Lalu di bagian klimaks ini, aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Ini hampir seperti anti-klimaks. Merayap perlahan, tanpa adanya puncak yang jelas. Setidaknya itu adalah apa yang aku lihat sebelumnya. Mungkin aku yang mulai lupa?

Tahu-tahu aku sudah ada di sini. Bangsal rumah sakit. Dan dia sedang terbaring di dalam sana. Apakah dia tidak berpikir untuk menyambutku yang sudah repot-repot mau datang ke sini? Ketimbang tidur saja di sana dalam keadaan koma?

Aku pikir aku salah dengar. Mungkin sebenarnya dia sedang membesuk sanak-saudaranya, dan seseorang yang mengaku sebagai kakaknya malah bilang bahwa Yuuma sendirilah yang sedang dirawat di rumah sakit.

Si bangsat itu. Dia serius kali ini.

Di dalam ruangan ICU, pembesuk dilarang berkontak fisik secara langsung dengan pasien. Jadi aku memakai mantel hijau yang tidak kuketahui apa sebutannya, mengenakan sarung kepala dan sarung tangan, persis seperti penampilan seorang dokter bedah. Aku awalnya histeris karena aku punya pengalaman buruk perihal operasi bedah. Tapi anggaplah ini pengecualian. Biasanya aku akan menghindarinya sebisa mungkin.

Wajahnya terlihat sangat pucat di balik infus oksigen. Rambutnya kusam. Penampilannya yang biasa sudah suram, jadi semakin suram semenjak aku melihatnya di sini untuk pertama kali.

Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan padanya—meski aku tahu dia tidak akan bisa mendengarku.

"Dasar bodoh!"

Pada akhirnya hanya itu yang kulontarkan. Aku merasa tolol karena sudah berucap demikian, tapi kupikir kalaupun dia mendengarku, dia hanya akan menertawakanku. Persis seperti yang pernah dia lakukan dalam pertemuan terakhir kami.

Pertemuan terakhir?

Kenapa aku malah merasa takut dengan ucapanku sendiri?

Lalu aku diberitahu, bahwa beberapa hari yang lalu, si bangsat itu mengalami kecelakaan saat berkendara di jalan raya. Lawan tabraknya meninggal di tempat, sementara si bangsat ini masih hidup meskipun harus berjuang melawan maut yang sedang berusaha merenggutnya. Tidak ada yang tahu kapan dia akan memenangkan pertarungan itu—jika dia berhasil.

Aku langsung menangis setibanya di rumah. Aku takut ini memang benar-benar pertemuan terakhir kami. Apalagi karena aku belum sempat menjawab apapun atas permintaannya beberapa hari silam.

"Setelah kau putus dengannya, mau pacaran denganku lagi?"

Sudah hampir satu bulan, dan dia masih belum sadar. Kalau saja tidak ada keluarganya yang menjaga, aku akan menerobos masuk ke dalam ruangan ICU tersebut, lalu mengguncang tubuhnya dan mengatakan bahwa dia harus bangun sekarang juga sebelum aku meledakkan bangunan rumah sakit jika dia tidak kunjung membuka matanya. Tapi aku masih waras. Setidaknya untuk perihal tata-krama.

Hampir setiap hari aku datang membesuknya. Aku terus datang padahal tidak ada pembicaraan yang berarti. Aku masih berbicara sendiri, dan dia masih tidur. Orang waras mungkin akan beranggapan itu gila, tapi aku tidak peduli. Siapa tahu dengan mengajaknya berbincang, dia akan bangun dengan sendirinya dan menyahuti setiap perkataanku seperti biasa.

Entah itu dengan dengusan.

Entah itu dengan sarkasme.

Entah itu dengan tawa... atau dengan senyuman.

Sial. Aku sangat merindukannya. Cepatlah sadar, Yuuma bangsat.


.

.


Kapan dia akan sadar? Aku selalu mempertanyakannya ketika datang berkunjung, memperhatikan tampilannya yang sepertinya tidak mengalami perubahan apapun selain wajahnya yang mulai terlihat mendingan daripada biasanya. Setidaknya itu lebih baik.

Baru kutahu ternyata dia memiliki seorang kakak perempuan. Dia memperkenalkan dirinya sendiri dengan nama Mizki, yang berarti nama lengkapnya adalah Kazeno Mizki. Dia bilang bahwa sebenarnya dia sempat kuliah di luar daerah sehingga tidak heran kalau aku sampai tidak tahu bahwa Yuuma bukanlah anak tunggal.

Dia memiliki sikap yang jauh lebih sopan daripada adiknya. Setidaknya dia tidak akan mengabaikan perkataan orang lain begitu saja. Kata feminin mungkin cocok untuknya.

"Yuuma itu sebenarnya pemalu loh!"

"Pemalu?" Aku diam-diam tertawa geli membayangkannya. Kurasa dia itu lebih pantas disebut pemalas ketimbang pemalu.

"Karena sifatnya itu, waktu SD dia jadi gak punya teman."

"Haha, gak heran."

Kak Mizki mengerutkan dahi. "Tapi rasanya aku pernah mendengar, di SMP dia punya pacar."

Orang gila seperti dia ternyata bisa punya pacar? Aku nyaris mengucapkannya kalau saja aku tidak ingat bahwa beberapa bulan yang lalu aku adalah pacarnya. "Benarkah?"

Dia mengangguk.

"Kamu temannya?"

Aku mengiyakan. Dan aku merasa tidak perlu menyebutkan bahwa aku juga mantan pacarnya.

"Syukurlah! Akhirnya dia bisa punya teman juga."

Aku diam sementara dia terkikik sendiri.

"Ah, aku baru ingat. Namamu siapa?"

"Utatane Piko."

Wajahnya spontan berubah terkejut, menjadi aneh, lalu kembali ke semula seolah tadi itu aku hanya salah lihat. Dia tersenyum.

"Salam kenal, Piko-kun."

"Salam kenal juga, Kak Mizki."

Dia mengamatiku dari kepala hingga kaki dalam satu kali tatapan yang kilat. "Yuuma sering bercerita tentangmu loh!"

"Benarkah?"

"Selama ini dia gak pernah punya teman. Makanya dia sangat senang karena kamu bersedia menjadi temannya."

"Kakak sudah mengatakannya tadi."

Dia mengabaikan perkataanku. "Dia itu sebenarnya orang yang kesepian loh."

"Benarkah?"

"Ayah kami terlalu sibuk dengan perusahaannya." Senyumannya sedikit mengendur. "Dan aku juga sempat sibuk dengan kuliahku beberapa tahun ini."

"Trus sekarang Kakak bekerja?"

"Aku bekerja sebagai editor majalah."

"Ohh." Entah kenapa aku jadi tertarik dengan sejarah perihal keluarganya. "Lalu, ibu bagaimana?"

Baru kusadari ternyata dia sedang menyesap teh hangatnya. Dari titik ini, aku baru sadar bahwa secangkir teh lainnya juga dihidangkan untukku. Tapi aku sama sekali tidak haus. Jadi kusentuh pun tidak.

Seusainya, dia tidak langsung menjawabku. Senyumannya lenyap. Tatapannya mengarah padaku, kentara dengan keraguannya. Keheningan yang tiba-tiba ini menyadarkanku bahwa sepertinya aku sudah menanyakan sesuatu yang sensitif. Aku buru-buru menarik pertanyaanku.

"Maaf. Lupakan saja. Gak perlu menjawabku."

"Gak apa-apa kok, Piko-kun." Dia tampak menarik napas pelan. "Ayah dan ibu kami... mereka sudah cerai."

Aku diam.

"Karena Yuuma orangnya sangat keras kepala, jadi dia memutuskan untuk tinggal di apartemen ketimbang di rumah salah satu orang tua kami. Aku merasa bertanggung-jawab mengawasinya, jadi aku juga ikut menyewa kamar apartemen tidak jauh darinya."

"Lalu siapa yang membiayai hidup kalian sebelumnya?"

"Ayah kami tidak peduli lagi dengan kami, maka ibu kami yang bekerja sebagai dosen pun membiayai kami—yah, meskipun aku sudah punya penghasilan sendiri. Jadi secara keseluruhan, aku dan ibu patungan membiayai kehidupan Yuuma."

Tidak pernah kubayangkan si bangsat itu sebenarnya memiliki masa lalu yang kelam. Beberapa anak bisa menghadapi perceraian orang tuanya dengan baik, tapi tidak dengan yang lain.

"Kalau aku boleh tahu, bagaimana kalian menyikapi... kejadian itu?"

"Maksudmu perceraian orang tua kami?" Dia masih tersenyum, tapi tubuhnya menguarkan aura kesedihan, dan rasa sakit. "Entahlah, semuanya berlalu begitu saja. Tapi kalau kau bertanya tentang Yuuma... dia uring-uringan setiap hari pada saat itu."

"Uring-uringan?"

"Dia juga jarang pulang. Mungkin itulah bentuk pemberontakan yang dia berikan atas ketidakterimaannya. Dia baru akan pulang kalau aku menemukannya dan memaksa untuk tetap ikut bersamanya. Dia akan muak sendiri dan mengabulkan permintaanku. Karena tidak ada yang bisa kulakukan pada saat itu selain menangis dan memohon padanya."

Sementara aku mendengarkan wanita itu bercerita, iris diakram milikku memperhatikan ruangan di mana si bangsat itu masih tertidur. Semakin aku mendengar kisah tentang keluarganya—dan juga dirinya—entah kenapa aku malah jadi semakin merasa sedih.

Kapan kau bangun, bangsat?


.

.


Mungkin sekitar hampir 3 bulan, akhirnya si bangsat Yuuma bangun dari komanya.

Aku diberitahu oleh Kak Mizki pada saat sedang mengikuti kelas listening Bahasa Inggris. Aku langsung berpura-pura sakit—entah kenapa hanya alasan itu yang terlintas di benakku saat itu—dan dengan sedikit trik aku berhasil melenggang keluar. Rumah sakit adalah tujuan utamaku. Aku tidak tanggung-tanggung lagi. Menaiki transportasi umum terbilang sangat membuang waktu menurutku, jadi aku pergi dengan berlari. Kutembus dinginnya sambutan musim dingin bulan November demi bertemu dengannya.

Sesampainya di ruang ICU, dapat kurasakan kegembiraan mencemari udara. Ada Kak Mizki, dan wanita baya yang mungkin adalah ibu mereka. Aku menghampiri mereka.

"Yuuma sudah sadar, Piko-kun!"

Aku disambut dengan semringahnya Kak Mizki. Lalu wanita di sampingnya pun sadar akan keberadaanku. Aku segera memperkenalkan diri, "'Siang, namaku Utatane Piko. Aku temannya Yuuma."

Teman? Oke, sekarang kita ikuti alur itu dulu.

"Ya, Piko-kun. Aku sudah dengar tentangmu dari Mizki."

Oh, baguslah. Aku tidak perlu repot-repot membahasnya lebih jauh lagi. Jadi aku langsung ke pokok inti. "Bagaimana keadaan Yuuma?"

"Tadi pagi dia sudah buka mata. Lalu kata dokter, Yuuma akan dipindahkan ke ruang rawat umum jika keadaannya semakin membaik," jelas Kak Mizki. Dia tersenyum, perlu kuakui dia menjadi benar-benar cantik karena hal itu. "Terima kasih atas doanya, Piko-kun."

Aku hanya mengangguk singkat.

"Apa dia boleh dibesuk?"

"Boleh. Tapi cuma sebentar."

Kemudian aku pun masuk ke dalam ruang ICU. Aku semakin familiar dengan ruangan ini karena di masa lalu, aku hampir setiap hari berkunjung ke tempat ini. Di mana setiap kali itu pula, yang kulihat hanyalah wajah komanya. Namun kini, aku bisa melihat mata itu perlahan membuka atas respon terhadap suara yang kutimbulkan saat membuka pintu.

Aku berdiri di sampingnya. Iris keemasannya menatap sayu padaku. Mataku terasa panas melihatnya. "Akhirnya kau bangun juga, dasar bodoh."

Kuhina seperti itu, dia malah tertawa pelan. Memang tidak ada suara, tapi bisa kulihat dari senyumnya yang mencemooh itu.

"Hei, bicaralah sesuatu. Jangan bilang kau juga kehilangan pita suaramu."

"... Piko."

Tubuhku serasa terbakar seusai namaku teruntai dari bibirnya dengan lemah. Rasanya seperti berabad-abad lamanya aku tidak mendengar suara itu, apalagi ketika memanggil namaku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat melankolis.

Membuang ego, aku pun menghambur dan memeluknya.

"Jangan membuatku menderita seperti ini lagi, Yuuma bangsat!"


.

.


Ini sudah bulan kesembilan dari pertama kali kami memutuskan untuk saling mengenal melalui berpacaran alih-alih berteman terlebih dahulu. Ya, entah aku atau dia yang bodoh, aku tidak mempermasalahkannya lagi sekarang.

"Aku pikir kau sudah mati diseret ke Neraka setelah kecelakaan itu." Dia justru tertawa atas sarkasme itu.

"Aku tidak akan mati, setidaknya sebelum aku mendengar jawaban darimu."

"Jawaban apa?"

Garukan di belakang kepala menjadi respon pertama. "Pernyataanku di mobil waktu itu."

Sial. Perjuangannya mempertahankan hidup itu terkesan seolah-olah dilakukan hanya gara-gara dia ingin berpacaran denganku lagi. Dan ya... karena aku kasihan, jadi kami pun kembali ke titik yang sama seperti semula. Kami berpacaran lagi, masih dalam keadaan ketiadaan intim fisik. Baiklah, aku sudah mulai terbiasa.

Jadi setelah dia sembuh total dari kecelakaan yang membuatnya harus terbujur koma di rumah sakit itu, dia bercerita bahwa selama tidak sadarkan diri, dia terus bermimpi. Kebanyakan darinya adalah tentangku. Aku curiga bahwa dia juga mendengar semua ceritaku.

"Tentu saja, Bodoh. Orang koma itu sama seperti orang yang sedang tidur. Mereka tidak sadar, tapi masih bisa merasakan apa yang terjadi di sekitarnya."

Kami pun terdiam. Terlalu banyak hal yang ingin kusampaikan kepadanya, rasanya menyesakkan.

"Yuuma."

"Hah?"

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"Tentu."

"Kenapa kau mau berpacaran denganku?"

"..."

"Dari awal, sepertinya kau keras kepala sekali mengenai hal itu. Apa... istimewanya aku ini? Tidak bisakah kita berteman saja dulu?"

Dia menunjukkan gelagat ingin menghindari pertanyaanku, tapi akan kupastikan dia menjawabnya hari ini juga. "Yuuma?"

"... kau benar-benar tidak ingat ya?"

"Ingat apa?"

"Dulu..." Pandangannya mondar-mandir, seperti sedang mencari sesuatu. Dia tampak gelisah. "... kau dan dia..."

"Dia siapa?" Aku mulai gemas. Kenapa dia tidak langsung menceritakannya saja?

Dia kembali bergeming. Dia menatap lantai seolah menuliskan jawaban di permukaannya. Sebelum aku meneriakinya sesuatu, dia berucap, "Yang pasti, dulu kita pernah berteman."

"Kapan?"

"Sewaktu SD, mungkin?"

"Benarkah? Kenapa aku tidak ingat ya?"

"Itu karena kau terlalu bodoh untuk mengingatnya."

"Bisakah kau berhenti mengatakan 'bodoh' seperti itu? Aku tahu 'tidak ingat' identik dengan 'bodoh', tapi aku tidak merasa demikian."

"Kau sendiri pada saat di rumah sakit, sampai kita pulang kau terus-terusan bilang 'bodoh' dan 'bangsat'."

"..."

Selanjutnya kami pun tertawa. Sebagaimana yang pernah kami lakukan di waktu yang lalu. Ah, ini menyenangkan. Aku bersyukur masih bisa menjalani saat-saat seperti ini bersamanya. Bahkan ketika hidupnya pernah nyaris berakhir.

Lalu kupikir hubungan ini tidak terlalu buruk. Gara-gara orang sinting ini, aku mulai berpersepsi bahwa status bukanlah segalanya. Kau bisa tetap berteman, walau gandengan tangan dan ciuman bukanlah hal yang tidak lazim di antaranya. Berpacaran tanpa keintiman fisik juga bisa dicoba, hm?


.

.


Ini bulan Desember. Aku berulang tahun di tanggal 8, jadi aku sibuk sekali di hari itu. Aku merayakannya dengan teman-temanku, dan hanya tersisa aku dan Yuuma di ruang tamu ketika mereka sudah pulang pada malam hari. Lalu dia memutuskan bahwa kami akan merayakan ulang tahunku sekali lagi hanya dengan kami berdua, yaitu pergi ke tempat yang kusenangi. Aku terkejut karena ini pertama kalinya dia bertanya lebih dulu sebelum bertingkah seenaknya.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan di komplek pertokoan saja?"

"Cuma itu?"

Aku mengangguk. "Kalau kau tidak keberatan."

"Tentu saja. Kau bebas memutuskan."

Lalu kami pun berakhir berjalan di trotoar. Gemerlap kota menyilaukan iris diakramku, kerumunan banyak orang agak menakutiku. Tapi saat aku sadar bahwa dia berada di sampingku, entah kenapa aku merasa seolah tidak peduli tersesat di manapun, dia akan selalu bisa menemukanku.

Sialan. Apa ini efek dari euforia yang kurasakan hari ini?

Kemudian aku melirik, dia masih menjaga jarak. Aku menghela napas yang tampak uapnya di udara. Sepertinya kami memang akan menjadi seperti ini selamanya. Tapi di luar dugaanku, dia sadar dengan kegundahanku.

"Maaf. Apa aku berjalan terlalu jauh darimu?"

"T-tidak juga."

Perlahan, dia mengurangi jarak di antara kami. Dia memang masih tidak menyentuhku, tapi dia berada nyaris di sampingku.

"Aku rasa lebih baik kau seperti tadi. Kau malah terlihat aneh seperti itu."

"Baiklah."

Kemudian dia kembali ke semula. Aku malah tertawa geli.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Ketika kami melewati sebuah etalase toko yang pernah kulewati beberapa bulan lalu, aku pun berhenti. Dia mengikutiku. Aku senang karena sweater idamanku masih membalut mesra pada manekin di sana. Aku tidak peduli kenapa dia bisa bertahan di tempat itu sejak musim panas, aku hanya peduli bahwa dia memang berjodoh denganku.

"Yuuma."

"Apa?"

"Kau keberatan kalau aku minta itu padamu?"

Dia menilik pada sweater abu-abu yang kutunjuk. Kerutan dahi pun tercipta darinya. "Itu bukan untuk cewek?"

"Itu bisa untuk cewek dan cowok kok!" Aku yakin suaraku sangat menjelaskan ketidakterimaanku. Ya, itu berarti secara tidak langsung, dia menyebutku senang berpakaian wanita. "Kau tidak lihat manekin itu memakai celana?"

"Ck. Iya, iya."

Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Kau tadi bilang mau itu, bukan? Baiklah. Kita masuk."

Mari kita persingkat dan anggap dia sudah membelikanku sweater itu. Sekarang kami sudah kembali ke trotoar.

"Kau senang sekali dengan sweater itu, huh? Kau langsung memakainya."

Aku tersenyum lebar menanggapinya. "Aku sudah mengidamkannya sejak musim panas."

"Musim panas? Bukannya itu sudah lama sekali?"

Aku tidak menjawab. Aku berjalan sembari menikmati sensasi hangat di dalam sweater ini.

"... kau manis sekali tersenyum seperti itu."

"Kau bilang apa tadi?"

"Bukan apa-apa. Lupakan." Dia membuang wajah. Aku diam memandanginya, lalu aku menertawakannya.

"J-jangan tertawa!"

"Hahaha! Dasar bodoh!"

"Kau yang bodoh!"

Aku pun berhenti tertawa. Aku menarik kerah sweater hingga menutup sebagian wajah. "Yuuma."

"Hah?"

"Terima kasih. Untuk hari ini."

Dia melirik, mengarah langsung pada mataku. Aku pun salah tingkah, sekarang gilirannya tertawa.

"Hah. Sama-sama, Piko."

Dia berucap sambil mengacak rambutku. Kenapa dia tiba-tiba bisa begini? Berhenti mempermalukanku seperti ini, Bodoh!

"Hei!"

Selanjutnya, kami pun tertawa lagi. Semoga ini adalah pertanda bagus bagi kelanjutan kekonyolan ini.


.

.


DISCONNECT . END


.

.


Author's Note:

Kontribusi untuk YuumaPiko agak sunyi ya? /krik/ Lupakan, saya membuat ini karena semacam dapat challenge dari teman, "Coba, apa lo bisa bikin fanfic homo tanpa harus ada anu-anu(?)nya." Jadi inilah... saya sanggupin. Meski sempat agak kelepasan di bagian tengah cerita sih, hahaha.

Ini sekalian buat ulang tahun Piko juga, jadi... yah, gitu. /apa

Btw, INCOMPETENCE Series masih memiliki hubungan dengan Gue Bukan Humu! Series loh. Ibarat GBH itu sisi konyolnya, INCOM adalah sisi seriusnya. Dan di SECOND INCOMPETENCE nanti, akan dijelaskan mengenai masa lalu Piko, Yuuma, dan "dia" yang disebut Yuuma di akhir cerita tadi!

Terima kasih sudah membaca!


8122016. FID2. YV