Chapter 1

DORRR!

Suara tembakan itu terdengar begitu keras ditelinganya. Ia mengeryitkan dahinya kesal. Kenapa ia bisa sembunyi terlalu dekat dengan si penembak. Ia kembali mendongakan kepalanya, mengechek keadaan. Ia bersyukur karena beberapa anggota nya sudah berhasil kabur. Tapi ia belum bisa bernafas lega karena 3 anggota nya sedang menjadi tawanan. Ayolah itu tidak adil 10 lawan 3? Ditambah senjata mereka lebih canggih daripada yang ia pegang saat ini.

Tapi bukan D.O namanya kalau ia tidak bisa mengalahan mereka.

Anak tunggal dari keluarga Do itu sudah sangat lihai dalam berkelahi. Ini tentu bukan yang pertama untuknya. Ia berjalan mengendap-endap ke belakang salah seorang pria yang siap menembak ke-3 anggotanya. Tapi nyatanya pria itu tau dan langsung berbalik ke belakang menghadap D.O dengan pistolnya. Ke-3 anggotanya hanya bisa menutup mata karena sebentar lagi mereka akan kehilangan pemimpin.

DORRR!

Ke-3 pria itu membuka matanya dan ternyata pemimpin nya masih hidup, bahkan menertawai mereka. D.O tau kalau pria itu akan berbalik menghadangnya tapi terlambat! D.O malah berjongkok dan pria itu jadi menembak kawannya sendiri yang sedang berjaga-jaga beberapa meter didepan. Lalu dengan satu kedipan manisnya disaat bersamaan, D.O mengarahkan pistolnya keatas, tepat ke arah kepala pria itu.

"fiuh~"

D.O mengusap keringatnya dan mendesah pelan mengejek para anggotanya. Ke-3 pria itu bersama D.O membentuk lingkaran dan menghadap 8 orang lagi sisanya. Ok, masing-masing dapat 1 dan sisanya 5 untuk D.O. Tapi D.O Cuma butuh 1 menit sedangkan anak buahnya itu belum selesai juga sampai sekarang. D.O bosan dan meninggalkan mereka begitu saja.

"Dasar baru!"

"uh~ apa kerjanya appa dan omma? Bagaimana bisa mereka membiarakan orang-orang seperti mereka bekerja?!"

. . .

D.O sudah bosan membunuh dan berkelahi terus menerus. Ia ingin hidup normal layaknya orang lain. Hidup senang, bahagia tanpa beban atau ancaman. Mungkinkah itu terjadi? Tentu saja.. karena ia anak tunggal dan pewaris sah dari keluarga mafia terbesar Korea selatan. Anak pasangan Do Sehun dan Xi Luhan. Meskipun mereka sama-sama besar dari keluarga mafia. Tapi mereka ingin anak mereka bahagia atas pilihannya. Dan mereka berjanji akan melakukan apapun untuk mewujudkan dan melindunginya. Sekalipun nyawa mereka taruhannya. Itulah mengapa D.O sekarang bisa berjalan-jalan santai dengan pakaian yang terasa nyaman ditubuhnya.

Oh, siapa yang bisa mengenali nya sebagai D.O? Dia terlihat terlalu bebas dan ceria. Siapa yang menyangka kalau seorang D.O yang begitu menyeramkan itu bisa tersenyum bahagia? D.O tak sengaja melewati sebuah restaurant besar dipinggir jalan. Merasa perutnya lapar maka ia masuk kedalam. Tidak ada salahnya masuk kedalam restaurant itu karena ia sangat menyukai masakan Eropa. Jujur, ia pernah bercita-cita untuk menjadi koki tapi sepertinya sudah terlambat. Sekarang bukan waktunya lagi untuk kuliah.

"Selamat datang, tuan."

Seorang pelayan bername tag 'Kim Jongdae' menyapanya dengan seulas senyuman sambil memberikan sebuah buku menu. D.O bisa melihat dengan jelas kalau restaurant besar itu sangat sepi jadi pantas saja kalau pelayan itu dengan setia menungguinya untuk memilih menu saat ini.

"aku mau spagetthi carbonara dan squash mix."

"baiklah. Mohon ditunggu sebentar untuk makanannya tuan."

Jongdae mengambil kembali buku menu dan membawanya ke dapur memberikan pesanan pada satu-satunya koki yang ada disitu. 10 menit kemudian seorang pemuda berbaju serba putih dengan topi koki yang panjang dikepalanya datang membawakan makanan ke meja D.O. Pemuda berkulit gelap itu dengan lemah lembut memindahkan makanan dari nampan ke atas meja D.O.

"Selamat makan gadis cantik^^"

'Oh tampanya!' gumam D.O dalam hatinya. Dalam detik itu waktu terasa berhenti saat D.O melihat pemuda itu tersenyum padanya. Bagaimana bisa ada pemuda dengan senyuman menawan seperti itu. Bahkan D.O merasa kalau pemuda itu lebih tampan dari appanya. Hmm,, itu pun karena pengaruh ommanya agar D.O mau mengakui kalau appa nya itu tampan. Eh, tunggu dulu. .

"kau bilang apa tadi? Gadis cantik? Kau tau dari mana kalau aku seorang gadis?"

Semua juga tidak ada yang mengira dia gadis bahkan Jongdae memanggilnya tuan tadi. D.O sendiri juga merasa kalau ia bahkan lebih dari seorang pria(?) Ayolah tampilannya saja sudah sangat berbeda dari seorang gadis. Di zaman seperti ini masih ada gadis yang memakai celana standart bahkan pria juga memakai skinny jeans. Atau kalau memang ia seorang wanita setidaknya pakailah pakaian yang sedikit ngetat(?) atau pantas. Tapi pakaiannya saat ini persis seperti tukang tambal ban. Untung Minseok belum melihat dan mengusirnya.

"hmm,,, aku hanya ingin sopan."

Dengan seenak gajah pemuda itu duduk dibangku kosong yang berhadapan dengan D.O. Kini mata pemuda itu menatap dada D.O membuat yang ditatap juga ikut menatap dadanya. Ia baru sadar kalau ada 2 jendulan didadanya yang mirip gunung(?) Oh, iya sepertinya D.O lupa kalau ia tidak memakai anti peluru mulai hari ini jadi jelas saja kalau itunya keliatan. Rasa kagumnya akan pemuda itu runtuh begitu saja. Ternyata pemuda itu mesum. Hanya lelaki itu yang memperhatikan dadanya.

"sudah ku bilang tadi. Aku hanya ingin sopan.. hehe^^"

D.O mendelik kesal kearah pemuda itu dan kembali melanjutkan makannya.

"kenapa kau yang mengantarkan makanan. Bukannya kau koki?"

"iya, karena anda adalah pelanggan ke-2 kami hari ini kalau Junmyeon hyung juga bisa dihitung pelanggan. Jadi anda mendapat perlakuan spesial. Aku sebagai koki akan menunggui anda makan dan melayani anda apabila ada yang kurang. Lagipula Jongdae hyung sedang asyik berpacaran bersama Minseok noona di belakang, bartender yang membuatkan minum anda."

"Ooh.."

D.O kembali memasukkan garpu yang sudah mengaitkan spagetthinya kedalam mulut.

"kalau boleh tau siapa nama anda gadis cantik. Siapa yang tau anda akan berkunjung lagi besok dan mendapat layanan spesial."

"nama ku Do Kyungsoo."

"baiklah aku akan mengingatnya nona Kyungsoo. Kalau nama ku Kim Jong in. Senang melayani anda."

~ because you love me ~

Entah kenapa Kyungsoo pun tak tau. Tapi jujur rasa saus spagetthinya memang masih lengket dilidahnya. Bisa jadi itu spagetthi terenak yang pernah ia makan. Ya, mungkin itulah alasannya ia datang lagi ke restaurant itu siang menjelang sore ini. Sama seperti kemarin, Kyungsoo kembali disambut oleh Jongdae dan Jongin yang mengantar makanannya. Sementara menikmati makanannya sambil melihat wajah Jongin yang menungguinya makan. Akhirnya Kyungsoo memulai pembicaraan.

"kalau ku lihat-lihat wajah mu itu sangat menyeramkan. Ku pikir kau orang yang sangat dingin tapi kau malah menjijikan."

"hey,, gadis cantik jangan begitu. Begini-begini banyak yang memuji ku tampan loch! Kau bisa dalam bahaya kalau mama ku dengar. Mama ku tidak suka kalau ada yang bilang anaknya jelek. Entahlah memang semua di keluarga ku wajahnya seram. Papa, mama dan aku. Kami semua terlihat sangat dingin dan menyeramkan tapi tidak ada yang menyangka kalau kami ramah dan murah senyum. Bahkan kalau kau lihat wajah papa ku. Oh,, dia sangat menyeramkan tapi sifatnya sangat konyol. Kalau mama ku lebih menyeramkan lagi tapi sifatnya sangat lembut dan pemalu. Tapi hyung ku berbeda sendiri. Wajah hyung ku yang satu-satunya terlihat manis tapi sifatnya sangat dingin. Wuuhh,, aku saja jarang sekali melihanya tersenyum. Mungkin bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Walaupun begitu hyung ku punya pacar yang cantik. Aku tak mengerti kenapa noona mau berpacaran dengan hyung ku."

"wahh… cerita mu panjang sekali ya.."

Kyungsoo meminum mix fruitnya.

"bagaimana dengan keluarga mu gadis cantik?"

"appa dan omma ku memiliki kepribadian ganda."

"jadi.. orangtua mu kelainan jiwa. Maaf kalau begitu.." Jongin menundukkan kepalanya

"bukan begitu bodoh!"

"lalu?"

"appa dan omma itu terlihat sangat menyeramkan. Bahkan appa ku sulit sekali ditebak raut wajahnya dan omma ku juga akan berusaha menunjukan senyumnya yang tipis. Tapi begitu menghadapi ku. Mereka langsung tersenyum 5 jari. Uhhh,,, itulah kenapa aku jarang ingin menemui orangtua ku. Kalau bagi banyak orang orangtua ku sangat bermartabat didepan ku mereka menjijikan."

"gadis cantik kau bisa memanggil ku oppa mulai dari sekarang."

"kenapa harus oppa? memang kau pikir kau lebih tua dari ku."

"memang gadis cantik lahir bulan berapa?"

"januari."

"wahh,, kalau begitu kita sama. Tanggal berapa?"

"12."

"ah,, aku tanggal 14."

"kalau begitu kau yang panggil aku noona."

"eh, belum tentu. Gadis cantik lahir tahun berapa?"

"93!"

"baiklah, noona."

"memang kau tahun berapa?"

"94."

Kyungsoo berdiri setelah menyelesaikan semua makanannya. Ia bergegas meninggalkan restaurant itu.

"besok datang lagi ya, noona!"

Jongin melambaikan tangannya pada Kyungsoo yang berjalan menjauh. Gadis itu hanya tersenyum mendengarnya. Entahlah ia merasa sangat nyaman ketika berada didekat Jongin.

~ because you love me ~

Sudah lebih dari 2 minggu ini Kyungsoo selalu rajin mengunjungi restaurant eropa itu. mungkin benar ia memang mulai terpikat oleh Jongin. Tapi siapkah ia untuk kelanjutannya. Itu bukan perkara mudah. Apa lagi kalau sampai Jongin juga memiliki perasaan yang sama. Karena itu hari ini saat di restaurant. Perbincangan mereka sudah mulai maju satu langkah.

"hei,, bagaimana bisa kau memasak spagetthi ini begitu enak?"

"tentu saja. Itu karena aku belajar untuk membuatnya enak."

"dulu, aku ingin sekali bisa menjadi koki dan masak makanan Eropa. Tapi sekarang sudah terlambat. Walau aku masih ingin menjadi koki."

"tidak ada kata terlambat untuk belajar."

"tapi umur ku.. sudah terlalu tua."

"aku bisa membantu noona agar sekolah noona lebih singkat."

"maksud mu?"

"aku membuka pembelajaran memasak ke rumah. Privet course."

"kau mau mengajari ku memasak di rumah ku?!"

"tentu saja. Kenapa tidak? Aku akan menurunkan harga nya."

"kau pikir aku miskin?"

"tidak. Hanya saja sulit loch mencari koki hebat seperti ku yang mau mengajar ke rumah."

"baik. Kau bisa kapan?"

"aku mengambil waktu siang sampai sore untuk jam kerja. Jadi aku bisa mengajar malam."

"besok kau jangan pulang. Aku akan datang menjemput mu."

"siap noona." Jongin memberikan senyum andalannya.

~ because you love me ~

Untuk pertama kalinya Kyungsoo membawa seorang pria ke rumah nya atau lebih tepatnya tempat tinggal yang khusus untuknya. Jongin kaget begitu masuk kedalam rumah Kyungsoo. Dari luar terlihat biasa saja tapi dalam nya dipenuhi barang-barang mewah. Bahkan ada banyak hiasan senjata yang tertempel diding-ding. Ternyata Kyungsoo juga punya banyak maid yang sudah berbaris menyambutnya didalam.

"dimana orangtua noona? Aku tidak melihat mereka dari tadi. Oh, mereka pasti sangat sibuk bekerja sampai belum pulang."

"tidak juga. Aku hanya tinggal sendiri."

"kenapa tidak tinggal dengan orangtua."

"itu hanya membahayakan nyawa ku."

"bagaimana bisa orangtua membahayakan. Orangtua itu melindungi."

"kau tidak akan mengerti, Jongin!"

"bagaimana bisa aku mengerti kalau noona tak menjelaskannya?"

"haah.. sudahlah.. kau ini kan Cuma mau mengajari ku bukan menginterview ku kesini."

"baiklah kita mulai saja sekarang?"

"kau duduk dulu saja disini. Tunggu, aku mau ganti baju dulu."

Jongin mengangguk dan Kyungsoo langsung naik ke lantai atas, masuk kedalam kamar nya. Beberapa menit kemudian Kyungsoo yang mengenakan baju putih-putih seperti seorang koki datang menghampiri Jongin.

"noona kau cantik sekali. Kalau seperti ini kita terlihat seperti pasangan koki. Aku jadi ingat dulu teman ku juga berpacaran dengan koki wanita. Mereka berkencan didapur mereka. Uh,, menyebalkan.. aku juga ingin seperti itu!"

"sudah jangan curhat! Ayo, ikut aku ke dapur!"

Kyungsoo mengajak Jongin masuk kedalam dapurnya. Jongin kembali terpukau melihat dapur Kyungsoo yang bahkan menyaingin dapur restaurant, tempatnya bekerja. Bahkan Kyungsoo memiliki beberapa koki professional yang bekerja disitu.

"ada apa nona? Ada makanan yang nona inginkan?"

"tidak! Aku hanya ingin kau dan seluruh asisten mu keluar dari sini!"

"jadi nona memecat kami?"

"tidak bodoh! Hanya keluar! Aku ingin memakai dapur!"

Seluruh koki itu menundukkan kepalanya hormat sebelum pergi meninggalkan dapur. Sekarang tinggal Jongin dan Kyungsoo didalam dapur. Jongin mengajarkan Kyungsoo mulai dari hal sederhana. Seperti menentukan bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah menyiapkan bahan-bahan dan alat. Jongin mengajari Kyungsoo cara merebus spagetthi nya. Gadis cantik itu menggerutu karena merebus mie itu terlalu lama. Kyungsoo bosan menunggu mie nya masak.

"mungkin ini sudah masak, Jongin!" keluh Kyungsoo sambil mempoutkan bibirnya.

"belum noona." Jongin kembali memperhatikan mienya sambil mengocok mie nya pelan dalam rebusan air.

"kau tau darimana?"

"ehm,, coba noona ambil satu spagetthinya dan lempar ke tembok. Kalau sudah menempel itu berarti sudah matang tapi kalau terpental itu berarti masih mentah."

Kyungsoo mengambil satu spagetthinya dan melemparnya ke tembok tapi mienya malah hancur.

"nah, itu tandanya apa? kok, mienya malah hancur begitu?"

"itu karena noona melemparnya terlalu keras. Lihat, bagaimana cara ku melemparnya." Jongin mengambil satu spagetthinya dan melemparnya ke tembok pelan. Lalu spagetthinya menempel didingding. Jongin pun mematikan kompornya.

"kok yang kau nempel?"

"tentu saja. Lemparnya harus lembut dan tepat noona."

Kyungsoo kembali mencoba tapi spagetthinya selalu hancur dan hancur lagi. Kyungsoo merasa kalau menembak seorang penjahat kelas kakap lebih mudah dari pada mengechek kematangan spagetthi.

"begini caranya noona."

Jongin memegang tangan kanan Kyungsoo lalu mengangkat tangan nya sebahu. Jongin menggerakan tangan Kyungsoo kebahu dan melemparkan spagetthinya kedepan.

Clapp..

Kali ini Kyungsoo berhasil. Berkat bantuan Jongin, Kyungsoo berhasil membuat spagetthi itu menempel di tembok.

"horre.. aku berhasil Jongin! Aku berhasil!"

Jongin ikut bahagia melihat Kyungsoo bahagia. Bahkan Kyungsoo terlihat lebih dan lebih cantik lagi ketika ia tersenyum. Baru sekali ini Jongin melihat Kyungsoo tersenyum lepas.

'andaikan aku bisa mengenal mu lebih awal noona.' Batin Jongin.

~ because you love me ~

Kemampuan Kyungsoo dalam memasak sudah semakin baik. Tapi bukan berarti Kyungsoo sudah tak mengunjungi restaurant itu lagi. Hanya saja kini Kyungsoo mengunjungi nya tidak sesering dulu. Sekarang gadis manis bermata bulat itu hanya 2-3 kali berkunjung dalam seminggu. Termasuk hari ini, Kyungsoo pikir ia akan selalu menjadi pelanggan spesial karena ia hanya datang dijam restaurant sepi untuk dapat pelayanan khusus.

Tapi seperti nya tidak dengan hari ini. Karena begitu Kyungsoo masuk, ia melihat Jongin sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis yang sedang makan. Gadis itu mendapat pelayanan khusus dari Jongin. Kyungsoo semakin kesal ketika ia melihat gadis itu dengan Jongin berbincang-bincang sambil tertawa. Mereka terlihat begitu bahagia dan entah kenapa Kyungsoo merasa begitu marah. Ia ingin sekali menembak gadis itu detik ini juga. Kyungsoo yang mencoba menahan emosi, akhirnya memilih untuk meninggalkan restaurant itu.

Disepanjang jalan Kyungsoo hanya cemberut sambil menggerutu sendiri. Ya, gadis itu memang cantik. Kyungsoo dapat melihatnya dari tata pakaiannya. Gadis itu benar-benar gadis tidak seperti dirinya. Jongin pantas mendapat gadis seperti itu membuat Kyungsoo semakin membenci gadis itu. Tidak ada lebih cocok untuk Jongin kecuali dirinya. Kyungsoo ingin menggunakan rok dan baju yang lebih lembut dari yang dikenakannya saat ini. Tidak lupa dengan aksesoris dan sepatu high heels.

Ia juga ingin mengenakan make up. Apa lagi gadis yang tadi matanya bagus sekali. Bagaimana bisa matanya yang sipit itu jadi muncul kepermukaan. Oh, iya mamanya Luhan pernah mengajarkannya cara memakai eyeliner yang hasilnya malah ditertawakan oleh appanya. Bagaimana tidak lucu kalau gadis lainnya memakai eyeliner disekitar tepi bawah dan atas mata. Kyungsoo malah memakainya di kelopak mata dan itu membuatnya semakin menyeramkan bukan cantik.

Malam ini sudah waktunya Jongin datang untuk kembali mengajarkannya memasak seperti biasa.

'WOWW!"

Jongin terpukau melihat penampilan Kyungsoo yang berubah derastis dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sejak kapan Kyungsoo memakai mini dress dan sepatu high heels. Ya ampun ia juga memakai make up dan rambutnya tertata dengan sangat rapih.

"wah,, noona! Noona semakin cantik saja.." puji Jongin.

"sudahlah. Sekarang waktunya memasak."

Setelah selesai mengejari Kyungsoo memasak vongole. Mereka memakan masakan mereka bersama-sama. Kalau biasanya mereka akan makan dimeja makan setelah mengganti baju memasak. Kali ini Jongin menahannya untuk tak mengganti baju. Bahkan mereka hanya makan didapur. Jongin melap mulutnya yang sedikit belepotan akibat saus. Lalu Jongin mencium pipi kanan Kyungsoo begitu saja.

"saranghae noona"

Bisik Jongin lembut ke telinga Kyungsoo, membuat pipi gadis itu merona.

Kyungsoo menatap mata Jongin tajam. Ia sudah tak tahan lagi. Kyungsoo ingin sekali memiliki Jongin tapi gadis itu menolak perasaanya sendiri. Tak terasa air matanya terjatuh begitu saja. Jongin yang melihatnya kaget lalu mencoba mengusap air mata Kyungsoo dengan ibu jarinya. Tapi Kyungsoo lebih dulu menahan tangannya dan membawanya ke lantai atas. Masuk kedalam kamarnya.

"kau tidak boleh mencintai ku!" isak Kyungsoo

"kenapa? Apa yang salah? Noona cantik dan aku sangat mencintai noona."

"kau tidak boleh mencintai ku karena aku seorang anak MAFIA! AKU ANAK DARI DO SEHUN DAN XI LUHAN! Pemimpin mafia terbesar di Korea Selatan sekaligus China!"

Kyungsoo mengambil pistol yang ada didalam lacinya dan mengarahkannya ke kepala Jongin.

"kau sudah terlalu tau banyak tuan Kim! Dan sekarang waktunya kau untuk mati."

Kyungsoo tertawa tapi mata nya tetap memandang wajah Jongin yang sedang menatap nya tulus. Jongin bahkan tidak lari disaat Kyungsoo menahan pistolnya. Pemuda itu malah berjalan mendekati Kyungsoo. Entah kenapa tangan gadis itu seolah-olah membeku tak bisa menarik pelatuk pistolnya. Kyungsoo merasa begitu gugup ketika mengarahkan pistol nya pada Jongin. Padahal ini bukan pertama kalinya Kyungsoo menembak.

"tembaklah aku kalau itu bisa membuat noona senang."

Jongin memegang gagang pistol yang dipegang Kyungsoo dan menekan pistol itu kedepan sampai menempel ke dahinya. Lalu Jongin menutup matanya, tanpa terasa air matanya mengalir perlahan.

To.. be.. continue..

Wahh… makasih udah mau baca ff yang weird ini..

Haha..

Aku butuh komen kalian dalam mengerjakan ff ini

So, please banget minta reviews nya untuk kelanjutan ff ini..

Oh,, makasih untuk Kaisoo Fujoshi SNH yang udah mau baca…

Hehe kesini nya pake bahasa kok,,,

Inggris ku juga masih hancur..

Kekeke..

See you next chapter