbuh kuat dan membunuh orang yang sudah membunuh kalian" gumam [Name] sambil menatap lurus ke arah bulan yang menghiasi malam ini sama seperti malam itu, ketika ia melihat sang ibu yang terbunuh secara kejam.
[Name] pun tidak segan segan mengikuti berbagai cabang bela diri yang ada di sekolahnya untuk meningkatkan kemampuannya. Bukan hanya itu, [Name] juga nekat ingin mencari seorang guru untuk mengajarinya cara untuk membunuh. Atau dapat disimpulkan kalau [Name] mulai tertarik dengan dunia pembunuhan yang tentunya sangat di tentang oleh paman dan bibinya. Namun ketidaksetujuan dari paman dan bibinya sama sekali tidak mengubah pilihannya, ia seperti sudah tidak mempedulikan hal lain selain balas dendamnya ini.
Dan dengan cara apapun[Name] sudah berjanji untuk membunuh sang pembunuh kelak. Meski pun ia juga akan mati terbunuh nanti, setidaknya ia harus mati setelah sang pembunuh itu mati. Maka [Name] akan merasa tenang dan tidak akan dibayang bayangi lagi oleh hari kematian orangtuanya yang mendadak itu. Dan mulai dari sini lah perjalanannya menjadi seorang assassin, dimulai dengan mencari seorang guru pembunuh professional.
-To Be Continue-
