"Omong-omong, harum stroberi yang nikmat, Lucy Heartfilia" deretan gigi putihnya mengunyah khidmat permen tersebut, membuatku terdiam seribu bahasa akibat ulah Jellal di luar perkiraan. Dia mencuri ciuman pertama bahkan kembang gula satu-satunya yang ku miliki!

"Apa maksudmu melakukan semua itu? Kita baru berkenalan lalu senpai …." ku tutup mulut serapat mungkin. Anak ini sempat berkata, 'seumuran' di café, jika salah panggil bibirku bisa habis duluan sebelum tiba di rumah

CUP!

Sekarang kecupan klise di dahi. Aku memijit pelipis kesal, tingkahnya membuat ingatanku merasakan dejavu. Entah kenapa mirip adegan di novel 'Mega', di mana si cowok menghukum berupa ciuman jika ce …. tu-tunggu, jangan bilang dia meniru dari situ! Jellal memiringkan kepala heran, sekarang mau memasang tampang polos guna memperdaya? Lalu kau memberi cuma-cuma hingga bibir kita dower?! Kenapa ada orang sebodoh ini di dunia?!

"Hentikan bodoh! Jawab dulu pertanyaanku" sedikit bentakkan membuatnya mundur beberapa langkah. Jellal menyeringai tipis, walau jarak kami terpaut jauh tetap saja angin terasa memanggil mendekat

"Katamu, 'ciuman adalah ungkapan kasih sayang terdalam'. Jadi, aku melakukannya"

JANGAN BERKATA SEAKAN BUKUKU BERISI AJARAN SESAT! Walaupun kau mengasihiku jangan lampiaskan dengan ciuman! Arghhh …. ya ampun. Kebetulan Levy-chan dan Gajeel datang, sosok mereka berdua mirip penyelamat turun dari surga. Aku berlari meninggalkan Jellal yang masam, hari beranjak sore sehingga kami memutuskan balik ke rumah. Syukurlah rumah si maniak ini berbeda arah, sulit membayangkan pulang bersamanya.

"Hari ini menyenangkan sekali. Aku dan Gajeel mencoba berbagai wahana, yang paling seru ketika kami memasuki rumah hantu. Jantannya benar-benar kelihatan! Bagaimana denganmu, Lu-chan?" tidak, ku mohon apapun asal jangan itu ….

"Y-ya, begitulah. Namun Jellal agak sedikit aneh menurutku"

"Heh ….? Jellal-senpai, kan, keren, jika Lu-chan ketahuan berkata seperti itu, hati-hati dihajar fansnya" kau bilang seorang maniak cium adalah lelaki gagah, begitu?! Ku rasa Levy-chan harus belajar, 'jangan menilai sampul dari luar saja'

"Baiklah kamu benar, Jellal memang keren apa lagi ketika mengenakan kemeja. Suaranya seksi, dia tinggi dan pintar, tetapi Le …." kesaksianku tercekat di tenggorokan, melihat kedua tangan Levy-chan menutup mulut spontan. Ge-gesture macam apa itu?! Padahal cerita barusan ….

HUG!

"Lu-chan, ternyata kamu selangkah lebih maju dariku! Tidak menggunakan embel-embel senpai? Bagaimana bisa kalian mendadak sangat dekat?! Penakluk cowok benar-benar hebat!"

Tamat sudah riwayatku karena kesalahpahamannya. Perihal julukan 'penakluk cowok', ini cerita satu tahun lalu, ketika kami menginjak bangku kelas tiga SMP. Karena gengsi belum pernah 'mengenal' makhluk adam tersebut, aku mengarang sebuah kebohongan dan bercerita sering kencan dengan lelaki, punya banyak mantan, mengerti cara menaklukan hati mereka, kemudian Levy-chan mencetuskan seenak jidat.

Ketahuilah, semua itu hanya ku baca lewat buku. Kebohongan yang terlalu memalukan untuk diingat.

"Ayah, ibu, aku pulang!" aneh, tidak ada jawaban. Biasanya mereka meninggalkan memo singkat jika pergi. Sekotak donat ku bawa untuk disimpan dalam kulkas, hingga remang-remang bayangan terpancar jelas oleh sinar lampu yang menyala terang

"Pasti berniat memberi kejutan" kalau begitu, biar aku duluan yang mengagetkan ayah dan ibu! Semakin ke depan, sesosok asing itu makin tertangkap jelas melalui iris karamelku. Seorang pemuda mengenakan jaket merah ….?

"Luce, itukah kau?"

BRAKKKK!

D-dia … bagaimana bisa?! Dengan kasar tirai dapur ku sibak, menarik paksa pergelangan si salam agar menjauh, kemanapun asal bukan di sini, di rumah dan kehidupan baruku! Ia menepis perlahan, mencegat agar aku berhenti berpangling, dari sekilas wajah yang menyiratkan sekelabat sendu itu. Hening menyelimuti kami, sampai pria brengsek ini buka mulut memintaku kembali padanya.

"Kita bisa memulainya lagi. Luce, berikalah aku kesempatan untuk berubah! Pasti …."

"OMONG KOSONG APA YANG INGIN KAU UCAPKAN?! Ingatlah perbuatan bengismu di masa lampu. Lihat luka di kaki kiriku, lengan atas, punggung tangan dan mata buatan ini, PERHATIKAN BAIK-BAIK PSIKOPAT GILA!"

"Ma-maaf, saat itu aku sedang mabuk. Ja-jadi tidak sadar telah …."

"Berhenti bajingan …. BERHENTI SEBELUM KU LAPORKAN PADA POLISI! MABUK, DISENGAJA BAHKAN DIANCAM SEKALIPUN AKU TIDAK PEDULI! Kau melanggar hak asasi manusia, kenapa penegak hukum tidak mempenjarakanmu seumur hidup?!"

"Lucy jawab kami sayang. Kenapa kamu berteriak?" s-suara ayah! Aku memeluknya seerat mungkin, berlindung dari si keparat yang mendadak mati kutu. Rasakan itu, kau pantas menerima semua ini setelah membuatku tersiksa!

"Cepat keluar dan jangan ganggu Lucy. KELUAR!"

Bagus, menurutlah demi keselamatanmu! Kami bertukar pandangan sesaat, onyx yang memancarkan intimidasi dan karamel dengan api berkobar, kau tidak akan bisa menyentuhku sejengkal pun! Ibu mengajak berkumpul di ruang tamu, kami membicarakan banyak hal, sebelum beliau menyuruh putri kesayangannya mandi guna menyegarkan diri. Diam-diam aku menguping topik bahasan mereka di belakang tembok, ayah berencana pindah rumah, karena ulah pria brengsek itu yang entah bagaimana, mengetahui alamat rumah.

"Kita harus pindah, jika tidak Lucy dalam bahaya cepat atau lambat" tegas ayah berusaha meyakinkan ibu, bahwa ini adalah pilihan dan resiko terbaik yang mesti diambil

"Sebentar lagi kenaikan kelas. Setidaknya kita tinggal di sini sampai ujian tersebut selesai. Kamu tidak mau, kan, Lucy mengulang dari awal?"

"Apapun protesannya, kita akan pindah bulan depan. Tolong beritau Lucy, aku naik dulu ke atas"

Berapa kali lagi kami hidup nomaden? Pria brengsek itu terus mengejarku, macam stalker yang mengikuti kemanapun sang idola pergi. Baiklah, ambil saja sisi positifnya, aku terlepas dari Jellal, tetapi berpisah dengan Levy-chan? Mungkin ada cara lain, jika 'dia' tidak datang menghampiri rumah, maka bisa menjadi alternatif supaya ayah membatalkan rencana tersebut! Sekali ini saja, aku ingin menetap di satu lingkungan ….

Keesokan harinya ….

Guru rapat dadakan di kantor pusat, kami dipulangkan pukul sebelas siang, kecuali bagi mereka yang terpilih mengikuti lomba di Crocus minggu depan. Aku kehabisan pilihan dan terpaksa pulang sendiri. Terakhir melakukannya satu tahun lalu, sebelum 'peristiwa' itu terjadi menyebabkan ketakutan mendalam. Ayah berpesan untuk menelpon, jika semisal Levy-chan ada urusan sehingga kami bisa kembali bersama. Tetapi aku ingin melawan phobia ini sekali saja ….

DAP!

Gelap, apa aku diculik?! Suara bariton menginterupsi indera pendengaranku, membisikkan 'selamat pagi, sayang' sebelum melepeskan jari-jemari lentiknya. Saat berbalik ke belakang, ternyata Jellal merupakan dalang di balik semua itu, membuat denyut jantungku yang semula berdebar kencang langsung berdetak normal. Asalkan bukan si keparat aku merasa baik-baik saja, tetapi kenapa harus diimbuhi panggilan 'sayang?'.

"Kau belum membalas sapaanku, Lucy"

"Se-selamat pagi, Jellal-se …. a-ah, lupakan embel-embelnya, hahaha" lagi pula kenapa dia di sini? Aku hendak bertanya, tetapi dia sembarangan menarikku ke stan penjualan es krim di pinggir jalan

"Pilihlah yang kamu suka. Hari ini biar ku traktir" kejatuhan durian runtuh, nih, ceritanya? Aku membeli sepotong es krim rasa stroberi, lalu kami duduk dibangku taman bermandikan cahaya matahari. Lagi-lagi Jellal bertingkah aneh

"Apa mengingatkanmu pada sesuatu?"

"Mi-mirip adegan di halaman seratus tujuh. Aku kaget kamu mengingatnya sedetail ini" tetapi kenapa harus sama persis? Setelah dipikirkan ulang, alur dan karakter novel 'Mega' di luar cerita romantis biasanya, sebutlah anti mainstream

"Halaman seratus tujuh, ketika si cowok mengambil ciuman legendaris dari pujaan hatinya, bukan?" Jellal mengigit sepotong kecil bongkahan es krimku. Tersenyum lembut sambil memasukkan paksa, pencuci mulut tersebut ke dalam mulutku yang tertutup rapat

"Aku ingin mengubah adegan ini …." kasihan juga tokoh ceweknya. Aku pun tak habis pikir akan mengalami kejadian serupa

"Hahaha …. es krimnya tercecer di sekitar mulutmu! Ku bantu bersihkan, oke?" tawar Jellal membersihkan noda yang tersisa, kemudian terang-terangan menjilatnya tanpa sisa. Aku ingin menangis haru menyaksikan semua ini terjadi

"Teruslah menulis. Aku menunggu karyamu selanjutnya. Ayo pulang"

Menunggu untuk kau tiru?! Aku tidak marah mendengar ucapan Jellal, justru menyinggung senyum yang akhir-akhir ini jarang terlihat. Kita baru mengenal dua hari, tetapi kamu …. sudahlah, lupakan.

"Dasar cowok aneh! Aku tidak akan memaafkanmu, jika lain kali sembarangan memakan es krimku"

"Benarkah? Maka aku pasti membuatmu semakin jatuh cinta"

"Baiklah. Kita lihat saja!"

Bersambung ….

Balasan review :

schifferdragneel : Dan eng ing eng, dia meniru adegan di novel Lucy /rotfl. Pasti seru kok asal rajin ikutin mah, maaf kalau update-nya lama karena dibarengi cerita lain, jadinya gak satu per satu. Oke thx udah review.

Fic of Delusion : Ini cuman aku atau emang ini pereview satu ketawa mulu ya. Kasihan Jellal dibegituin, dia juga punya hati katanya wkwkw. Thx ya udah review.

Nove-Hime : Setelah sekian lama juga author bisa membuatnya. Baguslah kalau fic-nya menarik, ikuti terus biar makin penasaran oke? Dann author akan membuat fic JeLu lain cepat atau lambat, jadi tunggu saja. Thx udah review.